Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Korelasi Tekanan Nadi sebagai Parameter Kekakuan Arteri dan Obesitas Sentral pada Mahasiswa Pria Azkiya; Khairun Nisa Berawi; Ratri Mauluti Larasati; Susianti
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.1010

Abstract

Background: Central obesity is frequently linked to elevated blood pressure, however, not all individuals with this condition develop hypertension. Pulse pressure has been recognized as a more sensitive marker than conventional blood pressure in predicting cardiovascular risk. Consequently, monitoring pulse pressure in individuals with central obesity may serve as an important strategy for early identification of subclinical cardiovascular dysfunction. Method: This study employed an observational, cross-sectional design involving university students aged 18-21 years. Central obesity was assessed using waist circumference measurements based on WHO Asia-Pasific criteria. Pulse pressure was calculated as the difference between systolic and diastolic blood pressure, measured with a manual sphygmomanometer. The association between central obesity and pulse pressure was analyzed bivariately using the Chi-Square test. Results: Statistical analysis revealed no significant association between central obesity and pulse pressure (p > 0.05). Nevertheless, descriptive findings showed that the mean pulse pressure among individuals with central obesity (38.89 mmHg) tended to be lower than that of those without central obesity (40.77 mmHg). Discussion: This study demonstrated no significant relationship between central obesity and pulse pressure among male college students aged 18-21 years, although the centrally obese group exhibited a lower mean pulse pressure. The discrepancy from previous research may be attributed to the relatively young age of the respondents and the high number of individuals presenting with elevated blood pressure. Conclusion: This study found no significant association between central obesity and pulse pressure in male college students aged 18-21 years. However, a trend toward lower pulse pressure among centrally obese individuals was observed, potentially influenced by increased blood pressure. These findings suggest that pulse pressure continues to old potential an an early indicator of subclinical cardiovascular alterations.
Tinjauan Parameter Histologis Penyembuhan Luka Sayat pada Kulit setelah Terapi Daun Binahong Rie Dahniar Marissa Marpaung; Waluyo Rudianto; Miftahur Rohman; Susianti
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i1.130

Abstract

Anredera cordifolia merupakan tanaman obat asli Indonesia yang secara tradisional digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka. Secara ilmiah, daun A. cordifolia diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, serta kemampuan mempercepat regenerasi jaringan yang berperan penting dalam pemulihan kulit. Kajian ini merangkum temuan studi praklinik mengenai efektivitas ekstrak etanol daun binahong terhadap proses penyembuhan luka insisi, dengan penekanan pada parameter histologis sebagai indikator kualitas perbaikan jaringan. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kriteria inklusi berupa penelitian in vivo yang mengevaluasi epitelialisasi, pembentukan jaringan granulasi, deposisi kolagen, proliferasi fibroblas, dan resolusi inflamasi. Hasil telaah menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun binahong memperlihatkan pola dosis-respons yang konsisten, di mana konsentrasi menengah hingga tinggi (±25–40%) mampu mempercepat epitelisasi, meningkatkan ketebalan serta organisasi serabut kolagen, meningkatkan densitas fibroblas, dan menghasilkan jaringan granulasi yang lebih matang. Efek biologis tersebut dikaitkan dengan kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, alkaloid, tanin, triterpenoid, dan vitamin C yang berperan dalam menghambat sitokin proinflamasi, meningkatkan angiogenesis, mengaktivasi jalur TGF-β dan VEGF, serta mendukung sintesis kolagen. Meskipun mendukung potensi binahong sebagai agen penyembuh luka topikal, diperlukan penelitian lanjutan terkait standardisasi ekstrak, optimasi konsentrasi, uji toksisitas jangka panjang, dan analisis mekanisme molekuler sebelum dikembangkan sebagai fitofarmaka teruji.
Mekanisme Kerusakan Hepar Akibat Induksi Aloksan pada Model Tikus Diabetes: Suatu Tinjauan Literatur Reimma Emily Rachman; Waluyo Rudiyanto; Septia Eva Lusina; Susianti
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i1.139

Abstract

Aloksan merupakan agen diabetogenik yang banyak digunakan untuk meniru kondisi diabetes melitus tipe 1 pada hewan percobaan melalui induksi stres oksidatif dan destruksi sel β pankreas. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme kerusakan hepar pada model tikus diabetes yang diinduksi aloksan, dengan fokus pada perubahan biokimia, stres oksidatif, inflamasi, dan gambaran histopatologi. Penelusuran literatur dilakukan secara terstruktur melalui PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan Garuda pada publikasi tahun 2019–2025, dan diperoleh 17 artikel yang dianalisis secara naratif. Hasil sintesis menunjukkan bahwa induksi aloksan, terutama pada dosis 120–150 mg/kg berat badan secara intraperitoneal, secara konsisten menimbulkan disfungsi hepatoseluler yang ditandai oleh peningkatan enzim hepar dan penurunan kapasitas sintesis protein. Kerusakan ini dimediasi oleh ketidakseimbangan redoks dengan peningkatan stres oksidatif, penurunan sistem antioksidan endogen, serta aktivasi jalur inflamasi yang berkontribusi terhadap degenerasi dan nekrosis hepatosit. Beberapa studi melaporkan bahwa agen fitoterapi dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi mampu memperbaiki parameter biokimia dan struktur histologis hepar. Secara keseluruhan, kerusakan hepar pada model diabetes aloksan merupakan hasil interaksi kompleks antara hiperglikemia, stres oksidatif, dan inflamasi hepatik, sehingga modulasi jalur tersebut berpotensi menjadi strategi protektif yang rasional.