Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Untuk Kesehatan Reproduksi Dalam Situasi Darurat Bencana Pada Bidan Desa Di Kecamatan Langsa Lama Kota Langsa Nora Veri; Cut Mutiah; Alchalidi Alchalidi; Baharuddin Baharuddin
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v3i2.3357

Abstract

Indonesia adalah salah satu negara yang rawan bencana di dunia. Berlokasi di Pacific Ring of Fire, Indonesia sering menghadapi situasi darurat bencana seperti gempa bumi, tsunami, gunung berapi, banjir, tanah longsor, kemarau dan kebakaran hutan yang sering kali menimbulkan dampak buruk. Dalam situasi darurat bencana, kebutuhan akan kesehatan reproduksi sering kali terabaikan. Risiko komplikasi pada perempuan ketika melahirkan dapat meningkat, karena terpaksa harus melahirkan tanpa bantuan tenaga kesehatan terlatih. Risiko terhadap kekerasan seksual, kehamilan yang tidak diinginkan dan penularan infeksi HIV dapat juga terjadi dalam situasi bencana. Ketersediaan layanan kesehatan reproduksi pada situasi bencana akan menyelamatkan jiwa. Penyediaan pelayanan kesehatan reproduksi melalui Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kesehatan Reproduksi dapat membantu mengurangi risiko yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi pada situasi darurat bencana. Tujuan kegiatan adalah Meningkatkan pemahaman Bidan Desa, kader, wanita usia subur melalui edukasi tentang PPAM untuk Kesehatan Reproduksi dalam situasi darurat bencana di Desa Merandeh Kec. Langsa Baro dan Gampong Jawa Kec. Kota Langsa. Metode yang digunakan adalah program pendidikan masyarakat melalui edukasi tentang PPAM untuk Kesehatan Reproduksi dalam situasi darurat bencana pada bidan desa. Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka terdapat perbandingan nilai rata-rata pengetahuan bidan desa antara sebelum dan sesudah edukasi tentang PPAM dilakukan. Terdapat peningkatan pengetahuan bidan desa setelah diberikan edukasi dari 7,1 menjadi 9,4. 
Peningkatan Pengetahuan Wanita Usia Subur Tentang Efek Penggunaan Kontrasepsi Progestin Terhadap Kesehatan Organ Reproduksi Nora Veri; Alchalidi Alchalidi; Dewita Dewita; Nuswatul - Khaira; T. Iskandar Faisal
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 5 Oktober 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i5.4251

Abstract

ABSTRAK Pemerintah menggalakan program Keluarga Berencana (KB) untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Salah satu program KB adalah dengan penggunaan kontrasepsi. Metode kontrasepsi yang saat ini yang paling banyak digunakan oleh Wanita Usia Subur (WUS) adalah suntikan Depo Medroxy Progesterone Acetate (DMPA) yang berisi hormon progesteron. DMPA memiliki efek samping yang merugikan organ reproduksi untuk penggunaan jangka panjang. Tujuan kegiatan pengabdian dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan wanita usia subur tentang efek samping penggunaan kontrasepsi hormonal DMPA jangka panjang pada organ reproduksi. Metode pelaksanaan adalah dengan edukasi peningkatan pengetahuan tentang kontrasepsi DMPA dengan sasaran wanita usia subur akseptor KB DMPA sebanyak 60 orang. Hasil kegiatan diperoleh bahwa mayoritas pengetahuan wanita usia subur pada kategori kurang pada saat pretest sebanyak 41 orang (68,33%) dan pada saat posttest mayoritas berada pada kategori baik sebanyak 53 orang (88,33%). Adanya peningkatan pengetahuan setelah dilakukan edukasi tentang penggunaan kontrasepsi DMPA dan efek samping yang ditimbulkan akibat penggunaan jangka panjang terhadap kesehatan organ reproduksi. Kata Kunci :   Depo Medroxy Progesterone Acetate (DMPA), Wanita Usia Subur, Kontrasepsi, Keluarga Berencana  ABSTRACT The government is promoting the Family Planning (KB) program to control population growth. One of the family planning programs is the use of contraception. The method of contraception currently most widely used by women of reproductive age is the injection of Depo Medroxy Progesterone Acetate (DMPA) which contains the progesterone hormone. DMPA has adverse side effects on reproductive organs for long-term use. The purpose of this service is to increase the knowledge of women of reproductive age about the side effects of long-term use of DMPA hormonal contraceptives on the reproductive organs. The method of implementation is education to increase knowledge about DMPA contraception with the target of women of reproductive age DMPA to acceptors as many as 60 people. The results of the activity showed that the majority of knowledge of women of reproductive age were in the lack knowledge at the time of the pretest as many as 41 people (68.33%) and at the time of the posttest the majority were in the good knowledge category as many as 53 people (88.33%). There is an increase in knowledge after education about the use of DMPA contraceptives and the side effects caused by long-term use on the health of the reproductive organs. Keywords: Depo Medroxy Progesterone Acetate (DMPA), women of reproductive age, Contraception, Family Planning
Sosialisasi SOP dan Tools Pemantauan MTBS Usia Kurang dari 2 Bulan Terhadap Peningkatan Pelayanan Kunjungan Neonatal (KN) Oleh Bidan Desa Di Wilayah Puskesmas Kota Langsa Magfirah Magfirah; Nora Veri; Cut Mutiah; Emilda Alamsyahbudin; Idwar Idwar
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 3 Juni 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i3.3848

Abstract

ABSTRAK Berbagai upaya telah dilakukan untuk dapat melaksanakan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di pelayanan kesehatan. Salah satunya melalui pelatihan yang dilaksanakan diberbagai daerah. Pada umumnya pelatihan dapat meningkatkan kinerja tenaga kesehatan, namun sangat membutuhkan pengawasan yang efektif. Berbagai model pengawasan MTBS telah dicoba secara global, tetapi masih belum jelas model pengawasan yang mana lebih cocok untuk pelaksanaan MTBS. Bidan desa di wilayah kerja puskesmas kota Langsa sudah pernah mendapatkan pelatihan tentang MTBS, dengan demikian sangat dibutuhkan evaluasi penerapan Standar Opeasional Prosedur (SOP) dan Tools pemantauan MTBS tersebut terhadap peningkatan pelayanan kunjungan neonatal (KN). Tujuan Kegiatan adalah menilai pengetahuan dan pelaksanaan MTBS pada bayi muda kurang dari 2 bulan sesuai SOP serta penerapan Tools Pemantauan MTBS terhadap peningkatan pelayanan kunjungan neonatal (KN). Metode atau bentuk kegiatan yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah sosialisasi dan demonstrasi pengisian formulir MTBS sesuai SOP, penggunaan Tools pemantauan oleh bidan koordinator. Berdasarkan hasil pengabdian masyarakat yang didapatkan, bidan desa memiliki pengetahuan baik yaitu (89,9%) pelaksanaan penerapan MTBS udah sesuai SOP sebanyak 82%.Tools pemantauan sudah sesuai dengan SOP yaitu (80%) Kata Kunci: SOP, Tools pemantauan MTBS, Bidan Desa.  ABSTRACT Various efforts have been made to be able to implement Integrated Management of Sick Toddlers (IMCI) in health services. One of them is through training which is carried out in various regions. In general, training can improve the performance of health workers, but it really needs effective supervision. Various models of IMCI supervision have been tried globally, but it is unclear which one is more suitable for implementing IMCI. Village midwives in the work area of the Langsa city health center have received training on IMCI, so an evaluation of the implementation of Standard Operating Procedures (SOP) and IMCI monitoring tools is needed to improve neonatal visit services (KN). The objective of the activity is to assess the knowledge and implementation of IMCI in young infants less than 2 months old according to the SOP and the application of the IMCI Monitoring Tools to improve neonatal visit services (KN). The method or form of activity used in this community service is the socialization and demonstration of filling out the IMCI form according to the SOP, the use of monitoring tools by the coordinating midwife. Based on the results of community service obtained, village midwives have good knowledge, namely (89.9%) that the implementation of the implementation of IMCI is in accordance with the SOP as much as 82%. Monitoring tools are in accordance with the SOP, namely (80%) Keywords: SOP, MTBS monitoring tools, Village Midwives.
Edukasi Anemia Defisiensi Besi dan Pemeriksaan Hemoglobin sebagai Deteksi Dini Resiko pada Ibu Hamil di Desa Matang Seulimeng Kecamatan Langsa Barat Kota Langsa Dewita Dewita; Henniwati Henniwati; Lili Kartika Sari Hrp; Nora Veri
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 1 (2022): Volume 5 No 1 Januari 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i1.5356

Abstract

ABSTRAK  Anemia merupakan masalah global terutama bagi ibu hamil. Penyebab utama anemia pada kehamilan adalah defisiensi besi kemudian diikuti oleh defisiensi folat. WHO memperkirakan angka kejadian anemia sekitar 42 % terjadi pada ibu hamil dengan kondisi ekonomi menengah kebawah. Tujuan Pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil. tentang anemia defisensi besi dan pemeriksaan kadar hemoglobin sebagai deteksi dini mandiri di Desa Matang Seulimeng wilayah kerja Puskesmas Langsa Barat Kota Langsa. Bentuk kegiatan pengabdian masyarakat adalah dengan metode penyuluhan dengan ceramah dan tanya jawab. Sedangkan deteksi dini resiko tinggi dilakukan dengan pemeriksaan kadar hemoglobin dan setelah 2 minggu intervensi dilakukan evaluasi ibu hamil anemia dengan pemeriksaan kadar Hemoglobin. Terjadi perubahan peningkatan pengetahuan baik sebesar 85 % dan hasil pemeriksaan hemoglobin dari 18 ibu hamil anemia setelah evaluasi menjadi 67,8 %  tidak anemia .Penilaian mengenai pemahaman ibu hamil tentang edukasi anemia Defisiensi besi dan pemeriksaan Hemoglobin sebagai deteksi dini resiko pada ibu hamil adalah 3 (tiga) tahap (tahap pretest, tahap penyuluhan, dan tahap posttest serta evaluasi ibu hamil anemia). Adanya peningkatan pengetahuan setelah diberikan edukasi anemia defisiensi pada ibu hamil, dan mampu melakukan deteksi dini mandiri tanda gejala anemia sehingga mendapat penanganan sesegera mungkin. Kata Kunci : anemia defisiensi zat besi, kadar hemoglobin, deteksi dini, ibu hamil  ABSTRACT  Anemia is a global problem, especially for pregnant women. The main cause of anemia in pregnancy is iron deficiency followed by folate deficiency. WHO estimates that the incidence of anemia is around 42% in pregnant women with middle to lower economic conditions. The purpose of this service is to increase the knowledge of pregnant women. regarding iron deficiency anemia and hemoglobin level examination as an independent early detection in Matang Seulimeng Village, the working area of Langsa Barat Health Center, Langsa City. The form of community service activities is the extension method with lectures and questions and answers. Meanwhile, early detection of high risk is carried out by examining hemoglobin levels and after 2 weeks of intervention, pregnant women with anemia are evaluated by examining hemoglobin levels. There was an increase in knowledge of both 85% and the results of hemoglobin examination from 18 anemic pregnant women after the evaluation became 67.8% not anemic. An assessment of the understanding of pregnant women about iron deficiency anemia education and hemoglobin examination as early detection of risk in pregnant women is 3 (three) stages (pretest stage, counseling stage, and posttest stage and evaluation of anemic pregnant women). There is an increase in knowledge after being given education on deficiency anemia in pregnant women, and being able to independently detect early signs of anemia so that they get treatment as soon as possible. Keywords: iron deficiency anemia, hemoglobin levels, early detection, pregnant women
Pelatihan Pelaksanaan Pijat Bayi Kepada Ibu Yang Memiliki Bayi di Desa Pondok Keumuning, Pondok Kelapa dan Pondok Nias Fazdria Fazdria; Nora Veri; Cut Mutiah; Dewita Dewita
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Volume 4 Nomor 6 Desember 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i6.4518

Abstract

ABSTRAK Di Indonesia, meskipun sejarah pemijatan berawal dari nenek moyang masa lampau, namun pijat bayi yang diperkenalkan bukanlah pijat tradisional yang dilakukan oleh dukun bayi atau dukun pijat yang pijatannya tidak aman. Pijat bayi yang dimasyarakatkan adalah pijat modern yang memadukan antara ilmiah (kesehatan), seni, dan kasih sayang. Pijat bayi akan membuat bayi tidur lebih lelap dan meningkatkan kosentrasi kesiagaan (alertness) atau kosentrasi. Hal ini disebabkan pijatan dapat mengubah gelombang otak. Pengubahan ini terjadi dengan cara menurunkan gelombang alpha dan peningkatan gelombang beta, serta tetha yang dapat dibuktikan dengan penggunaan EEG (electro enchephalogram). Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam melakukan pijat bayi di Desa Pondok Kelapa, Pondok Nias dan Pondok Kemuning Kec. Langsa Baro Kota Langsa. Metode pengabdian yang digunakan dalam kegiatan ini adalah program pendidikan masyarakat melalui edukasi dan pelatihan pijat bayi pada ibu bayi dan balita. Hasil pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan oleh Dosen Prodi D-III Kebidanan Langsa pada tanggal 30 September s/d 2 Oktober 2020 didapatkan hasil mayoritas peserta pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan yang baik tentang pijat bayi yaitu sebanyak 17 orang (56,7%) dan mayoritas terampil dalam melakukan pijat bayi yaitu sebanyak 22 orang (73,3%). Kata Kunci : Pengetahuan, Keterampilan, Pijat Bayi  ABSTRACT In Indonesia, although the history of massage dates back to the ancestors of the past, the baby massage introduced is not a traditional massage performed by a baby shaman or a massage shaman whose massage is not safe. A popularized baby massage is a modern massage that blends scientific (health), art, and compassion. Baby massage will make the baby sleep better and increase alertness or concentration. This is because massage can alter brain waves. This conversion occurs by lowering alpha waves and increasing beta waves, as well as tetha which can be proven by the use of EEG (electroencephalogram). The purpose of the activity is to improve the knowledge and skills of mothers in performing baby massage in Pondok Kelapa Village, Pondok Nias, and Pondok Kemuning Kec. Langsa Baro Langsa City. The method of devotion used in this activity is a community education program through the education and training of baby massage in infants and toddler mothers. The results of community service that has been done by Lecturers of Prodi D-III Midwifery Langsa on September 30 to October 2, 2020, obtained the results of the majority of participants of community service have good knowledge about baby massage that is as many as 17 people (56.7%) and the majority are skilled in performing baby massage that is as many as 22 people (73.3%). Keywords: Knowledge, Skills, Baby Massage
Pemanfaatan Jeruk Bali (Citrus Grandis) Dan Jeruk Lemon (Citrus Limon) Terhadap Penurunan Mual Muntah Pada Ibu Hamil di Desa Karang Anyar Langsa Baro Kota Langsa Cut Mutiah; Nora Veri; Magfirah Magfirah; Fazdria Fazdria; Emilda AS; Abdurrahman Abdurrahman
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Volume 4 Nomor 6 Desember 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i6.4463

Abstract

ABSTRAKMual muntah merupakan hal yang paling sering dialami oleh ibu selama kehamilan Trimester I. Dari seluruh kejadian mual muntah, 60-80% terjadi pada primigravida dan 40-60% pada multigravida. Sedangkan frekuensi ibu yang hanya mengalami mual sebanyak 27-30% dan muntah 28-52%. Jeruk bali dan Jeruk Lemon dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi mual muntah selama kehamilan. Kandungan Flavonoid, B6 dan limonene yang dapat mengatasi mual muntah. Tujuan kegiatan pengabdian ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil dalam mengatasi mual muntah selama kehamilan di Desa Karang Anyar Kec. Langsa Baro. Metode pelaksanaan kegiatan diawali dengan mengukur frekuensi mual muntah dan pengetahuan menggunakan kuesioner dan selanjutnya memberikan edukasi pemanfaatan jeruk bali dan jeruk lemon kepada 20 orang ibu hamil trimester I. Hasil kegiatan diperoleh bahwa mayoritas frekuensi mual muntah ibu hamil mengalami penurunan dari 16 orang (80%) menjadi 2 orang (10%). Pengetahuan tentang cara mengatasi mual muntah dan pemanfaatan jeruk bali dan jeruk lemon meningkat dari sebelum diberi edukasi dengan rata 4,7 dan setelah diberi edukasi menjadi 8,7. Kata Kunci: Mual, muntah, jeruk bali, jeruk lemon ABSTRACTNausea and vomiting is the most common thing experienced by mothers during pregnancy trimester I. Of all incidents of nausea and vomiting, 60-80% occur in primigravidas and 40-60% in multigravidas. Meanwhile, the frequency of mothers who only experienced nausea was 27-30% and vomiting was 28-52%. Citrus Grandis and Citrus Limon can be used as an alternative to treat nausea and vomiting during pregnancy. The content of flavonoids, B6 and limonene that can treat nausea and vomiting. The purpose of this service activity is to increase the knowledge of pregnant women in overcoming nausea and vomiting during pregnancy in Karang Anyar Kec. Langsa Baro. The method of implementing the activity began by measuring the frequency of nausea and vomiting using a questionnaire and then providing education on the use of pomelo and lemon to 20 trimesters I pregnant women. to 2 people (10%). Knowledge of how to deal with nausea and vomiting and the use of citrus Grandis and citrus Limon increased from 4.7 before education and after education to 8.7 Keywords: Nausea, Vomiting, Citrus Grandis, Citrus Limon
EFEKTIVITAS DARK CHOCOLATE DAN WORTEL DALAM MENURUNKAN INTENSITAS DISMINOREA PRIMER Rosvita Dewi Siregar; Nora Veri; Meliani Sukmadewi Harahap; Alchalidi Alchalidi; Nora Usrina
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 7, No 4 (2021): Vol.7 No.4 Oktober 2021
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v7i4.4418

Abstract

Background: Dysminorrhea will get worse if accompanied by an unstable psychological condition. One of the causes of dysmenorrhea is hormonal factors where there is a hormonal imbalance. Pain during menstruation occurs due to high levels of prostaglandin hormones that make the uterine muscles contract. In Indonesia, the incidence of type dysmenorrhea primary is about 54.89% while the rest sufferers with secondary dysmenorrhea. Non-pharmacological therapy for dysmenorrhea is highly recommended, one of which are dark chocolate and carrots.Purpose: To determine the effectiveness of the combination of dark chocholate and carrots in reducing the intensity of dysminorrhea.Methods: This type of research uses a quasi-experimental design with a pretest-post-test control group design with a sample of 28 respondents experiencing primary dysmenorrhea. Pain intensity was measured by Numeric Rating Scale (NRS). Data collection was carried out during the pre-test, namely during menstruation in the first cycle and post-test data collection was carried out in the second cycle or after 30 days of treatment and assessed on the 31st day or the first menstruation in the following month. The statistical test used is Paired sample t-test.Results: The administration of dark chocholate, carrots and a combination of the two was able to reduce the intensity of primary dysminorrhea with a glossy p-value ≤ 0.05.Conclusion: Consumption of dark chocholate, carrots and a combination of both can reduce the intensity of primary dysmenorrhea. Suggestion for adolescents with primary dysmenorrhea to use non-pharmacologic therapy to reduce pain intensity such as carrots and dark chocholate in order to avoid the side effects of pharmacological drugs. Further research is needed in vitro on the mechanism of the combination of carrots and dark chocholate in reducing the intensity of dysmenorrhea Keywords : Dark Chocholate, Carrot, Dysminorea Intensity, adolescents ABSTRAK Latar Belakang : Disminorea akan bertambah parah apabila disertai dengan kondisi psikis yang labil. Salah satu penyebab dismenorea adalah faktor hormonal dimana adanya ketidakseimbangan hormonal. Nyeri ketika menstruasi tersebut timbul akibat tingginya hormon prostaglandin yang membuat otot rahim berkontraksi. Di Indonesia angka kejadian dismenorea tipe primer adalah sekitar 54,89% sedangkan sisanya penderita dengan dismenorea sekunder. Terapi disminorea secara non farmakologi sangat diabjurkan salahs satunya adalah dark chocholate dan wortel.Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui efektivitas kombinasi dark chocholate dan wortel dalam menurunkan intensitas disminorea.Metode Penelitian : Jenis penelitian ini menggunakan quasi eksperiment dengan desain pretest- post test control group design dengan sampel adalah responden yang mengalami disminorea primer sebanyak 28 orang. Intensitas nyeri diukur dengan Numeric Rating Scale (NRS). Pengambilan data dilakukan pada saat pre-test yaitu saat haid pada siklus pertama dan pengambilan data post-test dilakukan pada siklus kedua atau saat setelah dilakukannya perlakuan selama 30 hari dan dinilai pada hari ke 31 atau pertama haid di bulan berikutnya. Uji statistik yang digunakan adalah Paired sample t-tes.Hasil Penelitian : Pemberian dark chocholate, wortel dan kombinasi keduanya mampu menurunkan intensitas disminorea primer dengan nilap p-value ≤ 0,05.Kesimpulan : Pemberian dark chocholate, wortel dan kombinasi keduanya mampu menurunkan intensitas disminorea primer.Sarankan pada remaja yang mengalami disminorea primer untuk menggunakan terapi non faramakologis untuk mengurangi intensitas nyeri seperti wortel dan dark chocholate agar terhindar dari efek samping obat-obatan farmakologi. Diperlukan penelitian lebih lanjut secara in vitro tentang mekanisme kombinasi wortel dan dark chocholate dalam menurunkan intensitas disminorea. Kata Kunci : Dark Chocholate, Wortel, Intensitas Disminorea, Remaja Putri 
EFEK PROTEKTIF BUNGA CEMPAKA KUNING (MICHELIA CHAMPACA L.) TERHADAP SEL ENDOTEL PEMBULUH DARAH PADA TIKUS USIA MENOPAUSE Nora Veri; Alchalidi Alchalidi; T. Iskandar Faisal; Nuswatul Khaira
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 7, No 2 (2021): Vol.7 No.2 April 2021
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v7i2.3426

Abstract

PROTECTIVE EFFECT OF CEMPAKA KUNING FLOWER (MICHELIA CHAMPACA L.)  ON ENDOTEL CELLS OF VASCULAR IN MENOPAUSAL AGE RATS Background: The trend of coronary heart disease (CHD) in menopausal women has now changed to be faster (between 8-10 years). Endothelial dysfunction is usually an indicator of future cardiovascular problems. The main risk factor will cause the integrity of endothelial cells to be impaired and change the function of indothelial cells to release cytokines to initiate inflammation. Treatment of Michelia Champaca L. flowers containing essential oils, alkaloids, sterols and terpenoids, saponins, polyphenols, flavonoids, and glycosides is expected to reduce the risk of CHD in menopausal women due to hypoestrogens.Purpose: To determine the protective effect of ECK on vascular endothelial cells.Methods: The research design used was true experimental design with the randomized posttest only control group design approach. This study used experimental mice which were grouped into 3 groups, namely the control group and two intervention groups. Observation of the number of endothelial cells was carried out after the treatment of cempaka kuning flower extract at a dose of 100 mg / Kg.BW / day and 200 mg / Kg.BW / dayResults: here was a significant difference in the mean number of endothelial cells in menopausal rats due to ECK administration compared to the control groupConclusion: ECK was able to increase the number of endothelial cells in menopausal rats. Further research is needed on the effects of ECK as phytoestrogensSuggestion Further research is needed on the effects of ECK as phytoestrogens. Keywords: Michelia Champaca, Coronary Heart Disease, Endothelial Dysfunction, Menopausal ABSTRAK Latar Belakang : Kejadian Penyakit Jantung Koroner (PJK) pada wanita menopause menunjukkan perubahan kejadian, dimana sekarang usia wanita terkena PJK menjadi lebih cepat (antara 8-10 tahun). Disfungsi endotel biasanya merupakan indikator kejadian PJK pada masa yang akan datang. Faktor resiko tersebut akan menyebabkan perubahan fungsi sel endotel dalam memproduksi sitokin pro inflamasi. Terapi Ekstrak Bunga Cempaka Kuning (ECK) yang mengandung essential oils, alkaloid, sterol, terpenoid, saponin, polyphenol, flavonoid  dan glycoside mampu menurunkan kejadian PJK pada wanita menopause akibat hipoestrogen.Tujuan : Untuk mengetahui efek protektif ECK pada sel endotel pembuluh darah.Metode : Rancangan penelitian yang digunakan adalah true experimental design dengan pendekatan the randomized posttest only control group design. Penelitian ini menggunakan hewan coba tikus yang dikelompokkan kedalam 3 kelompok yaitu kelompok kontrol dan dua kelompok intervensi. Pengamatan jumlah sel endotel dilakukan setelah perlakuan pemberian ekstrak bunga cempaka kuning dosis 100 mg/Kg.BB/hari dan 200 mg/Kg.BB/hariHasil  : Terdapat perbedaan yang bermakna rerata jumlah sel endotel pada tikus usia menopause akibat pemberian ECK dibandingkan kelompok controlKesimpulan : ECK mampu meningkatkan jumlah sel endotel pada tikus usia menopause. Diperlukan penelitian lanjutan tentang efek ECK sebagai fitoestrogenSaran Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang efek ECK sebagai fitoestrogen. Kata Kunci : Michelia Champaca L., Penyakit jantung Koroner, Disfungsi Endotel, Menopause
EFEKTIVITAS PEPPERMINT DAN POMELO DALAM MENURUNKAN INTENSITAS MUAL DAN MUNTAH PADA IBU HAMIL Nora Veri; Nila Suci Ramadhani; Alchalidi Alchalidi
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 6, No 4 (2020): Volume 6 Nomor 4 Oktober 2020
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v6i4.3005

Abstract

ABSTRACT Background: Emesis gravidarum can get worse into hyperemesis gravidarum which causes the body to become weaker, paler, and the frequency of urination decreases. As a result, decreased body fluids and hemoconcentration of blood can cause tissue damage. Non pharmacological treatment is very important because it reduces the pharmacological effects that appear in pregnant women. The herbal therapy that has been proven to be beneficial is the administration of peppermint, but research on the effects of Pamelo fruit related to nausea and vomiting in pregnant women is still rare.Objective: To determine the comparison of the effectiveness of peppermint and Pomelo orange on the intensity of nausea and vomiting in pregnant womenMethods: The research design was a quasi experimental study with a pretest posttest control group design approach. The number of samples was 24 pregnant women who were grouped into 3 groups.Results: The average intensity of nausea and vomiting in the peppermint group at pretest was 2.38 and decreased at posttest to 1 with P-value 0.004. The intensity of nausea and vomiting in the Pomelo group at pretest was 6.38, falling to 1.75 at posttest with P-value 0.000. The result of further test showed that there was no significant difference in the intensity of nausea and vomiting between the two groups with Sig. 0.428.Conclusion: Peppermint and pomelo are effective in reducing the intensity of nausea and vomiting in trimester I pregnant women.Suggestion : This research needs to be refined by enlarging the research sample and measuring the intensity of nausea and vomiting can be done every day during the study considering that this study only measured twice the number of 24 respondents. Keywords : Nausea, Vomiting, Pregnancy, Peppermint, Pomelo ABSTRAK Latar Belakang : Emesis gravidarum dapat bertambah berat menjadi hiperemesis gravidarum yang mengakibatkan tubuh semakin lemah, pucat, dan frekuensi buang air kecil menurun. Akibatnya cairan tubuh berkurang dan hemokonsentrasi darah yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan. Pengobatan non farmakolgis sangat penting karena mengurangi efek farmakologis yang muncul pada ibu hamil. Terapi herbal yang sudah terbukti bermanfaat adalah pemberian peppermint, namun penelitian efek buah Pamelo yang berkaitan dengan mual muntah pada ibu hamil masih jarang.Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui  perbandingan efektifitas pemberian peppermint dan Jeruk Pomelo terhadap intensitas  mual dan  muntah pada ibu hamilMetode Penelitian : Rancangan penelitian ini adalah quasi experimental dengan pendekatan pretest posttest control group design. Jumlah sampel  adalah sebanyak 24 orang ibu hamil yang dikelompokkan kedalam 3 kelompok.Hasil Penelitian : Rata-rata intensitas mual muntah pada kelompok peppermint saat pretest adalah 2,38 dan menurun pada saat posttest menjadi 1 dengan P-value 0,004. Intensitas mual muntah kelompok Pomelo pada pretest adalah 6.38 turun menjadi 1,75 pada saat posttest dengan P-value 0,000. Hasil uji lanjut didapatkan tidak ada perbedaan bermakna intensitas mual muntah antara kedua kelompok dengan Sig. 0,428.Kesimpulan : Pemberian Peppermint dan pomelo efektif dalam menurunkan intensitas mual dan muntah pada ibu hamil trimester I.Saran : Penelitian ini perlu disempurnakan dengan memperbesar sampel penelitian dan pengukuran intensitas mual muntah dapat dilakukan setiap hari selama penelitian mengingat penelitian ini hanya mengukur sebanyak dua kali pada 24 responden. Kata kunci : Mual, Muntah, Kehamilan, Peppermint, Pomelo 
PERAN TEH HIJAU TERHADAP OVARIUM, ENDOMETRIUM DAN AORTA TIKUS YANG DIPAPAR DEPOMEDROXY PROGESTERONE ACETATE (DMPA) Nora Veri
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 7, No 3 (2021): Vol.7 No.3 Juli 2021
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v7i3.4255

Abstract

Background: The type of injectable contraceptive that is currently widely used is Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) which contains the hormone progestin, which is a synthetic material from progesterone. The use of progestin contraceptives can reduce endometrial proliferation and increase apoptosis in endometrial tissue. Cell apoptosis is triggered by an imbalance between positive signals (cell growth factors) and negative signals (DNA damage and increased levels of oxidants) under conditions of oxidative stress. Apoptosis of oocytes in large numbers will cause tissue damage which is characterized by atrophy of the ovaries and causes decreased reproductive function. Oxidative stress can be overcome with endogenous and exogenous antioxidants to reduce free radicals in the body. Green tea is one of the herbal plants that act as antioxidants and phytoestrogens, through the polyphenol compounds contained therein.Purpose: To know the role of green tea in providing protective effects on the ovaries, endometrium and aorta in rats.Methods : The research design used in this study was a true experiment with a post test only control group design approach. In this study, the researchers treated green tea extract at a dose of 10.8 mg/rat/day, 21.6 mg/rat/day, and 43.2 mg/rat/day and exposure to DMPA at a dose of 2.7 mg/rat/day. Green tea extract was administered orally for 28 days. The research hypothesis is that green tea can increase the number of follicles, the number of endometrial glands and reduce the arteriosclerosis score of blood vessels. The preparations were stained by the Hemotoxin-Eosin (HE) method and using the OlyVIA software.Result: There was a significant decrease in the number of corpus luteum, endometrial glands and arteriosclerosis scores due to DMPA exposure but not on the number of follicles. Green tea extract was able to increase the number of endometrial glands at a dose of 10.8 mg/day, but there was no significant difference between doses. Green tea extract was able to reduce arteriosclerosis scores, but the most effective dose was 43.2 mg/day.Conclusion: DMPA exposure was able to significantly reduce the number of corpus luteum, the number of endometrial glands and arteriosclerosis score, but there was no significant difference in the number of primary, secondary, tertiary and de Graff follicles, there was a difference in the number of corpus luteum in the group exposed to DMPA, green tea extract was able to increase the number of endometrial glands and decrease the arteriosclerosis score.Suugestion It is necessary to determine the phase of the reproductive cycle before calculating the number of follicles and examining the level of the hormone estrogen to determine whether the experimental animal has become a hypoestrogen model or not. Keywords : Progesterone, Contraception, Green Tea, Antioxidant ABSTRAK Latar Belakang : Jenis kontrasepsi suntik yang saat ini banyak digunakan adalah Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) yang mengandung hormon progestin yaitu bahan sintestis dari progesteron. Penggunaan kontrasepsi progestin dapat menurunkan proliferasi endometrium dan meningkatkan apoptosis pada jaringan endometrium. Apoptosis sel dipicu karena adanya ketidakseimbangan antara sinyal positif (faktor pertumbuhan sel) dan sinyal negatif (kerusakan DNA dan peningkatan kadar oksidan) pada kondisi stress oksidatif. Apoptosis pada oosit dalam jumlah yang besar akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang ditandai dengan terjadinya atrofi pada ovarium dan menyebabkan fungsi reproduksi menurun. Stress oksidatif dapat diatasi dengan antioksidan endogen dan eksogen untuk menurunkan radikal bebas dalam tubuh. Teh hijau merupakan salah satu tanaman herbal yang berperan sebagai antioksidan dan fitoestrogen, melalui senyawa polifenol yang terkandung didalamnya.Tujuan : Mengetahui peran teh hijau dalam meberikan efek protektif terhadap ovarium, endometrium dan aorta pada tikus.Metode : Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah true experiment dengan pendekatan post test only control group design. Dalam penelitian ini perlakuan peneliti adalah pemberian ekstrak teh hijau dengan dosis 10,8 mg/tikus/hari, 21,6 mg/tikus/hari, dan 43,2 mg/tikus/hari dan paparan DMPA dosis 2,7 mg/tikus/hari pada tikus. Ekstrak teh Hijau diberikan secara oral selama 28 hari. Hipotesis penelitian adalah teh hijau mampu meningkatkan jumlah folikel, jumlah kelenjar endometrium dan menurunkan skor arteriosklerosis pembuluh darah. Preparat diwarnai dengan metode Hemotoxin-Eosin (HE) dan menggunakan software OlyVIA.Hasil : Terjadi penurunan jumlah korpus luteum, kelenjar endometrium dan skor arteriosklerosis akibat paparan DMPA secara bermakna namun tidak pada jumlah folikel. Ekstrak teh hijau mampu meningkatkan jumlah kelenjar endometrium pada dosis 10.8 mg/hari, namun tidak ada perbedaan yang signifikan antar dosis. Ekstrak teh hijau mampu menurunkan skor arteriosklerosis, namun yang paling efektif adalah dosis 43.2 mg/hari.Kesimpulan : Paparan DMPA mampu menurunkan jumlah korpus luteum, jumlah kelenjar endometrium dan skor arteriosklerosis secara bermakna, namun tidak ada perbedaan yang bermakna pada jumlah folikle primer, sekunder, tersier dan de Graff, ada perbedaan jumlah korpus luteum pada kelompok yang dipapar DMPA, ekstrak teh hijau mampu meningkatkan jumlah kelenjar endometrium  dan menurunkan skor arteriosklerosis.Saran Perlu menentukan fase siklus reproduksi sebelum dilakukan perhitungan jumlah folikel dan pemeriksaan kadar hormon estrogen untuk menentukan apakah hewan coba sudah menjadi model hypoestrogen atau belum. Kata Kunci :  DMPA, Kontrasepsi, Teh Hijau, Antioksidan