Claim Missing Document
Check
Articles

Pitiriasis Versikolor: Diagnosis dan Terapi Annisa Shafira Pramono; Tri Umiana Soleha
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial umum pada lapisan epidermis. Penyakit ini memiliki distribusi yang luas di seluruh dunia, namun lebih sering terjadi di negara-negara tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi. Pitiriasis versikolor disebabkan oleh Malassezia furfur yang merupakan jamur saprofit pada manusia normal, namun dalam beberapa kondisi, jamur ini dapat berubah menjadi bentuk patogen. Diagnosis pitiriasis versikolor ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan mikroskopis atau kultur jamur. Lesi khas pitiriasis versikolor berupa makula, plak, atau papul folikular dengan beragam warna, hipopigmentasi, hiperpigmentasi, sampai eritematosa, berskuama halus di atasnya, dikelilingi kulit normal. Pada pemeriksaan mikroskopis, spesimen yang digunakan adalah kerokan kulit atau isolat dari kultur jamur. Pemeriksaan lain yang menunjang diagnosis pitiriasis versikolor adalah pemeriksaan lampu wood dan uji biokimia, namun kedua pemeriksaan ini hanya digunakan sebagai penunjang bukan untuk mengkonfirmasi diagnosis. Pengobatan pitiriasis versikolor dapat dilakukan secara oral ataupun topikal. Terapi lini pertama adalah terapi antifungal topikal, termasuk zink pirition, ketokonazol, dan terbinafin. Antifungal oral dianggap sebagai lini kedua dan digunakan pada kasus berat. Terbinafin oral dan ketokonazol oral tidak efektif dalam terapi pitiriasis versikolor, antifungal oral seperti itrakonazol dan flukonazol dianggap sesuai untuk terapi pitiriasis versikolor.Kata kunci: antifungal oral, antifungal topikal, diagnosa, pitiriasis versikolor.
Potensi Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum [Wight.] Walp.) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus secara In Vitro Alfan Tammi; Ety Apriliana; Tri Umiana Soleha; M. Ricky Ramadhian
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Staphylococcus aureus dapat menyebabkan penyakit pada manusia seperti sistitis, pielitis, meningitis, septikemia, endokarditis, osteomielitis, dan lain-lain. Daun salam mempunyai zat aktif dengan efek antibakteri yaitu tanin, flavonoid, minyak atsiri, dan alkaloid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi daya hambat yang dihasilkan ekstrak daun salam terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dengan metode difusi cakram kirby bauer. Sampel penelitian ini adalah Staphylococcus aureus. Kadar ekstrak daun salam yaitu: 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Daya hambat diperoleh berdasarkan pengukuran zona hambat yang terbentuk di sekitar kertas cakram menggunakan jangka sorong. Ekstrak daun salam menghasilkan zona hambat untuk Staphylococcus aureus pada konsentrasi 20% (18,75 mm); 40% (20 mm); 60% (20 mm); 80% (20,25 mm); 100% (22,75 mm). Ekstrak daun salam dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan meningkat sebanding peningkatan konsentrasi.Kata kunci: ekstrak daun salam, Staphylococcus aureus.
Perbedaan Kadar Hemoglobin Pre dan Post Hemodialisis pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Astriani Rahayu; Ade Yonata; Tri Umiana Soleha; Putu Ristyaning Ayu
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) didefinisikan sebagai kerusakan ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan, berupa kelainan struktural atau fungsional, dengan atau tanpa penurunan gromelurus filtration rate (GFR). Pada end-stage renal disease (ESRD), GFR pasien kurang dari 15 ml/menit/1,73 m2 dianjurkan untuk menjalani renal replacement therapy (RRT), seperti hemodialisis, agar dapat bertahan hidup dengan kualitas baik. Anemia merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien CKD, terutama ketika GFR menurun kurang dari 30-40 ml/menit/1,73 m2 dan terjadi pada 80-90% pasien CKD yang menjalanihemodialisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar hemoglobin pre dan post hemodialisis pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2016. Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan pengambilan data cross-sectional yang melibatkan 36 responden pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini menggunakan data primer, dimana data diambil secara langsung dari pasien yang menjalanihemodialisis. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata kadar hemoglobin pre hemodialisis 9,3 g/dl dan post hemodialisis 10,7 g/dl, dengan 91,7% responden mengalami peningkatan kadar hemoglobin post hemodialisis. Hasil uji statistik T-paired didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05) dengan IK 95% tidak melewati nol. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna kadar hemoglobin pre dan post hemodialisis pada pasien gagal ginjal kronik.Kata kunci: chronik kidney disease, hemodialisis, hemoglobin.
Identifikasi Bakteri Escherichia coli pada Air PDAM dan Air Sumur di Kelurahan Gedong Air Bandar Lampung Devi Restina; M. Ricky Ramadhian; Tri Umiana Soleha; Efrida Warganegara
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki beberapa jenis sumber air. Sumber air yang sering digunakan oleh masyarakat adalah air PDAM dan air sumur gali. Kualitas air yang baik adalah air yang terbebas dari mikroorganisme, salah satunya adalah Escherichia coli. Air yang mengandung bakteri dapat menularkan penyakit melalui air. Salah satu penyakit yang dapat ditularkan melalui air adalah penyakit diare. Prevalensi diare di Bandar Lampung pada bulan Januari hingga April 2016, berjumlah sebesar 6.764kasus, dengan kasus terbanyak berada di Puskesmas Gedong Air. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi adanya Escherichia coli pada air sumur dan air PDAM di Kelurahan Gedong Air dan mengetahui presentasi bakteri Escherichia coli pada sampel air tersebut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2016 di Kelurahan Gedong Air. Sampel air segeradibawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah Bandar Lampung dan penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan jumlah sampel 12 air sumur dan 12 air PDAM. Sampel diuji dengan metode MPN dan biokimia dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher. Pada air PDAM, didapatkan hasil 7 sampel (58,3%) positif mengandung Escherichia coli dan untuk air sumur didapatkan hasil 1 sampel (8,3%) positif mengandung Escherichia coli. Hasil penelitian didapatkan air PDAM dan air sumur berhubungan secara signifikan (p<0,027) dengan bakteri Escherichia coli. Terdapat hubungan yangsignifikan antara bakteri Escherichia coli dengan air PDAM dan air sumur di Kelurahan Gedong Air Bandar Lampung.Kata kunci: air PDAM, air sumur, diare, Escherichia coli.
Perbandingan Efektivitas Mencuci Tangan Menggunakan Hand Sanitizer dengan Sabun Antiseptik pada Tenaga Kesehatan di Ruang ICU RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Raka Novadlu Cordita; Tri Umiana Soleha; Diana Mayasari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) mempunyai kecenderungan 5-8 kali lebih tinggi untuk terkena infeksi. Salahsatu pengendalian infeksi ialah kebersihan tangan tenaga kesehatan dengan mencuci tangan baik menggunakan sabun antiseptik maupun hand sanitizer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas mencuci tangan menggunakan hand sanitizer dengan sabun antiseptik pada tenaga kesehatan di ruang ICU RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan desain pre-test post-test control group design menggunakandata primer dengan pemeriksaan laboratorium. Penelitian dilakukan di ruang ICU RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Sampel diambil menggunakan simple random sampling dengan kelompok perlakuan 13 orang mencuci tangan menggunakan hand sanitizer dan 13 orang mencuci tangan menggunakan sabun antiseptik. Variabel independen adalah jumlah angka kuman sebelum mencuci tangan pada kedua kelompok perlakuan. Variabel dependen adalah jumlah angka kuman sesudah mencuci tangan dan persentase penurunan jumlah angka kuman pada kedua kelompok perlakuan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan uji T tidak berpasangan dengan α=0,05 dan CI=95%. Terdapat perbedaan jumlah angka kuman sebelum dan sesudah mencuci tangan menggunakan hand sanitizer (p=0,001) dan sabun antiseptik (p=0,001). Terdapat perbedaan persentase penurunan jumlah angka kuman pada perlakuan mencuci tangan menggunakan hand sanitizer dengan sabun antiseptik (p=0,041). Efektivitas penurunan jumlah angka kuman mencuci tangan menggunakan hand sanitizer sebesar 60% dan sabun antiseptik sebesar 73%. Mencuci tangan menggunakan sabun antiseptik lebih efektifdibandingkan mencuci tangan menggunakan hand sanitizer.Kata kunci: efektivitas, hand sanitizer, sabun antiseptik
Identifikasi Bakteri pada Bakso Bakar, Saos, dan Sambalnya di Kelurahan Perwata Kecamatan Teluk Betung Timur A. Rialdi Pranada; Efrida Warganegara; Tri Umiana Soleha; Ety Apriliana
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakso bakar, saos dan sambalnya merupakan salah satu produk makanan jajanan yang digemari oleh berbagai kalangan masyarakat, dijual dengan harga relatif murah serta banyak dijual di tempat terbuka. Oleh sebab itu kontaminasi terhadap bakteri dapat terjadi sehingga bisa menjadi salah satu faktor timbulnya foodborne disease. Menurut beberapa penelitian angka wabah dan kematian tertinggi pada foodborne disease disebabkan oleh bakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi bakteri pada bakso bakar, saos, dan sambalnya di Kelurahan Perwata Kecamatan Teluk Betung Timur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan total sampel. Sampel bakso bakar, saos dan sambalnya diambil sebanyak 1 gram lalu dibawa ke Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Lampung untuk dilakukan uji Laboratorium. Uji laboratorium yang digunakan adalah pembiakan bakteri pada media Nutrient Agar, lalu dilakukan pewarnaan gram, kemudian dilakukan uji biokimia. Hasil penelitian dari 39 sampel yang diteliti, ditemukan bakteri pada bakso bakar sebanyak 10 sampel (71%) yaitu bakteri Escherichia coli 36%, bakteri Staphylococcus aureus 7% dan bakteriSalmonella typhi 28%. Pada saos ditemukan bakteri sebanyak 6 sampel (46%) yaitu Escherichia coli 8%, bakteri Staphylococcus aureus 23% dan bakteri Staphylococcus epidermidis 15%. Pada sambal ditemukan bakteri sebanyak 8 sampel (61%) yaitu bakteri Escherichia coli 23%, bakteri Staphylococcus aureus 23% dan bakteri Pseudomonas aeruginosa15%. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat cemaran bakteri pada bakso bakar, saos dan sambalnya di Kelurahan Perwata Teluk Betung Timur Bandar Lampung.Kata kunci: bakso bakar, foodborne disease.
Identifikasi Bakteri Salmonella typhi Pada Makanan Jajanan Gorengan yang Dijual di Depan Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung Meiwa Rizky Ardhi Blla Putri; Tri Umiana Soleha; Syazili Mustofa; Ety Apriliana
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kematian tertinggi pada foodborne disease disebabkan oleh bakteri, salah satunya bakteri Salmonella typhi. Salmonella typhi adalah strain bakteri yang menyebabkan terjadinya demam tifoid. Demam tifoid merupakan salah satu penyakit penyebab kematian yang tinggi, dimana sebanyak 21 juta kasus demam tifoid mencapai angka kematian 216.000jiwa tiap tahunnya. Gejalanya yaitu demam tinggi, mual, muntah, pusing dan nyeri abdomen.Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya bakteri Salmonella typhi pada makanan jajanan gorengan yang dijual di depan Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan sampel secara simple random sampling. Sampel makanan jajanan gorengan diambil sebanyak 1 gram lalu dibawa ke Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Lampung untuk dilakukan uji Laboratorium. Uji laboratorium yang digunakan adalah pembiakan bakteri pada media Salmonella-Shigella Agar, lalu dilakukan pewarnaan gram, kemudian dilakukan uji biokimia. Hasil penelitian dari 44 sampel makanan jajanan gorengan yang diteliti, menunjukkan pertumbuhan koloni Salmonella typhi sebanyak 17 sampel (39%) dan 27 sampel lainnya (61%) tidak ditemukan pertumbuhan bakteri. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat bakteri Salmonella typhi pada makanan jajanan gorengan yang dijual di depan Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Kedaton Bandar Lampung.Kata kunci: Foodborne disease, Jajanan gorengan, Salmonella typhi
Perbandingan Daya Hambat Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Sirih Hijau (Piper Betle L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi dan Staphylococcus aureus Benny Bradley Pradana Pangaribuan; Tri Umiana Soleha; Muhammad Ricky Ramadhian
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit infeksi merupakan penyebab utama masalah kesehatan di seluruh dunia terutama negara tropis, khususnya infeksi Salmonella typhi yang menyebabkan demam tifoid dan Staphylococcus aureus yang dapat menginfeksi berbagai jaringan ataupun alat tubuh. Penyakit infeksi umumnya diobati dengan antibiotik. Daun sirih hijau (Piper betle L.) diketahui memiliki banyak khasiat, salah satunya sebagai antibakteri. Penelitian bertujuan mengetahui perbandingan pengaruh ekstrak etanoldaun sirih hijau terhadap daya hambat pertumbuhan antara bakteri Salmonella typhi dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan bakteri Salmonella typhi dan Staphylococcus aureus yang diberikan ekstrak etanol daun sirih hijau yang dibagi dalam 7 kelompok. Kontrol negatif dengan aquadest (K1), konsentrasi 20% (K2), konsentrasi 40% (K3), konsentrasi 60% (K4), konsentrasi 80% (K5), konsentrasi 100% (K6), dan kontrol positif dengan seftriakson dan penisilin G (K7). Hasilpenelitian didapatkan bahwa ekstrak etanol daun sirih hijau menghasilkan diameter zona hambat yang berbeda pada konsentrasi yang berbeda, dimana rerata zona hambat tertinggi untuk Salmonella typhi pada konsentrasi 100% (39,25mm) dan Staphylococcus aureus pada konsentrasi 60% (36,5mm). Perbandingan antara pengaruh ekstrak etanol daun sirih hijau kedua bakteri yang didapatkan dengan uji Wilcoxon, yaitu p=0,879, menunjukan tidak terdapat perbedaan pengaruh ekstrak etanol daun sirih hijau terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri antara Salmonella typhi dan Stapylococcusaureus.Kata kunci: daun sirih hijau, diameter zona hambat, Salmonella typhi, Staphylococcus aureus
Identifikasi dan Uji Resistensi Staphylococcus aureus pada Ulkus Diabetik di Instalasi Penyakit Dalam RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Rifda Khairunnisa; Tri Umiana Soleha; Muhammad Ricky Ramadhian
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang menyebabkan kerusakan jaringan disertai abses bernanah. Ulkus diabetik merupakan suatu ulserasi kronis pada kaki pasien diabetes melitus. Ulkus diabetik banyak disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas spp. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya S. aureus pada pasien diabetes melitus yang mempunyai ulkus diabetik. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif menggunakan cross sectional study. Pengambilan sampel menggunakan metode non-probability sampling dengan jenis consecutive sampling dan alat ukur menggunakan nutrient broth. Hasil penelitian diuji dengan SPSS. Penelitian dilakukan terhadap 21 responden dengan 14 (66,7%) pasien positif S. aureus dan 7 (33,3%) pasien tidak terdapat S. aureus. Pola kepekaan antibiotik amoksisilin 92,9% resisten dengan 7,1% intermediate terhadap bakteri S. aureus, vankomisin 57,1% resisten dengan 42,9% sensitif, sefotaksim 50% resisten dengan 21,4% sensitif dan 28,6% intermediate serta sefoksitin memiliki tingkat resisten sebesar 42,9% dengan 57,1% sensitif terhadap S. aureus. Antibiotik yang paling sensitif adalah sefoksitin dan antibiotik yang paling resisten adalah amoksisilin.Kata kunci: Antibiotik, diabetes melitus, ulkus diabetikum.
Efektivitas Konsumsi Teh Chamomile Untuk Mengurangi Kesulitan Tidur (Insomnia) Putri Puspa Devi; Tri Umiana Soleha; Winda Trijayanthi Utama
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 8 No. 2 (2021): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas konsumsi teh chamomile untuk mengurangi kesulitan tidur. Banyak upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas tidur pada lansia. Namun belakangan ini kembali dikembangkan metode tradisional dengan bahan-bahan herbal. Salah satu bahan yang sudah digunakan sejak dahulu adalah teh chamomile. Chamomile diketahui mengandung senyawa apigenin yang memiliki fungsi seperti benzodiazepine. Senyawa apigenin pada chamomile akan mengikat reseptor GABA A yang kemudian merangsang timbulnya rasa kantuk dan merelaksasi otot. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang membahas efektivitas konsumsi teh chamomile untuk mengurangi kesulitan tidur. Penelitian-penelitian yang digunakan dalam literature review menunjukkan hasil bahwa teh chamomile dinilai efektif dalam mengurangi gangguan tidur, baik pada remaja, dewasa, dan lansia. Kata Kunci : Insomnia, Teh Chamomile.