Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Nilai CT dalam Pemeriksaan RT-PCR dengan Prognosis Pasien COVID-19: Tinjauan Pustaka Muhammad Chaidar Ali; Tri Umiana Soleha; Ari Wahyuni
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Severe Acute Respiratory Syndrome-2 (SARS CoV-2) merupakan virus penyebab penyakit COVID-19 yang pertama kali muncul pada akhir desember 2019 di kota Wuhan, Cina. Proses penularan dan penyebarannya yang sangat cepat hingga ke berbagai negara membuat virus ini dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO pada Maret 2020. Manifestasi klinis yang muncul pada COVID-19 beragam, yaitu tanpa gejala, gejala ringan, sampai gejala berat. Keberagaman gejala tersebut dapat dipengaruhi oleh hal lain, yaitu usia, gaya hidup, dan penyakit penyerta. Hal-hal yang mempengaruhi ini dapat membuat prognosis COVID-19 sulit diprediksi. Pemeriksaan RT-PCR menjadi standar emas untuk mendeteksi SARS CoV-2. Viral load yang terdeteksi pada pemeriksaan ini dapat berkorelasi langsung dengan derajat keparahan penyakit. Nilai CT dengan rentang nilai 17 sampai 35 menjadi interpretasi pemeriksaan RT-PCR. Apabila rentang nilai menunjukkan angka 17-24, viral load pasien dinyatakan tinggi sedangkan pada nilai lebih dari 24 sampai 35 dinyatakan viral load pasien rendah. Penelitian menjelaskan bahwa semakin rendah nilai CT maka kemungkinan prognosis pasien COVID-19 semakin buruk. Tetapi terdapat keterbatasan pada setiap penelitian, contohnya jumlah sampel yang terlalu sedikit, heterogenitas data pemerikaan RT-PCR, serta faktor individual pasien yang berbeda-beda. Oleh karena itu, menginterpretasikan nilai CT untuk digunakan sebagai prognosis membutuhkan pendukung lain seperti pemeriksaan lab lain dan dengan melihat manifestasi klinis yang ada pada pasien. Kata kunci: Nilai Cycle Threshold, RT-PCR, Prognosis COVID-19
Laboratory Tests as an Indicator of Neonatal Sepsis Putu Karis Ayu Kirana; Tri Umiana Soleha; Bayu Anggileo Pramesona; Evi Kurniawaty
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp47-53

Abstract

Sepsis neonatotum adalah penyakit yang sangat kompleks dimana kelainan klinis penyakit sistemik disebabkan oleh bakteremia pada bayi berusia 28 hari atau kurang. Penegakkan diagnosis sepsis neonatorum masih sulit ditegakkan dan kita membutuhkan pemeriksaan laboratorium atau biomarker untuk diagnosis sepsis neonatorum yang cepat dan akurat. Baku emas dalam pengujian laboratorium untuk mendeteksi dan mengidentifikasi bakteri penyebab sepsis adalah kultur darah, namun hasil dari pemeriksaan ini baru dapat diketahui setelah beberapa hari sehingga diperlukan metode pemeriksaan penunjang yang lebih cepat untuk membantu diagnosis serta digunakan sebagai alat skring diagnosis dan predictor kematian sepsis pada bayi baru lahir. Pemeriksaan darah lengkap dan beberapa biomarker lainnya merupakan pemeriksaan sederhana yang umumnya tersedia di hampir semua fasilitas perawatan kesehatan, sehingga diagnosis sepsis neonatorum dapat segera ditegakkan dan tatalaksana dapat segera diberikan. Neonatal sepsis is a highly complex disease in which clinical abnormalities of systemic disease are caused by bacteremia in infants aged 28 days or less. The diagnosis of neonatal sepsis is still difficult to establish and we need laboratory tests or biomarkers for rapid and accurate diagnosis of neonatal sepsis. The gold standard in laboratory testing to detect and identify the bacteria that cause sepsis is blood culture, however the results of this examination can only be known after a few days, so a faster supporting examination method is needed to assist diagnosis and be used as a diagnosis screening tool and predictor of sepsis mortality in newborns. Complete blood tests and several other biomarkers are simple tests that are generally available in almost all health care facilities, so that the diagnosis of neonatal sepsis can be established immediately and management can be given immediately.