Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PERBANDINGAN KUALITAS TELUR CACING STH MENGUNAKAN PEWARNAAN EOSIN 2% DAN PEWARNAAN PERASAN KULIT BUAH MANGGIS Wahyuni, Lestari Mega; Solikah, Monika Putri; Putri, Novita Eka
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48108

Abstract

Helminthiasis cacing yang disebabkan oleh nematoda usus umumnya bersifat asimtomatik. Penularannya terjadi melalui telur cacing yang termasuk dalam kelompok Soil Transmitted Helminths (STH), dengan tanah sebagai media perantara. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2023, sekitar 1,5 miliar orang di seluruh dunia setara dengan 24% dari total populasi global yang diperkirakan terinfeksi cacing STH. Di Indonesia, survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa tingkat prevalensi infeksi cacing pada anak-anak di beberapa provinsi berada pada kisaran 60% hingga 90%. Dalam pemeriksaan mikroskopis terhadap telur cacing STH, eosin 2% merupakan pewarna yang umum digunakan. Namun, seiring meningkatnya minat terhadap bahan yang ramah lingkungan, ekstrak kulit buah manggis berpotensi menjadi alternatif pewarna alami. Kulit buah manggis mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin, alkaloid, dan pigmen alami yang mampu menghasilkan warna merah bata, sehingga memiliki karakteristik yang sesuai untuk digunakan sebagai zat pewarna mikroskopis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas pewarnaan antara eosin 2% dan ekstrak kulit buah manggis dalam visualisasi telur cacing STH. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan memberikan empat jenis perlakuan pewarnaan pada sediaan menggunakan kedua jenis pewarna. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS, diawali dengan uji normalitas Shapiro-Wilk, kemudian dilanjutkan dengan uji Kruskal-Wallis untuk melihat perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarnaan menggunakan ekstrak kulit buah manggis dengan konsentrasi 25% memberikan kualitas visualisasi telur cacing yang cukup baik. Dengan demikian, meskipun efektivitasnya belum sepenuhnya setara dengan eosin 2%, ekstrak kulit buah manggis memiliki potensi sebagai pewarna alami alternatif dalam pemeriksaan mikroskopis telur cacing STH.
PERBEDAAN KADAR TROMBOSIT PADA PASIEN TERINFEKSI PARASIT Plasmodium falciparum DAN Plasmodium vivax DI PUSKESMAS PASAR SENTRAL TIMIKA PAPUA Sakka Putri, Lilis; Solikah, Monika Putri; Putri, Novita Eka
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48709

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar trombosit pada pasien berdasarkan jenis Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax, karakteristik pasien Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax bedasarkan usia, dan karakteristik pasien Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas Pasar Sentral Timika Papua. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional,teknik pengambilan sampel yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan Teknik Purposive sampling. Hasil yang telah didapatkan berdasarkan usia pada pasien Plasmodium falciparum jumlah terbanyak diusia dewasa 18 – 59 tahun dengan banyak 53 responden, sedangkan pasien Plasmodium vivax jumlah terbanyak diusia dewasa 18 – 59 tahun dengan banyak 55 responden, berdasarkan jenis kelamin pada pasien Plasmodium falciparum jumlah terbanyak pada responden jenis kealmin laki – laki dengan jumlah 70 responden, sedangkan pasien Plasmodium vivax jumlah terbanyak pada responden jenis kelamin laki – laki dengan jumlah 67 responden, kemudian berdasarkan jumlah trombosit pada pasien Plasmodium falciparum untuk kategori normal (150.000 – 450.000/mm3) sebanyak 14 responden, dan trombositopenia (< 150.000/mm3) sebanyak 86 responden, sedangkan jumlah trombosit pada pasien Plasmodium vivax untuk kategori normal 150.000 – 450.000/mm3) sebanyak 49 responden, dan trombositopenia (< 150.000/mm3) sebanyak 51 responden. Kesimpulan dalam penelitian terdapat perbedaan kadar trombosit pada pasien terinfeksi Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax di Puskesmas Pasar Sentral Timika Papua dengan jumlah trombosit rata – rata 113,15% pada Plasmodium falciparum kadar trombosit rata - rata 149,71% pada Plasmodium vivax.
IDENTIFIKASI KEJADIAN TINEA PEDIS PADA PEKERJA CUCI MOTOR DAN MOBIL DI KELURAHAN NOGOTIRTO KABUPATEN SLEMAN Qanitat, Asma'; Putri, Novita Eka; Irfani, Farida Noor
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49283

Abstract

Salah satu pekerjaan yang beresiko tinggi atas kejadian tinea pedis adalah pekerja di tempat cuci motor dan mobil. Berdasarkan observasi, tempat cuci motor dan mobil di Kelurahan Nogotirto, Kabupaten Sleman menunjukkan masih banyak pekerja yang tidak menggunakan alas kaki saat bekerja dan tingkat paparan tinea pedis yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian Tinea pedis serta faktor-faktor yang berhubungan pada pekerja cuci motor dan mobil di Kelurahan Nogotirto, Kabupaten Sleman. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 32 responden yang diambil secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan pemeriksaan kerokan kulit jari kaki. Identifikasi jamur dilakukan dengan pemeriksaan KOH 10% dan kultur pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Analisis data menggunakan uji Chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan kejadian Tinea pedis. Dari 32 responden, 21 orang menunjukkan gejala Tinea pedis, namun hanya 7 sampel yang terkonfirmasi positif Trichophyton sp. melalui kultur SDA. Selain itu, ditemukan juga jamur non-dermatofita seperti Candida sp., Aspergillus sp., Rhizopus sp., serta bakteri. Uji Chi-square memperlihatkan bahwa gejala klinis (pv=0,030) dan kebiasaan mencuci kaki sebelum dan setelah beraktivitas (pv=0,025) memiliki hubungan signifikan dengan kejadian Tinea pedis. Sebaliknya, usia (pv=0,740), tingkat pendidikan (pv=0,188), durasi kerja (pv=0,454), lama bekerja (pv=0,669), kebiasaan mandi teratur (pv=0,055), dan penggunaan alas kaki (pv=0,805) tidak menunjukkan hubungan signifikan.
GAMBARAN INFEKSI TOKSOPLASMOSIS KONGENITAL DI RSUP DR. SARDJITO PROVINSI YOGYAKARTA Fadillah, Rahmah; Putri, Novita Eka; Nailufar, Yuyun
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49311

Abstract

Salah satu aspek patologis yang mempengaruhi Kesehatan kehamilan adalah infeksi Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii yang menyerang wanita hamil dapat membahayakan jika menginfeksi janin. Toksoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii yang bersifat intraseluler obligat. Toksoplasmosis kongenital terjadi ketika infeksi Toxoplasma gondii ditransmisikan dari ibu hamil yang terinfeksi primer kepada janinnya melalui plasenta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat gambaran infeksi toksoplasmosis kongenital di RSUP Dr. Sardjito Provinsi Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode cross sectional. Sampel diambil dengan total sampling sebanyak 39 pasien sesuai kriteria inklusi, yaitu bayi dari ibu hamil positif Toxoplasma gondii yang tercatat dalam kurun waktu 2019 – 2023. Pemeriksaan toksoplasmosis kongenital dilakukan dengan dua metode, yaitu ELFA dan ECLIA. Hasil penelitian yang telah dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito Provinsi Yogyakarta menyatakan bahwa terdapat adanya dampak yang berbeda pada setiap bayi yang terinfeksi Toksoplasmosis kongenital, dimana infeksi ini mayoritas bayi perempuan rentang usia 0-6 bulan dengan dampak klinis terbanyak ialah hidrosefalus. Hal ini menunjukkan perlunya perhatian khusus pada masyarakat terutama wanita dalam masa kehamilan agar lebih memperhatikan kebersihan dan kesehatan janin untuk menghindari penularan dari parasit Toxoplasma gondii.
IDENTIFIKASI PRTOZOA BALANTIDIUM COLI PADA FESES BABI MENGGUNAKAN METODE NATIF Bara, Maria Kornelia; Putri, Novita Eka; Novalina, Dhiah
Jurnal Insan Cendekia Vol 12 No 2 (2025): Jurnal Insan Cendekia
Publisher : STIKES Insan Cendekia Medika Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35874/jic.v12i2.1494

Abstract

ABSTRAK Balantidium coli adalah protozoa yang ditemukan di berbagai lokasi di dunia dan dengan berbagai jenis hewan inang, termasuk manusia. Balantidium coli merupakan agen komensal di saluran usus babi, yang dianggap sebagai reservoir alami bagi parasit ini. Dalam kondisi tertentu, protozoa ini dapat berfungsi sebagai patogen, mengakibatkan lesi enterik, mendukung invasi mukosa usus, serta perkembangbiakannya. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain cross-sectional. Sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin mengetahui keberadaan parasit protozoa Balantidium coli pada feses ternak babi, hasilnya menunjukkan keberadaan Balantidium coli serta ditemukan juga spesies lain, yaitu Soil Transmitted Helminth (STH). Kata Kunci : Balantidium coli, Feses, Metode Natif, Babi ABSTRACT Balantidium coli is a protozoan found in various locations worldwide and with various animal hosts, including humans. Balantidium coli is a commensal in the intestinal tract of pigs, which are considered a natural reservoir for this parasite. Under certain conditions, this protozoan can function as a pathogen, causing enteric lesions, supporting intestinal mucosal invasion, and its proliferation. This study uses an observational approach with a cross-sectional design, in accordance with the study's objective of determining the presence of the protozoan parasite Balantidium coli in pig feces, the results showed the presence of Balantidium coli, as well as other species, namely Soil-Transmitted Helminths (STH). Keywords : Balantidium coli, Feces, Native Method, Pig
Perbandingan Kualitas Variasi Konsentrasi Antosianin Ubi Ungu (Ipomoea batatas L.) dan Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) pada Pemeriksaan Telur Cacing STH Asmayani, Nurul; Putri, Novita Eka; Rahmawati, Yeni
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.22891

Abstract

ABSTRACT Microscopic staining is an important step in the identification of Soil Transmitted Helminths (STH) eggs. The use of eosin as a synthetic dye is effective but has potential side effects on the environment. Therefore, safer and more environmentally friendly natural dye alternatives are needed, one of which is anthocyanin from purple sweet potato (Ipomoea batatas L.) and red spinach (Amaranthus tricolor L.). This study was conducted to compare the microscopic staining quality of purple sweet potato and red spinach juice on STH worm egg preparations with varying concentrations of 80%, 90%, and 100%. The study used a quasi-experimental design. Stool samples positive for STH were examined using the native method. Assessment of staining quality was carried out microscopically based on the contrast of the visual field and the clarity of the worm egg morphology. Data analysis used the Kruskal-Wallis and Mann-U Whitney tests. The results of the Kruskal-Wallis test showed a significant difference (p<0.05) between the concentrations used. A concentration of 100% provided the best staining quality for both types of dyes. The 100% red spinach dye had the highest mean rank value (18.50), equivalent to the eosin control. However, the Mann-U Whitney test between purple sweet potato and 100% red spinach showed no significant difference (p=0.056). Purple sweet potato and red spinach dyes have potential as alternatives to eosin in staining STH worm eggs, with the best effectiveness at a concentration of 100%. Keywords : Anthocyanin, Purple Sweet Potato, Red Spinach, Natural Dye, Soil Transmitted Helminths, Microscopic Examination  ABSTRAK Pewarnaan mikroskopis merupakan langkah penting dalam identifikasi telur cacing Soil Transmitted Helminths (STH). Penggunaan eosin sebagai pewarna sintetik efektif namun memiliki potensi efek samping terhadap lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pewarna alami yang lebih aman dan ramah lingkungan, salah satunya adalah antosianin dari ubi ungu (Ipomoea batatas L.) dan bayam merah (Amaranthus tricolor L.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan kualitas pewarnaan mikroskopis air perasan ubi ungu dan bayam merah pada sediaan telur cacing STH dengan variasi konsentrasi 80%, 90%, dan 100%. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen. Sampel berupa feses positif STH diperiksa menggunakan metode natif. Penilaian kualitas pewarnaan dilakukan secara mikroskopis berdasarkan kontras lapang pandang dan kejelasan morfologi telur cacing. Analisis data menggunakan uji Kruskal- Wallis dan Mann- U Whitney. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara konsentrasi yang digunakan. Konsentrasi 100% memberikan kualitas pewarnaan terbaik untuk kedua jenis pewarna. Pewarna bayam merah 100% memiliki nilai mean rank tertinggi (18,50), setara dengan kontrol eosin. Namun, uji Mann- U Whitney antara ubi ungu dan bayam merah 100% menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p=0,056). Pewarna ubi ungu dan bayam merah memiliki potensi sebagai alternatif eosin dalam mewarnai telur cacing STH, dengan efektivitas terbaik pada konsentrasi 100%. Namun, kedua pewarna tersebut masih belum efektif dalam menggantikan kontrol positif. Kata Kunci: Antosianin, Ubi Ungu, Bayam Merah, Pewarna Alami, Soil Transmitted Helminths, Pemeriksaan Mikroskopis
Potensi Daun Tithonia diversifolia Sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi Kasim, Allya Nurkhairunnisa; Novalina, Dhiah; Putri, Novita Eka
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 2 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i2.20890

Abstract

Karies gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang umum, dengan Streptococcus mutans sebagai salah satu bakteri utama penyebabnya. Penggunaan obat kumur berbahan kimia dapat menimbulkan efek samping, sehingga pencarian alternatif berbahan alami menjadi penting. Tithonia diversifolia (paitan) mengandung senyawa bioaktif flavonoid, alkaloid, dan saponin yang memiliki potensi antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi potensi antibakteri ekstrak daun Tithonia diversifolia terhadap Streptococcus mutans secara in vitro dan untuk menentukan konsentrasi ekstrak daun T. diversifolia yang paling efektif menghambat pertumbuhan S. mutans. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan lima perlakuan dan tiga kali ulangan, yaitu: konsentrasi ekstrak etanol daun Tithonia diversifolia sebesar 10%, 30%, dan 50%; kontrol positif berupa oksitetrasiklin 30 µg; serta kontrol negatif berupa metanol. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram (Kirby & Bauer), dengan mengukur diameter zona hambat di sekitar cakram. Analisis data dilakukan dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Post-Hoc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun T. diversifolia memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans pada konsentrasi 30%, dan 50%, rata-rata diameter zona hambat yang terbentuk berturut-turut adalah 10,72 mm, dan 11,55 mm. Kontrol negatif (metanol) tidak menunjukkan zona hambat, sedangkan kontrol positif (oksitetrasiklin 30 µg) menghasilkan rata-rata zona hambat sebesar 34,41 mm. Meskipun terdapat peningkatan zona hambat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun Tithonia diversifolia berpotensi sebagai  antibakteri terhadap Streptococcus mutans, namun efektivitasnya belum signifikan sehingga memerlukan penelitian lanjutan dengan variasi konsentrasi yang lebih luas.
Potensi Daun Tithonia diversifolia Sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi Kasim, Allya Nurkhairunnisa; Novalina, Dhiah; Putri, Novita Eka
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 2 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i2.20890

Abstract

Karies gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang umum, dengan Streptococcus mutans sebagai salah satu bakteri utama penyebabnya. Penggunaan obat kumur berbahan kimia dapat menimbulkan efek samping, sehingga pencarian alternatif berbahan alami menjadi penting. Tithonia diversifolia (paitan) mengandung senyawa bioaktif flavonoid, alkaloid, dan saponin yang memiliki potensi antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi potensi antibakteri ekstrak daun Tithonia diversifolia terhadap Streptococcus mutans secara in vitro dan untuk menentukan konsentrasi ekstrak daun T. diversifolia yang paling efektif menghambat pertumbuhan S. mutans. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan lima perlakuan dan tiga kali ulangan, yaitu: konsentrasi ekstrak etanol daun Tithonia diversifolia sebesar 10%, 30%, dan 50%; kontrol positif berupa oksitetrasiklin 30 µg; serta kontrol negatif berupa metanol. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram (Kirby & Bauer), dengan mengukur diameter zona hambat di sekitar cakram. Analisis data dilakukan dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Post-Hoc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun T. diversifolia memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans pada konsentrasi 30%, dan 50%, rata-rata diameter zona hambat yang terbentuk berturut-turut adalah 10,72 mm, dan 11,55 mm. Kontrol negatif (metanol) tidak menunjukkan zona hambat, sedangkan kontrol positif (oksitetrasiklin 30 µg) menghasilkan rata-rata zona hambat sebesar 34,41 mm. Meskipun terdapat peningkatan zona hambat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun Tithonia diversifolia berpotensi sebagai  antibakteri terhadap Streptococcus mutans, namun efektivitasnya belum signifikan sehingga memerlukan penelitian lanjutan dengan variasi konsentrasi yang lebih luas.
Infeksi Jamur Candida albicans Pada Saliva Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 yang Terkontrol dan Tidak Terkontrol di Puskesmas Ngemplak II Yogyakarta Triani, Andi Rizkita; Putri, Novita Eka; Novalina, Dhiah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus meningkatkan risiko terjadinya berbagai infeksi, termasuk infeksi oleh bakteri, jamur dan virus. Infeksi jamur, khususnya kandidiasis, merupakan komplikasi yang sering dijumpai pada penderita Diabetes Melitus. Kandidiasis disebabkan oleh pertumbuhan berlebih dari jamur Candida albicans, yang secara normal hidup sebagai flora komensal pada tubuh manusia. Namun, pada kondisi tertentu seperti diabetes, pertumbuhan jamur ini menjadi tidak terkendali sehingga menimbulkan infeksi. Penelitian ini bertujuan mengetahui kejadian kandidiasis pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 yang terkontrol dan tidak terkontrol di Puskesmas Ngemplak II Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang digunakan adalah 44 Penderita Diabetes tipe 2 dengan 22 penderita Diabetes yang terkontrol dan 22 penderita Diabetes Melitus yang tidak terkontrol di Puskesmas Ngempal II Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dari 22 penderita Diabetes Melitus terkontrol sebanyak 9 (40.9%) penderita dinyatakan positif mengandung Candida albicans dalam salivanya dan 13 (59.1%) penderita dinyatakan negatif mengandung Candida albicans, sedangkan pada 22 penderita Diabetes tidak terkontrol didapatkan 16 (72.7%) penderita positif mengandung Candida albicans dalam salivanya dan 6 (27.3%) penderita lainnya dinyatakan negatif mengandung Candida albicans. Infeksi jamur Candida albicans pada kelompok yang tidak terkontrol lebih tinggi daripada yang terkontrol dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendukung adanya infeksi yaitu seperti umur, jenis kelamin serta lama menderita penyakit Diabetes Melitus.
Identifikasi Parasit Usus pada Pekerja Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan Yogyakarta Fajri, Muhammad; Putri, Novita Eka; Astuti, Tri Dyah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi parasit usus adalah penyakit yang diakibatkan parasit seperti protozoa maupun cacing pada usus manusia. Penyakit ini bisa berkisar dari ringan hingga berat serta bisa berakibat pada kematian. Masalah yang timbul meliputi penurunan kesehatan, gizi, kecerdasan, serta produktivitas. Pekerja pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yaitu kelompok yang berisiko pada penyakit ini sebab minimnya pemakaian Alat Pelindung Diri serta kebersihan individu yang buruk sehingga memicu infeksi parasit usus. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi parasit usus pada pekerja TPA Piyungan Yogyakarta melalui metode natif dengan pengecatan eosin 2%. Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif menggunakan pendekatan cross sectional serta melibatkan pekerja TPA Piyungan Yogyakarta untuk menjadi responden. Hasil penelitian menunjukkan dari 22 sampel feses, 9 (40.9%) pekerja terinfeksi Ascaris lumbricoides, 1 (4.5%) terinfeksi Entamoeba histolytica, dan 12 (54.5%) tidak terinfeksi.