Articles
Locus of Control and Psychological Well-Being in Single Women of the Toraja Tribe who Have a Career
Maharani, Dhea Lhaksmita;
Huwae, Arthur
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30872/psikostudia.v13i2.14474
Locus of control is one of the important factors in improving psychological well-being. This is also in line with what is experienced by single women of the Toraja tribe who have a career, for them being single and having a career is not an easy thing because of the many demands and pressures they feel. To be able to improve psychological well-being, it is necessary to have a locus of control for single women of the Toraja tribe who have a career so that they are expected to be able to overcome the problems they are facing. This study aims to determine the relationship between locus of control and psychological well-being in single women of the Toraja tribe who have a career. The method used is correlational quantitative. There were 110 single women of the Toraja tribe who have a career as participants in this study using a purposive sampling technique. This study uses two scales the IPC LOC (Internality, Powerful Others dan Chance Locus of Control) and the Scales of Psychological Well-Being. The result of hypothesis testing with Karl Pearson is .533 with sig = .000 (p<.01), which means this is accepted. These results proves that locus of control is one of the factors related to the achievement of psychological well-being in single women of the Toraja tribe who have a career. This means a relationship exists between an increase or decrease in locus of control and an increase or decrease in psychological well-being. The results obtained show that locus of control is one of the factors associated with the achievement of psychological well-being in single women of the Toraja tribe who have a career. This research provides a new understanding of the positive meaning of the community in seeing the role of women as part of the sacredness of Toraja local culture who are also responsible for the role or involvement to realize every cultural demand that is an obligation for each community. In addition, despite the highest degree of men's position in Toraja local culture who are responsible for every realization of daily family needs and customs, but still place women as a balance of life that helps the family take responsibility for a career and meet every demand of custom patently applies.Locus of control menjadi salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis. Hal ini juga sejalan dengan yang dialami oleh perempuan lajang suku Toraja yang berkarier, bagi mereka melajang dan berkarier bukan merupakan suatu hal yang mudah karena banyaknya tuntutan serta tekanan yang dirasakan. Untuk dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis, maka diperlukan adanya locus of control dari dalam diri perempuan lajang suku Toraja yang berkarier agar diharapkan mampu mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara locus of control dengan kesejahteraan psikologis pada perempuan lajang suku Toraja yang berkarier. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Terdapat 110 perempuan lajang suku Toraja yang berkarier dijadikan partisipan dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan dua skala yang terdiri atas IPC LOC (Internality, Powerful Others dan Chance Locus of Control) dan Scales of Psychological Well-Being. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa locus of control menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan pencapaian kesejahteraan psikologis pada perempuan lajang suku Toraja yang berkarier. Penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai makna positif masyarakat dalam melihat peran perempuan sebagai bagian dari kesakralan budaya lokal Toraja yang turut bertanggung jawab atas peran atau keterlibatannya untuk mewujudkan setiap tuntutan budaya yang menjadi kewajiban bagi setiap masyarakat. Selain itu, meskipun posisi laki-laki lebih tinggi dalam budaya lokal Toraja yang bertanggung jawab dalam setiap realisasi kebutuhan keluarga dan adat istiadat sehari-hari, namun tetap menempatkan perempuan sebagai penyeimbang kehidupan yang membantu keluarga dalam bertanggung jawab baik itu secara berkarier maupun memenuhi setiap tuntutan adat istiadat yang berlaku secara turun temurun.
Penerimaan Diri dan Subjective Well-Being pada Penyandang Difabel yang Berkarier
Tumion, Gratia Yahwelin;
Huwae, Arthur
Jurnal Ilmu Perilaku Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu Perilaku
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jip.7.2.140-163.2023
Being a disabled person with a career is not easy in living a daily life in the world of work. In the work environment, people with disabilities often experience social inequality. The problems faced make it difficult for people with disabilities to achieve subjective well-being in a career due to poor self-acceptance factors. This study aims to determine the relationship between self-acceptance and subjective well-being in people with disabilities who have a career. The research method used was quantitative with a correlational design. 127 career-disabled people were used as participants in the study using a purposive sampling technique. Research data collection for self-acceptance variables using the Berger Self Acceptance Scale (BSAS) and subjective well-being variables using the Satisfaction with Life Scale (SWLS) and Positive Affect Negative Affect Scale (PANAS). The results of data analysis from the Pearson Correlation value of 0.053 and sig. = 0.283 (p > 0.05) showed that the research hypothesis was rejected, meaning there was no significant relationship with self-acceptance. This indicates that self-acceptance is not one of the factors associated with subjective well-being in people with disabilities who have a career.
Kesejahteraan Psikologis dan Psychological Distress pada Mahasiswa yang Telah Berkeluarga
Maukar, Darrel Samuel;
Huwae, Arthur
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 2 (2024): April 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31316/gcouns.v8i2.5811
Penelitian ini betujuan untuk mengetahui hubungan antara kesejahteraan psikologis dengan psychological distress pada mahasiswa yang telah berkeluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 105 mahasiswa yang telah berkeluarga dijadikan sebagai partisipan penelitian dengan menggunakan teknik snowball sampling. Alat ukur pada penelitian ini menggunakan Ryff Psychological Well-Being Scale (0,605-0,795) dan Psychological Distress K-10 Scale (0,835). Hasil penelitian berdasarkan nilai korelasi Karl Pearson sebesar 0,103 dan sig. = 0,147, yang berarti hipotesis penelitian ditolak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kesejahteraan psikologis bukan menjadi faktor yang berhubungan dengan psychological distress pada mahasiswa yang telah berkeluarga. Artinya, tinggi atau rendahnya tingkat psychological distress, tidak disebabkan oleh tinggi atau rendahnya kesejahteraan psikologis yang dialami oleh mahasiswa yang telah berkeluarga. Kata kunci: kesejahteraan psikologis, psychological distress, mahasiswa berkeluarga.
Hope dan Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Yang Menjalani Long Distance Relationship
Intan Injili Mumek;
Arthur Huwae
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Agustus 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31316/gcouns.v8i3.5864
Kompleksitas persoalan yang terjadi pada mahasiswa yang menjalani LDR seringkali menjadi tantangan. Selain tanggung jawab akademik dan kehidupan sosial, perpisahan jarak dengan pasangan dapat menimbulkan berbagai masalah kompleks yang mengganggu kehidupan sehari-hari seorang mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hope dengan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa yang menjalani LDR. Metode yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 174 mahasiswa aktif yang sedang menjalani LDR dengan rentang usia 18-24 tahun dengan menggunakan teknik accidental sampling. Pengukuran menggunakan skala hope dan skala kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara hope dengan kesejahteraan psikologis mahasiswa yang menjalani LDR ( r = 0,756 dan sig. = 0,000). Selain itu, hope juga berhubungan positif signifikan dengan masing-masing dimensi kesejahteraan psikologis mahasiswa yang menjalani LDR (p < 0,01). Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu hope menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa yang menjalani LDR. Kata kunci: hope, kesejahteraan psikologis, LDR, mahasiswa
School Engagement and Academic Resilience of High School Students in Klungkung Regency Bali
Zarinathi, Komang Merisa Naraswari;
Huwae, Arthur
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Agustus 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31316/gcouns.v8i3.5930
This study explores the correlation between school engagement and academic resilience among high school students in Klungkung Regency, Bali, using a quantitative approach with a correlational analysis design. 243 students from five high schools were selected via simple random sampling. Measures included the School Engagement Measure (SEM)-MacArthur (α = 0.851) and the Academic Resilience Scale-30 (ARS-30) (α = 0.884). Hypothesis testing revealed a Pearson correlation value of 0.615, with a significance level of 0.000 (p<0.01), These findings demonstrate that school engagement is a factor that significantly correlates with academic resilience among high school students in Klungkung Regency, Bali. Keywords: school engagement, academic resilience, high school students.
Resiliensi Dan Subjective Well-Being Pada Mahasiswa Difabel Di Indonesia
Padang, Rindu Rosa Hadelina;
Huwae, Arthur
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Agustus 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31316/gcouns.v8i3.6088
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dan subjective well-being pada mahasiswa difabel di Indonesia. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Sebanyak 102 mahasiswa difabel di Indonesia yang menjadi partisipan dengan menggunakan teknik snowball sampling. Pengukuran penelitian menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC), Satisfaction With Life Scale (SWLS), dan Positive Affect Negative Affect Schedule (PANAS). Hasil uji hipotesis dengan Spearman Rho’ diperoleh nilai r sebesar 0,696 dan sig. = 0,000 (p<0,01), yang berarti hipotesis diterima. Hasil ini berarti bahwa ketika terjadi peningkatan atau penurunan resiliensi, maka akan diikuti dengan peningkatan atau penurunan subjective well-being pada mahasiswa difabel di Indonesia. Dengan demikian, resiliensi dapat dijadikan sebagai sarana atau strategi mental oleh setiap mahasiswa difabel agar memudahkan diri sendiri dalam mencapai subjective well-being di kehidupan akademik maupun aktivitas hidup sehari-hari. Kata kunci: resiliensi, subjective well-being, mahasiswa difabel
Resiliensi Dan Work-Family Conflict Pada Orang Tua Single Parent
Sabanari, Enjelita Putri;
Huwae, Arthur
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.6199
Menjalankan peran sebagai orang tua single parent, tampaknya diperhadapkan pada berbagai situasi atau kondisi yang menyulitkan. Keadaan ini membuat orang tua single parent berada pada situasi konflik peran ganda. Terjadinya peningkatan maupun penurunnya konflik peran ganda, dapat disebabkan oleh tinggi dan rendahnya kemampuan resiliensi yang dibentuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dan work-family conflict pada orang tua single parent. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan desain korelasional bivariat. Partisipan penelitian ini adalah 125 orang tua single parent dengan menggunakan teknik accidental sampling. Pengukuran penelitian menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale (α = 0,871) dan Work Family Scale (α = 0,898). Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara resiliensi dengan work family conflict (r = -0,483 dan sig = 0,000 (p<0,01). Hal ini menunjukkan bahwa resiliensi menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan work-family conflict. Artinya, ketika terjadi peningkatan atau penurunan resiliensi, ada kaitannya dengan penurunan atau peningkatan work-family conflict padan orang tua single parent. Kata kunci: resiliensi, work family conflict, orang tua single parent
Kerasnya Hidup Ditengah Keluarga Broken Home Perceraian: Pengaruh Religiositas Terhadap Psychological Distress Pada Remaja
Pirade, Victoria Jeanet;
Huwae, Arthur
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.6646
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiositas terhadap psychological distress pada remaja keluarga broken home perceraian. Metode yang digunakan dalam penelitian kuantitatif dengan desain analisis regresi. Partisipan dalam penelitian ini sebanyakl 141 remaja broken home yang diambil menggunakan teknik snow ball sampling. Pengukuran menggunakan The Centrality of Religiosity Scale (CRS) (α=0,901) dan Kessler Psychological Distress Scale (α=0,909). Metode yang digunakan dalam analisis data penelitian menggunakan metode statistik regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiositas tidak berpengaruh terhadap psychological distress (t = 1,197 dan sig. = 0,233). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat faktor lain yang memengaruhi psychological distress remaja dari keluarga broken home. Implikasi dalam penelitian ini adalah perlu adanya tindakan yang dapat meningkatkan religiositas remaja dari keluarga broken home, supaya remaja broken home memiliki keseimbangan dalam pendidikan dan kehidupannya sehingga dapat menurunkan psychological distress yang dialaminya. Penelitian yang akan datang diharapkan dapat merancang cara menurunkan psychological distress pada remaja broken home dari keluarga yang bercerai. Kata kunci: religiositas, remaja, broken home, psychological distress, indonesia
Regulasi Emosi dan Subjective Well-Being Pada Fungsionaris Lembaga Kemahasiswa
Lasut, Linqa Gracia Ferilya;
Huwae, Arthur
Psikobuletin:Buletin Ilmiah Psikologi Vol 5, No 2 (2024): Psikobuletin: Buletin Ilmiah Psikologi
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/pib.v5i2.25107
Menjalankan peran sebagai fungsionaris lembaga kemahasiswaan memiliki tantangan miskomunikasi, perbedaan pendapat, serta pengorbanan,sehingga menyebabkan tekanan dan kesulitan dalam mengelola emosi yang berdampak pada subjective well-being. Upaya mencapai kebahagiaan dapat melalui regulasi emosi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan subjective well-being pada fungsionaris lembaga kemahasiswaan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain analisis korelasi. Subjek penelitian adalah 204 dengan menggunakan teknik quota sampling. Pengukuran penelitian menggunakan Emotional Regulation Questionnaire, Satisfaction with Life Scale(SWLS) dan PANAS. Analisis data menggunakan uji korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara regulasi emosi dan subjective well-being (r=0,258 dan sig= 0,000). Hal ini menunjukkan bahwa regulasi emosi menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan meningkatnya subjective well-being fungsionaris lembaga kemahasiswaan. Implikasi dari penelitian ini adalah para fungsionaris lembaga kemahasiswaan diberikan ruang untuk berpendapat dan menghindari permasalahan seperti perbedaan pendapat antar sesama fungsionaris dengan mengelola emosi yang baik agar mencapai subjective well-being yang baik pula.
Academic Hardiness and Healthy Lifestyle Behavior on Student Athletes
Wijaya, Michael;
Huwae, Arthur
ACTIVE: Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreation Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/peshr.v13i2.1777
This study aims to determine the relationship between academic hardiness and healthy lifestyle behavior in student athletes. The method used is quantitative with a correlational design. The data analysis method employed the Karl Pearson product-moment correlation test. The population in this study were all student athletes, in this case including high school students and university students in Indonesia. A total of 174 student athletes participated in the study using snowball sampling technique. The research measurements used the Revised Academic Hardiness Scale (α = 0.898) and The Health-Promoting Lifestyle Profile II (α = 0.885). The results showed a significant positive relationship between academic hardiness and healthy lifestyle behavior (r = 0.161 and sig. = 0.017). This indicates that academic hardiness is one of the factors associated with the improvement of healthy lifestyle behavior in student athletes. The implications of this research suggest that future researchers should focus on studying student athletes who reside in athletic dormitories or attend schools or universities with a sports-based curriculum and are also recipients of sports scholarships.