Articles
Emotional Intelligence and Suicidal Ideation in Indonesian Adolescents: Dynamics, Contributing Factors, and Pathways to Resilience
Dewi, Hardini Sabatiana;
Huwae, Arthur
Journal of Psychological Perspective Vol 7, No 3 (2025)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.7312102025
Suicide ideation among adolescents has emerged as a pressing global health crisis, with recent national surveys in Indonesia reporting that over 1% of youth experience such thoughts and many face related mental health challenges. This study explores the dynamics and influencing factors of emotional intelligence (EI) in adolescents who experience suicide ideation. Employing a qualitative case study design, five participants aged 15–22 years with a history of suicide ideation were purposively selected. Data were gathered through in-depth, semi-structured interviews guided by Goleman’s EI framework and analyzed using Miles and Huberman’s interactive model. Results reveal that all participants exhibited underdeveloped EI, characterized by difficulties in recognizing and regulating emotions, limited self-control during emotional crises, and impaired relationship skills. Key factors shaping these EI patterns included negative parenting, traumatic experiences, and insufficient social support. Despite these challenges, some adolescents demonstrated adaptive coping through creative expression and supportive relationships. The findings highlight the importance of family and community support as protective factors and underscore the need for targeted interventions to enhance EI and resilience in vulnerable youth. This study contributes critical insights for mental health practitioners and educators aiming to prevent adolescent suicide.
KECERDASAN EMOSIONAL DAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA REMAJA YANG MEMILIKI ORANG TUA BERCERAI
Aurora Putri Marshanda;
Christiana Hari Soetjiningsih;
Arthur Huwae
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 3: Agustus 2025
Publisher : Bajang Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar belakang penelitian ini dilandasi dengan meningkatnya kasus perceraian pada lima tahun terakhir. Hal ini dapat mengakibatkan anak-anak mereka muncul ketidakstabilan emosional, kecemasan, dan kesulitan adaptasi, serta menimbulkan pertanyaan tentang identitas dan keamanan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan kesejahteraan psikologis pada remaja yang memiliki orang tua bercerai. Metode yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif, dengan desain korelasional bivariat. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 101 orang. Penelitian ini menggunakan metode purposive sample sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu skala kecerdasan emosional dan skala kesejahteraan psikologis Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kecerdasan emosional dan kecerdasan psikologis dengan nilai korelasi r = 0,675 dan signifikan 0,000. Temuan ini menegaskan bahwa kecerdasan emosional berperan penting dalam memperkuat kesejahteraan psikologis pada remaja yang memiliki orang tua bercerai. Remaja yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi cenderung menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam penguasaan lingkungan, otonomi, pengembangan diri perasaan, hubungan positif dengan orang lain, tujuan hidup, dan penerimaan diri
Mental Health Portraits of Adolescents Experiencing Dating Violence
Sugiharto, Jessica Putri;
Huwae, Arthur
Bisma The Journal of Counseling Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Department of Guidance and Counseling, FIP, Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/bisma.v9i1.87236
Dating violence or violence in dating relationships is a serious problem faced in the context of romantic relationships. This study aims to analyze the mental health of adolescents aged 13-22 years who experience dating violence. Using a descriptive phenomenological research design, this study collected data through in-depth interviews and observations of participants who had experienced various forms of violence in romantic relationships. The number of participants in this study was 6 people. The data collection process in this study used data triangulation, namely interview and observation techniques. The findings show that dating violence has a significant impact on adolescent mental health, which is reflected in increased levels of anxiety, depression, and other emotional disorders. In addition, adolescents involved in such relationships often have difficulty in building healthy social relationships and have negative views of themselves. This study provides important insights into the importance of psychological support and appropriate interventions for adolescents facing similar situations.
Conflict Resolution Strategies among Adolescent Victims of Sexual Dating Violence: Emotional Dependence, Regulation, and Social Support
Tatiwakeng, Rigel Jendrico;
Huwae, Arthur
Journal of Psychological Perspective Vol 7, No 4 (2025)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.7412132025
Sexual dating violence (SDV) is a global public health concern affecting a significant proportion of adolescents, with prevalence estimates ranging from 20% to 50% worldwide and disproportionately impacting young women. In Indonesia and other Southeast Asian contexts, disclosure remains limited due to stigma and cultural barriers, leaving many adolescents isolated in unsafe relationships. Against this backdrop, this study aimed to explore how adolescent victims of SDV navigate conflict resolution within their intimate relationships and identify the psychological, interpersonal, and social factors shaping their strategies. Using a qualitative instrumental narrative design, five adolescent females aged 15–22 who had experienced SDV and received at least one year of psychosocial support were recruited through purposive sampling. Data were collected via semi-structured interviews and field observations and analyzed thematically using Braun and Clarke’s framework. The findings revealed four key themes: (1) reliance on withdrawal as the most frequent conflict resolution strategy, (2) the entrapment of emotional dependence counterbalanced by gradual growth in regulation skills, (3) conflict involvement characterized by cycles of escalation and gaslighting, and (4) the pivotal role of social and emotional support in resilience and recovery. The study highlights that conflict resolution in SDV contexts is less about repairing relationships and more about survival, agency, and dignity, offering theoretical reframing and practical implications for trauma-informed interventions.
PENERIMAAN DIRI DAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN SALATIGA
Tanesib, Melani Wasti;
Huwae, Arthur
MOTIVA: JURNAL PSIKOLOGI Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31293/mv.v6i2.6814
Remaja yang tinggal di panti asuhan masih memandang bahwa hidup mereka kurang beruntung yang mengakibatkan ketidakbahagiaan, perasaan tidak berharga dan berbagai persoalan psikologis ketika tinggal di panti asuhan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari penerimaan diri terhadap kebermaknaan hidup pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara penerimaan diri dengan kebermaknaan hidup remaja yang tinggal di panti asuhan Salatiga. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan desain korelasi Pearson. Sebanyak 61 remaja berusia 15-18 tahun yang tinggal di panti asuhan Salatiga lebih dari 3 tahun dijadikan partisipan penelitian dengan menggunakan teknik kuota sampling. Pengukuran penelitian menggunakan Skala Penerimaan diri (α = 0.894) dan Meaning in Life Questionnaire (α = 0.801). Hasil penelitian membuktikan bahwa penerimaan diri berhubungan positif signifikan dengan kebermaknaan hidup remaja yang tinggal di panti asuhan Salatiga (r = 0,423 dengan sig. = 0,000), yang berarti bahwa semakin tinggi penerimaan diri maka semakin tinggi kebermaknaan hidup, dan sebaliknya, semakin rendah penerimaan diri maka semakin rendah kebermaknaan hidup. penerimaan diri berkontribusi sebesar 17,9% terhadap kebermaknaan hidup. penerapan penerimaan diri pada remaja yang tinggal di panti asuhan dapat membantu meningkatkan kebermaknaan hidup pada hidup yang mereka jalani.Kata kunci : Penerimaan Diri, Kebermaknaan Hidup, Remaja, Panti Asuhan
PROBLEM FOCUSED COPING DAN KEPATUHAN DIET PADA PASIEN DIABETES MELITUS 2
Makanuay, Almince Jessica;
Huwae, Arthur
Molucca Medica Vol 17 No 1 (2024): VOLUME 17, NOMOR 1, APRIL 2024
Publisher : Pattimura University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30598/10.30598/molmed.2024.v17.i1.86
Problem focused coping merupakan salah satu strategi coping yang digunakan untuk mengelola stres. Tingkat stres menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan diet pada pasien diabetes melitus tipe 2. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit dengan prevalensi tertinggi yang menyebabkan kematian dengan demikian salah satu cara preventif yang dapat digunakan untuk menurunkan risiko diabetes melitus melalui program diet yang tepat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara problem focused coping dengan kepatuhan diet pada pasien diabetes melitus tipe 2. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan yang terlibat dalam penelitian adalah sebanyak 36 pasien diabetes melitus tipe 2, yang dipilih dengan menggunakan teknik snowball sampling. Variabel penelitian terdiri dari problem focused coping dan kepatuhan diet. Hasil penelitian membuktikan bahwa problem focused coping berhubungan positif signifikan melalui perhitungan uji korelasi product moment dengan nilai Pearson correlation sebesar 0,825 dengan sig. 0,000 (p<0,001). Hasil ini mengimplikasikan bahwa kepatuhan diet yang dijalankan oleh pasien diabetes melitus tipe 2 tidak terlepas dari problem focused coping yang diterapkan oleh individu untuk mencegah risiko keparahan.
Pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Panic Buying pada Kolektor Photocard Idol Kpop
Natalia, Desi;
Huwae, Arthur
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/innovative.v4i3.11266
Photocard sekarang banyak digemari oleh fans Kpop bahkan telah dijadikan ladang bisnis bagi agensi maupun fans. Hal ini menimbulkan berbagai dampak salah satunya adalah adanya rasa takut dan cemas untuk mendapat photocard yang didambakan. Perilaku FoMO akhirnya muncul, sebab takut hubungan dengan sesama kolektor terputus dan mengakibatkan perilaku panic buying tumbuh demi mendapat photocard disaat itu juga. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh FoMO terhadap panic buying. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan analisis regresi linier sederhana. Diperoleh partisipan berjumlah 156 dengan teknik sampling purposive sampling. Hasil uji penelitian menunjukkan FoMO secara signifikan berpengaruh positif terhadap panic buying dengan nilai koefisiensi 6,186 dan sig. 0,000 (p<0,05). FoMo memiliki persentase sumbangsi sebesar 19,9% pada panic buying. Hasil penelitian menyimpulkan antara FoMO dengan panic buying saling berpengaruh pada tingkat kategori sedang ke rendah.
Dukungan Sosial Teman Sebaya Dan Kecenderungan Adiksi Smartphone Pada Remaja Sekolah Menengah
Wulandari, Agni Kurnia;
Huwae, Arthur
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/innovative.v4i4.13071
Adiksi smartphone melanda sebagian besar remaja sekolah menengah. Hasil dari teknologi ini telah memikat banyak orang dan membuat remaja menggunakan internet setiap hari lebih dari yang diharapkan. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial teman dengan kecenderungan adiksi smartphone. Penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan penalaran deduktif. Partisipan terlibat adalah remaja usia 13-18 tahun dengan snowball sampling. Skala yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, Peer Support Questionnaire dan Smartphone Addiction Scale. Berdasarkan hasil analisis data uji hipotesis menggunakan Karl Pearson diperoleh bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan variabel kecenderungan adiksi smartphone pada remaja sekolah menengah. Hal tersebut diperoleh dari pengujian korelasi Karl Pearson sebesar -0,259 dengan signifikani 0,000 (kurang dari < 0,01). Sehingga jika dukungan sosial teman sebaya meningkat maka kecenderungan adiksi smartphone akan menurun begitu sebaliknya jika dukungan sosial teman sebaya mengalami penurunan maka akan terjadi peningkatan kecenderungan adiksi smartphone pada remaja sekolah menengah.
Locus of Control and Psychological Well-Being in Single Women of the Toraja Tribe who Have a Career
Maharani, Dhea Lhaksmita;
Huwae, Arthur
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30872/psikostudia.v13i2.14474
Locus of control is one of the important factors in improving psychological well-being. This is also in line with what is experienced by single women of the Toraja tribe who have a career, for them being single and having a career is not an easy thing because of the many demands and pressures they feel. To be able to improve psychological well-being, it is necessary to have a locus of control for single women of the Toraja tribe who have a career so that they are expected to be able to overcome the problems they are facing. This study aims to determine the relationship between locus of control and psychological well-being in single women of the Toraja tribe who have a career. The method used is correlational quantitative. There were 110 single women of the Toraja tribe who have a career as participants in this study using a purposive sampling technique. This study uses two scales the IPC LOC (Internality, Powerful Others dan Chance Locus of Control) and the Scales of Psychological Well-Being. The result of hypothesis testing with Karl Pearson is .533 with sig = .000 (p<.01), which means this is accepted. These results proves that locus of control is one of the factors related to the achievement of psychological well-being in single women of the Toraja tribe who have a career. This means a relationship exists between an increase or decrease in locus of control and an increase or decrease in psychological well-being. The results obtained show that locus of control is one of the factors associated with the achievement of psychological well-being in single women of the Toraja tribe who have a career. This research provides a new understanding of the positive meaning of the community in seeing the role of women as part of the sacredness of Toraja local culture who are also responsible for the role or involvement to realize every cultural demand that is an obligation for each community. In addition, despite the highest degree of men's position in Toraja local culture who are responsible for every realization of daily family needs and customs, but still place women as a balance of life that helps the family take responsibility for a career and meet every demand of custom patently applies.Locus of control menjadi salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis. Hal ini juga sejalan dengan yang dialami oleh perempuan lajang suku Toraja yang berkarier, bagi mereka melajang dan berkarier bukan merupakan suatu hal yang mudah karena banyaknya tuntutan serta tekanan yang dirasakan. Untuk dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis, maka diperlukan adanya locus of control dari dalam diri perempuan lajang suku Toraja yang berkarier agar diharapkan mampu mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara locus of control dengan kesejahteraan psikologis pada perempuan lajang suku Toraja yang berkarier. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Terdapat 110 perempuan lajang suku Toraja yang berkarier dijadikan partisipan dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan dua skala yang terdiri atas IPC LOC (Internality, Powerful Others dan Chance Locus of Control) dan Scales of Psychological Well-Being. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa locus of control menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan pencapaian kesejahteraan psikologis pada perempuan lajang suku Toraja yang berkarier. Penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai makna positif masyarakat dalam melihat peran perempuan sebagai bagian dari kesakralan budaya lokal Toraja yang turut bertanggung jawab atas peran atau keterlibatannya untuk mewujudkan setiap tuntutan budaya yang menjadi kewajiban bagi setiap masyarakat. Selain itu, meskipun posisi laki-laki lebih tinggi dalam budaya lokal Toraja yang bertanggung jawab dalam setiap realisasi kebutuhan keluarga dan adat istiadat sehari-hari, namun tetap menempatkan perempuan sebagai penyeimbang kehidupan yang membantu keluarga dalam bertanggung jawab baik itu secara berkarier maupun memenuhi setiap tuntutan adat istiadat yang berlaku secara turun temurun.
Penerimaan Diri dan Subjective Well-Being pada Penyandang Difabel yang Berkarier
Tumion, Gratia Yahwelin;
Huwae, Arthur
Jurnal Ilmu Perilaku Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu Perilaku
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jip.7.2.140-163.2023
Being a disabled person with a career is not easy in living a daily life in the world of work. In the work environment, people with disabilities often experience social inequality. The problems faced make it difficult for people with disabilities to achieve subjective well-being in a career due to poor self-acceptance factors. This study aims to determine the relationship between self-acceptance and subjective well-being in people with disabilities who have a career. The research method used was quantitative with a correlational design. 127 career-disabled people were used as participants in the study using a purposive sampling technique. Research data collection for self-acceptance variables using the Berger Self Acceptance Scale (BSAS) and subjective well-being variables using the Satisfaction with Life Scale (SWLS) and Positive Affect Negative Affect Scale (PANAS). The results of data analysis from the Pearson Correlation value of 0.053 and sig. = 0.283 (p > 0.05) showed that the research hypothesis was rejected, meaning there was no significant relationship with self-acceptance. This indicates that self-acceptance is not one of the factors associated with subjective well-being in people with disabilities who have a career.