Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

ANALYSIS OF CHILDREN BORN THRU IVF IN INHERITANCE FROM THE PERSPECTIVE OF ISLAMIC LAW AND POSITIVE LAW Riski , Mohammad; Saini
International Journal of Multidisciplinary Reseach Vol. 1 No. 4 (2025): Oktober
Publisher : International Journal of Multidisciplinary Reseach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of assisted reproductive technology, particularly In Vitro Fertilization (IVF), has raised significant legal issues in Indonesia concerning lineage (nasab) and inheritance rights of children. This study aims to analyze the legal status of IVF-born children from the perspectives of Islamic law and Indonesian positive law, with a focus on lineage legitimacy and its implications for inheritance. The research employed a library research method with a normative juridical approach, descriptive-analytical nature, and comparative analysis techniques using statutory regulations, classical fiqh, fatwas, and academic literature. The findings reveal that Islamic law permits IVF when gametes originate from a legally married couple, but prohibits third-party donors and surrogacy, as such cases result in illegitimate children without inheritance rights. In contrast, Indonesian positive law recognizes children born within lawful marriage but lacks explicit regulation regarding the use of donors or surrogate mothers, leading to a legal vacuum. This study concludes that harmonization between Islamic legal principles and positive law is essential to ensure legal certainty, safeguard the rights of IVF-born children, and prevent future inheritance disputes.
THE RELEVANCE OF ULTRASONOGRAPHY TO THE CONCEPT OF IDDAH FROM THE PERSPECTIVE OF MAQASID AL-SHARIAH Zainal Abidin , Ali; Saini
International Journal of Multidisciplinary Reseach Vol. 1 No. 4 (2025): Oktober
Publisher : International Journal of Multidisciplinary Reseach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study discusses the relevance of using ultrasound technology (USG) to the concept of iddah in Islamic family law, employing a maqasid al-syariah approach. The background of this study stems from a social phenomenon where some women consider ultrasound results showing an empty womb to be grounds for waiving the obligation of iddah, sparking debate between medical authorities and Sharia norms. The objective of this study is to analyze classical fiqh perspectives on iddah, examine medical findings on the function of ultrasound, and evaluate both within the framework of maqasid al-syariah. The method employed is qualitative research using a literature review approach, drawing on the works of classical scholars, contemporary fiqh literature, and medical references related to ultrasound. Data were analyzed comparatively and normatively, taking into account the principles of maqasid al-syariah, particularly the aspects of hifz al-din (preserving religion) and hifz al-nasab (preserving lineage). The results of the study indicate that although ultrasound has accurate diagnostic functions in confirming the condition of the uterus, this technology cannot replace the sharia obligation to undergo the iddah period. This is because iddah is not merely intended to confirm the emptiness of the uterus, but also has dimensions of worship, social, and moral aspects, such as preserving lineage, providing space for mourning, and opening the possibility of reconciliation. Thus, the contribution of this research lies in emphasizing that the use of modern medical technology should be positioned as a supportive tool, not as a replacement for the normative provisions of Islamic law
TRANSAKSI E-COMMERCE DALAM PERSPEKTIF SYEKH YUSUF AL-QARDAWI : RELEVANSI DENGAN UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN Hasan, Zaenol; Saini, Saini
AQaduna : Jurnal Hukum Ekonomi Syariah Vol 2 No 2 Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Huda Kapongan Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52491/aqaduna.vi.147

Abstract

Penelitian ini mengkaji relevansi pandangan Syekh Yusuf Al-Qardawi terhadap transaksi e-commerce dalam konteks perlindungan konsumen di Indonesia. E-commerce telah menjadi sarana utama dalam perdagangan modern, namun kajian dari perspektif ekonomi Islam, khususnya terkait pandangan ulama kontemporer, masih terbatas. Kajian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan teori dengan mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip Islam yang diusulkan oleh Syekh Yusuf Al-Qardawi, seperti larangan gharar (ketidakpastian), riba (bunga) dan maisir (spekulatif), dapat diterapkan dalam transaksi digital, serta relevansinya dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan Al-Qardawi mengenai keadilan, transparansi, dan etika bisnis sejalan dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam UUPK, yang bertujuan untuk melindungi hak konsumen dari praktik-praktik yang merugikan dalam transaksi online. Meski ada perbedaan dalam penerapan beberapa aspek hukum Islam, keduanya berkontribusi pada pembentukan ekosistem bisnis yang adil, aman, dan sesuai syariah dalam e-commerce. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar teoritis dalam merumuskan regulasi e-commerce yang lebih adil dan melindungi hak konsumen di Indonesia.
Pernikahan Anak dalam Hak Ijbar: Telaah Komparatif Fikih Syafi’i Dan Hukum Nasional Ari Saputro, Almalik Ramadani; ,, Saini; Kalamiah, Moh. Jeweherul
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 6 No 02 (2025): NOVEMBER
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v6i02.2544

Abstract

ABSTRACT This study examines the legitimacy of child marriage within the framework of ijbar rights according to the Syafi’i school and Indonesian national law. The research seeks to identify a point of harmony between classical Islamic jurisprudence, which grants authority to the wali mujbir, and modern legal principles emphasizing child protection and mutual consent in marriage. Using a normative legal research method with conceptual, statutory, and comparative approaches, the findings reveal that the Syafi’i school permits ijbar under strict conditions such as the absence of hostility between guardian and child, equality between spouses, and a fair dowry. However, such practice is deemed makruh or invalid when it causes harm to the child. In contrast, Indonesia’s positive law does not recognize ijbar, as the validity of marriage requires the consent of both parties under Article 6(1) of Law No. 16 of 2019. The establishment of a minimum marriage age of 19 reflects the alignment between national law and maqāṣid al-syarī‘ah principles, particularly the protection of life and lineage. The study recommends that marriage dispensations be granted only after thorough psychological and social assessments, along with enhanced public legal awareness regarding the risks Keywords: child marriage, ijbar right, Syafi’i school, national law. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menelaah keabsahan praktik pernikahan anak dalam bingkai hak ijbar menurut pandangan Mazhab Syafi’i dan ketentuan hukum nasional Indonesia. Fokus kajian diarahkan untuk menemukan titik temu antara ajaran fikih klasik yang memberikan otoritas kepada wali mujbir dan regulasi modern yang menekankan perlindungan hak anak serta prinsip persetujuan dalam perkawinan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual, perundang-undangan, dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mazhab Syafi’i memperbolehkan pelaksanaan ijbar oleh wali dengan sejumlah syarat ketat, antara lain tidak adanya permusuhan antara wali dan anak, kesepadanan calon pasangan, serta pemberian mahar yang sesuai. Namun, praktik tersebut dapat menjadi makruh bahkan tidak sah apabila menimbulkan kemudaratan bagi anak. Sementara itu, hukum positif Indonesia tidak mengenal hak ijbar, sebab sahnya perkawinan mensyaratkan persetujuan kedua calon mempelai sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Penetapan usia minimal 19 tahun bagi calon suami dan istri mencerminkan sinkronisasi antara hukum nasional dan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya perlindungan jiwa dan keturunan. Penelitian ini merekomendasikan agar pemberian dispensasi nikah dilakukan secara selektif melalui asesmen psikologis dan sosial yang mendalam serta peningkatan literasi hukum masyarakat terhadap dampak pernikahan anak. Kata kunci: pernikahan anak, hak ijbar, Mazhab Syafi’i, hukum nasional.
Peran Strategis Pengadilan Agama Bondowoso dalam Upaya Pencegahan Pernikahan Dini Perspektif Maqasid Asy Syariah Abdul Majid An-Najjar Rosihan, Rosihan gustiawan afandi; Saini; Zaenol Hasan
HOKI : Journal of Islamic Family Law Vol. 3 No. 2 (2025): HOKI : Journal of Islamic Family Law
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) dan bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Institut Pesantren Sunan Drajat Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55352/hki.v3i2.2296

Abstract

Fenomena pernikahan usia dini masih menjadi persoalan serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bondowoso, yang hingga kini mencatat angka tinggi dalam pengajuan dispensasi nikah. Padahal, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 telah dengan tegas menetapkan usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun. Kondisi tersebut menimbulkan dilema antara penerapan hukum positif, tekanan sosial-budaya yang kuat, serta nilai-nilai syariat Islam yang hidup di masyarakat. Penelitian ini berupaya menjawab dua pokok permasalahan utama. Pertama, bagaimana peran strategis Pengadilan Agama Bondowoso dalam mencegah pernikahan dini ditinjau dari perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah Abdul Majid An-Najjar. Kedua, apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan strategi pencegahan tersebut menurut pandangan maqāṣid. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan praktik pencegahan pernikahan dini yang dilakukan oleh Pengadilan Agama Bondowoso serta menganalisisnya melalui pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah, agar dapat memberikan pemahaman akademis dan praktis terkait upaya perlindungan anak oleh lembaga peradilan agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengadilan Agama Bondowoso menjalankan peran strategis melalui kebijakan pengetatan dispensasi nikah, edukasi hukum kepada masyarakat, serta kerja sama lintas lembaga. Dalam pandangan maqāṣid al-syarī‘ah, kebijakan tersebut sejalan dengan tujuan menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs), melindungi keturunan (ḥifẓ al-nasl), dan menjaga kehormatan (ḥifẓ al-‘irḍ). Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan literasi hukum dan kesadaran sosial masyarakat sebagai upaya menekan angka pernikahan anak, sehingga nilai-nilai keadilan dan kemaslahatan syariat dapat terwujud secara berkelanjutan.
Pendampingan Pengurusan NIB dan Sertifikasi Halal Pelaku Usaha Di Desa Gunung Malang Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember Hasbi Ash Shiddiqi; Endang Susilawati; Saini; Ilyatul Afifah; Elok Rizkiyah; Yuni Lutfian Sari; Laila Kamali
Ta'awun Jurnal Pengabdian Vol. 4 No. 2 (2025): November
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Uluwiyah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47759/1kppzd94

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan dan menceritakan pendampingan yang dilakukan oleh tim pengabdian untuk Pengurusan NIB dan Sertifikasi Halal Pelaku Usaha Di Desa Gunung Malang, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember serta menganalisis progres pengurusan NIB Dan Sertifikasi Halal Pelaku Usaha UMKM Terutama di bidang kuliner dalam perspektif hukum islam. Metode yang di gunakan dalam pendampingan ini yaitu Asset Based Communities Development (ABCD). Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang sering kali lebih mudah diberdayakan dengan menggali potensi internal yang mereka miliki, daripada terus-menerus menyoroti kekurangan atau masalah yang dihadapi. Melalui ABCD, proses pendampingan menjadi lebih partisipatif, berorientasi pada kekuatan lokal, dan mampu mendorong perubahan yang lebih berkelanjutan. Pendampingan ini berhasil mendampingi tujuh pelaku usaha hingga memperoleh legalitas usahanya. Meski jumlah pelaku usaha yang berhasil didampingi tidak terlalu banyak, capaian ini mencerminkan komitmen yang kuat, baik dari tim pendamping maupun para pelaku usaha, untuk membuka ruang kesadaran hukum tentang pentingnya legalitas dalam menjalankan aktivitas ekonomi. Pendampingan ini juga berhasil membantu sejumlah Pelaku Usaha Industri makanan dan minuman dalam proses produksi halal sejumlah 4 Pelaku usaha. STIS Nurul Qarnain, sebagai salah satu perguruan tinggi Islam di Jember, turut mengemban amanah mulia ini melalui pendirian Lembaga Pemeriksa Produk Halal (LP3H). Kehadiran LP3H bukan hanya sebagai perpanjangan tangan dari kebijakan negara, tetapi juga bagian dari dakwah kampus yang berpijak pada kebutuhan riil umat. Terbukti dengan telah diterbitkannya sertifikat halal pelaku usaha berkat jasa para pendamping yang berada di bawah naungan LP3H STIS Nurul Qarnain.
Pisuke In The Marriage Customs Of The Sasak Tribe From The Perspective Of ‘Urf: A Case Study In Terara Village East Lombok Muh Hamdani; Saini
Al-Hikmah: International Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT. Education Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64540/alhikmah194

Abstract

The pisuke tradition represents a distinctive practice in the marriage customs of the Sasak ethnic community in East Lombok. It appears during the nyelabar stage as a form of offering from the groom’s family to the bride’s family. While culturally regarded as a symbol of respect and social responsibility, the practice of pisuke has sparked debate within Islamic law, as it is often perceived as resembling a transactional exchange between the two families. This study aims to describe the form and meaning of pisuke within Sasak society and to examine its legal status based on the theory of ‘urf in uṣūl al-fiqh. The research employs a qualitative approach using a case study method conducted in Terara Village, Terara District, East Lombok Regency. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and documentation of local marriage ceremonies. The findings reveal that pisuke constitutes ‘urf fi‘liy (customary practice expressed through actions) and ‘urf ‘amm (a widely accepted communal custom). However, from the perspective of Islamic law, it may be classified as ‘urf ṣaḥīḥ when performed voluntarily as an expression of respect, yet becomes ‘urf fāsid when accompanied by coercion, imposed as a condition of the marriage contract, or financially burdensome to one party. It is concluded that pisuke may be preserved as a cultural tradition provided it does not contradict the principles of al-riḍā (mutual consent), al-‘adl (justice), and the objectives of maqāṣid al-sharī‘ah, namely to uphold fairness, dignity, and the welfare inherent in Islamic marriage.
PERNIKAHAN CHILDFREE: TREN REVOLUSI GAYA HIDUP GENERASI MILLENNIAL DI KALANGAN GENERASI Z DAN DAMPAKNYA PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM Saini Saini
AL-ASHLAH : Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 3 No. 1 (2024): (January 2024)
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/alashlah.v3i1.2521

Abstract

Childfree marriages are becoming increasingly common among Generation Z and Millennials, indicating changes in social values and lifestyles. The aim of this research is to identify the main components that influence a couple's decision to marry without children and to evaluate the impact from the perspective of Islamic family law. This qualitative study collects data through participant observation and in-depth interviews. Research shows that economics, health, personal freedom, and concern for the environment are the main factors in marriage decisions not to marry. According to Islamic family law, having children is considered an important goal of marriage. However, there is respect for individual freedom to make decisions that do not conflict with sharia principles. Couples who choose not to have children often face social and religious pressure, but their decision can be considered valid if it is based on compelling reasons such as health or other relevant conditions. The social impact of this decision varies, from support to rejection, but shows a shift in values in modern society, which increasingly values individual life choices. This research provides insight into the dynamics of childless marriage and its implications in the Islamic legal and social context.
DISPENSASI KAWIN DAN PERLINDUNGAN ANAK: (Kritik Maqāṣid Terhadap Hukum Keluarga Islam Kontemporer) Saini Saini
AL-ASHLAH : Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 4 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/alashlah.v4i02.3505

Abstract

The phenomenon of marriage dispensation following national legal reform has shown a significant increase and raised controversy over the effectiveness of child protection within the framework of Islamic family law. Although Law No. 16 of 2019 established the minimum legal age for marriage as a preventive measure against child marriage, the enforcement of dispensations through Article 7(2) paradoxically creates a legal loophole that contradicts the law’s protective intent. This study focuses on a normative critique of marriage dispensation from the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah, examining to what extent contemporary Islamic family law remains responsive to the principles of ḥifẓ al-nafs (protection of life) and ḥifẓ al-nasl (protection of lineage). The research adopts a qualitative approach based on library research, with data collected from classical and contemporary legal texts, including works on maqāṣid, Islamic jurisprudence, and national legal documents. Content analysis was employed to reduce and categorize the data thematically. The findings reveal that dispensations granted without grounding in substantive maṣlaḥah contradict the foundational principles of maqāṣid and tend to reproduce structural inequalities, particularly against young girls. The study concludes that maqāṣid al-sharī‘ah must be repositioned as an epistemic framework for reformulating Islamic family law to enhance its commitment to justice and child protection. This research underscores the need for ethical and contextual legal reconstruction to avoid legalistic bias that harms vulnerable groups.
Penyuluhan Hukum Waris sebagai Upaya Preventif Menghindari Sengketa Keluarga Ahmad Dani Maula Mustofa; Muhammad Hasan Nofal Islami; Muhammad David Maulana; Dizki Meinanda; Muhammad Nurhakikoh Nurir Asro; Muhammad Ifan Firdaus; Muhammad Royan Zian; Achmad Hasan; hasyim, yanto; saini; Qoidul Khoir
ALKHIDMAH: Jurnal Pengabdian dan Kemitraan Masyarakat Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Pengabdian dan Kemitraan Masyarakat (ALKHIDMAH)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/alkhidmah.v3i4.1666

Abstract

Sengketa waris merupakan salah satu persoalan hukum yang paling sering menimbulkan konflik dalam keluarga. Perselisihan biasanya disebabkan oleh ketidaktahuan ahli waris mengenai ketentuan hukum kewarisan, baik dalam hukum Islam maupun hukum positif Indonesia. Penyuluhan hukum waris menjadi instrumen preventif yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat sehingga dapat meminimalisasi potensi perselisihan. Jurnal ini mengkaji urgensi penyuluhan hukum waris, dengan metode pendekatan normative-empiris yang diperkuat melalui analisis kasus, serta dampaknya dalam menjaga keharmonisan keluarga