Claim Missing Document
Check
Articles

Representasi Arsitektur Tradisional Aceh Pada Gedung Lama Dprk Aceh Utara Yenny Novianti
Jurnal Ilmiah Teknik Unida Vol. 6 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Mitra Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55616/jitu.v6i1.1044

Abstract

Gedung Lama DPRK Aceh Utara yang terletak di Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Tergerusnya penerapan elemen-elemen arsitektur lokal dalam pembangunan gedung pemerintahan modern jadi fenomena yang perlu dikaji secara mendalam. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, yang memungkinkan penelusuran mendalam terhadap nilai-nilai budaya yang terintegrasi dalam elemen bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gedung Lama DPRK Aceh Utara masih mempertahankan berbagai elemen khas arsitektur tradisional Aceh seperti atap tumpang, struktur rumah panggung, kolong rumah, serta ornamen geometris dan flora yang memiliki makna simbolik mendalam. Temuan ini mengungkapkan bahwa elemen-elemen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai estetika visual, tetapi juga sebagai ekspresi identitas budaya dan simbol kekuasaan lokal. Meskipun bangunan mengalami kerusakan fisik, nilai-nilai simbolik tetap kuat dalam persepsi masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman bahwa arsitektur vernakular masih relevan dalam konteks institusional modern. Implikasi praktisnya adalah perlunya strategi pelestarian arsitektur berbasis lokalitas dalam kebijakan pembangunan, serta pentingnya restorasi konservatif terhadap bangunan bersejarah.
Identifikasi Karakteristik Arsitektur Regionalisme pada Fasad Gedung Kantor DPRK Lhokseumawe Hanan Doni Ardian; Armelia Dafrina; Dela Andriani; Yenny Novianti
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 14 No. 1 (2024): Volume 14 Nomor 1, Maret 2024
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v14i1.1066

Abstract

Abstrak Berkembanganya arsitektur modern dengan international style berdampak pada krisisnya identitas bangunan di suatu daerah, khususnya di Aceh. Sehingga kehadiran arsitektur regionalisme sebagai upaya pengembalian identitas daerah sangat diperlukan yang diperketat melalui peraturan daerah agar membangun gedung yang berciri khas adat/budaya setempat, salah satunya yaitu Peraturan Gubernur Aceh Nomor 13 Tahun 2023. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan karakteristik arsitektur regionalisme pada fasad gedung kantor DPRK Lhokseumawe yang diduga memiliki unsur ciri khas kedaerahan serta sebagai salah satu kantor yang memiliki peran penting di pemerintahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif untuk menjabarkan, mengidentifikasi dan menganalisis penerapan karakteristik arsitektur regionalisme melalui observasi dan wawancara kepada perancang gedung kantor DPRK Lhokseumawe. Temuan dari penelitian ini yaitu diketahui bahwa terdapat beberapa elemen fasad yang menerapkan arsitektur regionalisme sebagai upaya pelestarian budaya Aceh, seperti atap, kolom, dinding, bukaan, entrance, warna dan ornamen. Kata kunci: Arsitektur Regionalisme, Aceh, Gedung Kantor DPRK Lhokseumawe  Abstract The development of modern architecture with international styles has an impact on the crisis of building identity in a region, especially in Aceh. So the presence of regionalism in architecture as an effort to restore regional identity is needed, which is tightened through regional regulations in order to build buildings characterized by local customs and culture, one of which is Aceh Governor Regulation Number 13 of 2023. Therefore, the purpose of this research is to find out how the application of regionalism architecture characteristics on the facade of the DPRK Lhokseumawe office building, which is thought to have elements of regional characteristics and is one of the offices that has an important role in government, The method used in this research is descriptive-qualitative to describe, identify, and analyze the application of regionalism's architectural characteristics through observation and interview with the designer of the DPRK Lhokseumawe office building. The findings of this research are that there are several facade elements that apply regionalism architecture in an effort to preserve Acehnese culture, such as roof, column, wall, opening, entrance, color, and ornamental Keywords: Regionalism Architecture, Aceh, DPRK Lhokseumawe Office Building
Post-Flood Urban Morphological Transformation of Kuala Simpang, Aceh Tamiang: A Figure-Ground, Linkage, and Place Analysis (2006–2023) ⁠Yenny Novianti; Cut Azmah Fithri; Ahmad Yusril
JURUTERA - Jurnal Umum Teknik Terapan Vol 13 No 01 (2026)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55377/jurutera.v13i01.14989

Abstract

Kuala Simpang has developed on a low-lying plain directly influenced by the Tamiang and Manyak Rivers, making the city highly susceptible to flooding. The major flood of 21-22 December 2006 produced inundation of approximately 2 m and disrupted settlements, road networks, public facilities, and urban land functions. This study analyzes the post-2006 morphological transformation of Kuala Simpang through the figure-ground, linkage, and place elements across five periods: 2006, 2007, 2012, 2017, and 2023. A qualitative descriptive design was combined with spatial analysis and a diachronic reading of urban change. Data were obtained through field observations, semi-structured interviews, documentation, spatial-planning documents, maps, and historical Google Earth Pro imagery. Spatial features were digitized and compared between periods, then validated using source triangulation, technique triangulation, member checking, and map overlays. The findings indicate that the 2006 flood acted as a major disruption that altered the direction of urban growth. In the figure-ground element, the proportion of built-up area increased from 38% in 2006 to 63% in 2023, while open space declined from 62% to 37%. The initially radial-concentric road network became fragmented in 2007 and subsequently recovered through the reinforcement of secondary roads and the emergence of alternative routes. In the place element, built-up land increased from 45% to 65%, green open space decreased from 42% to 35%, and vacant land declined from 13% to 0%. Settlement growth shifted mainly eastward and southward, particularly toward Bukit Tempurung and parts of Perdamaian, although development along river buffers continued. These results highlight the need to control development on floodplains, protect river setbacks, expand green open space, and strengthen evacuation and alternative-route networks. These measures are essential for establishing a more resilient and sustainable urban structure.
Co-Authors A Dafrina Abrar, Taufiq Adi Safyan Adidha, Fitri Ahmad Yusril Alashri, Haris Amalia, Lisna Andrani, Dela Andriani, Dela Annisa Zuhra Ansar, Ikhwanul Ardian, Hanan Doni Ardyan, Muhammad Aris Munandar Armelia Dafrina Armelia Dafrina Arvian, Ahmad Syauqi Azhari Baitha Ariyanti Cut Azmah Fithri Cut Azmah Fithri Cut Azmah Fithri Dafrina, Armelia Dea wahyuni Deassy Siska Dela Andriani Dela Andriani Dela Andriani Deni Deni Deni Deni Diana Khairani Sofyan Effan Effan Fahriza Effan Fahrizal Effan Fahrizal Elvi Damayanti Eri Saputra Erna Muliana Erna Muliana Erna Muliana Erni Pradila Putri Ersa, Nanda Savira Fadzri, Raihan Fahrizal, Effan Fidyati Fikri Azmi Arta Fitri Zaimah Hanan Doni Ardian Hasan, Soraya Masthura Hendra Aiyub Indri Nuraini Intan Annisa julpan hasbi putra khaijar apandi Khairani Sofyani, Diana Khairul Anshar Khalsiah Khalsiah M Farhan M. Bima Pebrimdesdi Mahira, Ulfa Maulina Dewi Mega Aulia Mirsa, Rinaldi Mohammad S Arar Mohd. Hafez Al-Shahzam Muhammad Haykal Muhammad Muhammad Muhammad Reza Zulman muhammad rofi Muliana, Erna MUTHMAINNAH Nofriadi Nur Faliza Nurfebruary, Nanda Sitti Nurhayati Nurwijayanti Olivia, Sisca Raihan Mufida Rengganis, Anandita Retno Cahyani, Retno Rinal Mirsa Rinaldi Mirsa Ruhalena Wilis Safirannur, Safirannur Samirah, Fathya Sandra Oktavia Skb Setiawan, Rizky Shofia Farhan Simanullang, Saiful Adli Sisca Olivia Sisca, Deassy Sofyan Soraya Hassan, Soraya Masthura Soraya Masthura Hasan Soraya Masthura Hassan Soraya Masthura Hassan Syamsul Arifin Valda, Andika Abriza Vever, Irza Wardani Wahyu Aulia Wahyu Rinaldi Wilis, Ruhalena Zahara, Silfa