Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Kledung Tri Siwi Oktarini; Jusniar Jusniar; Rostina Arsani
Jurnal Profesi Kependidikan Vol 2, No 2 Okt (2021)
Publisher : Jurnal Profesi Kependidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Kledung didominasi oleh aktivitas guru. Hal ini menyebabkan rendahnya aktivitas peserta didik dalam proses mengkonstruksi pengalaman belajar. Hasil belajar peserta didik rendah, kurang dari 50% yang mencapai ketuntasan belajar. Model Problem Based Learning adalah model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas peserta didik. Penelitian ini dilakukan sebanyak 3 siklus. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas dan tes hasil belajar pada materi Gerak. Hasil penelitian ditemukan aktivitas siklus 1, 2 dan 3 mengalami peningkatan keaktifan peserta didik. Ketercapaian KKM hasil belajar siklus 1 adalah 29,4%, siklus 2 dan siklus 3 adalah 58,8% dan 80 %.Kata Kunci : Model Pembelajaran, PBL, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar IPA
Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Peserta Didik Mata Pelajaran IPA Kelas VIII SMP Negeri 3 Wonogiri Rini Hernawati; Jusniar Jusniar; Rostina Arsani
Jurnal Profesi Kependidikan Vol 3, No 1 Apr (2022)
Publisher : Jurnal Profesi Kependidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peserta didik SMP N 3 kurang aktif mengikuti pembelajaran IPA, kurang memanfaatkan kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Keaktifan mengemukakan pendapat masih rendah. Respon peserta didik yang rendah menunjukkan keaktifan peserta didik dalam belajar IPA masih rendah.. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan sebanyak 2 siklus. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas siswa dan tes hasil belajar pada materi sistem pencernaan manusia. Hasil penelitian di temukan aktivitas pra siklus, siklus 1, dan 2, mengalami peningkatan. Keaktifan belajar pra siklus : 55%, siklus 1: 70,75% dan siklus 2: 82,50%. Ketercapaian KKM hasil belajar pra siklus 40%, siklus 1 60% dan siklus 2 82%. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning meningkatkan Keaktifan Belajar Peserta Didik Mata Pelajaran IPA siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Wonogiri.Kata Kunci: Model Pembelajaran, PBL, Keaktifan Belajar, Hasil Belajar
PENGEMBANGAN PERANGKAT ASSESMENT BERBASIS KETERAMPILAN GENERIK SAINS (KGS) PADA MATA KULIAH PRAKTIKUM KIMIA FISIK II Jusniar Jusniar; Sumiati Side; Muh. Anwar
Jurnal Penelitian Pendidikan Kimia: Kajian Hasil Penelitian Pendidikan Kimia Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Chemistry Education Study Program Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jppk.v1i1.2382

Abstract

Pengembangan Perangkat Assesment  Berbasis Keterampilan Generik Sains  (KGS) pada Mata Kuliah Praktikum Kimia Fisik II. Tujuan Penelitian pengembangan ini adalah mengembangkan perangkat assessment berbasis keterampilan generik sains pada mata kuliah praktikum kimia  fisik II berdasarkan Plomp. Untuk menguji kevalidan  perangkat assesmnet digunakan validasi isi (content validity) terhadap dua ahli sebagai validator, sedangkan untuk uji kepraktisannya digunakan  angket yang diberikan kepada  empat orang asisten yang bertugas pada  praktikum kimia  fisik II dan tiga  orang dosen penanggungjawab praktikum kimia  fisik II.  Hasil uji validasi isi untuk perangkat assesment pra-praktikum  diperoleh koef. Validasi sebesar 1,00, perangkat  assessment  proses  praktikum sebesar 1,00 dan perangkat assessment  sebesar 1,00. Secara keseluruhan perangkat assessment  berbasis Keterampilan Generik Sains (KGS) dinyatakan valid karena koef validitasnya lebih besar  dari 0,75.  Rata-rata persentase uji  kepraktisan ditinjau dari persepsi  asisten adalah 96,23%. Rata-rat uji  kepraktisan  ditinjau  dari  respon positif dosen sebesar 94,98%. Berdasarkan kriteria kepraktisan yakni 75% responden  memberikan respon positif untuk setiap aspek, maka dapat disimpulkan bahwa perangkat assessment yang telah dikembangkan praktis  digunakan.Key Words:  Assesment tools, KGS, and Esperiment of  Physical  Chemistry II
Development of a Modification Problem-Based Learning (M-PBL) Strategy to Stimulate Chemistry Education Students’ Metacognitive Ability Jusniar Jusniar; Muh. Yunus; Hardin Hardin; Syamsidah Syamsidah
J-PEK (Jurnal Pembelajaran Kimia) Vol 7, No 1 (2022): J-PEK (JURNAL PEMBELAJARAN KIMIA)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um026v7i12022p022

Abstract

This study aims to: 1) describe the stages of developing the M-PBL Strategy with the ADDIE pattern (Analyze, Design, Develop, Implementation, and Evaluate). 2) Testing the validity and practicality of the M-PBL strategy. The research subjects were three experts, two Basic Chemistry lecturers, and 35 students of the Chemistry Education Study Program, FMIPA UNM even semester of the 2020/2021 academic year. The instruments used are: 1) M-PBL Strategy Design validation sheet and its tools (Lesson Plan, Worksheet, and ability assessment; 2) lecturer and student perception questionnaires and observation sheets on the implementation of M-PBL Strategy to test the practicality of the product. The results of testing the validity of the development product (M-PBL Strategy Design and its tools), it was found that all products were in the very high category. Testing the practicality of the M-PBL strategy based on the perceptions of two lecturers was 100% giving a positive response, while the student's perception was 94.6% giving a positive response. The implementation of the stages of the M-PBL strategy is carried out as a whole with high category student activities. Thus, the Development Product is declared feasible and acceptable from the aspect of validity and practicality. 
Peningkatan Profesionalisme Guru-Guru SMAN 5 Gowa Melalui Pelatihan Penyusunan Asesmen Berbasis Hots (Higher Order Thinking Skills) Jusniar Jusniar; Ahmad Fudael Majid
PENGABDI PENGABDI : VOL. 1, NO. 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pengabdi.v1i1.15726

Abstract

Penyusunan asesmen dan pembelajaran berbasis HOTS merupakan salah satu implikasi dari Kurikulum 2013 Revisi tahun 2017 serta penyiapan generasi emas di abad 21 yang memiliki keterampilan 4C (Communication, Collaboration, Crtical dan Creative thinking). Asesmen berbasis HOTS dapat diwujudkan oleh guru-guru dengan dukungan proses pembelajaran yang dapat menstimulasi HOTS. Guru-guru di SMAN 5 Gowa kondisinya sangat mendukung, oleh karena siswa-siswa sekolah tersebut tergolong kategori unggulan dengan sarana yang cukup lengkap untuk menerapkan model-model pembelajaran inovatif. PKM ini bertujuan memberikan tambahan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam hal penyusunan perangkat asesmen berbasis HOTS. Metode PKM yang diterapkan berupa pelatihan dan pendampingan dalam penyusunan asesmen berbasis HOTS yang diawali dari proses penjabaran kompetensi dasar (KD) ke indikator-indikator pencapaian kompetensi yang berbasis HOTS. Hasil PKM secara umum direspon “sangat baik” oleh peserta dan berharap keberlanjutan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan profesionalisme guru-guru.
Peningkatan Kemampuan Berliterasi Guru-Guru SMAN 2 Takalar Melalui Pelatihan Penyusunan RPP Berbasis Steam (Sains, Teknologi, Enginering, Art, Dan Mathematics) Jusniar Jusniar; Fudael Fudael; Munawwarah Munawwarah
Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat SEMINAR NASIONAL 2021 : PROSIDING EDISI 3
Publisher : Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.74 KB)

Abstract

Abstrak. Mitra Program Kemitraan (PKM) ini adalah Guru-guru SMAN 2 Takalar. Masalah mitra adalah 1) kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam menyusun RPP berbasis STEAM, 2) sangat terbatas dalam implementasi model pembelajaran yang menstimulasi kemampuan literasi dasar siswa. Metode PKM yang diterapkan berupa pelatihan dan pendampingan dalam bentuk ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, dan pendampingan mitra tentang penyusunan RPP berbasis STEAM. Kegiatan ini diawali dengan penetapan indikator-indikator pencapaian kompetensi atau materi yang dirancang dan pemilihan model pembelajaran yang sesuai. Pendekatan STEAM yang sesuai untuk jenjang SMA dengan kemandirian masing-masing matapelajaran adalah embedded  Hasil PKM secara umum direspon “sangat baik” oleh 20 peserta dari hasil jajak persepsi melalui angket. Mereka berharap kegiatan-kegiatan sejenis ini berkelanjutan untuk lebih meningkatkan profesionalisme guru-guru. Kegiatan pelatihan ini menghasilkan guru-guru yang mengerti dan memahami cara menyusun RPP berbasis STEAM yang sangat dibutuhkan oleh lembaga pendidikan khususnya para guru di SMAN 2 Takalar Kabupaten Takalar. Kata Kunci: Literasi, Pendekatan, RPP, STEAM, embedded.
Pengembangan Desain Strategi Pembelajaran Embe-R (Dspember) untuk Mencegah Miskonsepsi Siswa Pada Materi Kesetimbangan Kimia J. Jusniar; E. Effendy; Endang Budiasih; S. Sutrisno
Sainsmat : Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan Alam Vol 8, No 1 (2019): Maret
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.064 KB) | DOI: 10.35580/sainsmat81101192019

Abstract

Penelitian pengembangan DSP EMBE-R (Desain StrategiPembelajaran EMBER (Engage, Modification, Building concept, Evaluation-Reflecion)bertujuan menghasilkan produk yang valid dan praktis untukmencegah terjadinya miskonsepsi siswa pada materi Kesetimbangan kimia. Tahap-tahap pengembanganDSP EMBE-R dan perangkatnyamenganut model Plomp dengan tiga tahap yaitu: 1) Tahap penelitian pendahuluan, 2) Tahap pembuatan prototipe (pengembangan) DSP EMBE-R dan perangkatnya, dan 3) Tahap asesmen. Hasil penelitian pendahuluan di SMAN 2 Gowa Sulawesi Selatan Indonesia menunjukkan bahwa siswa mengalami miskonsepsi pada konsep prasyarat maupun Kesetimbangan Kimia.Produk pengembangan yang dihasilkan adalah: 1) Buku DSP EMBE-R,2) Silabus dan RPP, 3) Buku panduan pembelajaran (BPP), 4) Buku Kerja Siswa (BKS), 5) instrumen asesmen tes dan non tes. Hasil uji kevalidan oleh ahli dan praktisi menunjukkan bahwa Buku DSP EMBE-R, Silabus, RPP, BPP, BKS, instrumen tes dan Instrumen non-tes semuanya menunjukkan tingkat validitas sangat tinggi. Produk yang dihasilkan juga memiliki konsistensi sangat tinggi antar validator. Hasil uji keterbacaan perangkat oleh pengguna yaitu 6 orang guru kimia dan 10 siswa   menunjukkan bahwa DSP EMBE-R dan perangkatnya memiliki keterbacaan tinggi. Hasil uji kepraktisan DSP EMBE-R diperoleh bahwa tahap DSP EMBE-R terlaksana secara keseluruhan dengan aktivitas siswa dalam pembelajaran kategori tinggi. Respon 35 orang siswa dan 3 orang guru kimia terhadap penerapan DSP EMBE-R dan perangkatnya masing-masing sangat baik dengan persentase respon positif rata-rata berturut-turut 94,6 dan 100%. Dengan demikian, DSP EMBE-R dan perangkatnya dapat dikatakan telahvalid dan praktis untuk diterapkan dalam pembelajaran kimia.
Penerapan Peta Konsep Setting Kooperatif Tipe TAI untuk Meningkatkan Aktivitas Siswa Kelas XI MIA1SMA Negeri 7 Bulukumba (Materi Pokok Termokimia) Nur Adha S.; Jusniar Jusniar; Melati Masri
Chemica: Jurnal Ilmiah Kimia dan Pendidikan Kimia Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Kimia FMIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.202 KB) | DOI: 10.35580/chemica.v15i1.4600

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui langkah-langkah penerapan pembelajaran peta konsep setting kooperatif tipe TAI yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI MIA1 SMA Negeri 7 Bulukumba. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus pembelajaran meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Adapun langkah-langkah yang tepat dalam penerapan peta konsep setting kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) yaitu (1) guru membagi siswa menjadi 6 kelompok secara heterogen, (2) guru menjelaskan pokok-pokok materi dengan metode tanya jawab dan pemberian hukuman kepada siswa yang tidak dapat menjawab, (3) setiap siswa membuat peta konsep dan menyiapkan minimal satu buku bacaan, (4) siswa mengerjakan LKS dengan soal yang berbeda dalam satu kelompok, (5) siswa berdiskusi mengenai jawaban dari soal LKS (6) guru memberi pengajaran kepada setiap kelompok dengan batasan waktu tertentu untuk setiap kelompok, (7) guru menunjuk siswa secara acak untuk mempersentasikan hasil diskusi kelompok, (8) guru memberikan kuis dengan bentuk soal yang berbeda tiap anggota kelompok, (9) guru menunjuk siswa secara acak untuk menuliskan jawaban kuis di papan tulis, dan (10) guru meminta setiap siswa menuliskan kesimpulan materi pelajaran. Data hasil penelitian menunjukkan aktivitas siswa disiklus I sebesar 67,58% dan siklus II sebesar 78,63%, artinya terjadi peningkatan aktivitas siswa sebesar 11,05%. Adapun hasil belajar siswa di siklus I sebesar 36,66% dan siklus II sebesar 71,88%, artinya terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebesar 35,22%. Berdasarkan data hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan peta konsep setting kooperatif tipe TAI dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa Kelas XI MIA1 SMA Negeri 7 Bulukumba.Kata Kunci: Kooperatif Team Asissted Individualization (TAI), peta konsep aktivitas belajar, termokimiaABSTRACTThe research aimed to describe learning steps of concept mapping cooperative setting type TAI to improve students’ activities Class XI MIA1 SMA Negeri 7 Bulukumba. The research was classroom action research which was done in two cycles and each learning cycle included of planning, implementation, observation, and reflection. The steps in implementing concept mapping with cooperative setting type Team Assisted Individualization were: (1) teacher divided the students into six groups heteregenously, (2) teacher explained the main materials by question and answer method and giving punishmennt to students who are unable to answer the equestions, (3) each students make concept mapping, at least one topic of material, (4) students answer the worksheet of different question in each group, (5) students discussion about the answer of worksheet question, (6) teacher gave lesson to each group with in certein limited time, (7) teacher appointed students randomly to present the group discussion result, (8) teacher gave quiz to each group by giving different types of question, (9) teacher appointed students randomly to write down the answer for quiz on the board, and (10) teacher asked each student to draw conclusion of the material subject. The data result of research showed the students’ activities in Cycle I was 67,58%and in Cycle II was 78,63%, which indicated improvement of students’ activities as much as 11,05%. The students’ learning output in Cycle I was 36,66% and Cycle II was 71,88%, which indicated improvement of students’ activities as much as 35,22%. Based on the result, the implementation of mind mapping cooperative setting type TAI had improved students’ activities in Class XI MIA1 SMA Negeri 7 Bulukumba.Keywords: Cooperative Team Assisted Individualization (TAI), mind mapping, learning activities, thermochemical
Pengembangan Model Pembelajaran Inquiri Dinterferensi Pendekatan Scientific untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Ilmiah Siswa SMA Jusniar Jusniar; Sumiati Side
Chemica: Jurnal Ilmiah Kimia dan Pendidikan Kimia Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Kimia FMIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.44 KB) | DOI: 10.35580/chemica.v16i1.4583

Abstract

ABSTRAKTujuan utama yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah menghasilkan buku model pembelajaran Scientific – Inquiri serta perangkat pendukungnya berupa RPP, LKS dan perangkat penilaian yang valid, praktis dan efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir ilmiah siswa. Materi pembelajaran yang dijadikan fokus dalam penelitian ini adalah Larutan elektrolit dan non-elektrolit yang disajikan di kelas X semester genap. Kegiatan menyajikan masalah nyata di Kelas merupakan langkah awal pembelajaran, sehingga diharapkan siswa mampu menganalisis masalah, berhipotesis, mengumpulkan data dan menyimpulkan melalui kegiatan eksperimen. Hal ini tidak terlepas dari kegiatan 5 M (Mengobservasi, Menanya, Menalar, Mencoba dan Mengkomunikasikan) yang merupakan kegiatan-kegiatan berpikir ilmiah siswa. Metode pengembangan yang digunakan adalah Plomp (1997) yang terdiri dari empat tahapan yaitu; 1) pengkajian awal dengan melakukan observasi awal di sekolah mengenai kurikulum, sylaby keadaan siswa serta model pembelajaran yang sesuai; 2) perencanaan draft dari model scientific – inquiry serta materi yang cocok untuk dikembangkan, 3) realisasi & Konstruksi dengan mengembangkan buku model scientific – inquiry beserta perangkat pembelajaran yaitu RPP, LKS dan perangkat penilaian keterampilan berpikir ilmiah siswa sedangkan tahapan 4) implementasi belum dilakukan untuk penelitian tahun I. Hasil uji kevalidan dari tiga orang ahli untuk buku model dan perangkatnya diperoleh masing-masing (buku model = 3,23; RPP = 3,29; LKS = 3,19 dan perangkat assesment = 3,10) total rata-rata 3,20 dengan koefisien indeks judment of expert sama dengan satu kategori valid. Uji kepraktisan model dan perangkat Scientific – Inquiry melalui angket persepsi diperoleh rata-rata 89,47% siswa (dari 32 siswa) yang merespon positif terhadap penerapan model dan perangkatnya dan dari tiga guru kimia di SMAN 1 Bajeng rata-rata 90,05% memberikan respon positif terhadap model dan perangkatnya. Uji keefektifan terlihat dari hasil tes menunjukkan ketuntasan kelas sebesar 81,25% (26 siswa tuntas). Keterlaksanaan pembelajaran dapat dilihat dari observasi aktivitas siswa terkait dengan merumuskan masalah, mengobservasi, bertanya, memberikan argimen, merumuskan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis data, berdiskusi, kerjasama kelompok dan menyimpulkanrata-rata 75,83%. Berdasarkan dua indikator ini menunjukkan bahwa model dan perangkat ini efektif untuk meningkatkan hasil belajar dan keterampilan berpikir ilmiah.Kata kunci: Keterampilan berpikir ilmiah, Model scietific-inquiryABSTRACTThe main objectives to be achieved from this research is to produce books Scientific learning model - Enquiry and supporting devices such as lesson plans, worksheets and valid assessment tools, practical and effective in improving students' scientific thinking skills. Instructional material used as the focus of this research is the solution of electrolyte and non-electrolyte that is presented in class X semester. Activity presents a real problem in the class is the first step of learning, so it is expected that students are able to analyze problems, hypothesize, collect the data and concluded through experimentation. This is not apart of the activities 5 M (Observe, ask, reasoning, Tried and Communicate) which is the scientific thinking activities of students. The development method used is Plomp (1997), which consists of four stages, namely; 1) The initial assessment by observation early in the school curriculum, the students and the state sylaby appropriate learning model; 2) planning draft of the model scientific - inquiry and materials suitable for development, 3) realization & Construction to develop the book model of scientific - inquiry together with learning devices namely lesson plans, worksheets and assessment tools skills of scientific thinking of students, while stage 4) implementation has not been done for I. year study the validity of test results from three experts to book models and devices obtained by each (book model = 3.23; RPP = 3.29; LKS = 3.19 and assessment tools = 3.10) total mean with a 3.20 average coefficient of expert judment index equal to one category is valid. Test the practicality of the model and the Scientific - Inquiry through perception questionnaires gained an average of 89.47% of students (32 students) who respond positively to the application of models and tools, and of the three chemistry teacher at SMAN 1 Bajeng average of 90.05% giving a positive response to the model and the device. Test the effectiveness evident from the test results show class completeness of 81.25% (26 students completed). Feasibility study can be seen from the observation of student activity associated with formulating problems, observe, ask questions, give argimen, formulate hypotheses, collect and data analyze, discuss, cooperation and conclude group average of 75.83%. Based on these two indicators show that the model and the device is effective to improve learning outcomes and scientific thinking skills.Keywords: Scientific thinking skills, Scietific model-inquiry
Meningkatkan Partisipasi Siswa Melalui Penerapan Pembelajaran SQ3R di Kelas X1 SMAN 1 Bajeng Kab. Gowa pada Materi Pokok Struktur Atom, Sistem Periodik dan Ikatan Kimia Jusniar .; Melati Masri; DianaEka Pratiwi
Chemica: Jurnal Ilmiah Kimia dan Pendidikan Kimia Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Kimia FMIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.283 KB) | DOI: 10.35580/chemica.v13i1.597

Abstract

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk menemukan cara menerapkan langkah-langkah pembelajaran SQ3R yang dapat meningkatkan partisipasi siswa kelas X1 SMAN 1 Bajeng pada materi pokok struktur atom, Sistem periodik dan Ikatan Kimia. Dilakukan dua siklus dan terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi. Subjek  penelitian adalah  siswa kelas X1 yang terdiri dari 33 siswa. Diperoleh langkah-langkah sebagai berikut; 1) membantu siswa mendapatkan gambaran keseluruhan kandungan pokok dalam materi dan menyuruh siswa mencatat bagian-bagian penting dari materi tersebut pada kertas, 2) memberi petunjuk kepada siswa menyusun pertanyaan-pertanyaan yang jelas, singkat dan relevan dengan tujuan pembelajaran, 3) menyuruh siswa membaca dan mencatat secara aktif dalam mencari jawaban atas pertanyaan yang telah disusun, 4) menunjuk siswa secara langsung menyebutkan jawaban pertanyaan yang telah disusun, 5) memberikan kesempatan dan memotivasi siswa lain untuk menanggapi siswa yang menyebutkan jawabannya dan memberikan penjelasan apabila ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, 6) menyuruh siswa meninjau ulang seluruh pertanyaan dan jawaban yang telah disusun, 7) mengarahkan siswa untuk menyampaikan kesimpulan mengacu pada tujuan pembelajaran. Langkah pembelajaran ini mampu meningkatkan partisipasi siswa dari 37,88% pada siklus 1 menjadi 38,89% siklus 2, ketuntasan belajar siswa siklus 1 54,55% menjadi 75,76% pada siklus 2. Kata Kunci: Metode SQ3R, Partisipasi   ABSTRACT This action research aims to find ways to apply SQ3R learning steps to increase the participation of students in SMAN 1 Bajeng class X1 with the atomic structure, periodic systems and Chemical Bonding topics. Two cycles and consists of four phases: planning, action, observation / evaluation and reflection. Subjects were the students of class X1 consisting of 33 students. Obtained the following steps: 1) to help students gain an overall picture of the content of the subject matter and having thestudents to recordthe important parts of the material in the paper, 2) provide guidance to the students to formulate questioner with clear, concise and relevant to the purpose learning, 3) having students to read and recorded actively in the search for the answers of questions that had been developed, 4) refer students directly mention the answers that have been prepared, 5) provide opportunities and motivate other students to respond the students whom answer and provide an explanation if there is a problem that can not be resolved, 6) having students to review the whole question and answers have been compiled, 7) directing students to submit conclusions refer to the learning objectives. The steps of this learning increase the participation of students from 37.88% in Cycle 1 to 38.89% in cycle 2, mastery learning students in cycle 1 54.55% to 75.76% in cycle 2. Keywords: Method SQ3R, Participation