Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENGGUNAAN MEDIA POP-UP BOOK DALAM MENINGKATKAN HAFALAN SISWA PADA MATERI ASMAUL HUSNA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI Amin, Nasihun
Al-Minhaj : Jurnal Pendidikan Islam Vol 7 No 1 (2024): Al-Minhaj : Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Pascasarjana IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hafalan siswa pada materi Aamaul Husna mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti menggunakan media Pop Up Book. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Subjek dari penelitian ini adalah fase B Kelas IV SDN Inpres Lirung Kabupaten Kepualaun Talaud Tahun Ajaran 2024/2025, yang terdiri dari 10 peserta didik. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan media Pop Up Book berhasil meningkatkan hafalan siswa pada materi Asmaul Husna. Hasil penelitian menunjukkan tingkat keberhasilan tindakan dalam setiap siklusnya mengalami peningkatan, yaitu mulai dari pre test nilai rata-rata mencapai 72 meningkat pada siklus I menjadi 74,5 kemudian meningkat lagi pada siklus II menjadi 100. Siswa lebih semangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran, karena media ini mendukung peserta didik untuk berperan secara aktif dalam proses pembelajaran.
TRANSFORMASI MAKNA RITUAL DALAM MASYARAKAT MODERN: ANALISIS SOSIOLOGIS DAN BUDAYA Siti Mubayanah; Nasihun Amin
GAHWA Vol. 3 No. 1 (2024): JULY-DECEMBER
Publisher : STIT Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/gahwa.v3i1.473

Abstract

Tulisan ini membahas tentang ritual (rites) dan peranannya dalam masyarakat, dengan fokus pada relevansinya dalam memperkuat kohesi sosial dan struktur masyarakat. Ritual adalah serangkaian kegiatan simbolis yang dilakukan secara teratur oleh suatu kelompok masyarakat dengan tujuan tertentu. Dalam perspektif sosiologis, ritual dilihat sebagai sarana untuk menjaga solidaritas sosial dan membangun identitas kolektif. Beberapa tokoh, seperti Émile Durkheim dan Victor Turner, mengemukakan bahwa ritual berfungsi sebagai perekat sosial yang memperkuat hubungan antarindividu dan memperjelas status sosial dalam komunitas. Dalam masyarakat tradisional, ritual memperkuat ikatan sosial, menyampaikan nilai dan norma budaya, serta mengkomunikasikan perubahan status. Di sisi lain, dalam masyarakat modern, ritual masih relevan dalam menjaga stabilitas sosial meskipun terjadi perubahan konteks dan makna. Tulisan ini juga menyoroti bagaimana ritual, baik dalam konteks budaya lokal maupun universal, memainkan peran dalam memperkuat kohesi sosial, menginternalisasi nilai-nilai kolektif, dan mempertahankan identitas budaya. Ritual, baik dalam sosiologi maupun antropologi, menunjukkan fungsi sosial yang lebih dari sekadar aktivitas simbolis, melainkan sebagai elemen penting dalam pembentukan, pemeliharaan, dan peralihan identitas sosial. Hasil tulisan tersebut penting karena memberikan penekanan pada peran esensial ritual dalam membangun dan mempertahankan kohesi sosial, baik di masyarakat tradisional maupun modern. Dengan menyoroti pandangan tokoh seperti Durkheim dan Turner, tulisan ini menegaskan bahwa ritual bukan sekadar aktivitas simbolis, tetapi memiliki fungsi mendalam dalam menginternalisasi nilai-nilai kolektif, menyampaikan norma budaya, dan memperkuat identitas sosial.
Teologi Rasional dan Sains dalam Islam: Sintesis Ilmiah-Religius Menurut Ibnu Rusyd Afifah Afifah; Muhammad Noval Ifkar; Sulaiman Sulaiman; Nasihun Amin
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.8482

Abstract

Abstract: Ibn Rushd is one of the leading philosophers who sought to harmonize religion, philosophy, and science within the framework of Islamic teachings. He developed a synthesis between theology and science, based on philosophical and theological principles that emphasize reason as the primary means of interpreting revelation and the natural world. This study explores Ibn Rushd's contributions in integrating these three domains and examines the contemporary relevance of his ideas in uniting religion, philosophy, and science. Utilizing library research methods, data were collected from various sources including academic journals, scholarly articles, and books relevant to the theme. This study yielded several key findings. Among these is Ibn Rushd's assertion that reason is not only valid but also a necessary tool for understanding divine revelation and the workings of nature. This perspective offers a valuable paradigm for revitalizing scientific inquiry in Islamic educational settings. Furthermore, Ibn Rushd interprets Qur'anic verses to indicate that the universe was not created from absolute nothingness but from pre-existing matter. He believes that the Qur'an explicitly underscores the purposeful creation of nature for humanity, positioning humans as servants (khalifah) tasked with acquiring knowledge of the Creator's existence and oneness.Keywords: Ibn Rushd, Qur'an, Philosophy and Science.Abstrak : Ibnu Rusyd adalah salah satu filsuf terkemuka yang berusaha menyelaraskan agama, filsafat, dan sains dalam kerangka ajaran Islam. Dia mengembangkan sintesis antara teologi dan sains, didasarkan pada prinsip-prinsip filosofis dan teologis yang menekankan akal sebagai sarana utama untuk menafsirkan wahyu dan dunia alami. Studi ini mengeksplorasi kontribusi Ibnu Rusyd dalam mengintegrasikan ketiga domain ini dan meneliti relevansi kontemporer dari ide-idenya dalam menyatukan agama, filsafat, dan sains. Dengan memanfaatkan metode penelitian perpustakaan, data dikumpulkan dari berbagai sumber termasuk jurnal akademik, artikel ilmiah, dan buku yang relevan dengan tema. Studi ini menghasilkan beberapa temuan utama. Di antaranya adalah pernyataan Ibnu Rusyd bahwa akal tidak hanya valid tetapi juga alat yang diperlukan untuk memahami wahyu ilahi dan cara kerja alam. Sudut pandang ini menawarkan paradigma yang berharga untuk merevitalisasi penyelidikan ilmiah dalam pengaturan pendidikan Islam. Selain itu, Ibnu Rusyd menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an menunjukkan bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan mutlak melainkan dari materi yang sudah ada sebelumnya. Dia percaya bahwa Al-Qur'an secara eksplisit menggarisbawahi penciptaan alam yang bertujuan bagi umat manusia, memposisikan manusia sebagai pelayan (khalifah) yang ditugaskan untuk memperoleh pengetahuan tentang keberadaan dan keesaan Sang Pencipta.Kata kunci : Ibnu Rusyd, Al Qur’an, Filsafat dan sains