Claim Missing Document
Check
Articles

MUTU ORGANOLEPTIK DAN KIMIAWI TERASI UDANG REBON DENGAN KADAR GARAM BERBEDA DAN LAMA FERMENTASI apri dwi anggo; fronthea - swastawati; Widodo Farid Ma'ruf
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 17 No 1 (2014): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2381.333 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v17i1.8137

Abstract

Terasi merupakan produk fermentasi udang dengan penambahan garam. Fermentasi dengan garam menyebabkan perombakan protein menjadi asam amino misalnya asam glutamat sebagai penghasil cita rasa khas terasi. Kadar garam dan lama fermentasi merupakan faktor penting pada proses pembuatan terasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan konsentrasi garam dan lama fermentasi terhadap kualitas terasi rebon terutama kandungan asam glutamat. Bahan baku yang digunakan pada penelitian ini adalah rebon (Acetes sp.) kering tawar dengan panjang ±2 cm per ekor. Perlakuan garam dengan konsentrasi 2%, 8,5%, 15% dan lama fermentasi (8 hari dan 32 hari). Metode penelitian menggunakan metode experimental field dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola split plot in time 3 kali ulangan. Parameter yang diuji meliputi organoleptik, pH, kadar protein, asam glutamat, kadar air dan profil asam amino. Parameter kadar protein, asam glutamat dan profil asam amino pada fermentasi hari ke 32 yang diamati hanya perlakuan konsentrasi kadar garam terbaik pada hari ke 8. Nilai organoleptik terasi berkisar antara 7,65-8,32 artinya produk tersebut dapat diterima konsumen. Nilai pH Nilai pH terasi rebon berkisar antara 7,09 sampai 7,89. Konsentrasi garam 2% pada terasi rebon menghasilkan kadar protein dan asam glutamat tertinggi yaitu 47,14%+0,20 (dry base). Asam amino yang dominan pada terasi rebon adalah asam glutamat dan asam aspartat. Lama fermentasi menyebabkan penurunan asam glutamat terasi rebon.Kata kunci: asam glutamat, fermentasi, garam, rebon
The Effect of Processing Temperature of Simple Steam Jacket on The Quality of White Spotted Whipray Rays Liver Oil Wahyu Nur Widiyanto; Ratna Ibrahim; Apri Dwi Anggo
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 18 No 1 (2015): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3386.539 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v18i1.9558

Abstract

The application of high temperature steam jacket system in the industrial fish liver processing makes the product is of poor quality. The quality data of Rays liver oil processed by simple jacket steam with temperature above 80°C are currently not available. This research aimed to determine temperature of simple steam jacket processing method to the quality of White Spotted Whipray Rays liver oil. The differences of processing temperatures affected significantly the value of free fatty acid, peroxide, and yield; but did not affected significantly on the water content and the organoleptic value specification products except on turbidity. The most optimum processing temperature of Rays liver oil was at 60 °C for 20 minutes with the content of free fatty acids 0.68%, the peroxide 0,57 meq/kg, and the moisture of the oil 0%. The product had yield 37.88%, the sensory value 7.97 ≤ μ ≤ 8.35 and omega-3: 23.44%, as well as omega-6: 10.19%. Keywords: Fish liver oil, simple steam jacket, temperature
Aktivitas Antibakteri dari Beberapa Tingkatan Mutu Terasi Udang Rebon Romadhon Romadhon; Laras Rianingsih; Apri Dwi Anggo
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 21 No 1 (2018): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 21(1)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.876 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v21i1.21263

Abstract

Terasi merupakan produk fermentasi ikan atau udang berbentuk pasta padat yang diolah secara tradisional. Bakteri asam laktat dapat diisolasi dari produk terasi dan menghasilkan senyawa antibakteri yaitu bakteriosin. Bakteriosin sebagai pengawet makanan memiliki kelebihan antara lain: dapat mengalami degradasi oleh enzim proteolitik dalam pencernaan manusia sehingga tidak membahayakan untuk kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan menentukan komposisi kimia dan aktivitas antibakteri bakteriosin asam laktat yang diisolasi dari bebrapa tingkatan mutu terasi rebon. Analisis menggunakan terasi grade 1, grade 2, grade 3, yang ditentukan oleh perbandingan rebon dan bahan tambahan pada proses pembuatannya. Hasil isolasi bakteri asam laktat diperoleh 549 isolat sedangkan isolat BAL yang menghasilkan bakteriosin diperoleh 18 isolat. Bakteriosin dari BAL yang diisolasi dari terasi dapat menghambat ketiga jenis bakteri patogen dan pembusuk yaitu Eschericia coli, Vibrio parahaemiliticus, dan Staphylococcus aureus. Bakteriosin dari isolat BAL yang dapat menghambat bakteri patogen dan pembusuk  yang terbaik yaitu terasi grade 1. Kualitas terasi terbaik pada grade 1 dengan kadar protein 42,78±1,28a, lemak 5,33±0,53a, asam glutamat.40,50±0,06a.
PENGARUH BERBAGAI JENIS GELATIN KULIT IKAN TERHADAP KARAKTERISTIK KEKIAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) (The Effect of Various Types of Skin Fish Gelatine to Fish Kekian Characteristics from Tilapia (Oreochromis niloticus)) Helmy Mustafida; Y S Darmanto; Apri Dwi Anggo
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 15, No 1 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.489 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.15.1.19-25

Abstract

“Kekian” merupakan salah satu produk diversifikasi perikanan. Kekian yang baik memiliki tekstur yang kenyal dan mudah dikunyah, sehingga perlu gelling agent (bahan pembentuk gel) untuk bisa membuat gel kekian tersebut tetap baik. Gelatin memiliki sifat sebagai penstabil dan pembentuk gel sehingga mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kekuatan gel dan memperbaiki tekstur dari kekian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik gelatin dari berbagai jenis kulit ikan dan mengetahui pengaruh penambahan gelatin kulit ikan tersebut terhadap mutu produk kekian. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pada penelitian adalah penambahan gelatin kulit ikan yang berbeda yaitu ikan patin, ikan cobia, dan ikan payus, masing-masing dengan tiga kali pengulangan. Parameter yang diamati adalah gel strength, kadar air, kadar protein, kadar lemak, hedonik, uji gigit, uji lipat, dan uji derajat putih. Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Beda Nyata Jujur, sedangkan data non-parametrik dianalisis menggunakan Kruskall-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekian dengan penambahan gelatin kulit ikan patin, cobia, dan payus mempunyai pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap kualitas kekuatan gel, kadar air, kadar protein, kadar lemak, hedonik (tekstur dan warna), uji gigit, uji lipat dan uji derajat putih. Formulasi kekian terbaik pada penelitian ini dengan penambahan gelatin kulit ikan cobia dinilai dari gel strength (1886,14 g.cm); nilai kadar air (51,75 %); nilai kadar protein (25,91%); nilai kadar lemak (9,21%); nilai hedonik (7,46<µ<7,73); nilai uji gigit (8,36); nilai uji lipat (4,46) dan nilai derajat putih (69,51). “Kekian” is one of the fisheries diversification products. Good kekian has a chewy texture and is easy to chew, so it needs a gelling agent to make the gel remain good. Gelatine has the properties of a stabilizer and gel formation, so it has the ability to increase gel strength and improve texture from kekian. The purpose of this research is to know the characteristics of gelatine from various types of fish skin and determaine the effect gelatine addition of fish skin on the quality of product. The research method used was experimental laboratories using a Completely Randomized Design (CRD). The treatments were addition of different skin fish gelatine, namely catfish, cobia fish, and payus fish, each treatment was repeated in three replications. The parameters observed were gel strength, water content, protein content, fat content, hedonic, bite test, folding test, and degree of whiteness. Parametric data were analyzed using ANOVA and Honestly Significant Difference, while non-parametric data were analyzed using Kruskall-Wallis and Mann-Whitney test. The results showed that the kekian with the addition of  fish skin gelatine had a significantly different effect (P<0.05) on the quality of gel strength, moisture content, protein content, fat content, hedonic (texture and color), bite test, folding test and degree of whiteness. The best kekian formulation in this study with the addition of white cobia gelatine assessed from a value of gel strength (1886.14 g.cm); moisture content of water (51.75%); the value of protein level (25.91%); the value of fat (9.21%); a value hedonik (7.46<µ<7.73); the value of bite test (8.36); the value of folding test (4.46) and the value of degree of whiteness (69.51).
KARAKTER KIMIA KECAP IKAN DARI VISCERA IKAN MANYUNG (Arius sp.) YANG DIFERMENTASI DENGAN KADAR GARAM YANG BERBEDA Chemical characteristic of fish sauce from sea cat fish (Arius sp.) viscera fermented with different salt concentration Laras Rianingsih; Ratna Ibrahim; Apri Dwi Anggo
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 11, No 2 (2016): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.445 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.11.2.115-119

Abstract

 Salah satu kelemahan dari fermentasi tradisional adalah waktu fermentasi yang lama, untuk produk kecap ikan memerlukan waktu berbulan-bulan atau bahkan mencapai 2 tahun. Untuk menanggulangi masalah diatas dilakukan penelitian dengan menurunkan kadar garam untuk mempercepat proses hidrolisis protein pada produksi kecap ikan. Pengaruh dari perbedaan garam (15%, 20% dan 25% b/b) pada karakteristik kimia (total nitrogen, TVB, TMA dan amoniak) kecap ikan yang dibuat dari viscera Ikan Manyung (Arius sp.) diamati setelah 45 hari fermentasi. Produk kecap ikan dari viscera Ikan Manyung (Arius sp.) mengandung total N yang lebih rendah, TVBN, TMA dan ammonia dengan bertambahnya garam. Hasil terbaik adalah pada perlakuan kadar garam 20% karena telah mampu memenuhi standar kecap ikan dari Codex Allimentarius pada parameter total N, serta kadar TVBN, TMA dan amoniak yang relatif rendah. Kata kunci: Kecap ikan; viscera ikan manyung, garam, karakter kimia  ABSTRACT One of the drawbacks of traditional fermentation is a relatively long incubation. To overcome the problem above can be done by decreased levels of salt to accelerate hydrolysis in fish sauce production. The effect of different concentration salt (15%, 20% and 25% w/w )on the chemical characteristic(total nitrogen, TVB, TMA, dan ammonia) in fish sauce made from cat fish (Arius sp.) viscera were monitored after 45 days fermentation period. Fish sauce product from cat fish (Arius sp.) viccera contain lower total nitrogen, TVBN, TMA, ammonia with the increasing of salt. The best result was in the 20 % salt addition that could meet the Codex Allimentarius standard in total nitrogen content, and the value of TVB, TMA and ammonia was relative low compared to the other treatment. Keywords: Fish sauce, cat fish viscera, salt, chemical characteristic
AKTIVITAS ANTIBAKTERI ANGGUR LAUT (Caulerpa lentillifera) TERHADAP Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Andiani Ulfa Saputri; Lukita Purnamayati; Apri Dwi Anggo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2019.5240

Abstract

Anggur laut (C. lentillifera) mengandung zat aktif yang dapat berfungsi sebagai senyawa antibakteri. Senyawa bioaktif tersebut antara lain flavonoid, alkaloid, saponin, fenol, dan steroid/triterpenoid. Tujuan dari penelitian  ini adalah mengetahui kandungan senyawa bioaktif ekstrak kasar anggur laut mengetahui pengaruh beda konsentrasi ekstrak terhadap potensi aktivitas antibakteri pada bakteri S. aureus dan E. coli, dan mengetahui konsentrasi terbaik untuk menghambat bakteri S. aureus dan E. coli.  Perlakuan yang digunakan yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15%. Amoksilin diberikan sebagai kontrol posistif. Kontrol negatif 0% ekstrak dan kontrol positif menggunakan amoksilin. Penelitian didahului dengan skrining fitokimia. Pelarut yang digunakan untuk mengekstrak yaitu metanol, karena nilai rendemen yang tinggi (7,3 ± 0,21%). Senyawa bioaktif yang terkadung antara lain flavonoid 13,24%, alkaloid 11,67%, saponin 8,33% dan fenol 0,62%. Zona hambat yang terbentuk pada perlakuan 5%, 10% dan 15% pada bakteri S.aureus berturut-turut 7,141± 0,062 mm, 8,316 ± 0,057 mm, dan 9,161 ± 0,083 mm, sedangkan pada bakteri E.coli yaitu 5,103 ± 0,047 mm, 6,148± 0,052 mm, dan 7,108 ± 0,038 mm. Masing-masing perlakuan menunjukkan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap bakteri uji. Berdasarkan hasil penelitian ekstrak anggur laut dapat digunakan konsentrasi yang semakin tinggi akan membentuk zona hambat yang semakin besar.
KARAKTERISTIK FISIKO KIMIA DAN SENSORI PASTA MAKARONI DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG IKAN GABUS (Channa striata) Elfrido Christian Dewantara; Ima Wijayanti; Apri Dwi Anggo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2019.6743

Abstract

Makaroni merupakan salah satu jenis dari olahan pasta yang sangat digemari oleh masyarakat. Pembuatan makaroni terdiri dari bahan utama yaitu tepung, garam, dan air. Penambahan tepung ikan gabus diharapkan dapat menambah nutrisi pada makaroni. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh tepung ikan gabus terhadap makaroni dengan konsentrasi yang berbeda serta kualitas makaroni yang terbaik setelah penambahan tepung ikan gabus. Perlakuan pada penelitian adalah penambahan tepung ikan gabus dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 0%, 4%, 8%,12%, masing-masing dengan tiga kali pengulangan. Parameter yang diamati adalah kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar abu, kadar albumin, daya serap air, daya pengembangan, cooking loss dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makaroni dengan penambahan tepung ikan dengan konsentrasi 4 %, 8 % dan 12 % mempunyai pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap karakteristik fisiko kimia dan sensori pada makaroni. Hasil uji makaroni terbaik pada penelitian ini pada penambahan 12 % tepung ikan gabus, dinilai dari kadar albumin 0,86 %±0,01 dan protein 20,97 %±1,14 dengan nilai sensori sebesar 7,51 yang berarti makaroni disukai.
PENGARUH JENIS ASAM TERHADAP KARAKTERISTIK GELATIN KULIT IKAN AYAM-AYAM (Abalistes stellaris) Adilla Wahyu Nugraheni; Apri Dwi Anggo; Eko Nurcahya Dewi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2021.13144

Abstract

Ikan Ayam-ayam merupakan salah satu jenis ikan laut yang memiliki kulit tebal dan keras. Hal ini mengakibatkan kulit ikan ayam-ayam hanya dijadikan sebagai limbah disisi lain sebenarnya kulit tersebut dapat dimanfaatkan menjadi gelatin. Proses pembuatan gelatin yang berasal dari kulit ikan biasanya dilakukan dengan menggunakan larutan asam lemah untuk mencegah terjadinya hidrolisis lanjutan yang dapat merusak kolagen yang ada di kulit ikan sehingga struktur gelatin tidak dapat terbentuk. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan larutan asam lemah yaitu asam fosfat (H3PO4), asam oksalat (H2C2O4), asam sitrat (C6H8O7) dan asam asetat (CH3COOH) terhadap nilai rendemen, kekuatan gel, pH, kadar air, kadar protein, kadar abu dan viskositas selain itu untuk mengetahui jenis asam lemah terbaik dalam proses pembuatan gelatin kulit ikan ayam-ayam. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan jenis asam lemah yang berbeda. Data yang diperoleh diuji dengan uji normalitas, uji homogenitas, uji ANOVA dan uji lanjut BNJ untuk mengetahui adanya perbedaan antar perlakuan. Hasil analisa data menunjukkan bahwa penggunaan asam lemah yang berbeda mempunyai pengaruh berbeda nyata terhadap parameter uji yaitu rendemen kekuatan gel, pH, kadar air, kadar protein, kadar abu dan viskositas. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa perlakuan dengan menggunakan asam asetat menghasilkan gelatin dengan nilai kekuatan gel dan viskositas tertinggi sebesar 294,47 bloom dan 3,61 cP, sedangkan perlakuan asam fosfat menghasilkan gelatin dengan mutu dan daya simpan terbaik dengan nilai rendemen, kadar air dan kadar protein tertinggi dibandikan perlakuan jenis asam lainnya.
KARAKTERISTIK NORI TIRUAN BERBAHAN BAKU Gelidium sp. DAN Ulva lactuca DENGAN PENAMBAHAN KONSENTRASI MIKROKAPSUL ASAP CAIR YANG BERBEDA Abiza Winner Natanael; Fronthea Swastawati; Apri Dwi Anggo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2021.11405

Abstract

Gelidium sp. merupakan rumput laut dengan karakteristik fisiologi jaringan keras dan padat, sedangkan Ulva lactuca merupakan sumber makanan berserat yang dapat membantu proses pencernaan dalam tubuh. Kedua rumput laut tersebut, dimungkinkan untuk dibuat menjadi produk pangan mirip nori. Pemanfaatan mikrokapsul asap cair dalam pembuatan nori tiruan, diharapkan membuat karakteristik nori tiruan menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik nori tiruan berbahan baku Gelidium sp. dan Ulva lactuca yang ditambah mikrokapsul asap cair dengan konsentrasi berbeda serta mengetahui konsentrasi yang menghasilkan karakteristik nori tiruan terbaik. Bahan utama yang digunakan adalah rumput laut jenis Gelidium sp. dan Ulva lactuca, maltodekstrin, serta asap cair tempurung kelapa. Alat yang digunakan spray dryer, sentrifus, oven, spektrofotometer dan beberapa peralatan laboratorium lainnya. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan. Data dianalisis dengan ANOVA dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan BNJ (Beda Nyata Jujur). Nori tiruan dibuat dari perbandingan 3: 1 antara bubur Gelidium sp dan bubur Ulva lactuca dengan penambahan mikrokapsul asap cair konsentrasi 0%, 2%, 4% dan 6% sebagai perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi mikrokapsul asap cair yang berbeda terhadap nori tiruan berbahan baku Gelidium sp. dan Ulva lactuca memberikan pengaruh nyata (P<0,05) pada kandungan asam glutamat, nilai fenol, kandungan logam berat kadmium, kadar air serta aktifitas air tetapi tidak berpengaruh nyata pada kerenyahan produk dan hedonik nori tiruan tersebut. Berdasarkan karakteristik kimiawinya, penambahan mikrokapsul asap cair konsentrasi 6% memberikan efek yang paling banyak terhadap nori tiruan yang dihasilkan.
PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI EKSTRAK PEWARNA ALAMI RUMPUT LAUT (Sargassum sp.) TERHADAP MUTU WARNA KAIN KATUN BATIK Farisan Hilmana Ramadhan; Eko Nurcahya Dewi; Apri Dwi Anggo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jitpi.2020.9639

Abstract

Pewarna sintetis dapat menimbulkan beberapa masalah lingkungan terutama pada limbah cair yang dihasilkan selama proses pembuatan batik. Salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai pewarna kain batik adalah rumput laut (Sargassum sp.). Ekstraksi zat warna dari rumput laut (Sargassum sp.) diberikan tiga macam perlakuan ektraksi dengan konsentrasi rumput laut : air yaitu 1:15, 1:10, dan 1:5. Bahan pewarna untuk kontrol yaitu menggunakan ekstrak pewarna dari mangrove (Rhizophora sp.). Konsentrasi yang digunakan pada kontrol yaitu 1:10 sesuai standar dalam pembuatan batik pewarna alam. Hasil pengujian beda warna kain menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi zat pewarna Sargassum sp. berpengaruh terhadap nilai kecerahan dan arah warna kain. Perbedaan konsentrasi zat warna berpengaruh terhadap tingkat ketuaan kain namun pada konsentrasi lebih tinggi, kain mengalami kejenuhan untuk menyerap zat warna sehingga perubahan warna perlakuan B dengan C tidak berbeda nyata. Hasil pengujian tahan luntur warna terhadap gosokan kering menunjukkan pada semua perlakuan memberikan hasil nilai Staining Scale (SS) 4-5 dan pada gosokan basah menunjukkan nilai A yaitu 4-5, B dan C yaitu 4 yang artinya semua perlakuan dalam kategori baik. Hasil pengujian tahan luntur warna terhadap sinar matahari menunjukkan nilai nilai Grey Scale (GS) A yaitu 3-4 yang artinya cukup baik, sedangkan B, dan C yaitu 4 yang artinya nilai tersebut dalam kategori baik.
Co-Authors - Sumardianto A Suhaeli Fahmi Abdul Syakur Abiza Winner Natanael Adilla Wahyu Nugraheni Aditya Cahya Putra Aditya Nugroho Afwan Widhiharto Agung Purnama Agus Hariyanto Agus Tri Setyo Wicaksono Ali Djamhuri Andi Ayu Irawati, Andi Ayu Andiani Ulfa Saputri Andini, Lucky Ardila Prasinta Devi Ardya Risma Firmansyah Arnyta Restu Pratiwi, Arnyta Restu Aryna Conny Tamaya Cahya, Ira Cindy Dwi Daveza, Hisyam Pranata Dayu Bestari Diah Nur Aisyah Tri Meiyani Diana Nur Afifah, Diana Nur Egidya Safitri Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahya Dewi Elfrido Christian Dewantara Faidha Santika, Faidha Faishal, Imam Farraz Fajar, Rahmadian Fara Sabilla Ulfa Farhan Alfarobi Karim Farisan Hilmana Ramadhan Fathin Alyani, Fathin Ferdianto, Richki Ferry Istanto Firman Multazam Fronthea Swastawati Harys Desvian Wibisono Hasthi, Saputra Helmy Mustafida Hilmi, Muhammad Zuhal Ibnu Bachtiar Ida Harjuno Ima Wijayanti Imam Restu Wibowo Jannah, Nabila Tsarwatul Kartika Anjar Sari Koko Seviyanto Laras Rianingsih Liberta Ibi Patria Lilin Budiati Lukita Purnamayati Ma'ruf, Widodo Farid Medi Prasetyo Meilinda Hardianti, Meilinda Mimin Sugiarti Namaskara, Fadhillah Sanitya Nurafifah, Diyah Ayu Nurina Almas Shabrina Pramitha Nurma Deviyanti, Pramitha Nurma Purnamayati, Lukita Putut Har Riyadi Rahmaningsih, Astuti Rani Tri Mustika Novitasari Ratna Ibrahim Ratna Ibrahim Ratna Ibrahim Retno Ayu Kurniasih Rian Adiaprana, Rian Riana Rachmawati Rianingsih, Laras '- Romadhon Romadhon Sindi Clarista Efendi Slamet Suharto, Slamet Subianto, Purwanti Fadiah Kusuma Sari Sumardianto - Tambunan, Van Rhein Titi Surti Tri Wahyuningsih Tri Winarni Agustini Tri Wisnu Susilo Umi Nur Safitri Wahyu Nur Widiyanto Widodo Farid Ma'ruf Widodo Farid Ma’ruf Wijayanti, Ima '- Wijayanti, Ph.D, Ima Y S Darmanto y S Darmanto Yhuda Ardiansyah, Yhuda YS Darmanto Yudhomenggolo Sastro Darmanto Yudhomenggolo Sastro Darmanto Yuliani Yuliani