Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Dietary vitamin E on the reproductive performance of the fantail goldfish Carassius auratus auratus Arfah, Harton; Melati, .; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2719.119 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.14-17

Abstract

ABSTRACT This research was conducted to examine the different dose of vitamin E in the diet on female broodstock reproduction performance of the fantail goldfish Carassius auratus auratus. This research consisted of four treatments with three replications. The use of vitamin E doses was 0, 125, 250, and 375 mg/kg. The vitamin E was dissolved in vegetable oil and mixed with albumen as a binder in feed. The vitamin E was sprayed at feed and was air dried. Female broodstock of the fantail goldfishes were reared for 40 days. The result showed that 375 mg/kg treatment performed the highest quality of reproduction. Egg diameter, gonadosomatic index, fecundity, and germinal vesicle breakdown of fish which are treated by 375 mg/kg vitamin E were respectively 0.92±0.05 mm, 8.86±4.62%, 56.00±29.18%, and 67.35±17.67% higher than control. Thus, 375 mg/kg of dietary vitamin E suplementating was a best dose to improve female broodstock productivity of the fantail goldfish Keywords: female broodstock, fantail goldfish, vitamin E, reproduction quality  ABSTRAK Penelitian dilakukan untuk menguji suplementasi vitamin E dengan dosis berbeda dicampur ke dalam pakan komersial terhadap produktivitas induk betina ikan komet Carassius auratus auratus. Penelitian ini menggunakan empat perlakuan dengan tiga ulangan. Dosis vitamin E yang diberikan, yaitu 0, 125, 250, dan 375 mg/kg pakan. Vitamin E dilarutkan dalam minyak nabati dan dicampur dengan putih telur sebagai perekat pada pakan. Vitamin E disemprotkan ke pakan dan dikeringanginkan. Induk betina ikan komet pascasalin dengan bobot 72,78±19,47 g diberi perlakuan selama 40 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk betina ikan komet yang diberi suplementasi vitamin E sebanyak 375 mg/kg dalam pakan memiliki diameter telur 0,92±0,05 mm, gonadosomatic index 8,86±4,62%, fekunditas 56,00±29,18 butir/g ikan, dan germinal vesicle breakdown 67,35±17,67% yang lebih tinggi dibandingkan kontrol. Dengan demikian, suplementasi vitamin E sebesar 375 mg/kg pada pakan adalah dosis terbaik dalam meningkatkan produktivitas induk betina ikan komet. Kata kunci: induk betina, ikan komet, vitamin E, kualitas reproduksi 
Masculinization of betta fish Betta splendens by embryo immersion in extract of purwoceng Pimpinella alpina Arfah, Harton; Soelistyowati, Dinar Tri; Bulkini, Asep
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2754.375 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.144-149

Abstract

ABSTRACT This study aimed to examine the effect of extract of purwoceng Pimpinella alpina for masculinization of Betta splendens. This research used completely randomized design with three treatments that were distinguished by doses of purwoceng extract, which were 10, 20, and 30 µL/L, and 0 µL/L as control. The treatments were given by immersion to 35 embryos at eye spots phase or about 28-hours after fertilization, for eight hours. The immersion process was done for 8 hours. The result showed that 20 µL/L dose of purwoceng extract produced 62.66% male, and hatching rate was 85.71%. This male percentage was higher compared to control (45.91%), but the hatching rate was lower than that of control (98.57%). At the higher dose (30 µL/L), male fish population and hatching rate reduced respectively 39.72% and 68.57%, respectively. Keywords: masculinization, embryo immersion, purwoceng extract, Betta splendens  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh dosis ekstrak purwoceng Pimpinella alpina extract dalam maskulinisasi ikan cupang hias Betta splendens. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan dosis ekstrak purwoceng. yaitu 10, 20, dan 30 µL/L, serta perlakuan 0 µL/L sebagai kontrol. Perlakuan diberikan melalui perendaman selama delapan jam terhadap 35 embrio saat memasuki fase bintik mata atau sekitar jam ke-28 setelah pembuahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis ekstrak purwoceng 20 µL/L menghasilkan persentase ikan jantan sebesar 62,66%, dan daya tetas telur sebesar 85,71%. Persentase jantan tersebut lebih tinggi daripada kontrol (45,1%), tetapi derajat penetasannya lebih rendah daripada kontrol (98,57%). Pada dosis yang lebih tinggi (30 µL/L), populasi ikan jantan (39,72%), dan derajat penetasan (68,57%) adalah menurun. Kata kunci: maskulinisasi, perendaman embrio, ekstrak purwoceng, Betta splendens
Effect of electrical field on gonadal development of goldfish in saline media Nirmala, Kukuh; Habibie, Ahmad; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2938.394 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.9-17

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to evaluate the effect of electric field exposure duration at the voltage of 10 volt on goldfish Carassius auratus auratus gonadal development maintained in 3 ppt salinity media. The experiment consisted of four treatments in triplicates i.e. control, two, four, and six minutes of electrical-field exposure. The experiment design used was completely randomized design. Fish used was female goldfish at the density of 4 fish/aquarium with an average total length of 12.27±0.05 cm and average body weight of 22.29±0.54 g. Result of study showed that the electrical-field exposure at 10 volt for all duration treatments in 3 ppt of media salinity did not give significant effect on gonadosomatic index (GSI) and gonadal development of goldfish. Keywords: electrical field, Carassius auratus auratus, gonad, salinity  ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh lama waktu pemaparan medan listrik dengan voltase 10 volt terhadap perkembangan gonad ikan komet Carassius auratus auratus yang dipelihara pada media bersalinitas 3 ppt. Perlakuan pada penelitian ini terdiri atas empat perlakuan, yaitu: perlakuan kontrol, dua, empat, dan enam menit. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Ikan uji yang digunakan adalah ikan komet betina. Jumlah ikan yang digunakan adalah 4 ekor/akuarium dengan panjang total rata-rata 12,27±0,05 cm dan bobot tubuh rata-rata 22,29±0,54 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian medan listrik sebesar 10 volt dengan lama waktu pemaparan medan listrik pada semua perlakuan durasi di media pemeliharaan bersalinitas 3 ppt tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter indeks gonadosomatik (GSI) dan perkembangan gonad ikan komet. Kata kunci: medan listrik, Carassius auratus auratus, gonad, salinitas
Application of different honey and dilution ratios on sperm quality of Pangasianodon hypopthalmus Arfah, Harton; Hasan, Fahmi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3050.604 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.164-170

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to determine the effect of various types of honey (longan honey, lychee honey, and cottonwoods honey) on sperm quality of Siamese catfish Pangasianodon hypopthalmus with different dilution ratios after the storage period which includes sperm viability, fertilization rate, and hatching rate. The best treatment was obtained on the aplication of longan honey as a sperm diluent at 1:50 dilution ratio, with sperm viability 96.33±0.58%, fertilization rate 97.10±0.70%, and hatching rate 93.44±2.39%. Keywords: Siamese catfish, Pangasianodon hypophthalmus, honey, sperm dilution ratio  ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh pemberian berbagai jenis madu (madu kelengkeng, madu leci, dan madu randu) terhadap kualitas sperma ikan patin siam Pangasianodon hypopthalmus dengan rasio pengenceran berbeda setelah masa penyimpanan, yang meliputi viabilitas sperma, tingkat fertilisasi, dan derajat penetasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik didapatkan pada pemberian madu kelengkeng dengan rasio pengenceran 1:50 dengan viabilitas sperma 96,33±0,58%, tingkat fertilisasi 97,10±0,70%, dan derajat penetasan 93,44±2,39%. Kata kunci: ikan patin, Pangasianodon hypopthalmus, madu, rasio pengenceran sperma 
Supplementation of astaxanthin and vitamin E in feed on the development of gonads white shrimp broodstock Litopenaeus vannamei Boone 1931 Maulana, Fajar; Arfah, Harton; Istifarini, Mita; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3478.477 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.124-135

Abstract

ABSTRACT The quality of white shrimp Litopenaeus vannamei broodstock can be improved through the addition of astaxanthin and vitamin E in the diet. This study aimed to determine the effect of administration of astaxanthin and vitamin E with different doses in the feed on the maturity gonad of prospective Pacific white shrimp broodstock. Supplementation of 0 mg/kg feed astaxanthin + 0 mg/kg feed vitamin E (control/A),  500 mg/kg feed astaxanthin (B),  350 mg/kg  feed vitamin E (C), 500 mg/kg feed astaxanthin and 350 mg/kg feed vitamin E (D), and  250 mg/kg feed astaxanthin and 175 mg/kg feed vitamin E (E) were applied in feed formulation. Shrimp was fed 2% of body weight three times daily at 06.00 am, 13.00 pm, and 20.00 pm. The result showed that the optimum dose for survival, specific growth rate and maturity level of Pacific white shrimp broodstock was obtained in the combination of 175 mg/kg vitamin E and 250 mg/kg astaxanthin. The  survival of shrimp by that treatment was 100.00±0.00%, specific growth rate 1.07±0.26%/day, the first level of gonad maturity growth was reached at day 14 (19.45±4.81%), the fourth level of gonad maturity was obtained at day 41, spawning rate 33.33±8.33%, fecundity 87,000±2,000 eggs, and hatching rate reached 49.00±1.53%. Keywords: astaxanthin, Litopenaeus vannamei, vitamin E  ABSTRAK Peningkatan kualitas induk udang vaname Litopenaeus vannamei dapat dilakukan dengan penambahan vitamin E dan astaxanthin pada pakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh pemberian astaxanthin dan vitamin E dengan dosis berbeda dalam pakan terhadap tingkat kematangan gonad calon induk udang vaname. Dosis yang digunakan adalah 0 mg/kg pakan astaxanthin + 0 mg/kg pakan vitamin E (kontrol/A),  500 mg/kg pakan astaxanthin (B),  350 mg/kg  pakan vitamin E (C), 500 mg/kg pakan astaxanthin and 350 mg/kg pakan vitamin E (D), and  250 mg/kg pakan astaxanthin and 175 mg/kg pakan vitamin E (E). Pemberian pakan dengan penambahan vitamin E dan astaxanthin dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu jam 06.00, 13.00, dan 20.00 WIB sebanyak 2% dari bobot udang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis optimum untuk sintasan, laju pertumbuhan spesifik, dan tingkat kematangan induk udang vaname diperoleh dengan kombinasi 175 mg/kg vitamin E dan 250 mg/kg astaxanthin. Kelangsungan hidup udang dengan perlakuan tersebut adalah 100,00±0,00%, laju pertumbuhan spesifik 1,07±0,26%/hari, tingkat kematangan gonad pertama dicapai pada hari ke 14 (19,45±4,81%), tingkat kematangan gonad keempat diperoleh pada hari ke 41, tingkat pemijahan 33,33±8,33%, fekunditas 87.000±2.000 telur, dan tingkat penetasan mencapai 49,00±1,53%.  Kata kunci: astaxanthin, udang vaname Litopenaeus vannamei, vitamin E
Biochemical study of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced by PMSG hormone + anti‒dopamine and turmeric addition Arfah, Harton; Sudrajat, Agus Oman; Suprayudi, Muhammad Agus; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3416.018 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.191-198

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate biochemical changes (cholesterol, triglyceride, HDL, LDL, glucose, and plasma protein) on striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced with PMSG hormone and turmeric addition. An observation was also done to blood glycogen content. The striped catfish broodstock was fed on commercial feed without any addition (control) and with turmeric addition (HKu). In control treatment, there was a decreasing on cholesterol, meanwhile, the triglyceride (TG) value was increased. The HDL concentration was decreased in 2nd sampling and increased in 4th sampling. In 1st until 4th sampling, glucose was quite stable, while LDL was on extremely low concentration. In HKu treatment, the cholesterol value was higher than the control treatment. The TG concentration also higher than control in 3rd sampling and decreased in 4th sampling. The HDL concentration was increased and higher than the control treatment, while LDL concentration was lower. The liver glycogen content on the control and HKu treatment were 0.015 (mg/100 mL) and 0.181 (mg/100 mL) respectively; while in the flesh of the control and HKu treatment were 0.76 (mg/100 mL) and 1.19 (mg/100 mL) respectively; and in the gonad of control and HKu treatment were 0.10 (mg/100 mL) and 0.70 (mg/100 mL) respectively. It was shown that the glycogen content in the liver, flesh, and gonad on experimental fish was higher than control treatment. Keywords : biochemistry, hormone, turmeric, channel catfish, reproduction  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan biokimia (kolesterol, trigliserida, HDL, LDL, glukosa dan protein plasma) induk ikan patin Pangasianodon hypophthalmus yang diberi perlakuan hormon PMSG dan kunyit (HKu). Pengamatan juga dilakukan terhadap glikogen dalam darah induk patin. Induk ikan patin diberi pakan tanpa penambahan kunyit (kontrol) dan pakan yang diberi HKu. Hasil penelitian pada kontrol menunjukkan adanya penurunan kolesterol, sedangkan pada TG mengalami peningkatan. HDL menurun pada sampling ke‒2 dan meningkat pada sampling ke‒4. Sementara itu, pada LDL rendah sekali dan pada glukosa terlihat stabil dari sampling ke‒1 sampai ke‒4. Pada perlakuan HKu terlihat bahwa pada kolesterol menghasilkan nilai lebih tinggi dibanding kontrol. Pada TG terlihat juga nilai lebih tinggi dibanding kontrol pada sampling ke‒3 dan menurun pada sampling ke‒4. Konsentrasi HDL meningkat dan lebih tinggi dibanding kontrol, sedangkan nilai LDL lebih rendah. Data yang diperoleh pada kadar glikogen hati perlakuan kontrol adalah 0,015 (mg/100 mL) dan HKu 0,181 (mg/100 mL); sedangkan pada daging kontrol sebesar 0,76 (mg/100 mL) dan HKu 1,19 (mg/100 mL); serta gonad kontrol 0,10 (mg/100 mL) dan HKu 0,70 (mg/100 mL). Hal ini menunjukkan kadar glikogen pada hati, daging, dan gonad ikan yang diberi perlakuan bernilai lebih tinggi dibanding kontrol.           Kata kunci : biokimia, hormon, kunyit, ikan patin, reproduksi  
Male sex ratio of red tilapia Oreochromis sp. after soaking in different concentrations of coconut milk at larvae stadia Maulana, Fajar; Sudrajat, Agus Oman; Permana, Andre; Mulyani, Lina; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.187-199

Abstract

Tilapia has sexual dimorphism, based on the size and growth. Male tilapia has a faster growth rate than female tilapia. Masculinization can be carried out to produce monosexual tilapia seeds to accelerate fish growth. As the use of the 17α-methyltestosterone synthetic hormone for masculinization activities has been limited, natural ingredients are required as a substitute, namely coconut milk. This study aimed to determine the effect of different coconut milk concentrations as a phytosteroid material for the masculinization of red tilapia by immersing the larvae to the material. Tilapia fish larvae were immersed in coconut milk for 12 hours and then reared for 60 days at 100 larvae for each rearing container. There were four different treatments, namely control treatment without coconut milk immersion, S3 (3 ml/L coconut milk), S5 (5 ml/L coconut milk), and S7 (7 ml/L coconut milk). The results showed that the 7 ml/L coconut milk treatment increased the male sex ratio and specific growth rate and reduced the feed conversion ratio without a negative impact on the survival rate of red tilapia fry. In this study, the 7 ml/L coconut milk treatment was the best treatment, which produced a male sex ratio of 67.78 ± 4.16%. Keywords: coconut milk, masculinization, monosex, phytosteroids, tilapia ABSTRAK Ikan nila memiliki dimorfisme seksual yang dapat dilihat dari ukuran dan pertumbuhannya. Ikan nila jantan memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat ketimbang ikan nila betina. Maskulinisasi dapat dilakukan untuk menghasilkan benih ikan nila monoseks dengan tujuan mempercepat pertumbuhannya. Penggunaan hormon sintetik 17α-methyltestosteron sudah dibatasi penggunaannya sehingga diperlukan bahan alami pengganti salah satunya santan kelapa untuk kegiatan maskulinisasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh perendaman santan kelapa sebagai fitosteroid untuk maskulinisasi ikan nila merah melalui perendaman larva dengan konsentrasi berbeda. Larva ikan nila direndam santan kelapa selama 12 jam dan selanjutnya dipelihara selama 60 hari dengan kepadatan 100 ekor untuk setiap wadah pemeliharaan. Terdapat empat perlakuan berbeda, kontrol tanpa perendaman santan, S3 (Santan 3 ml/L air), S5 (Santan 5 ml/L air) dan S7 (Santan 7 ml/L air). Hasil penelitian menunjukan perlakuan perendaman santan kelapa 7 ml/L dapat meningkatkan nisbah kelamin jantan dan laju pertumbuhan spesifik, serta menurunkan rasio konversi pakan dan tidak berdampak buruk terhadap nilai tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila merah. Dalam penelitian ini, perlakuan santan 7 ml/L merupakan perlakuan terbaik yakni dapat menghasilkan nisbah kelamin jantan sebesar 67,78 ± 4,16%. Kata kunci: fitosteroid, ikan nila, maskulinisasi, monoseks, santan kelapa
The ontogenic study of early life stages of culture-bred Nomorhamphus sp. (Zenarchopteridae) from Lindu, Central Sulawesi Herjayanto, Muh; Carman, Odang; Tri Soelistyowati, Dinar; Alimuddin; Wicaksono, Aryo Wenang; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.179-186

Abstract

Nomorhamphus sp. is a freshwater fish that has been traded as an ornamental fish. This fish is unique as an endemic species with a halfbeak-like jaw and orange color on the caudal fin. However, this fish culture information needs a further information. Based on this condition, it is necessary to conduct a study as a basis for ornamental fish breeding and growing-out activities through domestication. A crucial problem in this fish is larval rearing, which can be observed through ontogeny studies. The study was conducted on the newly-born larval behavior, morphological development, andropodium development, growth, and survival rate at the early stages, namely larvae to juvenile. The results showed that the newly-born larvae of Nomorhamphus sp. Lindu had a total length of 1.6-1.8 cm. Larvae could swim four hours 22 minutes after birth and feed artemia nauplii with surface feeding type. The initial juvenile stage occurred 25 days of post-birth period with a total length of 2.0-2.2 cm. The water condition of the rearing during the study could support the larval transformation to juvenile. This study is the first report related to the aquaculture success of the early life stage of Nomorhamphus sp. Lindu at the domestication stage. Keywords: andropodium, domestication, endemic halfbeak, larva development, surface feeding ABSTRAK Nomorhamphus sp. adalah ikan air tawar yang telah diperdagangkan sebagai ikan hias. Ikan ini memiliki keunikan pada statusnya sebagai spesies endemik, bentuk mulut menyerupai paruh setengah (halfbeak), dan warna oranye pada sirip ekor. Namun informasi budidayanya belum diketahui dengan baik. Karena itu perlu dilakukan kajian sebagai dasar dalam kegiatan pengembangbiakan dan pembesaran sebagai ikan hias melalui domestikasi. Salah satu kegiatan penting dalam budidaya yaitu pemeliharaan larva yang dapat diamati melalui studi ontogeni. Kajian pada studi awal ini dilakukan pada stadia awal hidup yaitu larva sampai juvenil. Pengamatan dilakukan pada tingkah laku larva pascalahir, perkembangan morfologi, perkembangan andropodium, pertumbuhan dan sintasan pada lingkungan budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva Nomorhamphus sp. Lindu yang baru dilahirkan memiliki panjang total 1,6-1,8 cm. Larva telah dapat berenang pada umur empat jam 22 menit pascalahir (pcl) dan bisa makan naupli artemia dengan tipe surface feeding. Stadia awal juvenil terlihat pada umur 25 hari pcl dengan ukuran panjang total 2,0-2,2 cm. Kondisi media pemeliharaan selama penelitian dapat mendukung kehidupan larva sampai juvenil. Penelitian ini merupakan catatan pertama terkait keberhasilan budidaya stadia awal hidup Nomorhamphus sp. Lindu pada tahap domestikasi. Kata kunci: andropodium, domestikasi, ikan endemik, tipe makan permukaan, perkembangan larva
Identification of Kappaphycus alvarezii seaweed based on phylogenetic and carrageenan conten Satriani, Gloria Ika; Tri Soelistyowati, Dinar; Alimuddin; Arfah, Harton; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.1.1-11

Abstract

Increasing seaweed production requires accurate information regarding the genetic sources of seeds used. Identifying the seaweed species Kappaphycus molecular is one of the solutions to ensure seaweed cultivators choose seeds for their cultivation businesses. Molecular identification is essential for the system traceability of seaweed products and the creation of databases regarding species variant information Kappaphycus alvarezii cultivation as potential data collection for developing and genetically breeding seaweed seeds. To date, there is no information on the genetic potential of K. alvarezii cultivated in various seaweed cultivation centers in Indonesia. This study aimed to obtain phylogenetic details based on identification of the genetic source using DNA molecular markers barcoding rbcL and analysis of carrageenan content using the Fourier transform infra-red (FTIR) spectrum. The results of DNA sequencing analysis and FTIR testing of 16 varieties of seaweed seedlings obtained from various cultivation centers in Indonesia showed 99% similarity with K. alvarezii, a producer of kappa carrageenan. Keywords: DNA sequencing, phylogenetics, haplotypes, kappa-carrageenan, rbcL ABSTRAK Peningkatan produksi rumput laut memerlukan informasi yang akurat mengenai kepastian sumber genetik bibit yang digunakan. Identifikasi spesies rumput laut Kappaphycus secara molekuler merupakan salah satu solusi untuk memberikan kepastian pada pembudidaya rumput laut untuk memilih bibit bagi usaha budidaya. Identifikasi molekuler sangat penting dalam sistem traceability produk rumput laut dan pembuatan basis data mengenai informasi varian spesies Kappaphycus alvarezii budidaya sebagai pendataan potensi untuk pengembangan dan pemuliaan bibit rumput laut secara genetis. Sampai saat ini belum tersedia informasi mengenai potensi genetik rumput laut K. alvarezii yang dibudidayakan di berbagai sentra budidaya rumput laut di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi filogenetik berdasarkan identifikasi sumber genetiknya menggunakan penanda molekuler DNA barcoding rbcL serta analisis kandungan karaginannya menggunakan spektrum Fourier Transform Infra-Red (FTIR). Dari hasil analisis sekuensing DNA dan pengujian FTIR terhadap 16 varietas bibit rumput laut yang diperoleh di berbagai sentra budidaya di Indonesia menghasilkan 99% kemiripan yang tinggi dengan K. alvarezii penghasil kappa karagenan. Kata kunci: DNA sekuensing, filogenetik, haplotipe, kappa-karagenan, rbcL
Sex determination and acclimation response of dwarf snakehead fish Channa limbata from West Java Tri Soelistyowati, Dinar; Oman Sudrajat, Agus; Arfah, Harton; Alimuddin, Alimuddin; Hafidah, Riva; Hanggara, Yudha; Edison, Thomas
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.2.201-211

Abstract

The Channa limbata fish is a type of tropical freshwater fish of the Channidae family which is relatively small as an aquarium ornamental fish with a distinctive color at the tip of its dorsal fin and has a snake-like head (dwarf snakehead). Natural snakehead fishing activities have threatened its sustainability. Breeding C. limbata fish through cultivation can increase its potential for sustainable use. This study aims to evaluate the acclimation response of wild-type dwarf snakehead fish in captivity and its sexual characteristics as a basis for domestication and hatchery technology. The fish samples used were natural catches from rivers in West Java measuring <100 mm to >150 mm of body length then individually acclimated indoors in an aquarium (35×20×20 cm) for 14 days. Snakehead fish live in shallow, slow-flowing river waters with a temperature of 20.2-21.3°C, TDS 16-24 mg/L at neutral pH, while the rearing water temperature and TDS are higher (temperature: 24.9-27.6°C; TDS: 88-110 mg/L). The fish mortality rate during acclimation reached 25% in fish measuring >150 mm of length on tenth day, while fish measuring <150 mm more adaptive with 100% survival. The male fish measuring 100-150 mm have 13-15 pectoral fin rays while female fish have fewer (13-14). The gonad development level of male C. limbata in nature is slower than female fish measuring 100-150 mm with a gonadosomatic index of ovaries reached 10 times higher than testicular. Keywords: acclimation, C. limbata, gonadosomatic index, ovaries ABSTRAK Ikan Channa limbata merupakan jenis ikan air tawar tropis dari famili Channidae yang berukuran relatif kecil sebagai ikan hias akuarium dengan warna yang khas pada ujung sirip punggungnya dan bentuk kepala mirip ular (dwarf snakehead). Aktivitas penangkapan ikan gabus alam telah mengancam kelestariannya. Pembibitan ikan C.limbata melalui budidaya dapat meningkatkan potensi pemanfaatannya secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons aklimatisasi ikan gabus alam di dalam penangkaran dan karakterisasi seksualnya sebagai landasan teknologi pembenihan ikan gabus C. limbata yang tepat. Sampel ikan yang digunakan merupakan hasil tangkapan alam dari sungai di Jawa Barat berukuran <100 mm hingga >150 mm kemudian diaklimasi indoor di akuarium (35×20×20 cm) selama 14 hari. Ikan gabus hidup di perairan sungai yang dangkal berarus lambat dengan suhu 20,2-21,3°C, TDS 16-24 mg/L dan pH netral, sedangkan suhu air pemeliharaan dan TDS lebih tinggi (suhu: 24,9-27,6°C; TDS: 88-110 mg/L). Angka kematian ikan selama aklimatisasi mencapai 25% pada ikan berukuran >150 mm hari ke 10, sedangkan ikan berukuran <150 mm lebih adaptif dengan sintasan 100%. Ikan jantan C.limbata berukuran 100-150 mm memiliki jari-jari sirip pektoral berjumlah 13-15, sedangkan ikan betina lebih sedikit (13-14). Tingkat perkembangan gonad ikan jantan lebih lambat dari pada ikan betina dengan indeks gonadosomatik ovarium mencapai 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan testis. Kata kunci: aklimatisasi, Channa limbata, indeks gonadosomatik, ovarium
Co-Authors , Alimuddin . Melati Agus Oman Sudrajat Ahmad Fahrul Syarif Ahmad Habibie, Ahmad Ahmad Muzaki Ahmad Teduh Akbar, Muhamad Saepul Alimuddin Alimuddin . Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin ANNA OCTAVERA Asep Bulkini Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Seolistyowati Dinar Tri Soelistyowati Eddy Supriyono Edison, Thomas Eka Kusuma Eni Kusrini, Eni Eny Heriyati Fahmi Hasan, Fahmi Fajar Maulana . Fitriyah Husnul Khotimah Gloria Ika Satriani Gloria Ika Satriani GORO YOSHIZAKI Gusti Ngurah Permana Hafidah, Riva Halawa, Nenima Hanggara, Yudha Haryanti Haryanti Haryanti Haryanti Hasan Nasrullah Herjayanto, Muh. Indah Mastuti Irma Andriani IRMA ANDRIYANI Irzal Effendi Iskandar, Andri Istifarini, Mita Ita Djuwita Julie Ekasari K. Sumantadinata Ketut Mahardika Ketut Sugama Ketut Sugama Khotimah, Fitriyah Husnul Komar Sumantadinata Komar Sumantadinata Kukuh Nirmala Lilis Mulyati Lina Mulyani M. Zairin Junior Marlina Achmad Maulana, Fajar Mia Setiawati Muhamad Fathurrizki Darmawan MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Zairin Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr. Mulyani, Lina Musthofa, Siti Zuhriyyah Nazar, Danella Austraningsih Puspa Nur Rachmawaty Arma Odang Carman Permana, Andre Pustika Ratnawati Rahmi, Kurnia Anggraini Sandra, Aan Aryanti Sari Budi Moria Sembiring Sari Budi Moria Sembiring Satriani, Gloria I. Sholihin, Hidayatush Sinansari, Shofihar Siska Aliyas Sandra Sri Nuryati Sulistyowati, Dinar Tri Wibowo, Kesit Tisna Wicaksono, Aryo Wenang WIDANARNI WIDANARNI