Claim Missing Document
Check
Articles

Bellman-Ford Algorithm for Optimizing Drinking Water Distribution by Perumda Air Minum Tirta Raharja in Cicalengka Lusiani, Anie; Sartika, Euis; Nuryati, Neneng; Hedi, Hedi
KUBIK Vol 10 No 2 (2025): IN PRESS
Publisher : Jurusan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Access to clean water in Cicalengka District, Bandung Regency, remains limited, with current coverage reaching only 5.08% of the population. Perumda Air Minum Tirta Raharja has set a target to expand drinking water service to 44% by 2030. To support this goal, this study investigates the optimization of the water distribution pipe network in Cicalengka. The research applies the Bellman-Ford algorithm to model the distribution network as a weighted, undirected, and connected graph, where customer houses are represented as vertices, pipe connections as edges, and pipe lengths as weights. Using data from the existing network and customer locations, the algorithm was implemented to identify optimal distribution paths. The results yielded two shortest path alternatives between the specified source and destination nodes. These findings demonstrate the potential of graph-based optimization in improving distribution planning and can serve as a reference for the development and management of future water supply infrastructure.
Bellman-Ford Algorithm for Optimizing Drinking Water Distribution by Perumda Air Minum Tirta Raharja in Cicalengka Lusiani, Anie; Sartika, Euis; Nuryati, Neneng; Hedi, Hedi
KUBIK Vol 10 No 2 (2025): IN PRESS
Publisher : Jurusan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Access to clean water in Cicalengka District, Bandung Regency, remains limited, with current coverage reaching only 5.08% of the population. Perumda Air Minum Tirta Raharja has set a target to expand drinking water service to 44% by 2030. To support this goal, this study investigates the optimization of the water distribution pipe network in Cicalengka. The research applies the Bellman-Ford algorithm to model the distribution network as a weighted, undirected, and connected graph, where customer houses are represented as vertices, pipe connections as edges, and pipe lengths as weights. Using data from the existing network and customer locations, the algorithm was implemented to identify optimal distribution paths. The results yielded two shortest path alternatives between the specified source and destination nodes. These findings demonstrate the potential of graph-based optimization in improving distribution planning and can serve as a reference for the development and management of future water supply infrastructure.
Energy and exergy performance of R290 as a substitute for R404A in freezers: experimental investigation Akmal, Muhammad; Sumeru, Kasni; Tohir, Toto; Hikmat, Yudi Prana; Nuryati, Neneng; Sulaimon, Shodiya
Jurnal Polimesin Vol 23, No 2 (2025): April
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v23i2.6153

Abstract

The refrigeration sector significantly contributes to global warming due to the high Global Warming Potential (GWP) of commonly used refrigerants. This study experimentally investigates the feasibility of using R290 as a low-GWP substitute for R404A in freezer applications. Although R290 and R404A have similar normal boiling points, their GWP values differ significantly (3 for R290 vs. 3922 for R404A), making R290 a more environmentally friendly alternative. Experiments were conducted on a freezer originally designed for R404A with a 1/3 HP compressor and a refrigerant charge of 170 g. After baseline testing with R404A, the system was retrofitted with R290, using an optimized charge of 62.9 g. The system's performance was analyzed over 120 minutes, with energy and exergy evaluations conducted at 60 minutes, when the cabin temperature stabilized. Results from energy analysis indicate that replacing R404A with R290 led to a 6.1% increase in cooling capacity, a 6.0% reduction in power consumption, and a 12.4% improvement in COP. Exergy analysis showed that total irreversibility decreased from 318.1 W (R404A) to 289.8 W (R290), with compressor irreversibility being the dominant factor (50.8% for R404A vs. 51.3% for R290). The findings confirm that R290 enhances system performance by reducing irreversibility and energy consumption. These results highlight R290 as an energy-efficient and environmentally friendly alternative to R404A, providing both operational cost savings and reduced environmental impact. However, to achieve optimal performance, compressor lubricant replacement is recommended when transitioning to R290.
Analisis Kenyamanan Termal Pada Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan (Studi kasus Taman 2 Monumen Perjuangan Bandung) Sofia Meilynda; Luga Martin Simbolon; Sugiyarto; Neneng Nuryati
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 16 No. 1 (2025): Vol. 16 No. 1 (2025): Prosiding 16th Industrial Research Workshop and National
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v16i1.6686

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan elemen penting dalam tata ruang perkotaan yang berfungsi sebagai paru-paru kota, tempat interaksi sosial, serta penyeimbang iklim mikro di lingkungan sekitar yang berperan penting dalam menciptakan kenyamanan lingkungan, termasuk kenyamanan termal bagi masyarakat yang memanfaatkannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan termal di Taman 2 Monumen Perjuangan Bandung. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui pengukuran lapangan dengan parameter temperatur udara, kelembapan relatif (RH), dan kecepatan angin, serta kualitatif berupa penyebaran kuesioner kepada pengunjung taman. Hasil analisis THI (Temperature Humidity Index) menunjukkan seluruh zona taman berada dalam kategori “kurang nyaman” hingga “tidak nyaman”, dan hasil dari analisis PET (Physiological Equivalent Temperature) berada pada kategori “hangat” hingga “panas”. Hasil kuesioner menyatakan 53% responden tidak merasa panas terhadap temperatur udara di sekitar taman, 56% responden merasa kering terhadap kelembapan udara di sekitar taman, dan 45% responden merasa sejuk terhadap hembusan angin di taman. Sebanyak 73% responden sudah merasa nyaman dengan kondisi taman, namun 74% responden berpendapat bahwa taman masih membutuhkan penambahan vegetasi dan elemen air seperti air mancur ataupun kolam kecil. Penelitian ini menekankan pentingnya peran vegetasi dan elemen pendingin pasif dalam meningkatkan kenyamanan termal pada RTH di wilayah tropis perkotaan.
Kaji Eksperimen Kenyamanan Termal dan Visual pada Ruang Kelas LG 01 Jurusan Teknik Refrigerasi dan Tata Udara Politeknik Negeri Bandung Raditya Yogaswara; Ary Surjanto; Muhamad Anda Falahuddin; Neneng Nuryati
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 16 No. 1 (2025): Vol. 16 No. 1 (2025): Prosiding 16th Industrial Research Workshop and National
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v16i1.6687

Abstract

Kenyamanan termal dan visual merupakan aspek yang perlu diperhitungkan dalam pengaturan lingkungan ruang kelas untuk mendukung efektivitas kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kenyamanan termal dan visual pada ruang kelas LG 01 Jurusan Teknik Refrigerasi dan Tata Udara Politeknik Negeri Bandung yang digunakan untuk perkuliahan, serta membandingkannya dengan standar baku. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif berupa pengukuran secara in-situ dan pendekatan kualitatif berupa penyebaran kuesioner kepada responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siang dan sore hari ruang kelas tersebut sudah memenuhi standar kenyamanan termal yang ditetapkan, dengan nilai PMV (Predicted Mean Vote) didominasi pada rentang -0.5 hingga +0.5, dan PPD (Percentage Person Dissatisfied) berada pada rentang 1-10%. Hasil dari pengambilan data kenyamanan visual pada Ruang Kelas LG 01 belum memenuhi SNI 6197-2020 yang menyebutkan tingkat pencahayaan sebesar 250 Lux untuk ruang kelas. Namun hasil kuesioner menunjukkan dominasi kepuasan responden terhadap kondisi kenyamanan termal dan visual.
Analisis Kenyamanan Ruang Berbasis Aspek Termal dan Visual pada Kafe X di Kota Bandung Kirana, Meta Nur; Simbolon, Luga Martin; Rosulindo, Parisya Premiera; Nuryati, Neneng
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 16 No. 1 (2025): Vol. 16 No. 1 (2025): Prosiding 16th Industrial Research Workshop and National
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v16i1.6699

Abstract

Kenyamanan ruang merupakan faktor penting dalam menciptakan suasana yang mendukung aktivitas pengguna, terutama pada ruang publik seperti kafe. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan termal dan visual pada salah satu kafe di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui pengukuran langsung menggunakan Thermogun, Anemometer, dan Hot Wire Anemometer, mengacu pada standar SNI 03-65722001 untuk kenyamanan termal dan SNI 6197:2020 untuk pencahayaan. Selain itu, analisis PMV (Predicted Mean Vote) dan PPD (Predicted Precentage of Dissatisfied) dilakukan berdasarkan standar ASHRAE 55 (2017). Pendekatan kualitatif dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada pengguna ruang untuk mengetahui persepsi kenyamanan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa temperatur udara berkisar antara 24,17°C hingga 26,55°C, kelembapan antara 56,82% hingga 66,43%, dan kecepatan udara 0,15–0,16 m/s. Nilai PMV berada pada rentang -0,27 hingga +0,50, dan PPD di bawah 10%, yang mengindikasikan kondisi termal yang masih cukup nyaman berdasarkan standar ASHRAE. Pencahayaan tercatat antara 150200 lux, di mana beberapa titik masih berada di bawah standar minimum SNI. Secara keseluruhan, kondisi ruang di kafe tidak memenuhi standar kenyamanan, namun diperlukan peningkatan pada aspek pencahayaan dan kelembapan untuk mencapai kenyamanan optimal bagi pengguna.
Analisis Perbedaan Ventilasi Alami dan Buatan terhadap Kualitas Udara untuk Mitigasi Gejala Sick Building Syndrome Najyah, Fatya Naja; Yuningsih, Nani; Margana, Ade Suryatman; Nuryati, Neneng
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 16 No. 1 (2025): Vol. 16 No. 1 (2025): Prosiding 16th Industrial Research Workshop and National
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v16i1.6700

Abstract

Ventilasi berperan penting dalam menjaga kualitas udara dengan mensirkulasikan udara segar ke dalam ruangan. Jenis ventilasi yang umum digunakan meliputi cross ventilation, single-sided ventilation, dan ventilasi buatan seperti Air Conditioner. Ventilasi yang tidak memenuhi standar dapat memicu gejala Sick Building Syndrome (SBS) seperti sakit kepala dan menurunnya konsentrasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan ventilasi alami dan buatan terhadap kualitas udara dan gejala SBS dengan metode kuantitatif deskriptif dan desain cross sectional. Data diukur menggunakan anemometer dan hot wire anemometer. Parameter yang diukur meliputi temperatur, kelembapan relatif, kecepatan udara, dan pencahayaan. Sampel penelitian ini dilakukan kepada 36 orang staf kantor di Rumah Sakit X, Kabupaten Bandung. Ventilasi dievaluasi berdasarkan standar ASHRAE 62.1-2022 dan SNI 03-6572-2001, serta kualitas udara mengacu pada Permenkes No. 2 Tahun 2023. Hasil menunjukkan Office 1 dan 2 tidak memenuhi standar ventilasi alami, sedangkan Office 3 sesuai. Uji T-Independent menunjukkan temperatur dan kelembapan berpengaruh signifikan (p-value = 0.001), sementara pencahayaan dan kecepatan udara tidak signifikan (p-value >0.05). Gejala SBS dialami 36 responden (86.1%) pada ventilasi alami dan 29 responden (80.6%) pada ventilasi buatan.
Managing Eco-Theological Integration in Polytechnic Islamic Religious Education: Pedagogical Practices and Institutionalization Gaps Waway Qodratulloh S; Sumiyati; Satria Kharimul Qolbi; Muhamad Arif Nugraha; Mochammad Arif Budiman; Suherman; Neneng Nuryati
Munaddhomah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 7 No. 3 (2026): Progressive Management of Islamic Education
Publisher : Prodi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/munaddhomah.v7i3.2707

Abstract

This study examines how Islamic eco-theological values are articulated, enacted, experienced, and institutionally supported within Islamic Religious Education (PAI) learning in Indonesian polytechnics. Using an exploratory, qualitative, multisite design, the study was conducted at three state polytechnics through semi-structured interviews with nine PAI lecturers and 15 students who had completed PAI courses, non-participant observations of classroom and off-class learning activities, and analysis of semester learning plans, instructional materials, and assessment instruments. Data were analyzed thematically through a hybrid deductive–inductive approach, followed by within-site and cross-site comparison. The findings show that concepts such as khalifah, amanah, mizan, and the prohibition of fasad provided a shared normative foundation across the three institutions, but their pedagogical enactment varied. Conceptual transmission corresponded mainly with affective and reflective responses, habit-oriented learning with observable everyday practices, and contextual-experiential learning with more dialogical and participatory engagement. These patterns do not establish a causal sequence. Across all sites, ecological integration remained weakly embedded in learning outcomes, instructional guidance, assessment, and institutional policy, leaving implementation dependent on individual lecturers. The study positions Eco-Theo-Pedagogy as an analytical framework linking theological meaning, pedagogical practice, student engagement, vocational relevance, and institutional support. It identifies preliminary requirements for future development, including curricular articulation, contextual and experiential learning, vocational relevance, ecological action, assessment alignment, and lecturer and institutional support.
Pengembangan Model Pemrograman Linear Berbasis Kapasitas Jaringan Optimasi Distribusi Air PDAM Cimahi Euis Sartika; Anie Lusiani; Neneng Nuryati; Hedi Hedi
Teorema: Teori dan Riset Matematika Vol 11, No 2 (2026): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/teorema.v11i2.21756

Abstract

PDAM Kota Cimahi menghadapi tantangan dalam mendistribusikan air bersih secara optimal akibat keterbatasan kapasitas jaringan pipa dan meningkatnya kebutuhan air pada setiap wilayah layanan. Penelitian terdahulu masih didominasi analisis deskriptif, sedangkan pengembangan model matematis optimasi yang mengintegrasikan kapasitas jaringan, debit suplai, biaya distribusi, dan kebutuhan pelanggan secara simultan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model optimasi distribusi air bersih menggunakan metode pemrograman linear untuk meminimalkan biaya distribusi dengan tetap memenuhi kebutuhan air pada setiap wilayah layanan. Variabel keputusan dinyatakan sebagai volume air yang dialirkan pada setiap jalur distribusi, yaitu x1, x2, x3, dan x4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model optimasi menghasilkan distribusi air yang lebih efisien dengan total biaya minimum sebesar Rp82.466,6/L, serta alokasi debit optimal pada J1 sebesar 5 L/det, J2 sebesar 25 L/det, J3 sebesar 20 L/det, dan J4 sebesar 10 L/det. Hasil optimasi juga menunjukkan bahwa kebutuhan air pada setiap wilayah dapat terpenuhi sesuai kapasitas distribusi yang tersedia, sehingga metode pemrograman linear efektif digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam optimalisasi distribusi air bersih PDAM Kota Cimahi.
ALGORITMA KRUSKAL UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH OPTIMASI DISTRIBUSI JARINGAN LISTRIK DI PLN UP3 CIMAHI Euis Sartika; Anie Lusiani; Ida Suhartini; Neneng Nuryati
EPSILON: JURNAL MATEMATIKA MURNI DAN TERAPAN Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Mathematics Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/epsilon.v18i2.13256

Abstract

The addition of new houses in the Kota Mas Cimahi housing complex has triggered an increase in the need for electricity distribution installations. To optimize the electricity distribution network, in this case minimizing the installation of electrical cables, an application is needed that can optimize the installation of electrical cables, namely the Kruskal algorithm which is an algorithm for finding the minimum spanning tree value on a weighted graph. In this study, two methods will be used, namely the manual method and the POM-QM for Windows software to help solve the minimum spanning tree problem. This study's goal is to identify the Kota Mas Cimahi housing complex's energy distribution network model's graph structure and determine a minimum spanning tree solution with POM-QM for Windows software and the Kruskal technique done by hand. In order to gather data for this study, PLN was the primary and secondary source Cimahi UP3. The distribution data for the electricity cable network is arranged in the form of a network image. By representing the electricity distribution network in the form of a graph, the minimum spanning tree is then obtained, and the solution to the MST (Minimum Spanning Tree) problem uses the Kruskal algorithm and TORA software. The results of the study showed that the minimum spanning tree cable length which was originally 1424.61 meters, after using the Kruskal algorithm manually became 1258.05 meters and also by using the POM-QM for Windows software obtained a minimum result of 1258.05 meters, so it can be concluded that there is a cable length efficiency of 11.69%.
Co-Authors Ade Hodijah Agustunus Februadi Andriyanto Setyawan Annisa Khoerani Arie Indra Gunawan Ary Surjanto Aryanti Nur Fitri Bakhrun, Akhmad Benny Barnas bin Sukri, Mohamad Firdaus Binarto, Agus Carolina M.L. Carolina Magdalena Lasambouw Cynara Putri Danari Djoni Djatnika Ediana Sutjiredjeki Ediana Sutjiredjeki Ediana Sutjiredjeki Ediana Sutjiredjeki Endang Habinuddin Euis Sartika Farid N., Moh. Farida Agoes Fatya Alty Amalia Fitri Andriyani, Resti Florida Mathilda Fransiska, Alda Tri Habinuddin, Endang Habsari Anon Wiharsono Hadiningrum, Kunlestiowati Hedi Hedi Hedi, Hedi Husain Akbar Sumeru Ida Suhartini Irfani Azis Iwan Setiawan Juniarti, Cahaya Kasni Sumeru Kirana, Meta Nur KURNIASETIAWATI, ANNISA Lasambau, Carolina Magdalena Lasambouw, Carolina M Lina Setiawati Luga Martin Simbolon Lusiani, Anie Magdalena, Carolina Maisevli Harika Margana, Ade Suryatman Martin Simbolon, Luga Meilinda, Lina Mochamad Umar Mai Mochammad Arif Budiman Moh Farid Najib Moh. Farid Najib Mohamad Firdaus bin Sukri Muhamad Anda Falahuddin Muhamad Arif Nugraha Muhammad Akmal Muhammad Rizqi Sholahuddin Muhammad Yunus Maulana Muldiani, Ratu Fenny Najyah, Fatya Naja Nani Yuningsih, Nani Nur Fajrina, Gema Adzani Nurdin, Ade Ali Nurfitriani, Nita Pakpahan, Rosma Qist Nadzifa Raditya Yogaswara Rafiati Kania Riska Siti Hayati Rosulindo, Parisya Premiera S, Waway Qodratulloh Sartika, Euis Satria Kharimul Qolbi Setiadi Rachmat Setiawan Setiawan Shodiya Sulaimon Simbolon, Luga Martin Siti Karlina Siti S Purwaningsih Siti Samsiyah Purwaningsih Siti Syamsiah Purwaningsih Sofia Meilynda Sri N. Yuliyawati Sri Suratmi Sugiyarto Sugiyarto Sugiyarto Suhartini, Ida Suherman Sumeru Sumeru, Sumeru Sumiyati Sunardi, Cecep Tjetjep Djarnika Toto Tohir Vitasya Utami Marsu Marsa Wahyu Rafdinal Wellid, Ismail Wibisono, Nono Yudi Prana Hikmat Yuliawati, Sri N Yuliyawati, Sri Nur