Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Kontribusi Kitab Sawi dalam Sastra Sufi dan Budaya Sasak: Perspektif Scheleiermacher Chaer, Hasanuddin; Zulkarnaen, Zulkarnaen; Mari'i, Mari'i; Aswandikari, Aswandikari; Murahim, Murahim; Ridyasmara, Muh. Yusron
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 10 No 4 (2024): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v10i4.26704

Abstract

This article aims to interpret two aspects of the Kitab Sawi: its grammatical structure and psychological meaning, uncovering both linguistic and psychological dimensions within this Sufi literary text. The subject of this study is the Sufi manuscript Kitab Sawi. To achieve this goal, the article adopts Schleiermacher's hermeneutic theory with a descriptive-analytical approach. The research follows four stages: data collection, data processing, interpretation, and drawing conclusions. The study reveals that the Kitab Sawi manuscript focuses on two main aspects: grammatical structure and psychological meaning. Key insights from the Kitab Sawi, which serves as the primary source for this article, include the following: a) Source of Ethical-Religious Literary Knowledge: The Kitab Sawi manuscript contains strong elements of Sufi literature, aimed at conveying moral and ethical values rooted in religious teachings. b) The Importance of Cultural Heritage: Kitab Sawi is not only valuable as a literary work but also as a representation of past intellectual and spiritual wealth. This manuscript plays a vital role in preserving and communicating cultural and spiritual teachings across generations. c) Psychological and Structural Significance: The analysis demonstrates that Kitab Sawi features a profound and intricate grammatical structure, characteristic of Sufi thought, which frequently employs symbolic and metaphorical language. This structure adds a psychological depth, allowing readers to undergo spiritual transformation through contemplation and engagement with the text. In conclusion, this article offers valuable contributions to the understanding of Sufi literature and Sasak cultural heritage.
Khazanah Leksikon Tradisi Adat Pengangkatan Datu Rajamuda Kesultanan Sumbawa Muhaimin, Ahmad Helmi; Aswandikari, Aswandikari; Burhanuddin, Burhanuddin; Setiawan, Irma; Sukri, Muhammad
Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 8 No 4 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/cetta.v8i4.4949

Abstract

Language is an essential part of cultural heritage that represents the values, knowledge, and collective identity of a society. This study aims to examine the forms and meanings of lexicons used in the coronation tradition of Datu Rajamuda in the Sultanate of Sumbawa as representations of culture, value systems, and power structures within the Samawa community. It also seeks to reveal how language functions as a medium for preserving local values and strengthening collective identity within the royal cultural context. The study employs ethnolinguistic and anthropolinguistic approaches with a descriptive qualitative method through observation, in-depth interviews, and field documentation at Bala Kuning Palace, Sumbawa. The data were analyzed interactively through stages of data reduction, presentation, and conclusion drawing to obtain a deep cultural understanding. The findings reveal 35 lexical data, consisting of 9 single-word forms and 26 phrase forms, each carrying lexical and cultural meanings. Lexicons such as kantar, badong, ai kadewa, and cilo datu rajamuda function not only as tools of communication but also as symbols embodying philosophical, moral, and spiritual values that reflect legitimacy of power and the social order of the Sultanate of Sumbawa. Each lexicon demonstrates the integration between language, custom, and value systems that have been inherited across generations. Culturally, the lexicons in the Datu Rajamuda coronation tradition reflect religious, social, and moral values such as loyalty, empathy, responsibility, and purity as the foundation of traditional leadership. This research emphasizes that language in the Samawa cultural context plays a vital role as a medium for preserving identity, social legitimacy, and character education based on local wisdom. Thus, the Datu Rajamuda coronation tradition is not merely a customary ritual but a manifestation of harmony between culture, religion, and social order that sustains the continuity and cohesion of the Samawa community amid modern changes.
Kemampuan Memproduksi Teks Anekdot Siswa Kelas X SMA Islam Ishlahul Ummah Juliadi, Juliadi; Aswandikari, Aswandikari; Burhanuddin, Burhanuddin
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 9, No 3 (2023): Jurnal Ilmiah Mandala Edcation (Agustus)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jime.v9i3.5200

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan memproduksi teks anekdot di SMA Islam Ishlahul Ummah Lombok Utara dengan memperhatikan struktur teks anekdot, dan piranti kebahasaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes kemampuan berupa tes tertulis. Populasi dalam penelitian ini yakni seluruh siswa kelas X SMA Islam Ishlahul Ummah Kabupaten Lombok Utara tahun pelajaran 2022/2023 yang berjumlah 24 siswa, yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 12 orang perempuan kemampuan siswa kelas X dalam memproduksi teks anekdot di SMA Islam Ishlahul Ummah Lombok Utara dilihat dari aspek-aspek yang dinilai, bahwa siswa mampu memproduksi teks anekdot. diperolah hasil kemampuan memproduksi teks anekdot siswa berpariasi 12 orang mendapat nilai 100, 7 orang mendapat nilai 88,88 dan 5 orang mendapat nilai 77,77. Kesimpulannya bahwa kemampuan siswa kelas X dalam memproduksi teks anekdot di SMA Islam Ishlahul Ummah Lombok Utara yang berjumlah 24 orang dikategorikan sangat mampu sebagaimana yang diamanahkan oleh Kurikulum 2013.
Dinamika Kepribadian Tokoh Amba Dalam Novel Amba Karya Laksmi Pamuntjak Dan Implementasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA Mutmainnah, Nurul; Mahyudi, Johan; Aswandikari, Aswandikari
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 9, No 3 (2023): Jurnal Ilmiah Mandala Edcation (Agustus)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jime.v9i3.5244

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan yang fokus kepada bagaimanakah dinamika kepribadian tokoh utama dalam novel Amba karya Laksmi Pamuntjak dan Implementasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA berdasarkan kajian Psikoanalisis Sigmund Freud. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dinamika kepribadian tokoh utama dalam novel Amba karya Laksmi Pamuntjak berdasarkan kajian Psikoanalisis Sigmund Freud dan menjelaskan implementasi tokoh Amba terhadap pembelajaran sastra di SMA. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan sumber data dalam penelitian ini yaitu novel Amba karya Laksmi Pamuntjak. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode studi pustaka dan metode baca dan catat. Metode analisis data yang digunakan adalah teori psikoanalisis Sigmund Freud pada aspek dinamika kepribadian yang terdiri dari id ke ego, dan id ke superego. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa struktur kepribadian tokoh utama Amba dipengaruhi oleh id ke ego dan id ke superego. Adapun mengenai Id ke Ego yang berhubungan dengan kenikmatan, penalaran, penyelesaian masalah, mengambil keputusan, menghindari ketidaknyamanan. Selanjutnya mengenai Id ke Superego yaitu berhubungan pula dengan pengendalian, hukuman, peringatan, pujian, dan menghindari ketidaknyamanan. Kemudian implementasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA dengan disertai silabus, RPP, KD dan bahan ajar lainnya. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan, masukan, dan media informasi bagi mahasiswa lainnya.
Asal Mula Bahasa Menurut Perspektif Dialektika Hegel: Pendekatan Filsafat Sejarah Chaer, Hasanuddin; Sirulhaq, Ahmad; Sukri, Sukri; Jafar, Syamsinas; Aswandikari, Aswandikari; Efendi, Mahmudi; Ashriany, Ratna Yulida; Khairussibyan, Muh.
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 7 No 2 (2023): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v7i2.21991

Abstract

This article outlines a view of the origins of language according to Hegel's dialectical perspective. This stems from the author's understanding of Hegel's concept which states that the substance of the mind originates from the spirit. This article explains that history originates from a spirit that introduces itself through thought and intuition. In this context, the activity of speaking has higher value than the written word; and listening activities have higher meaning than reading activities. Therefore, intelligence-linguistics crosses historical and cultural periods, developing from the free movement and power of the mind. Researchers use four stages of the historical method, namely heuristics, verification, interpretation and historiography. This article uses Hegel's dialectical theory with a historical philosophy approach. This research aims to interpret Hegel's dialectical logic and philosophical ideas in understanding the emergence of language, as a linguistic interaction. The results of this research show that, by utilizing dialectical and intuitive logic, one can hear the intuitive phenomenon of the existence of language features such as utterances, words and abstract phonemes. On that basis, someone is able to explain and express verbal or linguistic expressions flexibly in a concrete discourse event. On this basis, someone is able to think epistemologically and linguistically.Artikel ini menguraikan pandangan tentang asal mula munculnya bahasa menurut perspektif dialektika Hegel. Hal ini bermula dari pemahaman penulis tentang konsep Hegel yang menyatakan bahwa substansi pikiran bersumber dari roh. Artikel ini menjelaskan bahwa sejarah bersumber dari roh yang mengenalkan dirinya melalui pikiran dan intuisi. Dalam konteks ini, aktivitas berbicara lebih tinggi nilainya daripada kata-kata yang tertulis; dan aktivitas mendengar lebih tinggi maknanya daripada aktivitas membaca. Oleh karena itu, inteligensi-linguistik melintasi periode sejarah dan budaya, yang berkembang dari gerakan dan kekuatan pikiran yang bebas. Peneliti menggunakan empat tahapan metode sejarah (historical method), yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini bertujuan menginterpretasikan logika dialektis Hegel dan ide-ide filosofisnya dalam memahami munculnya bahasa, sebagai suatu interaksi linguistik. Artikel ini menggunakan teori dialektika Hegel dengan pendekatan filsafat sejarah. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa, dengan memanfaatkan logika dialektis dan intuitif, seseorang dapat mendengarkan fenomena intuitif keberadaan fitur-fitur bahasa seperti ucapan, kata, dan fonem abstrak. Atas dasar itu, seseorang mampu menjelaskan dan mengekspresikan ungkapan verbal atau kebahasan secara fleksibel dalam suatu peristiwa wacana yang konkret. Atas dasar itu pula seseorang mampu berpikir secara epistemologis dan linguistik.
KAJIAN METAFORA NOVEL ‘’TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK ‘’ KARYA HAMKA Marjannah, Marjannah; Aswandikari, Aswandikari; Mahyudi, Johan
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jcm.v4i3.1807

Abstract

Makalah ini membahas metafor yang yang ada di dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wjik karya Hamka. Makalah ini ditulis berdasarkan penelitian kualitatif dengan menggunakan teori semiotika. Ditemukan bahwa ada sejumlah metafor yang dipakai oleh penulisnya. Jenis-jenis metafor tersebut cukup beragam yaitu: metafora antromorfik, metafor kehewanan, metafor abstrak ke konkrit, dan metafor sinestesia. Hal ini menjadikan karya ini “indah” secara penyajian kebahasaannya, di samping indah atau estetis secara isi cerita. Dengan demikian, keberadaan metafor yang muncul dalam karya novel tersebut menjadikan karya fiksi ini semangat memperkuat bahwa karya novel ini ddapat dikategorikan sebagai karya utama (masterpiece)