Claim Missing Document
Check
Articles

Growth responses of sacha inchi (Plukenetia volubilis L.) to eco-enzyme and arbuscular mychorriza treatments on inceptisol Rosnina A G; Zurrahmi Wirda; Baidhawi Baidhawi; Sutiharni Sutiharni; Ali Rahmat
Open Global Scientific Journal Vol. 2 No. 2 (2023): Open Global Scientific Journal
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70110/ogsj.v2i2.23

Abstract

The sacha inchi plant (Plukenetia volubilis L.) produces seeds with high protein content that are beneficial for human health. The planting of sacha inchi on sub-optimal land, such as inceptisol soil, requires eco-enzyme, an organic fertilizer made from environmentally friendly fermented fruit waste. In addition, the use of biological agents, such as arbuscular mycorrhiza, can increase the plant’s ability to absorb macronutrients, such as potassium and phosphorus, from the soil. This study aims to determine the effect of eco-enzyme and mycorrhiza treatments on the growth of sacha inchi plants on inceptisol. A two-factor group randomized design with nine treatments and three replications was employed. The first factor was the concentration of eco-enzyme (0 ml/l, 22.5 ml/l, and 30 ml/l). The second factor was the dose of mycofer (substance containing mycorrhizal spores) (0 g/plant, 30 g/plant, and 40 g/plant). Parameters measured were plant height, number of leaves, root length, root fresh weight, root dry weight, and mycorrhizal infection. The results show that the application of eco-enzyme was able to increase the height of sacha inchi plants in the vegetative phase at 10 and 20 days after planting (DAP) and increase the number of leaves at 30 and 40 DAP. Single application of 40 g/plant of mycofer was able to increase the vegetative growth of sacha inchi on inceptisol. The optimum amount to increase the growth rate of sacha inchi plants was reached through the combination of eco-enzyme at a concentration of 22.5 ml/l and mycofer at a dose of 40 g/plant.
Patogenisitas Cendawan Colletotrichum musae dan Colletotrichum gloeosporioides Penyebab Penyakit Antraknosa dan Ketahanan Buah Beberapa Kultivar Pisang Dwi Nanda Aulia Situmorang; Hendrival Hendrival; Usnawiyah Usnawiyah; Latifah Latifah; Novita Pramahsari Putri; Muhammad Muaz Munauwar; Baidhawi Baidhawi
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.36-43

Abstract

Penyakit antraknosa merupakan salah satu penyakit pascapanen pada buah pisang saat penyimpanan yang menyebabkan buah akan membusuk dan rusak sebelum matang. Penyakit antraknosa pada buah pisang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum musae dan C. gloeosporioides. Penelitian bertujuan untuk mengetahui patogenisitas isolat C. musae dan C. gloeosporioides serta ketahanan buah beberapa kultivar pisang. Penelitian dilaksanakan pada  November 2021 sampai Januari 2022  di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial. Faktor pertama  yaitu kultivar buah pisang dan faktor kedua yaitu  isolat cendawan.. Parameter yang diamati adalah warna koloni cendawan, periode inkubasi, dan keparahan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koloni C. musae berwarna putih dan C. gloeosporioides berwarna putih keabuan, periode inkubasi paling singkat terjadi pada buah pisang yang diinokulasi C. musae. Berdasarkan nilai keparahan penyakit respons buah pisang dibedakan menjadi sangat rentan ( Tanduk), rentan ( Barangan, Mas, Awak, dan Raja) dan agak tahan (Kepok). Inokulasi isolat C. musae dan C. gloeosporioides pada buah pisang Tanduk dapat meningkatkan keparahan penyakit dan periode  inkubasi yang singkat dibandingkan pada buah pisang Kepok. Isolat C. musae memiliki tingkat patogenisitas lebih tinggi dibandingkan C. gloeosporioides.ABSTRACTAnthracnose disease is one of the post-harvest diseases in bananas during storage that causes the fruit to rot and be damaged before it ripens. Anthracnose disease in bananas is caused by the fungi Colletotrichum musae and C. gloeosporioides. The study aims to determine the pathogenicity of C. musae and C. gloeosporioides isolates and the resistance of several banana cultivars. The study was conducted from November 2021 to January 2022 at the Plant Pests and Diseases Laboratory, Faculty of Agriculture, Malikussaleh University. The experiment was arranged using a Completely Randomized Design with a factorial pattern. The first factor is the banana cultivar and the second factor is the fungal isolate. The parameters observed were the colony color, the incubation period, and the severity of the disease. The results showed that the C. musae colony was white and C. gloeosporioides was grayish white, the shortest incubation period occurred in bananas inoculated with C. musae. Based on the severity of the disease, the response of banana fruit is divided into very susceptible (Tanduk), susceptible (Barangan, Mas, Awak, and Raja) and somewhat resistant (Kepok). Inoculation of C. musae and C. gloeosporioides isolates on Tanduk banana fruit can increase the severity of the disease and the short incubation period compared to Kepok banana fruit. C. musae isolates have a higher pathogenicity level than C. gloeosporioides.
REPELLENSI DAN TOKSISITAS EKSTRAK DAUN Lantana camara L. TERHADAP HAMA PASCAPANEN Hendrival Hendrival; Syahrani Khairani Marpaung; Dwi Asti Purnama; Millenia Dzikra Az Zahra; Baidhawi Baidhawi; Khaidir Khaidir; Usnawiyah Usnawiyah
Jurnal Agrotek Tropika Vol 12, No 1 (2024): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 12, Februari 2024
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v12i1.6920

Abstract

Tribolium castaneum Herbst (Coleoptera: Tenebrionidae) dan Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionidae) merupakan hama primer serealia di penyimpanan. Penelitian ini menguji aktivitas repellensi dan toksisitas ekstrak metanol daun Lantana camaraterhadap imago S. oryzae dan T. castaneum. Pengujian repellensi menggunakan metode pilihan pada kertas saring yang dipotong menjadi dua bagian yang sama. Potongan kertas saring bagian pertama diaplikasikan ekstrak daun sebanyak 500 μl, sedangkan yang kedua tanpa aplikasi ekstrak daun. Pengujian toksisitas menggunakan metode residu pada kertas saring. Larutan ekstrak daun diteteskan pada kertas saring secara merata dengan volume 1000 µl. Hasil peneltian menunjukkan bahwa ekstrak daun L. camara memiliki aktivitas repellensi dan mortalitas terhadap imago S. oryzae dan T. castaneum bersifat terpaut konsentrasi ekstrak. Ekstrak daun menyebabkan efek repellensi dan mortalitas lebih tinggi pada imago T. castaneum dibandingkan S. oryzae. Ekstrak daun L. camara menyebabkan repellensi pada imago T. castaneum berkisar antara 60–100%, sedangkan pada imago S. oryzae mencapai 53,33–93,33%. Ekstrak daun L. camara lebih banyak menyebabkan kematian pada imago T. castaneum daripada S. oryzae. 
PATOGENISITAS CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana (Bals.) PADA HAMA PASCAPANEN Hendrival, Hendrival; Batubara, Fazriani; Munauwar, Muhammad Muaz; Baidhawi, Baidhawi; Putri, Novita Pramahsari; Nurmasyitah, Nurmasyitah
Jurnal Agrotech Vol 13 No 2 (2023)
Publisher : FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/agrotech.v13i2.128

Abstract

Sitophilus oryzae dan Tribolium castaneum merupakan hama primer yang menyebabkan kerusakan kuantitas dan kualitas pada bahan pangan dan olahannya di penyimpanan. Pemanfaatan patogen serangga seperti cendawan entomopatogen mempunyai prospek yang baik untuk mengendalikan hama pascapanen. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas cendawan entomopatogen Beauveria bassiana yang menyebabkan infeksi dan mortalitas pada imago S. oryzae dan T. castaneum. Aplikasi suspensi cendawan entomopatogen B. bassiana pada imago S. oryzae dan T. castaneum dengan metode pencelupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan entomopatogen B. bassiana lebih efektif menyebabkan infeksi dan mortalitas pada imago S. oryzae dibandingkan imago T. castaneum. Mortalitas pada imago S. oryzae lebih tinggi terjadi pada dengan pengenceran 10-1 sebesar 91,67%, sedangkan pada imago T. castaneum hanya mencapai 75%. Nilai LT50 pada imago S. oryzae dan T. castaneum pada pengenceran 10-1 lebih singkat yaitu 8,46 dan 9,15 hari daripada pengenceran 10-3. Cendawan entomopatogen B. bassiana memiliki kemampuan untuk mengendalikan hama S. oryzae dan T. castaneum. Informasi ini memberikan prospek yang baik bagi pengendalian hayati pada hama pascapanen lainnya di penyimpanan
The Effect of Different Hydroponic Nutrient Sources on Bok Choy Plant Growth (Brassica rapa L.) Sabar, Muhammad; Muliana, Muliana; Khusrizal, Khusrizal; Yusra, Yusra; Baidhawi, Baidhawi
Journal of Tropical Horticulture Vol 5, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Yayasan Pertanian Tropika Indonesia (YPTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33089/jthort.v5i1.75

Abstract

Hydroponic cultivation of bok choy is an alternative that can be done to increase plant production during the increase of limited land conditions. The use of nutrients is one of the determinants of the success of hydroponic cultivation. Cow urine, shallot extract, coconut water, AB Mix nutrients, and NPK fertilizer are sources of nutrients that can be used as they are easy to obtain and have a good effect on the growth of bok choy. The research started from September 2020 - September 2021 and used a non-factorial Completely Randomized Design (CRD) with 3 replications so that 15 experimental units were obtained. The treatments were: N0 (aquades = 100% (1 liter), N1 (Cow Urine = 3% (30 ml/liter), N2 (Shallot Extract = 4% (40 g/liter), N3 (Coconut Water = 30 % (300 ml/liter), N4 (Nutrition AB Mix = 1% (10 ml/liter), N5 (15: 15 : 15 NPK Fertilizer = 0.12% (1.2 g/liter).
Effectiveness of Weed Control on Two Varieties of Corn (Zea Mays L.) in West Aceh Regency Ernawati, Ernawati; Baidhawi, Baidhawi; Jamidi, Jamidi
International Journal of Engineering, Science and Information Technology Vol 4, No 3 (2024)
Publisher : Department of Information Technology, Universitas Malikussaleh, Aceh Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52088/ijesty.v4i3.533

Abstract

This research aims to find out which weed control techniques are most effective in suppressing weed growth on corn plants, to find out the interaction of manual, mechanical, and chemical weed control on corn plants, to find out the influence of weed control techniques on the production and growth of corn plants. This research be carried out in West Aceh Regency on corn farming land in the Pante Ceureumen District. The time allocation is from April to June 2014. The research was conducted using a randomized block design with a factorial pattern with two factors being studied. The first factor is the weed control technique (T): no control, manual control, using husk charcoal, chemical, atrazine + mesotrion 1.35 ml each 9 m² and the second factor is the variety (V): Bisi-2 and Bisi-18. Based on the treatment of 12 plots with 3 repetitions times until there are 36 experimental units. Each treatment plot measures 300 cm x 300 cm with a planting distance of 75 cm x 25 cm so that the number of sample plants in each plot is 48 plants and the number of sample plants in each plot is 8 plants. The distance between plots is 50 cm and the distance between replications is 100 cm. The results obtained from observations are analyzed using the F test. If the results obtained from the variance are significantly different at the 5% level. The result of the research that has been carried out is that the most effective control technique in suppressing weed growth in corn plants is found at T5 (chemistry, topramezone + atrazine 1.35 ml each 9 m², at 21, 40, and 56 HST), followed by T2 (culture technique using rice husk charcoal), T4 (Chemical, nicosulfuron + atrazine 1.35 ml each 9 m², at 21, 40, and 56 HST) and T1 (manual, at 21, 40, and 56 HST) have the same position, then T3 (chemistry, atrazine + mesotrione 1.35ml each 9 m², at 21, 40 and 56 HST), and the last position in weed control techniques is WC (without control).
Pelatihan Pembuatan Organic Pesticide & Fertilizer (OPF) Ramah Lingkungan Pada Petani Di Desa Paya Gaboh Aceh Utara Baidhawi, Baidhawi; Zuriani, Zuriani; Fadli, Fadli; Safitri, Sekar; Sulistianto, Sulistianto; Taufiqurrahman, Taufiqurrahman; Akbar, Khairul
Jurnal Malikussaleh Mengabdi Vol. 2 No. 2 (2023): Jurnal Malikussaleh Mengabdi, Oktober 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jmm.v2i2.13700

Abstract

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Bagi petani jenis hama yaitu tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria, dan virus, nematoda (cacing yang merusak akar), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Pengendalian secara kimiawi menggunakan pestisida kimia merupakan salah satu teknik pengendalian OPT yang paling banyak dilakukan oleh petani di desa Paya Gaboh. Paya Gaboh merupakan salah satu gampong yang ada di kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, provinsi Aceh, Indonesia. Petani di desa ini cenderung melakukan budidaya tanaman sawah dan hortikultura (sayuran). Dalam aktivitas budidaya nya, petani sering kali mengalami kegagalan panen karena adanya serangan hama dan penyakit tanaman. Solusi yang tepat adalah dengan pembuatan pestisida organik yang terbuat dari bahan nabati dan hewani. Lokasi pengabdian masyarakat diambil pada daerah Kabupaten Aceh Utara mengingat lokasi Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh yang terletak di Kabupaten Aceh Utara, maka diharapkan dapat memberikan kontribusi langsung terhadap masyarakat. Jenis Luaran dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah: (1) laporan pengabdian dengan status submitted, (2) jurnal pengabdian internasional published artikel di media massa cetak/online dengan status published, (3) video kegiatan dengan status uploaded, (4) HKI dengan status granted, (5) peningkatan skill mitra dengan status completed, (6) produk olahan kopi dengan status completed.
Pelatihan Budidaya Kakao Guna Peningkatan Kapasitas Petani Dan Peningkatan Produksi Kakao Di Aceh Utara Nazaruddin, Muhammad; Yunus, Saifuddin; Baidhawi, Baidhawi; Murdani, Murdani
Jurnal Malikussaleh Mengabdi Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Malikussaleh Mengabdi, April 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jmm.v2i1.10068

Abstract

Cocoa is one of the dominant plantation crops in North Aceh. Matangkuli District is a cocoa development area in North Aceh. The planting area is satisfactory, but the yield and quality are still below the national average. The general objective of this activity is to build and foster a farming community through the cocoa commodity business in order to produce reliable quality human resources. Reliable human resources will be able to manage all the potential of existing natural resources in order to produce quality cocoa bean production, both in terms of production and productivity, so as to create added value and competitiveness according to market needs. In addition, in the long term it is hoped that through this activity it will be able to increase people's income and create jobs and be able to increase the competitiveness of the cocoa value chain by providing more business opportunities in the cocoa plantation sub-sector within the North Aceh Regency area, especially Gampong Ceubrek District. Matangkuli. The focus of the implementation of this service is increasing the capacity of knowledge and skills in managing cocoa gardens and plants, rejuvenating old plants, and improving the quality of crops. During extension activities and field practice, cocoa farmers have been able to practice cocoa maintenance, plant rejuvenation and post-harvest fruit treatment practices. At least the farmer groups will make a pilot demonstration plot to apply maintenance, rejuvenation and post-harvest treatment which will then be compared with the results achieved conventionally. In addition, cocoa farmers are also trained in managing farmer groups. Where the harvest will be concentrated to be given fermentation and drying treatment simultaneously. Marketing will be done collectively, not individually. Collective sales will save on transportation costs, so the sales value received will be higher.
Pembentukan Karakter Bersosialisasi Dengan Pembuatan Taman Bermain Anak Sebagai Alternatif Penyelesaian Masalah Kecanduan Game Online Pada Anak Usia 5-12 Tahun di Gampong Reuleut Timu Aceh Utara Rahman, Arief; Kembaren, Emmia Tambarta; Baidhawi, Baidhawi; -, Baidhawi -
Jurnal Malikussaleh Mengabdi Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Malikussaleh Mengabdi, April 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maraknya permainan/game online di kalangan generasi muda menimbulkan dampak negatif perkembangan fisik dan psikis generasi muda termasuk anak-anak. Untuk itu diperlukan alternatif aktivitas yang dapat menggantikan perilaku tersebut. Adanya taman bermain anak diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pembentukan karakter bersosialisasi seperti mencari teman, berkomunikasi, dan seni pada generasi muda usia 5-10 tahun agar tidak terlalu bergantung pada aktivitas individualis khususnya game online. Taman bermain di lingkungan sekitar kampus ini juga merupakan salah satu aktivitas realisasi visi misi Universitas Malikussaleh  yaitu membangun SDM unggul dan berkarakter di Aceh Utara. Atas dasar itu itu lokasi pengabdian masyarakat bertempat di Gampong Reuleut Timur Kecamatan Muara Batu Kabupaten Aceh Utara.  Metode pengabdian yang digunakan berupa pendekatan partisipasif dan mengacu pada proses pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA). Bentuk  pelaksanaan yang dirancang terbagi menjadi tiga aktivitas. Aktivitas pertama adalah pembuatan sarana taman bermain anak, kedua adalah sosialisasi permainan tradisional Aceh pada taman bermain anak yang telah dibentuk, dan pelatihan parenting bagi orang tua. Hasil pengabdian menunjukkan 87% dan 13% responden merasa cukup puas merasa puas dengan pelaksanaan kegiatan pengabdian perencanaan, pendanaan, pelaksanaan, hasil, kesesuaian solusi yang diharapkan oleh mitra, dan manfaat. Pengabdian selanjutnya selanjutnya disarankan untuk berfokus pada pembangunan infrastruktur atau fasilitas umum yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Rekayasa Kehadiran Gulma Dan Dosis Pupuk Fosfor Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai Muaz Munauwar, Muhammad; Baidhawi, Baidhawi; Hendrival, Hendrival; Adnan, Adnan
Agrium Vol 19 No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v19i4.9737

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyiangan gulma diberbagai waktu dan pengaruh pemberian beberapa taraf pupuk fosfor terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama adalah penyiangan gulma 28 hari setelah tanam (HST), 42 HST, (28 dan 42) HST, dan terus menerus. Faktor kedua adalah pemberian pupuk fosfor 0 kg P2O5/ha, 25 kg P2O5/ha, 50 kg P2O5/ha dan 75 kg P2O5/ha. Enam belas kombinasi perlakuan yang didapat diulang sebanyak tiga kali, sehingga didapat empat puluh delapan unit percobaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pengamatan 30 HST tanaman kedelai tertinggi terdapat pada penyiangan gulma (28 dan 42) HST dan penyiangan terus menerus, sedangkan ukuran tanaman kedelai terendah terdapat pada perlakuan penyiangan gulma 28 HST dan 42 HST. Umur berbunga tercepat terdapat pada 28 HST dan 42 HST, penyiangan gulma terus menerus menyebabkan kedelai menjadi paling akhir berbunga. Umur panen kedelai tercepat terjadi pada penyiangan gulma 28 HST dan 42 HST, sedangkan umur panen terlama terdapat pada perlakuan penyiangan gulma (28 dan 42) HST dan penyiangan gulma terus menerus. Berat biji per tanaman terendah terdapat pada penyiangan gulma 28 HST dan 42 HST, sedangkan berat biji tertinggi terdapat pada penyiangan gulma (28 dan 42) HST dan penyiangan gulma terus menerus.
Co-Authors -, Baidhawi - A.G, Rosnina Abdullah Adnan Adnan Agustina Akbar, Khairul Akram, Nuzul Alfi Syahrin, Muhammad Ali Rahmat Ami Safriyanur Ananda Faridhatul Ulva AR, Marzuki Arief Rahman Arnawan Hasibuan Azmi, Farhan Batubara, Fazriani Cindenia Puspasari Darmayani, Satya Deassy Siska Desi Ariani Dewi Safitri, Triana Dwi Asti Purnama Dwi Nanda Aulia Situmorang Ernawati Ernawati Fadhilati, Nyak Intan Fadli Fadli Fakhrurrazi Farahdiba, Dewi Farizi, Reza Al Febrianti, F. Firmansyah, Nanda Hafifah Hafifah Hafifah, Hafifah Halimatussakdiah Halimatussakdiah Handayani, Rd Selvy Handayani, Rd Selvy Hasibuan, Muhammad Rafif Fadlurrahman Hasnita, Nur Haykal, Muhammad Hendrival Hendrival Hendrival Hendrival Hendrival Hendrival Hendrival Hendrival Herman Fithra Hilmi Hilmi Imam Muatho, Muhammad Ismadi Ismadi Jamidi, Jamidi Jufri Jufri Julfikar Julfikar Kembaren, Emmia Tambarta Khaidir Khaidir Khairani, Annisa Khusrizal Khusrizal Laila Nazirah Laina Fadhillah Latifa Salwa Latifah Latifah Latifah Latifah Latifah Latifah M Sayuti Maisura Maisura Mariyudi Mariyudi Maulana Ikhsan Mawardati Mawardati Melati, Putri Millenia Dzikra Az Zahra Milna, Milna Mirzawati, Mirzawati Muhamad Yusuf, SE., M.Si. Muhammad Afzalul Zikri Muhammad Chairuddin Muhammad Muaz Munauwar Muhammad Nazaruddin Muliana, Muliana Murdani Murdani, Murdani Nanda Savira Ersa Nasruddin Nasruddin Nasruddin Nasruddin Nasruddin Nasution, Paisah Nilahayati Novita Pramahsari Putri Novita Pramahsari Putri Nurmasyitah Nurmasyitah Nuzul Akram Pramahsari Putri, Novita Putri, Novita Prahmasari Putri, Novita Pramahsari Razif, Razif Rico Nainggolan, Tito Rizka Dwi Harianti1 Rosnina nina A.G Rosnina Rosnina, Rosnina Ruhani, Ruhani Sabar, Muhammad SAFITRI, Sekar Safrina Safrina Safrina Safrina, Safrina Sayuti, Muhammad Siregar, Widyana Verawaty Siswahyudianto Suheri, Dedi Sulistianto, Sulistianto Suryadi Suryadi Sutiharni Sutiharni Syahrani Khairani Marpaung Taufiqurrahman Taufiqurrahman Tengku Dhean Teuku Ilhami Surya Akbar Usnawiyah Wahida Rizki Alnovi Yulisda, Desvina Yunus, Saifuddin Yuskarina, Yuskarina Yusra Yusra Yusra, Yusra Zufina, Rezki Zuriani, Zuriani Zurrahmi Wirda Zurrahmi Wirda