Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Budidaya Kakao Guna Peningkatan Kapasitas Petani Dan Peningkatan Produksi Kakao Di Aceh Utara Nazaruddin, Muhammad; Yunus, Saifuddin; Baidhawi, Baidhawi; Murdani, Murdani
Jurnal Malikussaleh Mengabdi Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Malikussaleh Mengabdi, April 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jmm.v2i1.10068

Abstract

Cocoa is one of the dominant plantation crops in North Aceh. Matangkuli District is a cocoa development area in North Aceh. The planting area is satisfactory, but the yield and quality are still below the national average. The general objective of this activity is to build and foster a farming community through the cocoa commodity business in order to produce reliable quality human resources. Reliable human resources will be able to manage all the potential of existing natural resources in order to produce quality cocoa bean production, both in terms of production and productivity, so as to create added value and competitiveness according to market needs. In addition, in the long term it is hoped that through this activity it will be able to increase people's income and create jobs and be able to increase the competitiveness of the cocoa value chain by providing more business opportunities in the cocoa plantation sub-sector within the North Aceh Regency area, especially Gampong Ceubrek District. Matangkuli. The focus of the implementation of this service is increasing the capacity of knowledge and skills in managing cocoa gardens and plants, rejuvenating old plants, and improving the quality of crops. During extension activities and field practice, cocoa farmers have been able to practice cocoa maintenance, plant rejuvenation and post-harvest fruit treatment practices. At least the farmer groups will make a pilot demonstration plot to apply maintenance, rejuvenation and post-harvest treatment which will then be compared with the results achieved conventionally. In addition, cocoa farmers are also trained in managing farmer groups. Where the harvest will be concentrated to be given fermentation and drying treatment simultaneously. Marketing will be done collectively, not individually. Collective sales will save on transportation costs, so the sales value received will be higher.
Pembentukan Karakter Bersosialisasi Dengan Pembuatan Taman Bermain Anak Sebagai Alternatif Penyelesaian Masalah Kecanduan Game Online Pada Anak Usia 5-12 Tahun di Gampong Reuleut Timu Aceh Utara Rahman, Arief; Kembaren, Emmia Tambarta; Baidhawi, Baidhawi; -, Baidhawi -
Jurnal Malikussaleh Mengabdi Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Malikussaleh Mengabdi, April 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maraknya permainan/game online di kalangan generasi muda menimbulkan dampak negatif perkembangan fisik dan psikis generasi muda termasuk anak-anak. Untuk itu diperlukan alternatif aktivitas yang dapat menggantikan perilaku tersebut. Adanya taman bermain anak diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pembentukan karakter bersosialisasi seperti mencari teman, berkomunikasi, dan seni pada generasi muda usia 5-10 tahun agar tidak terlalu bergantung pada aktivitas individualis khususnya game online. Taman bermain di lingkungan sekitar kampus ini juga merupakan salah satu aktivitas realisasi visi misi Universitas Malikussaleh  yaitu membangun SDM unggul dan berkarakter di Aceh Utara. Atas dasar itu itu lokasi pengabdian masyarakat bertempat di Gampong Reuleut Timur Kecamatan Muara Batu Kabupaten Aceh Utara.  Metode pengabdian yang digunakan berupa pendekatan partisipasif dan mengacu pada proses pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA). Bentuk  pelaksanaan yang dirancang terbagi menjadi tiga aktivitas. Aktivitas pertama adalah pembuatan sarana taman bermain anak, kedua adalah sosialisasi permainan tradisional Aceh pada taman bermain anak yang telah dibentuk, dan pelatihan parenting bagi orang tua. Hasil pengabdian menunjukkan 87% dan 13% responden merasa cukup puas merasa puas dengan pelaksanaan kegiatan pengabdian perencanaan, pendanaan, pelaksanaan, hasil, kesesuaian solusi yang diharapkan oleh mitra, dan manfaat. Pengabdian selanjutnya selanjutnya disarankan untuk berfokus pada pembangunan infrastruktur atau fasilitas umum yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Rekayasa Kehadiran Gulma Dan Dosis Pupuk Fosfor Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai Muaz Munauwar, Muhammad; Baidhawi, Baidhawi; Hendrival, Hendrival; Adnan, Adnan
Agrium Vol 19 No 4 (2022)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v19i4.9737

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyiangan gulma diberbagai waktu dan pengaruh pemberian beberapa taraf pupuk fosfor terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama adalah penyiangan gulma 28 hari setelah tanam (HST), 42 HST, (28 dan 42) HST, dan terus menerus. Faktor kedua adalah pemberian pupuk fosfor 0 kg P2O5/ha, 25 kg P2O5/ha, 50 kg P2O5/ha dan 75 kg P2O5/ha. Enam belas kombinasi perlakuan yang didapat diulang sebanyak tiga kali, sehingga didapat empat puluh delapan unit percobaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pengamatan 30 HST tanaman kedelai tertinggi terdapat pada penyiangan gulma (28 dan 42) HST dan penyiangan terus menerus, sedangkan ukuran tanaman kedelai terendah terdapat pada perlakuan penyiangan gulma 28 HST dan 42 HST. Umur berbunga tercepat terdapat pada 28 HST dan 42 HST, penyiangan gulma terus menerus menyebabkan kedelai menjadi paling akhir berbunga. Umur panen kedelai tercepat terjadi pada penyiangan gulma 28 HST dan 42 HST, sedangkan umur panen terlama terdapat pada perlakuan penyiangan gulma (28 dan 42) HST dan penyiangan gulma terus menerus. Berat biji per tanaman terendah terdapat pada penyiangan gulma 28 HST dan 42 HST, sedangkan berat biji tertinggi terdapat pada penyiangan gulma (28 dan 42) HST dan penyiangan gulma terus menerus.
Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair Ramah Lingkungan Dari Sumberdaya Hayati Di Desa Padang Sakti Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe Nazaruddin, Muhammad; Baidhawi, Baidhawi; Nasruddin, Nasruddin; Haykal, Muhammad; Siska, Deassy; AR, Marzuki; Nasution, Paisah; Azmi, Farhan
Jurnal Malikussaleh Mengabdi Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Malikussaleh Mengabdi, Oktober 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jmm.v3i2.18763

Abstract

Dampak terhadap lingkungan maupun ekonomi dan pendapatan petani akibat dari pemakaian pupuk kimia semakin menjadi perhatian.  Oleh karena itu, berkembang wacana untuk kembali ke alam dalam kegiatan pertanian, yaitu dengan memanfaatkan bahan-bahan alam (sumberdaya hayati) untuk kebutuhan pupuk. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah; 1). Memberikan pelatihan dan keterampilan kepada para petani untuk membuat pupuk organik ramah lingkungan dari sumberdaya hayati yang banyak terdapat di lingkungan sekitarnya; dan 2).  Mengetahui efektivitas pelatihan yang diadakan bagi para petani tersebut. Metode kegiatan yang akan dilakukan adalah penyampaian materi secara teoritis (ceramah) tentang  seluk-beluk pupuk organik dan potensi sumberdaya hayati di salah satu Desa Lingkungan Universitas Malikussaleh yaitu di Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe yang berpotensi sebagai bahan pupuk organik; kemudian diikuti dengan demonstrasi dan praktek langsung pembuatan pupuk organik oleh para petani. Untuk melaksanakan praktek, peserta dibagi dalam 5 kelompok kerja. Masing-masing kelompok tersebut diberi kesempatan untuk praktek membuat pupuk organik sendiri.  Kegiatan pelatihan dilakukan selama 2 hari, dengan target 25 peserta. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa kegiatan ini bermanfaat dan segera dapat diterapkan dalam budidaya tanaman baik skala kecil maupun skala besar
Kerentanan Varietas Jagung Terhadap Sitophilus zeamais Motschulsky Hendrival, Hendrival; Mirzawati, Mirzawati; Dewi Safitri, Triana; Pramahsari Putri, Novita; Latifah, Latifah; Munauwar, Muhammad Muaz; baidhawi, baidhawi
Agrium Vol 21 No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v21i4.19578

Abstract

Penelitian kerentanan relatif tujuh varietas jagung terhadap serangan kumbang jagung, Sitophilus zeamais Motschulsky dilakukan pada kondisi suhu 30-32 0C dan RH 70-75%. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap dengan tiga kali ulangan. Jumlah F1, median waktu perkembangan, indeks kerentanan, kerusakan, dan daya kecambah benih ditentukan setelah masa penyimpanan tiga bulan. Indeks kerentanan ditentukan menggunakan rumus Dobie dan varietas diklasifikasikan ke dalam kelompok kerentanan yang berbeda. Secara umum, Varietas Anoman, Lamuru, Bisma, Sukmaraga, Srikandi Kuning, dan Jakarin tergolong moderat, kecuali Varietas Provit A1 yang tergolong moderat-rentan terhadap hama S. zeamais. Jumlah F1 dan kerusakan benih memiliki hubungan positif dengan kerentanan varietas, median periode perkembangan median dan daya kecambah benih setelah infestasi memiliki hubungan negatif dengan kerentanan pada jagung.
Penentuan Periode Kritistanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Terhadap Gulma Safrina, Safrina; Baidhawi, Baidhawi; Hafifah, Hafifah
Agrium Vol 21 No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v21i3.20500

Abstract

Periode kritis merupakan masa ketika tanaman budidaya rentan terhadap kehadiran gulma, sehingga gangguan yang ditimbulkan dapat menurunkan hasil akhir suatu tanaman. Meskipun kehadiran gulma tidak sepenuhnya mempengaruhi masa pertumbuhan tanaman. Periode kritis ini berkaitan dengan waktu yang tepat untuk pengendalian, sehingga keberadaan gulma tidak selalu memerlukan tindakan pengendalian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui periode kritis jagung manis terhadap gulma dan pengaruh gulma terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian ini menggunakan metode percobaan rancangan acak kelompok faktor tunggal yang terdiri dari 10 perlakuan dengan 3 kali ulangan. P1: 0-15 HST disiangi, P2: 0-30 HST disiangi, P3: 0-45 HST disiangi, P4: 0-60 HST disiangi, P5: 0-Panen disiangi, P6: 0-15 HST bebas gulma, P7: 0-30 HST bebas gulma, P8: 0-45 HST bebas gulma, P9: 0-60 HST bebas gulma, P10: 0-Panen HST bebas gulma. Data dianalisis menggunakan uji rentang berganda Duncan pada taraf 0,05 dengan menggunakan analisis variansi untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan masa kritis tanaman jagung manis terhadap gulma adalah pada umur 16-30 HST. Pengendalian gulma yang dilakukan pada umur 16-30 HST tidak akan menghambat pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis.
Analysis of Glyphosate Herbicide Residues in Coffee Plantations in Bener Meriah Regency Suheri, Dedi; Nasruddin, Nasruddin; Ismadi, Ismadi; Jamidi, Jamidi; Baidhawi, Baidhawi
International Journal of Engineering, Science and Information Technology Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Malikussaleh University, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52088/ijesty.v5i2.779

Abstract

Coffee is a leading plantation commodity as it serves as a source of income for farmers, provides raw materials for industries, creates job opportunities, and promotes regional development in Bener Meriah Regency. To achieve optimal production results, farmers must adequately manage and maintain their coffee plantations, one way being the reduction of chemical usage that may affect the coffee beans. The negative impact of excessive chemical use includes rejecting exports to several European countries due to residue levels exceeding the limits set by European Union regulations. Therefore, analyzing herbicide residues and studying the factors affecting their persistence is necessary. Sampling was conducted in five sub-districts: Gajah Putih, Bandar, Permata, Timang Gajah, and Bukit, by collecting soil and bean samples from five points in each sub-district for analysis using gas chromatography. The research showed glyphosate residue levels of 0.002 mg/kg in each soil and bean sample. These levels are considered low compared to the maximum residue limit (MRL) for coffee, which is 0.1 mg/kg. This indicates that glyphosate residue contamination in the sampled plots is considered safe for consumption. Observations and interviews with farmers concluded that the low residue levels in the soil samples were influenced by several factors, including climate (temperature, humidity, rainfall), soil characteristics, topography, herbicide characteristics, and weed types.
TOKSISITAS TUNGGAL DAN CAMPURAN SERBUK DAUN PEPAYA DAN BIDURI TERHADAP KEONG MAS Hendrival Hendrival; Ami Safriyanur; Hafifah Hafifiah; Muhammad Muaz Munauwar; Baidhawi Baidhawi
Jurnal Agrotek Tropika Vol 10, No 3 (2022): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 10, AGUSTUS 2022
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v10i3.5537

Abstract

Keong mas atau Pomacea canaliculata (Lamarck) (Gastropoda: Ampullariidae) merupakan hama utama pada tanaman padi di Indonesia. Penggunaan serbuk daun pepaya (Carica papaya) dan biduri (Calotropis gigantea) dan dapat dijadikan sebagai moluskisida nabati alternatif untuk mengendalikan hama keong mas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui toksisitas tunggal dari serbuk daun pepaya dan biduri serta toksisitas campuran kedua serbuk tersebut pada dua macam perbandingan konsentrasi tehadap keong mas. Metode pengujian meliputi pengujian toksisitas secara tunggal dan campuran. Pengamatan mortalitas keong mas sejak 4–48 jam setelah aplikasi bahan moluskisida nabati. Hasil penelitian menunjukan bahwa aplikasi secara tunggal dan campuran dari serbuk daun pepaya dan serbuk daun biduri dapat menyebabkan kematian terhadap keong mas. Serbuk daun pepaya memiliki toksisitas lebih tinggi dibandingkan dengan serbuk daun biduri pada keong mas. Aplikasi campuran serbuk daun pepaya dan biduri lebih beracun dibandingkan aplikasi secara tunggal. Aplikasi campuran serbuk daun pepaya dan serbuk daun biduri dengan nisbah konsentrasi 2:1 lebih beracun dibandingkan dengan nisbah konsentrasi 1:2 terhadap hama keong mas. Berdasarkan indeks kombinasi diketahui bahwa campuran serbuk daun pepaya dan serbuk daun biduri dengan nisbah konsentrasi 1:2 dan 2:1 bersifat aditif, sinergistik lemah dan sinergistik kuat. Serbuk daun pepaya dan biduri serta campurannya berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai moluskisida nabati untuk mengendalikan keong mas
Quantitative and Qualitative Analysis of Weed Vegetation in Coffee Plantations in Bener Meriah Regency Farahdiba, Dewi; Baidhawi, Baidhawi; Nasruddin, Nasruddin; Nazirah, Laila; Ismadi, Ismadi
International Journal of Engineering, Science and Information Technology Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Malikussaleh University, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52088/ijesty.v5i2.797

Abstract

Coffee plants are an essential commodity widely cultivated in Bener Meriah Regency, Aceh Province. This study aims to determine the composition of dominant weed types and weed structures in Arabica coffee plantations in Bener Meriah Regency through weed vegetation analysis. Weed vegetation analysis is carried out in two ways, namely quantitative and qualitative. The research was conducted from November 2023 to March 2024 in 5 sub-districts. Weed sampling was carried out on five location plots per sub-district by placing a square measuring 1 m x 1 m diagonally to analyze the number of weeds, the number of individuals, and abundance. The study's results found 2,408 individuals and 35 species of weeds, namely 28 species of broadleaf weeds, three species of puzzles, three species of grasses, and one species of ferns. Spilanthes paniculata Wall weed. Ex DC or jotang is the most dominant weed, with an absolute density value of 392 (SDR 11.82). The absolute frequency value is dominated by Oxalis debilis or calincing. Meanwhile, the highest absolute dry weight was weeded S. paniculata Wall. Ex DC and A. conyzoides with values of 923.3 and 836.2. The life cycle of weeds showed that eight species (22.85%) had annual life cycles, and 27 species (77.15%) had annual life cycles. Stratification is classified as class 3, with as many as 14 species. Sociability is classified as 4th degree as many as 13 species. All weeds are classified as vitality 1. Meanwhile, the periodicity is only nine weed species that do not have flowers, seeds, and fruits.
DEGRADASI HERBISIDA PENDIMETHALIN PADA TANAH YANG BERBEDA KANDUNGAN BAHAN ORGANIK Baidhawi, Baidhawi
CEFARS : JURNAL AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN WILAYAH Vol. 4 No. 2 (2013): CEFARS : JURNAL AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN WILAYAH
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The experiment was conducted at glasshouse owned by Faculty of Agriculture Padjadjaran University, Bandung, Indonesia from June until August 2012. The objective of this experiment was to determine the degradation of pendimethalin herbicide in different soilsorganic matter conten . The design experiment used was complete block design with factorial pattern. There were two factors. The first factor was dose of metolachlor herbicide: 0.00, 0.75, 1.5, and 2.25 kg b.a ha-1. The second factor was soil organic matter content: 1.9, 4.40, 5.98, 6.24, and 12.4 %.The experimetn was that result the herbicide doses and soil organic matter contents has affected on rate of degradation pendimethalin herbicide. The lowest rate degradation of pendimethalin was found in soils lower organic matter content and the highest herbicide doses. The highest rate of degradationwas found in bioassay technique, and HPLC (High perfomance liquid Cromatographi) technique was lowest.
Co-Authors - Fakhrurrazi -, Baidhawi - A.G, Rosnina Abdullah Adnan Adnan Adnan Adnan Agustina Akbar, Khairul Akram, Nuzul Alfi Syahrin, Muhammad Ali Rahmat Ami Safriyanur AR, Marzuki Arief Rahman Arnawan Hasibuan Azmi, Farhan Batubara, Fazriani Cindenia Puspasari Darmayani, Satya Deassy Siska Dewi Safitri, Triana Dwi Asti Purnama Dwi Nanda Aulia Situmorang Ernawati Ernawati Fadhilati, Nyak Intan Fadli Fadli Farahdiba, Dewi Farizi, Reza Al Febrianti, F. Firmansyah, Nanda Hafifah Hafifah Hafifah, Hafifah Handayani, Rd Selvy Handayani, Rd Selvy Hasibuan, Muhammad Rafif Fadlurrahman Hasnita, Nur Haykal, Muhammad Hendrival Hendrival Hendrival Hendrival Herman Fithra Hilmi Hilmi Imam Muatho, Muhammad Ismadi Ismadi Jamidi, Jamidi Jufri Jufri Julfikar, Julfikar Kembaren, Emmia Tambarta Khaidir Khaidir Khairani, Annisa Khusrizal Khusrizal Laila Nazirah Latifah Latifah Latifah Latifah M Sayuti M. Nazaruddin, M. Maisura Maisura Mariyudi Mariyudi Maulana Ikhsan Mawardati Mawardati Melati, Putri Millenia Dzikra Az Zahra Milna, Milna Mirzawati, Mirzawati Muhamad Yusuf, SE., M.Si. Muhammad Chairuddin, Muhammad Muhammad Muaz Munauwar Muhammad Nazaruddin Muliana, Muliana Murdani Murdani, Murdani Nanda Savira Ersa Nasruddin Nasruddin Nasruddin Nasution, Paisah Novita Pramahsari Putri Nurmasyitah Nurmasyitah Nuzul Akram Pramahsari Putri, Novita Pratiwi, Jelita Widiya Putri, Novita Prahmasari Putri, Novita Pramahsari Razif, Razif Rico Nainggolan, Tito Rosnina nina A.G Rosnina Rosnina, Rosnina Ruhani, Ruhani Sabar, Muhammad SAFITRI, Sekar Safrina Safrina, Safrina Sayuti, Muhammad Siregar, Widyana Verawaty Suheri, Dedi Sulistianto, Sulistianto Suryadi Suryadi Sutiharni Sutiharni Syahrani Khairani Marpaung Taufiqurrahman Taufiqurrahman Teuku Ilhami Surya Akbar Usnawiyah Yunus, Saifuddin Yuskarina, Yuskarina Yusra Yusra Yusra, Yusra Zikri, Muhammad Afzalul Zufina, Rezki Zuriani, Zuriani Zurrahmi Wirda Zurrahmi Wirda