Claim Missing Document
Check
Articles

Reforming Digital Mapping Regulations for Preventing Spatial Planning Violations in Indonesia: A Lesson from Australia Widiatedja, I Gusti Ngurah Parikesit; Hosen, Nadirsyah; Yasa, Putu Gede Arya Sumerta; Arsika, I Made Budi; Shara, Made Cinthya Puspita
Journal of Indonesian Legal Studies Vol. 9 No. 2 (2024): Reforming Legal Frameworks: Justice, Rights, and Innovation in Indonesia and Be
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jils.v9i2.1782

Abstract

Digital maps of the detailed plans play a crucial role in enforcing spatial planning regulations, providing clarity on permissible areas and assisting authorities in ensuring adherence. Despite existing regulations, violations are common, notably in Bali's tourism sector. The Job Creation Law 2023 then mandates accessible digital map issuance for detailed plans, integrating them into online submission systems to enhance transparency. Nonetheless, challenges persist, with many plans awaiting conversion into maps, underscoring the ongoing need for procedural efficiency in Indonesia. In Australia, local governments oversee planning decisions, with state involvement in strategic planning, exemplified by Victoria's governance under the Planning and Environmental Act 1987. Planning schemes that contain digital maps, determine land use rules, often categorized into zones with various permit requirements. Victoria's adoption of the smart planning initiative aims to improve accessibility and engagement through user-friendly digital platforms. By looking at Australia’s practices, this paper finds that Indonesia should address regulatory, technical, and coordination challenges, alongside prioritizing public involvement and professional cooperation in order to enhance Indonesia's digital map issuance processes and promote more effective spatial planning governance.
COLLATERAL DAMAGE: PERLINDUNGAN LINGKUNGAN PADA SAAT KONFLIK BERSENJATA DALAM PERSPEKTIF DEEP ECOLOGY Kharismawan, Gede Khrisna; I Made Budi Arsika
Veritas et Justitia Vol. 8 No. 2 (2022): Veritas et Justitia
Publisher : Faculty of Law, Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25123/vej.v8i2.5171

Abstract

International humanitarian law that applies in armed conflict tends to prioritize human interests. The emergence of deep ecology manifests as a critique of the anthropocentrism of war which harms the natural environment. This development implies the need for environmental protection and emphasizes responsibility for environmental damage resulting from armed conflict. This article discusses international legal frameworks that offer protection to the environment in times of armed conflict and presents an analysis of legal protection from a deep ecology perspective. This paper is a normative legal research that applies statutory, case, and conceptual approaches. The study's results suggested that several international treaties have adopted international customs in regulating the protection of the environment during armed conflict and forms of responsibility in case a violation occurs. However, those international legal instruments have yet to be optimal in protecting the environment regarding damage standards, coverage of environmental conditions, and the implementation of responsibility for violations.
TOWARDS A RECOGNISED RIGHT TO A SHARED CULTURE AT THE REGIONAL LEVEL: How Will ASEAN Address Diversity? Arsika, I Made Budi; Suyatna, I Nyoman; Purwani, Sagung Putri M.E
Jurisdictie: Jurnal Hukum dan Syariah Vol 15, No 1 (2024): Jurisdictie
Publisher : Fakultas Syariah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/j.v15i1.27149

Abstract

ASEAN documents have officially upheld the principle of unity in diversity and agreed on the spirit of one identity and community. However, there is a pronounced tendency for ASEAN countries to struggle with each other with several differences, including cultural tensions. This paper aims to analyse the possibility of recognising a regionally shared culture as jointly claimed collective cultural rights by taking the example of Intangible Cultural Heritage ICH. It is designed as legal research applying statutory, historical, conceptual, and comparative approaches. This research collects norms and principles covering the issues of ICH and cultural rights and conducts a literature study, suggesting that cultural rights, which represent the intersecting of cultural and human rights aspects, have yet to be fully understood as collective cultural rights. ICH is an example of how ASEAN countries are sometimes heated up in non-harmony relations. The possibility of recognising a regionally shared culture in the context of collective cultural rights then, more or less, relies on the ongoing development of the Narrative of ASEAN Identity, the routine convening of human rights dialogues, and the initiation of the ASEAN Cultural Heritage List. These findings are then expected to be considered by ASEAN policymakers. Dokumen-dokumen ASEAN mencatumkan iktikad untuk menjunjung tinggi prinsip persatuan dalam keberagaman dan menyepakati semangat satu identitas dan komunitas. Dalam kenyatannya, negara-negara anggota ASEAN justru bergelut dengan sejumlah persoalan antara negara yang satu dengan negara lainnya, termasuk mengenai ketegangan budaya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kemungkinan mengakui budaya bersama secara regional sebagai hak budaya kolektif yang diklaim bersama dengan mengambil contoh warisan budaya tak benda (WBTB). Artikel ini dirancang sebagai penelitian hukum yang menggunakan pendekatan perundang-undangan, sejarah, konsep, dan perbandingan. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan norma-norma dan prinsip-prinsip yang mengatur isu WBTB dan hak budaya serta melakukan studi literatur. Artikel ini menyimpulkan bahwa hak budaya, yang mewakili persilangan antara aspek budaya dan hak asasi manusia (HAM), belum sepenuhnya dipahami sebagai hak budaya kolektif. WBTB menjadi contoh bagaimana negara-negara ASEAN terkadang berada dalam hubungan yang tidak harmonis antara satu dengan lainnya. Adapun kemungkinan untuk mengakui budaya bersama secara regional dalam konteks hak budaya kolektif dapat disandarkan pada pengembangan Narasi Identitas ASEAN, penyelenggaraan dialog HAM secara rutin, dan upaya pembentukan Daftar Warisan Budaya ASEAN. Temuan-temuan ini diharapkan dapat dipertimbangkan oleh para pengambil kebijakan di ASEAN.
PENERAPAN PRINSIP PEMBEDAAN DAN PROPORSIONALITAS DALAM PERANG SIBER: STUDI KASUS KONFLIK BERSENJATA RUSIA–UKRAINA Michelle Golda Meir; I Made Budi Arsika
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 12 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/t0fgv245

Abstract

Perkembangan perang siber sebagai domain peperangan modern menghadirkan tantangan signifikan bagi kerangka Hukum Humaniter Internasional (HHI) yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan penerapan prinsip-prinsip fundamental HHI, khususnya prinsip pembedaan dan proporsionalitas. Dalam konteks operasi siber pada konflik bersenjata Rusia–Ukraina. Dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif (yuridis normatif), penelitian ini menerapkan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan studi kasus. Temuan utama menunjukkan bahwa karakteristik unik perang siber, seperti sifat infrastruktur berfungsi ganda dan efek serangan yang berjenjang, secara fundamental mengaburkan batasan antara objek militer dan objek sipil. Hal ini menyebabkan kesulitan substansial dalam mengimplementasikan prinsip pembedaan secara efektif. Selain itu, kalkulasi proporsionalitas menjadi sangat kompleks karena sulitnya mengukur kerusakan non-fisik dan memprediksi dampak insidentil yang berlebihan terhadap penduduk sipil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun HHI tetap berlaku, terdapat kesenjangan implementasi yang mendesak. Diperlukan klarifikasi dan penguatan kerangka hukum HHI agar tetap relevan dan mampu memberikan perlindungan efektif bagi warga sipil di era peperangan digital.