Claim Missing Document
Check
Articles

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENCEGAHAN DAN PE Firrie Ninditha Putri; Asep Sumaryana; Dedi Sukarno
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 14, No 1 (2022): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Agustus 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v14i1.41262

Abstract

Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Daerah dalam rangka pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS adalah melalui kebijakan dalam penyusunan suatu Peraturan Daerah tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS dengan menetapkan Peraturan Daerah Kota Bogor No. 4 Tahun 2016 tentang Pencegahan Dan Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome di Kota Bogor. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya interaksi manusia dari berbagai kalangan sehingga menjadikan Kota Bogor sebagai kawasan yang dapat memicu terjadinya penyebaran HIV/AIDS terutama melalui dua cara yaitu hubungan seks yang tidak aman dan NAPZA suntik.Implementasi suatu layanan kesehatan dapat berjalan dengan baik atau tidak diperlukan adanya kebijakan pemerintah pusat yang diterjemahkan dalam kebijakan pemerintah daerah sesuai dengan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimana Implementasi Kebijakan Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bogor. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan desain penelitian yaitu studi kasus, dan peneltian ini mengunakan teknik pengumpulan data yaitu, wawancara, observasi dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan HIV/AIDS di Kota Bogor terbilang cukup baik, karena telah dapat menurunkan kasus positif setiap tahunnya. Demikian masih banyak yang perlu dibenahi konsep 3 zero pada tahun 2030, dengan maksud untuk menghilangkan kasus baru, kasus kematian yang disebabkan oleh HIV/AIDS, dan diskriminasi yang diterima oleh ODHA. Implementasi Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 4 Tahun 2016 oleh KPA masih terbilang belum maksimal yang poin utamanya adalah dalam pihak-pihak terkait. Pihak terkait sebagaimana dimaksud yang menjadi permasalahan utama adalah Pemerintah Kota Bogor dan masyarakat Kota Bogor. Saran praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan perhatian khusus bagi pengembangan penuntasan permasalahan HIV/AIDS khususnya bagi Pemerintah Kota Bogor. Pelatihan yang berkaitan dengan cara penangan secara psikologis terhadap ODHA memerlukan teknik-teknik yang pasti agar tidak adanya rasa putus asa dari ODHA dan tetap hendak untuk mengikuti pengobatan secara berkala.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.
SOSIALISASI SISTEM PELAPORAN PAJAK E-FILING OLEH KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA SUMEDANG PADA APARATUR SIPIL NEGARA DI KECAMATAN SUMEDANG UTARA Kholisatul Ulumi; Asep Sumaryana; Soedirman Soeyoso Putro
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 13, No 2 (2022): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Februari 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v13i2.28689

Abstract

Direktur Jenderal Pajak telah memudahkan sistem pelaporan pajak dengan menghadirkan sistem pelaporan pajak online yang disebut dengan e-filing. Namun, di Kecamatan Sumedang Utara masih banyak wajib pajak ASN yang tidak memahami cara lapor e-filing dan tidak mengetahui dasar hukum diwajibkannya e-filing. Padahal KPP Pratama Sumedang telah melakukan sosialisasi sistem pelaporan pajak e-filing pada wajib pajak ASN di Kecamatan Sumedang Utara. Menurut Everett Rogers (1983) ada empat elemen dalam difusi inovasi inovasi yaitu inovasi, saluran komunikasi, waktu dan sistem sosial. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitaif. Data dikumpulkan kemudian dianalisis dan dideskripsikan. Hasil penelitian menunjukkan ada aspek dalam elemen sosialisasi inovasi Everett Rogers yang tidak dipenuhi oleh KPP Pratama Sumedang. Pada elemen inovasi aspek yang tidak dipenuhi oleh KPP Pratama Sumedang adalah inovasi yang ditawarkan tidak sesuai dengan kondisi social Kecamatan Sumedang Utara. Pada elemen saluran komunikasi, komunikasi yang dilakukan KPP Pratama Sumedang masih kurang. Pada elemen waktu, kecepatan adopsinya masih rendah. Pada elemen sistem sosial, inovasi yang ditawarkan tidak sesuai dengan kondisi sosial ASN di Kecamatan Sumedang Utara.
PEMANTAUAN KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KECAMATAN GARUT KOTA OLEH TIM PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA KABUPATEN GARUT Kurnia Muhamad Ramdhan; Asep Sumaryana; Slamet Usman Ismanto
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 2, No 1 (2017): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Februari 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v2i1.13680

Abstract

Skripsi ini berupaya menyajikan hasil penelitian yang merefleksikan kegiatan Pemantauan Kebijakan Penataan Pedagang Kaki Lima di Kecamatan Garut Kota oleh Tim Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima Kabupaten Garut. Latar belakang dari penelitian ini ialah tercetusnya kebijakan Penataan Pedagang Kaki Lima yang diprakarsai pada era kepemimpinan Rudy Gunawan selaku Bupati Garut Periode 2014 – 2019, sebagai upaya dalam menata kembali pusat perkotaan dan menertibkan para Pedagang Kaki Lima yang berjualan di sekitar pusat kota, hingga dalam praktiknya ditemukan suatu kendala dari pelaksanaan kebijakan tersebut yang disebabkan karena tidak efektifnya kegiatan pemantauan (monitoring) kebijakan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari William N. Dunn (1999), beliau mengemukakan bahwa Pemantauan setidaknya memainkan empat fungsi yaitu Eksplanasi, Akuntansi, Pemeriksaan, dan Kepatuhan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dengan menggunakan studi kepustakaan dan studi lapangan berupa observasi non- partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik triangulasi sumber dijadikan sebagai pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian ini, kemudian data-data tersebut direduksi, disajikan, dan ditarik simpulan. Berdasarkan penelitian Penulis, nyatanya kegiatan pemantauan kebijakan tidak dapat dipandang sebelah mata, dikarenakan pemantauan kebijakan memiliki peran yang vital dalam menilai dan mengawal sejauh mana kebijakan yang sedang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan koridor tujuan dan sasaran kebijakan tersebut, sehingga Pemantauan Kebijakan tidak dapat hanya dimaknai secara harfiah saja, perlu dilakukan elaborasi yang mendalam, seperti pada aspek Kepatuhan, Pemeriksaan, Akuntansi, dan/ atau Eksplanasi, karena hasil dari pemantauan kebijakan dapat dijadikan acuan untuk melakukan upaya koreksi/ modifikasi kebijakan. ABSTRACT This paper presents the results of research that seeks to reflect the monitoring activities Structuring Street Vendors Policy in Garut Kota subdistrict by Team Arrangement and Empowerment of Street Vendors Garut. The background of this study is that the conclusions of the policy Structuring Street Vendor initiated the era of the leadership of Rudy Gunawan as Garut Regent Period of 2014 - 2019, as an effort to restructure the urban centers and curb the street vendors who sell at around the center of town, up in practice found a constraint on the implementation of the policy caused by lack of effective monitoring policy. The theory used in this study came from William N. Dunn (1999), he argued that the monitoring of at least play four functions, namely Explanation, Accounting, Auditing, and Compliance. This research is conducted by using descriptive and qualitative approach. Data obtained using literature study and field studies in the form of non-participant observation, in-depth interviews, and documentation. Triangulation techniques serve as a source of data validity checking in the study, then the data is reduced, presented, and the conclusions drawn. Based on the study of author, in fact monitoring policy can not be underestimated, because the monitoring policy has a vital role in assessing and guarding the extent to which the policy is being implemented to run in accordance with the corridor aims and objectives of the policy. So, the monitoring policy can not be simply interpreted a literal, depth elaboration is necessary, as in the aspect of Compliance, Auditing, Accounting, and/ or Explanation, because the results of the monitoring policy could be use as a reference to make efforts correction/ modification of the policy.
PERAN KLIEN DAN KOALISI DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN INKLUSIF DI KABUPATEN BOGOR Dary Amalia Fathin; Asep Sumaryana; Candradewini Candradewini
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 14, No 2 (2023): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Februari 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v14i2.45135

Abstract

This research is motivated by the policy of the Regulation of the Minister of National Education of the Republic of Indonesia No. 70 of 2009 whose implementation has not been optimal in Bogor Regency. It is known that the role played by the Cibinong SLBN as the source center has not run optimally. This study aims to examine more deeply the role or support provided by the Client (Target Group) and Coalition (Non-Government Actors) towards implementing inclusive education in Bogor Regency. This study uses the policy implementation model revealed by Najam (1995) regarding five critical factors that explain the success and failure of policy implementation. One of the critical factors expressed by Najam is the support of the Client and the Coalition. This research uses a descriptive qualitative approach. The informants in this study were 25 people, including 6 principals and 6 teachers at the six public elementary schools in Cibinong District, 6 parents of students with special needs, 6 school committees, and 1 head of the Cibinong SLBN Resource Center. Data collection techniques used are in-depth interviews and observation.The results showed that the support provided by the client was not optimal due to the busyness of the parents, the lack of understanding of the parents regarding the handling of children with special needs, as well as economic factors that made parents unable to take their children to doctors, therapists, or psychologists. The lack of socialization to all school members also causes the support that can be given to children with special needs and the implementation of inclusive education in schools is not yet optimal. Meanwhile, the support provided by the resource center has not been optimal due to problems in the number of human resources, distance, and time, as well as the lack of government support for the role played by SLBN Cibinong as a Resource Center. Penelitian ini dilatar belakangi oleh kebijakan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 70 Tahun 2009 yang implementasinya belum optimal di Kabupaten Bogor. Diketahui bahwa peran yang dijalankan oleh SLBN Cibinong selaku pusat sumber belum berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam peran atau dukungan yang diberikan oleh Klien (Kelompok Sasaran) dan Koalisi (Aktor non Pemerintah) terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan model implementasi kebijakan yang diungkapkan oleh Najam (1995) mengenai lima faktor kritis yang menjelaskan keberhasilan dan kegagalan implementasi kebijakan. Salah satu faktor kritis yang diungkapkan oleh Najam ialah dukungan Klien dan Koalisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Informan dalam penelitian ini berjumlah 25 orang yang meliputi 6 Kepala Sekolah dan 6 Guru di keeanam SDN di Kecamatan Cibinong, 6 Orang Tua Murid ABK, 6 Komite Sekolah, serta 1 Kepala RC SLBN Cibinong. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah wawancara mendalam, dan observasi.Hasil penelitian menunjukan bahwa belum optimalnya dukungan yang diberikan oleh klien disebabkan karena faktor kesibukan yang dimiliki orang tua, kurangnya pemahaman orang tua terkait penanganan ABK, serta faktor ekonomi yang membuat orang tua tidak bisa membawa anaknya ke dokter, terapis, maupun psikolog. Kurangnya sosialisasi kepada seluruh warga sekolah juga menyebabkan belum optimalnya dukungan yang dapat diberikan kepada ABK maupun penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah. Sementara itu, belum optimalnya dukungan yang diberikan oleh pusat sumber dikarenakan persoalan kuantitas SDM, jarak, dan, waktu, serta kurangnya dukungan pemerintah terhadap peran yang dijalankan SLBN Cibinong sebagai Pusat Sumber.
Public Policy Communication for Flood Management Setiadi Setiadi; Asep Sumaryana; Herijanto Bekti; Dedi Sukarno
The Journal of Society and Media Vol. 7 No. 2 (2023): Social Media Use for Decision Making
Publisher : Department of Social Science, Faculty of Social Science &Law, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jsm.v7n2.p300-312

Abstract

Flood is a hydrometeorological disaster whose intensity and geographic scope continue to increase due to climate change, global warming, and lack of environmental management. Floods often need to be better managed through policy implementation and communication. This study reviews the communication of public policies for flood management. This review uses a traditional approach by referring to previous publications from articles and books, whereas analysis and synthesis refer to the qualitative methods. Public policy must pay attention to fairness, transparency, accountability, participation, and accommodating all parties' interests. The implementation for flood disasters needs to consider elements, the existing programs, and target groups that will receive policies. Flood disaster communication has principles such as transparency, responsiveness, efficiency, effectiveness, accountability, participation, measurement, fairness, and environmental sustainability. Effective and timely communication is very important in dealing with disasters because it can help reduce losses and increase community preparedness. The infrastructure system, which includes drainage, reservoir management, water infiltration zones (green space and densely vegetated land), and mapping of flood-prone areas, must also be communicated adequately. Flood management requires adequate public communication, thus the policy synchronization between different institutions and regions to address socioeconomics and environmental interests within a participatory-based flood management framework
Analisis Penerapan Reformasi Birokrasi dalam Penguatan Sistem Pelayanan Sipil di Tiongkok Billah, Muhammad Munasir; Sumaryana, Asep; Sukarno, Dedi
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 18, No. 6 : Al Qalam (November 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v18i6.3344

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis proses reformasi pegawai negeri di suatu negara. Hal ini akan dicapai dengan mengidentifikasi elemen-elemen kunci yang mempengaruhi transformasi dan pengembangan sistem pelayanan sipil di suatu negara. Pendekatan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif yang melibatkan kombinasi penelitian kepustakaan dan penilaian data sekunder sebagai strategi pengumpulan data. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan Tiongkok dalam merestrukturisasi sistem kepegawaiannya mungkin disebabkan oleh empat faktor utama: politik, hukum, birokrasi, dan ekonomi. Pelajaran penting dapat dipetik dari berbagai faktor. Faktor politik, misalnya, mencakup komitmen, konsistensi, dan kapasitas kepemimpinan. Faktor hukum melibatkan penetapan aturan, memberikan pengawasan, dan memastikan stabilitas. Faktor birokrasi meliputi profesionalisme, penerapan sistem berbasis prestasi, dan peningkatan kesejahteraan. Terakhir, faktor ekonomi mencakup pemilihan kebijakan pragmatis dan mendorong pembangunan ekonomi untuk meningkatkan minat investasi dalam negeri.
Kapasitas Organisasi Pemerintah Desa Mekarsari Dalam Mewujudkan Desa Mandiri Melalui Indeks Desa Membangun Zahratunnisa, Rifqa; Sumaryana, Asep
Jambura Journal of Community Empowerment Volume 5 No. 2: Desember 2024
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37411/jjce.v5i2.3028

Abstract

Desa Mekarsari Kecamatan Cikajang merupakan salah satu desa di Kabupaten Garut yang baru memperoleh status Desa Mandiri pada tahun 2023 setelah sekitar tiga tahun stagnan menduduki kategori Desa Berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kapasitas Pemerintah Desa Mekarsari Kecamatan Cikajang dalam mewujudkan Desa Mandiri melalui Indeks Desa Membangun (IDM). Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif untuk memahami dan menjelaskan berbagai aspek yang ada pada Kapasitas Organisasi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) dari 5 (lima) aspek kapasitas organisasi yang belum terpenuhi untuk mendukung perwujudan status Desa Mandiri melalui IDM oleh Pemerintah Desa Mekarsari. 3 (tiga) dari kelima aspek yang belum terpenuhi tersebut adalah Kapasitas Sumber Daya Manusia, Kapasitas Hubungan dan Jaringan, dan kapasitas Infrastruktur dan Proses. Sementara itu, 2 (dua) aspek yang dapat dikatakan sudah berjalan dengan baik di antaranya adalah Kapasitas Keuangan dan Kapasitas Perencanaan dan Pengembangan.
Towards a Stunting-Free Gunungsitoli City: Policy Evaluation and Challenges of the Economic Approach Ndruru, Eldad Chalis Natha Nias; Sumaryana, Asep; Nurasa, Heru
Indonesian Interdisciplinary Journal of Sharia Economics (IIJSE) Vol 8 No 1 (2025): Sharia Economics
Publisher : Sharia Economics Department Universitas KH. Abdul Chalim, Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/iijse.v8i1.6463

Abstract

The purpose of this study is to evaluate policies to accelerate stunting reduction and the challenges of economic approaches. Policy evaluation is an important basis for seeing and assessing a policy or program, namely the policy of accelerating stunting reduction in Gunungsitoli City. This study uses a qualitative method with a case study approach. Data was collected through interviews, literature reviews, and observations. Interviews are conducted by informants, and then the data is processed, and qualitative data analysis is carried out. Based on the results of the research using evaluation indicators that believe in effectiveness, efficiency, adequacy, leveling, responsiveness, and accuracy, the implementation has not been optimal or running well based on several criteria, namely the budget from the APBD for policies and programs to accelerate stunting reduction is still limited, access to stunting sufferers is still constrained considering the demographic conditions of the region spread across various regions, the existence of complex socialization So that the delivery of information is not effective and the implementation time of policies and programs is not too much so that the implementation of policies does not run well and the short implementation time makes programs and policies not optimal in terms of their implementation and economic challenges in handling stunting are met with poverty and limited access to nutrition, dependence on external resources, and economic impacts do not last long This stunting results in a decrease in productivity labor force, the burden of regional health increased, and poverty arose.
KAPASITAS DINAS SOSIAL KOTA CIREBON DALAM PELAYANAN LANSIA TELANTAR DI LUAR PANTI SOSIAL Aprianti, Faridah; Sumaryana, Asep
Responsive: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Administrasi, Sosial, Humaniora Dan Kebijakan Publik Vol 8, No 1 (2025): Responsive: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Administrasi, Sosial, Humaniora Dan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/responsive.v8i1.61427

Abstract

Dinas Sosial Kota Cirebon memiliki tugas dan fungsi untuk memberikan pelayanan kepada lansia telantar di luar panti sosial. Namun, pelayanan bagi lansia telantar belum mampu diberikan secara merata dan berkelanjutan. Dalam menyelenggarakan pelayanan bagi lansia telantar di luar panti sosial, dibutuhkan kapasitas organisasi yang memadai. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan kapasitas Dinas Sosial Kota Cirebon dalam pelayanan lansia telantar di luar panti sosial. Penelitian ini menggunakan teori kapasitas organisasi yang dikemukakan oleh Hall et al., (2003). Metode penelitian yaitu kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas Dinas Sosial Kota Cirebon dalam pelayanan lanjut usia telantar masih terbatas dan belum memadai. Hal ini dikarenakan jumlah sumber daya manusia masih terbatas dan belum terampil dalam penggunaan teknologi informasi, sumber keuangan hanya berasal dari APBD sehingga anggaran masih terbatas, infrastruktur dan proses yang belum memadai, serta kapasitas perencanaan dan pengembangan yang masih perlu untuk ditingkatkan. Sedangkan kapasitas hubungan dan jaringan sudah cukup memadai dan mampu meminimalisir dampak keterbatasan dari komponen kapasitas lainnya. Dapat disimpulkan bahwa belum memadainya kapasitas organisasi dalam pelaksanaan pelayanan lanjut usia telantar dikarenakan keterbatasan pada beberapa komponen, terutama kompetensi sumber daya manusia dan ketersediaan keuangan yang memberikan pengaruh terhadap komponen kapasitas lainnya. Saran dalam penelitian ini adalah Dinas Sosial Kota Cirebon perlu menyediakan program pendidikan dan pelatihan, membangun relasi kerja sama yang lebih luas, menyediakan fasilitas pelayanan yang lebih memadai, serta proses rekrutmen relawan sosial agar lebih memperhatikan keseimbangan usia muda dan dewasa. The Cirebon City Social Service has the task and function to provide services to neglected elderly outside of social institutions. However, services for neglected elderly have not been able to be provided evenly and sustainably. In providing services for neglected elderly outside of social institutions, adequate organizational capacity is needed. The purpose of this study is to explain the capacity of the Cirebon City Social Service in providing services to neglected elderly outside of social institutions. This study uses the theory of organizational capacity proposed by Hall et al., (2003). The research method is qualitative with data collection techniques through observation, interviews, and documentation studies. The results of the study indicate that the capacity of the Cirebon City Social Service in providing services to neglected elderly is still limited and inadequate. This is because the number of human resources is still limited and not yet skilled in the use of information technology, financial sources only come from the APBD so that the budget is still limited, infrastructure and processes are inadequate, and planning and development capacity still needs to be improved. Meanwhile, the capacity of relationships and networks is sufficient and is able to minimize the impact of limitations from other capacity components. It can be concluded that the inadequate capacity of the organization in implementing services for the neglected elderly is due to limitations in several components, especially human resource competency and financial availability that affect other capacity components. The suggestion in this study is that the Cirebon City Social Service needs to provide education and training programs, build broader cooperation relations, provide more adequate service facilities, and the recruitment process for social volunteers to pay more attention to the balance between young and adult ages.
Analisis Penetapan Kenaikan Harga Air Baku Terhadap Pendapatan Asli Daerah Bakti, Olivia Sativa; Sumaryana, Asep
Permana : Jurnal Perpajakan, Manajemen, dan Akuntansi Vol. 16 No. 2 (2024): Special Issue
Publisher : Faculty of Economics and Business, University of Pancasakti Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/permana.v16i2.732

Abstract

Penelitian ini mengkaji dampak kenaikan Harga Air Baku (HAB) terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Padang, dengan fokus pada implikasinya terhadap aspek ekonomi, social, dan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana kebijakan HAB yang diterapkan melalui Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 119 Tahun 2017 memengaruhi pendapatan dari pajak air tanah dan dampaknya bagi masyarakat serta lingkungan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan wawancara dengan informan kunci dari pemerintah daerah dan pelaku usaha, serta analisis data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan HAB berkontribusi signifikan terhadap peningkatan PAD, khususnya melalui kontribusi pajak air tanah. Secara social, kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, dengan beberapa yang menutup usahanya, sementara yang lainnya menghadapi kesulitan dalam mematuhi peraturan pajak yang menyebabkan terjadinya piutang pajak. Dari segi lingkungan, kebijakan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih ketergantungan terhadap air tanah, terutama oleh pengguna berskala besar dan masih terdapat wajib pajak yang tidak menggunakan meteran air tanah, yang menyebabkan ketidakakuratan dalam pelaporan penggunaan air tanah.