Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Integrasi Ilmu dan Agama menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ian G Barbour Mohammad Muslih; Heru Wahyudi; Amir Reza Kusuma
Jurnal Penelitian Medan Agama MEDAN AGAMA, VOL. 13, NO. 1, JUNI 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58836/jpma.v13i1.11740

Abstract

Hubungan ilmu sains dan agama adalah ada kaitan antar keduanya dalam sejarah mengalami benturan. Bagi sains Islam, agama adalah inheren tidak dapat dipisahkan dengan sains. Sains Islam berpegang kepada dîn atau agama. Agama Islam berlandaskan wahyu kitab suci alQur’an. Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ian G Barbour merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia Pendidikan khususnya bidang Agama dan Sains. Al-Attas terkenal dengan gagasan Integrasi Agama dan Sains. Bagi saintis Muslim al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang darinya dikembangkan segala macam disiplin seperti Ilmu syari’ah seperti, akidah, fikih,.dengan menggunakan deskriptif komparatif makalah ini menemukan Dalam integrasi agama dan sains Al-Atas melalui tahap pengklasifikasian dari tiga unsur: ketidakterbatasan sains, kemuliaan tanggung jawab untuk mencarinya dan keterbatasan hidup manusia. Ian G. Barbour memiliki pendapat tentang Integrasi antara agama dan sains hubungan yang intensif diperhatikan dari pendekatan hubungan dengan mencari integrsi tepat sains dan agama
Konsep Psikologi Syed Muhammad Naquib al-Attas Amir Reza Kusuma
Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/alqalb.v13i2.4386

Abstract

Abstract One of the problems of modern psychological methods today is to use the methods of science that are limited to empirical and rational in conducting their research. Thus, what is observed in the Psychic (soul) is only what is visible from behavior or only that which is merely biological matter, not the essence of the soul itself Modern psychologists have difficulty in making empirical observations of the symptoms of the psyche within the human being. In their opinion, the soul is impossible to observe. Finally, Psychology today reflects more behavioral science than psychiatric science itself, because according to them only behavior can be observed scientifically. If we look into the Islamic view of life, behavior and psychology certainly have different entities of function, although the two are closely related. In this regard, an expert Prof. Syed Naquib al-Attas has criticized the modern psychological method and offered a framework in islamizing modern psychology so that the study of psychology really examines the psyche. Therefore, in responding to the problems of modern psychology, the author wants to reveal how the Islamization efforts initiated by Prof. al-Attas in this paper. 
Taksonomi Hasil Belajar Menurut Benyamin S. Bloom Ihwan Mahmudi; Muh. Zidni Athoillah; Eko Bowo Wicaksono; Amir Reza Kusuma
Jurnal Multidisiplin Madani Vol. 2 No. 9 (2022): September 2022
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/mudima.v2i9.1132

Abstract

Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor.  Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah.Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering pula disebut sebagai "Taksonomi Bloom".  Taksonomi bloom merujuk pada tujuan pembelajaran yang diharapkan agar dengan adanya taksonomi ini para pendidik dapat mengetahui secara jelas dan pasti apakah tujuan instruksional pelajaran bersifat kognitif, afektif atau psikomotor. Taksonomi berarti klasifikasi berhirarki dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian sampai pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi, Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah.
Telaah Kritis Konsep Tuhan Dalam Agama Baha’i : Sebuah Tren Baru Pluralisme Agama Harda Armayanto Armayanto; Syaikhul Kubro Kubro; Amir Reza Kusuma
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 18 No. 2 (2022): Vol. 18 No 2 Tahun 2022
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2022.1802-06

Abstract

Di dalam undang-undangnya, Indonesia hanya mengakui enam agama besar, yakni Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu dan Konghucu. Namun baru-baru ini, di samping enam agama yang diakui tersebut, muncul sebuah agama lain yakni agama Baha’i. Meskipun secara resmi tidak diakui oleh pemerintah Indonesia, agama ini mendapatkan sebuah apresiasi dari Menteri Agama RI. Tepatnya, pada tanggal 26 Maret 2021, Menteri agama negara Republik Indonesia, secara resmi mengucapkan selamat Hari Raya Nawruz kepada umat agama Baha’i. Hal ini menarik dicermati karena menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat. Melihat fenomena diatas, peneliti akan memfokuskan tulisannya pada konsep ketuhanan agama ini. Melihat Konsep Tuhan adalah sebuah konsep inti dalam struktur keagamaan dan akan melahirkan konsepsi lain dalam suatu agama. Untuk itu, tulisan ini akan mengulas teologi yang ada di dalam agama Baha’i guna menemukan kebenaran yang dihasilkannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis yang menganalisa seputar permasalahan dalam konsep Tuhan agama Baha’i melalui sumber kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa dalam konsep ketuhanan agama Baha’i terdapat unsur pluralisme agama. Di mana paham pluralisme agama sendiri mendapatkan penolakan dari berbagai agama yang ada, di karenakan paham ini menafikan truth claim masing-masing agama yang pada akhirnya akan mengikis keyakinan umat beragama. Dengan melihat hal ini, maka agama Baha’i menjadi problem bagi agama-agama yang ada.
Islamic Education for Women Based On Buya Hamka and Murtadha Muthahhari’s Thoughts Muhammad Rasyidil Fikri Alhijri; Amir Reza Kusuma; Ari Susanto; Mohammad Zakki Azani; Mohamad Ali
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 03 (2023): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v12i03.4082

Abstract

Lack of knowledge and society awareness dealing with the importance of Women's Education often makes treat, differently between men and women in the teaching process. Even though both of them have different characteristics and needs. For this reason, the research will be discusse an effort to look deeper into some thoughts of women's education, developing women’s potential and maximising the potential of women as a support for the superior generation in civilization of  ummah. This research is library research, while data obtained were analysed by using the documentary method. the researcher also use descriptive method, comparative method and content analysis method to analyzing data. This study found that: 1) according to Hamka the importance of women's education is because women play a very important role in life  as a wife, a mother,an  educator and a caregiver. 2) according to muthahhari women's education in Islam is important because it aims to make women understand about their duties and responsibilities in accordance with their nature as a wife and a mother who will educate their children later. 3) Both of them have an understanding of the importance on women education. While the different are in the way to understand the importance of women’s education. Hamka tend to understand it from interpreting Al-Qur’an and Al- Hadist, while  Muthahhari tend to understand it from philosophical side.
Konsep Kebahagiaan menurut Ibnu Sina Amir Reza Kusuma; Rakhmad Agung Hidayatullah
Jurnal Penelitian Medan Agama MEDAN AGAMA, VOL. 14, NO. 1, JUNI 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58836/jpma.v14i1.14175

Abstract

Kebahagiaan menurut Ibnu Sina menarik untuk di bahas karena diperoleh melalui banyaknya ilmu pengetahuan dan bisa diamalkan melalui akal mustafad. Banyak para tokoh mencoba menguraikan keberadaannya. Namun dalam kajian tersebut, ada anggapan para filosof Muslim dalam menguraikan masalah hanya menyalin ulang dari para filosof Yunani. Hal ini dijelaskan oleh salah satu tokoh filosof Muslim, yaitu Ibnu Sina. Ia menjelaskan pembahasan dalam filsafat Islam yang berasaskan wahyu berbeda dengan Barat yang berasaskan rasio dan empiris.Kajian ini studi literatur dengan menggunakan metode diskriptif-analisis. Dalam pembahasan ini penulis menghasilkan kesimpulan penting.  Pertama, Konsep kebahagiaan Ibnu Sina berbeda dengan Barat. menurut Ibnu Sina jiwa mendapatkan kenikmatan dan kesengsaran di hari akhir. Ibnu Sina membaginya menjadi beberapa kategori. Pertama, jiwa sempurna karena ilmu dan amal. ilmu akan menjadi pondasi untuk mengukuhkan kehidupan manusia. aksi berpikir dan berkembang dalam mencapai tingkatannya hingga mencapai tingkat akal mustafad yang siap untuk memancarkan hal-hal rasional
The Key to Happiness in a Sufistic Perspective: Between Classical Sufis and Contemporary Sufis Nur Hadi Ihsan; Amir Reza Kusuma; Nisrina Uswatunnissa; Riza Maulidia
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 4 (2023)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i4.526

Abstract

Today, many people's understanding of the meaning of happiness is limited to what can be counted. So that the meaning of happiness according to ordinary people is when people have a lot of money, are healthy, and are successful in the world. While the meaning true happiness is when humans can reach the blessing of Allah SWT. In this study, we will explain the meaning of happiness according to classical and modern Sufism as well as explanations from several commentators. This study aims to find out the meaning and ways of obtaining true happiness in the perspective of classical and modern Sufi. This paper is a library research that uses documentary techniques to collect data sourced from books, journals and, encyclopedias, dictionaries. The collected data were analyzed using descriptive analysis. This research produces the main points, namely: classical and modern Sufis agree that pleasure, wealth, and other life achievements are not a goal, but merely a means to achieve spiritual happiness. The highest happiness is when you can get closer to Allah (ma'rifatullah) and reach His heaven.
POTENSI BELAJAR DALAM AL-QU’RAN (TELAAH SURAT AN NAHL :78) Muhammad Rasyidil Fikri Alhijri; Amir Reza Kusuma; Ari Susanto; Mohammad Zakki Azani; Mohamad Ali
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 5, No 10 (2016): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam - Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1156.085 KB) | DOI: 10.30868/ei.v5i10.10

Abstract

Manusia merupakan makhluk yang mempunyai kelebihan dan keistmewaan dibanding dengan makhluk lain. Salah satu keistiewaan dan kelebihan itu adalah adanya potensi untuk berfikir . Seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan masyarakat, tantangan dan tuntutan tidak pernah jeda, terus mengalami peningkatan sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan budaya sebuah mesyarakat, yang menuntut adanya inovasi, terobosan-terobosan, produk-produk karya cipta, model-model dan solusi-solusi baru, berbeda, unik dan unggul. Manusia menuntut lebih dan lebih dari untuk hari esok dibanding dengan hari ini.Proses belajar dan pembelajaran sebuah keharusan bagi manusia dalam kehidupan. Berbagai fenomena yang terjadi di alam raya ini akan terungkap kepermukaan bila dilakukan dengan jalan belajar. Belajar dalam pengertian ini tentunya dalam pengertian yang luas, pembacaan terhadap fenomena alam dan realitas sosial masyarakat akan memberikan implikasi positif dengan lahirnya berbagai penemuan dalam bentuk ilmu pengetahuan berupa ilmu alam, ilmu sosial, ilmu humaniora, ilmu jiwa dan ilmu kesehatan dan sebagainya. Kesemuanya ini merupakan  hasil kegiatan belajar dan pembelajaran yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Semakin manusia menyadari dirinya untuk belajar maka semakin banyak pengetahuan yang dimilikinya. Potensi yang ada pada diri manusia jika dikembangkan dengan belajar akan melahirkan peradaban besar bagi kemaslahatan pada manusia itu sendiri.Dalam konteks itu,  Dawam Rahardjo menyatakan bahwa agaknya pendengaran, penglihatan dan kalbu (al-fuād) adalah alat untuk memperoleh ilmu dalam kegiatan belajar, dan dapat dikembangkan dalam kegiatan pengajaran.[1]  Ketiga komponen  tersebut merupakan alat potensial yang dimiliki manusia untuk dipergunakan dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Kaitan antara ketiga komponen tersebut adalah bahwa pendengaran bertugas memelihara ilmu pengetahuan yang telah ditemukan dari hasil belajar dan mengajar, penglihatan bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan dan menambahkan hasil penelitian dengan mengadakan pengkajian terhadapnya. Hati bertugas membersihkan ilmu pengetahuan dari segala sifat yang jelek. Yang terakhir ini, berkaitan dengan teori belajar dan mengajar dalam aspek aqidah dan akhlak
POTENSI BELAJAR DALAM AL-QU’RAN (TELAAH SURAT AN NAHL :78) Muhammad Rasyidil Fikri Alhijri; Amir Reza Kusuma; Ari Susanto; Mohammad Zakki Azani; Mohamad Ali
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 5 No. 10 (2016): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam - Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v5i10.10

Abstract

Manusia merupakan makhluk yang mempunyai kelebihan dan keistmewaan dibanding dengan makhluk lain. Salah satu keistiewaan dan kelebihan itu adalah adanya potensi untuk berfikir . Seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan masyarakat, tantangan dan tuntutan tidak pernah jeda, terus mengalami peningkatan sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan budaya sebuah mesyarakat, yang menuntut adanya inovasi, terobosan-terobosan, produk-produk karya cipta, model-model dan solusi-solusi baru, berbeda, unik dan unggul. Manusia menuntut lebih dan lebih dari untuk hari esok dibanding dengan hari ini.Proses belajar dan pembelajaran sebuah keharusan bagi manusia dalam kehidupan. Berbagai fenomena yang terjadi di alam raya ini akan terungkap kepermukaan bila dilakukan dengan jalan belajar. Belajar dalam pengertian ini tentunya dalam pengertian yang luas, pembacaan terhadap fenomena alam dan realitas sosial masyarakat akan memberikan implikasi positif dengan lahirnya berbagai penemuan dalam bentuk ilmu pengetahuan berupa ilmu alam, ilmu sosial, ilmu humaniora, ilmu jiwa dan ilmu kesehatan dan sebagainya. Kesemuanya ini merupakan  hasil kegiatan belajar dan pembelajaran yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Semakin manusia menyadari dirinya untuk belajar maka semakin banyak pengetahuan yang dimilikinya. Potensi yang ada pada diri manusia jika dikembangkan dengan belajar akan melahirkan peradaban besar bagi kemaslahatan pada manusia itu sendiri.Dalam konteks itu,  Dawam Rahardjo menyatakan bahwa agaknya pendengaran, penglihatan dan kalbu (al-fuād) adalah alat untuk memperoleh ilmu dalam kegiatan belajar, dan dapat dikembangkan dalam kegiatan pengajaran.[1]  Ketiga komponen  tersebut merupakan alat potensial yang dimiliki manusia untuk dipergunakan dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Kaitan antara ketiga komponen tersebut adalah bahwa pendengaran bertugas memelihara ilmu pengetahuan yang telah ditemukan dari hasil belajar dan mengajar, penglihatan bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan dan menambahkan hasil penelitian dengan mengadakan pengkajian terhadapnya. Hati bertugas membersihkan ilmu pengetahuan dari segala sifat yang jelek. Yang terakhir ini, berkaitan dengan teori belajar dan mengajar dalam aspek aqidah dan akhlak
PENDIDIKAN JIWA SEBAGAI LANDASAN PEMBENTUKAN ISLAMIC HUMAN RESOURCES DEVELOPMENT (IHRD) DI PERGURUAN TINGGI Rakhmad Agung Hidayatullah; Jarman Arroisi; Amir Reza Kusuma; Muhammad Dhiaul Fikri
JURNAL ILMIAH EDUNOMIKA Vol 7, No 2 (2023): EDUNOMIKA
Publisher : ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/jie.v7i2.8881

Abstract

Pendidikan jiwa menjadi hal yang penting untuk membentuk manusia. intensitas penelitian terhadap wacana pengembangan SDM di institusi akademik semakin banyak dan menunjukkan presentasi yang kian meninggi. Kajian terhadap eksistensi SDM di perguruan tinggi, institusi pendidikan dan banyak lembaga pemberdayaan manusia dilakukan secara masif demi keberlangsungan sistem pendidikan di masa yang akan datang. Kompetensi manusia seperti pengetahuan, skill, kepribadian dan kapasitas intelektual SDM menjadi solusi atas problem-problem modernitas yang terjadi. Jika menilik sistem pendidikan tinggi modern, realisasi model pendidikan yang dibentuk saat ini tidak tidaklah berfokus kepada pembentukan manusia ideal, namun hanya berfokus kepada pembentukan manusia-manusia berorientasi materi, berjiwa hampa dan merefeleksikan kehidupan personal yang berkecamuk. Globally speaking Maka dengan jiwa yang bersih manusia bisa menjadi makhluk yang bermanfaat bagi orang lain.