Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR ENTOMOLOGI TERHADAP KEBERADAAN JENTIK Aedes sp. PADA KASUS DBD TERTINGGI DAN TERENDAH DI KOTA BOGOR Evi Sulistyorini; Upik Kusumawati Hadi; Susi Soviana
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. 12 No. 3: SEPTEMBER 2016
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.237 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v12i3.1071

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Kasus DBD di Kota Bogor tahun 2015 yang tertinggi berada di Kelurahan Baranangsiang 62 kasus dan terendah di Kelurahan Bojongkerta 0 kasus. Jenis penelitian ini observasi deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Sampel 100 rumah di Baranangsiang dan 100 rumah di Bojongkerta. Tujuan penelitianuntuk menentukan kepadatan populasi jentik, mengidentifikasi spesies jentik Aedes sp. dan karakteristik habitat terhadap keberadaan jentik pada kasus DBD tertinggi dan terendah di Kota Bogor. Berdasarkan perhitungan House index, Breteau index, Container index dan Density figure di Baranangsiang (CI:17,4%; HI:33%; BI:42%, DF:5) dan di Bojongkerta (CI:23,2%; HI:42%; BI:54%; DF:6). Hasil analisis denganbinary logistic regression hanya faktor tidak dikuras (sig=0,000;OR=116,44) yang berpengaruh dan berisiko 116,44 kali terhadap keberadaan jentik di Baranangsiang, sedangkan di Bojongkerta faktor jenis (sig=0,000;OR=12,32), letak (sig=0,001;OR=0,25) serta bahan kontainer (0,000;OR=0,24) yang paling berpengaruh (jenis TPA berisiko 12,32 kali, letak di dalam rumah berisiko 0,21 kali, bahan semen/karet/tanah berisiko 0,24 kali) terhadap keberadaan jentik. Kesimpulan penelitian di Baranangsiang mempunyai risiko penularan DBD pada tingkat sedang dan di Bojongkerta mempunyai risiko penularan DBD pada tingkat tinggi berdasarkan kepadatan vektornya.
Epidemiology of Japanese–B– encephalitis infection in pigs in Riau and North Sumatera Provinces Indrawati Sendow; Tatty Syafriati; Upik Kesumawati Hadi; Martin Malole; Susi Soviana; Darminto .
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol 8, No 1 (2003): MARCH 2003
Publisher : Indonesian Center for Animal Research and Development (ICARD)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.336 KB) | DOI: 10.14334/jitv.v8i1.374

Abstract

Epidemiology study on Japanese-B-Encephalitis (JE) was conducted in Riau and North Sumatera Provinces. A total of 190 pig sera from Riau Province and 164 pig sera from North Sumatera were tested using competitive ELISA (C-ELISA) to detect antibodies against JE virus. Insect collection was also conducted using several methods near pig farms in those provinces and identified into species to gain more information on its role to distribute JE infection. Serological results indicated that 70% pig in Sumatera and 94% pig in Riau had antibodies against JE virus. The highest prevalence of reaktor was detected in pig of more than 4 months age in both Provinces. The results of insect collection showed that Culex tritaeniorchynchus and Culex quinquefasciatus were the most dominant species in both provinces. Based on serological testing, indicated that JE virus infected pig in Sumatera and Riau Provinces, and higher reactor was obtained in older pig. Culex tritaeniorchynchus and Culex quinquefasciatus were the dominant insect species in both provinces, hence those species had a possibility to play an important role of JE transmission.   Key words: JE, pigs, serology, insects
Effects of Gamma Irradiation on Mating Competitiveness of Male Culex quinquefasciatus (Diptera:Culicidae) in Laboratory T. Ramadhani; U.K. Hadi; S. Soviana; Z. Irawati; A. Rahayu; S Sunaryo
Atom Indonesia Vol 46, No 3 (2020): December 2020
Publisher : PPIKSN-BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/aij.2020.927

Abstract

Culex quinquefasciatus is the main vector of lymphatic filariasis in Pekalongan City. Sterile Insect Technique (SIT) can be employed as complementary vector control for filariasis. The key success of this technique depends on the ability of laboratory-reared sterile males to mate with the wild-type females. This research aimed to was to determine the mating competitiveness, fecundity and fertility of sterile males of Cx. quinquefasciatus. The pupae of Cx. quinquefasciatus were gamma irradiated at doses of 60, 70, and 80 Gy, whereas unirradiated pupae were prepared as control. The mosquitoes emerging from the irradiated pupae were found to be able to mate with normal females in the cages. Observation was done for the mean female laying eggs, the fecundity, the fertility and the mating competitiveness. The observation data were analyzed by one-way ANOVA. The results show that the irradiated Cx. quinquefasciatus at the test doses does not affect the fecundity and the mating competitiveness, but the fertility is disturbed (sterile). A dose of 70 Gy was found to be the optimum dose, which gave a fertility rate of 1.8 % (98.2 % sterile) with a value of competitiveness (C index) of 0.568. Based on these results, irradiated Cx. quinquefasciatus can be recommended for semifield application.
INDIKATOR ENTOMOLOGI DALAM PENGENDALIAN VEKTOR TERPADU (PVT) MENUJU ELIMINASI MALARIA DI KABUPATEN NUNUKAN, KALIMANTAN UTARA Sugiarto Sugiarto; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana; Lukman Hakim; Jusniar Ariati
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 17 No 2 (2018): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 17 NO.2 TAHUN 2018
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.154 KB) | DOI: 10.22435/jek.17.2.148.114-122

Abstract

ABSTRACT Nunukan Regency is one of the malaria endemic areas in North Kalimantan Province. This study aims to identify the entomology indicators in integrated vector management in Nunukan District to further be considered in achieving malaria elimination in the region. The study was carried out on Sebatik Island, Nunukan Regency, North Kalimantan Province. Data analysis was carried out descriptively. The results showed that the value of vectorial capacity (VC) calculation for An. peditaeniatus (0.008) and An. sundaicus (0.057). Entomological inoculation rate (EIR) An. peditaeniatus and An. sundaicus is 0.08 (~ 28 infective bites / person / year). It can be concluded that vectorial capacity and entomological inoculation rate can be used as an indicator of entomology of malaria transmission and malaria transmission patterns in Sungai Nyamuk Village. Intensification of vector control in an integrated manner is needed in order to accelerate malaria elimination in Nunukan District. Integrated Vector Managemen (IVM) on Sebatik Island involves cross-sectoral participation, namely from the Health Office, the Public Works Agency, the Agriculture and Livestock Services Office, the Plantation Service Office, and the active community participation approach. Keywords: Malaria, Anopheles sp, integrated vector manajemen ABSTRAK Kabupaten Nunukan merupakan satu di antara daerah endemis malaria di Provinsi Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator entomologi dalam pengendalian vektor terpadu di Kabupaten Nunukan, selanjutnya menjadi bahan pertimbangan dalam tercapainya eliminasi malaria di wilayah tersebut. Penelitian dilaksanakan di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan-Kalimantan Utara. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai penghitungan vectorial capacity (VC) untuk An. peditaeniatus (0,008) dan An. sundaicus (0,057). Nilai entomological inoculation rate (EIR) An. peditaeniatus dan An. sundaicus adalah 0.08 (~28 gigitan infektif /orang/tahun). Dapat disimpulkan bahwa vectorial capacity dan entomological inoculation rate dapat digunakan sebagai indikator entomologi penularan malaria dan pola penularan malaria di Desa Sungai Nyamuk. Intensifikasi pengendalian vektor secara terpadu sangat diperlukan dalam rangka akselerasi eliminasi malaria di Kabupaten Nunukan. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) di Pulau Sebatik melibatkan peran serta lintas sektor yaitu dari Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Perkebunan serta pendekatan partisipasi aktif masyarakat. Kata kunci: Malaria, Anopheles sp, V.C., E.I.R., pengendalian vektor terpadu
STUDI EFIKASI DAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENGGUNAAN KELAMBU BERINSEKTISIDA DI DESA SUNGAI NYAMUK, PULAU SEBATIK, KALIMANTAN UTARA jek managerxot; Sugiarto Sugiarto; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana; Lukman Hakim
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 16 No 2 (2017): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 16 NOMOR 2 TAHUN 2017
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.16.2.362.104-111

Abstract

Dalam upaya melakukan eliminasi malaria, pemerintah berusaha mengendalikan vektor penyakit tersebutmelalui pembagian kelambu berinsektisida. Dalam proses penggunaannya, pengguna kelambu jenis iniperlu melakukan pemeliharaan untuk menjamin efektifitasnya. Penelitian ini dilakukan dengan maksuduntuk menganalisis efektifitas kelambu berinsektisida terhadap nyamuk Anopheles sp. dan mengetahuipengetahuan, sikap, perilaku masyarakat terhadap penggunaan dan pemeliharaan kelambu tersebut.Penelitian dilakukan di Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan-Kalimantan Utaradengan desain cross sectional. Data efektivitas kelambu diperoleh dengan cara melakukan Bioassay ConeTest (uji efikasi) terhadap kelambu berinsektisida dan yang tidak berinsektisida di rumah tangga yang telahmenggunakan kelambu lebih dari 6 bulan. Data PSP masyarakat diperoleh dengan cara wawancaraterhadap responden terpilih dengan menggunakan kuesioner. Pengolahan dan analisis data dilakukan secaraunivariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelambu berinsektisida yang paling efektifadalah kelambu telah digunakan selama 6 bulan. Kelambu yang telah digunakan 12-24 bulan sudah mulaitidak efektif. Seluruh responden (100%) setuju dengan pembagian kelambu berinsektisida, tetapi hanya87% yang menyatakan bersedia menggunakannya. Seluruh responden (100%) melakukan pemasangan kelambu dengan benar, dan belum pernah mencuci kelambu yang dibagikan. Dapat disimpulkan bahwakelambu berinsektisida yang telah digunakan lebih dari 12 bulan sudah mulai tidak efektif dalammengendalikan vektor nyamuk Anopheles sp. Hampir seluruh responden tidak merawat/melakukanpencucian kelambu berinsektisida yang dibagikan. Dalam rangka eliminasi malaria di Desa SungaiNyamuk perlu adanya peningkatan partisipasi aktif masyarakat (perawatan kelambu) dalam upayapengendalian vektor (Anopheles sp.).
KEPADATAN DAN KARAKTERISTIK HABITAT LARVA Aedes sp. DI SEKOLAH DASAR DAERAH ENDEMIS DBD KOTA PALEMBANG R Irpan Pahlepi; Susi Soviana; Elok Budi Retnani
SPIRAKEL Vol 9 No 2 (2017)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.895 KB)

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study yang dilakukan pada186 sekolah dasar yang berada di wilayah endemis DBD di Kota Palembang. Koleksi larva Aedes spp. Menggunakan metode single larva, Pengamatan karakteristik habitat dilakukan secara visual dengan mengamati kontainer yang menjadi habitat larva Aedes spp. Tujuan penelitian ini adalah mengukur kepadatan dan mengidentifikasi spesies larva Aedes spp., menganalisis karakteristik habitat perkembangbiakan larva Aedes spp. serta hubungannya dengan keberadaan larva Aedes spp. Hasil penelitian menunjukan nilai HI sebesar 65.05%, CI sebesar 21.45 % dan BI sebesar 141 yang kesemua nilai tersebut menunjukan berisiko tinggi terjadinya transmisi DBD. Jenis larva yang dominan ditemukan yaitu Ae. aegypti (98.16%). Terdapat hubungan yang signifikan antara letak kontainer (p=0,000, R=0,016), kondisi tutup kontainer (p=0,013, R=0,076), asal sumber air (p=0,000, R=0,134), kontainer terhadap keberadaan larva Aedes sp.
KAPASITAS VEKTOR DAN LAJU INOKULASI ENTOMOLOGIS An.peditaeniatus DAN An.sundaicus DI DESA SUNGAI NYAMUK, KABUPATEN NUNUKAN, KALIMANTAN UTARA Sugiarto Sugiarto; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana; Lukman Hakim
SPIRAKEL Vol 9 No 2 (2017)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.173 KB)

Abstract

The intensity of malaria parasite transmission is normally expressed as the vectorial capacity and entomologic inoculation rate (EIR). Entomologic studies were conducted in Sungai Nyamuk Village to investigate the patterns of malaria transmission. Our study aimed to determine the vectorial capacity and entomological inoculation rate of An. peditaeniatus and An. sundaicus in endemic regions in Sungai Nyamuk Village, North Kalimantan. Mosquito collections were conducted for 18 months between August 2010 and January 2012. Mosquitoes were captured using human landing collections. A total of 5103 Anopheles mosquitoes comprising 11 species were caught and 2259 adult parous females were tested by ELISA for Plasmodium antigen. Of these, only one An. peditaeniatus (1.92%, n=52) and one An. sundaicus (0.29%, n=347) that originated from outdoor biting catch tested positive for P. falciparum circum sporozoite protein (CSP). The interval vector capacity of An. peditaeniatus (0.002-0.010) and An. sundaicus (0.010-0.069). The entomological inoculation rate of An. peditaeniatus and An. sundaicus =0.08 (~28 infective bites/person/ year). Our study concluded that transmission of P. falciparum malaria was occurring at Sungai Nyamuk Village. This research also showed that malaria transmission in Sungai Nyamuk Village occurred outdoors. Intensification of integrated vector management (IVM) of the participatory active community and vector control of outdoors Anophelines density needs to be done in success to malaria elimination.
EFEKTIVITAS KELAMBU BERINSEKTISIDA TERHADAP NYAMUK An.sundaicus (DIPTERA: CULICIDAE) DAN PENGGUNAANNYA DI DESA SUNGAI NYAMUK, KALIMANTAN UTARA Sugiarto Sugiarto; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana; Lukman Hakim
SPIRAKEL Vol 10 No 1 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.434 KB)

Abstract

Long lasting insecticide nets (LLiNs) are used in vector control programs to malaria elimination. Maintenance of LLiNs is an important factor to ensure the effectiveness of the bed nets. This study aimed to analyze the effectiveness of LLiNs against An. sundaicus and analyze knowledge, attitudes, practises (KAP). The research was conducted in the Sungai Nyamuk Village, Sebatik Sub District, Nunukan District - North Kalimantan. The method used in this research is the WHO bioassay cone test and questionnaires of KAP for the use of LLiNs. The efficacy test consists of the treatment and control groups. Treatment group was LLiNs that have been used for 6 months, 12-23 months and over 24 months, while the control group was bed nets without insecticide. The results showed that LLiNs have been used for 6 months had the highest effectiveness with mortality 24 hours and 1 hour knockdown An. sundaicus amounted to 94,13%. While LLiNs have been used for 12-23 months showed ineffective with 24-hour mortality is 71,74%, LLiNs more than 24 months (mortality 24 hours is 37,33%). KAP results showed a 100% respondents to accept the distribution of LLiNs, but not willing to wash the nets. The effectiveness of LLiNs is correlated with washing nets. The use of LLiNs to prevent malaria transmission will be effective if supported by good maintenance.
Kepadatan Nyamuk Anopheles spp. dan Korelasinya terhadap Faktor-Faktor Meteorologi di Desa Sungai Nyamuk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara Sugiarto Sugiarto; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana; Lukman Hakim
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.653 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.274

Abstract

Abstract Correlation between Man Biting Rate (MBT) and meteorologist factors is important to anticipate malaria case fluctuation. The aim of this study was to analyze the correlation between Anopheles spp. density and meteorologist factors in Sungai Nyamuk Village, a malaria endemic area in North Kalimantan. The density of Anopheles spp. was obtained from human landing collection (HLC) from 6 p.m to 6 a.m. Pearson product-moment was used to analyze the correlation between MBR and meteorologist factors. The results showed that rainfall was related to MBR and Anopheles density was related to malaria cases. However, temperature and humidity were not related to Anopheles density. Rainfall can be used as an indicator in an early warning system to anticipate malaria case fluctuation. Abstrak Korelasi antara angka menggigit Anopheles (man biting rate-MBR) dengan faktor-faktor meteorologi sangat penting untuk mengantisipasi fluktuasi kejadian kasus malaria. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi kepadatan Anopheles spp. dengan faktor-faktor meteorologi di Desa Sungai Nyamuk, daerah endemis malaria di Kalimantan Utara. Kepadatan nyamuk Anopheles spp. didapatkan dari umpan orang (human landing collection-HLC) (pengamatan 18.00-06.00). Pearson Product Moment Test digunakan untuk menganalisis korelasi antara angka menggigit Anopheles (MBR) dengan faktor-faktor meteorologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan mempunyai hubungan bermakna dengan kepadatan (MBR), sedangkan kepadatan Anopheles mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian kasus malaria. Suhu udara dan kelembaban tidak mempunyai hubungan bermakna dengan kepadatan Anopheles (MBR). Curah hujan dapat dijadikan sebagai salah satu indikator dalam penerapan sistem kewaspadaan dini untuk mengantisipasi fluktuasi kejadian kasus malaria.
Dampak Iradiasi Sinar Gamma pada Produktivitas Aedes aegypti Jantan MIRNA WATI DEWI; Susi Soviana; Umi Cahyaningsih; Ali Rahayu
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No 1 (2019): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.721 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v13i1.962

Abstract

Abstract Dengue fever is a vector-borne disease with Aedes aegypti as the main vector. Vector controls currently depended on insecticide. Considering the negative effect of insecticide, Sterile Insect Technique (SIT) was developed. This study was conducted to evaluate the effect of gamma-ray irradiation on the productivity of male Ae. aegypti. Male pupae age less than 15 hours were irradiated with 60 Gy and 70 Gy gamma-ray. When the pupae became adult, the sterile males mated with the same age females Aedes aegypti. Observation on fecundity, hatchability, and age was carried out until the second generation. Gamma-ray irradiation with the dose of 60 Gy and 70 Gy showed different effects on fecundity, egg hatchability, the emergence of the adult, and age of Aedes aegypti compared to control. Abstrak Demam berdarah merupakan penyakit tular vektor yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan secara global. Vektor utama yang berperan pada penyebaran penyakit DBD yaitu nyamuk Aedes aegytpi. Pengendalian vektor saat ini sangat bergantung pada penggunaan insektisida. Dampak negatif penggunaan insektisida menyebabkan pengembangan pengendalian vektor yang lain diantaranya yaitu Teknik Serangga Mandul (TSM). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis produktivitas Ae. aegypti jantan iradiasi hingga generasi kedua. Pupa jantan umur <15 jam diradiasi sinargamma dosis 60 Gy dan 70 Gy. Setelah menjadi nyamuk jantan dewasa segeradikawinkan dengan nyamuk betina tidak iradiasi dengan umur yang sama. Pengamatan dilakukan terutama terhadap fekunditas, daya tetas, kemunculan nyamuk, dan umurnyamuk hingga generasi kedua. Iradiasi sinar gamma dosis 60 Gy dan 70 Gymenghasilkan dampak yang berbeda terhadap fekunditas, daya tetas telur, kemunculan nyamuk dan umur nyamuk bila dibandingkan dengan kontrol.
Co-Authors . Sugiarto A. Rahayu Ali Rahayu Amalan Tomia Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Andi Atikah Khairana Andri Kurnia Anita Esfandiari Apriyanto Apriyanto Ari Tjahyadi Rafiuddin ARSHI Veterinary Letters FKH IPB Aulia Syifak Bashofi Azery Bin Kamiring Bambang Heru Budianto Bambang Heru Budianto Darminto . Darminto . Deri Kermelita Dimas Novianto Dwi Djayanti Gunandini Dwi Jayanti Gunandini Elok Budi Retnani Etih Sudarnika Ety Rahmawati Evi Sulistyorini F .X. Koesharto Fahmi Khairi Fahmi Khairi Firmansyah, Nurhadi Eko Hadi, Upik K hubullah fuadzy Husnul Khotimah Imam Hanafi Indrawati Sendow Indrawati Sendow Isfanda Isfanda Isna Lailatur Rohmah jek managerxot Jusniar Ariati Kedang, Virgilius Martin Kelake Lisa Hidayati Lukman Hakim Lukman Hakim Lukman Hakim Lukman Hakim Lukman Hakim Maharani - Martin Malole MIRNA WATI DEWI Mirnawati B Sudarwanto Mirnawati B Sudarwanto Muhammad Falikhul Musyaffa' Muhammad Nirwan Muhammad Umar Riandi Nirwan, Muhammad Nurhadi Eko Firmansyah Padang, Ardy Armando Puguh Wahyudi Putri, Tiara Annisa R Irpan Pahlepi Rahayu, Jasti Ramadhan, Charlotte Fatima Haque Ridi Arif Risa Tiuria Riski Muhammad S Sunaryo Simangunsong, Yanri Rizky Natanael Singgih Harsoyo Sigit Sophia, Hana Faizah Sri Nur Rahmi Nur Rustam Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sumiati Tomia Sunaryo Sunaryo SUPRIYONO Supriyono Supriyono Supriyono Supriyono Supriyono, Supri Surachmi Setyaningsih Surachmi Setyaningsih Sus Derthi Widhyari Syarif Hidayat Syifa Alya T. Ramadhani Tatty Syafriati Tri Ramadhani Tri Ramadhani Tri Ramadhani U.K. Hadi Ulfa Apriliana Annisa Umi Cahyaningsih Upik Kesumawati Hadi Upik Kusuma Hadi Upik Kusumawati Hadi Upik Kusumawati Hadi Upik Kusumawati Hadi, Upik Kusumawati Vina Yuliani, Vina Wendi Afriyanda Yusuf Ridwan Z. Irawati Zubaidah Irawati Zubaidah Irawati Zubaidah Irawati Zulham Zulham