TRI ASMIRA DAMAYANTI
Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB, Jln. Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, 16680

Published : 66 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Respons sepuluh kultivar mentimun (Cucumis sativus L.) terhadap infeksi Tobacco mosaic virus Mhd Rifqi Abdillah; Tri Asmira Damayanti
Agrovigor Vol 14, No 2 (2021): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v14i2.10001

Abstract

Mentimun adalah sayuran penting yang dibudidayakan secara luas di Indonesia. Baru-baru ini mentimun dilaporkan sebagai inang alami Tobacco mosaic virus (TMV), sehingga data respons mentimun terhadap infeksi TMV belum diketahui. Penelitian bertujuan menguji respons sepuluh kultivar komersial mentimun terhadap infeksi TMV. Penularan TMV melalui inokulasi mekanis dan respons mentimun terhadap infeksi TMV diukur berdasarkan peubah penyakit dan agronomi. Hasil penelitian menunjukkan waktu inkubasi berkisar dari 6.9˗12.4 hari setelah inokulasi (HSI) dengan insidensi penyakit berkisar 30-100% tergantung kultivar. Tanaman yang terinfeksi TMV menunjukkan gejala bervariasi dari mosaik ringan hingga berat. Skor keparahan berkisar dari 1.8˗3.0 dengan indeks keparahan penyakit berkisar 0.1-33.3 dan titer virus berkisar dari 0.266˗0.646. Secara umum, infeksi TMV kurang menghambat pertumbuhan tinggi tanaman, namun mengurangi jumlah daun pada kultivar Yupiter dan jumlah bunga pada kultivar Alicia F1, Baby 007 F1, Yupiter secara signifikan. Berdasarkan parameter yang diamati, kultivar Vanesa F1 dan Kancil dikategorikan sebagai kultivar tahan, kultivar Naya F1, Panda, Wulan F1, dan Yupiter dikategorikan toleran, serta kultivar Alicia F1, Baby 007 F1, Maestro, dan Monza F1 dikategorikan rentan terhadap infeksi TMV. Kultivar Vanesa F1 dan Kancil tahan dapat dimanfaatkan sebagai tetua untuk perakitan kultivar tahan TMV.
Deteksi Virus Pada Tanaman Mentimun Di Jawa Barat Nur Unsyah Laili; Tri Asmira Damayanti
Agrovigor Vol 12, No 1 (2019): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.839 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i1.5089

Abstract

Gejala infeksi virus banyak ditemukan di pertanaman mentimun di Jawa Barat. Namun, sulit membedakan virus penyebab hanya berdasarkan pengamatan gejala visual. Penelitian ini bertujuan untuk pemutakhiran data virus yang menginfeksi mentimun di Kabupaten Bogor, Karawang dan Subang, Jawa Barat. Sampel tanaman bergejala dikoleksi dari tiap lokasi. Frekuensi virus ditentukan secara serologi dengan metode DIBA (dot immunobinding assay) menggunakan antiserum Cucumber mosaic virus (CMV), Cucurbit aphid borne yellow virus (CABYV), Cucurbit green mottle mosaic virus (CGMMV), Papaya ringspot virus (PRSV), Squash mosaic virus (SqMV), Watermelon mosaic virus (WMV), dan Zucchini yellow mosaic virus (ZYMV). Deteksi asam nukleat dilakukan terhadap virus baru yang dominan dengan reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR)/PCR. Hasil deteksi menunjukkan bahwa frekuensi virus CMV, CABYV, CGMMV, PRSV, SqMV, WMV, dan ZYMV berturut-turut di Bogor mencapai 98%, 100%, 86%, 0%, 8%, 32%, dan 6%, di Subang mencapai 86%, 100%, 88%, 2%, 8%, 60%, and 46%, dan di Karawang 100%, 100%, 98%, 14%, 72%, 68%, and 64%. CMV, CABYV, and CGMMV were the most common viruses detected in three regencies, while PRSV only detected on samples from Subang and Karawang. RT-PCR/PCR  menggunakan primer spesifik atau universal belum berhasil mendeteksi CGMMV dan WMV, namun berhasil mengonfirmasi keberadaan PRSV, Polerovirus, dan Begomovirus.  Kata kunci: Cucurbitaceae, Geminiviridae, Luteoviridae, Potyviridae, Tobamovirus
SEBARAN DAN RESPON KETAHANAN LIMA KULTIVAR BENGKUANG (Pachyrhizus erosus (L.) Urban ) TERHADAP PENYAKIT MOSAIK Tri Asmira Damayanti
Agrovigor Vol 3, No 2 (2010): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v3i2.261

Abstract

The objective of this experiment was to investigate the yam bean mosaic disease spread in the fields (Bogor, Jawa Barat dan Prembun, Jawa Tengah) and to study the response of five yam bean cultivars against a mosaic disease. The cultivars were Wulung, Porselen, Kapas, Hideung and Paris. Plants were inoculated by viruliferous Aphis craccivora at 14 days after seedling. The incubation period, viral accumulation, disease incidence and severity were observed. The results showed that the mosaic disease distributes in all surveyed yam bean fields in Bogor and Prembun with incidence ranged from 14.2-100%. RT-PCR detection of the virus by using a pair of universal primer for Potyvirus was positively amplified a 1.7 kb DNA fragment, suggested the identity of the virus as a member of Potyvirus. Based on incubation periods, severity, and viral accumulation showed that cultivar from central Java is tolerant, while others are susceptible against the mosaic disease.
EFISIENSI PENULARAN VIRUS MOSAIK BENGKUANG DENGAN Aphis craccivora Koch. DAN A. gossypii Glover. Tri Asmira Damayanti; Endah Muliarti; Dewi Sartiami
Agrovigor Vol 3, No 2 (2010): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v3i2.262

Abstract

Yambean mosaic virus is the most important virus infecting yam bean in Indonesia. The virus were transmitted either mechanically or via aphid.  This study to test the transmission efficiency of the virus via A. craccivora and A. gossypii by using different number of aphid such 1, 3, 5, 7, and 10 for each treatment. To determine the transmission efficiency, incubation period, type of symptom and incidence were used as parameter. Transmission of virus by A. craccivora showed incidence range 90 to 100%, significant differences in incubation time of 1 aphid compared to other treatments and showed severe leaf mosaic, vein-banding and severe leaf malformation such as string. However, the incidence of transmission of virus by A. gossypii was range 70 to 100%, with longer incubation period in compare with A. craccivora. There was no significant differences of incubation period among treatments by A. gossypii. The infected plants showed leaf malformation, vein-banding, wrinkle and blotch on the leaves. Based on these, both aphids species could transmitted virus efficiently, and among them A. craccivora considerate has higher ability as efficient insect vector to transmit the virus in compare with A. gossypii.
Potensi Bakteri Agens Hayati untuk Menekan Infeksi Cucumber mosaic virus (CMV) pada Melon (Cucumis melo L.) Giyanto Giyanto; Iis Purnamawati; Tri Asmira Damayanti
Agrovigor Vol 12, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i2.5834

Abstract

Cucumber mosaic virus (CMV) merupakan patogen penting pada Cucurbitaceae, diantaranya melon. Pengelolaan virus di lapangan cukup sulit dilakukan. Salah satu upaya untuk menekan infeksi virus yaitu melalui penyehatan tanaman menggunakan bakteri agens hayati. Penelitian ini bertujuan menguji potensi isolat bakteri Bacillus cereus (BC), Chromobacterium haemolyticum (CH), Ralstonia pickettii (RP), dan Pseudomonas flourescens (PF) dalam menekan infeksi CMV pada tanaman melon. Pengujian pengaruh bakteri terhadap performa kecambah dilakukan melalui perlakuan perendaman benih dalam suspense bakteri di laboratorium.  Efikasi bakteri dalam menekan infeksi CMV dilakukan dengan cara perendaman benih dan penyemprotan tanaman dengan suspense bakteri dalam percobaan di rumah kaca. Pengamatan dilakukan terhadap peubah penyakit dan agronomi, dan aktivitas enzim peroksidase. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan bakteri BC menunjukkan performa kecambah terbaik di antara perlakuan bakteri lainnya. Perlakuan bakteri tidak berpengaruh terhadap masa inkubasi dan insidensi penyakit, namun secara nyata menurunkan keparahan penyakit dan akumulasi virus dibandingkan kontrol. Aktivitas enzim peroksidase lebih tinggi setelah perlakuan bakteri dan inokulasi CMV dibandingkan perlakuan sebelum inokulasi. Bakteri RP merupakan bakteri terbaik dalam menekan infeksi CMV melalui aktivitas antivirus dan induksi ketahanan dengan peningkatan aktivitas peroksidase.
Deteksi Cepat Carnation mottle virus pada Tanaman Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) [Rapid Detection of Carnation mottle virus on Carnation Plant (Dianthus caryophyllus L.)] Erniawati Diningsih; Gede Suastika; Tri Asmira Damayanti; Slamet Susanto
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n1.2017.p95-104

Abstract

Carnation mottle virus (CarMV) merupakan virus penting pada tanaman anyelir di Indonesia maupun di dunia.  Deteksi virus yang mudah dan cepat, diperlukan untuk memantau sumber induk anyelir bebas virus. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi tiga metode preparasi RNA total yang mudah dan cepat dari tanaman anyelir sebagai templat one step RT-PCR.  Sumber RNA total adalah dari daun dan batang anyelir terinfeksi CarMV. Metode yang dievaluasi yaitu SDT, SEM, dan kit komersial sebagai pembanding. Optimasi dilakukan terhadap konsentrasi akhir primer (0.4 – 1.0 µM) dan MgCl2 (1.5 dan 2.0 mM).  Metode SDT dan SEM berhasil mendapat RNA total dari tanaman anyelir baik dari sampel daun maupun batang.  Keberhasilan yang didapat dengan metode SDT dan SEM sebanding dengan kit komersial.  One step RT-PCR RNA total yang digabungkan dengan metode SDT dan SEM menghasilkan intensitas DNA yang sebanding dengan kit komersial.  RNA total dari daun sebagai sumber templat one step RT-PCR terbaik dibandingkan batang. Preparasi RNA total dengan metode SDT dan SEM adalah metode cepat, mudah, dan murah dalam menyediakan templat one step RT-PCR. Konsentrasi primer 0.4 µM dan MgCl2 2 mM merupakan konsentrasi optimum dan menghasilkan hasil amplifikasi terbaikKeywordsCarmovirus; Simple extraction method (SEM); Simple direct tube (SDT); One step RT-PCRAbstrackCarnation mottle virus (CarMV) is an important virus on carnation plants in the world, including in Indonesia. A rapid and easy virus detection is necessary to monitor the source of virus free carnation mother plant. The aim of the research was to evaluate three methods of rapid and easy total RNA preparation from carnation plants as template of one step RT-PCR. The total RNA source is from the CarMV infected leaf and stem of carnations. The evaluated method namely simple direct method (SDT), simple extraction method (SEM), and commercial kit as comparison. Optimization was performed to a final concentration of premiere (0.4 – 1.0 µM) and MgCl2 (1.5 and 2.0 mM). SDT and SEM method successfully obtained a total RNA from both leaves and stems samples. The obtained success by the SDT and SEM methods were comparable with these of commercial kit. One step RT-PCR of total RNA combined with SDT and SEM methods produced DNA intensity comparable with commercial kits. Total RNA from leaves known to be the best source of one step RT-PCR template compared to these from stem. Total RNA preparation by SDT and SEM method is a method of quick, easy, and inexpensive to provide a template one step RT-PCR. Premiere and MgCl2 concentration of 0.4 μM and 2 mM, respectively were optimum concentration and produced best amplification result.
Respons Ketahanan Beberapa Spesies Anggrek Terhadap Infeksi Odontoglossum Ringspot Virus Irwan Lakani; Gede Suastika; Tri Asmira Damayanti; N Mattjik
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p71-77

Abstract

Odontoglossum ringspot virus (ORSV) terdeteksi secara serologi dari tanaman bergejala maupun tidak bergejala pada banyak spesies anggrek yang diambil dari beberapa lokasi pertanaman anggrek di Pulau Jawa. Odontoglossum ringspot virus dilaporkan telah ditemukan pertama kali di Pulau Jawa, Indonesia. Penelitian bertujuan menguji respons ketahanan beberapa spesies anggrek komersial terhadap ORSV. Penelitian dilakukan di Rumah Kasa dan Laboratorium Virologi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dari bulan Juni sampai November 2011. Tiga belas spesies anggrek diinokulasi secara mekanis dengan ORSV dalam percobaan di rumah kaca. Peubah pengamatan yang diamati adalah waktu inkubasi, kejadian penyakit, tipe gejala, dan titer ORSV yang dideteksi secara serologi dengan ELISA. Gejala khas infeksi ORSV muncul dengan kisaran tercepat pada  4–7 hari sampai 90 hari setelah inokulasi. Gejala pada daun bervariasi seperti lesio lokal, nekrosis, klorosis, dan bercak bercincin bergantung pada spesies anggrek dengan kejadian penyakit berkisar 40–100%. Titer ORSV berdasarkan ELISA menunjukkan nilai absorbansi antara 1,5–13 kali lebih tinggi dibandingkan tanaman kontrol sehat. Data ini menunjukkan bahwa dari 13 spesies anggrek yang diuji sebanyak 61,54% dikategorikan rentan dan 38,46% dikategorikan tahan terhadap infeksi ORSV.  Hasil penelitian ini akan digunakan sebagai informasi untuk mendapatkan tanaman anggrek rentan yang dapat ditingkatkan ketahanannya dengan perlakuan asam salisilat.
Eliminasi Carnation Mottle Virus Menggunakan Senyawa Antiviral pada Kultur Jaringan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) Erniawati Diningsih; Gede Suastika; Tri Asmira Damayanti; S Susanto
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n3.2015.p229-237

Abstract

Carnation mottle virus (CarMV) merupakan salah satu virus penting pada tanaman anyelir dan semua kultivar anyelir yang ditanam di Jawa Barat terinfeksi oleh virus ini.  Penelitian bertujuan mendapatkan metode eliminasi CarMV yang efektif untuk membebaskan planlet anyelir dari virus. Inisiasi eksplant terinfeksi dilakukan pada media MSO dan perbanyakan planlet dilakukan pada media perbanyakan MS yang mengandung 1,0 ppm BA dan 0,5 ppm kinetin (MSZ). Metode eliminasi CarMV yang diuji terdiri atas perlakuan 2-thiourasil dan amantadin dengan konsentrasi masing-masing 0, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 ppm, dan ribavirin 5 ppm sebagai pembanding.  Tunas apikal planlet ditanam pada media perlakuan (MSZA).  Setelah tunas tumbuh, meristem terminal diambil 0,5 mm untuk ditanam pada media MSZ.  Kultur meristem terminal dari planlet pada perlakuan 2- thiourasil menghasilkan planlet bebas virus sebesar 0 – 57%.  Konsentrasi 2-thiourasil 25 ppm menghasilkan persentase planlet bebas virus tertinggi, namun perlakuan tersebut toksik pada tanaman.  Perlakuan amantadin menghasilkan 25,0 – 54,55% planlet bebas virus. Di antara perlakuan yang diuji, perlakuan antiviral amantadin dengan konsentrasi 5 – 30 ppm lebih optimal menghasilkan planlet anyelir bebas CarMV dan tidak toksik terhadap tanaman. Perlakuan amantadin 5 – 20 ppm mampu menghambat virus lebih tinggi dibandingkan perlakuan 2-thiourasil pada konsentrasi yang sama. Amantadin 5 – 30 ppm menghasilkan tingkat penghambatan virus sebesar 42,94 – 59,57%, sedangkan 2-thiourasil sebesar -8,18 – 63,03%. Senyawa 2-thiourasil dan amantadin berpotensi sebagai agen antiviral untuk mendapatkan tanaman anyelir bebas CarMV.
Molecular Characterization of Begomovirus on Cucumber in Java Listihani Listihani; Tri Asmira Damayanti; Sri Hendrastuti Hidayat; Suryo Wiyono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 23, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.41402

Abstract

A survey on several cucumber cultivation areas in West Java, Central Java, Yogyakarta, and East Java found many plants showing typical Begomovirus symptoms such as yellow mosaic, cupping, and vein banding. This study was aimed to determine disease frequency, detection and molecular characterization of the causal virus of those symptoms on cucumber in Java. Sampling was conducted by purposive sampling by collecting 50 symptomatic plants from each location in West Java (Indramayu, Subang, and Bogor), Central Java (Brebes and Klaten), Yogyakarta (Kulon Progo), and East Java (Nganjuk, Kediri, and Tulungagung). The detection and disease frequency was determined based on DIBA test using a specific antiserum of Tomato leaf curl New Delhi virus (ToLCNDV) and Squash leaf curl virus (SLCV). The identification of nucleic acid was conducted by PCR using specific primer of ToLCNDV and SLCV, DNA cloning, and sequencing. The results of serological detection showed the disease frequency of ToLCNDV and SLCV ranged from 92.77-100% and 78.33-93.3%, respectively. PCR using specific primer of ToLCNDV successfully amplified the coat protein gene at a size of 600 bp from all samples. Homology nucleotide and amino acid sequences among ToLCNDV Java isolate ranging from 95.6-99.2% and 99.7-100%. ToLCNDV isolates Java had highest nucleotide and amino acid sequences similarity with cucumber isolate from Klaten, Indonesia (AB613825) ranging from 96.1-98.1% and 99.7-100%, and was considered as “Indonesia” strain. SLCV not amplified on all samples by PCR using specific primer, indicating it might not present yet on cucumber in Java.
In Vitro Cultivation of Aphelenchoides besseyi Christie on Fungal Cultures Annisa Nur Imamah; Supramana Supramana; Tri Asmira Damayanti
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 24, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.42227

Abstract

White tip disease on rice caused by Aphelenchoides besseyi is categorized as emerging infectious disease in Indonesia because the disease incidence and its geographical distributionare increasing rapidly. Until presently, there is no information related with mass culture technique of Ap. besseyi in Indonesia. Thus, studies to obtain pure population of Ap. besseyi  are necessary to be conducted to support various research aspects in the future. This research is aimed to study Ap. besseyi pure mass culture technique by rearing the nematode on three fungal species. Three different fungal cultures on PDA medium, i.e. Alternaria padwickii, Fusarium semitectum, and Botrytis cinerea were tested as Ap. besseyi cultivation media. To obtain the optimum condition for nematode cultivation, the fungal cultures were incubated in three different temperature. The nematodes were surface sterilized with 0.1% streptomycin sulfate followed by washing with sterilized water before infesting the nematode into fungal culture. Subsequently, 25 sterilized nematodes were infested into 7 days old of fungal culture and incubated at 20ºC, 25ºC and 30 ºC. After 21 days, nematodes were harvested and counted the final population. Among fungal species tested as rearing medium, the best culture for Ap. besseyi reproduction was on Al. padwickii culture at 25 ºC with average final population up to 9,115 per petri dish and reproduction factor 364.6. At a 30ºC, Ap. besseyi was failed to develop its population in all the fungal cultures tested. It indicated that the optimum temperature for reproduction  of Ap. besseyi on those of  fungal  species was 20-25 ºC.
Co-Authors . Giyanto . Haryanto Abdjad Asih Nawangsih Ade Syahputra Akhiruddin Akhiruddin Anastasya Hondo Anastasya Hondo Annisa Nur Imamah Cahyati, Iwe Dewa Gede Wiryangga Selangga DEWI SARTIAMI Dita Megasari Dwi Subekti Efendi, Darda Efi Toding Tondok Endah Muliarti Erniawati Diningsih Erniawati Diningsih Erniawati Diningsih Erniawati Diningsih Farida, Naimatul Gede Suastika Gede Suastika GEDE SUASTIKA Gede Suastika Gede Suastika GEDE SUASTIKA GEDE SUASTIKA Gede Suastika Gede Suastika Giyanto Giyanto Giyanto Giyanto Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya Haerani Haerani Hagia Sophia Khairani Hamdayanty Hamdayanty HENDRA PARDEDE I Dewa Nyoman Nyana Ida Parida Imamah, Annisa Nur Imaniasita, Vidya Irwan Lakani IRWAN LAKANI Islami, Nisa Fadhila Januarsih, Vera Jati Adiputra Kartika Catur Damaiyanti Ketut Ayu Yuliadhi Kikin H Mutaqin L Pebriyeni Ladja, Fausiah T. Laras Anjarsari Lilik Koesmihartono Putra Listihani, Listihani Lulu Kurnianingsih Martha Theresia Panjaitan Melinda . Mhd Rifqi Abdillah Miftakhurohmah . MIFTAKHUROHMAH MIFTAKHUROHMAH Miftakhurohmah Miftakhurohmah MIFTAKHUROHMAH MIFTAKHUROHMAH, MIFTAKHUROHMAH Mimi Sutrawati Muhammad Fikri Hafizh Munif Ghulamahdi N Mattjik Ni Putu Pandawani Niken Nur Kasim, Niken Nur Niky Elfa Amanatillah NISA RACHMANIA MUBARIK Nur Unsyah Laili Nurfadillah NURHAJATI MATTJIK OLUFEMI JOSEPH ALABI Pratiwi, Rizky Nomi Purnamawati, Iis Purwono Purwono Putri, Maharani Mustika R Kartika RAUF, AUNU RAYAPATI ADIKESAVULU NAIDU Rita Noveriza Rita Noveriza Rizki Haerunisa S Susanto Slamet Susanto Sofranita Syifa Fitriyati SRI HENDRASTUTI HIDAYAT Sugeng Santoso Sugeng Santoso Supramana Suryo Wiyono Syaiful Khoiri TRISNA AGUNG PHABIOLA Wahyudin, Denih Wieke Mei Dina Yunita Fauziah Rahim Yunita Fauziah Rahim Yusmani Prayogo Zulfi, Fahma Zakiya