p-Index From 2021 - 2026
3.461
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia MEDIA KONSERVASI Buletin Peternakan Jurnal Peternakan Sriwijaya JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN BIOTROPIA - The Southeast Asian Journal of Tropical Biology Jurnal Pendidikan Indonesia AGRIKA Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Proceeding Buffalo International Conference Jurnal Sains Peternakan Jurnal Ilmu dan Industri Peternakan Jurnal Sain Peternakan Indonesia Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Journal of the Indonesian Tropical Animal Agriculture Jurnal Peternakan Indonesia Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan Jurnal Penelitian Pendidikan Jurnal Pertanian Terpadu Animal Production : Indonesian Journal of Animal Production Jurnal Biologi Tropis JURNAL ILMIAH PETERNAKAN TERPADU Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Sciences) Jurnal Biosilampari: Jurnal Biologi Jambura Journal of Animal Science Bulletin of Applied Animal Research Jurnal Kehutanan Papuasia (Journal of Papuasia Forestry) Jurnal Ilmu Peternakan Terapan Optima : Jurnal Ilmiah Agribisnis, Ekonomi dan Sosial Journal of Tropical Animal Science and Technology Bantara Journal of Animal Science Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Jurnal Dinamika Sosial Ekonomi IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat SINTA Journal (Science, Technology, and Agricultural) Agrivet: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian dan Peternakan International Journal of Agriculture System Jurnal Manusia dan Lingkungan Jurnal Agripet Jurnal Pertanian Terpadu Santo Thomas Aquinas Biodiversitas Journal of Biological Diversity
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Nilai Budaya Lokal terhadap Motivasi Bertani Suku Arfak di Papua Barat . Mulyadi; D.A. Iyai
Jurnal Peternakan Sriwijaya Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Peternakan Sriwijaya
Publisher : Department of Animal Sciences, Faculty of Agriculture, Sriwijaya University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.37 KB) | DOI: 10.36706/JPS.5.1.2016.3916

Abstract

Derasnya laju pembangunan menyebabkan terjadi perubahan sikap dan perilaku bertanimasyarakat Arfak sebagai suku asli yang mendiami Pegunungan Arfak, Manokwari, Papua Barat,Indonesia. Penetrasi inovasi di tengah masyarakat adat tersebut telah “mengganggu” polaketahanan pangan.Ubi jalar dan keladi sebagai bahan makanan pokok sudah berubahmengkonsumsi makanan dari beras dan fast food pabrikan.Penelitian ini adalah untuk melihat nilainilaibudaya positif yang mendukung dan nilai-nilai budaya negatif yang menghambatpembangunan pertanian pada masyarakat Arfak.Kemudian menjawab faktor-faktor yangmenyebabkan masyarakat Arfak resisten atau menolak inovasi teknologi yang masuk ke wilayahmasyarakat etnis Arfak.Peneliti menggunakan metode etnografi dan deskriptif analitis yangberpusat kepada perilaku bertani tradisional Papua. Pendekatan observasi partisipatif kepada 30Kepala Keluarga petani Suku Arfak dan konfirmasi konsep dengan informan kunci (Kepala Suku,Pendeta, dan Ketua Kelompok Tani Maju). Hasil penelitian menunjukkan terdapat nilai-nilaibudaya yang memberi motivasi bertani kepada masyarakat Arfak misalnya nilai budaya menjagakelestarian alam dan semangat bekerja di kebun seperti pengetahuan rotasi kebun, menjaga hutan,dan pola pertanian tumpangsari. Sebaliknya, ada nilai-nilai budaya yang ikut mengurangi motivasibertani seperti bekerja keras di kebun untuk masa lalu dan mempersepsikan hidup di dunia buruk.Kata Kunci: Kearifan lokal, Motivasi, Nilai-nilai budaya, Suku Arfak, Ubi Jalar
Trend Analyses of Economical and Socio-Cultural Options of Arfak Tribe Pig Farmers on Shaping Pig Farming Development in Manokwari, West Papua-Indonesia D.A. Iyai; Mulyadi .; B. Gobay
Jurnal Peternakan Sriwijaya Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Peternakan Sriwijaya
Publisher : Department of Animal Sciences, Faculty of Agriculture, Sriwijaya University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.886 KB) | DOI: 10.36706/JPS.4.1.2015.2300

Abstract

The multifunction of pigs for the Papuan are divergences and interelated. This study wasaimed to seek the objectives of keeping pigs by Arfak tribe and to find the trend relationships ofeconomical and socio-cultures components determining the development of pig farming inManokwari. A one-month field research was done at Manokwari Barat district. Quiztionaire was thetool used to record and collect the data. Snowball method was applied to chose the pig farmerparticipants and 60 respondents were participated. Several variables were quantified to measure thepercentages of socio-culture and economic objectives. The finding shown that income generation,savings barter were the subsequent components shaping the economic objectives and while organicfertilizer and biofertilizer resulted from manure were not applied yet. Although dung was frequentlyproduced and spreaded at the pig house and around backyard. Socio-culture was done in the meansof merrital prices, peaceness, gift and parties, respectively. The other findings were that thealternation of pig development indicated by herd size had positive relationship with the twomotives. Similar relationship was shown by number of aided farmers. Hence, the changes of pigfarming systems, e.g. extensive to semi-intensive and/or intensive to semi-intensive had shownweak relationship.Key words : Economical motive, social-culture motive, Arfak pig farmers, Manokwari
Sistim Perburuan dan Etnozoologi Biawak (Famili Varanidae) oleh Suku Yaur pada Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih Deny A. Iyai; A. Gatot Murwanto; A. M. Killian
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.110

Abstract

Salah satu suku yang dikenal dan merupakan etnis pesisir adalah suku Yaur yang hidup di dalam dan sekitar wilayah Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih. Beberapa satwaliar sering dimanfaatkan oleh etnis Yaur, salah satunya adalah biawak (Varanus spp.). Bagaimana berburu dan pemanfaatannya merupakan tujuan penelitian ini dilakukan. Sebanyak 15 responden dari 50 kepala keluarga telah berpartisipasi. Interview dan observasi dilakukan untuk justifikasi antara informasi dan obyek meliputi jenis biawak dan aktifitas perburuan. Hasil penelitian dinyatakan bahwa perburuan masih dilakukan secara tradisional. Sistim perburuan individu dan kelompok merupakan pola yang masih berlangsung. Jerat, parang, panah dan tombak serta tali dodeso digunakan dalam berburu. Terdapat 3 jenis jerat yaitu jerat babi, jeat tikus dan jerat melingkar. Sementara kulit adalah bagian tubuh yang sering digunakan. Hati, gigi dan lemak biawak juga digunakan. Tujuan pemanfaatan untuk kesehatan dan minyak pijat. Tifa dan opset adalah dua produk dari kulit. Daging diproses dengan pengasapan. Secara ekonomi kulit memiliki pasar yang prospektif.
Sistem, Konstrain, Sustainabilitas, dan Skenario Peternakan Ayam Kampung di Manokwari, Papua Barat B. E. Homer; D. A. Iyai; M. Sangkek
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.24-37

Abstract

Ayam kampung telah menjadi ternak primadona bagi peternak lokal Papua. Namun, usaha beternak yang dijalankan adalah masih bersifat ekstensif. Masih banyak dijumpai constraint yang menjadi factor limitasi perkembangan peternakan ayam kampung skala rumah tangga. Penelitian lapang dilaksanakan selama kurang lebih 2 (dua) bulan pada bulan Januari sampai dengan Februari 2016 pada daerah dataran rendah di Kabupaten Manokwari yang meliputi distrik Prafi, Masni, dan Warmare. Metode penelitian yang dipilih adalah metode deskriptif dengan teknik penelitian dan pengambilan sampel adalah teknik survey dan observasi dengan pola snowball sample technique. Jumlah responden yang telah dilibatkan dalam penelitian ini berjumlah 98 peternak yang terdiri dari peternakan ayam etnis Papua dan Non Papua. Sebanyak 30 pertanyaan digunakan dalam kuisioner untuk interview yang terdiri dari aspek-aspek pemeliharaan ayam kampung. Analisis data menggunakan statistika deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak ayam kampung didominasi oleh peternak etnis Non Papua dan tergolong usia produktif. Sumber matapencahariaan utama adalah sebagai Petani dengan jumlah anggota keluarga cukup kecil dan memiliki tenaga kerja per rumah tangga yang efektif. Sistim pemeliharaan secara semi-intensif dengan kandang tradisional dan bahan kandang kayu dan papan.  Tempat pakan dan minum dimiliki dalam kandang ada dengan berbagai jenis bahan yang dibuat seperti ember, gelas plastic, jerigen, alat toko, bambu, dan seng/kaleng. Pakan tambahan diberikan peternak dengan delapan kombinasi pakan dan jumlah pemberian 1-2 kg/hari dan frekuensi pemberian pagi, dan sore. Untuk air minum juga diberikan dengan air mentah, air sumur dan air masak. Permasalahan utama oleh peternak adalah penyakit, kandang/pakan dan modal usaha dan selama ini ppl yang ditemui. Penyuluhan jarang dilakukan, berkisar 1-2 kali/tahun dan peternak jarang ikut pelatihan/kursus, sehingga peternak belum merasa puas.Harapan peternak adalah bantuan bibit, kandang, obatan dan modal usaha.Kata kunci: ayam kampung, sistim peternakan, konstrain, sustainabilitas, Manokwari.
The Roles of Additive Effect between Swine Keeping Systems and Agro-Ecological Zones in Production and Socioeconomic Traits D. A. Iyai; M. Sagrim; S. Pakage; A. G. Murwanto
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 15, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.15.3.242-250

Abstract

The aim of this research was to characterize swine farming system performances tethered under different agro-ecological zones in Papua. The field study was done in Manokwari regency and involved six districts, i.e. Nothern Manokwari district, Eastern Manokari District, Western Manokwari district, Warmare district, Prafi district and Masni district. Respondents chosen were guided by local extensions, originated from 15 villages. Participatory situation analysis (PSA) was employed to approach swine farmers by using questionnaire. Swine body weights of swinelets and growers were weighed except for mature swine, body lengths and hearth girths were measured using tape. Herd number, number of swinelets, adult swine were recorded. A one-way analysis of variances was used. All data were entered in Excel and analyzed using SPPS version 10.0.. The findings shown that interaction between education and keeping systems occur on work hours and ages. Effect of education is significant on experience, location, and ethnic. In keeping systems, effect is real on experience, work hours, location, and ethnic. Interaction do not significant exist in number of swine including see middle man, visited consumer, litter size, number of farrowing and income sources.
Pengukuran Performa Produksi Ayam Pedaging pada Closed House System dan Open House System di Kabupaten Malang Jawa Timur Indonesia S. Pakage; B. Hartono; Z. Fanani; B. A. Nugroho; D. A. Iyai; J. A. Palulungan; A. R. Ollong; D. Nurhayati
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 15, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.15.4.383-389

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks performan, tingkat mortalitas, pencapaian bobot badan dan feed convertion ratio yang dicapai oleh peternak yang menggunakan closed house system dan open house system. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat mortalitas pada peternak open house system lebih baik dibanding dengan closed house system. Bobot Badan ayam pedaging pada closed house system lebih tinggi dibanding dengan open house system pada umur rata-rata umur panen 32 hari. Feed Convertion Ratio (FCR) pada peternakan closed house system lebih baik bila dibandingkan dengan open house system. Indeks performan pada peternakan dengan closed house system lebih tinggi bila dibanding dengan open house system, namun keduanya termasuk dalam kategori sangat baik.
Interaction effects of pig farming systems with educational level on performances of pig production systems in Manokwari District, West Papua-Indonesia Desni T.R. Saragih; Deny Anjelus Iyai; Hans Mamboai; Dwi Nurhayati; Maria Arim; Stepanus Pakage; Ted Suruan
Bulletin of Applied Animal Research Vol 3 No 1 (2021): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v3i1.487

Abstract

The aim of this research was to characterize pig farming system performances tethered under different agro-ecological zones in Papua. The field study was done in Manokwari regency and involved six districts, i.e. Nothern Manokwari district, Eastern Manokari District, Western Manokwari district, Warmare district, Prafi district and Masni district. Respondents chosen were guided by local extensionists, originated from 15 villages. Participatory situation analysis (PSA) was employed to approach pig farmers by using questionnaire. Pig body weights of piglets and growers were weighed except for mature pigs, body lengths and hearth girths were measured using tape. Herd number, number of piglets, adult pigs were recorded. A one-way analysis of variances was used. All data were entered in Excel and analyzed using SPPS version 10.0.. The findings shown that interaction between education and keeping systems occur on work hours and ages. Effect of education is significant on experience, location, and ethnic. In keeping systems, effect is real on experience, work hours, location, and ethnic. Interaction do not significant exist in number of pigs including see middle man, visited consumer, litter size, number of farrowing and income sources.
Peningkatan Produktivitas Sapi Potong Melalui Introduksi Pakan Konsentrat Dengan Bahan Lokal Pada Masyarakat Asli Papua: Productivity Improvement of Beef Cattle through the Introduction of Feed Concentrates to the Local Papuan Andoyo Supriyantono; Deny Anjelius Iyai; Abdul Rahman Ollong
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2020): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v1i1.126

Abstract

ABSTRACT Beef cattle is one of the livestock which is considered as a side-business by Papuan. Generally, the farming practice is extensive - they let the cattle graze freely in palm plantations or just tie them down around the house. In the last seven years, more Papuan were keeping beef cattle since the government introduced beef cattle to act as a dowry for weddings to the community. The purposes of this community service program-community empowerment learning (KKN-PPM) were (1) Optimal use of agricultural waste such as tofu waste, rice bran, cocoa peels, cassava along with its by-products as additional feeds of beef cattle; (2) Reduced dependence on an additional feed from factories. KKN-PPM was carried out in Waseki Pop, Prafi District for 67 days. KKN-PPM was commenced from provisioning to students concerning the potential of feeding; the development of feed technology; complete feed and feed concentrate. Local feed materials for making feed concentrate were rice brand (70%), stacks (16%0), the waste product of tofu (11%), salt (2%), and urea (1%). Those compositions have met the requirements of dry matter and crude protein for beef cattle. 30 students from different field studies joined the KKN-PPM program. The workload of each student was calculated based on the effective working time (EWT) which was about 288 EWT. The method of implementing KKN-PPM starts from debriefing students on campus, namely the use of potential feed; feed technology development; complete feed and concentrate. During the implementation in the field, students and their supervisors conducted technical guidance on beef cattle maintenance, concentrate processing techniques, and counseling for cattle breeders. During the KKN-PPM activities, a total of 114.4 kg of concentrate was given to 7 cows. Sustainability of the program would be reached when the government of West Papua and Manokwari district had the same program for students every year to make feed concentrate for farmers. Keywords: Feed concentrate; Local material feed; Beef cattle ABSTRAK Sapi merupakan salah satu ternak yang dijadikan usaha sambilan bagi penduduk asli Papua. Pola pemeliharaan sapi pada umumnya dilakukan secara ekstensif yaitu sapi dibiarkan berkeliaran di perkebunan kelapa sawit atau diikat di sekitar rumah. Tujuh tahun terakhir ini, masyarakat asli Papua banyak mengusahakan sapi potong setelah Bupati Manokwari dengan kesepakatan Lembaga Masyarakat Adat memperkenalkan sapi potong sebagai salah satu bentuk mas kawin. Tujuan dilaksanakan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) adalah 1. pemanfaatan secara optimal limbah pertanian untuk pakan tambahan sapi potong; 2. Berkurangnya ketergantungan pakan tambahan dari pabrik. KKN-PPM dilaksanakan selama 67 hari di Kampung Waseki Pop Distrik Prafi. Kegiatan ini diikuti oleh 30 mahasiswa secara terpadu dari berbagai bidang ilmu. Volume pekerjaan setiap mahasiswa dihitung berdasarkan Jam Kerja Efektif Mahasiswa yakni sebanyak 288 JKEM. Metode pelaksanaan KKN-PPM dimulai dari pembekalan mahasiswa di kampus yaitu pemanfaatan bahan pakan potensial; pengembangan teknologi pakan; pakan komplit dan konsentrat. Dalam pelaksanaan di lapang, mahasiswa bersama-sama dosen pembimbing melakukan bimbingan teknis pemeliharaan sapi potong, teknik membut konsentrat dan penyuluhan kepada peternak sapi. Konsentrat dibuat dari bahan-bahan lokal setempat yaitu dedak padi (70%), onggok (16), ampas tahu (11%), garam (2%) dan urea (1%). Dengan formulasi konsentrat seperti tersebut maka kebutuhan bahan kering dan protein kasar sapi potong telah memenuhi standar. Selama kegiatan KKN-PPM, total konsentrat yang dibuat sebanyak 114,4 kg yang diberikan pada 7 ekor sapi. PEMDA Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Manokwari diharapkan mempunyai program yang sama setiap tahunnya untuk mendanai kegiatan pendampingan dalam pembuatan konsentrat pada wilayah-wilayah binaannya. Kata kunci: Konsentrat; Bahan lokal; Sapi potong
Characteristics of Pigs Farming System in The Bruyadori District Biak Numfor Regency Antomina Estefina Koibur; Denny Iyai; John Arnold Palulungan
Bantara Journal of Animal Science Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/bjas.v1i2.397

Abstract

Bruyadori District Biak Numfor Regency is one of areas that supply pigs to several regions in Papua. One of the regions supplied is Nabire Regency. Pigs have a high economic value in Papuan society, because pigs can be used as savings, are very useful in customs events in Papua (paying fines, dowry) and demand for pork increases at ecclesiastical events (Christmas and Easter). This research is expected to provide an overview of the characteristics of pig farming systems in Bruyadori District, Biak Numfor District. The research method used is descriptive research method with case study techniques, the case in this study was farmers. There were 30 respondents who were taken to get data. Pig farmers in Bruyadori District are 100% Biak or Papuan indigenous tribes, and judging from their education background, it is still very low mostly only have elementary and junior high school diploma but the experience of breeding is very good, about 20 - 40 years, whereas the purpose of raising livestock as a side business, farmers have a main job as farmers and fishermen so the number of livestock ownership is still less than 1-5 pigs because the number of livestock is influenced by the number of litter size and farowing rate which is very low every year, about 1-5 pigs and the number of sow that is productive is only 1 sow. Farmers in the Bruyadori District provide feed still from the garden and household waste or food scraps from the kitchen. The maintenance system applied is an extensive and intensive maintenance system.Keywords: Bruyadori District, Biak Tribe, Pigs, Maintenance System
KAJIAN BIOFISIK LAHAN DAN PERFORMANS BISNIS PERTANIAN DATARAN TINGGI DI KABUPATEN KONSERVASI TAMBRAUW PROVINSI PAPUA BARAT Meky Sagrim; Deny A. Iyai; Stepanus Pakage; Rudolf Tukayo
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 8 No 1 (2020): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2020.8.1.1-10

Abstract

Tambrauw Regency is obliged to safeguard the policies of the central government, especially in food self-sufficiency efforts. Determine locations that have land suitability specifications for soybeans and analyze farming agribusiness as an important factor in agricultural development. The research activity was carried out in Kebar District and Senopi District. Peanut farmers are the focus of research, with the consideration that peanuts and soybeans are a family (leguminoseae). At this stage, the study of the characteristics and specifications of the Kebar District and Senopi District areas as potential areas for the development of soybean commodities was carried out. The study of the shape, pattern, type and pattern of farming, as well as the use of agricultural production facilities by the farming community is carriedout. Data and information from various branches of farming were held with community discussions in the form of FGD. Data analyzed descriptively. The results showed low availability of potassium in flat areas and forests and acidic soil pH in flat-savanna regions. The hindering area is the slope, and flat areas only lack potassium. Potential food crops to be developed are upland rice plants and yams. The results of evaluation of land suitability for horticultural plants (Peanuts, Mustard, Tomatoes and Chillies) show "quite suitable" to "according to the margins". The farming production of Kebar was dominated by agricultural commodities and provides enough income for the household economy.
Co-Authors A Yaku A. Gatot Murwanto A. M. Killian A. W. Wenda A. Yaku A. Yaku Abdul Rahman Ollong Agus I. Sumule Agus Irianto Sumule Agus Irianto Sumule Agustina Y.S. Arobaya Agustinus G Murwanto Agustinus Gatot Murwanto Aisyah Bauw Aisyah Bauw Aisyah Bauw Aisyah Bauw Alexander Yaku Alexander Yaku Alnita Baaka Alnita Baaka Andoyo Supriyantono Antomina Estefina Koibur Arwam, Hendrik Awom, Sarce Azchar Prianka P. B. A. Nugroho B. A. Nugroho B. E. Homer B. Gobay B. Hartono B. Hartono B.W.I. Rahayu Bajari, Makarius Bambang Ali Nugroho BAMBANG TJ. HARIADI Baso Daeng Bernadeta Wahyuni Irianti Bernadetha W.I. Rahayu Bernadin Gobay Budi Hartono Budi Hartono BUDI SANTOSO Chrysostomus, Hieronymus Y. D D Rahardjo D Nurhayati D Saragih, D D T.R Saragih D. Nurhayati D. Saragih Damayanti, Elok Daniel Y. Seseray Darius Trirbo Darma, Darma Desni Saragih Desni Saragih Desni Saragih Desni T.R. Saragih Desni T.R. Saragih Desni T.R. Saragih Desni Triana Ruly Saragih Diana Sawen Ditasari Amalia Djonly Woran Djonly Woran Dwi Nur Hayati Dwi Nurhayat Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati, Dwi Elfira Kariane Suawa Elieser V. Sirami Evelin Parera EVI W. SARAGIH Evi W. Saragih Fatem, Hendrik Ferawati R. Runtuboi Ferawati Runtuboi Fitri A. Arief Frandz Rumbiak Pawere FREDDY PATTISELANNO Freddy Pattiselanno Freddy Pattiselanno Gusbager, Piter H Fatem H Mofu Hanike Monim Hans Mamboai Hans Mamboai Hans Mamboai Hayati, Dwi Nur Hendrik Arwam Hendrik Burwos Hendrik Fatem Hendrik Fatem Hotlan Manik Hutabarat, Martua I. Usior Inriani, Novelin Inriani, Noveling Irba Unggul Warsono Iriani Sumpe Isti Widayati Isti Widayati J. Wajo, Muhammad Jamhari Jamhari Jasmal A Syamsu Johan F. Koibur John Arnold Palulungan Jublyana Purba Juni C. Dami Killian , A. M. Lamberthus E. Nuhuyanan Lekitoo, Marlyn N Lestaluhu, Aditya Lily Orisu Lokden, Salmon Lukas Yowel Sonbait Lusia Keworip M Arim M Baransano M Kayadoe, M M L Orisu M Lily Orisu M. Sagrim Makarius Bajari Makarius Bajari Makarius Bajari Makarius Bajari Bajari Maker, Ursula Mamboai, Hans Maria Arim Maria Arim Maria Arim MARLYN N. LEKITOO Martha Kayadoe Maya Novi Meky Sagrim Meky Sagrim Meky Sagrim Meky Sagrim Meky Sagrim Meky Sagrim Meky Sagrim Meky Sagrim, Meky Melisa Warobah Meliza Worabay Meos Dapla, Meos Michael Baransano Michael Baransano Michael Baransano Miksen M. Sangkek Muhammad Affan Mu’in Mulyadi Mulyadi Mulyadi Mulyadi Murwanto, A. Gatot Mustaqim, Aldino Ikhwanul Naibey, Rosdiana Noviyanti Noviyanti, Noviyanti Novyanti Novyanti Nuhuyanan, Lamberthus E. Nurhayati, D. O. Marani ONESIMUS YOKU Onesimus Yoku Orisu, Lily Pakage, S. Pattiselanno, Fredy Peday, Hans Purba, Jublyana Purwaningsih Rahayu, Bernadetha W.I. Rahayu, Bernadetta W. I. Randa, Sangle Y rima siburian Riskayanti Riskayanti Rizki Prasetya Rizky Arizona RR. Ella Evrita Hestiandari Rudolf Tukayo Rumbrawer, Erastus Runtuboi, Yubelince Yustencin S Y Randa S. Pakage S. Pakage S. Pakage Salosa, Yeni Sangle Y Randa Sangle Yohanes Randa Saragih, Desni Saragih, Desni T. R. Sientje D. Rumetor Silvia Laatung Sinon, Iriwi Siti Halimatus Saadiyah Stepani F. Haryati Stepanus Pakage Sudjatno, Djoko Syaranamual, Siska Syufi, Yafed T Sraun T. Marjen Taberima, Sartji Ted Suruan TEDDY LEKITOO Thimotius Sraun Trisiwi Wahyu Widayati Trisiwi Wahyu Widayati Tulalesy, Quin Vapriel A. Pattikawa Wambrauw, Hengky L. Warijo, Saul Jecklin Widayati, I. Widayati, Isti WIDODO, ALUSIUS PRATOMO EDI Wolfram Mofu Y Syufi Yafed Muyan Yafed Syufi Yafed Syufi Yaku, Alexander Yenusi, Kaleb Yigibalom, Emita Yosina Waromi Yubelince Runtuboi Yubelince Runtuboi Yubelince Yustenci Runtuboi Yusak Sada Yusak Sada Z. Fanani Zaenal Fanani Zaenal Fanani