Claim Missing Document
Check
Articles

KEINTRANSITIFAN TERBELAH PADA BAHASA BATAK ANGKOLA PADA SPOON RADIO INDONESIA Fitri Angreni Lubis; Mulyadi Mulyadi
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 1 (2019): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam teori ketata bahasan sering dirumuskan agen dipetakan ke subjek, dan pasien dipetakan ke objek.Argumen-argumen verba yang menduduki fungsi tertentu dapat bergeser menduduki fungsi-fungsi yang lain. Objek dapat menjadi subjek dalam proses sintaktik yang umum dikenal dengan pemasifan. Subjek dapat bergeser menjadi objek dalam proses sintakstik yang dikenal sebagai nirakusatif, dan argumen yang bukan pasien dapat menduduki fungsi objek dengan proses nirergatif. Pergeseran-pergeseran argumen tersebut justru ditandai pada bentuk morfologis verbanya.Pergeseran argumen bahasa Angkola pada Spoon Radio Indonesia dimarkahi dengan afiks. Pergeseran argumen dalam pemasifan dimarkahi dengan prefiks di-, tar-, dan mang-. Pegeseran penambahan argumen agen/ causer ditandai dengan sufiks –hon dan –i. Pergeseran dengan penambahan argumen bukan subjek/ causer juga ditandi dengan sufiks –hon, dan –i.
KONOTASI NEGATIF PADA EKSPRESI IDIOM HEWAN DALAM BAHASA INDONESIA DAN INGGRIS: KAJIAN SEMANTIK Nurul Nisfu Syahriy; Mulyadi Mulyadi
Literasi : Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya Vol 4, No 1 (2020): JURNAL LITERASI APRIL 2020
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.922 KB) | DOI: 10.25157/literasi.v4i1.3329

Abstract

Idiom merupakan ungkapan yang terdiri atas lebih dari satu morfem atau kata yang tidak dapat diterjemahkan secara terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan yang utuh. Idiom menjadi suatu penanda yang menandai suatu suku, kelompok, bangsa, dan lain-lain. Makna pada idiom adalah konotatif dan sulit untuk ditelusuri asal usul pembentukannya. Dengan makna yang bersifat konotatif, maka idiom dapat bernilai positif, netral, maupun negatif. Melalui tulisan ini, akan dipaparkan idiom-idiom berdasarkan nama hewan yang memiliki konotasi negatif pada bahasa Indonesia dan Inggris. Ini bertujuan untuk mengetahui idiom apa saja yang bernilai negatif pada kedua bahasa tersebut. Berdasarkan data yang didapatkan, terdapat beberapa nama hewan yang digunakan dalam mengekspresikan idiom pada kedua bahasa di antaranya: buaya, kupu-kupu, kambing, serigala, ular, ayam, tikus, kutu, harimau, sapi dan banteng, monyet, burung dan bajing. 
EMOSI DALAM BAHASA KARO: TEORI METAFORA KONSEPTUAL Janinta Br Ginting; Mulyadi Mulyadi
Linguistik : Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 5, No 1 (2020): Linguistik : Jurnal Bahasa dan Sastra
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.881 KB) | DOI: 10.31604/linguistik.v5i1.57-62

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mengkaji makna verba emosi dalam Bahasa Karo dengan Teori Metafora Konseptual . Penelitian ini fokus kepada ranah verba emosi dalam Bahasa Karo yaitu ceda ate ‘sedih’, mbiar ‘takut’, keleng ‘cinta’, merawa ‘marah’ dan meriah ukur ‘senang’. Masyarakat Karo ketika mengekspresikan atau mengungkapkan emosi dengan beberapa istilah, namun makna pada kata tersebut masih memiliki kesamaan, hanya saja tergantung pada konteks yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kata ceda ate ‘sedih’ mempunyai makna dalam konteks yang berbeda, yaitu ‘kabar duka’ dan ‘sedih’. Pada kata mbiar ‘takut’ memiliki istilah lain yaitu nggirgir. Pada kata keleng ‘cinta’ memiliki istilah lain yaitu ngena ate. Pada kata merawa ‘marah’ terdapat isitilah lain yaitu nembeh. Pada kata meriah ukur ‘senang’ terdapat istilah ntabeh dan malem ate.
CAUSATIVE CONSTRUCTION IN ASAHAN MALAY LANGUAGE: MORPHOLOGICAL CAUSATIVE ANALYSIS Muhammad Yusuf; Mulyadi Mulyadi
JOALL (Journal of Applied Linguistics and Literature) Vol 6, No 2: August 2021
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/joall.v6i2.14671

Abstract

This study attempts to describe morphological causative in Asahan Malay Language (AML). This research employed qualitative approach. This study followed the steps of data collection and data analysis. The data of this research were obtained through field linguistics method which covered direct elicitation, recording, and elicitation checking. The classified data were clarified with the native speakers of this language to improve the reliability of the data. From the analysis, it can be concluded that morphological causative construction in AML implies that the meaning of cause and effect. It is indicated by the use of suffix –kan and -i. In addition, causative markers of –kan and –i in AML can be attached to verbs, adjectives, nouns, and numerals.
The Concept of Color In Batak Mandailing Communities: Natural Semantic Metalanguage Approach Dina Amalia; Mulyadi Mulyadi
Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Budaya Asing (FBBA), Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/lensa.12.1.2022.85-99

Abstract

The concept of naming colors in each culture and language is certainly different. Color is defined as a means of expression to interpret the meaning exactly. This study was analyzed about the concept of color in the Batak Mandailing culture. The aim of the study is to describe the vocabulary of colors and their meanings in the Batak Mandailing language. The theory used in this study is the theory of Natural Semantic Metalanguage (NSM). The type of method used in this study is descriptive qualitative. The technique used is the recording and note-taking technique and to obtain the data it is done by recording the use of language, both written and spoken language. Data were collected through primary and secondary sources. Where the primary source collects library data about the names of colors. Then, secondary data was taken by conducting interviews with native speakers of the Batak Mandailing language. The results of this study indicate that there are six basic colors in the Batak Mandailing language, namely lomlom, bontar, rara, gorsing, average for green and average for blue. And the color pattern of the Batak Mandailiing language is formed by the components 'X is something' and 'X is something like this'
SUBJEK BAHASA KOREA DAN BAHASA INDONESIA Rini Prismayanti; Mulyadi Mulyadi
CARAKA Vol 8 No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/caraka.v8i2.10305

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan subjek bahasa Korea dan bahasa Indonesia berupa letak posisi subjek pada pola kalimat, kategori, dan peranan subjek. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penetilian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif komparatif. Teknik pengumpulan data berupa teknik simak dan catat. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan perbedaan subjek BK dan BI terletak pada fungsi subjek, dalam bahasa korea terdapat partikel penanda subjek sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada, posisi dalam BK S dapat berdampingan dengan P, K, dan O, sedangkan dalam BI S selalu terletak di sebelah kiri P. kategori subjek yang ditemukan berupa nomina, pronominal, dan frasa nomina. Persamaan yang ditemukan dalam peran subjek pada BK dan BI yaitu subjek berperan sebagai agen, pengalam, alat, kekuatan, dan tujuan.
WORD ORDER IN ANGKOLA LANGUAGE: A STUDY OF SYNTACTIC TYPOLOGY Jamaluddin Nasution; Mulyadi Mulyadi
Language Literacy: Journal of Linguistics, Literature, and Language Teaching Vol 6, No 1: June 2022
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara (UISU)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ll.v6i1.5184

Abstract

This study aims to discover what and how the typology of Angkola Language (AL) is in word order as well as to determine its grammatical alliance. The application of qualitative methods was carried out descriptively to this study, it means that the data analyzed and the results are in the form of a phenomenon description. The stages in this research are data collection, data analysis, and presentation of data analysis results/conclusions. The conclusion of this study is the word order, namely: (1) declarative sentences in AL are in the pattern of: a) Verb + Subject + Object for intransitive; b) Verb + Object + Subject for transitive; (2) The negation sentences have 2 patterns: a) Negation + Subject + Verb + Object; b) Subject + Negation + Verb + Object; (3) Interrogative sentences have 3 patterns: a) Subject + Verb + Object; b) Verb + Subject + Object; and c) Passive-Verb + Subject + Object; and (4) Imperative sentences have 2 patterns: a) Verb + Object (subject disappears); and b) Verb + Subject + Object (similar to a declarative sentence). In AL, the argument Agent (A) behaves the same as the argument Subject (S) and is different from the argument Patient (P); therefore, this language pattern is classified as an accusative type. It is expected that there will be a syntactic typology researches in AL which examine the syntactic typology comprehensively as an effort to preserve and maintain local/ethnic languages.
Konstruksi Kausatif Bahasa Batak Toba dan Bahasa Mandailing: Kajian Tipologis Bahasa Elza Leyli Lisnora Saragih; Mulyadi Mulyadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2576

Abstract

This research is a typology study of the Toba Batak languages and Mandailing languages. Both languages are cognate languages with similar language structure and typology. Until now, these two languages are still actively used in the North Sumatra region. This study specifically compares the causative construction in the Toba Batak language and the Mandailing language by selecting the same verbs in both languages and comparing them. This research is qualitative research. Data was pored out by speaking and listening technique. Furthermore, the data is examined using the equivalent method and the method of testing tested with triangulation techniques. The results showed that the causative in the Batak Toba language and Mandailing Language in general have the same form. Both of these languages have lexical causative, morphological causative and analytic causative. Lexical causatives in BT and BM languages have subtype (2), which is a verb subtype that is unique and subtype (3), which is a different verb in forming a causative construction. Both of these languages also recognize direct and indirect causatives. Morphological causatives in the Toba Batak language are characterized by affective causative markers (-hon), (-i), (pa- / par-), (pa-hon), and (pa-) whereas in Mandailing language are marked by causative markers (ma-kon), (pa-kon), (pa-on), (pa-), (tar-). In Batak Toba and Mandailing languages, analytical causatives are found whose construction is formed by predicates containing verbs (intransitive and transitive), adjectives, and nouns and shows causal events with two separate predicates (cause and effect). AbstrakPenelitian ini merupakan kajian tipologi terhadap bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing. Kedua bahasa ini merupakan bahasa serumpun dengan struktur dan tipologi bahasa yang mirip. Sampai saat ini, kedua bahasa ini masih digunakan secara aktif di wilayah Sumatera Utara. Penelitian ini secara spesifik membandingkan konstruksi kausatif dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing dengan cara memilih kata kerja yang sama dalam kedua bahasa serta membandingkannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data diperoleh dengan metode simak dan cakap. Selanjutnya, data dikaji dengan menggunakan metode padan dan metode agih yang diuji dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kausatif dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing secara umum memiliki kesamaan bentuk. Kedua bahasa ini memiliki kausatif leksikal, kausatif morfologis dan kausatif analitik. Konstruksi kausatif leksikal dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing memiliki subtipe (2) yaitu subtipe verba yang memiliki keunikan dan subtipe (3) yaitu verba berbeda dalam membentuk konstruksi kausatif. Kedua bahasa ini juga mengenal kausatif langsung dan tidak langsung. Kausatif morfologis dalam bahasa Batak Toba ditandai oleh pemarkah kausatif afiks (-hon), (-i), (pa-/par-), (pa—hon), dan (pa-), sedangkan dalam bahasa Mandailing ditandai oleh pemarkah kausatif (ma-kon), (pa –kon), (pa-on), (pa-), (tar-). Dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing ditemukan kausatif analitik yang konstruksinya dibentuk oleh predikat yang mengandung verba (intransitif dan transitif), adjektiva, dan nomina serta menunjukkan peristiwa kausal dengan dua predikat (sebab dan akibat) yang terpisah. 
Konstruksi Interogatif dalam Bahasa Aceh: Teori X-Bar Mukramah Mukramah; Mulyadi Mulyadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2114

Abstract

This study aims to describe the question word functional category and to frame the principle of interrogative construction structure in Acehnese by applying the X-Bar theory. The data is the utterances in Acehnese taken from the natives and the descriptive method is chosen in this research. This method is applied to find out what categories can be combined with question words in interrogative construction. This research results in the question word functional category which are the complement and complement. The function of the complement as the interrogative construction is occupied by the closed interrogative construction and open interrogative construction. Moreover, the function of the interrogative construction as complement is occupied by the echo interrogative sentences can be seen as follows: KT → (Pm) + Spes + I + Komp + Pm + (Spes + I + Komp).  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kategori fungsional kata tanya dan merumuskan kaidah struktur konstruksi interogatif dalam bahasa Aceh dengan menggunakan teori X-Bar. Data penelitian merupakan kalimat dalam bahasa Aceh yang bersumber dari penutur asli bahasa Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif menggunakan metode observasi atau wawancara. Teknik ini digunakan untuk mengetahui kategori apa saja yang dapat bergabung dengan kata tanya dalam konstruksi interogatif. Hasil ditunjukkan dengan kategori fungsi konstruksi interogatif dalam konstruksi interogatif bahasa Aceh yaitu komplemen dan pemerlengkap. Fungsi pemerlengkap sebagai konstruksi interogatif ditempati oleh konstruksi interogatif ya-tidak, konstruksi interogatif dengan kata tanya, lalu fungsi konstruksi interogatif sebagai komplemen ditempati oleh konstruksi interogatif gema/gaung tipe yang diikuti adalah: KT → (Pm) + Spes + I + Komp + Pm + (Spes + I + Komp).
Penanda Klausa Adverbial Dalam Bahasa Angkola Melani Rahmi Siagian; Mulyadi Mulyadi
MEDAN MAKNA: Jurnal Ilmu Kebahasaan dan Kesastraan Vol 19, No 2 (2021): Medan Makna Desember
Publisher : Balai Bahasa Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/mm.v19i2.3447

Abstract

An adverbial clause is a subordinate clause that serves to provide information on the main clause. The presence of an adverbial clause is not a must, but it can help create coherence in a discourse. This study aims to describe the markers of adverbial clauses in Angkola language. The method used is descriptive qualitative markers. Data collections are conducted by speaking, listening, and taking notes. The data in this study are adverbial clauses in Angkola language obtained from native Angkola speakers and also written sources obtained from Angkola language books. Data analysis was carried out by matching the data with the theory contained in the study, namely adverbial clause markers in Angkola language sentences. The results showed that there were five types of adverbial clauses in Angkola language, namely temporal clauses marked by the word dung 'after' and dompak 'when', conditional clauses marked by the word molo 'if', causal clauses (causal clause) which is marked by the word harana 'because', the purpose clause (purposal clause) which is marked by the word anso 'so that/so', and the concession clause (consessive clause) which is marked by the words bope 'although' and aha pe 'what ever'. The use of adverbial clauses can be found at the initial or final position in a sentence.