Claim Missing Document
Check
Articles

Village Level Food Insecurity Index and Regional Clustering in Muna District, Southeast Sulawesi Province, Indonesia Ridwan Kun Satria; Muhammad Firdaus; Didit Okta Pribadi; Khursatul Munibah
Journal of Applied Geospatial Information Vol 4 No 1 (2020): Journal of Applied Geospatial Information (JAGI)
Publisher : Politeknik Negeri Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.281 KB) | DOI: 10.30871/jagi.v4i1.1751

Abstract

Based on FSVA 2015, Muna District is classified as a food insecure area with a priority level of vulnerability 3 which means it tends to be high as well as being ranked 190 according to the distribution of food insecure areas in Indonesia. This study aims to (1) Compile food insecurity index for each village in Muna District, (2) Classify villages based on regional characteristics in Muna District. Data were analyzed using principal component analysis and cluster analysis. The results of the calculation of the food insecurity index showed there were 4 villages (2.6%) included in the food insecurity category (priority 1), 33 villages (21.7%) were classified as quite vulnerable (priority 2), 94 villages (61.8%) were included the category is quite resistant (priority 3), and 21 villages (13.8%) fall into the food security category (priority 4). Villages with food insecure status (priority 1) and moderately vulnerable (priority 2) mostly have low population welfare characteristics, a high ratio of non-working population, a high ratio of residents without clean water access, and a ratio of households with no waste facilities high bowel water. As a whole, Muna District tends to be food security, as seen from the number of villages in priority 3 and 4, which are greater than 50%.
Dampak Perubahan Harga Pangan terhadap Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga di Indonesia Rita Yuliana; nFN Harianto; Sri Hartoyo; Muhammad Firdaus
Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1090.54 KB) | DOI: 10.21082/jae.v37n1.2019.25-45

Abstract

EnglishThe most important people's welfare related food problem is increasing food prices. Food price induced welfare change varies by household groups, either by location (urban/rural), poverty status (poor/non-poor), and souces of incomes (agriculture/non-agricultural). The sources of the welfare change may also vary by food categories. This study aims to evaluate changes in household welfare in Indonesia by household groups and the contribution of food categories. The household welfare was measured with the Compensating Variation which was computed by using the Hicksian compensated price elasticities obtained from the estimated Linear Approximation Almost Ideal Demand System using the National Socio-Economic Survey March 2016 data. The results showed that in March 2016, welfare losses in all household groups, in urban areas higher than in rural areas, in poorer households higher than non-poor, in agricultural households higher than non-agricultural and the contribution of each food group to the decline in welfare levels varies among individual household groups. The largest contributor is food prices. Rice is the largest contributor for the rural, the poor and the agricultural households. Animal products, fruit, prepared food and beverage and cigarettes categories are the main contributors for the urban, the not poor and the non-agricultural households.IndonesianPermasalahan pangan utama yang berkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat adalah kenaikan harga pangan. Perubahan tingkat kesejahteraan akibat kenaikan harga pangan berbeda menurut kelompok seperti menurut tempat tinggal (perkotaan/perdesaan), status kemiskinan (miskin/tidak miskin), sumber utama penghasilan rumah tangga (pertanian/nonpertanian). Demikian pula kontribusi masing-masing kategori pangan terhadap perubahan tingkat kesejahteraan berbeda pada kelompok rumah tangga sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan tingkat kesejahteraan rumah tangga di Indonesia menurut kelompok rumah tangga dan kontribusi kategori pangan terhadap perubahan tingkat kesejahteraan tersebut. Perubahan kesejahteraan diukur dengan Compensating Variation berdasarkan elastisitas harga terkompensasi Hicksian yang diperoleh dari model permintaan Linear Approximation Almost Ideal Demand System dengan data Survei Sosial Ekonomi Nasional periode Maret 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Maret 2016, terjadi penurunan kesejahteraan pada semua kelompok rumah tangga, di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan, pada rumah tangga miskin lebih tinggi dari pada tidak miskin, pada rumah tangga pertanian lebih tinggi dari pada nonpertanian. Kelompok makanan berkontribusi tertinggi terhadap penurunan tingkat kesejahteraan rumah tangga secara umum. Beras berkontribusi tertinggi dalam penurunan tingkat kesejahteraan kelompok rumah tangga perdesaan, miskin, dan pertanian. Kategori pangan hewani, kelompok buah-buahan, makanan dan minuman jadi serta rokok berkontribusi tertinggi untuk kelompok rumah tangga di perkotaan, tidak miskin dan nonpertanian.
Volatilitas Harga Minyak Dunia dan Dampaknya terhadap Kinerja Sektor Industri Pengolahan dan Makroekonomi Indonesia Alla Asmara; Rina Oktaviani; nFN Kuntjoro; Muhammad Firdaus
Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.747 KB) | DOI: 10.21082/jae.v29n1.2011.49-69

Abstract

EnglishFluctuations of oil prices generally affect performance of manufacturing sectors and macroeconomic condition in Indonesia. The purpose of this study is to analyze the volatility of international oil prices and its impact on manufacturing sectors and macroeconomic performance. The analytical methods used are the ARCH-GARCH model and Recursive Dynamic CGE. Volatility of international oil prices tends to vary over time (time varying) and increases. In addition, the impacts also vary among industries. Volatility of world oil prices has a tendency to provide negative influence on the Indonesian manufacturing sectors and macroeconomic performance. Nevertheless, advanced durability against shock volatility performed by the manufacturing sector tending to have linkages with the agricultural sector, such as processed food, fertilizer and pesticide. IndonesianFluktuasi harga minyak dunia seringkali mempengaruhi kinerja sektor industri pengolahan dan kondisi makroekonomi Indonesia. Berangkat dari pemikiran tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis volatilitas harga minyak dunia dan dampaknya terhadap kinerja sektor industri dan makroekonomi. Metode analisis yang digunakan adalah model ARCH-GARCH dan CGE Recursive Dynamic. Harga minyak dunia menunjukan volatilitas yang cenderung bervariasi antarwaktu (time varying) dan terus meningkat. Volatilitas harga minyak dunia tersebut memberikan pengaruh yang berbeda-beda bagi setiap industri. Namun demikian, volatilitas harga minyak dunia tersebut cenderung memberikan pengaruh negatif terhadap kinerja sektor industri dan makroekonomi Indonesia. Daya tahan yang lebih baik terhadap shock volatilitas harga minyak dunia ditunjukan oleh sektor industri yang cenderung memiliki keterkaitan yang kuat dengan sektor pertanian seperti terjadi pada sektor industri makanan olahan dan industri pupuk dan pestisida.
Dampak Dana Dekonsentrasi Kementerian Pertanian dan Pengeluaran Daerah pada Sektor Pertanian Terhadap Kinerja Pertanian Daerah nFN Sumedi; Pantjar Simatupang; Bonar M. Sinaga; Muhammad Firdaus
Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v31n2.2013.97-113

Abstract

EnglishEffectiveness of agricultural development program is interesting along with its unfinished program targets, such as food security, strategic commodities self-sufficiency, regional autonomy. This study aims to analyze impacts of deconcentration fund, assistance task, and local government budget for agricultural sector on Regional Gross Domestic Product (RGDP) enhancement and labor absorption. This study uses panel data at provincial from 2005 to 2010. Analysis method employed in this study was a 2-SLS approach. The results reveal that government budget allocation is not effective in creating added value for agricultural sector. Based on its elasticity and multiplier value, deconcentration fund is more effective than those of local government bugdet for agricultural sector.  Positive relationship between RGDP and employment enables autogrowth in agricultural sector.  Improving budget effectiveness is the key to agricultural development success. Related with autonomy and strategic role of agricultural sector, it is necessary to reexamine the decentralization of this sector especially food security, diversification, and strategic food distribution. Budget effectiveness enhancement could be implemented through a synergy from program planning to its implementation and/or clear separation of tasks and responsibility. A good master plan and a good blueprint are prerequisites for integrated development program between the central and local governments.IndonesianIsu tentang efektivitas program pembangunan pertanian makin penting untuk dibahas, dalam situasi banyaknya target program pembangunan pertanian yang belum tercapai, seperti ketahanan pangan, swasembada pada komoditas strategis, dan otonomi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak alokasi anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan  serta APBD sektor pertanian dalam meningkatkan PDRB dan penyerapan tenaga kerja. Data yang digunakan adalah data  panel tingkat  provinsi, tahun 2005-2010. Analisis menggunakan metode estimasi panel data instrumental variable 2sls. Hasil analisis menunjukkan bahwa alokasi anggaran pemerintah memiliki efektivitas yang rendah dalam penciptaan nilai tambah sektor pertanian. Secara relatif, dari nilai elastisitas maupun nilai multiplier pengeluaran pemerintah, efektivitas dana dekonsentrasi lebih besar dibandingkan dengan APBD sektor pertanian. Hubungan positif antara PDRB dan penyerapan tenaga kerja memungkinkan terjadinya autogrowth pada sektor pertanian. Peningkatan efektivitas anggaran merupakan kunci dari keberhasilan pembangunan pertanian. Terkait dengan otonomi dan peran strategis sektor pertanian, perlu ditelaah kembali posisi sektor pertanian sebagai urusan yang diserahkan kepada daerah, terutama yang menyangkut aspek ketahanan pangan, diversifikasi, dan distribusi pada komoditas strategis. Upaya meningkatkan efektivitas anggaran dapat dilakukan dengan sinergi mulai dari perencanaan sampai implementasi program dan/atau pemilahan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Keberadaan masterplan dan blueprint yang baik dapat membantu terwujudnya program pembangunan yang padu antara pusat dan daerah.
STRATEGI PENGEMBANGAN PERIKANAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI WILAYAH DI JAWA TIMUR Hakim Miftakhul Huda; Yeti Lis Purnamadewi; Muhammad Firdaus
EKUITAS (Jurnal Ekonomi dan Keuangan) Vol 18 No 3 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya(STIESIA) Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.057 KB) | DOI: 10.24034/j25485024.y2014.v18.i3.155

Abstract

Subsektor perikanan di Jawa Timur mempunyai potensi yang besar baik perikanan laut, darat maupun pengolahan ikan. Namun pengembangan perikanan sejauh ini belum memberikan kontribusi yang besar dalam perekonomian di Jawa Timur. Pengembangan perikanan secara terintegrasi diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pembangunan ekonomi wilayah di Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan menentukan strategi pengembangan perikanan di Jawa Timur berdasarkan pendekatan sektoral dan spasial. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, shift share analysis dan analisis tabel input output. Subsektor perikanan laut memberikan kontribusi nilai tambah perikanan terbesar dibandingkan subsektor perikanan darat dan pengolahan ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan ikan mempunyai indeks daya penyebaran yang tinggi, keunggulan dalam pembentukan output, peningkatan pendapatan dan menciptakan lapangan kerja serta termasuk subsektor yang berpotensi besar untuk dikembangkan di Jawa Timur. Prioritas pengembangan perikanan secara spasial sebaiknya difokuskan pada daerah yang mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi subsektor perikanan yaitu Kabupaten Lamongan, Banyuwangi, Pamekasan, Trenggalek dan Pacitan serta didukung  oleh daerah yang hanya unggul secara kompetitif atau spesialisasi.
Strategi Bersaing Perusahaan Taksi Dalam Menghadapi Perubahan Lingkungan Ahmad Saifi Athoillah; Muhammad Firdaus; Bunasor Sanim
CAPITAL: Jurnal Ekonomi dan Manajemen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.861 KB) | DOI: 10.25273/capital.v3i1.5060

Abstract

This study aimed to analyze the satisfaction of taxi passengers, analyze the internal and external factors in PT A and formulate the competitive strategy with conventional taxi competitor and online taxi companies. The scope og this research is specifically focused on the competitive staretgy at strategic business unit level. This study is uses quantitative and quantitative descriptive approach. Data analysis techniques used are porter five score model, IFE, EFE, IE and QSPM. The results of this study on the analysis of IFE, PT A shows that the highest strength is on a strong, strategic distribution network of taxi in big cities. Meanwhile, the highest threat is standardization of tariff, number of taxi, and minimum identify of online taxi. Furthermore, IE matrix analysis shows that PT A is in quadrant I (grow and build strategy). The decision making stage with QSPM matrix has the order of strategic prority as follows: forward integration, backward integration, horizontal integration, product development, market penetration, and market development.Keywords: EFE, IFE, IPA, QSPM, competitive strategy
Perkembangan Konversi Lahan Pertanian Beririgasi dan Dampaknya terhadap Penguasaan Lahan Petani di Daerah Irigasi Jatiluhur Jawa Barat Heri Rahman; Yusman Syaukat; M Parulian Hutagaol; Muhammad Firdaus
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2020.004.02.16

Abstract

Lahan pertanian beririgasi di Daerah Irigasi Jatiluhur merupakan penghasil padi tertinggi di Jawa Barat dan penyumbang bagi padi nasional. Namun telah terjadi konversi lahan selama kuran waktu enam tahun sebesar  0,0082 atau terjadi penurunan luas lahan per tahun  rata-rata 1.826,08 hektar dengan hasil rata-rata 5 ton per hektar  maka kehilangan produksi padi sebesar 18.260,80 ton per tahun. Kondisi ini  menjadi ancaman dan sekaligus tantangan bagi peran DI Jatiluhur dalam menghasilkan padi.  Saluran Induk Tarum Barat memiliki konversi lahan yang tinggi dibandingkan dengan kedua Saluran Induk lainnya. Dampak konversi lahan terhadap para petani adalah status petani lebih banyak berubah menjadi petani penggarap karena tidak memiliki lahan dan semakin menyempitnya kepemilikan lahan menjadi < 0,5 hektar.  Petani yang  banyak terjadi  perubahan  akibat dampak konversi lahan berada di Saluran Induk Tarum Barat dengan tingkat konversi lahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua Saluran Induk lainnya.Kata kunci: Konversi lahan, Lahan pertanian beririgasi, Jatiluhur, Padi
PORTOFOLIO DAN KINERJA BISNIS PERIKANAN DI PERUM PERIKANAN INDONESIA Lani Pujiastuti; Muhammad Firdaus; Deni Achmad Soeboer
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 2 No. 2 (2018): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.575 KB) | DOI: 10.29244/core.2.2.161-171

Abstract

Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya perikanan dan pengembangan sistem bisnis perikanan menjadi tantangan bagi Perum Perikanan Indonesia sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perikanan. Guna menangkap peluang tersebut diperlukan pemetaan portofolio bisnis untuk mempertimbangkan prioritas alokasi sumberdaya finansial dan evaluasi kinerja perusahaan untuk menilai efektifitas dan efisiensi operasional sebagai bahan pengambilan keputusan oleh manajemen. Pengalaman masa lalu bahwa 4 perusahaan BUMN sektor perikanan memiliki kinerja keuangan yang buruk dan kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya sehingga dilakukan penggabungan pada tahun 1998 (Tenny et al 2007). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi porfotolio tiga bisnis utama Perum Perikanan Indonesia (perikanan tangkap, perikanan budidaya dan jasa pelabuhan perikanan) dan mengevaluasi kinerja keuangan tahun 2013 sampai dengan 2017. Analisis portofolio menggunakan Matriks Boston Consulting Group (BCG) untuk menentukan posisi setiap unit bisnis dalam sebuah diagram berdasarkan pangsa pasar relatif dan pertumbuhan pasar. Analisis rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kinerja keuangan dari aspek likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Usaha perikanan tangkap berada pada kuadran tanda tanya atau perlu alokasi sumberdaya finansial tambahan untuk meningkatkan pangsa pasar agar mampu menempati kuadran bintang, usaha jasa pelabuhan perikanan berada pada kuadran sapi perah atau menjadi penghasil kas untuk mendanai bisnis lainnya, sedangkan usaha perikanan budidaya berada pada kuadran anjing atau posisi lemah sehingga disarankan untuk mengurangi alokasi sumberdaya finansial pada bisnis tersebut. 2) Rasio profitabilitas cenderung menurun menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan upaya efisiensi melemah, rasio solvabilitas meningkat tajam pada tahun 2017 menunjukkan peningkatan beban utang atau kewajiban perusahaan kepada pihak lain, dan rasio likuiditas cenderung menurun menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi utang atau kewajiban jangka pendek melemah.Kata kunci: Bisnis Perikanan, Portofolio Bisnis, Kinerja Keuangan, BUMN.
TRANSMISI HARGA ASIMETRI DALAM RANTAI PASOK BAWANG MERAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN IMPOR DI INDONESIA: STUDI KASUS DI BREBES DAN JAKARTA Januar Arifin Ruslan; Muhammad Firdaus; Suharno .
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 10 No 1 (2016)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30908/bilp.v10i1.33

Abstract

Disparitas harga bawang merah di tingkat petani dan konsumen sangat besar. Penelitian ini menganalisis transmisi harga dalam rantai pasok bawang merah dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi transmisi harga serta menganalisis hubungan antara harga bawang merah impor terhadap harga produsen dan harga konsumen bawang merah. Penelitian ini menggunakan model Houck dan Error Correction Mechanism (ECM) serta uji kointegrasi dan kausalitas jangka panjang. Data yang digunakan merupakan data bulanan pada petani, pedagang grosir, pengecer di Kabupaten Brebes dan Kota Jakarta serta harga bawang merah impor selama Januari 2008 sampai Desember 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hubungan petani-grosir terjadi asimetris harga dalam jangka pendek karena terkait dengan biaya penyesuaian, sedangkan grosir-pengecer terjadi asimetris dalam jangka panjang karena terkait dengan penyalahgunaan kekuatan pasar. Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya peran dari harga impor bawang merah dalam penentuan harga bawang merah di tingkat produsen dan konsumen. Kebijakan harga plafon (ceiling price) dan harga dasar (floor price) diharapkan dapat menghindari perilaku eksploitasi yang dilakukan pedagang perantara. Shallot, as a potential commodity in Indonesia, has a large price disparity between the farmer and the consumer prices. The price disparity is also linked to the price of shallots import. This research analyzes the price transmission of shallots during its supply chain, discusses the factors influencing the price transmission, and also investigates the relationship between the price of import and the price of producer-and-consumer.This research uses the Houck Model, Error Correction Mechanism (ECM), cointegration test and longrun causality test.The data were monthly price data of farmers, wholesalers, and retailers in Brebes regency and Jakarta; and prices of shallot import  during January 2008 to December 2014.The results showed that the relationship between farmer and wholesale was asymmetric in the short term of price transmission, even in the long term of transmission wholesalers and retailers was also having asymmetric relationship. The asymmetric price transmission in the short term was related to adjusment cost while the asymetric price transmission in the long term indicated the abuse of market power. This study reveals the important role of price import in the farm and retailer prices. It is suggested to set up ceiling price and floor price in order to avoid the exploitative behavior of middlemen.
Competititve strategy of taxi company in facing environmental changes Ahmad Saifi Athoillah; Muhammad Firdaus; Bunasor Sanim
BISMA (Bisnis dan Manajemen) Vol. 12 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2143.624 KB) | DOI: 10.26740/bisma.v12n1.p66-87

Abstract

This study aims to analyze the satisfaction of taxi passengers, the internal and external factors in PT XYZ and formulate the competitive strategy with conventional taxi competitor and online taxi companies. The scope of this research is specifically focused on the competitive strategy in strategic business unit level. This study uses quantitative descriptive approach. The data analysis techniques used are IFE, EFE, IE, and QSPM. The result of this study on the analysis of EFE, PT XYZ shows that the highest strength is on a strategic distribution network of taxi in big cities. Meanwhile, the highest threats are standardization of tariff, number of taxi, and minimum identity of online taxi. Furthermore, IE matrix analysis shows that PT XYZ is in quadrant I (grow and build strategy). The decision making stage based on QSPM matrix has the order of strategic priority as follows: forward integration, backward integration, horizontal integration, product development, market penetration, and market development.KeywordsEFE; IFE; IPA; QSPM; strategy competitive
Co-Authors ., Harianto Abdul Munif Achmad Fachruddin Adwirman Adwirman Agung Hendriadi Agus Maulana Ahmad Saifi Athoillah Akhmad Fauzi Alla Asmara Aminah, Mimin Amiruddin Saleh Ana Yuliana Jasuni Andriyono Kilat Adhi Anna Fatchiya Ares Gusti Nugraha Arief Hartono Arief Nur Rakhman Asep Kurnia Hidayat Atang Sutandi Auguar Auguar Baba Barus Baban Sarbana Bambang Juanda Bernhard Brummer Bimoseno Sepfrian Bonar M Sinaga Bonar M. Sinaga Budi Kurniawan Bunasor Sanim Dea Amanda Dede Dirgahayu Dedi Budiman Hakim Dedi Walujadi Deni Achmad Soeboer Denis Muba Pandapotan Simanihuruk Dennis Nugroho Prakoso Dewi Siska Dian Verawati Panjaitan Didit Okta Pribadi Dodik Ridho Nurrochmat Dwi W Idaman Dwi Widodo Primantoro Dwi Yandhi Edi Sukmadirana Eka Rudiana Eko Purwo Santosa Ernan Rustiadi Fajri Ryan Isnandar Fuza Ganjar Priadi Gelar Satya Budhi Gemanta Furi Bangun Gilang F Ramdhan Grace S Saragih Hadiwiyono Hadiwiyono Hakim Miftakhul Huda Hartono, Arif Hastuti Hastuti Hastuti Hendrio Fadly Heny Kuswanti Suwarsinah Heri Rahman Hermanto Siregar Idha Widi Arsanti Idqan Fahmi Iik Yani Hidayati Inda Dwi Setiawati Indra Gunawan Indra Gunawan Insan Kurnia Intan Apriadi Iwan Fathi Fauzan Jan Piter Sinaga Januar Arifin Ruslan Khursatul Munibah Kikin H Mutaqin Kudang Boro Seminar Lani Pujiastuti Leo Cahya Trias Putra Rachman Lukytawati Anggraeni M Parulian Hutagaol M. Parulian Hutagaol Muhamad Ferdian Saputra Muhammad Iqbal Mulya E. Siregar Mulya E. Siregar Naafi Fatimah Harwanti Nasrudin Netti Tinaprilla nFN Kuntjoro nFN Sumedi Pantjar Simatupang Perdana Wahyu Santosa Purwanto, Budi Purwono Nugroho Purwono Purwono Rangga Wisanggara Renaldo Prima Sutikno Ridwan Kun Satria Rika S Dewi Rina Oktaviani Rina Oktaviani Riska Pujiati Rita Yuliana Roy Sembel Ruri Risnawati Said Said Saputra, Muhamad Ferdian Setia Hadi Setia Murningsih Sharah Gita Kalila Lubis Siti Nurkomariyah Sri Hartoyo Sri Mulatsih Suharno Syifa Putri Kusumaningrum Tanti Novianti Tb. Nur Ahmad Maulana Trias Andati Trias Andati Tyas D Djuanda Udi Kusdinar Wawan G Gunawani Widyastutik Yandra Arkeman Yeti Lis Purnamadewi Yusman Syaukat