Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Kebiasaan Mencuci Tangan, Frekuensi Mandi, Kebersihan Pakaian Dan Tempat Tidur Dengan Keluhan Scabies Pada Santri Di Pondok Pesantren Hubulo Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango: The Relationship Between Handwashing Habits, Bathing Frequency, Clothing and Bedding Cleanliness and Scabies Complaints Among Students at the Hubulo Islamic Boarding School, Tapa District, Bone Bolango Regency Nur Hairunnisa Abaidatai; Laksmyn Kadir; Moh. Rivai Nakoe
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 10: Oktober 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i10.8861

Abstract

Keluhan scabies pada santri putra maupun putri yaitu mengalami gatal-gatal pada malam hari selain itu gatal tersebut menyebar dengan cepat diantara para santri yang kemungkinan disebabkan karena adanya kontak antar santri. Pihak pesantren mengatakan bahwa ada lebih dari 50 santri yang terkena penyakit scabies. Faktor yang berperan dalam tingginya prevalensi scabies pada pondok pesantren adalah personal hygiene seperti kebiasaan mencuci tangan, frekuensi mandi, kebersihan pakaian dan kebersihan tempat tidur. Para santri yang malas mencuci tangan setelah beraktifitas, mandi hanya sekali sehari, berbagi alat pribadi dengan yang lain dan jarang menjemur tempat tidur. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan kebiasaan mencuci tangan, frekuensi mandi, kebersihan pakaian dan kebersihan tempat tidur dengan keluhan scabies pada santri di pesantren Hubulo. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini 255 santri dan sampel yang diambil untuk penelitian ini adalah 163 santri. Data di analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi squere. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel yang berhubungan dengan keluhan scabies adalah kebiasaan mencuci tangan (p=0,000), frekuensi mandi (p=0,000), kebersihan pakaian (p=0,000) dan kebersihan tempat tidur (p=0,000). Disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan mencuci tangan, frekuensi mandi, kebersihan pakaian dan kebersihan tempat tidur dengan keluhan scabies pada santri. Saran bagi santri untuk menjaga kebersihan diri dan tidak berbagi alat-alat pribadi dengan orang lain. Bagi pesantren untuk memberikan edukasi atau penyuluhan pada santri.
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Tinnitus Subjektif Pada Pekerja Bagian Produksi Di Industri Meubel Pt. Faninda Jaya: Analysis Of Factors Associated With Subjective Tinnitus In Production Workers In The Furniture Industry At Pt. Faninda Jaya Atila Balgis Masiaga; Laksmyn Kadir; Tri Septian Maksum
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 11: November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i11.9218

Abstract

Tinnitus subjektif merupakan persepsi suara yang tidak berhubungan dengan bunyi fisik, dan hanya dapat didengar oleh individu yang mengalaminya. Faktor risiko keluhan tinnitus subjektif bisa bersumber dari faktor individu maupun faktor pekerjaan. Faktor individu yakni usia, jenis kelamin, penggunaan obat, tekanan darah, kebiasaan merokok, dan kesehatan mental. Faktor pekerjaan ialah intensitas bising, masa kerja, lama kerja, pemakaian Alat Pelindung Telinga, dan paparan getaran. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor yang hubungan dengan keluhan tinnitus subjektif pada pekerja bagian produksi di industri meubel PT. Faninda Jaya. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pekerja di bagian produksi industri meubel PT. Faninda dengan penentuan sampel menggunakan Sampling jenuh (exhaustive sampling) yang berjumlah 52 orang. Analisis data menggunakan uji chi square dengan tingkat kesalahan (?) = 5%. Hasil penelitian diperoleh nilai signifikansi faktor intensitas bising (p-value = 0,025), faktor tekanan darah (p-value = 0,691), faktor masa kerja (p-value = 0,002), faktor lama kerja (p-value = 1,000), dan faktor usia (p-value = 0,009). Simpulan ada hubungan faktor intensitas bising, masa kerja, dan usia dengan keluhan tinnitus subjektif pada pekerja bagian produksi industri meubel PT. Faninda Jaya. Dan tidak ada hubungan faktor tekanan darah dan lama kerja dengan keluhan tinnitus subjektif pada pekerja. Disarankan bagi pemillik PT. Faninda Jaya untuk mengelola manajemen K3 lebih baik, bagi pekerja untuk lebih menyadari kesehatan dan keselamatan di tempat kerja.
Hubungan Lima Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyakarat Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Tengah: The Relationship Between the Five Pillars of Community-Based Total Sanitation and the Incidence of Diarrhea in Toddlers in the Working Area of ??the Central City Health Center Nurul Tasya Rahmadewi Talalu; Yasir Mokodompis; Laksmyn Kadir
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 11: November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i11.9321

Abstract

Sanitasi dasar adalah sanitasi rumah tangga meliputi sarana buang air besar, sarana pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga. Berbasis masyarakat adalah kondisi yang menempatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan dan penanggung jawab dalam rangka menciptakan meningkatkan kapasitas masyarakat, Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan antara perilaku buang air besar, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan limbah cair dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kota Tengah tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling dengan rumus slovin. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita di wilayah kerja Puskesmas Kota Tengah. Analisis uji statistic yang digunakan uji chi-square. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa p-value untuk variable STOP BABS (p-value=0.016), CTPS (p-value=0.005), pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga (p-value=0.024), PSRT (p-value=0.027) dan pengelolaan limbah cair rumah tangga (p-value=0.005) yang siginfikan bahwa terdapat hubungan antara lima variabel terhadap kejadian diare pada balita. Simpulan STOP BABS, CTPS, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan air limbah cair rumah tangga terdapat hubungan yang signifikan dengan kejadian diare pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Kota Tengah, disarankan kepada masyarakat yang memiliki Balita agar lebih memperhatikan hygiene dalam rumah tangga.
FACTORS ASSOCIATED WITH SYMPTOMS OF GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE AMONG MEDICAL STUDENTS OF UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO Andi Nurmala Putri Arkani; Laksmyn Kadir; Ayu Rofia Nurfadillah
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 3 No. 1 (2026): Vol. 3 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v3i1.1974

Abstract

Disgestion is a very important process for the health and well-being of the body, if it s not properly managed, it can increase the risk of more serious health problems, one of which is Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Risk factors that may contribute to the development of GERD include poor dietary pattern, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and academic stress. This study employs an analytical and approach using a quantitative method with a cross-sectional design. The population and sample consisted of 106 students selected using purposive sampling. Data analysis was conducted using a univariate and bivariate analyses. The chi-square test result showed that dietary pattern, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and academic stress had a significant association with GERD symptoms, with p-values < 0,05. It is recommended that students pay attention to dietary patterns, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and manage stress properly to achieve better health. For the Faculty of Medicine, it is recommended that education be provided regarding the importance of maintaining stundent health, particularly in relation to dietary patterns, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and stress management. Future researchers are encouraged to further develop follow-up studies on factors associated with GERD symptoms.
Pemetaan Penyebaran Kasus Penyakit Sifilis di Kota Gorontalo Tahun 2024: Mapping the Distribution of Syphilis Cases in Gorontalo City in 2024 Sinar Dahlia; Laksmyn Kadir; Nikmatisni Arsad
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 12: Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9723

Abstract

Penyakit menular seksual (IMS), termasuk sifilis, merupakan masalah besar dalam kesehatan masyarakat yang terus meningkat. Sifilis dapat menular melalui hubungan seksual yang tidak aman dan dapat menyebabkan dampak serius pada kesehatan manusia. Sistem informasi geografis berkontribusi siginifikan dalam pemetaan penyakit menular, yang merupakan masalah kesehatan serius di indonesia. Melalui SIG, visuaisasi data dapat dilakukan dengan menyusun peta yang menunjukkan sebaran penyakit dan kasus-kasus di seluruh wilayah, memungkinkan identifikasi daerah dengan prevalensi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemetaan pola penyebaran kasus sifilis berdasarkan SIG menurut lokasi geografis di kota Gorontalo tahun 2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sampel penelitian ini berjumlah 65 kasus sifilis yang diambil dengan menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat 3 puskesmas yang memiliki kasus tertinggi, berdasarkan kelompok usia menunjukkan usia 20 – 24 tahun yang mencatat kasus tertinggi, berdasarkan jenis kelamin perempuan yang memiliki angka kasus tertinggi, bulan januari dan juni mencatat kasus tertinggi, kelompok yang sudah menikah memiliki kasus lebih tinggi daripada yang belum menikah, berdasarkan tingkat tingkat pendidikan, SMA memiliki angka kasus tertinggi dan berdasarkan pekerjaan IRT mencatat kasus tertinggi dibanding pekerjaan yang lain. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peta persebaran kasus sifilis di Kota Gorontalo yaitu kecamatan hulontalangi, kecamatan dungingi dan mencatat kasus paling tinggi sedagkan kasus terendah ada dikecamatan Kota Barat.
Pengaruh Etika Tenaga Kesehatan Terhadap Pelayanan Pasien Di Puskesmas Tilango: The Influence of Health Worker Ethics on Patient Services at Tilango Community Health Center Anisa Huruji; Laksmyn Kadir; Nikmatisni Arsad
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 1: Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i1.10322

Abstract

Etika tenaga kesehatan merupakan dasar penting dalam meningkatakan mutu pelayanan pasien dipuskesmas, penerapan etika yang baik seperti autonomy, benefience, non-maleficience dan justice dapat menciptakan hubungan profisional yang postif antara tenaga kesehatan dan pasien serta meningkatakan mutu pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh etika tenaga kesehatan terhadap pelayanan pasien di Puskesmas Tilango. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectiona. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien JKN dari bulan juli-agustus sebanyak 1.088 orang, dengan sampel 292 responden yang di pilih menggunakan teknik accidental sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa etika tenaga kesehatan berpengaruh signifikan terhadap pemberian pelayanan pasien di Puskesmas Tilango dengan nilai uji statistik yang di dapatkan p-value=0,000<?=0,05. Dapat disimpulkan bahwa etika tenaga kesehatan berpengaruh signifikan terhadap pelayanan pasien di Puskesmasmas Tilango. Disarankan agar Puskesmas Tilango mempertahankan dan meningkatakan penerapan etika tenaga kesehatan. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas wilayah penelitian yang tidak hanya di satu puskesmas.
Gambaran Konsumsi Makanan Siap Saji, Minuman Siap Saji, Dan Kecukupan Zat Besi Pada Anak Obesitas Di SDN 56 Kota Timur Kota Gorontalo : Overview of Consumption of Ready-to-Eat Food, Ready-to-Eat Drinks, and Iron Adequacy in Obese Children at SDN 56 Kota Timur, Gorontalo City Nuryaningsih Yusup; Sunarto Kadir; Laksmyn Kadir
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 2: Februari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i2.10619

Abstract

Obesitas pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat dan dapat berdampak terhadap risiko penyakit kronis di masa mendatang. Salah satu faktor penyebabnya adalah pola konsumsi makanan dan minuman siap saji yang tinggi, disertai rendahnya asupan zat gizi mikro seperti zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsumsi makanan siap saji, minuman siap saji, dan kecukupan zat besi pada anak obesitas di SDN 56 Kota Timur Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan food recall 1x24 jam selama tiga hari terhadap 30 responden anak obesitas kelas III–V SDN 56 Kota Timur. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak obesitas memiliki frekuensi konsumsi makanan siap saji yang tinggi, seperti ayam goreng cepat saji, mie bakso, burger, donat, dan jajanan gorengan. Konsumsi minuman siap saji juga tergolong tinggi, dengan jenis minuman seperti teh kemasan, Pop Ice, Nutrisari, dan es coklat yang mengandung gula sederhana tinggi. Berdasarkan hasil food recall, diperoleh bahwa kecukupan zat besi sebagian besar anak masih kurang, yaitu pada hari pertama 66,7% anak belum memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG), hari kedua 63,3%, dan hari ketiga 56,7%. Anak obesitas di SDN 56 Kota Timur Kota Gorontalo memiliki konsumsi makanan dan minuman siap saji yang tinggi serta kecukupan zat besi yang sebagian besar belum memenuhi AKG, sehingga diperlukan edukasi gizi bagi siswa dan orang tua, pengawasan jajanan sekolah, serta pembiasaan konsumsi makanan sehat untuk mencegah kekurangan zat gizi mikro dan menurunkan risiko obesitas.
Gambaran Efektivitas Pelaksanaan Program Pelayanan Kesehatan Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Moutong Kabupaten Parigi Moutong: Overview of the Effectiveness of the Implementation of the Toddler Health Service Program in the Working Area of the Moutong Community Health Center, Parigi Moutong Regency Riri Devita Desi Ratna Sari; Laksmyn Kadir; Yasir Mokodompis
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 2: Februari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i2.10629

Abstract

Pelayanan kesehatan merupakan salah satu bentuk pelayanan publik yang dikelola oleh pemerintah dengan baik. Upaya Kesehatan ibu dan anak merupakan upaya di bidang Kesehatan masyarakat menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi, dan balita serta anak prasekolah, yang bertujuan untuk mencapai kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal, baik bagi ibu maupun keluarganya. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan dan memberikan kepuasan kepada pasien, penyelenggaraan pelayanan kesehatan perlu efektiv. Program pelayanan kesehatan balita merupakan upaya pemerintah untuk menurunkan Angka Kematian Balita (AKABA). Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan program pelayanan kesehatan balita di wilayah kerja Puskesmas Moutong. Jenis Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional deskriptif. Populasi dalam penelitian ini yaitu balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas Moutong. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan teknik acidental sampling dengan penentuan sampel menggunakan rumus slovin dengan sampel berjumlah 205 orang ibu balita. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian bahwa efektivitas pelayanan berdasarkan kualitas pelayanan (91%), efektivitas pelayanan berdasarkan kuantitas pelayanan (90%) dan efektivitas pelayanan berdasarkan waktu pelayanan (90%). Kesimpulan dari 3 variabel pengukuran efektivitas pelaksanaan pelayanan program kesehatan balita berada pada kategori sangat efektif. Disarankan bagi Puskesmas agar bisa mempertahankan ataupun meningkatkan pelayanan yang di berikan petugas Kesehatan di Kesehatan balita.
Analisis Lama Proses Desinfeksi Sinar Ultra Violet (UV-C) Terhadap Kontaminan Bakteriologis Pada Air Minum Isi Ulang: Analysis of the Duration of Ultra Violet (UV-C) Light Disinfection Process Against Bacteriological Contaminants in Refilled Drinking Water Zulfikar Ma’ruf; Laksmyn Kadir; Ayu Rofia Nurfadillah
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 4: April 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i4.10404

Abstract

Air minum isi ulang merupakan salah satu alternatif masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, masih ditemukan depot air minum isi ulang yang tidak memenuhi standar kualitas air minum berdasarkan parameter bakteriologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lama proses desinfeksi sinar ultraviolet (UV-C) terhadap kontaminan bakteriologis pada air minum isi ulang di Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif pada hasil uji laboratorium. Sampel diambil dari satu depot air minum isi ulang dengan hasil uji coliform tertinggi yaitu 224 CFU/100 ml. Pengujian dilakukan sebelum dan sesudah proses desinfeksi menggunakan sinar UV-C dengan lama waktu 8 menit. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan metode Compact Dry total coliform. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah total coliform sebelum desinfeksi sebesar 305 CFU/100 ml dan setelah dilakukan desinfeksi sinar UV-C selama 8 menit berhasil dieliminasi menjadi 0 CFU/100 ml, dengan persentase penurunan sebesar 100%. Hal ini membuktikan bahwa proses desinfeksi sinar UV-C dengan lama penyinaran 8 menit efektif menurunkan kontaminan bakteriologis hingga memenuhi standar baku mutu air minum menurut Permenkes RI Nomor 2 Tahun 2023. Disarankan bagi pengelola depot untuk melakukan perawatan rutin lampu UV-C dan menjaga sanitasi peralatan agar efektivitas desinfeksi tetap optimal.
The Relationship of Individual and Occupational Factors with Complaints of Tendinitis in Transport Workers at Bulog Talumolo Rice Warehouse Bulog Bulog Gorontalo Branch Office Irma Azzahra Usman; Laksmyn Kadir; Putri Ayuningtias Mahdang
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) Vol. 8 No. 3: 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v8i3.11151

Abstract

Transportation workers in rice warehouses have a high risk of experiencing unergonomic work postures, excessive physical workload, and high lifting frequencies that can trigger tendinitis complaints. These complaints can be influenced by various factors, both individual factors and work factors. This study aims to determine the relationship between individual factors and occupational factors with tendinitis complaints in transport workers at Bulog Talumolo Rice Warehouse, Gorontalo. This study uses a quantitative research methodology with observational analytical research types and cross-sectional design. The population and sample in this study amounted to 50 transport workers, the sampling technique was a total sampling. The statistical test used in this study is the Spearman Rank test. The results of the analysis using the Spearman Rank test showed that there was a significant relationship between individual factors, namely age (p = 0.000; r = -0.594), body mass index (p = 0.002; r = 0.424), and occupational factors, namely work posture (p = 0.032; r = 0.304), physical workload (p = 0.019; r = 0.331), and tendinitis complaints. The conclusion that individual and occupational factors are significantly related to tendinitis complaints. It is recommended that there be ergonomic interventions, training on correct working postures, and reduction of repetitive workload as an effort to prevent tendinitis complaints in transport workers.