Claim Missing Document
Check
Articles

Child Support dalam Perspektif Maqashid Syari’ah: Relevansi untuk Kasus Perceraian Modern Fauzan, Fauzan; Darwis, Rizal; Baharuddin, A. Zamakhsyari
Social Science Academic Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/ssa.v4i1.9504

Abstract

Modern divorce cases in Indonesia show a significant upward trend, with data from the Religious Courts recording 446,000 divorce cases in 2024. This phenomenon has a direct impact on the fulfillment of children's rights, particularly regarding child support, which is often understood only formally without considering the child's holistic interests. This article aims to analyze the concept of child support from the perspective of the maqasid sharia and its relevance to resolving modern divorce cases, with a focus on protecting the five main elements of maqasid. This research uses a qualitative approach with library research and analysis of court decisions. The analytical framework used is maqasid sharia, which serves as a surgical tool to evaluate existing child support practices. Research has found that child support under the Maqasid Sharia (Islamic law) is not limited to material support (food, clothing, and shelter), but encompasses the protection of five essential elements: religion (hifzh al-din), life (hifzh al-nafs), intellect (hifzh al-'aql), offspring (hifzh al-nasl), and property (hifzh al-mal). In the context of modern divorce, child support must ensure the continuity of education, psychological health, and the formation of a child's religious identity. This finding aligns with research by Zuhdi et al. (2024), which states that confiscating a husband's assets as a guarantee of child support provides benefits in the form of hifdz nafs (self-support) and hifdz aql (intellect). The Maqasid Sharia approach offers a more comprehensive and adaptive framework than the classical, textual approach of Islamic jurisprudence. This research recommends the need for Maqasid-based child support standards in the compilation of Islamic law and the strengthening of the capacity of judges and mediators in applying this approach in religious courts.
Analis kedudukan akta ikrar wakaf (AIW) sebagai syarat administratif dalam perbandingan dengan rukun wakaf dalam fikih Verawaty Nento; Rizal Darwis
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 2 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, April 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i2.1974

Abstract

Wakaf merupakan institusi hukum Islam yang memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial-ekonomi, sehingga keberadaannya tidak hanya dipahami dalam kerangka keagamaan, tetapi juga berdampak pada aspek hukum perdata. Dalam konteks Indonesia, wakaf diatur secara normatif melalui Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf yang mensyaratkan adanya Akta Ikrar Wakaf (AIW) sebagai dasar pencatatan dan pengakuan hukum. Di sisi lain, fikih Islam secara klasik menetapkan sahnya wakaf berdasarkan terpenuhinya rukun dan syarat wakaf tanpa mensyaratkan formalitas administratif tertulis. Perbedaan pendekatan ini menimbulkan problematika ketika wakaf yang sah secara syar’i tidak diakui secara yuridis formal karena ketiadaan AIW, sehingga berimplikasi pada sengketa wakaf di pengadilan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan AIW dalam sistem hukum wakaf Indonesia dan membandingkannya dengan rukun wakaf dalam perspektif fikih. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AIW bukan merupakan rukun wakaf dalam fikih, melainkan instrumen administratif negara untuk menjamin kepastian dan perlindungan hukum. Oleh karena itu, diperlukan harmonisasi antara hukum wakaf Islam dan hukum positif agar pengaturan wakaf tidak menegasikan prinsip-prinsip fikih wakaf sekaligus tetap menjamin kepastian hukum.