Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Postur Kerja Pekerja Pemanen Sawit Menggunakan SNI 9011:2021 (Studi Kasus: PT Perkebunan XIII Kebun Tabara) Al Khairi, Muhammad Rivki; Pawitra, Theresia Amelia; Widada, Dharma
Proceeding Mercu Buana Conference on Industrial Engineering Vol 6 (2024): DOWNSTREAMING RESEARCH AND ENTREPRENEURSHIP IN THE DIGITAL ERA: CHALLENGING AND OPPORT
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/MBCIE.2024.003

Abstract

PT. Perkebunan XIII Kebun Tabara mempunyai permasalahan yang dihadapi yaitu kenyamanan dan keselamatan pekerja. Diharapkan dari penelitian ini dapat membantu perusahaan menyelesaikan permasalahan kesehatan, kenyamanan dan keselamatan pekerja dan meningkatkan kesejahteraan pekerja. Penelitian ini melakukan analisis postur kerja terhadap pekerja pemanenan kelapa sawit dengan menggunakan SNI 9011;2021 untuk mengidentifikasi postur kerja dan risiko pekerja serta akibat dari postur kerja untuk mengetahui skor postur kerja serta usulan perbaikan. Berdasarkan data Survei gotrak yang diambil dari empat pekerjaan yaitu penurunan tandan buah segar dari pohon, pengangkutan tandan buah segar, pengutipan berondolan, memindahkan tandan buah segar, pekerja mengalami keluhan rata-rata pada leher, pinggul, lengan, dan betis yang mendapat skor 3 berdasarkan tingkat keparahan dan tingkat frekuensi keluhan pekerja. Berdasarkan hasil penelitian diketahui empat pekerjaan mempunyai durasi siklus dan aktivitas yang berbeda tiap pekerjaannya yang membuat potensi yang sakit yang dialami pekerja berbeda-beda tiap pekerjaan Hasil yang didapatkan dari pengukuran adalah terdapat 4 postur yang menjadi penyebab terjadinya keluhan yaitu leher memuntir, tangan tidak ditopang, beban berat, dan pengangkatan beban secara manual, untuk itu diperlukan mitigasi risiko K3 pada pekerja. Berdasarkan Survei ERF diketahui dari 4 pekerjaan yang dilakukan pekerja pekerjaan dengan potensi bahaya ergonomi adalah pengangkutan TBS, Hasil dari analisis potensi bahaya pada penurunan TBS didapatkan nilai risiko berbahaya, pada pengutipan berondolan didapatkan nilai risiko berbahaya, dan pada perpindahan TBS ke TPH didapatkan nilai risiko berbahaya. Selanjutnya dilakukan usulan perbaikan dengan pengedalian risiko yang dapat diterapkan untuk mengurangi potensi terjadinya bahaya berupa alat tracktor scissor lift. Alat ini berfungsi untuk memindahkan proses pengangkutan TBS yang sebelumnya diangkat ke truck menjadi ke tacktor. Dengan adanya tracktor ini pekerja tidak perlu mengangkut TBS langsung ke dalam truck dikarenakan scissor lift dari dump tractor ini dapat mengangkat dump ini lebih tinggi dari tinggi dump truck, hal ini dapat dilakukan dengan cara posisi truck dibuat lebih rendah dari posisi tracktor dengan memanfaatkan tinggi tanah pada TPH setempat, TBS dapat diangkut langsung ke dalam truck menggunakan tracktor scissor lift dan mengurangi postur yang tidak normal dan mencegah forceful extertions.
Analisis Beban Kerja Fisik dan Kelelahan Kerja Pada Pekerja Fabrikasi Workshop PT. XYZ Yusfitrida, Yusfitrida Yusfitrida; Pawitra, Theresia Amelia; Gunawan, Suwardi
Proceeding Mercu Buana Conference on Industrial Engineering Vol 6 (2024): DOWNSTREAMING RESEARCH AND ENTREPRENEURSHIP IN THE DIGITAL ERA: CHALLENGING AND OPPORT
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/MBCIE.2024.014

Abstract

Departemen fabrikasi di PT.XYZ merupakan area dengan tingkat konsentrasi tinggi yang dituntut menyelesaikan pekerjaan dalam waktu terbatas tanpa mengabaikan prosedur yang ada. Permasalahan yang dihadapi mencakup beban kerja, kelelahan, dan kenyamanan saat bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beban kerja fisik, kelelahna kerja yang dialami pekrja, mengetahui apakah terdapat hubungan antara beban kerja fisik dan kelelahan kerja serta memberikan saran perbaikan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan mengatasi permasalahan tersebut serta meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja. Penelitian ini menganalisis beban kerja fisik dan kelelahan kerja menggunakan survei Gangguan Otot Tulang dan Rangka (GOTRAK), %CVL, kuesioner subjective self-rating test (SSRT), dan tes waktu reaksi terhadap rangsang suara. Berdasarkan hasil pengukuran, ditemukan bahwa pekerja dengan jenis pekerjaan yang berbeda memiliki beban kerja fisik yang berada dalam kategori ringan, dan tingkat kelelahan kerja berdasarkan SSRT juga berada dalam kategori ringan. Pengukuran waktu reaksi terhadap rangsang suara menunjukkan bahwa pekerja helper, scaffolder, welder, dan rigger berada dalam kategori normal, sementara fitter berada dalam kategori ringan dengan skor 243,4. Usulan perbaikan berfokus pada pekerja fitter untuk mengurangi beban kerja dan kelelahan kerja mereka.
Analisis Pengaruh Kualitas Layanan Jasa Terhadap Kepuasan Pelanggan Barokah Kurir Samarinda Muhamad Naufal Dwi Hidayat; Theresia Amelia Pawitra; Dharma Widada
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 4 No. 4 (2025): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v4i4.897

Abstract

Perkembangan e-commerce yang pesat mendorong meningkatnya persaingan pada industri jasa pengiriman barang, sehingga perusahaan perlu mengukur kualitas layanan untuk mempertahankan kepuasan pelanggan. Salah satu perusahaan logistik di Samarinda mengalami penurunan jumlah pesanan dan menerima sejumlah keluhan terkait kualitas layanan yang belum pernah dievaluasi secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan mengukur kualitas layanan dan tingkat kepuasan pelanggan serta menganalisis pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan menggunakan metode Logistic Service Quality (LSQ). Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada [jumlah responden] pelanggan dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Secara parsial, dimensi Timeliness and Information (TI) serta Order Discrepancy Handling (ODH) memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan ketepatan waktu dan kualitas informasi layanan, serta penanganan ketidaksesuaian pesanan yang lebih efektif, dapat menjadi prioritas perbaikan perusahaan. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis berupa rekomendasi peningkatan kualitas layanan berbasis dimensi LSQ yang paling berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan.
Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Perbaikan Kapal dengan Metode Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control (HIRADC): (Studi Kasus : PT. Karya Pacific Tehnik Shipyard) Riyan Jaya; Theresia Amelia Pawitra; Dharma Widada
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 4 No. 4 (2025): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v4i4.949

Abstract

PT. Karya Pacific Tehnik Shipyard adalah perusahaan yang bergerak di bidang perbaikan dan perawatan kapal. Beberapa aktivitas perbaikan kapal memiliki potensi bahaya tinggi, terutama pada proses replating, sandblasting, dan painting. Diketahui bahwa kecelakaan kerja yang pernah atau berpotensi terjadi mencakup risiko terkena percikan api, sinar las, terhirup asap las, jatuh dari ketinggian, gangguan pernapasan akibat paparan debu abrasif dan iritasi kulit. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko, dan menentukan pengendalian yang tepat dengan menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC), serta melakukan analisis akar masalah dengan diagram fishbone dan mengevaluasi kelayakan pengendalian menggunakan pendekatan Benefit-Cost Ratio. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara dengan pihak HSE serta supervisor. Hasil penelitian menunjukkan persentase risiko ekstrem sebesar 2,70%, risiko tinggi 27,03%, risiko sedang 59,46%, dan risiko rendah 10,81%. Pengendalian awal seperti penggunaan APD dan izin kerja panas sudah di terapkan, namun belum optimal. Oleh karena itu, direkomendasikan pengendalian tambahan berupa penambahan APAR, APAB dan Hydrant, pengendalian tanggap darurat kebakaran, edukasi, sosialisasi dan budaya keselamatan kerja, pengendalian operasional alat potong, pendampingan dan peningkatan kapasitas tenaga kerja, serta evaluasi K3. Nilai BCR > 1 pada penambahan APAR, APAB dan Hydrant menunjukkan bahwa pengendalian tersebut layak diterapkan untuk menurunkan risiko dan meningkatkan keselamatan kerja.
Automated ergonomic sitting postures detection for office workstation using XGBoost method Theresia Amelia Pawitra; Farida Djumiati Sitania; Anindita Septiarini; Hamdani Hamdani
IAES International Journal of Artificial Intelligence (IJ-AI) Vol 15, No 1: February 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijai.v15.i1.pp506-514

Abstract

Sedentary office work increases musculoskeletal risk, underscoring the need for non-intrusive, real-time posture monitoring. This study presents a computer vision approach that classifies ergonomic versus non-ergonomic sitting postures using upper body key points extracted by MoveNet thunder. Images from 30 participants were captured from frontal and side views, and labeled according to SNI 9011:2021 criteria. Seventeen key points were detected, with head-to-hip landmarks retained, then normalized and centered. Three classifiers—adaptive boosting (AdaBoost), extreme gradient boosting (XGBoost), and a multi-layer perceptron (MLP)—were trained and evaluated with 10-fold stratified cross-validation. XGBoost achieved the best performance, with accuracy 93.0%±1.9%, precision 94.6%, recall 91.4%, F1-score 92.9%, and area under the receiver operating characteristic curve (ROC-AUC) 0.974±0.010, outperforming MLP and AdaBoost. The method supports privacy-preserving, on-device inference and is suitable for integration into smart office systems to reduce exposure to high-risk postures. Limitations include controlled capture conditions and an upper body focus; future work will expand posture taxonomy and real-world deployment.
Analisis Risiko Text Next Syndrome Pada Pemain Game Smartphone (Studi Kasus : Mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Mulawarman) Aditiya Ikhwanudin; Theresia Amelia Pawitra
Jurnal Industri Samudra Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Industri Samudra
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik. Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55377/jis.v6i2.13194

Abstract

The use of smartphones for gaming among university students is increasing and often carried out for long durations with poor ergonomic posture. This condition has the potential to cause musculoskeletal disorders, one of which is Text Neck Syndrome (TNS), characterized by neck pain and disability due to excessive forward head flexion. This study aimed to analyze the risk of TNS among Industrial Engineering students at Mulawarman University who play smartphone games and to identify the relationship between screen time and playing posture with the level of neck disability. This research employed a quantitative design with a descriptive analytic approach. The study population consisted of 265 active students from the 2020–2024 cohorts. The sample was determined using purposive sampling, and 50 respondents who met the inclusion criteria were selected. Data were collected using the Neck Disability Index (NDI). Data analysis was performed descriptively and with the Spearman Rank test to examine the relationship between screen time, playing posture, and NDI scores. The results showed that most respondents experienced mild disability (34%), followed by moderate disability (26%), no disability (18%), severe disability (12%), and very severe disability (10%). Respondents with >5 hours of screen time per day had a higher proportion of moderate to severe disability. Moreover, students who played in a cross-legged sitting posture were more likely to experience moderate to very severe disability (63%) compared to those who played while sitting on a chair (44%). In conclusion, university students who play smartphone games are at risk of developing TNS with varying levels of disability, particularly those with longer screen time and cross-legged posture.
Ergonomic Risk Assessment on Palm-Oil Harvesting Workers in East Kalimantan Theresia Amelia Pawitra; Lina Dianati Fathimahhayati; Farida Djumiati Sitania
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 20 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang in collaboration with Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI Tingkat Pusat) and Jejaring Nasional Pendidikan Kesehatan (JNPK)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v20i4.31236

Abstract

Along with the growth of the palm-oil industry in Indonesia, work-related musculoskeletal disorders (WMSD) experienced by palm-oil harvesting workers also increased. This paper aims to evaluate ergonomic risk factors among harvesting palm workers in East Kalimantan and to propose suggestions to mitigate the risks. A total sample of 70 workers from 3 plantations in Muara Wahau, Babulu, and Muara Badak was observed in 2023. Gotrak survey and ergonomic risk factor (ERF) questionnaire of SNI 9011:2021 were utilized for determining the WMSD and identifying the ergonomics risk, respectively. The result showed that 91% of workers experienced pain after work, and 72% frequently experienced physical fatigue. The Gotrak survey on cutting and carrying bunches activity revealed high exposure risk for the neck (97%), followed by the shoulder (77%) and knee (55%). Meanwhile, during the activity of loading bunches onto the truck, high exposure risk occurs in the shoulders (73%), elbows (53%), and knees (53%). The result of the Kruskal-Wallis statistical test indicates that there is a difference in Gotrak levels among the three locations. The Gotrak level in Muara Wahau is the highest, followed by Babulu and Muara Badak. The results of the ERF questionnaire showed that loading to truck, followed by carrying FFB to the fruit collection point, were the two activities with high ERF scores, i.e., 39 and 34, respectively. Finally, improvements such as stretching exercises before and during work, as well as redesigning ergonomic T-hook and egrek, will mitigate the risk.
Integrated Ergonomic Risk Assessment Using NBM, REBA and NIOSH Multitask Analysis for Sustainable Logistics: A Case Study of PT SHJ Theresia Amelia Pawitra; Siagian Jevendra Vablo Gloria; Yudi Sukmono
International Journal of Engineering, Science and Information Technology Vol 6, No 1 (2026)
Publisher : Malikussaleh University, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52088/ijesty.v6i1.1881

Abstract

Musculoskeletal disorders (MSDs) remain one of the leading occupational health problems in manual material handling activities, adversely affecting workers' well-being, operational efficiency, and long-term organizational sustainability. This study aimed to comprehensively assess ergonomic risks in the Logistics Department of PT Surya Hutani Jaya, an industrial plantation forestry company in Indonesia, by integrating workers' subjective complaints with objective ergonomic and biomechanical assessments. A descriptive quantitative case study was conducted using a total sampling approach involving five logistics workers performing three critical activities: incoming goods handling, chemical mixing, and fuel inspection. Data were collected using the Nordic Body Map (NBM) questionnaire to identify musculoskeletal complaints, the Rapid Entire Body Assessment (REBA) method to evaluate postural risks, and the Revised NIOSH Lifting Equation with a multitask analysis approach to determine cumulative lifting risks through the Composite Lifting Index (CLI). The findings revealed that incoming goods handling presented the highest ergonomic risk, with an NBM score of 51, a REBA score of 9 (high risk), and a CLI value of 1.065, exceeding the recommended safety threshold. Chemical mixing also demonstrated considerable postural risk with a maximum REBA score of 7, while fuel inspection showed a moderate ergonomic risk with a REBA score of 6, primarily caused by prolonged trunk flexion during manual measurement. The consistency between subjective complaints and objective assessment results confirmed the effectiveness of the integrated evaluation approach in identifying priority areas for intervention. Based on the hierarchy of risk controls, engineering interventions—including the implementation of a scissor lift pallet truck, redesign of the chemical mixing workstation with an ergonomic platform, and replacement of conventional fuel measuring tools with longer or digital measuring devices—were proposed to minimize musculoskeletal risks. The integration of NBM, REBA, and NIOSH multitask analysis provides a comprehensive ergonomic assessment framework that supports safer work systems, improves operational performance, and contributes to sustainable logistics operations by enhancing worker health, productivity, and occupational safety