Claim Missing Document
Check
Articles

Integration of HIRARC and B/C Ratio to Reduce the Number of Accidents in PT. XYZ Valentino, Dedy Saputra; Pawitra, Theresia Amelia; Tosungku, La Ode Safar
IJIEM - Indonesian Journal of Industrial Engineering and Management Vol 5, No 1: February 2024
Publisher : Program Pascasarjana Magister Teknik Industri Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/ijiem.v5i1.22554

Abstract

PT XYZ is one of the companies engaged in the mining industry. The company has total coal reserves of 5.8 million tons and produces a coal calorific value of 4900 Kcal/kg GAR. PT XYZ uses a 30-ton class dump truck for overburdened transportation activities. Overburden transportation is transporting material from one location or facility to another. The operation of dump trucks has risks that need to be controlled to minimize work accidents. Truck operators have considerable risks, including bumping, hitting, slipping, falling, and pinched. This study aims to identify potential accidents that can occur and propose preventive measures based on the risk level of each possible accident in the operation of dump trucks using the HIRARC method at PT XYZ. Based on the results of the study shows that the potential hazards experienced by dump truck operators include collisions, pinching, slipping, overturning units, backing units when on an incline, buckets crashing into vessels, grazing other units, low back pain, neck pain, herniated nucleus pulposus, fatigue, loss of control, unprotected operators, collapsed and dragged units, reduced control, loss of control, trapped units, buried units, falling into ravines, damaged units. In addition, the risks experienced by dump truck operators are 6 high risks, 7 medium risks, and 9 low risks. From the overall transportation of overburden material, dump truck operators experienced a high risk of 27%, a medium risk of 32%, and a low risk of 41%.
Analisis Postur Kerja Dengan Menggunakan Metode Novel Ergonomic Postural Assessment (NERPA) (Studi Kasus: Pabrik Tahu Kediri Samarinda) Syahrir, Faisal; Pawitra, Theresia Amelia; Gunawan, Suwardi
Proceeding Mercu Buana Conference on Industrial Engineering Vol 6 (2024): DOWNSTREAMING RESEARCH AND ENTREPRENEURSHIP IN THE DIGITAL ERA: CHALLENGING AND OPPORT
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/MBCIE.2024.021

Abstract

Proses produksi tahu yang dilakukan oleh Pabrik Tahu Kediri Samarinda, dilakukan secara manual oleh pekerja serta dibantu oleh mesin penggilingan dan penyaringan. Pabrik Tahu Kediri termasuk kedalam industri padat karya yang membuat banyak postur kerja tidak netral seperti membungkuk saat proses perendaman, penyaringan, penggumpalan, dan pemotongan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi keluhan MSD dengan menggunakan kuisioner GOTRAK dan menganalisis postur kerja dengan menggunakan metode NERPA. Berdasarkan kuisioner GOTRAK, diketahui tahap perendaman dan penggilingan memiliki tingkat risiko keluhan MSD pada punggung atas dan punggung bawah. Tahap pemasakan dan penyaringan tingkat risiko sedang pada siku, punggung atas, punggung bawah, dan lengan. Tahap penggumpalan dan pencetakan tingkat risiko tinggi pada punggung bawah serta tingkat risiko sedang pada punggung atas dan pinggul. Tahap pemotongan memiliki tingkat risiko tinggi pada punggung bawah dan tingkat risiko sedang pada bahu dan pinggul. Berdasarkan kuisioner GOTRAK, pekerja 1 memiliki tingkat risiko tinggi MSD pada punggung atas dan punggung bawah. Pekerja 2 tidak memiliki tingkat risiko tinggi MSD, sedangkan pekerja 3 dan 4  memiliki tingkat risiko tinggi MSD pada punggung bawah. Berdasarkan hasil GOTRAK yaitu > 30 % dari seluruh  jumlah pekerja tergolong pada tingkat risiko tinggi maka dari itu, dilanjutkan analisis postur kerja menggunakan metode NERPA. Berdasarkan metode NERPA, Tahap perendaman, pemasakan, penyaringan, dan penggumpalan mendapatkan action level 4 dengan final score 7. Tahap pemotongan mendapatkan action level 3 dengan final score 6. Action level 2 dengan final score 4 dari tahap penggilingan dan pencetakan. Diberikan usulan perbaikan pada tahap produksi yang mendapat final score diatas 5. Pada perendaman diberikan usulan perbaikan pada meja perendaman. Tahap pemasakan menerapkan usulan postur kerja netral, tahap penyaringan penambahan tangga pijakan dan tahap penggumpalan penambahan alat pengaduk. Tahap pemotongan menambahkan ketinggian meja.
Analisis Postur Kerja Pekerja Pemanen Sawit Menggunakan SNI 9011:2021 (Studi Kasus: PT Perkebunan XIII Kebun Tabara) Al Khairi, Muhammad Rivki; Pawitra, Theresia Amelia; Widada, Dharma
Proceeding Mercu Buana Conference on Industrial Engineering Vol 6 (2024): DOWNSTREAMING RESEARCH AND ENTREPRENEURSHIP IN THE DIGITAL ERA: CHALLENGING AND OPPORT
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/MBCIE.2024.003

Abstract

PT. Perkebunan XIII Kebun Tabara mempunyai permasalahan yang dihadapi yaitu kenyamanan dan keselamatan pekerja. Diharapkan dari penelitian ini dapat membantu perusahaan menyelesaikan permasalahan kesehatan, kenyamanan dan keselamatan pekerja dan meningkatkan kesejahteraan pekerja. Penelitian ini melakukan analisis postur kerja terhadap pekerja pemanenan kelapa sawit dengan menggunakan SNI 9011;2021 untuk mengidentifikasi postur kerja dan risiko pekerja serta akibat dari postur kerja untuk mengetahui skor postur kerja serta usulan perbaikan. Berdasarkan data Survei gotrak yang diambil dari empat pekerjaan yaitu penurunan tandan buah segar dari pohon, pengangkutan tandan buah segar, pengutipan berondolan, memindahkan tandan buah segar, pekerja mengalami keluhan rata-rata pada leher, pinggul, lengan, dan betis yang mendapat skor 3 berdasarkan tingkat keparahan dan tingkat frekuensi keluhan pekerja. Berdasarkan hasil penelitian diketahui empat pekerjaan mempunyai durasi siklus dan aktivitas yang berbeda tiap pekerjaannya yang membuat potensi yang sakit yang dialami pekerja berbeda-beda tiap pekerjaan Hasil yang didapatkan dari pengukuran adalah terdapat 4 postur yang menjadi penyebab terjadinya keluhan yaitu leher memuntir, tangan tidak ditopang, beban berat, dan pengangkatan beban secara manual, untuk itu diperlukan mitigasi risiko K3 pada pekerja. Berdasarkan Survei ERF diketahui dari 4 pekerjaan yang dilakukan pekerja pekerjaan dengan potensi bahaya ergonomi adalah pengangkutan TBS, Hasil dari analisis potensi bahaya pada penurunan TBS didapatkan nilai risiko berbahaya, pada pengutipan berondolan didapatkan nilai risiko berbahaya, dan pada perpindahan TBS ke TPH didapatkan nilai risiko berbahaya. Selanjutnya dilakukan usulan perbaikan dengan pengedalian risiko yang dapat diterapkan untuk mengurangi potensi terjadinya bahaya berupa alat tracktor scissor lift. Alat ini berfungsi untuk memindahkan proses pengangkutan TBS yang sebelumnya diangkat ke truck menjadi ke tacktor. Dengan adanya tracktor ini pekerja tidak perlu mengangkut TBS langsung ke dalam truck dikarenakan scissor lift dari dump tractor ini dapat mengangkat dump ini lebih tinggi dari tinggi dump truck, hal ini dapat dilakukan dengan cara posisi truck dibuat lebih rendah dari posisi tracktor dengan memanfaatkan tinggi tanah pada TPH setempat, TBS dapat diangkut langsung ke dalam truck menggunakan tracktor scissor lift dan mengurangi postur yang tidak normal dan mencegah forceful extertions.
Analisis Beban Kerja Fisik dan Kelelahan Kerja Pada Pekerja Fabrikasi Workshop PT. XYZ Yusfitrida, Yusfitrida Yusfitrida; Pawitra, Theresia Amelia; Gunawan, Suwardi
Proceeding Mercu Buana Conference on Industrial Engineering Vol 6 (2024): DOWNSTREAMING RESEARCH AND ENTREPRENEURSHIP IN THE DIGITAL ERA: CHALLENGING AND OPPORT
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/MBCIE.2024.014

Abstract

Departemen fabrikasi di PT.XYZ merupakan area dengan tingkat konsentrasi tinggi yang dituntut menyelesaikan pekerjaan dalam waktu terbatas tanpa mengabaikan prosedur yang ada. Permasalahan yang dihadapi mencakup beban kerja, kelelahan, dan kenyamanan saat bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beban kerja fisik, kelelahna kerja yang dialami pekrja, mengetahui apakah terdapat hubungan antara beban kerja fisik dan kelelahan kerja serta memberikan saran perbaikan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan mengatasi permasalahan tersebut serta meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja. Penelitian ini menganalisis beban kerja fisik dan kelelahan kerja menggunakan survei Gangguan Otot Tulang dan Rangka (GOTRAK), %CVL, kuesioner subjective self-rating test (SSRT), dan tes waktu reaksi terhadap rangsang suara. Berdasarkan hasil pengukuran, ditemukan bahwa pekerja dengan jenis pekerjaan yang berbeda memiliki beban kerja fisik yang berada dalam kategori ringan, dan tingkat kelelahan kerja berdasarkan SSRT juga berada dalam kategori ringan. Pengukuran waktu reaksi terhadap rangsang suara menunjukkan bahwa pekerja helper, scaffolder, welder, dan rigger berada dalam kategori normal, sementara fitter berada dalam kategori ringan dengan skor 243,4. Usulan perbaikan berfokus pada pekerja fitter untuk mengurangi beban kerja dan kelelahan kerja mereka.
Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Perbaikan Kapal dengan Metode Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control (HIRADC): (Studi Kasus : PT. Karya Pacific Tehnik Shipyard) Jaya, Riyan; Pawitra, Theresia Amelia; Widada, Dharma
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 4 No. 4 (2025): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v4i4.949

Abstract

PT. Karya Pacific Tehnik Shipyard adalah perusahaan yang bergerak di bidang perbaikan dan perawatan kapal. Beberapa aktivitas perbaikan kapal memiliki potensi bahaya tinggi, terutama pada proses replating, sandblasting, dan painting. Diketahui bahwa kecelakaan kerja yang pernah atau berpotensi terjadi mencakup risiko terkena percikan api, sinar las, terhirup asap las, jatuh dari ketinggian, gangguan pernapasan akibat paparan debu abrasif dan iritasi kulit. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko, dan menentukan pengendalian yang tepat dengan menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC), serta melakukan analisis akar masalah dengan diagram fishbone dan mengevaluasi kelayakan pengendalian menggunakan pendekatan Benefit-Cost Ratio. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara dengan pihak HSE serta supervisor. Hasil penelitian menunjukkan persentase risiko ekstrem sebesar 2,70%, risiko tinggi 27,03%, risiko sedang 59,46%, dan risiko rendah 10,81%. Pengendalian awal seperti penggunaan APD dan izin kerja panas sudah di terapkan, namun belum optimal. Oleh karena itu, direkomendasikan pengendalian tambahan berupa penambahan APAR, APAB dan Hydrant, pengendalian tanggap darurat kebakaran, edukasi, sosialisasi dan budaya keselamatan kerja, pengendalian operasional alat potong, pendampingan dan peningkatan kapasitas tenaga kerja, serta evaluasi K3. Nilai BCR > 1 pada penambahan APAR, APAB dan Hydrant menunjukkan bahwa pengendalian tersebut layak diterapkan untuk menurunkan risiko dan meningkatkan keselamatan kerja.