Claim Missing Document
Check
Articles

Integration of integrated Islamic school curriculum into Kurikulum Merdeka Rahmat Rahmat; Dinn Wahyudin; Laksmi Dewi
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63071

Abstract

Integrated Islamic Schools (SIT) is a unique entity specifically born in Indonesia at the same time as the Nurul Fikri Integrated Islamic Elementary School in Depok in 1993. This school model developed rapidly until 2003 when the Integrated Islamic Schools Network was declared, and more than 1000 schools were established throughout Indonesia. This research discusses the stages and layers in developing a typical curriculum for Integrated Islamic Schools. The research results show that integrated Islamic schools organize themselves, including organizing the curriculum to align with all applicable rules and regulations in Indonesia. On the other hand, it aligns with the established institutional vision. In this way, integrated Islamic schools carry out a curriculum development process. This development process is carried out through various stages and layers, namely through conceptual aspects to realize belief in the creator, aspects of subject matter containing religious knowledge (kauliyah) and worldly knowledge (kauniyah), as well as integration in implementation to create education that is academic, spiritual, ethics, and social.   Abstrak Integrated Islamic Schools merupakan entitas unik yang secara spesifik lahir di Indonesia bersamaan dengan hadirnya Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Fikri di Depok pada tahun 1993. Model sekolah ini berkembang pesat, hingga tahun 2003 saat Jaringan Integrated Islamic Schools dideklarasikan telah tercatat lebih dari 1000 sekolah berdiri di seluruh Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang tahapan dan lapisan yang dimaksud dalam konteks pengembangan kurikulum khas Integrated Islamic Schools. Hasil penelitian menunjukan bahwa sekolah islam terpadu melakukan penataan dirinya termasuk menata kurikulum agar sejalan dengan seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di Indonesia dan disisi lain sejalan dengan visi kelembagaan yang didirikan. Dengan demikian maka sekolah islam terpadu melakukan proses pengembangan kurikulum. Proses pengembangan ini dilakukan melalui berbagai tahapan dan lapisan, yaitu melalui aspek konseptual untuk mewujudkan keyakinan kepada pencipta, aspek materi pelajaran yang mengandung ilmu agama (kauliyah) maupun ilmu duniawi (kauniyah), serta integrasi dalam implementasi untuk menciptakan pendidikan yang bersifat akademis, spiritual, etika, dan sosial. Kata Kunci: Integrated Islamic Schools; kurikulum merdeka; kurikulum nasional; kurikulum terpadu; pengembangan kurikulum
Evaluation of teacher readiness in implementing Kurikulum Merdeka in elementary schools Nurul Laily Al Arsyadhi; Laksmi Dewi; Asep Herry Hernawan
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.64113

Abstract

Kurikulum Merdeka aims to elevate the educational standards in Indonesia, with its success hinging on educators' preparedness. This curriculum challenges teachers, particularly at the elementary school level. The study assesses teachers' readiness to understand and implement Kurikulum Merdeka using a qualitative approach involving interviews, observation, and literature review. Respondents were from six Sekolah Penggerak in East Jakarta, selected purposively. Data analysis was conducted using content analysis techniques. Findings indicate several factors influencing teacher readiness: comprehension of Kurikulum Merdeka’s concepts and principles, ability to design and conduct learner-centered learning, and support from schools and relevant agencies. The study suggests recommendations to enhance teachers' qualifications and readiness, including teacher training and professional development, improving school infrastructure, and fostering collaboration between schools and other relevant parties to support curriculum implementation. These research outcomes are expected to significantly contribute to improving the quality of education in Indonesia within the framework of Kurikulum Merdeka.   Abstrak Kurikulum Merdeka bertujuan meningkatkan standar pendidikan di Indonesia. Adapun keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini bergantung pada persiapan para pendidik. Kurikulum Merdeka menjadi tantangan yang harus dihadapi guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesiapan para guru dalam memahami serta menerapkan Kurikulum Merdeka, terutama di jenjang sekolah dasar. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan penelaahan literatur. Responden penelitian terdiri dari enam Sekolah Penggerak di Jakarta Timur, yang dipilih secara purposif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis konten. Hasil penelitian menyoroti beberapa faktor yang memengaruhi kesiapan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Faktor-faktor ini mencakup pemahaman tentang konsep dan prinsip Kurikulum Merdeka, kemampuan dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, serta dukungan dari pihak sekolah dan instansi terkait lainnya. Implikasi dari penelitian ini meliputi sejumlah rekomendasi untuk meningkatkan kualifikasi dan kesiapan para guru. Rekomendasi tersebut termasuk pelatihan dan pengembangan profesional guru, perbaikan infrastruktur pendukung di sekolah, serta pembangunan kerja sama antara sekolah dan berbagai pihak terkait lainnya dalam mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Selain itu, hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya dalam konteks implementasi Kurikulum Merdeka. Kata Kunci: evaluasi kurikulum; kompetensi guru; Kurikulum Merdeka; sekolah dasar
Student’s learning experiences in an online learning environment using Garrison's Col framework Titi Chandrawati; Laksmi Dewi; Nurhikmah H; Afriani Afriani; Fajar Arwadi; Heni Safitri; Faaizah Shahbodin
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.62813

Abstract

This study was conducted to examine the implementation of online learning in distance education utilizing the Community of Inquiry (CoI) framework, as introduced by Garrison. The CoI framework consists of three core elements essential in implementing online learning: social presence, cognitive presence, and teaching presence. These components are crucial for the success of online learning modalities. This is due to the nature of online learning, where instructors and learners are not present at the exact location or time, necessitating a 'binding element' in the educational process to ensure effective management of learning activities. Consequently, this research involved distributing questionnaires to 317 participants enrolled in online courses at Universitas Terbuka Indonesia. The results obtained from this study were classified as high, indicating that all three CoI elements achieved high ratings. Specifically, the aspect of cognitive presence was dominated by resolution capabilities. In social presence, the open communication capacity scored higher than the affective and cohesive components. Meanwhile, facilitating discourse was rated higher in the teaching presence domain than instructional design, organization, and direct instruction. Based on these findings, it can be concluded that learning across these three aspects is considerably high in the students' online learning experiences.   Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran daring pada pembelajaran jarak jauh melalui pendekatan Community of Inquiry (CoI) framework yang diperkenalkan oleh Garrison. CoI memiliki tiga unsur yang menjadi perhatian dalam implementasi pembelajaran daring, yaitu social presence, cognitive presence, dan teaching presence. Ketiga unsur ini menjadi komponen penting dalam keberhasilan pembelajaran yang bersifat daring. Mengapa demikian? Karena pembelajaran daring adalah pembelajaran dimana antara pengajar dan peserta tidak berada pada tempat dan waktu yang bersamaan. Sehingga jika tidak ada “pengikat” dalam proses pembelajaran tersebut akan sulit untuk mengontrol pelaksanaan pembelajaran. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan penyebaran kuesioner kepada 317 peserta yang mengikuti perkuliahan pembelajaran daring di Universitas Terbuka Indonesia. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dari ketiga unsur CoI berada pada kategori tinggi, sspek cognitive presence didominasi oleh kemampuan resolution. Pada aspek social presence kemampuan open communication tinggi dibandingkan affective dan cohesive. Sedangkan pada aspek teaching presence facilitating discourse memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan instructional design and organization dan direct instruction. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa kehadiran pembelajaran dari ketiga aspek tersebut cukup tinggi dalam pembelajaran daring yang dialami oleh siswa. Kata Kunci: community of Inquiry; evaluasi pengalaman belajar mahasiswa; pembelajaran daring
Patterns of planning and implementation of PJOK curriculum in elementary schools in the post-COVID-19 pandemic period Mohammad Faruk; Mohammad Ali; Rudi Susilana; Laksmi Dewi; Norlidah Alias; I Made Sriundy M; Imam Syafi’i
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.63395

Abstract

Learning planning must be adjusted to students’ conditions to achieve educational goals. The COVID-19 pandemic brought significant changes requiring high adaptability, especially in education. This study aims to identify planning and implementation patterns of the Physical Education and Health (PJOK) curriculum in elementary schools during the post-COVID-19 pandemic. Using a descriptive survey method, the research explored how PJOK teachers plan and implement home-based learning during this period. Data was collected via a Google Forms questionnaire from 33 PJOK teachers who participated in a Focus Group Discussion on post-pandemic curriculum planning. The study’s findings reveal that most teachers adjusted their planning based on the available facilities and infrastructure in students' homes. The curriculum was simplified to emphasize life skills relevant to the post-pandemic context. Implementing the PJOK curriculum requires collaboration with parents to monitor and support student learning at home. Teachers predominantly use WhatsApp to deliver instructional materials and rely on YouTube as a learning resource. This research highlights the need for adaptive curriculum strategies that accommodate challenges in post-pandemic education while ensuring effective learning despite limited resources.   Abstrak Perencanaan pembelajaran harus menyesuaikan dengan kondisi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pandemi COVID-19 menyebabkan perubahan lingkungan yang memerlukan adaptasi tinggi, terutama dalam pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola perencanaan dan implementasi kurikulum Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di sekolah dasar pada masa pasca pandemi COVID-19. Metode yang digunakan adalah metode survei deskriptif untuk menggambarkan pola perencanaan yang dilakukan oleh guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta implementasi dalam pembelajaran di rumah pada masa pasca pandemi COVID-19. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang diterapkan menggunakan google form kepada 33 guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan yang mengikuti Focus Group Discussion perencanaan kurikulum Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di masa pasca pandemi COVID-19. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan melakukan penyesuaian perencanaan berdasarkan kondisi sarana dan prasarana pendukung yang dimiliki orangtua. Penyederhanaan kurikulum yang berfokus pada kecakapan hidup peserta didik dalam situasi dan kondisi pasca pandemi COVID-19. Implementasi kurikulum PJOK di masa pasca pandemi COVID-19 membutuhkan kolaborasi dengan orang tua dalam proses penyampaian dan pemantauan kegiatan belajar siswa selama di rumah. Guru banyak menggunakan media aplikasi WhatsApp dalam menyampaikan informasi bahan ajar dan menggunakan YouTube sebagai sumber belajar. Kata Kunci: COVID-19; implementasi kurikulum; pendidikan jasmani dan kesehatan
Enhancing teacher competencies in ESD: a framework for professional development Lia Susanti; Asep Herry Hernawan; Laksmi Dewi; Dudun Najmudin; Rohim Abdurohim
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75831

Abstract

Education for Sustainable Development (ESD) equips students with the knowledge and skills to address global sustainability challenges. However, the effectiveness of ESD largely depends on the competencies of teachers. This article aims to develop a comprehensive framework for improving teachers' competencies in ESD. This research uses a qualitative approach, literature review, qualitative content analysis, secondary case study, and conceptual design methods. The framework identifies essential competencies, including critical thinking, problem-solving, and ethical decision-making, that educators must possess to integrate sustainability principles into their teaching practices effectively. Additionally, the paper explores professional development strategies that can support teachers in acquiring these competencies, such as continuous training, collaborative learning, and experiential education. The findings suggest that a holistic approach to professional development is necessary to empower teachers and enable them to foster a sustainability-oriented mindset in their students. By implementing this framework, educational institutions can contribute to preparing future generations to engage actively in sustainability efforts. This study highlights the importance of teacher competencies in ESD and provides actionable recommendations for policymakers and educational leaders to enhance teacher training programs and promote sustainability education in schools.   Abstrak Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD) memainkan peran penting dalam membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan keberlanjutan global. Namun, efektivitas ESD sangat bergantung pada kompetensi guru. Artikel ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka kerja komprehensif untuk meningkatkan kompetensi guru dalam ESD. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan literatur, metode analisis konten kualitatif, studi kasus sekunder, dan metode desain konseptual. Kerangka kerja ini mengidentifikasi kompetensi penting, termasuk berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan etis, yang harus dimiliki pendidik untuk secara efektif mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam praktik pengajaran mereka. Selain itu, artikel ini mengeksplorasi strategi pengembangan profesional yang dapat mendukung guru dalam memperoleh kompetensi tersebut, seperti pelatihan berkelanjutan, pembelajaran kolaboratif, dan pendidikan berbasis pengalaman. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan holistik terhadap pengembangan profesional sangat diperlukan untuk memberdayakan guru dan memungkinkan mereka untuk membina pola pikir yang berorientasi pada keberlanjutan di antara siswa mereka. Dengan menerapkan kerangka ini, lembaga pendidikan dapat berkontribusi dalam mempersiapkan generasi mendatang untuk secara aktif terlibat dalam upaya keberlanjutan. Studi ini tidak hanya menyoroti pentingnya kompetensi guru dalam ESD tetapi juga memberikan rekomendasi yang dapat diterapkan bagi pembuat kebijakan dan pemimpin pendidikan untuk meningkatkan program pelatihan guru dan mempromosikan pendidikan keberlanjutan di sekolah. Kata Kunci: kompetensi guru; pengembangan profesional; pendidikan berkelanjutan; pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan
The effect of anti-corruption character education on educational integrity Aida Ratna Zulaiha; Asep Herry Hernawan; Laksmi Dewi
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.77126

Abstract

Anti-corruption character education is a strategic effort to create a generation with integrity. This study analyzes the outcomes of anti-corruption character education in formal education in Indonesia, focusing on honesty, responsibility, discipline, and independence. A survey conducted via WhatsApp Blast, CAWI, and CAPI, involving 57,611 students, university students, teachers, lecturers, and education personnel from 3,098 educational institutions, was carried out. The results indicate that students demonstrate a higher level of honesty in terms of not lying and cheating, while university students exhibit a higher level of honesty in terms of not falsifying data. Students display higher levels of responsibility and discipline compared to university students. Regarding independence, university students show lower results in terms of completing assignments without assistance, managing time effectively, and initiating tasks. This study highlights the crucial role of teachers, lecturers, school principals, and university leaders as role models in fostering these values. However, the role modeling of school principals and university leaders is relatively low, emphasizing the need for enhanced leadership integrity within educational institutions. This study underscores the importance of strengthening role modeling, integrating character values into the curriculum, improving the integrity of the education ecosystem, and promoting collaboration to create a generation with integrity.   Abstrak Pendidikan karakter antikorupsi merupakan upaya strategis untuk menciptakan generasi yang berintegritas. Penelitian ini menganalisis outcome dari pendidikan karakter anti-korupsi pada pendidikan formal di Indonesia, dengan fokus pada kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian. Survei melalui WhatsApp Blast, CAWI dan CAPI melibatkan 57.611 siswa, mahasiswa, guru, dosen dan tenaga kependidikan, dari 3.098 satuan pendidikan Hasilnya menunjukkan kejujuran siswa lebih baik pada aspek tidak berbohong dan tidak curang, sedangkan mahasiswa lebih baik pada aspek tidak memalsukan. Siswa memiliki tanggung jawab dan disiplin yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa. Terkait kemandirian, mahasiswa menunjukkan hasil lebih rendah dalam menyelesaikan tugas tanpa bantuan, mengatur waktu secara efektif, dan menunjukkan inisiatif dalam memulai pekerjaan. Penelitian ini menyoroti peran penting guru, dosen, kepala sekolah dan pimpinan universitas sebagai teladan dalam menumbuhkan nilai-nilai tersebut, namun, keteladanan kepala sekolah dan pimpinan universitas relatif rendah, menekankan perlunya peningkatan integritas kepemimpinan dalam lembaga pendidikan. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya memperkuat keteladanan, mengintegrasikan nilai-nilai karakter pada kurikulum, meningkatkan integritas ekosistem pendidikan, dan mendorong kolaborasi untuk menciptakan generasi berintegritas. Kata Kunci: Antikorupsi; pendidikan karakter; integritas; keteladanan
Religious moderation curriculum in a global perspective Dudun Najmudin; Asep Herry Hernawan; Laksmi Dewi; Lia Susanti; Ilham Pebrian
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.75832

Abstract

This research is motivated by the rise of radicalism and intolerance in various parts of the world, which emphasizes the importance of education to promote religious moderation. Religious moderation curriculum is a solution to building a more inclusive and tolerant global society. This study aims to identify the application of religious moderation curriculum in various global contexts and evaluate its impact on forming moderate attitudes, interfaith dialogue, and social peace. This research uses a qualitative method with a systematic literature study. Data were collected from various appropriate and relevant articles to identify effective policies, approaches, and implementation strategies, as well as the development of a religious moderation curriculum. The results show that implementing the religious moderation curriculum has successfully encouraged tolerance, strengthened interfaith dialogue, and suppressed the potential for radicalism. However, some challenges are still faced, such as resistance from conservative groups and difficulties adapting the curriculum to be relevant to the local context without losing the essence of the universal values of moderation. The conclusion of this study underscores that religious moderation curricula have great potential to support global peace and promote harmonious diversity if implemented appropriately.   Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya radikalisme dan intoleransi di berbagai belahan dunia, yang menekankan pentingnya pendidikan sebagai alat untuk mempromosikan moderasi beragama. Kurikulum moderasi beragama dipandang sebagai solusi dalam membangun masyarakat global yang lebih inklusif dan toleran terhadap perbedaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penerapan kurikulum moderasi beragama dalam berbagai konteks global dan mengevaluasi dampaknya terhadap pembentukan sikap moderat, dialog antaragama, serta perdamaian sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi literatur sistematis. Pengumpulan data diambil dari berbagai artikel yang layak dan relevan untuk mengidentifikasi kebijakan, pendekatan, dan strategi implementasi yang efektif, serta pengembangan kurikulum moderasi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kurikulum moderasi beragama berhasil mendorong sikap toleransi, memperkuat dialog antaragama, dan menekan potensi radikalisme. Namun, beberapa tantangan masih dihadapi, seperti resistensi dari kelompok konservatif dan kesulitan dalam mengadaptasi kurikulum agar relevan dengan konteks lokal tanpa kehilangan esensi nilai universal moderasi. Simpulan penelitian ini menggarisbawahi bahwa kurikulum moderasi beragama memiliki potensi besar dalam mendukung perdamaian global dan mempromosikan keberagaman yang harmonis apabila diterapkan secara tepat. Kata Kunci: kurikulum; moderasi beragama; perspektif global
Learning designs for work and power materials using didactical situation analysis approach Dwi Ajni Shafarwati; Asep Herry Hermawan; Laksmi Dewi
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.70252

Abstract

Junior high school students often find learning obstacles in thinking critically and systematically in solving problems in natural science subjects, particularly for work and power materials. This is caused by the sequence and/or stages of curriculum presentation. Efforts to improve the sequence and/or stages of curriculum presentation have been made by examining various alternatives in accordance with students' previous learning experiences as well as their capacity and potential through didactical situation analysis. This study aims to improve students' ability to think critically and systematically in finding solutions to problems given through learning design and developing teachers' pedagogical skills. This qualitative study used a didactical design research design. Data were collected by interviewing students and teachers regarding the delivery of work and power materials. Besides, data collection also involved a documentation study of the modules and teaching materials, including the textbooks. Data were analyzed using an interactive model covering 1) data reduction; 2) data presentation; and 3) Conclusion. The result of the study was in the form of learning designs that consider learning obstacles by predicting students' answers and teacher anticipation before, during, and after learning. Students were also given sharing tasks for the application of the material in daily life.   Abstrak Kesulitan belajar yang sering dialami peserta didik sekolah menengah pertama pada mata pelajaran IPA materi daya dan usaha adalah kemampuan berpikir secara kritis dan sistematis dalam mengatasi masalah yang diberikan. Munculnya masalah tersebut kemungkinan disebabkan oleh urutan dan atau tahapan sajian kurikulum. Upaya yang dilakukan untuk memperbaiki urutan dan atau tahapan sajian kurikulum, dengan mengkaji berbagai alternatif yang sesuai pengalaman belajar peserta didik sebelumnya, serta kapasitas dan potensinya melalui analisis situasi didaktis. Penelitian bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik berpikir kritis dan sistematis dalam menemukan solusi terhadap masalah yang diberikan melalui desain pembelajaran serta mengembangkan kemampuan pedagogik guru. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain Didactical Design Research. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap peserta didik dan guru terkait cara penyampaian materi daya dan usaha. Teknik lainnya adalah studi dokumentasi terhadap modul dan bahan ajar yang digunakan serta pengkajian berbagai textbook. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif yang mencakup 1) Reduksi data; 2) Penyajian secara naratif; dam 3) Penarikan kesimpulan. Hasil yang diperoleh berupa desain pembelajaran yang memperhatikan hambatan belajar dengan memprediksikan jawaban peserta didik dan antisipasi guru pada sebelum, saat dan setelah pembelajaran. Selain itu peserta didik diberikan sharing task yang merupakan aplikasi materi dalam kehidupan sehari-hari. Keywords: daya; desain pembelajaran; situasi didaktis; usaha
Evaluation of the YPI Al-‘Arabi online training program in enhancing teachers' pedagogical competence Nurlatifah Nurlatifah; Laksmi Dewi; Deni Kurniawan
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 2 (2025): Inovasi Kurikulum, May 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i2.80124

Abstract

The rapid digital development, which not all teachers have fully adapted to, presents challenges in enhancing pedagogical competence. Teachers at YPI Al-'Arabi stated that online training is less effective than offline training, particularly in terms of delivery methods and scheduling. This study aims to evaluate teachers' reactions to the training, its effectiveness in improving pedagogical competence, and the factors that influence it. This research employs a descriptive evaluative method with Kirkpatrick’s model at the reaction and learning levels. The sample consists of 32 teachers selected through purposive sampling. Data were collected using semi-structured questionnaires and pre-test and post-test assessments, with N-Gain analysis to measure knowledge improvement. The findings show that participants' reactions scored an average of 3.37 (84%), with the highest ratings given to instructors. However, the delivery method and schedule require improvement. At the learning level, an N-Gain score indicates moderate effectiveness. Factors influencing training effectiveness include instructional design, material relevance, and limited virtual interaction. In conclusion, this online training has the potential to enhance teachers' competence. However, it requires more innovative approaches. Recommendations include implementing blended learning, improving delivery methods, and adopting more effective interaction strategies.   Abstrak Pesantnya perkembangan digital yang belum sepenuhnya diikuti oleh semua guru menjadi tantangan dalam meningkatkan kompetensi pedagogik. Guru di YPI Al-'Arabi menyatakan bahwa pelatihan online kurang efektif dibandingkan offline, terutama terkait metode penyampaian dan jadwal. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan tingkat reaksi guru terhadap pelatihan, efektivitasnya dalam meningkatkan kompetensi pedagogik, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif evaluatif dengan model Kirkpatrick pada tingkat reaksi dan pembelajaran. Sampel terdiri dari 32 guru yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner semi tertutup dan tes pre-test serta post-test, dengan analisis N-Gain untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan tingkat reaksi peserta memperoleh skor rata-rata 3,37 (84%), dengan aspek pemateri tertinggi. Namun, metode dan jadwal pelatihan masih perlu disempurnakan. Pada tingkat pembelajaran, skor N-Gain sebesar menunjukkan efektivitas sedang. Faktor yang mempengaruhi efektivitas pelatihan meliputi desain pembelajaran, relevansi materi, dan keterbatasan interaksi virtual. Kesimpulannya, pelatihan online ini memiliki potensi meningkatkan kompetensi guru tetapi perlu pendekatan yang lebih inovatif. Rekomendasi mencakup penerapan blended learning, perbaikan metode interaksi, serta strategi interaksi yang lebih efektif. Kata Kunci: kompetensi pedagogi; model Kirkpatrick; pelatihan guru; pendidikan Islam