Claim Missing Document
Check
Articles

Karakteristik Pasien dan Penggunaan Obat Pada Pasien Covid-19 Derajat Sedang Hingga Berat Ni Made Maharianingsih; I Ketut Sudirta; Ni Putu Aryati Suryaningsih
Indonesian Journal of Pharmaceutical Education Vol 2, No 2 (2022): Mei-Agustus 2022
Publisher : Jurusan Farmasi Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37311/ijpe.v2i2.13958

Abstract

The development of cases of COVID-19 (coronavirus disease 2019) in the province Bali to increase until it ranks 10 th in Indonesia. This study aims to determine the characteristics of patients and the description of drug use for COVID-19 patients at Karangasem Hospital Bali for the period April 2020-Aril 2021. This study used a descriptive observational method with a cross-sectional design through a retrospective data search. The number of respondents as a sample was 200 patients with purposive sampling technique. The data collected is in the form of secondary data, which comes from medical records of COVID-19 patients at Karangasem Hospital. The results of the study showed that the most COVID-19 patients in Karangasem RSUD were from adults as many as 109 people (54.5%). Clinical symptoms experienced by all patients were fever with body temperature 38°C for more than 3 days and headache (100%). Patients who had comorbid as many as 196 people (98%) with pneumonia being the highest comorbid as many as 102 people (51%). The length of hospitalization for patients is generally 0-7 days by 69% (138 people). The highest patient status experienced moderate degree of symptoms by 89% (178 people) and severe 11% (22 people). The most drugs given to patients was vitamin C intravenously by 71% (142 people), while antiviral drugs in the form of oseltamivir (tamiflu) became the least by 1% (2 people). The characteristics of moderate-to-severe COVID-19 patients are dominated by male adult patients, have comorbidities (98%), clinical symptoms experienced by all patients are fever for more than 3 days and headache, with hospitalization for more than 3 days. The type of drug that is most often used is for antipyretic analgesics is paracetamol, the type of antibiotic is azithromycin, the type of antiviral is favipiravir, the type of corticosteroid is dexamethasone.
Faktor Rasionalitas Swamedikasi Suplemen Yang Mengandung Vitamin C Di Kota Denpasar Ni Putu Aryati Suryaningsih; Gde Palguna Reganata; Ayunda Deva Rinata
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 1 (2022): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i1.6440

Abstract

ABSTRAKProvinsi Bali pada bulan September 2020, memecahkan rekor tertinggi penambahan kasus harian Coronavirus Disease (COVID-19). Peningkatan pandemik menyebabkan penggunaan suplemen yang mengandung VItamin C meningkat secara signifikan. Penggunaan VItamin C masih sangat tinggi dan penelitian ini masih sangat terbatas. Penggunaan VItamin C yang meningkat dan tidak sesuai kebutuhan tubuh menyebabkan penggunaan vitamin tersebut tidak rasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui   faktor apa saja yang mempengaruhi responden dalam swamedikasi suplemen yang mengandung VItamin C. Penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif dengan Rancangan penelitian cross-sectional pada masyarakat kota Denpasar periode Januari- Juni 2021. Hasil penelitian di dapat responden terbanyak dalam swamedikasi di Usia Remaja Akhir sebanyak 49,5% terlihat paling banyak di Denpasar Barat terbanyak sebesar 31,4 %, dengan Jenis kelamin perempuan sebanyak 68,6 %. Tingkat pendidikan tinggi paling banyak sebesar 51,4 %  dengan Jenis suplemen Enervon C sebanyak 41% dan sumber Informasi terbanyak dari Tenaga Kesehatan sebanyak 41,9%. Faktor yang mempengaruhi rasionalitas swamedikasi adalah tingkat pendidikan dan sumber informasi dengan p = 0,001 dan p=0,009Kata kunci : Rasionalitas; Swamedikasi; Suplemen; Vitamin C.ABSTRACTProvince Bali in September 2020, the highest daily addition of cases of Coronavirus Disease (COVID-19).The increase in pandemic caused the use of supplements containing VItamin C significantly. The use of VItamin C is still very high and this research is very limited. The Increase use of  VItamin C and does not match the body’s needs causes the use  of this vitamin to be irational. This research aims to factors influence of respondents in swamedication supplements containing VItamin C.  This study is a quantitative descriptive with a cross-sectional approaches in Denpasar for the January-June 2021 period. In this study, the late teen as much as 49,5% was seen the most, the West Denpasar area was the most at 31,4%, with female as 68.6%. The highest level of higher education as 51,4% with Enervon C supplements as much as 41%, and the largest sources of information is from Health Workers as much as 41,9%. Factors that influences the rationality in swamedication are the evel of education and sources of information with p=0,001 and p=0,009.Keywords : Rationality; Swamedication; Suplement; Vitamin C 
ANALISIS DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK (PGK) RAWAT INAP DI SEBUAH RUMAH SAKIT DI BALI Ni Putu Aryati Suryaningsih; Putu Eka Arimbawa; Ni Putu Wintariani; Dewi Puspita Apsari
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v5i2.433

Abstract

Pasien penyakit ginjal kronik (PGK) memiliki risiko mengalami masalah-masalah terkait obat atau Drug Related Problems (DRPs). Penelitian bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan jenis terjadinya DRPs pada pasien PGK stage 3,4, dan 5 rawat inap di sebuah Rumah Sakit di Bali serta mengetahui hal-hal yang menyebabkan terjadinya DRPs. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan dengan dua pendekatan yang berkesinambungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pada tahap kuantitatif dilakukan secara observasional dan tahap kualitatif melalui wawancara dengan tenaga kesehatan. Sebanyak 58 pasien yang diikuti secara prospektif, yang kemudian dikelompokkan ke dalam stage 3, 4 dan 5. DRPs tersering adalah Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD) sebanyak 68,39% dan penyebab (causes) tersering adalah terkait pemilihan dosis sebanyak 38,55% dan terkait dengan asuransi sebesar 5,16%. Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya DRPs yaitu kebijakan, ketersediaan obat, komunikasi, keterbatasan sumber daya, error atau kesalahan tidak disengaja, pengetahuan dan persepsi terhadap outcome. DRPs yang paling sering terjadi adalah (ROTD) dengan penyebab yang paling sering pemilihan dosis selain itu disebabkan karena pemilihan obat, bentuk sediaan obat dan proses penggunaan obat. Perlunya adanya farmasi di ruangan yang bertugas untuk melihat terapi dan obat-obatan yang diterima pasien.
PENGETAHUAN, SIKAP DAN PRAKTIK SWAMEDIKASI PADA MAHASISWA UNIVERSITAS BALI INTERNASIONAL Dewi Puspita Apsari; Made Krisna Adi Jaya; Ni Putu Wintariani; Ni Putu Aryati Suryaningsih
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 6 No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v6i1.780

Abstract

Swamedikasi bila dilakukan secara irasional dapat menimbulkan masalah seperti efek samping obat. Hal tersebut dapat diturunkan dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat, dimana hal tersebut terwakilkan dari pengetahuan mahasiswa. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengetahuan, sikap dan praktik swamedikasi mahasiswa Farmasi dan Non-Farmasi di Universitas Bali Internasional. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Instrumen kuisioner yang mengandung 20 pertanyaan digunakan pada penelitian. Data dianalisis menggunakan SPSS (21.0). Chi-square test digunakan untuk membandingkan distribusi proporsi tiap kelompok sampel. Prevalensi swamedikasi antara mahasiswa Farmasi (77,4%) dan Non-Farmasi (40,4%) berbeda signifikan (p=0,000). Pengetahuan dan Praktik swamedikasi mahasiswa Farmasi signifikan lebih tinggi dibandingkan mahasiswa Non-Farmasi. Gejala flu merupakan indikasi obat yang paling banyak digunakan oleh mahasiswa Farmasi dan Non-Farmasi (43,1%). Mahasiswa Non-Farmasi (24,8%) signifikan (p=0,001) lebih tinggi menganggap penggunaan antibiotika aman untuk swamedikasi dibandingkan mahasiswa Farmasi (5,1%). Terdapat perbedaan signifikan lebih tinggi pengetahuan dan praktik swamedikasi pada mahasiswa Farmasi dan Non-Farmasi.
EFEK EKSTRAK DAUN SENDOK (Plantago major L.) TERHADAP ERITEMA PADA MARMUT PUTIH BETINA (Guinea pig) OLEH RADIASI ALAT MODIFIKASI UV 04-08 Dhiancinantyan Windydaca Brata Putri; Ni Putu Aryati Suryaningsih
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 4 No 1 (2018): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v4i1.872

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek anti-inflamasi ekstrak daun sendok (Plantago major L.) pada hewan coba berupa marmut putih betina (Guinea pig) yang diinduksi radiasi UV-B (290-320 nm). Penelitian ini menggunakan 30 ekor marmut putih betina yang dibagi menjadi kelompok uji sebanyak 10 ekor, kelompok pembanding sebanyak 10 ekor dan kelompok kontrol sebanyak 10 ekor. Kelompok uji diberi kapsul daun sendok dengan dosis 50 mg/kg yang diberikan secara oral tiap 5 jam sekali sehari, kelompok pembanding diberi obat antalgin dengan dosis 50 mg/kg yang diberikan secara oral tiap 5 jam sekali sehari dan kelompok kontrol diberi aquadem secara oral tiap 5 jam sekali sehari. Parameter yang diamati berupa perbandingan gradasi eritema dan persentase perubahan luas area eritema setelah diinduksi radiasi UV-B dan 24 jam setelah diinduksi radiasi UV-B. Berdasarkan hasil persentase perubahan luas area eritema dan gradasi eritema dapat disimpukan bahwa ekstrak daun sendok memiliki efek anti-inflamasi, tetapi efek anti-inflamasi ekstrak daun sendok tidak sebaik efek anti-inflamasi antalgin (sebagai pembanding).
Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Swamedikasi Obat Antinyeri di Apotek X di Kota Denpasar: berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) Ni Made Maharianingsih; Ni Luh Mia Jasmiantini; Gde Palguna Reganata; Ni Putu Aryati Suryaningsih; I Gusti Ayu Rai Widowati
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v8i1.2115

Abstract

Self-medication behavior is usually carried out to deal with complaints and minor ailments that many people experience, such as fever, pain, dizziness, cough, influenza, stomach ulcers, intestinal worms, diarrhea, skin diseases and others. The formation of behavior is influenced by knowledge. Behavior can be researched using the Theory of Planned Behavior (TPB) method. The purpose of this study was to determine the relationship between the level of knowledge and the behavior of self-medication of analgesic medication at Pharmacy X in Denpasar City. This study uses a survey method with a cross sectional approach. The sampling technique in this study used the convenience sampling method with the number of respondents in this study as many as 276 people with inclusion criteria, namely respondents who used pain medication without a doctor's prescription, aged 15-65 years, could read and write, were willing to fill out a questionnaire while the exclusion criteria were respondents with mental and physical disabilities.The instrument used in this study was a self-medication knowledge and behavior questionnaire that had been tested for validity and reliability with valid and reliable results. The data obtained were analyzed by the Somers'd correlation method because both use an ordinal scale. The results showed that the level of knowledge of the respondents was high 37,3%, moderate 33,7%, and low 29%. Respondents' behavior was divided into 3 categories of TPB, attitudes towards behavior with moderate results (47,1%), subjective norms with high results (43,1%) and behavioral control with high results (48,9%). The results of the correlation test show a significance value (p-value) of 0.000 (p<0.05), which means that there is a significant relationship. The conclusion of this study is that there is a relationship between the level of knowledge and the behavior of self-medication of analgesic medication at Pharmacy X in Denpasar City.
Peralihan Antibiotik Intravena ke Oral terhadap Lama Rawat Inap Pasien Pneunomia Komuniti di RSUD Klungkung Dhiancinantyan Windydaca Brata Putri; Ni Putu Aryati Suryaningsih
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 02 Desember 2021
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v18i2.9216

Abstract

Terapi sulih atau peralihan terapi antibiotik intravena ke oral pada pasien pneumonia komuniti di rumah sakit bertujuan untuk mengurangi biaya perawatan, lama rawat inap, mencegah infeksi nosokomial dan meningkatkan patient safety dalam rangka mencegah resistensi antibiotika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola peralihan terapi antibiotik intravena ke oral dengan lama rawat inap (length of stay) pasien pneumonia komuniti di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Klungkung Penelitian ini menggunakan desain non-experimental dengan metode deskriptif korelasi. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan data rekam medis pasien pneumonia komuniti yang menjalani rawat inap di RSUD Klungkung pada tahun 2017-2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola peralihan antibiotik intravena ke oral dengan lama rawat inap (length of stay) pasien pneumonia komuniti di RSUD Klungkung (p-value 0,918 > 0,05). Sedangkan tipe peralihan antibiotik intravena ke oral yang paling banyak diterapkan pada pengobatan pneumonia komuniti adalah tipe sequential (48,3 %) dibandingkan dengan tipe lainnya. Antibiotik yang sering diberikan pada pasien pneumonia komuniti adalah golongan fluorokuinolon sebesar 56,7 % dalam bentuk sediaan intravena dan 68,3 % dalam bentuk sediaan oral. Kesimpulan dari studi ini adalah peralihan antibiotik intravena ke oral tidak memiliki hubungan dengan lama rawat inap (length of stay) pasien pneumonia komuniti di RSUD Klungkung.
PENGOBATAN YANG AMAN BERDASARKAN 5 MOMENT FOR MEDICATION SAFETY Ni Putu Aryati Suryaningsih; Gde Palguna Reganata
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1709.796 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v5i1.312

Abstract

Latar Belakang: Pelayanan Farmasi merupakan salah satu kegiatan di pelayanan kesehatan yang  menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Perubahan paradigma kefarmasian dari terfokus pada obat (drug oriented)  menjadi fokus kepada pasien (patient oriented). Patient Oriented menuntut pelayanan kefarmasian yang komprehensif bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan  mengutamakan keselamatan pasien. Dalam meningkatkan keamanan pengobatan pasien, konsep manajemen pelayanan farmasi saat ini bergerak ke arah manajemen obat yang aman (medication safety). WHO mengeluarkan suatu pedoman berupa alat ukur mengenai medication safety 5momen yang mencakup 5 pertanyaan yang digunakan oleh pasien dalam perawatan mereka sendiri guna mencapai pengobatan yang aman. Antibiotik merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan di dunia yang digunakan secara tidak tepat dan tidak rasional. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotika yang aman, berdasarkan 5 Momen for Medication Safety. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian potong lintang deskriptif. Hasil: Secara keseluruhan diperoleh 60% yang menjawab benar , yaitu 72,4% yang mengetahui kapan memulai pengobatan antibiotika, 68,8% yang mengetahui mengkonsumsi antibiotika, 42,6% yang mengetahui menambah antibiotika,  47,2% yang mengetahui mereview pengobatannya, dan 68,8% mengetahui dengan benar menghentikan obat antibiotika. Kesimpulan: 60 % masyarakat yang benar mengetahui pengobatan yang aman penggunaan antibiotika dan 40% yang tidak mengetahuinya.kata kunci: Medication safety, Antibiotika, patient safety.ABSTRACT Pharmacy services are one of the activities in health services that support quality health services. Change paradigms in Pharmacy form drug oriented to patient oriented. Patient oriented. Patient oriented demands comprehensive pharmaceutical services aimed at improving the quality of life of patients and prioritizing patient safety. In improving the safety of patient medication, the current pharmaceutical service management concept is moving towards safe drug management. WHO released a new tool for measuring the medication safety, 5 momen which includes 5 questions used to patient can be  describe in their own care to achieve medication safety. Antibiotics are the most commonly used in the world that are used inappropriately and irrationally. The aim of study was to describe the safe  use of antibiotics based on  5 Momen for medication safety. Methods : This research is a research with a quantitative approach with a descriptive cross-sectional study design. Result of the study Overall, it was found that 60 % who answer correctly, 72,4 % who’s can know when to start antibiotics treatment, 68,8 % can know taking antibiotics, 42,6% can know when must adding the  antibiotics, 47,2% can know review the medication, and  68,8% can know when must stop the antibiotics. Conclusion : 60 % people who are really use the medication safety  and 40 % do not know it.Keyword : Medication safety, Antibiotic, patient safety
RASIONALITAS PENGGUNAAN ANALGESIK DALAM SWAMEDIKASI NYERI DI KOTA DENPASAR Ni Putu Lydya; Ni Putu Aryati Suryaningsih; Ni made Umi Kartika Dewi
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1724.735 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v5i1.315

Abstract

Latar Belakang: Nyeri merupakan keluhan terbanyak yang mendorong masyarakat untuk melakukan praktek swamedikasi. Analgesik efektif dan memiliki indeks terapi yang luas, namun dapat berpotensi untuk menimbulkan efek samping yang serius bahkan ketika digunakan dalam dosis yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran terkait rasionalitas penggunaan analgesik dalam swamedikasi nyeri di Kota Denpasar. Metode: Studi ini menggunakan desain cross-sectional dan melibatkan 196 responden yang dipilih dengan consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner pada enam apotek di wilayah Kota Denpasar dan dianalisis secara deskriptif. Hasil: Penelitian ini menemukan bahwa 50,5% responden menggunakan analgesik secara tidak rasional dalam praktek swamedikasi nyeri. Mayoritas responden yang menggunakan analgesik dalam swamedikasi nyeri adalah perempuan, usia 17-25 tahun, tingkat pendidikan tinggi, bekerja dan memiliki tingkat pendapatan yang rendah. Kesimpulan: Setengah dari total responden menggunakan analgesik secara tidak rasional dalam praktek swamedikasi nyeri. Tingginya ketidakrasionalan penggunaan analgesik dapat menyebabkan peningkatkan biaya pengobatan dan dapat menimbulkan kondisi yang berbahaya. Kata kunci: Penggunaan analgesik, rasionalitas, swamedikasi AbstractBackground: Pain is the most complaints of illness that encourage communities to use analgesics in self-medication practice. Analgesics are effective and have a broad therapeutic index, but may have potentially serious side effects even when they used in the right dosage. This study aimed to determine the rationality of analgesic use in pain self-medication in Denpasar City. Method: A cross-sectional design was used, and involved 196 respondents selected through consecutive sampling. Data were collected from questionnaire distribution in six pharmacies in Denpasar City and analyzed by using descriptive statistics. Result: This study found that 50,5% respondents used analgesics irrationally in pain self-medication practice. The majority of respondents who used analgesics in pain self-medication were females, aged 17-25 years old, high education level, employed, and had low income. Conclusion: Half of the total respondents used analgesics irrationally in pain self-medication practice. High of irrational analgesic use can increase medical costs and lead to dangerous conditions. Keywords:  Analgesic use, pain, rationality, self-medication
Characterization and Screening Active Phytochemical Compounds of 70% Ethanol Extract of Mahogany Seed (Swietenia mahagoni Jacq.) I Putu Gede Adi Purwa Hita; Putu Eka Arimbawa; Ni Putu Aryati Suryaningsih
Ad-Dawaa: Journal of Pharmaceutical Sciences Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/djps.v4i1.21225

Abstract

One of the herbal medicinal plants in Indonesia with antidiabetic activity is mahogany (Swietenia mahagoni Jacq.). Differences in plant parts used, extraction methods, and solvents during the extraction process will result in different characterization, quantity, and active phytochemical compounds in the extract. This study aimed to determine the content of active phytochemical compounds and extract characteristics of mahogany seed that fit the standards. Extracts were made using the maceration method with 70% ethanol solvent, then extract was characterized, and phytochemicals of active compounds were screened using reagents according to each group of compounds' test method. 50.16 g of 70% ethanol extract of mahogany seeds produced in this study had a solid form, characteristic odor, bitter taste, and brown color. The extract has the characteristics of water content, total ash content, acid insoluble ash content, water-soluble extracts content, and soluble ethanol extracts content according to the standard. Several classes of active compounds were identified qualitatively in the extract, which are flavonoids, phenolics, terpenoids, steroids, glycosides, and saponins. It appears that 70% ethanol extract of mahogany seed has a characterize extract that meets the standards and contains several active phytochemical compounds as potential antidiabetic agents.
Co-Authors Andyani, Ni Kadek Ayu Surya Ayunda Deva Rinata Barata Putri, Dhiancinantyan Windydaca Bayu Krisna, I Nyoman Califia Ersa Vinata Dewa Ayu Putu Satrya Dewi Dewa Ayu Putu Satya Dewi Dewa Ayu Putu, Satrya Dewi Dewi Puspita Apsari Dewi Puspita Apsari Dewi, Kadek Lina Mariana Dhiancinantyan Windydaca Brata Putri Dwidjayanti, Ni Kadek Candra Gandisha Sandili Gayatri, Ni Kadek Weni Diah Giwangkara, I Gusti Agung Ayu Ningrat I Gusti Ayu Agung Agung Septiari I Gusti Ayu Agung Septiari I Gusti Ayu Agung Septriani I Gusti Lanang Made Rudiartha I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra I Gusti Ngurah Mayun I Ketut Sudirta I Ketut Tunas I Made Bakta I Putu Aris Septa Permana I Putu Gede Adi Purwa Hita I Putu Gede Adi Purwa Hita I Putu Nugraha I Putu Riska Ardinata I Wayan Martadi Santika Ida Bagus Maharjana IGA Ari Septiari Juliani, Ni Kadek Kartika Dewi, Ni Made Umi Ketut Agus Adrianta Ketut Agus Adrianta Lydya, Ni Putu Made Karma Maha Wirajaya Made Krisna Adi Jaya Maharianingsih, Ni Made Ni Luh Mia Jasmiantini Ni Made Maharianingsih Ni Made Maharianingsih Ni made Umi Kartika Dewi Ni Made Yunitasari Ni Nyoman Ayu Devi Suyeni Ni Nyoman Dwi Sutrisnawati Ni Nyoman Sri Budayanti Ni Putu Ayu Meilla Kartika Putri Ni Putu Ayu Meilla Kartika Putri Ni Putu Lydya Ni Putu Sinthya Devi Widyarini Ni Wayan Mita Arisia Nyoman Trisna Aryanata Purwahita, Adi Puspita Apsari, Dewi Putri, Dhiancinantyan Windydaca Barata Putu Eka Arimbawa Putu Eka Arimbawa Putu Prayascittadevi Empuadji Putu Yudhistira Budhi Setiawan Putu Yudhistira Budisetiawan Reganata, Gde Palguna Rinata, A.A.Ayunda Deva Rinata, Ayunda Deva Rismayanti Putri, Putu Saraswati, Anak Ayu Sri Septiari, I Gusti Ayu Agung Siti Nur Aini, Siti Nur Sutema, Ida Ayu Manik Partha Valencia, Valencia Vidianti, Ni Komang Vera Vinata, Califia Ersa Wartana Putra, I Gusti Ngurah Agung Windra Widowati, I Gusti Ayu Rai - Wintariani, Ni Putu Wintariani, Ni Putu Aryati Yanti, Ni Komang Semara