Claim Missing Document
Check
Articles

Penyuluhan Penggunaan Antibiotik yang Bijak di Rumah Tangga Desa Bengkel, Tabanan I Gusti Ayu Rai Widowati; Ida Ayu Manik Partha Sutema; Ni Made Maharianingsih; Ni Putu Aryati Suryaningsih; I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra; Ketut Agus Adrianta; Ni Komang Semara Yanti; Ni Nyoman Sri Budayanti
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada Vol. 5 No. 1 (2023): Juni: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47859/wuj.v5i1.310

Abstract

Background: Using antibiotics for self-medication increases the risk of developing resistance, which raises morbidity and mortality. Communities are crucial in stopping and limiting the spread of antibiotic resistance (AMR). 80% of the residents in Bengkel Village work as farmers. The agrarian community in Bengkel Village has highly magnificent natural potential as well as agricultural and cultural activities that are still well maintained. It also has the largest “subak” land in Kediri Regency. Purpose: This community service is to educate the general population about the importance of limiting the use of antibiotic self-medication, which is essential for combating AMR. Methods: The Clinical Pharmacy Study Program, the Indonesian Pharmacists Association Bali Province, and the One Health Collaborating Center collaborated on this community service. On July 17, 2022, in Bengkel Village-Tabanan, a health counseling intervention was done with housewives who are participants in the Family Welfare Empowerment. Results: Over 50 people from the Chairman, Management, and Family Welfare Empowerment cadres in Bengkel Village made up the community component of this health counseling. The participants' enthusiasm for watching the event and engaging with the resource people is proof that the activity went off without a hitch. By providing more counseling, activities are intended to be sustained (stage 2). Conclusion: Community service in Bengkel Village-Tabanan is expected to provide knowledge about health and the importance of AMR awareness. For the continuation of this activity, it is recommended to conduct outreach to other community groups such as farmers, breeders, and young age groups.
PENGGUNAAN HERBAL DALAM TERAPI KOMPELEMENTER PADA HIPERTENSI. Ni Putu Aryati Suryaningsih; I Gusti Ayu Agung Agung Septiari
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan Vol 12 No 1 (2023): MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan
Publisher : LPPM Akafarma Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48191/medfarm.v12i1.177

Abstract

Hipertensi sering kita ketahui sebagai Sillent killer karena sering tanpa keluhan. Dikatakan hipertensi ketika tekanan sistolik terukur ≥140 mmHg atau tekanan diastolik terukur ≥90 mmHg. Prevalensi penderita hipertensi di Kota Denpasar masih terbilang cukup tinggi yaitu sebanyak 177.627 diperkirakan terjadi peningkatan penderita hipertensi di Kota Denpasar dari tahun 2014 sekitar 114.421. Penatalaksanaan terapi dalam hipertensi bisa dilakukan secara farmakologi dan non farmakologi. Penggunaan herbal sebagai bagian dari pengobatan hipertensi semakin meningkat dalam beberapa decade terakhir ini. Penelitian ini mencoba melihat pola penggunaan herbal dalam terapi komplementer pada hipertensi di kota Denpasar. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Pasien hipertensi yang bersedia mengikuti penelitian dan menggunakaan terapi konvensional kombinasi dengan komplementer herbal di rentang usia 17-65 masuk dalam sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan laki-laki sebesar 52% dengan rentang usia 46-55 tahun sebanyak 70% merupakan kategori lanjut usia yang lebih banyak menggunakan herbal dalam terapi komplementer. Tiga terbesar herbal yang digunakanadalah Buah timun 39%, daun seledri 30% dan bawang putih 9%. Sumber informasi terkait pemanfaatan herbal ini diperoleh dari keluarga sebanyak 60 %, Teman sebanyak 38% dan Internet sebanyak 12 %. Dapat disimpulkan bahwa penederita hipertensi masih banyak yang menggunakan herbal dalam terapi komplementer yaitu buah mentimun dengan informasi terbanyak diperoleh dari keluarga. Kata kunci: terapi komplementer, hipertensi, herbal
Sosialisasi Apoteker Remaja (Apore) Siswa SMAN 7 Denpasar Mengenal Dagusibu Dan Toga Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; I Gusti Ayu Rai Widowati; Ni Putu Aryati Suryaningsih; IGA Ari Septiari; Ida Ayu Manik Partha Sutema
DEDIKASI PKM Vol. 4 No. 3 (2023): DEDIKASI PKM UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/dedikasipkm.v4i3.33282

Abstract

Apoteker adalah profesi kesehatan yang kompeten terkait pengelolaan obat-obatan. Apoteker telah melakukan perubahan pelayanan dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical Care) yang berorientasi kepada pasien, agar peranan apoteker lebih dirasakan kehadirannya. Siswa SMA merupakan kelompok remaja yang dapat menjadi agent of change untuk menjadi Apoteker Remaja (APORE). Pada pengabdian kali ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian siswa SMAN 7 Denpasar tentang penggunaan obat yang tepat dan pemanfaatan TOGA. Sehingga siswa-siswi SMAN 7 Denpasar  dapat menjaga kesehatan mereka secara mandiri maupun membantu orang lain. Metode pengabdian APORE kali ini menggunakan Cara Belajar Insan Aktif (CBIA) dengan tiga tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan APORE diikuti oleh Siswa Siswi SMAN 7 Denpasar yang berjumlah 59 orang. Rata-rata nilai pretest adalah 58%, sedangkan rata-rata nilai posttest meningkat 2 kali lipatnya yaitu menjadi 91%. Hal ini menunjukkan peningkatan yang bermakna setelah peserta mendapatkan materi tentang obat dan TOGA. Namun Indikator TOGA menjadi topik yang mempunyai hasil pretest yang paling rendah yaitu 30%. Hasil ini sesuai dengan informasi yang diperoleh saat wawancara dengan Guru BK, yakni siswa-siswi SMAN 7 Denpasar tidak pernah memanfaatkan TOGA untuk pengobatan. Hal ini yang menjadi konsentrasi dari Program Studi Farmasi Klinis UNBI untuk bisa berbagi lebih banyak informasi terkait TOGA dan obat tradisional kepada remaja.
KEJADIAN DISKREPANSI DALAM PELAKSANAAN REKONSILIASI OBAT DI RUMAH SAKIT TIPE B DI KOTA DENPASAR Putu Prayascittadevi Empuadji; Ni Putu Aryati Suryaningsih; I Gusti Ayu Agung Septriani
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 8 (2023): Volume 10 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i8.11459

Abstract

Abstrak : Kejadian Diskrepansi Dalam Pelaksanaan Rekonsiliasi Obat Di Rumah Sakit Tipe B Di Kota Denpasar. Salah satu komponen penting yang berperan dalam keberhasilan penyelenggaraan kesehatan di rumah sakit adalah pelayanan kefarmasian. Rekonsiliasi obat merupakan suatu proses yang menjamin informasi terkait penggunaan obat yang akurat dan komprehensif dikomunikasikan secara konsisten setiap kali terjadi perpindahan pemberian layanan kesehatan kepada pasien. Ketidaksesuaian dalam peresepan atau diskrepansi (Discrepancy) adalah jenis kesalahan medis yang paling umum dan signifikan terjadi dalam perawatan pasien. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pelaksanaan rekonsiliasi obat kejadian diskrepansi pada pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Bali Mandara. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengambilan data secara retrospektif. Lokasi penelitian di Rumah Sakit Bali Mandara dan waktu penelitian berlangsung selama 3 bulan dari Juni 2022 - Agustus 2022. Sampel penelitian sebanyak 100 sampel. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan karakteristik pasien. Dari 100 total sampel, perbandingan jumlah pelaksanaan rekonsiliasi obat pindah ruangan yaitu 50.00% tidak dilakukan rekonsiliasi obat dan 50.00% dilakukan rekonsiliasi obat. Dari 175 diskrepansi, 160 diskrepansi (98,25%) ditandai sebagai unintentional discrepancies (tidak disengaja) dan 3 (1,74%) diskrepansi sebagai intentional (disengaja) pada kelompok yang tidak dilakukan rekonsiliasi obat sedangkan pada kelompok yang dilakukan rekonsiliasi obat, 12 diskrepansi ditandai sebagai intentional. Kelengkapan pengisian setiap poin pada formulir rekonsiliasi obat belum dilakukan secara optimal. Jumlah kejadian diskrepansi pada pasien yang tidak dilakukan rekonsiliasi obat lebih tinggi jika dibandingkan dengan pasien yang dilakukan rekonsiliasi.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN OBAT TRADISIONAL DI DESA PANCASARI Gandisha Sandili; Ni Putu Aryati Suryaningsih; Dewa Ayu Putu Satrya Dewi
JOURNAL SCIENTIFIC OF MANDALIKA (JSM) e-ISSN 2745-5955 | p-ISSN 2809-0543 Vol. 4 No. 10 (2023): Oktober
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/10.36312/vol4iss10pp238-251

Abstract

Traditional medicine is now no longer a taboo subject for the community, currently many people's lifestyles lead back to nature by using herbal medicines, one of which is increasing the use of these herbal medicines so that it is necessary to analyze the factors that influence the behavior of the Pancasari Village community in the use of traditional medicine.To determine the influence of factors that underlie people's behavior regarding the use of traditional medicines in Pancasari Village.This research is a type of observational research that is descriptive quantitative, with the research design used is Cross Sectional and the sampling technique used in this research is the Side Purposive Technique. The number of samples is 96 respondents, data management uses SPSS by analyzing Univariate Test data and Logistic Regression Analysis.Logistic Regression Analysis of sociodemographic factors on people's behavior in using traditional medicines in Pancasari Village, there are several factors that influence people's behavior in using traditional medicines in Pancasari Village with a significant value, namely the age factor p-value = 0.045 (p <0.05 ), income factor p-value = 0.034 (p<0.05), and occupational factors that obtain a significant p-value = 0.042 (p<0.05). Plants that are often used by the community in the use of traditional medicine are ginger/red ginger to treat throat problems by 15 people (15.6%), turmeric for treating menstrual pain by 10 people (10.4%), and lime for increased endurance and overcome acne problems as many as 10 people (10.4%).There is an influence of age, income and occupation on people's behavior in the use of traditional medicines in Pancasari Village, Buleleng Regency.
GAMBARAN PERILAKU PEMANFAATAN LOLOH CEMCEM SEBAGAI OBAT HERBAL DI DESA PENGLIPURAN Ni Putu Ayu Meilla Kartika Putri; Ni Putu Aryati Suryaningsih; Gde Palguna Reganata
JOURNAL SCIENTIFIC OF MANDALIKA (JSM) e-ISSN 2745-5955 | p-ISSN 2809-0543 Vol. 4 No. 8 (2023): Agustus
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/10.36312/vol4iss8pp113-120

Abstract

The world of health is starting to realize that there are hidden dangers behind the excessive use of synthetic drugs, so people's attention is now turning to hereditary medicine. One of them is the use of traditional herbal lolo cemcem. Preliminary studies found that 9 out of 10 residents of Penglipuran Village prefer loloh cemcem as herbal medicine because it has many benefits for treatment. The purpose of this study was to determine the behavior of using loloh cemcem as an herbal medicine in the Penglipuran village community. The research method used is a qualitative approach with an ethnographic study design and data collection techniques by means of interviews. The results showed that loloh cemcem had been used for generations, the community knew the benefits of loloh cemcem, and the personal experience felt by the community regarding the use of loloh cemcem, had the same processing method, and there were differences in how to use it in the dosage section and how many times a day to drink it , and the utilization of lolo cemcem is supported from a family perspective. Based on the research findings, knowledge about loloh cemcem has been passed down from generation to generation and the public has the view that loloh cemcem is not just a traditional refreshing drink but can be used as herbal medicine. The benefits of loloh cemcem are believed by the people of Penglipuran Village in medicine and health, namely to overcome constipation (difficulty defecating), heartburn, bleeding gums and can increase appetite.
Pengaruh Electronic Book Dagusibu Terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik Di Kota Denpasar Ni Putu Aryati Suryaningsih
Jurnal Kesehatan Mahardika Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan Mahardika
Publisher : LPPM ITEKES Mahardika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54867/jkm.v9i1.91

Abstract

Dalam pelayanan kesehatan penggunaan antibiotik seringkali tidak tepat sehingga pengobatan kurang efektif, terjadi peningkatan risiko terhadap keamanan pasien, meluasnya resistensi, dan tingginya biaya pengobatan. Pada tahun 2013 kurang lebih 700.000 kematian akibat resistensi antibiotik terjadi di seluruh dunia. Salah satu cara untuk mengendalikan kejadian resistensi bakteri yaitu dengan menggunakan obat antibiotik secara rasional. Penggunaan antibiotik dapat dikatakan rasional apabila dilakukan melalui gerakan DAGUSIBU yaitu dengan dapatkan, gunakan, simpan, dan buang obat dengan baik dan benar. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui gambaran serta pengaruh terhadap tingkat pengetahuan tentang antibiotik sebelum dan sesudah dilakukan edukasi e-book DAGUSIBU antibiotik di Kota Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental design dengan pendekatan one pre test – post test design. Pada teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probility sampling dengan purposive sampling serta menggunakan jumlah sampel minimum sebanyak 30 sampel. Sebelum dilakukan edukasi tingkat pengetahuan masyarakat sebanyak 40% baik dan 40% kurang. Dilihat dari nilai pengetahuan saat dilakukan pre test hingga post test III terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat sesudah diberikan edukasi e-book, hal ini menyatakan bahwa adanya pengaruh edukasi e-book DAGUSIBU antibiotik. Maka perlu dilakukan edukasi (secara langsung atau tidak langsung) pada masyarakat untuk meningkatkan tingkat pengetahuan DAGUSIBU antibiotik dalam mencegah resistensi antibiotik. Kata Kunci: Antibiotik, Edukasi, Pengaruh
Upaya Peningkatan Pengetahuan dalam Pemanfaatan Produk Herbal Jamu untuk Kesehatan pada Masa Pandemi COVID-19 di Kabupaten Badung Ni Putu Aryati Suryaningsih
Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan Vol 1 No 1 (2022): juni
Publisher : Politeknik Kesehatan Kartini Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36049/genitri.v1i1.64

Abstract

Terjadinya peningkatan kasus Covid-19 tiap harinya menunjukkan masih kurangnya kepedulian masyarakat terhadap pencegahan terhadap Covid-19. Pemerintah terus menggalakkan program pencegahan penyebaran kasus Covid-19 dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Selain PHBS, pemerintah juga menyarankan kepada masyarakat untuk obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM. Adanya peningkatan pemanfaatan produk herbal di masyarakat harus disertai dengan pengetahuan yang baik tentang produk herbal tersebut. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah memberikan edukasi terkait peningkatan pengetahuan terhadap produk herbal untuk kesehatan guna menghadapi masa pandemi covid-19. Metode kegiatan ini dengan memberikan edukasi terkait program ini melalui Platform Zoom Meeting selain itu saya menggunakan WhatsApp dan Instagram sebagai sarana pendekatan untuk melakukan pengambilan data dan pembagian media booklet dan pengukuran pengetahuan dilakukan sebelum dan setelah pemberian edukasi. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah terdapatan peningkatan pengetahuan dari sebelum diberikan edukasi tingkat pengetahuan sebagian besar partisipan adalah cukup dengan angka 23 (77%) menjadi menjadi baik dengan angka 30 (100%). Data ini menunjukkan bahwa tujuan dari kegiatan ini tercapai, yaitu peningkatan pengetahuan partisipan terhadap produk herbal untuk kesehatan guna menghadapi masa pandemi covid-19.
PENGARUH EDUKASI TERHADAP TINGKAT KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS I DENPASAR TIMUR Vidianti, Ni Komang Vera; Suryaningsih, Ni Putu Aryati; Satrya Dewi, Dewa Ayu Putu
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 12 (2023): Volume 10 Nomor 12
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i12.12998

Abstract

Abstrak : Pengaruh Edukasi Terhadap Tingkat Kepatuhan Pasien Hipertensi Di Puskesmas I Denpasar Timur. Hipertensi merupakan penyakit kronis adanya peningkatan tekanan pembuluh darah arteri. Pasien hipertensi diharuskan mengkonsumsi obat secara teratur. Edukasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kepatuhan pasien minum obat. Salah satu contoh edukasi yaitu Booklet. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap tingkat kepatuhan pasien hipertensi di Puskesmas I Denpasar Timur. Rancangan penelitian ini merupakan pre-experimental design tipe one group pretest-postest dan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan metode purposive sampling dimana jumlah sampel sebanyak 30 orang diberikan edukasi. Pengukuran tingkat kepatuhan dilihat dari Pill count. Data yang dianalisis dengan software komputer dengan uji wilcoxon test untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap tingkat kepatuhan pasien hipertensi. Hasil uji wilcoxon test menunjukkan hasil terdapat perbedaan signifikan kepatuhan minum obat pasien hipertensi sebelum dan sesudah diberikan intervensi 0.025<0.05. Dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi melalui Booklet dapat meningkatkan kepatuhan minum obat pasien hipertensi di Puskesmas I Denpasar Timur
Hubungan Sosiodemografi Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Swamedikasi Nyeri Di Kelurahan Sempidi Kabupaten Badung Ni Made Yunitasari; Suryaningsih, Ni Putu Aryati; Maharianingsih, Ni Made; Sutema, Ida Ayu Manik Partha
Journal Sport Science, Health and Tourism of Mandalika (Jontak) e-ISSN 2722-3116 Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jontak.v5i1.1925

Abstract

Analgesics are one of the most widely used drugs in self-medication, with 35.2 – 59%. This shows the great potential for insecurity in the use of analgesics in self-medication in the community.Self-medication must be carried out according to the disease experienced, its implementation must meet the criteria for using the right drug as much as possible. A person's behavior plays an important role in the accuracy of treatment to support medication safety of analgesic drugs. Differences in sociodemographic factors between communities are considered to influence people's behavior in self-medication for pain, so it is necessary to study this relationship.The research design used is descriptive quantitative with a cross sectional research design. The number of samples used was 96 respondents with purprosive sampling. Measurements were carried out using a questionnaire with data analysis techniques univariate test and multivariate binary logistic regression.The sociodemographic description of the respondents is mostly unmarried 69.8%, aged between 26-45 years 47.9%, dominated by female respondents 75.0%, the majority as private employees & entrepreneurs 53.1% with a Diploma/Bachelor/Level education history of 75.0% and the majority earn <Rp. .1,500.00 as much as 35.4%. The people of Sempidi Village who had poor self-medication behavior were 54.2% and those who had good self-medication behavior were 45.8%. Last education (OR=11.016), gender (OR=8.394), age (OR=3.822) and occupation (OR=4.32) were found to have a significant relationship to the self-medication behavior of the community in pain self-medication. The people of Sempidi Village who carry out pain self-medication are classified as having less self-medication behavior so they are expected to dig deeper information regarding the proper use of analgesic drugs.
Co-Authors Andyani, Ni Kadek Ayu Surya Ayunda Deva Rinata Barata Putri, Dhiancinantyan Windydaca Bayu Krisna, I Nyoman Califia Ersa Vinata Dewa Ayu Putu Satrya Dewi Dewa Ayu Putu Satya Dewi Dewa Ayu Putu, Satrya Dewi Dewi Puspita Apsari Dewi Puspita Apsari Dewi, Kadek Lina Mariana Dhiancinantyan Windydaca Brata Putri Dwidjayanti, Ni Kadek Candra Gandisha Sandili Gayatri, Ni Kadek Weni Diah Giwangkara, I Gusti Agung Ayu Ningrat I Gusti Ayu Agung Agung Septiari I Gusti Ayu Agung Septiari I Gusti Ayu Agung Septriani I Gusti Lanang Made Rudiartha I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra I Gusti Ngurah Mayun I Ketut Sudirta I Ketut Tunas I Made Bakta I Putu Aris Septa Permana I Putu Gede Adi Purwa Hita I Putu Gede Adi Purwa Hita I Putu Nugraha I Putu Riska Ardinata I Wayan Martadi Santika Ida Ayu, Manik Partha Sutema Ida Bagus Maharjana IGA Ari Septiari Juliani, Ni Kadek Kartika Dewi, Ni Made Umi Ketut Agus Adrianta Ketut Agus Adrianta Lydya, Ni Putu Made Karma Maha Wirajaya Made Krisna Adi Jaya Maharianingsih, Ni Made Ni Luh Mia Jasmiantini Ni Made Maharianingsih Ni Made Maharianingsih Ni made Umi Kartika Dewi Ni Made Yunitasari Ni Nyoman Ayu Devi Suyeni Ni Nyoman Dwi Sutrisnawati Ni Nyoman Sri Budayanti Ni Putu Ayu Meilla Kartika Putri Ni Putu Ayu Meilla Kartika Putri Ni Putu Lydya Ni Putu Sinthya Devi Widyarini Ni Wayan Mita Arisia Nyoman Trisna Aryanata Purwahita, Adi Puspita Apsari, Dewi Putri, Dhiancinantyan Windydaca Barata Putu Eka Arimbawa Putu Eka Arimbawa Putu Prayascittadevi Empuadji Putu Yudhistira Budhi Setiawan Putu Yudhistira Budisetiawan Reganata, Gde Paguna Reganata, Gde Palguna Rinata, A.A.Ayunda Deva Rinata, Ayunda Deva Rismayanti Putri, Putu Saraswati, Anak Ayu Sri Septiari, I Gusti Ayu Agung Siti Nur Aini, Siti Nur Sutema, Ida Ayu Manik Partha Valencia, Valencia Viana, Putu Wulan Octa Vidianti, Ni Komang Vera Vinata, Califia Ersa Wartana Putra, I Gusti Ngurah Agung Windra Widowati, I Gusti Ayu Rai - Wintariani, Ni Putu Wintariani, Ni Putu Aryati Yanti, Ni Komang Semara