Claim Missing Document
Check
Articles

Found 118 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Analisis Pengaruh Penerapan Listen Before Talk (lbt) Pada Ltelicensed Assisted Access (laa) Terhadap Wi-fi 5ghz Dilla Fajar Sukma Dilaga; Uke Kurniawan Usman; Doan Perdana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pertumbuhan pengguna yang semakin bertambah setiap tahunnya, terutama pada kawasan dengan kepadatan penduduk yang tinggi akan menjadi masalah yang serius apabila tidak ditanggulangi dengan efektif. Baik dari pengguna yang menginginkan user experience yang lebih baik maupun dari operator menginginkan jaringan yang dapat melayani pelanggan dengan baik dalam hal kapasitas maupun layanan. Salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas adalah penggunaan spektrum frekuensi secara maksimal, tetapi kesediaan sumber daya spektrum frekuensi terbatas. Pemanfaatan spektrum unlicensed dianggap 3GPP sebagai salah satu solusi yang menjanjikan untuk memenuhi pertumbuhan trafik yang terus meningkat. Ketersediaan spektrum yang tinggi (500 MHz) hampir di seluruh dunia menjadikan penggunaan pada spektrum ini memiliki peluang baik. LTE Release 13 memungkinkan penggunaan spektrum frekuensi unlicensed yang disebut dengan Licensed-Assisted Access (LAA). Pada LTE-LAA, spektrum licensed LTE digunakan sebagai primary cell yaitu untuk membawa informasi serta mengangkut trafik data. Sedangkan spektrum unlicensed 5 GHz digunakan sebagai secondary cell yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas serta pembagian spektrum secara adil. LTE-LAA tidak akan menggantikan peran Wi-Fi namun akan berkoeksistensi sehingga menjadi tetangga yang baik dan tidak merugikan Wi-Fi ataupun teknologi lainnya dalam rentang frekuensi tersebut. Hasil simulasi menghasilkan indeks fairness throughput 64 pengguna untuk FTP over UDP pada skenario 1 sebesar 0.998, skenario 2 sebesar 0.857 dan skenario 3 sebesar 0.997, sementara latency sebesar 0.991 untuk skenario 1, 0.849 skenario 2 dan 0.999 skenario 3. Sedangkan untuk FTP over TCP fairness throughput pada skenario 1 sebesar 0.779, skenario 2 sebesar 0.639 dan skenario 3 sebesar 0.741, sementara latency 0.959 untuk skenario 1, 0.875 skenario 2 dan 0.949 untuk skenario 3. Kata kunci : LTE-LAA, unlicensed, Wi-Fi, fairness, integrity KPI. Abstract The more users are increasing, the greater the area that will increase in size, the more difficult it will be to overcome effectively. Both from users who want a better user experience from operators who can provide customers well in terms of capacity and service. One way to increase capacity is the use of maximum frequency, but the source of availability of the frequency spectrum is limited. The use of the spectrum without permission is considered 3GPP as one of the solutions that is expected to obtain ever-increasing traffic growth. Consider high spectrum (500 MHz). LTE 13 releases allow the use of unlicensed frequency variations called License-Assisted Access (LAA). In LTE-LAA, a combination of licensed LTE is used as primary cells to carry information and transport traffic data. Whereas the 5 GHz unlicensed spectrum is used as secondary cells that are proposed to increase capacity and distribute the spectrum fairly. LTE-LAA will not take on the role of Wi-Fi but will coexist so that it becomes a good neighbour and does not violate Wi-Fi or other technologies in that frequency range. The simulation results produce a throughput fairness index of 64 users for FTP over UDP in scenario 1 of 0.998, scenario 2 of 0.857 and scenario 3 of 0.997, while latency is 0.991 for scenario 1, 0.849 for scenario 2 and 0.999 scenario 3. While FTP over TCP throughput fairness index in scenario 1 is 0.779, scenario 2 is 0.639 and scenario 3 is 0.741, while latency is 0.959 for scenario 1, 0.875 scenario 2 and 0.949 for scenario 3. Keywords: LTE-LAA, unlicensed, Wi-Fi, fairness, KPI integrity
Analisis Perencanaan Jaringan Lte Femtocell Di Gedung Tamansari Parama Office Park Pt Wika Realty Ahsanul Gibran; Kris Sujatmoko; Uke Kurniawan Usman
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Ketersediaan layanan berkualitas di setiap tempat merupakan hal penting bagi pelanggan. Salah satunya di dalam Gedung Tamansari Parama, kebutuhan akses layanan data berkecepatan tinggi dibutuhkan melihat gedung tersebut merupakan gedung perkantoran. Femtocell menjadi solusi yang dapat digunakan untuk coverage area dan memberikan akses layanan kepada pelanggan di dalam Gedung Tamansari Parama. Perancangan jaringan LTE ini di simulasikan menggunakan software RPS untuk simulasi coverage dan SIR. Digunakan juga metode Distributed Antenna System (DAS) untuk mengetahui detail peletakan dari antenna. Dari hasil perancangan, dibutuhkan yaitu 34 FAP yang perlu dipasang pada Gedung Tamansari. Kemudian dari simulasi untuk lantai Basement sampai lantai 16 memiliki rata-rata hasil RSL pada persentase terendah yaitu 95.09% dan tertinggi yaitu 99.18% sehingga telah sesuai standar KPI yaitu diatas 90% untuk masing-masing lantainya. Begitupun dengan SIR, masing-masing lantai telah memenuhi standar KPI diatas 90%, dimana memiliki ratarata SIR terendah yaitu dengan 96.76% dan tertinggi yaitu 98.24%. Abstract The availability of quality services in every place is important for customers. Such as in Tamansari Parama Building, access to high-speed data services is needed because the building as an office building. Femtocell is a solution that can be used for coverage areas and provides access to services customers in Parama Tamansari Building. The design of this LTE network is simulated using RPS software for coverage simulation and SIR. Also used is the Distributed Antenna System (DAS) method to find out the details of the placement of the antenna. From the results of the design it is needed that is 49 FAP which needs to be installed in the Tamansari Building. Then from the simulation for the Basement floor to the 16th floor, the average RSL results at the lowest percentage is 95.09% and the highest is 99.18% so that it meets the KPI standard which is above 90% for each floor. Likewise with SIR, each floor that has met the KPI standard above 90%, which has an average SIR which is the lowest with 96.76% and the highest is 98.24%.. Keywords: Femtocell, SIR, RSL, RPS, DAS
Analisis Perbandingan Migrasi Jaringan 4g Ke 5g Dengan Menggunakan Model Konfigurasi 3a Dan 7a Doni Bima Saputra; Uke Kurniawan Usman; M Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Migrasi terhadap jaringan 4G ke 5G merupakan sebuah perkembangan/kemajuan dari teknologi telekomunikasi saat ini. Terdapat beberapa opsi konfigurasi pada migrasi jaringan tersebut antara lain opsi 3a dan 7a. Kedua opsi tersebut merupakan model dari Non-standalone (NSA). Pada penelitan ini simulasi perbandingan yang dilakukan adalah untuk mengetahui mana yang terbaik dari kedua opsi tersebut pada saat dilakukan simulasi dengan menggunakan software matlab simulink. Analisa perbandingan ini dilakukan dengan cara merancang arsitektur jaringan pada model NSA opsi 3a dan opsi 7a dengan mengandalkan parameter-parameter yang sudah di tetapkan pada Release 15 3GPP. Perbandingan yang di dapatkan dari hasil simulasi adalah ketika di berikan nilai frekuensi 2300 MHz dan 27500 MHz pada tiap opsi, nilai yang dihasilkan dari simulasi pada simulink sudah sesuai dengan standar, untuk hasil nilai dari SNR memiliki kategori baik yaitu >10,9 dB dan keduanya memiliki nilai yang sama. Kemudian hasil dari parameter lain seperti jitter sudah menunjukan hasil dalam kategori baik yaitu <75 ms dan nilai paling baik adalah 33 ms, sedangkan delay dan troughput dalam kategori sangat baik yaitu pada troughput memiliki nilai >100 bps dan memiliki nilai paling baik sebesar 333.6 bps dan delay bernilai <150 ms yaitu hasil paling baik adalah 2.3 ms. Kata Kunci: Kajian migrasi jaringan 5G, EPC, 5G core, Non-standalone dan Release 15. Abstract Migration to 4G to 5G networks is a development / advancement of the current telecommunications technology. There are several configuration options for the network migration including options 3a and 7a. Both of these options are Non-Standalone (NSA) models.In this research, the comparative simulation carried out is to find out which is the best of both options at the time of simulation using matlab simulink software. This comparative analysis is done by designing the network architecture in NSA model options 3a and option 7a by relying on the parameters set in Release 15 3GPP.The comparison obtained from the simulation results is when given a frequency value of 2300 MHz and 27500 MHz for each option, the value generated from the simulink simulation is conform with the standard, for the results of the value of the SNR has a good category that is> 10, 9 dB and both have the same value. Then the results of other parameters such as jitter have shown results in the good category that is <75 ms and the best value is 33 ms, while the delay and throughput in the very good category that is throughput has a value> 100 bps and has the best value of 333.6 bps and delay <150 ms, the best result is 2.3 ms. Keywords: Study of 5G network migration, EPC, 5G core, Non-standalone and Release 15.
Analisis Perancangan Ibc (indoor Building Coverage) Menggunakan Media Transmisi Rof (radio Over Fiber) Pada Jaringan Lte Untuk Layanan Data Wani Wahdania; Uke Kurniawan Usman; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Seiring dengan berkembangnya teknologi sistem komunikasi seluler dan bertambahnya gedung-gedung bertingkat di kota kota besar seperti gedung perkantoran, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan atau mall yang tiap harinya memiliki jumlah pengunjung yang banyak sehingga provider harus memastikan bahwa kualitas jaringan yang disediakan itu sudah baik. Berdasarkan hasil drivetest dan walktest yang didapatkan sebelumnya, kualitas jaringan LTE yang diterima user didalam gedung pusat perbelanjaan Pasar Baru tidak dapat diterima dengan baik karena power dari eNodeB mengalami redaman yang cukup besar dari dinding-dinding bangunan yang dilewati.Pada tugas akhir ini, dilakukan perencanaan IBC (Indoor Building Coverage) agar memperbaiki kualitas jaringan LTE yang berada di Gedung Pasar Baru Bandung. Dalam Perencanaan ini, hal yang dilakukan adalah melakukan walktest untuk mengetahui kondisi jaringan yang ada di Gedung Pasar Baru, melakukan perbandingan antara perhitungan berdasarkan capacity planning dan coverage planning yang tujuannya untuk mendapatkan jumlah BTS yang akan digunakan, dan melakukan simulasi perencanaan menggunakan software optisystem dan RPS (Radio Propagation Simulator) serta menggunakan teknologi ROF (Radio Over Fiber).Dari hasil perencanaan ini setelah melakukan perbandingan antara capacity planning dan coverage planning dibutuhkan 23 PAP perlu dipasang di gedung Pasar Baru Bandung. Kemudian dari hasil simulasi untuk lantai basement sampai lantai 7 telah menghasilkan RSL yang sesuai dengan standar KPI operator XL yaitu diatas 90% dimana presentase terendah yaitu 94,18% dan presentase tertinggi yaitu 100%. Begitupun dengan nilai SIR dimana prensentase terendah yaitu 90,96% dan presentase tertinggi yaitu 99,2%. Dan untuk hasil simulasi dari optisystem dengan nilai BER yang mendekati 0, dan hasil PLB senilai -17,5 dBm. Kata Kunci : walktest, LTE, optisystem, Capacity Planning, CoveragePlanning. Abstract Along with the development of cellular communication system technology and the increase of multi-storey buildings in big cities such as office buildings, hospitals, and shopping centers or malls which every day have a large number of visitors so the provider must ensure that the quality of the network provided is good. Based on the results of the drivetest and walktest obtained previously, the quality of the LTE network received by users in the Pasar Baru shopping center cannot be well received because the power from the eNodeB has considerable attenuation from the walls of the building being passed. In this final project, IBC (Indoor Building Coverage) is planned to improve the quality of the LTE networks in Pasar Baru building Bandung. In this plan, what is done is to conduct a walktest to find out the network conditions in Pasar Baru building, to make comparisons between capacity planning and coverage planning calculations that aim to obtain the number of PAP to be used, and carry out simulation planning using optic and RPS (Radio Propagation Simulator) and using ROF (Radio Over Fiber) technology. From the results of this plan, after making a comparisons between capacity planning and coverage planning, 23 PAP needed to installed in Pasar Baru building. Then the simulation result for the basement floor until 7th floor it has produced RSL which is in accordance with XL operator KPI standards which is above 90% where the lowest percentage is 94,18% and the highest percentage is 100%. Likewise with the value of SIR where the lowest percentage is 90,96% and the highest percentage is 99,2%. And for the results of the simulation of the optics get BER results almost zero, and the PLB results worth -17,5 dBm. Keywords: walktest, LTE, optisystem, Capacity Planning, Reach Planning
Analisis Perencanaan Layanan Data Jaringan Long Term Evolution (lte) Indoor Pada Stadion Patriot Candrabhaga Jeremy Elivranto Partogi Tambunan; Uke Kurniawan Usman; Zulfi Zulfi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Stadion Patriot Candrabhaga merupakan stadion sepak bola yang sudah memiliki fasilitas bertaraf internasional yang dapat menampung penonton hingga 30.000 orang. Dengan struktur bangunan dan lokasi stadion di pusat kota meredam sinyal telekomunikasi dari site outdoor, perlu dilakukan perencanaan jaringan indoor LTE di Stadion Patriot Candrabhaga. Untuk memperoleh hasil perhitungan dengan akurasi yang baik digunakan pemodelan propagasi Cost-231 Multiwall. Permodelan tersebut dipakai karena kondisi stadion ini merupakan semi indoor dan semi outdoor sehingga terdapat struktur bangunan berupa tembok-tembok yang dapat menjadi faktor pelemahan kuat sinyal yang ada di stadion. Didapatkan nilai RSRP untuk seluruh area sebesar -49,43 dBm. Sedangkan nilai SIR sebesar 6,10 dB. Dengan menggunakan KPI operator acuan yaitu untuk parameter RSRP harus > -90 dBm (90% area) dan parameter SIR harus > 0 dB (90% area) maka hasil prediksi disimulasi nilai RSRP & SIR mencapai target KPI. Kata Kunci : LTE, Coverage planning, Capacity Planning, RSRP, SIR Abstract Patriot Candrabhaga Stadium is a football stadium that already has international standard facilities that can accommodate the audience of up to 30,000 people. With building structure and stadium location in city center dampen telecommunication signal from outdoor site, need to be done indoor network planning LTE at Patriot Candrabhaga Stadium. To obtain the calculation result with good accuracy is used modeling propagation Cost-231 Multiwall. The modelling is used because the condition of the stadium is semi indoor and semi-outdoor so there is a building structure in the form of walls that can be a factor of strong weakening of the signal in the stadium. The value of RSRP for the entire area is -49,43 dBm dBm. The value of SIR is 6,10 dB . By using the benchmark operator KPI i.e. for the RSRP parameter must be >-90 dBm (90% area) and the SIR parameter must be > 0 dB (90% area) then the predicted prediction result of RSRP & SIR reached KPI target. Keywords : LTE, Coverage planning, Capacity Planning, RSRP, SIR
Analisis Dan Solusi Dampak Interferensi Dari Sinyal Lora Pada Komunikasi Seluler Band 8 Dan Usulan Untuk Penggelaran Jaringan Lora Di Indonesia Ar Risqi Herlambang Raharjo; Uke Kurniawan Usman; Yudi Tri Jayadi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini menganalisis dan memberikan hasil analisis dari dampak interferensi perangkat LoRa terhadap jaringan seluler pada band 8 yang sudah terlebih dahulu digelar dan memiliki izin penggunaan frekuensi yang teregulasi oleh KOMINFO. Penggelaran jaringan LoRa di Indonesia menggunakan frekuensi 902-928 MHz . dilakukan scenario interferensi menggunakan pemodelan Monte Carlo dengan tool Spectrum Engineering Advance Monte Carlo Analysis Tools (SEAMCAT). Bahwa telah dilakukan simulasi interferensi LoRa terhadap sistem LTE, UMTS, dan GSM. Kondisi penggelaran co-channel tidak memungkinkan dilakukan dikarenakan performansi LTE, UMTS dan GSM mengalami penurunan. Kondisi performansi seluler LTE, UMTS dan GSM mengalami peningkatan setelah ditambah guard band antar komunikasi LoRa dengan seluler LTE, UMTS dan GSM. Dari hasil simulasi yang telah dilakukan di usulkan guard band minimum 3 MHz antara komunikasi seluler dengan LoRa untuk yang berdekatan dengan komunikasi uplink seluler maupun downlink seluler, guard band ini diharapkan dapat mencegah terjadinya penurunan performansi komunikasi seluler pada kondisi nyata di lapangan. Kata kunci : IoT, LoRa, Interferensi, legacy technologies, monte carlo analysis Abstract This study analyzes and provides the results of an analysis of the impact of LoRa interference on cellular networks in band 8 which is already above previously it was held and had permission to use frequency regulated by KOMINFO. LoRa network deployment in Indonesia uses the frequency 902- 928 MHz. an interference scenario was performed using Monte Carlo modeling with the Spectrum Engineering Advance Monte Carlo Analysis Tools (SEAMCAT) tool. That the LoRa interference simulation has been carried out on the LTE, UMTS system, and GSM. Co-channel deployment conditions are not possible because LTE, UMTS and GSM performance have decreased. The condition of cellular performance in LTE, UMTS and GSM has increased after being added guard band between LoRa communication with LTE, UMTS and GSM cellular. From the simulation results that have been carried out in the proposed minimum guard band of 3 MHz between cellular communication with LoRa for those close to uplink communication cellular and cellular downlink, guard band is expected to prevent the decline in cellular communication performance in real conditions in the field. Keywords: IoT, LoRa, Interference, legacy technologies, monte carlo analysis
Analisa Komunikasi Milimeter-wave Berbasis Hybrid Beamforming Ulfah Sulistiyani; Uke Kurniawan Usman; Budi Syihabuddin
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Beberapa tahun belakangan ini pertumbuhan telekomunikasi meningkat pesat, sehingga dibutuhkan teknologi baru untuk menangani masalah tersebut. Salah satu teknologi pada komunikasi wireless dimasa yang akan datang adalah teknologi mmwave. Banyaknya antena yang digunakan pada teknologi ini mengakibatkan RF Chain yang digunakan juga meningkat. Dibutuhkan suatu teknik yang lebih berkembang untuk mendukung performansi dari sistem tersebut dan meminimalisir jumlah penggunaan RF Chain.Teknik Hybrid beamforming digunakan untuk meminimalisir penggunaan RF Chain. Analisis tugas akhir ini ditujukan pada pengaruh jumlah antena, jumlah RF chain dengan performansi hybrid beamforming pada kanal rayleigh.Dari hasil simulasi saat digunakan parameter jumlah antenna 2x2, 4x4 dan 8x8 pada sistem hybrid beamforming dengan menggunakan 2 RF chain, nilai BER terkecil terjadi pada saat menggunakan antena 8x8, saat nilai Eb/No sebesar 20 dB memiliki nilai BER 5,41x10-5 . Saat digunakan parameter jumlah RF chain (NRF) sebesar 2, 4, dan 6 pada sistem hybrid beamforming dengan jumlah antena 8x8, sistem dengan NRF sebesar 6 memiliki nilai BER terbaik yaitu 5.7x10-6 pada saat Eb/No bernilai 5 dB. Kata kunci : mmwave, hybrid beamforming Abstract In recent years telecomunication growth has increased rapidly, so new technology is needed to deal with the problem. One the technologies in the future wireless communication is mm-wave techonology. The number of antennas used in this techonology has resulted in the increase in the RF chain. A more developed technique is needed to support the performance of the system and minimize the amount of RF Chain usage.Hybrid beamforming technique is used to minimize the use of RF chain. The analysys of this final project is aimed at the effect of the number of antennas, the number of RF chains, with hybrid beamforming performance on rayleigh channels.From the simulation results when using the parameter number 2x2, 4x4 and 8x8 on a hybrid beamforming system using 2 RF chains, the smallest BER value occurs when using 8x8 antenna, when the Eb/No value of 20 dB has a BER value of 5,41x10-5 . When using RF chain (NRF) parameters of 2, 4, and 6 on a hybrid beamforming system with NRF of 6 has the best BER value of 5.7x10-6 . When Eb/No is 5 dB. Keywords: mmwave, hybrid beamformin
Analisis Perencanaan Jaringan Lte Picocell Di Gedung Tamansari Parama Office Pt Wika Realty Aulia Hidayat; Kris Sujatmoko; Uke Kurniawan Usman
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Layanan internet dengan teknologi Broadband Wireless Access yang realtime seperti freecall, instant message, social media, video call dan lain sebagainya saat ini adalah suatu hal yang umum. Namun terkadang lemahnya sinyal atau level daya terima yang kurang menyebabkan tidak maksimalnya penggunaan layanan. Tamansari Parama merupakan gedung perkantoran dari PT WIKA yang juga melayani untuk penyewaan kantor perusahaan lain. Karyawan dan tamu yang berada di tempat tersebut mengeluhkan dengan adanya permasalahan kualitas sinyal yang kurang baik karena struktur bangunanannya meredam sinyal dari site outdoor. Sehingga diperlukan perencanaan jaringan picocell di gedung Tamansari Parama. Kurang kuatnya sinyal pada suatu tempat bisa diatasi dengan capacity planning serta coverage planning yang sesuai seperti menggunakan antena picocell. Hasil Perencanaan didapatkan nilai RSRP untuk lantai basement yaitu sebesar -74,67 dBm, lantai 1 dan mezzanine sebesar -73,12 dBm, lantai 2 s/d 5 sebesar -73,70 dBm, dan lantai 6 s/d 16 yaitu sebesar -70,91 dBm. Untuk nilai SIR pada lantai basement yaitu 8,90 dB, lantai 1 dan mezzanine sebesar 10,88 dB, lantai 2 s/d 5 sebesar 38,96 dB, dan lantai 6 s/d 16 yaitu sebesar 12,70 dB. Dari hasil simulasi telah memenuhi KPI (Key Performance Indicator). Kata kunci : LTE, Coverage Planning, Capacity Planning, RSRP, SIR, KPI. Abstract Internet services with realtime Broadband Wireless Access technology such as freecall, instant messages, social media, video calls and so on nowadays are a common thing. But sometimes the signal is weak or the receiving power level is lacking which causes the maximum use of services. Tamansari Parama is an office building from PT WIKA which also serves for leasing other company offices. Employees and guests in the area complained about the problem of poor signal quality because the structure of the building dampened the signal from the outdoor site. So it is necessary to plan a picocell network in the Tamansari Parama building. Lack of signal strength in a place can be overcome by capacity planning and coverage planning as appropriate, such as using a picocell antenna. Planning results obtained RSRP value for basement floor which is equal to -74,67 dBm, 1st and mezzanine floors amounting to -73,12 dBm, 2nd to 5th floor of -73,70 dBm, and 6th to 16th floor which is equal to – 70,91 dBm. For SIR values on the basement floor are 8,90 dB, 1st floor and mezzanine is 10,88 dB, floors 2 to 5 are 38.96 dB, and floors 6 to 16 are 12.70 dB. From the simulation results, it meets the KPI (Key Performance Indicator). Keywords: LTE, Coverage Planning, Capacity Planning, RSRP, SIR, KPI
Perencanaan Jaringan Heterogen Dengan Relay Node Menggunakan Range Expansion Di Area Kopo Nur Chairil Syam; Uke Kurniawan Usman; Arief Kurnia
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pengguna layanan jaringan teknologi Long Term Evolution ( LTE ) membutuhkan kualitas jaringan yang sangat baik. Tetapi user sering kali tidak terlayani, hal ini disebabkan karena terdapat lokasi-lokasi yang ada di area Kopo tidak tercakup oleh eNodeB. Lokasi yang tidak tercakup oleh eNodeB biasa disebut bad spot atau bad Coverage. Salah satu penyebab lokasi tersebut tidak tercakup oleh eNodeB adalah banyaknya bangunan yang tinggi, power dari eNodeB yang mengalami pelemahan (Attenuation) karena jaraknya yang jauh dari user serta struktur geografis. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperkenalkan suatu skema yaitu Heterogeneous network. Heterogeneous network ( HetNet ) merupakan topologi jaringan seluler yang menerapkan small cell didalam macro cell. Pada penelitian ini, dilakukan perencanaan jaringan heterogen dengan relay node menggunakan range expansion di area Kopo. Hasil simulasi dari penelitian tugas akhir ini memperoleh performansi sistem yang baik untuk nilai parameter yang sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh operator. Nilai RSRP yang didapat pada hasil simulasi jaringan heterogen yaitu nilai parameter RSRP dengan rata-rata sebesar -84,06 dBm, nilai parameter SINR dengan rata-rata sebesar 9,23 dB, nilai rata – rata untuk throughput DL yaitu 24 Mbps, untuk throughput UL yaitu 18,7 Mbps, dan jumlah user yang berusaha mendapatkan layanan yaitu 2.627 user, dengan jumlah user connected yaitu 2.619 (99,7%) user dan user yang mengalami reject adalah sebesar 8 (0,3%) user. Sedangkan berdasarkan hasil simulasi range expansion menunjukan bahwa dari nilai range expansion, rentang 0 – 6 dB yang digunakan, maka semakin banyak user yang akan dilayani oleh relay node sebagai serving cell. Hasil ini menunjukan bahwa simulasi perencanaan jaringan heterogen dengan relay node menggunakan range expansion layak diimplementasikan. ABSTRACT Technology network services Long Term Evolution (LTE) users need a high quality network but often users are not served, this is because the locations in the Kopo area are not covered by eNodeB. Locations that not covered by eNodeB usually called bad spot or bad coverage. One of the causes of that location not covered by eNodeB is a lot of high buildings, the power from eNodeB that be through attenuation because of the long distance from eNodeB, and geographical structure. To solve this problem, a scheme named heterogeneous network is introduced. Heterogeneous networks (HetNet) are cellular network topologies which applies a small cells in the macro cells. In this research, Heterogeneous Network Planning with Relay Node have been done using Range Expansion in Kopo area. The simulation results from this the final assignment research obtained a good system performance for parameter values which is suitable with standard that has been set by the operator. The RSRP value obtained from the heterogeneous network simulation results is the RSRP parameter value with an average of -84.06 dBm, the SINR parameter value with an average of 9.23 dB, the average value for DL throughput is 24 Mbps, for UL throughput which is 18,7 Mbps, and the number of users who get services reaches 2,627 users, with the number of connected users namely 2,619 (99.7%) users and who has rejection is 8 (0.3%) users. Meanwhile be based from range expansion simulation results shows that from range expansion value, range 0 - 6 dB which is used, then more and more users will served the relay node as serving cells. This result shows that heterogeneous network planning with relay node using range expansion is worth implementing. Keywords: Heterogeneous Network, Relay Node, Range Expansion.
Simulasi Sistem Ofdm Pada Gnuradio Renandy Rifqi Aryandara; Achmad Ali Muayyadi; Uke Kurniawan Usman
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penggunaan teknolgi komunikasi terus berkembang sangat pesat, hal ini lah yang mendorong peningkatan standar pada area teknologi komunikasi, dan memerlukan prototype untuk standar yang berbeda dalam waktu yang sangat cepat. Teknologi modern saat ini sudah banyak yang memakai konsep sistem komunikasi radio atau di definisikan sebagai Software Defined Radio (SDR). Hal yang mendasari munculnya konsep sistem komunikasi radio yaitu disebabkan oleh meningkatnya permintaan untuk desain yang fleksibel dan ketersediaan Digital Signal Processing (DSP) serta reconfigurable logic (FPGA, PLD). SDR adalah sistem komunikasi radio dimana komponen yang terdapat pada perangkat keras digantikan dengan pengimplementasian perangkat lunak pada perangkat komputer atau embedded system. Sistem SDR yang umum digunakan adalah GNU Radio. Dalam pengujian Tugas Akhir ini terdapat beberapa parameter yang diuji yaitu frekuensi, amplitude, Fast Fourier Transform (FFT) size, noise dengan menggunakan skema modulasi Quadrature Phase Shift Keying (QPSK) pada sisi payload, dan Binary Phase Shift Keying (BPSK) pada sisi header. Dan hasil dalam penelitian Tugas Akhir ini berupa keluaran sinyal dari sistem OFDM menggunakan GNU radio dengan ukuran FFT yang berbeda – beda, dengan menggunakan kanal AWGN. Kata Kunci : OFDM, USRP, LTE, GNURadio, BPSK, QPSK Abstract The use of communication technology continues to grow very rapidly, this is what drives the increase in standards in the area of communication technology, and requires prototypes for different standards in a very fast time. Many modern technologies nowadays use the concept of a radio communication system or defined as Software Defined Radio (SDR). What underlies the emergence of the concept of radio communication systems is that it is caused by the increasing demand for flexible designs and the availability of Digital Signal Processing (DSP) and reconfigurable logic (FPGA, PLD). SDR is a radio communication system where components contained in hardware are replaced by implementing software on a computer or embedded system. The SDR system commonly used is GNU Radio. In this Final Project test, there are several parameters tested, namely frequency, amplitude, Fast Fourier Transform (FFT) size, noise using several Quadrature Phase Shift Keying (QPSK) modulation schemes on the payload side, and Binary Phase Shift Keying (BPSK) on the side header. And the results of this Final Project research are output signals from OFDM systems using GNU radio with different FFT sizes, using AWGN channel. Keywords : OFDM, USRP, LTE, GNURadio, BPSK, QPSK
Co-Authors Abdul Aziz N N Achmad Ali Muayyadi Ade Aditya Ramadha Adhitya, Farhan Ghifari Adnan Rachman Adriano, Rifky Awwala Adrien, Muhammad Firza Afief Dias Pambudi Ahmad Tri Hanuranto Ahsanul Gibran Aji Maulana Akbar, Fadel Akbar, Rangga Fadhillah Akhmad Hambali Al Rasyid, Muhammad Dhafin Sulaiman Aldi Ahmad Sopian Aldrin Fakhri Azhari Alfian, Qori Alimuddin, Muhammad Taufiq Andanu Bethari Putri Andhan Marhadi Andi Achmad Akbar Wisani Andi Fadil Mappareppa Andreana Yunio Prasetya Anggita Putri Lestari Ar Risqi Herlambang Raharjo Arfianto Fahmi Ari Sadewa Yogapratama Arief Kurnia Arif Mubarok Arifianto Wibowo, Tody Arinto Wibowo Ariqi, Fadhlul ARIS HARTAMAN Asdianty, Lisda Asep Mulyana Asep Mulyana Astuti , Sri AT Hanuranto Atisa, Atalarix Haikal Ats-tsaqofi, Faai`l Vero Aulia Hidayat Avenuto Detantra Avirian Candra Emanuel Azrika, Andi Zhagyta Amalia Barri, Muhammad Dimas Ibadul Bayu Septiyanto Boby Bagus Setiawan Bonaventura Karunia Husada Budi Prasetya Budi Prasetya Budi Syihabuddin Delisya Nabilla Hendrawan Dharma Winata Saputra Dharu Arseno Dhimas Syahrial Fattah Inhardy DHONI PUTRA SETIAWAN Dianti, Erni Diki Sofyan Setiawan Dilla Fajar Sukma Dilaga Dilla Fajar Sukma Dilaga Dimas Rangga Wisnuadi Djaka, Muhammad Rendra Perdana Kusuma Doan Perdana Doni Bima Saputra Dwinarto, Viswantonio Pakila Ekki Kurniawan Elmira Puspa Sari Fadhilah Natasha Fahrudin Fajar Anggoro Faisal Ahmad Ilham Nuari Fajar Adityawarman Fajar Adityawarman Fathurrahman, Muhammad Naufal Fazliadi Rahmatillah Fazliadi Rahmatillah Ferdy, Muhammad Fikri Ramadhan Fitra Purwandika Fitrianto, Galih Purnomo Galih Purnomo Fitrianto Galuh Prihatmoko Ganang Arifian Gandeva Bayu Satrya Hadi, Shasyabilla Ardita Hafiddudin Hafiddudin Hafidh Finandriyanto Hafidudin . Hantoro, Gunadi Dwi Hasanah Putri Hayati, Anisa Ari Heroe Wijanto Heru Syah Putra Hidayanti, Latifah Hidayat, Muh. Tri Hurianti Vidnyaningtyas Hurianti Vidyaningtyas Ida Retnowati Ikhwanul Kiram Inhardy, Dhimas Syahrial Fattah Ishak Ginting Jeremy Elivranto Partogi Tambunan Junior, David Kaffa, Rayhan Sidiq Kahayan, Fahrul Halim Jaka Keinan Shofiandieni Haryo Putri Khoiri, Muhammad Khirzan Akmal Kresna Dwipa Pramaditya Kris Sujatmoko Latifah Hidayanti Linda Meylani Lydia Desta Monika Mahanani, Edo Lutfi Maulana, Naufal Mirza Mitto, Antonio Abhinyano Mochammad Ijlal Wimpi Grahadi Mochtar Hernowo Moh. Rasyid Ridho MUBAROK, ARIF Muhamad Nurhamsach Pratama Muhammad Fadly Aliansyah Muhammad Fikri Fernanda Yusuf Muhammad Hafidh Muhammad Hafizh Triaoktora Muhammad Hanif Muhammad Iqbal Muhammad Irfan Maulana Muhammad Perdana Bagus Hirzinda Muhammad Supiansuri Mulyadi, Rasheed Abdurrahman Nachwan Mufti Adriansyah Nachwan Nachwan Nadhasya, Athallah Favianauvally Naka Prihastya Putra Natasha, Fadhilah Nico Baihaqi Nilla Rachmaningrum Nirwan, Fadhlan Muhammad Noviwan Wicaksono Nur Andini Nur Chairil Syam Nur Fathimah Oktavianingrum, Andarista Putri Oryza Sativa Permana, R. Agus Ganda Pramudya, Naufal Handi Prasetyo, Sonny Petit Trie Pratama , Arya Purnomo , Zhikya Sekar Lutfi Purnomo, Zhikya Sekar Lutfi Purusadi Hastruman Putra, Hieronimus Mao Putra, Muhammad Rifan Aditya Putra, Reyhan Tertia Putri , Risma Amalia Putri, Risma Amalia Putu Dicky Marhtree Sapodu Merta Merta Putu Gandi Mitha Wijaya R. Bambang Cahyo Widodo R.Audio Lesmana Rafieldo, Ricky Marcelino Ramadhan , Putra Anugrah Ramadhan, Abdillah Rasheed Abdurrahman Mulyadi Renandy Rifqi Aryandara Rendy Munadi Rian Raya Riano Febrianto Ridha Muldina Negara Rina Pudji Astuti Rindengan , Matthew Jonathan El Rivalda Maulana Rivan Achmad Nugroho Riyantama, Donny Rizky Satria Rizky Satria, Rizky Rizqi , Mochamad Ilman Yassir Rusman, Muhamad Fauzi Ryan Rasyid Yusuf Ryan Rasyid Yusuf Ryan, Alden Muhammad Saesar, Malldi Silalahi, Wenner Frederikus Siregar, Muhammad Syafiq Abraar Sitanggang, Ronaldo Soritua Sri Astuti Tahta, Nyoman Gde Adhimas Taufan Zandy Andrian Tengku Ahmad Riza Theana, Verenz Tody Ariefianto Wibowo Ulfah Sulistiyani Vidya Yovita, Leanna Vita Azrina Aulia Wani Wahdania Wicaksanajati , Nuriman Wisetyo, Sakti Putro Wulan Dwi Anggraini Yaumil Chairiani Yudi Tri Jayadi Yunus, Fauzan Majid Hadi Yusuf, Hafizh Khairan Adya Yuwono, Widi Tri YUYUN SITI ROHMAH Zuhair, Alfandi Zulfi Zulfi Zulfikar Nurzain Zulfikar Nurzain Zulvan Ibnu Faqih Zulyano Rizqullah