Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

INPATIENT ANTITHROMBOTIC THERAPY FOR MYOCARDIAL INFARCTION : RETROSPECTIVE STUDY Fajriyah, Shofiatul; Nur Rohmah, Dilla Salwa; Astuti, Lelly Winduhani; Rilawati, Fentyana Dwi; Wulan, Fitria Wahyuning; Widyaningrum, Esti Ambar
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 3 No. 3 (2025): Juli : Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v3i3.762

Abstract

Myocardial infarction (MI), a subtype of coronary heart disease (CHD), is still a major cause of morbidity and mortality around the world. Non-ST-segment elevation MI (NSTEMI) is more common than ST-segment elevation MI (STEMI). Antithrombotic therapy, including antiplatelet and anticoagulant agents, is essential in MI management to prevent thrombus formation and reduce ischemic complications. Although international and national clinical guidelines (PERKI and ACC/AHA) provide recommendations tailored to MI type and patient factors, discrepancies in clinical practice, especially in developing countries, may impact treatment outcomes. This retrospective descriptive study aimed to evaluate the use and appropriateness of antithrombotic therapy in NSTEMI and STEMI patients at Hospital X, Kediri City, in 2018. Data were collected from medical records of hospitalized acute myocardial infarction (AMI) patients. Aspirin combined with clopidogrel was the most commonly used regimen for NSTEMI, whereas STEMI patients frequently received aspirin, clopidogrel, and enoxaparin; fibrinolytics were administered in nine STEMI cases. Dosage evaluation showed compliance with guidelines in NSTEMI patients, while 36.84% of STEMI patients, particularly those receiving enoxaparin, were given incorrect dosages. These findings highlight the need for improved adherence to clinical guidelines to optimize antithrombotic therapy outcomes in MI management
STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BEDAH FRAKTUR KLAVIKULA DI RS MUHAMMADIYAH AHMAD DAHLAN KEDIRI DENGAN METODE ATC/DDD Ayu Kusumaratni, Dyah; Yudha Prasetyo, Eko; Tristanti, Irma; Sari Poespita Dewi Wahyuni, Kumala; Fajriyah, Shofiatul
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 5 No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : FACULTY OF PHARMACY, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/jpb.v5i1.124

Abstract

Latar belakang: Fraktur adalah keadaan abnormal pada tulang yang ditandai dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang. Penanganan yang dilakukan untuk fraktur umumnya adalah prosedur pembedahan, sehingga membutuhkan antibiotik untuk mencegah infeksi. Penggunaan antibiotik berlebihan memicu resistensi antibiotik, sehingga dibutuhkan evaluasi dengan metode ATC/DDD. Tujuan: evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien bedah fraktur klavikula dalam satuan DDD/100 hari rawat. Metode: studi observasional dengan metode retrospektif pada pasien rawat inap periode Januari – Desember 2023 menggunakan data rekam medis pasien berusia 18-65 tahun yang mendapatkan antibiotik yang dilakukan secara cross sectional. Hasil: Penggunaan antibiotik pada pasien bedah fraktur klavikula di RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kediri meliputi cefotaxime (87 DDD/100HR), cefuroxime (50,41 DDD/100HR), cefoperazone (29,9 DDD/100HR), ceftriaxone (1,49 DDD/100HR), levofloxacin (0,50 DDDD/100HR), amoxicillin (0,25 DDD/100HR), kuantitas penggunaan antibiotik pada terapi fraktur klavikula yang paling umum digunakan adalah cefotaxime dengan nilai 87 DDD/100 patient-days. Simpulan: antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90% Sebagian besar golongan sefalosporin generasi ketiga yaitu cefotaxime, cefuroxime dan cefoperazone
POLA PERESEPAN OBAT PADA PASIEN MYALGIA DI PUSKESMAS NGANJUK Fajriyah, Shofiatul; anikasari, Erni
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 4 No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : FACULTY OF PHARMACY, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Myalgia paling sering dikaitkan dengan keseleo atau kaku otot. Gejala yang sering muncul adalah kemerahan di lokasi cedera, nyeri tekan, bengkak, dan demam. Nyeri otot adalah masalah medis utama dimana mayoritas (60% hingga 85%) dari populasi pernah mengalami nyeri punggung (nonspesifik). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengobatan pada pasien myalgia di Puskesmas Nganjuk Tahun 2020. Metode: Metode deskriptif observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif. Penelitian ini menggunakan data rekam medis pasien myalgia dengan teknik sampling yaitu total sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk prosentase. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 39 pasien didiagnosa myalgia. Jenis analgesik yang digunakan adalah Asam Mefenamat, Natrium Diklofenak, Metampiron, Parasetamol dan Ibuprofen. Suplemen yang digunakan pada pasien myalgia adalah Kalsium Laktat, Vitamin B kompleks, vitamin B1, Multivitamin dan Ferrous fumarat. Pola pengobatan pasien myalgia meluputi analgesik tunggal (20,5%), kombinasi 2 analgesik (10,3%), kombinasi analgesik + suplemen (66,7%) dan kombinasi 2 suplemen (2,5%).  Simpulan : Pola peresepan obat yang paling banyak adalah kombinasi Asam Mefenamat dan Kalsium Laktat
Pelatihan Peningkatan Mutu Produksi Makanan dan Minuman Bagi IKM Kabupaten Kediri istiqomah, nurul; Umul Farida; Faizatul Fitria; Reza Arrayan; Palupi Susilowati; Shofiatul Fajriyah; Erni Anikasari; Dyah Aryantini
Jurnal Dimas Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53359/dimas.v7i2.114

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) bertajuk “Pelatihan Peningkatan Mutu Produksi Makanan dan Minuman bagi IKM Kabupaten Kediri” dilaksanakan sebagai upaya mendukung penguatan sektor industri kecil dan menengah (IKM), khususnya di bidang pangan. Kabupaten Kediri memiliki banyak pelaku IKM yang memproduksi makanan olahan lokal dan minuman herbal, namun masih menghadapi kendala seperti keterbatasan pemahaman standar mutu, keamanan pangan, praktik higienis, serta penerapan kemasan dan label sesuai regulasi. Workshop ini dirancang untuk memberikan pelatihan terpadu mengenai prinsip keamanan pangan, Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), Good Manufacturing Practices (GMP), sanitasi dan higiene, penggunaan bahan tambahan pangan yang aman, serta strategi kemasan, label, dan pemasaran digital. Metode pelatihan menggabungkan ceramah, diskusi, studi kasus, dan praktik langsung. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta, ditunjukkan dengan perbaikan area produksi, pemilihan bahan baku yang lebih tepat, serta perbaikan desain label sesuai standar BPOM. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong terbentuknya komunikasi berkelanjutan antara akademisi dan pelaku usaha. Secara keseluruhan, workshop ini berkontribusi dalam meningkatkan daya saing produk pangan IKM melalui penguatan aspek mutu, keamanan, dan branding. Diharapkan kegiatan serupa dapat menjadi strategi berkelanjutan untuk mendukung kemandirian industri pangan lokal yang aman, higienis, dan kompetitif. Kata kunci: IKM, keamanan pangan, GMP, CPPOB, mutu produk
Kepatuhan minum obat pada pasien lansia dengan diabetes melitus Sari, Dwi Evi Diyan; Seran, Krisogonus Ephriono; Fajriyah, Shofiatul; Anjani, Ade Giriayu; Wahyuni, Kumala Sari Poespita Dewi
Journal of Health Research Science Vol. 5 No. 02 (2025): Journal of Health Research Science
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/51mj0d78

Abstract

Latar Belakang: Kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus lanjut usia masih rendah akibat penurunan kognitif dan keterbatasan fisik. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh faktor sosiodemografi terhadap kepatuhan pengobatan pada lansia dengan diabetes melitus di Kabupaten Sleman.Metode: Penelitian observasional analitik cross sectional pada 76 lansia dengan diabetes tipe 2 peserta Prolanis Puskesmas. Data diperoleh dari rekam medis dan wawancara menggunakan kuesioner Morisky Green Levine Scale (MGLS). Analisis hubungan dilakukan dengan uji Chi-Square.Hasil: Mayoritas peserta perempuan (61,84%), usia 60–70 tahun (76,32%), dan berpendidikan menengah (55,26%). Tingkat kepatuhan didominasi kategori sedang (53%), diikuti rendah (35%) dan tinggi (12%). Tidak ditemukan hubungan antara faktor sosiodemografi (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, durasi penyakit, jumlah obat) dan tingkat kepatuhan (p > 0,05).Kesimpulan: Mayoritas pasien lanjut usia dengan diabetes melitus di Kabupaten Sleman memiliki kepatuhan sedang terhadap pengobatan dan tidak ada keterkaitan antara faktor sosiodemografi dengan kepatuhan pengobatan.
Topical Metformin In Dermatology: A Narrative Review Of Efficacy And Formulation Approaches Fajriyah, Shofiatul; Wahyuningwulan, Fitria; Winduhani, Lelly; Rilawati, Fentyana Dwi; Kusumaratni, Dyah Ayu
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan Vol 14 No 2 (2025): Medfarm: Jurnal Farmasi dan Kesehatan
Publisher : LPPM Akafarma Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48191/medfarm.v14i2.659

Abstract

Metformin, a well-established first-line oral antidiabetic agent, has recently attracted interest in dermatology because of its anti-inflammatory, antioxidant, and regenerative properties. The skin, being vulnerable to aging and environmental damage, is a promising target for topical metformin therapy, although its clinical translation remains limited. This narrative review critically examines current evidence on topical metformin in dermatological applications and explores formulation approaches to optimize its cutaneous delivery. A thematic literature search was conducted in PubMed, Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar for articles published between 2015 and 2025, focusing on studies of topical metformin for skin disorders. The final selection included 13 articles on wound healing, 5 on melasma, 1 on acne, 1 on psoriasis, and 1 on alopecia, all meeting predefined inclusion and exclusion criteria. Data from in vitro, in vivo, and clinical research were synthesized into three themes: pharmacological rationale, therapeutic efficacy, and formulation strategies. Promising results have been reported in melasma, acne, psoriasis, alopecia, and wound healing, where topical metformin has been shown to modulate melanogenesis, accelerate wound closure, reduce inflammatory cytokines, enhance hair regrowth, and support scar-free repair. Diverse formulations, including hydrogels, ethosomes, lipid nanoparticles, and niosomes, have been designed to improve skin penetration, drug retention, and therapeutic benefit while limiting systemic exposure