Claim Missing Document
Check
Articles

Nilai-Nilai Toleransi Antaretnis dalam Perspektif Hadis Gintari, Ayu; Alwi, Zulfahmi; Tasbih, Tasbih
Borneo : Journal of Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2025): BORNEO: Journal of Islamic Studies
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/borneo.v6i1.4425

Abstract

This study aims to explore the values of inter-ethnic tolerance in the perspective of the Prophet Muhammad’s hadiths as an ethical foundation for Islamic social relations in multicultural societies. The recurrence of ethnic conflicts in Indonesia, such as those in Papua and Rempang, reflects a gap between Islam’s normative ideals and contemporary social realities. In this context, the research examines prophetic messages embedded in authentic hadiths that emphasize human equality regardless of race or ethnicity. Employing a thematic (maudhu‘i) approach, this study integrates both textual and contextual analyses of selected hadiths related to the principles of equality, solidarity, and the prohibition of tribal or ethnic fanaticism (‘ashabiyyah). To deepen the analysis, insights from the sociology of ethnicity and conflict are incorporated in order to construct a more comprehensive understanding of how these prophetic values are applied within the Indonesian social setting. The findings demonstrate that the Prophet consistently rejected all forms of ethnic superiority and upheld three central moral pillars of Islamic social ethics: equality, human solidarity, and social justice. These principles also serve as the foundation of wasathiyah, the Islamic doctrine of moderation characterized by balance, justice, and the rejection of all forms of extremism, including ethnic or tribal fanaticism, which may threaten social harmony. These prophetic values function as both spiritual and sociological mechanisms for preventing disintegration and strengthening social cohesion amid Indonesia’s cultural and ethnic diversity. The contextualization of wasathiyah and prophetic ethics within education, public policy, and intergroup discourse contributes to fostering religious moderation and developing a humanistic and inclusive Islamic interpretation that aligns with the realities of a multicultural nation.
Relevansi Ilmu Rijāl Al-Ḥadīṡ Dan Jarḥ Wa Taʿdīl Dalam Kajian Hadis Kontemporer Abdul Muthalib; Tasbih Tasbih
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai instrumen verifikasi utama dalam tradisi Islam, Ilmu Rijāl al-Ḥadīṡ dan Jarḥ wa Taʿdīl berfungsi menakar kredibilitas perawi demi menjamin validitas sanad. Namun, eksistensi kedua disiplin ini kerap dipertanyakan oleh kesarjanaan kontemporer yang lebih condong pada pendekatan sosio-historis, di mana metode klasik sering dianggap terlalu normatif dan abai terhadap konteks zaman. Melalui studi kepustakaan kritis, tulisan ini membedah kembali urgensi metode klasik tersebut di tengah arus kritik modern. Analisis menunjukkan bahwa alih-alih menjadi artefak usang, perangkat metodologi lama ini justru menawarkan landasan epistemologis yang vital bagi otentisitas hadis yang tidak tergantikan oleh analisis sejarah semata. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan tradisional tidak seharusnya dibenturkan dengan metode baru. Sebaliknya, integrasi antara ketelitian verifikasi sanad klasik dan pisau analisis kritis modern justru berpotensi melahirkan kajian hadis yang jauh lebih holistik, objektif, dan komprehensif dalam memadukan teks wahyu dengan dinamika sejarah
Reinterpretasi Hadits dalam Tantangan Kontemporer: Analisis Kritis Isu Gender, Hak Asasi Manusia, dan Pelestarian Lingkungan Muhammad Farid Wajdi; Muhammad Yahya; Tasbih
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadits sebagai sumber hukum kedua dalam Islam sering kali menghadapi tantangan dekonstruksi ketika dihadapkan pada isu-isu kontemporer. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi posisi hadits dalam merespons tiga isu krusial: gender, Hak Asasi Manusia (HAM), dan lingkungan hidup. Melalui metode deskriptif-analitis dengan pendekatan hermeneutika, studi ini menyimpulkan bahwa pemahaman tekstualis-literal sering kali menimbulkan ketegangan dengan nilai-nilai universal. Sebaliknya, pendekatan kontekstual menunjukkan bahwa hadits mengandung spirit emansipatoris, perlindungan martabat manusia, dan etika ekologis yang relevan dengan kebutuhan zaman
Etika Komunikasi Dalam Tinjauan Al-Qur’an Dan Hadis Muhammad Aiman Nabiil Syarif; Muh Ilham; Tasbih Tasbih
JURNAL ILMIAH RESEARCH STUDENT Vol. 3 No. 1 (2026): Maret
Publisher : KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jirs.v3i1.8337

Abstract

Communication research is a fundamental human necessity which, in Islam, is considered an act of worship when conducted in accordance with the guidance of the Qur’an and the Sunnah. However, the contemporary digital era presents complex challenges, such as the widespread dissemination of hoaxes, hate speech, and cyberbullying, indicating a decline in the ethical quality of communication. This article aims to re-explore the foundations of Islamic communication ethics as a response to these phenomena. Employing a thematic approach to Qur’anic verses and Prophetic traditions (Hadith), the study finds that Islam offers a comprehensive framework for communication through the concept of the six Qaulan principles (truthful, gentle, noble, good, effective, and pleasant speech), as well as ethical principles derived from Hadith, including self-restraint, honesty, conflict avoidance, and informational productivity. The discussion affirms that, in Islam, communication is not merely an exchange of messages, but a form of moral accountability before Allah swt, which must be grounded in the values of tawhid and humanity.
Aplikasi Metode Tahlili, Ijmali, dan Maudhu’i (Tematik) Indah Sari Dewi; Muhammad Yahya; Tasbih Tasbih
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadis Nabi Muhammad SAW menempati posisi strategis sebagai sumber normatif kedua setelah Al-Qur’an, namun proses transmisinya yang bersifat manusiawi meniscayakan penerapan metodologi ilmiah yang ketat agar terjaga keaslian dan ketepatan pemahamannya. Artikel ini bertujuan menganalisis secara sistematis karakteristik serta penerapan metode tahlīlī, ijmālī, dan maudhu‘ī (tematik) dalam kegiatan kritik sanad (naqd al-sanad) dan kritik matan (naqd al-matan), serta menegaskan relasi fungsional ketiganya dalam kajian hadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan analisis deskriptif-analitis terhadap literatur klasik dan kontemporer ilmu hadis, khususnya yang berkembang dalam tradisi akademik Islam di Indonesia. Pembahasan menunjukkan bahwa metode tahlīlī berfungsi sebagai fondasi verifikasi ilmiah melalui analisis mendalam sanad dan matan, metode ijmālī berperan dalam penyederhanaan dan transmisi makna normatif hadis secara global, sedangkan metode maudhu‘ī memungkinkan sintesis tematik yang komprehensif dan kontekstual dalam merespons persoalan-persoalan kontemporer. Kesimpulannya, ketiga metode tersebut tidak bersifat dikotomis, melainkan saling melengkapi dalam satu kerangka metodologis integratif yang mampu menghasilkan pemahaman hadis yang sahih secara ilmiah, utuh secara konseptual, dan relevan secara sosial-keagamaan
Sejarah Metodologi Penyusunan Kitab-Kitab Hadist Arjung Marendeng; Tasbih Tasbih
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyusunan kitab-kitab hadits merupakan salah satu pencapaian intelektual paling penting dalam tradisi keilmuan Islam, yang berkembang secara bertahap sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga periode kodifikasi dan kajian kontemporer. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sejarah serta metodologi penyusunan kitab-kitab hadits dengan menelusuri perkembangan tradisi periwayatan lisan, proses kodifikasi, dan pembentukan disiplin ulumul hadits. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research), dengan menganalisis literatur klasik dan kajian akademik modern yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metodologi penyusunan kitab hadits bersifat beragam dan kontekstual, meliputi sistematika tematik, penyusunan berdasarkan sanad, seleksi ketat hadis sahih, serta pengembangan karya analitis seperti syarah, mustadrak, dan mu‘jam. Metodologi tersebut tidak hanya bertujuan menjaga autentisitas hadis, tetapi juga memudahkan transmisi, pemahaman, dan pengembangan keilmuan Islam. Dalam konteks akademik kontemporer, metodologi klasik ini tetap relevan dan terus dikaji melalui pendekatan interdisipliner serta pemanfaatan teknologi digital, sehingga menunjukkan dinamika dan keberlanjutan tradisi keilmuan hadits dalam menjawab tantangan zaman
Budaya Attula’ Bala di Kelurahan Benjala, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba Tuti Wahyuni; Hasaruddin Hasaruddin; Muhammad Yahya; Tasbih Tasbih
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bulukumba adalah salah satu kabupaten, Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di kota Bulukumba. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.154,67 km, dengan jarak tempuh dari kota Makassar sekitar 153 Km. Budaya keagamaan yang kental juga cukup mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat Bulukumba. Sentuhan ajaran agama islam yang di bawa oleh ulama besar dari Sumatera, yang bergelar Dato Tiro (Bulukumba), telah menumbuhkan kesadaran religius dan menimbulkan keyakinan untuk berlaku zuhud, suci lahir batin, selamat dunia akhirat dalam rangka Tauhid “appaseuwang” (Meng-Esa-kan Allah SWT). Salah satu budaya keagamaan yang terletak di Kabupaten Bulukumba, tepatnya di kecamatan Bontobahari, Kelurahan Benjala yakni “Attula’ Bala”. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan proses tanya-jawab yang bertumpu pada saat dilakukannya budaya tersebut
Pendekatan Socio-Historis terhadap Pemaknaan Sunnah Syahdino Sahdana; Muhammad Yahya; Tasbih Tasbih
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan sunnah melalui pendekatan sosio-historis dengan mengkaji konteks sosial dan sejarah di balik tindakan Nabi Muhammad SAW serta penerapannya dalam masyarakat modern. Metode yang digunakan adalah kajian literatur terhadap teks-teks Al-Qur'an dan hadits, dengan fokus pada ayat-ayat yang relevan untuk memahami hubungan antara sunnah dan konteks zaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan sunnah harus memperhatikan kondisi sosial dan budaya pada masa Nabi serta perubahan yang terjadi dalam masyarakat Islam di masa mendatang. Pendekatan sosio-historis ini mengungkapkan bahwa sunnah tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan realitas sosial yang berkembang. Oleh karena itu, pemahaman sunnah yang dinamis diperlukan agar ajaran Islam tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.
Gaya Mengajar Pendidik Perspektif Hadis dan Aktualisasinya pada Pendidikan Islam Modern Hasni; Ayu Ramadhani; Tasbih; Subehan Khalik
Jurnal Pendidikan Kreatif Vol 6 No 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaya mengajar adalah cara atau metode yang dipakai oleh guru ketika sedang melakukan pengajaran. Metode pembelajaran lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan tertentu, sedangkan gaya mengajar adalah cara yang digunakan, yang bersifat implementatif. Dengan kata lain, metode yang dipilih oleh masing-masing itu adalah sama, tetapi mereka bisa saja menggunakan teknik yang berbeda. Macam-macam gaya mengajar yang relevan dengan pendidikan agama Islam, yaitu sebagai berikut: 1. Gaya mengajar klasikal, 2. Gaya mengajar teknologis, 3. Gaya mengajar personalisasi, 4. Gaya mengajar interaksional. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW memberikan pedoman penting terkait metode pengajaran yang berfokus pada kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Gaya mengajar beliau yang menggunakan pendekatan ceramah, diskusi, tanya jawab, demontrasi dan eksperimen, pemberian tugas (resitasi), dan kerja kelompok dapat diadaptasi dalam konteks pendidikan masa kini. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi prinsip-prinsip yang terkandung dalam hadis mengenai gaya mengajar dan aktualisasinya dalam pendidikan Islam modern, dengan menekankan pada relevansi nilai-nilai Islami dalam proses belajar mengajar saat ini. Selain itu, artikel ini juga membahas tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan gaya mengajar berdasarkan hadis, serta bagaimana mengharmoniskan antara tradisi dan tuntutan zaman modern. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan perubahan sosial dan budaya dalam pendidikan Islam modern cukup signifikan, prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW tetap sangat relevan untuk diaplikasikan dalam konteks pendidikan kontemporer guna membentuk karakter, keterampilan, dan akhlak peserta didik yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Kedudukan dan Fungsi Hadis dalam Pembentukan Hukum Islam Kontemporer Jamaluddin; Abustani Ilyas; M.Tasbih
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.3912

Abstract

Penelitian ini mengkaji kedudukan dan fungsi hadis dalam pembentukan hukum Islam kontemporer di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang cepat. Penelitian bertujuan: (1) mendeskripsikan secara sistematis kedudukan hadis sebagai sumber normatif kedua setelah Al-Qur’an dalam pembentukan hukum Islam kontemporer, (2) menganalisis fungsi hadis dalam proses istinbāṭ dan ijtihad pada isu-isu hukum modern, serta (3) merumuskan model pemahaman hadis yang menjaga integritas normatif sekaligus responsif terhadap konteks. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan dan desain deskriptif-analitis melalui analisis kitab-kitab hadis utama serta literatur uṣūl fiqh dan studi hadis terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis tetap sentral melalui dua dimensi: dimensi epistemologis sebagai legitimasi pengetahuan hukum dan otoritas normatif, serta dimensi aplikatif sebagai perangkat operasional dalam merumuskan hukum atas persoalan baru yang belum dirinci dalam Al-Qur’an. Fungsi hadis dipetakan ke dalam empat peran dominan, yaitu bayān al-tafsīr, bayān al-taqyīd/takhṣīṣ, bayān al-taqrīr, dan tasyri‘. Penelitian juga menemukan bahwa relevansi hadis masa kini ditentukan oleh keseimbangan antara otentisitas (kritik sanad-matan) dan ketepatan konteks (pembacaan sosial-historis) dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah.