Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PENDEDERAN IKAN GURAMI (Osphronemus Gouramy) (STUDI KASUS DI KELOMPOK MINA MUKTI DESA SUKATALI KECAMATAN SITURAJA KABUPATEN SUMEDANG) Asep Rismawan; Iskandar .; Iwang Gumilar
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 8, No 1 (2017): Jurnal Perikanan dan Kelautan Unpad
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kelompok Pembudidaya Ikan Gurami Kelompok Mina Mukti Kabupaten Sumedang, dari bulan September 2016 – Januari 2017. Penelitian ini bertujuan menganalisis alternatif strategi bisnis yang dapat digunakan oleh pihak Kelompok Mina Mukti berdasarkan faktor internal dan faktor eksternal kegiatan usaha ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Metode yang digunakan adalah metode survey. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Parameter yang dianalisis adalah perumusan strategi bisnis ikan Gurami yang dilakukan melalui tiga tahapan yaitu matriks EFE, matriks IFE, dan matriks SWOT. Faktor internal (kekuatan dan kelemahan) utama yang dimiliki oleh Kelompok Mina Mukti adalah lokasi dan wilayah Mina Mukti yang strategis  (skor 0,302), dan tidak dapat memenuhi permintaan yang tinggi (skor 0,213). Faktor eksternal (peluang dan ancaman) terbesar yang dimiliki oleh Kelompok Mina Mukti adalah kepercayaan pemasok dan permintaan ikan Gurami yang tinggi dengan nilai yang sama (skor 0,319),dan serangan hama dan penyakit (skor 0,273). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi Kelompok Mina Mukti berada pada kuadran I dengan kordinat (2,615 : 2,922). Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif, berupa (1) Mempertahankan dan meningkatkan mutu produk dengan cara pengawasan produksi, (2) Menambah jumlah kolam baru untuk meningkatkan kuantitas produksi ikan Gurami, (3) Meningkatkan kuantitas produksi ikan Gurami menggunakan induk yang berkualitas, dan (4) Meningkatkan dan menjaga loyalitas pelanggan.
ANALISIS SURPLUS KONSUMEN DAN SURPLUS PRODUSEN IKAN SEGAR DI KOTA BANDUNG (Studi Kasus di Pasar Induk Caringin) Ickman Santi Kusumawardani; Iwang Gumilar; Iis Rostini
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

          Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan September 2012. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis surplus konsumen dan surplus produsen ikan segar di Kota Bandung di lokasi Pasar Induk Caringin di Kota Bandung dengan  menggunakan metode survey. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan responden (Pedagang dan Pembeli Ikan Segar di Pasar Induk Caringin). Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surplus konsumen lebih besar dari pada surplus produsen. Berarti bahwa keuntungan yang dinikmati oleh para konsumen lebih besar dari produsen. Hal ini berkaitan dengan struktur Pasar Induk Caringin yaitu pasar persaingan sempurna.
PARTISIPASI MASYARAKAT PESISIR DALAM PELESTARIAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE (Studi Kasus di Kabupaten Indramayu Jawa Barat) Iwang Gumilar
Sosiohumaniora Vol 20, No 2 (2018): SOSIOHUMANIORA, JULI 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.88 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v20i2.14707

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian ekosistem hutan mangrove di wilayah pesisir Indramayu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus. Variabel yang diteliti meliputi persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian ekosistem hutan mangrove. Pengukuran derajat persepsi dan partisipasi diukur menggunakan metode skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan responden memiliki persepsi bahwa kerusakan ekosistem mangrove selain karena faktor alam juga karena perilaku manusia; mangrove memiliki manfaat penting bagi lingkungan pesisir; pengelolan hutan mangrove tanggung jawab bersama; perusahaan lokal harus berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan, dan pemerintah daerah berkewajiban menjamin pelestarian lingkungan dengan baik melalui penegakan hukum lingkungan dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan masih rendah. Indeks partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi hutan mangrove berada pada tahap tokenisme yaitu suatu tingkat partisipasi dimana masyarakat didengar dan diperkenankan berpendapat, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan. Hal ini akan menjadi ancaman keberlanjutan ekosistem hutan mangrove karena akan berimplikasi pada sense of belonging and sense of responsibility dari masyarakat terhadap pengelolaan hutan mangrove.
WILLINGNESS TO PAY MASYARAKAT TERHADAP SUMBERDAYA TERUMBU KARANG DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PULAU BIAWAK Iwang Gumilar
Sosiohumaniora Vol 21, No 3 (2019): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3380.081 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v21i3.21371

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi willingness to pay (WTP) masyarakat dalam menentukan besarnya nilai sumberdaya terumbu karang di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Pulau Biawak Provinsi Jabar. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dan dianalisis secara deskripsi menggunakan perangkat statistik regresi linier berganda. Unit analisis adalah wisatawan (6 orang) dan masyarakat nelayan (37 orang) yang berkunjung ke KKP Pulau Biawak. Data dikumpulkan melalui proses wawancara dan diskusi kelompok secara mendalam (focus groups discussion). Beberapa faktor sosial ekonomi yang diduga berpengaruh terhadap WTP adalah profesi (X1), gender (X2), usia (X3), pendidikan (X4), penghasilan (X5), dan pengalaman kerja (X6). Berdasarkan hasil penelitian menindikasikan bahwa berdasarkan P-value variabel pendidikan (0,6%)dan penghasilan (4,3%) secara parsial berpengaruh terhadap WTP (P-value <5%), sementara untukvariabel profesi (65,4%), gender (57,7%), usia (89,7%), dan pengalaman kerja (85,3%) secara parsial tidak berpengaruh terhadap WTP (P-value > (5%). Koefisien determinasi (R2) dari hasil analisis diperoleh nilai sebesar 80%. Nilai ini menunjukkan bahwa WTP dapat dijelaskan 80% oleh variabel-variabel X1, X2, X3, X4, X5, dan X6 sedangkan sisanya 20% dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak disebutkan dalam model. Berdasarkan Uji F , nilai F tabel (db= 24,31, α 0,005) sebesar 2,36.F hitung > F tabel, maka keseluruhan variabel signifikan berpengaruh terhadap WTP. 
Typology of Fisheries Sector and Income Disparities at Cirebon Regency Achmad Rizal; Iwang Gumilar; Lupita Lestari
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jpk.v7i2.2685

Abstract

Development is directedactions to obtain a better quality of life. Development policy is intended to provide equity in the part of development, but the disparities between regions are still occur. The actual disparities are caused by potential distinct of Natural Resources (SDA) and demographic conditions which in the development process lead to uneven distribution of income per capita. This study aims to analyze the major disparities of coastal and non-coastal income in Cirebon Regency and analyze the position of the fishery sector as the economic base in Cirebon Regency in year 2011-2015. This research was conducted by survey method, the sampling technique by purposive sampling method. Data collection technique by recording directly on time series data sheets from 2011-2015 and filling questionnaires by coastal and non-coastal communities, the Department of Marine and Fisheries, Planning Agency Regional Development, as well as the Central Bureau of Statistics of Cirebon Regency. The results showed that income disparities in non-coastal areas were higher than coastal areas with an average value of the Williamson Index of 0.20 for coastal areas and 0.29 for non-coastal areas, while through economic base analysis showed that fishery sub-sector in Kabupaten Cirebon is the economic base sector with some superior commodities such as tiger shrimp, shellfish, octopus and crab.
SELEKTIVITAS ALAT TANGKAP TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus LINNAEUS, 1758) DI PERAIRAN GEBANG MEKAR , CIREBON Nabilla Shabrina; Dedi Supriadi; Iwang Gumilar; Alexander M. A. Khan
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.1.2021.%p

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) merupakan komoditas perikanan memiliki nilai komersial tinggi.Berdasarkan Data Statistik Perikanan tahun 2017, bahwa Kabupaten Cirebon merupakan salah satu pusat produksi rajungan terbesar di Jawa Barat. Jaring kejer (gillnet) dan bubu lipat merupakan alat tangkap yang utama untuk menangkap rajungan. Penelitian di Tempat Pendaratan Ikan Gebang Mekar, Cirebon pada bulan September-Oktober 2019 bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi alat tangkap yang selektif dan efisien untuk menangkap rajungan. Data primer yang digunakan untuk analisis adalah ukuran lebar karapas dan bobot individu rajungan, dilengkapi dengan wawancara dengan nelayan dan informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan jaring kejer dengan messize 3,5 inci memiliki selektivitas lebih tinggi dibandingkan bubu lipat. Rajungan hasil tangkapan jaring kejer rata-rata memiliki lebar karapas 14 cm dan bubu lipat pada lebar karapas 13 cm. Hal ini sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 56/PERMEN-KP/2016, yaitu rajungan yang diperbolehkan ditangkap memiliki lebar karapas lebih dari 10 cm. Pengelolaan perikanan rajungan yang rasional melalui penentuan selektivitas alat tangkap diperlukan untuk menciptakan kondisi perikanan berkelanjutan.Blue swimming crab (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758)/BSC is a critical economically valuable fishery commodity and high commercial value. Based on the Fishery Statistics Data in 2017, Cirebon Regency is one of the largest BSC fishing centers in West Java. Gillnet (locally: jaring kejer) and collapsible crab net are commonly used by fishermen to catch crabs. The research was conducted on September-October 2019 at Fish Landing Place Gebang Mekar Cirebon, aimed to get data and information on fishing gears that are more selective and efficient for catching BSC. Data primarily used in this research were carapace width and individual weight of BSC, and interviews of some fishermen and key informants to complete data and information needed. The result showed that gillnets with a mesh size of 3.5 inches were more selective than collapsible crab traps. A carapace width of 14 cm dominated the mean of BSC caught by gillnet, and a collapsible crab net of 13 cm. This was in accordance with Indonesian Minister of Maritime Affairs and Fisheries Regulation number 56/PERMEN-KP/2016 where catching BSC was allowed with carapace width more than 10 cm. The rational management for BSC through selectivity fishing gear used needed to create better conditions for sustainable fisheries.
VALUASI EKONOMI KEKAYAAN SUMBERDAYA KELAUTAN JAWA BARAT SELATAN Iwang Gumilar; Agus Ruswandi
CR JOURNAL (CREATIVE RESEARCH FOR WEST JAVA DEVELOPMENT) Vol. 1 No. 01 (2015): Creative Research For West Java Development
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aims to conduct an economic valuation of the wealth of marine resources in the South Coastregion West Java with a technique to quantify the value of resources in monetary terms. The experiment wasconducted September-December 2012 include Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Sukabumi. Datacollected include secondary data and primary data. Secondary data was collected from relevant agencies,primary data collected through field observation and Focus Group Discussion. Analysis methode was usedescription analysi. Economic valuation used Total Economic Valuation (TEV) approachs, involved renewableresources such as mangrove resources, fisheries culture (fond and marine culture), and fishing; nonrenewableresources (mining); and environmental services (tourism activities). The results of this research obtained theeconomic value (present value with a discount factor of 16%) in the marine resources of the South West Javain 2012 for renewable resources amounted to Rp 1.408.989.172.400, which consists of the present value ofthe economic value of fish resources Rp. 1,345,910,309,000; aquaculture Rp. 60,725,829; coral reefresources. Rp 9,138,987,443; seagrass resources Rp. 46,367,631,672; and mangrove resource Rp.7,511,518,456. The total economic value of nonrenewable resources (iron/Fe deposit) was USD 31,950trillion; and the economic value of tourism services was Rp. 3,558,263,040,000.
The Effect of Different Submerged Cage (Vietnamese Style) Depth on The Growth of Green Lobster (Panulirus homarus) in The East Coast of Pangandaran District Rita Rostika; Iskandar Iskandar; Iwang Gumilar; Aulia Andhikawati; Muhammad Hafizh Arafi
Journal of Social Research Vol. 2 No. 9 (2023): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v2i9.1291

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of submerged cage depth on the growth of green lobsters (Panulirus homarus) in Vietnamese-style cultivation on the East Coast of Pangandaran. The submerged cage was intended so that the lobsters are not disturbed by the situation/water quality in the upper layer of the water. The research method used a completely randomized design using 3 submerge cage depth treatments and 4 repetitions with different ones, A (2 meters); B (3.5 meters); and C (5 meters). Lobster maintenance was carried out for 40 days using a submerged cage with a diameter of 80 cm and a height of 90 cm. Each cage contains 10 lobster seeds measuring 40 g. Frequency of feeding 2 times a day. The amount of test feed given was 20% of the lobster weight each day. Measurement of water quality as supporting data was carried out at the beginning and end of the research. Sampling was done every 10 days and the observed parameters were growth rate, feed conversion ratio (FCR), and feed efficiency (FE). Lobster growth performance showed that treatment C (placement of cages at a depth of 5 meters) was the best among the others, as well as the daily growth rate (LPH) of 1.35%, feed conversion ratio (FCR) of 12.8, and feed efficiency ( EP) of 8.6%. The water quality in the submerged cage with a depth of 5 meters was DO 5.22 mg/L, the water temperature was 28 Celsius, pH was 7 and salinity was 34 ppt.
DEVELOPMENT ANALYSIS OF QUACULTURE VILLAGE IN GARUT REGENCY Anindya Pratami Putri; Iwang Gumilar
AQUASAINS Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/aqs.v11i2.p1277 - 1286

Abstract

This study aims to identify issues and formulate strategies related to the development of aquaculture village areas in Garut Regency. This research was conducted for 2 months, namely August-October. Methods of data collection by observation and interviews. Data analysis using SWOT analysis. Garut Regency has the potential for freshwater aquaculture covering an area of 26,000 hectares which includes aquaculture of calm water ponds, swift water ponds and rice fields. The aquaculture village is a program from the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries (KKP) which aims to improve the local rural economy for the period 2021-2024. The application of the concept of developing aquaculture villages is a strategic step in the implementation of marine and fisheries development. Aquaculture village is an area based on superior commodities and local commodities, which can encourage the development of competitive and sustainable fish farming, as well as protect fish resources and ensure sustainable and planned production. The results of the SWOT analysis show that an important strategy in developing aquaculture village areas in Garut Regency is to take advantage of market opportunities, government development supervision and community participation.
Diet and Dietary Habits of The Mystus gulio from The Cianjur Estuaries, Indonesia Epa Paujiah; Yayat Dhahiyat; Titin Herawati; Iskandar Iskandar; Haryono Haryono; Iwang Gumilar
Jurnal Biodjati Vol 8, No 2 (2023): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v8i2.28995

Abstract

Food and feeding habits are important things in bioecological of fish. This study provides an understanding of the feeding habits and intensity of the M. gulio, by analyzing its food composition, relative gut length (RGL) and gastro-somatic index (GaSI). Fish specimens were caught with a gill net and fishing rod in an area of Cianjur estuaries during a period of one year from October 2021 to September 2022. The analysis of 452 fish samples shows that the relative gut length (RGL) values revealed the feeding habit of M. gulio as carni-omnivorous. The GaSI value was used to determine feeding intensity and was found to be highest in November, at Cidamar estuary, and in the second size group (7.1-10 cm). These results provide new knowledge on this fish species’ feeding habit and intensity, which also helps understand the fish adaptation and conservation in the study area.
Co-Authors Achmad Rizal Adhitya Rakhmadi Agus Ruswandi Agus Ruswandi Alexander M. A. Khan Alfina, Alfina Anindya Pratami Putri Ankiq Taofiqurohman Ankiq Taofiqurrohman Annisa Karimah Aprianto, Hendra Arief, Mochamad Candra Wirawan Asep Rismawan Asep Sahidin Atikah Nurhayati Atikah Nurhayati Aulia Andhikawati Beni Guswanto Budi Susanto Christopher Radyputra Moelyosusant Citra Aulia Hani Fasa Damayanti, Ami Danies Sadyarta Pratama Dedi Supriadi Diani Putri Utami Emma Rochima Epa Paujiah Epa Paujiah, Epa Esa Khoirinnisa Evi Liviawaty Fahri Faturohman Firdaus, Muhamad Dadan Fortuna, Friyona Dewi Ghifari, Naufal Hasvi Gumilar, Atikah Haganta, Louise David Haikal Dapa Heryadi Handaka, Asep Agus Handaka, Asep Agus Hardhiawan, Muhammad Adrian Shidqi Hartatik, Sri Een Haryono Haryono Haryono Haryono Hendra Wawansyah Herman Hamdani Herman, Roffi Grandiosa Hermawan, Astridya Syahada Putri Heryadi, Haikal Dapa Heti Herawati Ibnu Dwi Buwono Ickman Santi Kusumawardani Iis Rostini Ine Maulina Ine Maulina Ine Maulina Ishlahiddin, Muhammad Iqbal Iskandar . Iskandar Iskandar Iskandar Iskandar Iskandar Iskandar Izza Mahdiana Apriliani Junianto - Lantun Paradhita Dewanti Lintang Permata Sari Yuliadi Lupita Lestari Mia Berlia Miftahul Agra Putri Muhamad Rakhman Firdaus Muhammad Hafizh Arafi Nabilla Shabrina Nuraya Asfariah Wangsapraja Nurhoirunisa, Kori Pamungkas, Wahyuniar Perdana Putra Kelana Prameswari, Rhiana Prasetya, Muhamad Diva Priani, Zalsa Az Zahra Putri, Miftahul Agra Rani - Handayani Rasyid, Raffael Muhammad Sabili Raymond Marbun Lumban b Marbun Lumban Ristiafani Rita Rostika Rizal, Muhammad Rizal Alfiansyah Rizkia Aliyah Roffi Grandiosa Rusky Intan Pratama Sakira, Kekey Santi Rukminita Anggraeni, Santi Rukminita Saputra, Adjie Shafa, Bellarisa Rahma Shelvi Mardiana Sri Astuty Sriati - Syamsuddin, Mega Laksmini Tarigan, Aginta Primana Titin Herawati Trie Utami Akbarini Ujang Subhan Wahyuniar Pamungkas Yayat Dhahiyat Yayat Dhahiyat Yuli Andriani Yuniar Mulyani Yuniar Mulyani Zahidah Zahidah - Zahidah Hasan Zahidah Zahidah, Zahidah Zuzy Anna