Claim Missing Document
Check
Articles

PENERAPAN AROMATERAPI LEMON DAN SU JOK UNTUK MENURUNKAN NYERI PADA IBU POST SECTIO CAESAREA Kurniawaty, Kurniawaty; Sunarmi, Sunarmi; Pratiwi, Nova Frana
Babul Ilmi Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan Vol 17, No 2 (2025): Babul Ilmi Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36729/bi.v17i2.1509

Abstract

Latar Belakang: Ibu post sectio caesarea mengalami berbagai keluhan, terutama berkaitan dengan rasa sakit atau nyeri. Keluhan ini dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental jika tidak dikelola dengan baik. Ada beberapa metode non-farmakologi yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri, salah satunya yaitu penerapan aromaterapi lemon dan su jok. Tujuan: Mengetahui penerapan aromaterapi lemon dan su jok untuk menurunkan pada ibu post sectio caesarea. Metode: Desain studi kasus ini adalah deskriptif analitik dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Adapun subjek studi kasus berjumlah dua pasien post sectio caesarea dengan masalah keperawatan nyeri akut post sectio caesarea di Ruangan Fatimah Rumah Sakit Islam Ar-Rasyid Palembang. Tindakan yang dilakukan adalah penerapan aromaterapi lemon dan su jok selama 3 hari masing-masing 30 menit. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, pemeriksaan dan studi dokumentasi. Analisa data membandingkan antara teori dengan data yang ditemukan pada pasien. Hasil: Didapatkan hasil pada kedua pasien perubahan skala nyeri dari 6 menjadi skala 3, bahwa aromaterapi lemon dan su jok berpengaruh secara efektif untuk mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien post sectio caesarea. Saran: Agar dapat menjadi acuan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada ibu post sectio caesarea dengan menerapkan tindakan aromaterapi lemon dan su jok untuk menurunkan intensitas nyeri. Kata kunci: Aromaterapi Lemon, Nyeri, Nonfarmakologi, Su Jok, Post Sectio Caesarea
PEMBERDAYAAN SANGGAR SENI AIYRA (SANIRA) DALAM MELESTARIKAN BUDAYA BUGIS MELALUI PELATIHAN SENI TARI TRADISI DAN KREASI Yusrianti, Yusrianti; M, Usman; Trisnasari, Damayanti; Kurniawaty, Kurniawaty; S, Cantika Rahayu
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.37943

Abstract

Abstrak: Di tengah arus globalisasi, minat generasi muda terhadap seni tari tradisional Bugis di Kabupaten Soppeng mengalami penurunan. Sanggar seni sebagai pusat pelestarian budaya masih menghadapi keterbatasan fasilitas, manajemen, dan promosi. Kondisi ini menegaskan urgensi pelaksanaan program pemberdayaan yang terarah, partisipatif, dan berkelanjutan guna menjaga eksistensi seni tari Bugis sekaligus mendorong adaptasi melalui pengembangan tari tradisi dan kreasi yang relevan dengan perkembangan zaman. Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan Sanggar Seni AIYRA (SANIRA) dalam melestarikan budaya Bugis melalui pelatihan seni tari tradisi dan kreasi di Kabupaten Soppeng, sehingga dapat meningkatkan keterampilan teknis seni tari tradisi dan kreasi, penguasaan gerak dan ekspresi tari Bugis, serta kemampuan pemanfaatan teknologi digital untuk promosi budaya. Selain itu, program ini juga bertujuan mengembangkan kreativitas, kepercayaan diri, kemampuan manajerial, kerja sama tim, serta kesadaran dan kebanggaan terhadap identitas budaya lokal. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, workshop digitalisasi promosi budaya, serta pendampingan dan evaluasi yang melibatkan 15 anggota sanggar dan tim dosen serta mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang.. Evaluasi dilakukan melalui desain pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan, keterampilan tari, dan kemampuan digital mitra. Keberhasilan ditandai dengan meningkatnya skor pada ketiga aspek tersebut, terciptanya karya tari kreasi baru, serta kemampuan mitra mengelola media sosial dan website secara mandiri. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan soft skill dan hard skill peserta sekitar 80%, serta peningkatan nilai ekonomis dan kemampuan promosi budaya sanggar hingga 60%. Program ini berhasil memperkuat peran sanggar sebagai pusat pelestarian budaya Bugis yang berkelanjutan.Abstract: Amidst the current of globalization, the interest of the younger generation in traditional Bugis dance in Soppeng Regency has decreased. Art studios as centers for cultural preservation still face limitations in facilities, management, and promotion. This condition emphasizes the urgency of implementing a targeted, participatory, and sustainable empowerment program to maintain the existence of Bugis dance while encouraging adaptation through the development of traditional and creative dances that are relevant to current developments. This activity aims to empower the AIYRA Art Studio (SANIRA) in preserving Bugis culture through traditional and creative dance training in Soppeng Regency, so that they can improve technical skills in traditional and creative dance, mastery of Bugis dance movements and expressions, and the ability to utilize digital technology for cultural promotion. In addition, this program also aims to develop creativity, self-confidence, managerial skills, teamwork, as well as awareness and pride in local cultural identity. The implementation method included outreach, training, a digital cultural promotion workshop, and mentoring and evaluation involving 15 studio members and a team of lecturers and students from Muhammadiyah Sidenreng Rappang University. Evaluation was conducted using a pre-test and post-test design to measure improvements in knowledge, dance skills, and digital capabilities of partners. Success was indicated by increased scores in these three aspects, the creation of new creative dance works, and the partners' ability to independently manage social media and websites. The results showed an increase in participants' soft and hard skills by approximately 80%, as well as an increase in the studio's economic value and cultural promotion capabilities by up to 60%. This program successfully strengthened the studio's role as a center for sustainable Bugis cultural preservation.