Claim Missing Document
Check
Articles

KOMPOSISI DAN KEMELIMPAHAN FITOPLANKTON DI LAGUNA GLAGAH KABUPATEN KULONPROGO PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Aisyah Hadi Ramadani; Arini Wijayanti; Suwarno Hadisusanto
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 10, No 1 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi jenis fitoplankton di laguna Glagah; 2) meng-identifikasi kemelimpahan fitoplankton di laguna Glagah; 3) mempelajari  hubungan faktor fisiko-kimia  lingkungan dengan kemelimpahan fitoplankton di laguna Glagah. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2012 di laguna Glagah desa Glagah kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo DIY. Pengambilan sampel  dilakukan pada 3 stasiun pengamatan untuk mengidentifikasi faktor fisiko-kimia (pH, DO, dan alkalinitas) dan mengidentifikasi fitoplankton. Pengamatan dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada pukul 08.00 WIB (pagi) dan 13.00 WIB (siang). Pengujian faktor fisiko-kimia dan identifikasi fito-plankton dilakukan di laboratorium ekologi Fakultas Biologi UGM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitoplankton yang ditemukan di laguna Glagah berjumlah 9 spesies dalam 3 fungsional grup dengan kemelimpahan rata-rata sebesar 1839.667 individu/L pada pagi hari dan 1640,333 pada siang hari. Fitoplankton yang paling melimpah adalah diatom. Berdasarkan analisis regresi korelasi antara kemelimpahan fitoplankton dan faktor fisiko-kimia perairan Laguna Glagah maka diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara faktor fisiko kimia meliputi pH, DO, dan alkalinitas dengan kemelimpahan fitoplankton.  Kata kunci: Kemelimpahan, Komposisi, Fitoplankton, Laguna, Glagah, Fisiko-Kimia
KOMPOSISI DAN KEMELIMPAHAN ZOOPLANKTON DI LAGUNA GLAGAH KABUPATEN KULONPROGO PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Alanindra Saputra; Enggar Lestari; Suwarno Hadisusanto
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 10, No 1 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi jenis zooplankton  di laguna Glagah; 2) meng-identifikasi kemelimpahan zooplankton di laguna Glagah; 3) mempelajari hubungan faktor fisiko-kimia  lingkungan dengan kemelimpahan zooplankton di laguna Glagah. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2012 di laguna Glagah desa Glagah kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo DIY. Peng-ambilan sampel dilakukan pada 3 stasiun pengamatan untuk mengidentifikasi faktor fisiko-kimia (pH, DO, dan alkalinitas) dan mengedentifikasi zooplankton. Pengamatan dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pa-da pukul 08.00 WIB (pagi) dan 13.00 WIB (siang). Pengujian faktor fisiko-kimia dan identifikasi zoo-plankton dilakukan di laboratorium ekologi Fakultas Biologi UGM.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa zooplankton yang ditemukan di laguna Glagah berjumlah 27 spesies yang dikelompokkan dalam 7 fungsional grup dengan rata-rata kemelimpahan sebesar 689.3333 individu/L pada pagi hari dan 1640.3333 individu/L pada siang hari. Zooplankton yang paling melimpah adalah  Nauplius.  Analisis regresi korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor fisiko-kimia lingkungan dengan kemelimpahan zooplankton yang ditemukan di laguna Glagah.   Kata kunci: Kemelimpahan, Komposisi, Zooplankton, Laguna, Glagah, Fisiko-Kimia
Water Quality Index Performance for River Pollution Control Based on Better Ecological Point of View (A Case Study in Code, Winongo, Gadjah Wong Streams) Sri Puji Saraswati; Mochammad Venly Ardion; Yul Hendro Widodo; Suwarno Hadisusanto
Journal of the Civil Engineering Forum Vol. 5 No. 1 (January 2019)
Publisher : Department of Civil and Environmental Engineering, Faculty of Engineering, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.823 KB) | DOI: 10.22146/jcef.41165

Abstract

The quality of river water quality monitoring data sometimes can be inaccurate. Evaluation of the effectiveness of water pollution control programs needs good quality data to calculate the Water Quality Index (WQI) with the aim to meet the requirement to protect biodiversity and maintain various water functions. Thirty-five water quality variables from Code, Gadjah Wong, and Winongo rivers were taken as data, conducted by Environmental Agency of Yogyakarta in 2004 – 2015. There were only 19 out of 35 water quality variables having good data after improvement of monitoring data, transformation/standardization and analysis of the significant water quality variables with PCA (Principle Component Analysis) and Factor Analysis (FA). WQIs formula in the three rivers used the same 5 significant variables i.e. EC, DO, COD, NH3N, Total Coliform, and "weighted sum index” as the sub-index aggregation technique, with different sub-index coefficients. Winongo River had the best water quality and Gajah Wong River was the worst. According to the relationship of river water discharge and WQIs index, large discharge during rainy seasons does not always decrease the level of pollution, but it tends to increase the WQIs. More effective ways to improve the stream water quality during dry seasons should further be investigated.
FORAMINIFERA BENTONIK KAITANNYA DENGAN KUALITAS PERAIRAN DI WILAYAH BARAT DAYA PULAU MOROTAI, MALUKU UTARA Amir Sidiq; Suwarno Hadisusanto; Kresna Tri Dewi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.179 KB) | DOI: 10.32693/jgk.14.1.2016.336

Abstract

Pulau Morotai, Maluku Utara merupakan salah satu pulau yang terletak di kawasan segitiga terumbu karang  sebagai pusat kenakeragaman biota laut global. Kesehatan ekosistem terumbu karang dapat dipantau dengan menggunakan komposisi foraminifera bentonik. Maksud dan tujuan studi ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas foraminifera bentoni terkait dengan kualitas perairan sebelah barat daya Pulau Morotai. Studi ini menggunakan enam sampel sedimen dasar laut dengan tiga kali perulangan yang diambil pada  kedalaman antara 16 dan 36 m. Hasilnya menunjukkan ada 28 spesies foraminifera bentonik, dicirikan oleh kehadiran Amphistegina dan Operculina dalam jumlah sangat melimpah. Amphistegina radiata merupakan spesies dengan densitas tertinggi di stasiun dekat pantai. Nilai indeks keanekaragaman foraminifera antara 1,49 dan 2,31 yang tergolong dalam kondisidengan tingkat keanekaragaman sedang. Indeks keseragaman umumnya lebih besar dari 0,6 yang menunjukkan lingkungan stabil. Nilai indeks FORAM (FI) berkisar dari 6,32 hingga 9,16 yang memperlihatkan  kondisi lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan terumbu karang. Kata kunci: struktur komunitas, foraminifera bentonik, terumbu karang, MorotaiMorotai Island, North Molucca is one of islands that is located in the Coral triangle region as the global centre of marine biodiversity.  The health of this coral ecosystem could be monitored by using benthonic foraminferal composition. The purpose of this study are re recognized community structure of benthic foraminifera related to water quality off southwest Morotai, Island. This study used six marine sediments samples with three times of replication that collected from 16 -36 m water depth. The result shows that there are 28 spesies of benthonic foraminifera characterized by occurences of Amphistegina and Operculina abundantly. Amphistegina radiata is a highest density species that is found in the near shore station. The diversity index is between 1,49 and 2,31 as moderate diversity;  evenness index generally is more than 0,6 that indicates stable environment. FORAM index (FI) is more than 4 (6,32 to 9,16) that shows of  condusif environmental condition for reef growth.Keywords: community structure, benthonic foraminifera, coral reef, Morotai
KETERKAITAN PERUBAHAN IKLIM PADA GLASIAL AKHIR - HOLOSEN TERHADAP TINGKAT KEANEKARAGAMAN FORAMINIFERA DI LAUT HALMAHERA Fitria Ratna Pratiwi; Suwarno Hadisusanto; Luli Gustiantini; Nazar Nurdin; Mira Yosi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.085 KB) | DOI: 10.32693/jgk.18.1.2020.635

Abstract

Laut Halmahera terletak pada Western Pacific Warm Pool (WPWP), yaitu pusat konveksi panas di Samudera Pasifik Barat tropis. Laut ini merupakan salah satu jalur masuk Arlindo yang menghubungkan massa air Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia. Sehingga area ini penting untuk rekonstruksi paleoklimat. Peristiwa perubahan glasial akhir-interglasial (Holosen) merupakan peristiwa di masa lalu yang sangat mempengaruhi kondisi Laut Halmahera. Salah satu proksi yang dapat digunakan untuk mencatat perubahan iklim di masa lalu adalah sisa-sisa makhluk hidup, termasuk foraminifera. Perubahan yang terjadi pada foraminifera dapat diamati dari tingkat  keanekaragaman, kemelimpahan, dominansi, dan keseragaman. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel sedimen bor MD10-3339, yang diambil di Laut Halmahera (00o26,67’LS dan 128o50,33’BT) pada kedalaman 1.919 m, dalam survei MONOCIR 2 tahun 2010. Sampel yang digunakan pada rentang 20 cm hingga 1.930 cm dengan interval 60 cm pada tiap sampel, yang dianggap mewakili waktu terjadinya glasial-interglasial. 30 sampel kemudian diamati dan dilakukan analisis secara kuantitatif. Teridentifikasi 52 spesies yang terdiri dari 32 spesies foraminifera bentonik dan 21 spesies foraminifera planktonik. Nilai indeks keanekaragaman, nilai indeks keseragaman, dan indeks dominansi menunjukkan nilai yang fluktuatif sejak glasial-interglasial, dengan nilai rata-rata 1,66; 0,35; dan 0,3. Walaupun tidak menunjukkan pola glasial-interglasial, namun pada sekitar umur 12.519 BP, nilai indeks keanekaragaman dan nilai keseragaman menunjukkan nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai yang lain yaitu 1,102 dan 0,26. Sebaliknya, indeks dominansi mencapai nilai tertinggi yaitu 0,55.  Selain itu, persentase P. obliqueloculata pada umur ini menjadi sangat dominan yaitu 73,05%. Hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan peristiwa Younger Dryas.Kata Kunci : Foraminifera, Younger Dryas, Laut Halmahera.Halmahera Sea lies in the centre of Western Pacific Warm Pool (WPWP), the warmest area in Tropical Pacific Ocean that play a role as center of heat convection. It is also one of the Indonesian throughflow pathways connecting water mass from Pacific Ocean to The Indian Ocean, therefore this area is considered important for climatic reconstruction. Glacial-interglacial cycle is one of the major events in the past that strongly influence the Halmahera Sea. Potential proxies for paleoclimatic reconstruction are including living organisms remain, such as foraminifera. Respond of foraminifera can be observed from their diversity, abundance, dominance, and their evenness. This study was conducted by analizing sediment core MD10-3339, collected from the Halmahera Sea (00o26.67” S, 128o50.33” E) in 1,919 m water depth, during the cruise MONOCIR 2 in 2010. Samples were analized from 20 cm to 1,930 cm at 60 cm intervals. A total of 30 samples were observed and analyzed. 52 species of foraminifera are found, composed of 32 species of benthonic foraminifera and 21 species of planktonic foraminifera. The analyses of diversity index, evenness, and dominance indicate fluctuated values between glacial-interglacial, with averages values are 1.66, 0.35, and 0.3 respectively. Although the values do not indicate glacial-interglacial trend, however, in 12,519 BP diversity index and evenness index showed the lowest number compared to the other ages (1.102 and 0.26, respectively),in contrast the highest dominance index (0.55). Furthermore, at this time, the percentage of Pulleniatina obliquiloculataincrease (73.05%) and become dominant. This occurrence might be related to the Younger Dryas event.Keywords: Foraminifera, Younger Dryas, Halmahera Sea.
FORAMINIFERA BENTONIK SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN TERUMBU KARANG DI PULAU TEGAL, TELUK LAMPUNG, LAMPUNG Sevina Rahmi; Suwarno Hadisusanto; Nazar Nurdin; Mira Yosi; Luli Gustiantini
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.259 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.2.2019.599

Abstract

Foraminifera telah banyak digunakan sebagai indikator kualitas perairan sekitar terumbu karang di Indonesia berdasarkan perbandingan kelompok foraminifera bentonik tertentu. Studi tersebut diterapkan di sekitar Pulau Tegal, Teluk Lampung yang merupakan salah satu destinasi wisata yang secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas foraminifera bentonik kaitannya dengan kondisi perairan terumbu karang Pulau Tegal, Teluk Lampung. Penelitian ini dilakukan pada 16 stasiun penelitian di Pulau Tegal yang mewakili semua sisi pulau dengan variasi kedalaman dari 0 meter hingga 28 meter. Hasil dari penelitian ini ditemukan 6.918 spesimen foraminifera bentonik dengan keanekaragaman yang tergolong rendah. Genera Amphistegina dan Elphidium ditemukan sangat melimpah pada hampir seluruh stasiun. Nilai Indeks FORAM (FI) diatas 4 ditemukan pada 11 stasiun penelitian yang mengindikasikan bahwa sebagian besar perairan Pulau Tegal berada dalam kondisi yang sangat baik dan kondusif untuk pertumbuhan serta pemulihan terumbu karang. Hasil ini sejalan dengan melimpahnya kehadiran kelompok foraminifera yang berasosiasi dengan terumbu karang pada perairan Pulau Tegal.Kata Kunci: Bioindikator, Pulau Tegal, Indeks FORAM, Terumbu Karang, Komunitas.Foraminifera has been widely used as an indicator of the quality of the waters around coral reefs in Indonesia based on the comparison of certain groups of benthonic foraminifera. The study was implemented around Tegal Island, Lampung Bay, which is one of the tourist destinations that influence the coral reef ecosystem. This study aims to determine the structure of bentonic foraminifera communities related to the condition of the coral reef waters of Tegal Island, Lampung Bay. This research was conducted at 16 research stations in Tegal Island representing all sides of the island with variations in depth from 0 m to 28 m water depth. The results of this study found 6.918 specimens of bentonic foraminifera with relatively low diversity. The genera Amphistegina and Elphidium were found to be very abundant in almost all stations. The FORAM Index (FI) above 4 was found in 11 research stations which indicated that most of the waters of Tegal Island were in very good conditions and conducive to the growth and recovery of coral reefs. This result is in line with the abundance of the presence of foraminifera groups associated with coral reefs in the waters of Tegal Island. Keywords: Bioindicator, Tegal Island, FORAM Index, Coral Reef, Community
Emisi CO2 Kendaraan Bermotor Periode Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (Studi Kasus: Ruas Jalan Di Jakarta Pusat) Farah Dewi Permatasari; Suwarno Hadisusanto; Eko Haryono
Jurnal Ecolab Vol 15, No 1 (2021): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2021.15.1.31-44

Abstract

Emisi CO2 Kendaraan Bermotor Periode Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (Studi Kasus: Ruas Jalan Di Jakarta Pusat). Jakarta Pusat sebagai jantung kota DKI Jakarta memiliki arus pergerakan orang dan barang yang tinggi terutama dalam penggunaan kendaraan bermotor. Pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor menyebabkan semakin meningkatnya akumulasi CO2 di atmosfer. Pada awal tahun 2020 berbagai negara di dunia termasuk Indonesia dan Jakarta mengalami pandemi Covid19 yang mendorong pemerintah menerapkan pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menekan kasus penyebaran Covid19. Adanya PSBB mengakibatkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk keterbatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan bermotor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besaran emisi CO2 saat periode kebijakan PSBB di tiga ruas jalan Jakarta Pusat. Metode penelitian ini dilakukan secara deskriptif kuantitatif meliputi besaran konsumsi BBM masyarakat menggunakan kuesioner, data lalu lintas harian rata-rata (LHR) kendaraan bermotor bersumber dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan besaran emisi CO2 menggunakan perangkat lunak Mobilev 3.0. Hasil penelitian ini didapatkan besaran rata-rata konsumsi BBM tiap kendaraan saat PSBB yaitu untuk sepeda motor sebesar 4,01 liter/unit kendaraan dan mobil sebesar 20,6 liter/unit kendaraan. Total LHR kendaraan bermotor keseluruhan pada tiga ruas jalan sebesar 159.621 kendaraan (PSBB Transisi) dan sebanyak 132.623 kendaraan (PSBB Total). Total besaran emisi CO2 keseluruhan dari tiga ruas jalan saat PSBB transisi sebesar 68.863 ton/tahun dan saat PSBB total emisi CO2 sebesar 52.287 ton/tahun. Urutan emisi CO2 tertinggi berada di Jalan MH. Thamrin, kemudian Jalan Abdul Muis dan emisi terendah berada di Jalan Prajurit KKO Usman Harun. Berdasarkan penelitian ini, secara keseluruhan terjadi penurunan emisi CO2 pada tiga ruas jalan sebesar 24% antara kondisi PSBB Transisi dan PSBB Total. Penurunan emisi CO2 terjadi karena adanya keterbatasan mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan bermotor dan perubahan konsumsi BBM selama periode kebijakan PSBB.
Sexing pada Ikan Brek Puntius orphoides (Valenciennes, 1863) Menggunakan Metode Truss Morfometrics Suhestri Suryaningsih; Mahmed Sagi; Kamiso H. N.; Suwarno Hadisusanto
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 31, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2014.31.1.219

Abstract

The red chick barb (Puntius orphoides) is one of fresh water ichtiofauna included in family Cyprinidae found a lot in River Klawing, the biggest and richest river in Purbalingga with 18 species of fish.  The aim of this study was to find out the differences between male and female red chick barb by truss morphometrics and to find out truss morphometrics distance.  The material used were sex mature fish from River Klawing.  The variables meassured included morphometry based on truss morphometrics point, number of male and female fish.  Truss distance was then compared to the total length so that the truss distance ratio was determined.  Next, a statistical test i.e. t test was performed between the male and female fish.  The results of this study showed that the male and female red chick barb can be distinguished by truss morphometrics method.  The distance ratio to be used as diagnostic character were 11 and 24 ration of truss morphometrics distance compared found in the head, body, and tail.
Korelasi antara Beberapa Karakter Reproduksi dengan Panjang Total Ikan Brek [Puntius orphoides (Valenciennes 1842)] di Sungai Klawing Purbalingga Suhestri Suryaningsih; Mammed Sagi; Kamiso Handoyo Nitimulyo; Suwarno Hadisusanto
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 28, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2011.28.3.269

Abstract

The red chick barb [Puntius orphoides (Valenciennes 1842)] is a member of Cyprinidae with high economic value. However, this species is still uncultured. The high market demand is fulfilled by direct collection  from their natural habitat.  In order to avoid overexploitation, domestication effort is needed.  The success of this effort needs some biological information e.g. reproductive characters.  This research aims to know some reproductive characters of red cheek barb collected at Klawing River Purbalingga Central Java.  A survey method was used with performing simple random sampling technique. The measured parameters were gonad maturity, fecundity, and gonad somatic indices (GSI) related to total length. The fish were collected monthly from June until November 2009. Data analysis includes length distribution, and correlation among gonad maturity, fecundity, and gonad somatic indices with body length. The result showed that red cheek barb from Klawing River has variable body length, most of the female individuals (34.37%) had body length ranges from 14.3-16.2 cm, whereas the majority of the male individuals (44.95%) had length distribution from 12.1-14.6 cm. The variation on  gonad maturity was observed during the research both on female and male individuals. However, most of the populations were on the highest level of gonad maturity (level IV) only in September and October. A positive correlation between gonad maturity and body length was observed on the male individuals (r=0.0424) as well as on the female individuals (r=0.4339). The fecundity was ranges from 4.097 up to 32.794 eggs. A positive correlation was also observed between fecundity and body length (r=0.6403). A monthly GSI variation was found both on the female and the male individuals with the highest peak of GSI was observed in September and October. A positive correlation between GSI and body length was found on female individuals (r=7.07 x 10-3) as well as on male individuals (r=0.376).
COMPARISON OF NUTRITIONAL AND PROTEASE ACTIVITY PROFILES OF TWO LIVE FEED CANDIDATES OF Pseudodiaptomus SPECIES Rina Puji Astuti; Alim Isnansetyo; Rarastoeti Pratiwi; Suwarno Hadisusanto
Indonesian Aquaculture Journal Vol 17, No 1 (2022): (June, 2022)
Publisher : Center for Fisheries Research, Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resource

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/iaj.17.1.2022.45-51

Abstract

Pseudodiaptomus species are one of the copepods species as a superior live feed to date due to their nutrition and digestive enzyme contents. Some of them have been used as natural for rearing marine fish larvae. The purposes of this study were to compare the nutritional and protease activity between two species of Pseudodiaptomus originated from Indonesian waters, and to determine more superior species to cultivate. Two different feeds i.e. Thalassiosira sp. and milk powder were used to grow the Pseudodiaptomus species. Analysis of amino acids (AAs) and fatty acids (FAs) profiles were carried out for both the Pseudodiaptomus species samples and the feeds, while the protease activity assay was carried out only for the Pseudodiaptomus species samples. Results indicated that the nutritional and protease activity profiles of Pseudodiaptomus were affected by the types of feed. Pseudodiaptomus code P61 was more superior to Pseudodiaptomus code P71. This code P61 species contained a wide variety of essential fatty acids and exhibited stabile protease activity under the different feeding treatments. However, P61 contained a lower total AA content than P71. Both of them could be cultivated because they were complementary in nutrients to each other.
Co-Authors Adi, Hanindyo Agatha Sih Piranti agus maryono Agustinus Murdjoko Agustinus Murdjoko Aisyah Hadi Ramadani Alanindra Saputra Aldawood, Abdulrahman Saad Alifa Varmlandia ALIM ISNANSETYO Amir Sidiq Anindya Kusumawati Arda dinata Arini Wijayanti Bahana Aditya Adnan Bambang Agus Kironoto Budi Mulyaningsih Dewi Puspita Sari Dewi Puspita Sari Dewi Puspita Sari Djoko Marsono Djoko Marsono Dulbahri Eko Haryono Emilya Nurjani Endang Puji Astuti Enggar Lestari Ervina Indrayani Farah Dewi Permatasari Fitria Ratna Pratiwi H.N., Kamiso Hanna Kawulur, Hanna Hanna S.I. Kawulur Hanna S.I. Kawulur, Hanna S.I. Heny Mayasari Setyoningrum, Heny Mayasari Hidayat Soesilohadi Islami, Kharisma Dinda Istriyati I Istriyati I Istriyati Istriyati Kamiso H. N. Kamiso H.N. KAMISO HANDOYO NITIMULYO Kamiso Handoyo Nitimulyo Kamiso Handoyo Nitimulyo Kamiso Handoyo Nitimulyo Kresna Tri Dewi Langgeng Wahyu Santosa Luli Gustiantini Luli Gustiantini M Widyastuti M. Sofwan Anwari, M. Sofwan Mahmed Sagi Mammed Sagi Mammed Sagi Mammed Sagi Mira Yosi Mira Yosi Mochammad Venly Ardion Muh Aris Marfai Muh Aris Marfai Muh Aris Marfai Muhamat, M Muhammad Sulaiman Nazar Nurdin Nazar Nurdin Netty Dahlah Uar Nurul Khakhim Nurul Khakhim Nurul Khakhim Pertiwi, Serly Andini Peter Gell PUGUH KARYANTO Puguh Sujarta Purnomo Purnomo Purnomo Purnomo Purnomo R.C. Hidayat Soesilohadi Raden Roro Upiek Ngesti Wibawaning Astuti Raden Wisnu Nurcahyo Rarastoeti Pratiwi Rina Puji Astuti Ronggo Sadono Rosita Tabaika, Rosita Rustadi Rustadi S. Djalal Tandjung Sagi , Mammed Setefani Yulia Tiara Putri Sevina Rahmi Sigit Heru Murti Sitti Rahmah Umniyati Sri Puji Saraswati Sri Puji Saraswati Sudarmadji Sudarmadji Sudaryatno Sudaryatno Suhestri Suryaningsih Suhestri Suryaningsih Suhestri Suryaningsih Suhestri Suryaningsih Sukirno Sukirno Sumarna, Ardi SUNARTO Sunarto Sunyoto Sunyoto Suryaningsih , Suhestri Susintowati Susintowati, Susintowati Sutikno Sutikno Tri Retnaningsih Soeprobowati Tukidal Yunianto Utami, Laila Widi Wahyu Sartika, Heni Y. Andi Trisyono Yul Hendro Widodo Yusal, Muh Sri Zunnikah, Zunnikah