Articles
EKSISTENSI BUDAYA ALEE MEUNARI DI DESA ALUE BATEE KECAMATAN ARONGAN LAMBALEK MEULABOH KABUPATEN ACEH BARAT
Ayuni, Ida;
Supadmi, Tri;
Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 3 (2017): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/sendratasik.v2i3.8911
Penelitian ini berjudul Eksistensi Budaya Alee Meunari di Desa Alue Batee Kecamatan Arongan Lambalek Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana eksistensi budaya Alee Meunari di Desa Alue Batee. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan eksistensi budaya Alee Meunari di Desa Alue Batee. Pendekatan yang digunakan kualitatif dan jenis penelitian adalah deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu mereduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian tentang budaya Alee Meunari di Desa Alue Batee ini menunjukkan bahwa budaya Alee Meunari telah ada sejak tahun 1840-an namun beberapa tahun setelahnya, budaya ini mulai pudar dan jauh dari eksistensinya. Kemudian tahun 2013, budaya Alee Meunari dibangkitkan kembali oleh H.T. Alaidinsyah mantan Bupati Aceh Barat. Sejak tahun 2013, budaya Alee Meunari terlihat eksistensinya dan berkembang hingga ke tingkat nasional sampai saat ini. Budaya Alee Meunari ditampilkan dalam acara adat, penyambutan tamu, acara pemerintahan, acara daerah, pesta perkawinan, dan acara lainnya. Budaya Alee Meunari dimainkan oleh 7 orang dengan memegang kayu Waru kering yang panjangnya beragam dari 3-5 meter. Penelitian mengenai budaya Alee Meunari membuktikan bahwa budaya Alee Meunari masih eksis dan berkembang di Aceh Barat dan faktor yang mempengaruhi eksistensinya yaitu kemauan masyarakat dalam melestarikan dan kebijakan kalangan masyarakat yang terus menempatkan Alee Meunari sebagai adat dalam berbagai kegiatan di Aceh Barat. Hal ini terlihat dari intensitas penampilan Alee Meunari dari tahun 2013 sampai 2017 semakin meningkat.Kata Kunci: eksistensi, budaya, Alee Meunari
PERUBAHAN BENTUK PENYAJIAN TARI GUEL DI KABUPATEN ACEH TENGAH (KAJIAN SEJARAH)
Sari, Indah Nirmala;
Syai, Ahmad;
Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 3 (2017): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/sendratasik.v2i3.8910
This research entitled The form transformation of Guel dance in Central Aceh District (Historical study). Meanwhile, the problem of this research is how the Guel Dance in Central Aceh District transforms in terms of the dance form. This research aims to describe the form transformation of this Guel dance. This research use a qualitative approach in form of descriptive analysis. The subject of this research is the Guel dances artist and Guel dancer as well. The object of this research is the form transformation of Guel dance in Central Aceh District. Technique of data collection in this research is done by observation to achieve a comprehensible image regarding the things being observed, an interview to seek the information deeply, and documentation which is done by investigating the belongings as well as pictures that can help the researcher in order to accomplish this research. The techniques of data analysis used are data reduction, data display, and conclusion drawing. The result of the research shows that Guel dance was originally presented as a tradition of welcoming the royal guests, this dance also presented in a certain families wedding parties. The Guel dance then had a change in form so it became the compulsory element that is presented in the Gayonese wedding celebration especially in the Central Aceh District and Bener Meriah. As the era keeps developing, the Guel dance has changed in terms of its form. Hence, this dance is widely presented for the purpose of entertaining and shown in a lot of art events among people in Central Aceh District. The Guel Dance is not changed specifically due to the fact that it still is the same in term of presentation, it only had a transformation in several parts such as the attire, musical instruments, and the number of the dancer. The Guel dance still show its originality by preserving the symbol of white elephant and Senggeda (didong) in its dance.Key words: Guel dance, form transformation
KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DIDONG DI SMAN 1 PERMATA BENER MERIAH
Husna, Husna;
Syai, Ahmad;
Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 3 (2017): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/sendratasik.v2i3.8909
Penelitian berjudul Kegiatan ekstrakurikuler Didong di SMAN 1 Permata Bener Meriah. Mengangkat masalah bagaimana pembelajaran Didong pada kegiatan ekstrakurikuler dan kendala-kendala apa saja yang dialami siswa pada pembelajaran Didong di SMAN 1 Permata Bener Meriah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran Didong pada kegiatan ekstrakurikuler dan kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pembelajaran Didong di SMAN 1 Permata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru yang mengajarkan kegiatan ekstrakurikuler Didong di SMAN 1 Permata Bener Meriah, objek penelitiannya adalah siswa SMAN 1 Permata Bener Meriah yang belajar tentang kegiatan ekstrakurikuler Didong yang berjumlah 13 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakana adalah teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dapat mengetahui makna dan tujuan Didong pada kegiatan ekstrakurikuler. Kendala yang dihadapi oleh guru yaitu siswa kurang aktif dalam pembelajaran Didong kurang diminati oleh beberapa siswa mereka susah untuk menalar, karena pembelajaran Didong lebih cenderung praktik. Sedangkan kendala yang dihadapi oleh siswa adalah, siswa kesulitan dalam menyanyikan syair lagu Didong yang menggunakan Bahasa Gayo dan siswa kurang respon dalam pembelajaran Didong pada kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 1 Permata Bener Meriah. Waktu yang terbatas, karena jarak rumah ke sekolah jauh, tidak mempunyai kendaraan menjadi hambatan siswa untuk datang ke sekolah.Kata kunci: kegiatan, ekstrakurikuler, Didong
BENTUK PENYAJIAN TARI ANAK PADA ADAT PERKAWINAN DI KECAMATAN SIMEULUE TIMUR KABUPATEN SIMEULUE
Anggriani, Fitri;
Ismawan, Ismawan;
Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 3 (2017): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/sendratasik.v2i3.8908
Penelitian ini berjudul Bentuk Penyajian Tari Anak pada Adat Perkawinan di Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyajian tari Anak pada adat perkawinan di Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Anak pada adat perkawinan di Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan Tari Anak dipertunjukkan pada saat malam bainai gadang. Tari Anak dikelompokkan dalam tari berpasangan. Tarian ini terdiri dari 18 ragam gerak, berawal dari gerak salam, silat, memberi kain gendongan, membuai Anak, mendukung Anak, pergi ke tabib, maubek Anak, dan salam penutup, gerak pada tari Anak dilakukan secara berulang-ulang. Pola lantai simetris, iringan musik pada Tari Anak yaitu musik live dengan syair yang berisi pantun bertutur. Kata kunci: hasil, tari Anak, bentuk penyajian.
FUNGSI DAN PENYAJIAN TARIAN RATOH DUEK PADA SANGGAR SENI SEULAWEUET
Husna, Nurul;
Kurnita, Taat;
Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 2 (2017): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/sendratasik.v2i2.5751
ABSTRAK Penelitian ini berjudul Fungsi dan Penyajian Tarian Ratoh Duek pada Sanggar Seni Seulaweuet mengangkat masalah Fungsi dan Penyajian Tarian Ratoh Duek pada Sanggar Seni Seulaweuet. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan Fungsi Dan Penyajian Tarian Ratoh Duek Pada Sanggar Seni Seulaweuet. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari pelatih dan penari Ratoh Duek Pada Sanggar Seni Seulaweuet. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penyajian Tarian Ratoh Duek Pada Sanggar Seni Seulaweuet meliputi gerak, iringan berupa syair, pola lantai, dan tata rias busana, serta pentas pertunjukan. Secara keseluruhan Fungsi Penyajian Tarian Ratoh Duek adalah sebagai media untuk memperkenalkan tarian Aceh di kancah Nasional dan sebagai sarana hiburan serta sarana pertunjukan untuk dapat dipertontonkan pada suatu acara atau pentas seni lainnya dan dapat menciptakan sebuah kesinambungan sosial dalam masyarakat. Kata Kunci: fungsi, penyajian, tarian Ratoh Duek
MAKNA SIMBOLIK PADA PERLENGKAPAN MANOE PUCOK DI DESA PALAK HULU KECAMATAN SUSOH
Sari, Permata;
Selian, Rida Safuan;
Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/sendratasik.v2i1.5609
ABSTRAK Penelitian yang berjudul Makna Simbolik pada perlengkapan Manoe Pucok di desa Palak Hulu Kecamatan Susoh. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah apakah makna simbolik pada perlengkapan Manoe Pucok di Desa Palak Hulu Kecamatan Susoh. Peneliti ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik pada perlengkapan Manoe Pucok di Desa Palak Hulu Kecamatan Susoh. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian di Desa Palak Hulu Kecamatan Susoh, sumber data penelitian adalah ketua PKK dan pengrajin adat di Desa Palak Hulu dan tokoh-tokoh masyarakat Desa Palak Hulu Kecamatan Susoh. Subjek penelitian ini adalah masyarakat Desa Palak Hulu dan objeknya adalah makna simbolik yang terkandung pada perlengkapan Manoe Pucok. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi non-partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan mereduksi, menyajikan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlengkapan Manoe Pucok di Desa Palak Hulu terdiri dari kerajinan Nyiu (Buah Biluluk jantan dan batina, Kari-kari, Rajo Baselo, Pucuk Rebung, Jari Sipasen dan Lipatan Tikar), air Limau dan bahan Peusijuek. Makna simbolik dari Buah Biluluk jantan dan betina (menyatukan antara pengantin laki-laki dan perempuan), Kari-kari (pengantin harus siap menghadapi kehidupan rumah tangga yang baru), Rajo Baselo (kerajaan), Pucuk Rebung (supaya bisa membimbing keturunannya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat lainnya), Jari Sipasen (kehormatan), Lipatan Tikar (kemuliaan). Air Limau mengandung makna kebersihan dan kesucian dan bahan Peusijuek mempunyai makna supaya pasangan pengatin baru (suami istri) hidup bersama dengan rukun dan damai.Kata kunci: makna, simbol, Manoe Pucok
PROSES PENCIPTAAN TARI SILONGOR DI SMP NEGERI 2 SIMEULUE TIMUR KABUPATEN SIMEULUE
Ernita, Mulia;
Syai, Ahmad;
Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 2, No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/sendratasik.v2i1.5604
ABSTRAK Penelitian ini berjudul Proses Penciptaan Tari Silongor di SMP Negeri 2 Simeulue Timur Kabupaten Simeulue. Rumusan masalahnya adalah bagaimanakah proses penciptaan dan bagaimanakah bentuk penyajian tari Silongor di SMP Negeri 2 Simeulue Timur Kabupaten Simeulue. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Proses Penciptaan dan Bentuk Penyajian Tari Silongor di SMP Negeri 2 Simeulue Timur Kabupaten Simeulue. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode penelitian deskriftif. Data penelitian ini bersumber dari seniman dan pencipta tari Silongor. Pengumpulan data yang digunakan dengan teknik observasi, wawancara serta dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan mereduksi, display, serta verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses penciptaan tari Silongor melalui beberapa tahapan yaitu eksplorasi, improvisasi dan komposisi. Tari Silongor ditarikan oleh 6-10 orang penari wanita, rata-rata umur penari sekitar 10-15 tahun. Tarian ini memiliki 14 ragam gerakan dan ada dua kali pengulangan gerak pada setiap gerakannya, 15 jenis pola lantai. Musik pengiring pada tarian ini menggunakan rekaman lagu daerah Simeulue yang berjudul Silongor. Tata rias yang digunakan yaitu rias cantik dan sederhana dengan menggunakan mahkota seperti paru burung Silongor. Tata busana menggunakan baju dan celana berwarna coklat dengan desain yang sangat sederhana serta kain yang dibentuk menyerupai sayap burung. Tempat pertunjukan tarian ini dapat ditampilkan di pentas arena dan prosenium Tarian ini ditarikan pada acara-acara hiburan dan dapat dinikmati bagi semua kalangan.Kata Kunci: proses penciptaan, bentuk penyajian, tari Silongor.
BENTUK PENYAJIAN TARI RAMPHAK DI SANGGAR RAMPOE BANDA ACEH
Junanda, Ferdi;
Syai, Ahmad;
Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/sendratasik.v1i4.5345
ABSTRAKPenelitian ini berjudul Bentuk Penyajian Tari Ramphak di sanggar Rampoe Banda Aceh mengangkat masalah tentang bagaimana bentuk penyajian tari Ramphak dalam acara pertunjukan atau hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Ramphak di sanggar Rampoe Banda Aceh. Sumber data dalam penelitian ini adalah koordinator sanggar Rampoe (Zulkifli), penari sanggar Rampoe Banda Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan teknik analisis data dengan mereduksi, display, serta verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Ramphak dikembangkan oleh Yusri Sulaiman pada tahun 2006 yang ditarikan oleh 8 orang penari wanita dan empat orang penari pria. Tarian ini memiliki 31 gerakan yaitu 15 gerak wanita,15 gerak pria dan 1 gerak bersama. Gerak yang terdapat pada tari ini adalah gerak-gerak cuplikan dari beberapa tari tradisional di Aceh, seperti tari saman, ratoeh duek, laweut dan seudati.Tari Ramphak diiringi dengan syair Aceh yang dilantunkan oleh syeh. Tari Ramphak termasuk ke dalam tari pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan semata.Kata Kunci: bentuk, penyajian, tari Ramphak
BENTUK PENYAJIAN TARI ZAPIN PEKAJANG DI SANGGAR BUANA KOTA BANDA ACEH
Suraya Tiba, Dara Ananda;
Supadmi, Tri;
Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/sendratasik.v1i3.5342
penyajian tari Zapin Pekajang di Sanggar Buana Kota Banda Aceh. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyajian tari Zapin Pekajang di Sanggar Buana Kota Banda Aceh. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk penyajian tari Zapin Pekajang di sanggar buana Kota Banda Aceh. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah penari dan pelatih sanggar buana. Objek dalam penelitian ini adalah tari Zapin Pekajang. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Zapin Pekajang termasuk ke dalam tari tradisional dari Johor, Malaysia. Penggunaan unsur gerak pada tarian ini tidak terlalu banyak, tarian ini cenderung menggunakan pola lantai yang beragam. Tari Zapin Pekajang ini berasal dari salah satu kampung yang berada di Johor. Tarian ini menceritakan bagaimana perjalanan pemuda-pemudi yang ingin mendapatkan pasangan hidup mereka. Tari ini memiliki 3 ragam gerak, yaitu ragam gerak Dua, Tiga dan lima. Di dalam ragam gerak terdapat pembatas antara ragam gerak satu dengan ragam gerak lainnya yang disebut dengan kopak. Tari ini memiliki 20 pola lantai dan 8 orang penari diantaranya 4 penari pria dan 4 penari wanita. Tata rias yang digunakan pada tari Zapin Pekajang adalah tata rias cantik. Tata busana yang digunakan pada tari Zapin Pekajang adalah busana adat Melayu seperti celana hitam, baju Melayu lengan panjang dan songket. Bentuk sanggul yang digunakan sama seperti sanggul Aceh pada umumnya dengan perlengkapan hiasan kepala berupa mahkota dan bunga. Properti yang digunakan adalah bunga telur. Tarian ini tidak menggunakan musik langsung, melainkan audio. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian zapin ini adalah gambus, rebana, gendang dan marwas.Kata kunci: Bentuk penyajian, tari Zapin Pekajang
PENYAJIAN TARI KREASI TURUN KU AIH AUNEN PADA SANGGAR KERENEM PIRAK KABUPATEN GAYO LUES
Pradita, Ardi;
Syai, Ahmad;
Hartati, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/sendratasik.v1i3.5290
ABSTRAK Penelitian ini tentang Penyajian Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen pada Sanggar Kerenem Pirak Kabupaten Gayo Lues. Menyangkut masalah bagaimana penyajian tari dan makna gerak Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penyajian tari dan makna gerak Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriftif. Data bersumber dari koreografer serta pelatih di sanggar Kerenem Pirak Kabupaten Gayo Lues tentang Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen. Pengumpulan data yang digunakan dengan tehnik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data mereduksi, display dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen bercerita tentang kegiatan rutin seberu (Anak Gadis) zaman dahulu mengambil air dari telaga yang dibuat di pinggir sungai. Tari ini ditarikan oleh 7 orang penari wanita yang menggunakan properti Coran (Bambu) dan Labu (kendi). Tarian ini memiliki 13 gerak yang diiringi dengan Canang dan Gegedem, serta syair yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi. Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen ditampilkan di atas panggung proscenium, dengan tata rias cantik dan busana yang digunakan adalah busana kerawang Gayo Lues dengan Aksesoris berupa Genit Rante, Topong, dan Kupang. Gerak Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen ini memiliki makna dan ada juga yang tidak memiliki makna. Gerakan yang memiliki makna diantaranya gerak salam, gerak Berketibung dan gerak Mulawi. Kata kunci: penyajian, makna, tari kreasi Turun Ku Aih Aunen