Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Analisis Critical Success Factors Implementasi Program B20 untuk Pengembangan Berkelanjutan Industri Bahan Bakar Nabati Fitria Mira Andani; Arman Hakim Nasution; Dewie Sakti Ardiantono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v8i2.49322

Abstract

Konsumsi energi nasional yang terus mengalami peningkatan, membuat pemerintah melakukan beberapa solusi untuk mengatasinya, yaitu dengan adanya pengembangan energi terbarukan (renewable energy).Pemanfaatan energi terbarukan dapat dilakukan melalui pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel). Dalam praktiknya, Indonesia telah menerapkan beberapa kebijakan dalam penggunaan biofuel. Salah satunya dengan adanya program B20 yaitu program yang mewajibkan mencampurkan 20% biodiesel dengan 80% bahan bakar minyak solar. Kebijakan tersebut sudah ada sejak tahun 2016 dan baru diwajibkan pada tahun 2018 ini. Hal ini menandakan bahwa program B20 harus benar-benar dijalankan dan diterapkan, walaupun tidak dapat diterima secara langsung oleh masyarakat. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis apa saja critical success factors (CSF) pada implementasi program B20 yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan menentukan prioritas yang menjadi faktor penentu keberhasilan impelemtasi program B20 tersebut. Penelitian ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan In-depth Interview untuk menganalisis faktor pendukung keberhasilan implementasi program B20 dan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk penentuan prioritas indikator. Hasil analisis yang didapatkan menunjukan terdapat 5 aspek dengan 16 indikator faktor pendukung keberhasilan implementasi program B20. Aspek tersebut terdiri dari aspek tehnical, economic, environment, social dan politic. Hasil pembobotan perbandingan berpasangan menunjukkan bahwa yang menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi B20 adalah aspek ekonomi.
Feasibility Study Pusat Herbal Dan Teknologi Park Berbasis Circular Economy Di Kota Batu Gogor Handiwibowo; Lissa Rosdiana Noer; Reny Nadlifatin; Gita Widi Bhawika; Choirul Mahfud; Arman Hakim Nasution
JURPIKAT (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 1 No 3 (2020)
Publisher : Politeknik Dharma Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v1i3.347

Abstract

Kota Batu telah dikenal sebagai kota pariwisata. Kota Batu juga dikenal sebagai agrobisnis yang potensial. Keunikan ini menjadikan ITS mencoba berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Batu untuk membuat program Pusat Herbal dan Teknologi Park. Untuk mendukung program tersebut, melalui skema pengabdian masyarakat berbasis produk, dibuatlah studi kelayakan untuk melihat secara detail potensi program Pusat Herbal dan Teknologi Park berbasis circular economy yang akan dikembangkan bersama antara ITS dan Pemerintah Kota Batu. Melalui studi kelayakan ini diharapkan akan dapat menggandeng pihak ketiga seperti investor, program CSR, BUMN dan lain-lain yang akan membantu terwujudnya Pusat Herbal dan Teknologi Park berbasis circular economy di Kota Batu ini.
PERUMUSAN STRATEGI KEMITRAAN MENGGUNAKAN METODE AHP DAN SWOT (Studi Kasus pada Kemitraan PT. INKA dengan Industri Kecil Menengah di Wilayah Karesidenan Madiun) Eko Nurmianto; Arman Hakim Nasution; Syafril Syafar
Jurnal Teknik Industri: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknik Industri Vol. 6 No. 1 (2004): JUNE 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.535 KB) | DOI: 10.9744/jti.6.1.47-60

Abstract

Research on Partnership strategy between PT. INKA and SMI (Small Medium Industry) conducted using Analytical Hierarchy Process (AHP) and SWOT Analysis. Problem statement: (1) Type of criteria required to build Partnership Strategy (2) How to formulate Partnership Strategy between them. Results: (1) Performance of partnership model as follows : effectivity, profesionalism, supervisory, controlship, financial, development potency, and birocration procedure. (2) Weighted criteria effectivity 0.354, profesionalism 0.24, birocration procedure 0.159, supervisory 0.104, controlship 0.068, development potency 0.045, and financial 0.031. Model 2 (proposed) is a partnership model on partnership development between PT. INKA and SMI with the management of Financial Management Council (Badan Pengelola Dana BUMN). Abstract in Bahasa Indonesia : Perumusan strategi kemitraan PT. INKA dan Industri Kecil Menengah diteliti menggunakan AHP dan SWOT. Permasalahan adalah kriteria-kriteria yang dibutuhkan dalam menyusun dan merumuskan strategi kemitraan antara PT. INKA dan industri kecil binaan. Hasil penelitian (1) Penilaian kinerja dari model kemitraan terdapat beberapa kriteria yang digunakan yaitu: efektivitas, profesionalitas, pembinaan, pengawasan, modal, potensi pengembangan, dan prosedur birokrasi. (2) Bobot kriteria: efektivitas 0.354, profesionalitas 0.24, prosedur birokrasi 0.159, pembinaan 0.104, pengawasan 0.068, potensi pengembangan 0.045, dan modal 0.031. Model 2 (usulan) adalah model kemitraan yang memfokuskan pengembangan kemitraan antara PT. INKA dan IKM dengan pengelolaan yang lebih profesional dengan adanya Badan Pengelola Dana BUMN yang bersifat mandiri. Kata kunci: Perumusan strategi, AHP, SWOT, Model kemitraan BUMN-IKM.
Pengembangan Konsep Desain Citra Kawasan Eduwisata Herbal di Kota Batu Choirul Mahfud; Zainul Muhibbin; Niken Prasetyawati; Arman Hakim Nasution; Gogor Arif Handiwibowo; Hertiari Idajati; Ema Umilia; Edy Subali
Janaka, Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 2 (2021): May 2021
Publisher : LP3M STAI Darussalam Krempyang Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29062/janaka.v3i2.288

Abstract

ABSTRACT The village community needs the development of alternative designs that are suitable for the Herbal Education area in Batu City for the progress of Indonesia. The activities' strategy is planning an alternative design concept for the Batu City Herbal Education Area. This community service has theoretical benefits that add insight and knowledge about determining educational tours' location with various approaches. In practical terms, several added values are useful for providing input to officials and policymakers for Batu City tourism development, specifically in developing tourism with the concept of education through city image theory. This activity's impact is a good effect of these activities, especially landmarks that function optimally in building the area's image for visitors/observers in the development of the herbal education area of Batu City. More than that, it can also provide an impression/experience to visitors/observers regarding the state of the Batu City herbal education area. Also, to support in comparing the herbal education area of Batu city.
A Review of Circular Economy Index from Many Perspective IDAA Warmadewanthi; Arman Hakim Nasution; Alva Edy Tontowi; Mohamad Khoiru Rusydi; Gogor Arif Handiwibowo; Gita Widi Bhawika; Mochammad Andy Rizqy
IPTEK Journal of Proceedings Series No 1 (2023): The 1st International Conference on Community Services and Public Policy (ICCSP) 2022
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2023i1.16391

Abstract

The concept of a circular economy began to be launched worldwide due to the impact of increasing sustainability. The advancement of technology certainly makes it easier to implement a circular economy, especially in Industry 4.0. Several industries have implemented the concept of industry 4.0, but implementing a circular economy in the industry has yet to go well. The problem is that there needs to be a measurement of the circular level of the industry. This study aims as a literature study on determining the formulation of the circular economy index. The existence of gathering perspectives from various countries is expected to provide the application of the indicators that have the most influence on the measurement of the circular economy.
Developing New Indonesia Circular Economy Indicators: A Lesson Learnt from European Union Siti Afiani Musyarofah; Alva Edy Tontowi; Nur Aini Masruroh; Budhi Sholeh Wibowo; IDAA Warmadewanthi; Arman Hakim Nasution; Mohamad Khoiru Rusydi; Gogor Arif Handiwibowo; Gita Widi Bhawika
IPTEK Journal of Proceedings Series No 1 (2023): The 1st International Conference on Community Services and Public Policy (ICCSP) 2022
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2023i1.16368

Abstract

Circular Economy (CE) right now has been a point of interest among countries in the world as a commitment of the Paris Agreement to solve global environmental problems, which are simultaneously beneficial to economics. However, presently there is no single indicator available that easily be used as a CE standard due to various stresses among the countries. There are different approaches among countries in developing CE indicators, although they are still within the scope of the environmental and economic aspects. CE indicators could be developed based on region covering several countries, government/country level, and company level. Those indicators refer to the region and government policy and market or users of the product and a society where its public area would receive waste that the company might produce. This review will discuss only European Union and Poland, representing regions and countries. A region like the European Union (EU) considers ten indicators for CE, consisting of 21 sub-indicators. These indicators include self-sufficiency in raw materials, procurement for the green public, waste generation, food waste, recycling rate, recovery of specific waste streams, recycled materials to raw materials demand contribution, raw material trade-in, investment, jobs, and gross value-added, patents of secondary and recycling raw materials. While Poland, as a member of the EU, developed 25 CE indicators based on the seven dimensions of the economic point of view, such as economic prosperity, zero waste, innovative, renewable energy- based economy, low carbon, smart economy, and spatially effective economy. Implementing a Comparative Analysis Method that compares one indicator to another, the results show that 6 of 10 indicators belonging to the EU overlap with four indicators of 25 belonging to Poland. Covering all indicators of both regions and countries, thus it would become 29 selected indicators that might be useful for developing Indonesia CE- Indicators, which are presently unavailable yet.
Measurement of Recyclable Raw Materials Trading for Circular Economy Implementation Mohamad Khoiru Rusydi; IDAA Warmadewanthi; Arman Hakim Nasution; Alva Edy Tontowi; Gogor Arif Handiwibowo; Gita Widi Bhawika
IPTEK Journal of Proceedings Series No 1 (2023): The 1st International Conference on Community Services and Public Policy (ICCSP) 2022
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2023i1.16390

Abstract

In the context of resource scarcity and food energy security in the midst of increasing food demand, the circular economy (CE) is a promising strategy to address the sustainable use of resources. This article aims to propose measurement elements in raw materials with recyclable concepts in implementing CE in the food and beverage industry. However, the CE framework has not been adapted to the needs of the Food And Beverages Industry. This article attempts to address this gap by analyzing the range of available indicators to measure trade in recyclable raw materials, namely by looking at the difference between the value of exports and imports. Thus, the differences in the CE framework can theoretically be adapted to the production system in the Food And Beverages Industry. So that the implementation of CE can be implemented in accordance with its functions, strategies and principles in managing a business model that replaces the concept of "end of life" by recycling raw materials which aims to create a quality environment, economic prosperity and benefits for future generations.
Kajian Potensi Bambu untuk Mendukung Penerapan Co-firing pada Pembangkit Listrik Jawa Bali Hamdan Dwi Rizqi; Harus Laksana Guntur; Ary Bachtiar Krishna Putra; Tri Vicca Kusumadewi; Arman Hakim Nasution; Puti Sinansari; Fredy Kurniawan
Sewagati Vol 7 No 1 (2023)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.056 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v7i1.277

Abstract

Untuk menunjang penerapan co-firing salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menyiapkan keterediaan sumber daya biomassa dalam jumlah besar. Biomassa yang cukup potensial di Indonesia adalah Bambu. Bambu adalah salah satu produk hutan bukan-kayu yang dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, Untuk mendukung pemanfaatan bambu sebagai bahan pendukung co-firing pada pembangkit listrik Jawa Bali, maka diperlukan kajian sebagai dasar penentuan kebijakan terkait Potensi Bambu untuk menunjang penerapan co-firing dalam mendukung pembangkit listrik Jawa Bali. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan Untuk mendukung penerapan co-firing tersebut dibutuhkan kurang lebih 9 Juta Ton biomassa/tahun untuk mendukung penerapan Co-Firing di 52 PLTU PLN di Indonesia. Bambu dirasa memiliki potensi yang cukup besar karena memiliki nilai konversi kalor yang cukup tinggi dibandingkan dengan biomassa lainnya. Potensi ini di dukung juga oleh ketersediaannya yang cukup melimpah dan perawatannya yang tidak rumit sehingga sangat berpeluang untuk memenuhi kebutuhan pasokan biomassa untuk mendukung penerapan co-firing pada pembangkit listrik Jawa Bali.
Inovasi Pemasaran Digital Berbasis Teknologi 4.0 untuk Mendukung Jargon “Desa Berdaya Kota Berjaya” : Sebuah Studi Observasi pada Lembah Mbencirang - Desa Wisata Kebontunggul Dewie Saktia Ardiantono; Arman Hakim Nasution; Ninditya Nareswari; Sesarius Bertrand Ananda; Herlingga Arya Duta; Irena Puspita Sari; Nelvi Dwi Marlita; Naufaldy Wahyu Manggala
Sewagati Vol 6 No 6 (2022)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1651.45 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v6i6.382

Abstract

Kekayaan alam Indonesia tidak hanya tempat terkemuka maupun yang sudah dikenali oleh masyarakat luas. Secara definitif, terdapat banyak sekali tempat yang dapat dieksplorasi keberaadaan dan keindahanya. Selain lima destinasi superprioritas yang diupayakan olehKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, daerah-daerah terpencil perlu diperhatikan sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Kawasan Lembah Mbencirang yang terletak diDesa Kebontunggul, Mojokerto yang dikelola oleh BUMDES setempat merupakan sebuah daerah terpadu dengan potensi alam dan pedesaan yang unik yang cocok untuk relaksasi dan juga rekreasiberupa alam pedesaan, kolam renang, budidaya tanaman toga sungai, dan didukung oleh UMKM setempat dibidang Food and Beverages . Dengan berbagai macam potensi, cukup disayangkanbahwa dalam proses pengembangannya terdapat berbagai kendala baik dari segi pemasaran aspek penunjang lainnya. Disinilah peran ekosistem berbasis digitalisasi digunakan untuk memberikanakses yang mudah dan terstruktur bagi perkembangan desa, khususnya dalam pemasaran secara digital. Dari permasalahan inilah, maka dapat dikembangkan sarana, prasarana, kebijakan dan berbagai macam fitur untuk memasarkan, mengenalkan dan memberikan dampak bagi masyarakatdengan dukungan dari berbagai pihak. Adapun kebermanfaatan yang diberikan antara lain kesadaran terhadap pariwisata lokal dan peningkatan perekonomian lokal melalui kekayaan alam yang semakindikenali, dimiliki dan dikemudian hari dikembangkan dengan optimal.
Desain Taman Teknologi Herbal dan Website Interaktif untuk Meningkatkan Promosi Tanaman dan Produk Herbal di Daerah Batu Arman Hakim Nasution; Tri Widjaja; Jerry Dwi Trijoyo Purnomo; Arfan Fahmi; Prahardika Prihananto
Sewagati Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1344.396 KB)

Abstract

Dari 40.000 jenis tanaman obat yang ada di Dunia, ada sekitar 75% tanaman berada di Indonesia. Namun, cukup sedikit tanaman obat yang sudah dimanfaatkan. Saat ini Kementerian Pertanian memiliki program pengembangan Taman Teknologi Pertanian (TTP). Program ini pada akhirnya menciptakan sebuah ide “Science Park dan Techno Park”. Desa Oro-Oro Ombo Kota Batu merupakan salah satu lokasi yang cocok untuk adanya pengembangan Taman Teknologi Pertanian karena seiring berjalannya waktu, sektor pariwisata di daerah sekitar semakin bertambah dan banyak warga yang beralih profesi. Dengan dikembangkannya TTP di Desa Oro-Oro Ombo diharapkan potensi herbal setempat dapat dikembangkan dan warga dapat turut andil dalam prosesnya. Untuk mencapai tujuan dan mendapatkan manfaat yang telah dirumuskan sebelumnya, pelaksanaan desain taman teknologi dan pengembangan awal market place produk herbal Kota Batu dilaksanakan dalam beberapa tahapan yakni pengumpulan data, pengolahan data, pembuatan dashboard untuk Market Place produk Herbal, hingga sosialisasi dan publikasi hasil Hasil dari kegiatan ini yakni terciptanya desain taman technopark pada daerah Oro-Oro Ombo Kota Batu, Website interaktif dan market place, serta buku ramuan dan tanaman herbal.
Co-Authors Alva Edy Tontowi Alva Edy Tontowi Anisa Dzulkarnain Anita Hakim Nasution Arfan Fahmi Arief Abdurrakhman Ary Bachtiar Krishna Putra Bandono, Adi Berlian Rahmy Lidiawaty Bhawika, Gita Widi Budhi Sholeh Wibowo Bustanul Arifin Noer Caesaratna Bunga Dwi Agusti Cindy Ade Mei Arlina Dewie Sakti Ardiantono Dewie Saktia Ardiantono Dody Hartanto Dominggo Bayu Baskara Dwi Pangesti Piorita Edy Subali Eko Nurmianto Ema Umilia Erma Suryani Ernie Maduratna Setiawati, Ernie Maduratna Erwin Widodo Fadlillah, Muhammad Syamil Fitria Mira Andani Fredy Kurniawan Gogor Handiwibowo Hamdan Dwi Rizqi Handiwibowo, Gogor Arif Harus Laksana Guntur Herlingga Arya Duta Hertiari Idajati, Hertiari IDAA Warmadewanthi Irena Puspita Sari Isabella, Putri Dwi Jerry Dwi Trijoyo Purnomo Kukuh, April Kunaifi, Aang Kusuma, Moch. Farrel Arrizal Lintang Kusuma Dewi Lusi Zafriana M. Ardy Zailani Mahfud, Choirul Mochammad Andy Rizqy Mohamad Khoiru Rusydi Mucharromatul Aula Muryono, Mukhammad Mushonnifun Faiz Sugihartanto Naufaldy Wahyu Manggala Nelvi Dwi Marlita Niken Prasetyawati Ninditya Nareswari Noer, Lissa Rosdiana Nugroho, Gregorius Aditya Prasetyo Nur Aini Masruroh Oktaviano, Kevin Harlis Perdana Suteja Putra Prahardika Prihananto Prahardika Prihananto Pramundito, Rahmatika Jagad Priambodo, Tegar Ganang Satrio Prihatina, Ocha Putri Perdana Puti Sinansari Ratna Rintaningrum Raulia Riski Reny Nadlifatin Rida Nur Rahmadianti Sambodho, Kriyo Sesarius Bertrand Ananda Shobah Hidayatul Ilmi Siti Afiani Musyarofah SRI FATMAWATI Suharyo, Okol Sri Sukardi Sukardi Syafril Syafar Syafril Syafar Syarifa Hanoum Tri Vicca Kusumadewi Tri Widjaja Yoga Agustin, Dyah Satya Zainul Muhibbin Zunaidi, Rizqa Amelia