Claim Missing Document
Check
Articles

PASTA FEED ENRICHMENT FERMENTED WITH MESENTERIC PARTS OF PANGASIUS ON THE GROWTH AND SURVIVAL OF ASIAN REDTAIL CATFISH (Hemibagrus nemurus) LARVAE Manik, Yesi Sartika Br; Aryani, Netti; Heltonika, Benny
Asian Journal of Aquatic Sciences Vol. 7 No. 3 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/ajoas.7.3.432-441

Abstract

Pasta feed is an alternative replacement feed naturally occurring in cultivating Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) larvae. However, pasta feed is not yet able to completely replace the Tubifex sp, and enrichment feed pasta with oils from mesenteric waste catfish is expected to improve the performance of pasta feed. This research aimed to determine the effect of enriching fermented pasta feed with waste oil from the mesenteric parts of catfish on the growth and survival of Asian redtail catfish larvae. This research used an experimental method with the design used, a Completely Randomized Design (CRD), one factor, and five treatments with three replications. This research was carried out from March to April 2024 at the Fish Hatchery and Breeding Laboratory, Fisheries and Marine Science Faculty, Universitas Riau. The research results show the influence of enrichment of fermented pasta feed with pangasius mesenteric fish oil on the growth and survival of Asian redtail catfish larvae. Given larvae feed fermented paste + fish oil from pangasius mesenteric waste 12 % produce growth and survival highest with an absolute weight of 1.63 g, absolute length of 5.33 cm, specific growth rate of 14.73%/day, survival of 84.44%, type A cannibalism index of 13.77%, and normal mortality of 1.77%. Water quality parameters such as water temperature range from 27-28.9 °C, pH ranges from 5-7, and DO ranges from 5.1-8.1 mg/L.
Integrated Farming System Perikanan dan Pertanian : Pengolahan Limbah Dasar Kolam menjadi Media dan Pupuk Organik Cair Tanaman di Desa Sipungguk Heltonika, Benny; Khalidah, Imanda; Jayusman, M.; Santi, Nabila; Ramadhani, Nopri; Azizi, Nur; Rahmansyah, Rahmansyah; Apriani, Rani; Angreni, Revalita; Zahra, Saskia; Amri, Syaifullah
Journal of Rural and Urban Community Empowerment Vol. 6 No. 1 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Lumpur kolam ikan merupakan salah satu limbah dari aktivitas akuakultur dan dapat menjadi masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Berdasarkan observasi yang dilakukan, lumpur kolam ini dibuang begitu saja ke perairan umum, sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Akan tetapi lumpur limbah kolam memiliki dampak yang baik bagi tanaman. Kegiatan ini merupakan salah satu program unggulan dari Kukerta MBKM Desa Sipungguk, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat pada pengolahan lumpur limbah kolam menjadi media tanam dan pupuk organik cair, sehingga menciptakan Integrated Farming System antara perikanan dan pertanian. Kegiatan telah dilaksanakan pada tanggal 19 Juli s/d 1 Agustus 2024, pada kelompok tani UPJA (Usaha Pelayanan Jasa Alsintan) Desa Sipungguk. Kegiatan terdiri dari penyuluhan dan praktik bersama kelompok tani dalam pengolahan lumpur limbah kolam menjadi media tanam dan pupuk organik cair untuk tanaman hortikultura. Hasil kegiatan ini menunjukkan kelompok tani sangat antusias dengan kegiatan ini, ditunjukkan dengan diskusi yang terjadi serta mampu memahami dan mengolah lumpur limbah kolam menjadi media tanam dan pupuk organik cair dengan antusias dalam mengikuti praktik pengolahan lumpur kolam menjadi media tanam dan pupuk organik cair.
Sosialisasi Sanitasi di SMP 2 Minas sebagai Upaya Meningkatkan Kesadaran dalam Perilaku Sanitasi di Sekolah Heltonika, Benny; Pradana, Adi Novendri; Zamzamir, Ahmad; Wandira, Barbie Yoppi; Fitriah, Desy Ayu; Fauziyyah, Halifah; Juminah, Juminah; Hayati, Maikel; Aini, Nur; Ringo, Rahel Meriani Siringo
Journal of Rural and Urban Community Empowerment Vol. 5 No. 1 (2023): Oktober
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Studi ini memiliki tujuan yang sangat penting dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku sanitasi di SMP 2 Minas melalui program sosialisasi. Pengabdian ini menyoroti pentingnya pendekatan pendidikan dan sosialisasi dalam mempromosikan kesadaran sanitasi. Ini adalah langkah yang sangat bijak karena pendidikan dan sosialisasi adalah kunci untuk mengubah perilaku, terutama di lingkungan sekolah. Metode pengabdian yang digunakan adalah metode diskusi dengan melakukan pendekatan sosialisasi melalui pertemuan dengan siswa siswi di aula SMP 2 Minas. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi oleh perwakilan dari mahasiswa pengabdian dan selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan berdiskusi antara siswa siswi dan mahasiswa pengabdian. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat kesadaran sanitasi di kalangan siswa dan staf sekolah setelah implementasi program sosialisasi. Juga menunjukkan peningkatan dalam praktik sanitasi, termasuk penggunaan toilet yang benar, mencuci tangan dengan baik, dan pemeliharaan fasilitas sanitasi di sekolah. Selain meningkatkan kesadaran, hasil juga menunjukkan peningkatan dalam praktik sanitasi. Ini mencakup penggunaan toilet yang benar, mencuci tangan dengan baik, dan pemeliharaan fasilitas sanitasi di sekolah. Peningkatan praktik sanitasi ini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit dan memastikan lingkungan yang lebih sehat.
CONTROLLING CANNIBALISM OF ASIAN REDTAIL CATFISH (Hemibagrus nemurus) LARVAE USING PASTE FEED SUPPLEMENTED WITH TURMERIC FLOUR Yulindra, Ade; Benny Heltonika; Netti Aryani
Asian Journal of Aquatic Sciences Vol. 8 No. 2 (2025): August
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/ajoas.8.2.310-318

Abstract

Cannibalism is a significant issue during the early stages of Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) culture, as it negatively affects survival rates. This study aimed to investigate of turmeric (Curcuma longa) flour supplementation in pasta feed to control cannibalism in Asian redtail catfish larvae and the potential to replace silk worm as a feed. A completely randomized design (CRD) was employed, consisting of five treatment groups with four replications each. The larvae were fed pasta diets supplemented with varying doses of turmeric flour (0, 5, 10, and 15 mg/kg), along with a comparative feed using Tubifex sp. The parameters assessed included cannibalism rate, survival rate, and growth performance. The results showed that the highest survival rate (93.33 ± 1.33%) and lowest cannibalism index (2.67 ± 0.94%) were observed in the group fed Tubifex sp. The highest weight gain (24.22 ± 0.53 g) and specific growth rate (9.35 ± 0.03%) were also recorded in this group. However, supplementation of turmeric flour at a dosage of 15 mg/kg in pasta feed was able to reduce cannibalism and improve the growth of Asian redtail catfish larvae. This treatment resulted in a cannibalism index of 11% and a survival rate of 82.67%. In terms of growth performance, larvae under this treatment exhibited a weight gain of 6.13 g, a length gain of 3.58 cm, a specific growth rate (SGR) of 6.07%/day, and a particular growth rate of length (SLR) of 4.25%/day. Pasta feed supplemented with 15 mg/kg turmeric flour can serve as an alternative to replace silk worms, achieving 25% of their weight gain and 63% of their length gain.
Pengaruh Ketebalan Media Fermentasi Ampas Tahu dan Padat Tebar terhadap Pertumbuhan Cacing Sutra (Tubifex sp.) Ramadhan, Rezki; Nuraini, Nuraini; Aryani, Netti; Heltonika, Benny
Jurnal Intek Akuakultur Vol. 7 No. 1 (2023): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budidaya cacing sutra masih sangat minim, karena masih rendahnya hasil kulturnya.  Menggunakan media kultur yang tepat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketebalan media fermentasi dan padat tebar yang berbeda terhadap populasi, biomassa dan panjang cacing sutra (Tubifex sp.) yang dikultur pada media fermentasi ampas tahu, dilakukan 12 Februari – 9 April 2021 di Laboratorium Pembenihan dan Pemuliaan Ikan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama ketebalan media dengan tiga taraf masing-masing 1 cm, 1,5 cm, dan 2 cm. Faktor kedua padat tebar dengan empat taraf masing-masing 10g, 15g, 20g dan 25g, selain itu ada media kontrol (K) berupa lumpur kolam, sehingga diperoleh 15 taraf perlakuan. Setiap perlakuan menggunakan 3 kali ulangan. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan optimal populasi cacing 9971±72,84 individu, pertumbuhan biomassa 77.56±1,05 g, pertambahan panjang 2.60±0,09 cm (P12, kultur cacing sutra menggunakan media fermentasi ampas tahu dengan ketebalan 2,0 cm dan padat tebar 20 g), sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan P1 kultur cacing sutra menggunakan media lumpur kolam dengan ketebalan 2,0 cm padat tebar 10 gram). Berdasarkan hasil uji Analisis Variansi (ANAVA) faktor ketebalan media dan padat tebar, serta kombinasi kedua faktor memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan populasi (individu), biomassa (gram) dan panjang (cm) cacing sutera (Tubifex sp.) (P < 0,05). esimpulan penelitian ini adalah dengan media fermentasi ampas tahu 2 cm dan padat tebar 20 g merupakan titik optimum kultur cacing sutra. Budidaya cacing sutra masih sangat minim, karena masih rendahnya hasil kulturnya.  Menggunakan media kultur yang tepat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketebalan media fermentasi dan padat tebar yang berbeda terhadap populasi, biomassa dan panjang cacing sutra (Tubifex sp.) yang dikultur pada media fermentasi ampas tahu, dilakukan 12 Februari – 9 April 2021 di Laboratorium Pembenihan dan Pemuliaan Ikan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama ketebalan media dengan tiga taraf masing-masing 1 cm, 1,5 cm, dan 2 cm. Faktor kedua padat tebar dengan empat taraf masing-masing 10g, 15g, 20g dan 25g, selain itu ada media kontrol (K) berupa lumpur kolam, sehingga diperoleh 15 taraf perlakuan. Setiap perlakuan menggunakan 3 kali ulangan. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan optimal populasi cacing 9971±72,84 individu, pertumbuhan biomassa 77.56±1,05 g, pertambahan panjang 2.60±0,09 cm (P12, kultur cacing sutra menggunakan media fermentasi ampas tahu dengan ketebalan 2,0 cm dan padat tebar 20 g), sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan P1 kultur cacing sutra menggunakan media lumpur kolam dengan ketebalan 2,0 cm padat tebar 10 gram). Berdasarkan hasil uji Analisis Variansi (ANAVA) faktor ketebalan media dan padat tebar, serta kombinasi kedua faktor memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan populasi (individu), biomassa (gram) dan panjang (cm) cacing sutera (Tubifex sp.) (P < 0,05). esimpulan penelitian ini adalah dengan media fermentasi ampas tahu 2 cm dan padat tebar 20 g merupakan titik optimum kultur cacing sutra. Budidaya cacing sutra masih sangat minim, karena masih rendahnya hasil kulturnya.  Menggunakan media kultur yang tepat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketebalan media fermentasi dan padat tebar yang berbeda terhadap populasi, biomassa dan panjang cacing sutra (Tubifex sp.) yang dikultur pada media fermentasi ampas tahu, dilakukan 12 Februari – 9 April 2021 di Laboratorium Pembenihan dan Pemuliaan Ikan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama ketebalan media dengan tiga taraf masing-masing 1 cm, 1,5 cm, dan 2 cm. Faktor kedua padat tebar dengan empat taraf masing-masing 10g, 15g, 20g dan 25g, selain itu ada media kontrol (K) berupa lumpur kolam, sehingga diperoleh 15 taraf perlakuan. Setiap perlakuan menggunakan 3 kali ulangan. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan optimal populasi cacing 9971±72,84 individu, pertumbuhan biomassa 77.56±1,05 g, pertambahan panjang 2.60±0,09 cm (P12, kultur cacing sutra menggunakan media fermentasi ampas tahu dengan ketebalan 2,0 cm dan padat tebar 20 g), sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan P1 kultur cacing sutra menggunakan media lumpur kolam dengan ketebalan 2,0 cm padat tebar 10 gram). Berdasarkan hasil uji Analisis Variansi (ANAVA) faktor ketebalan media dan padat tebar, serta kombinasi kedua faktor memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan populasi (individu), biomassa (gram) dan panjang (cm) cacing sutera (Tubifex sp.) (P < 0,05). esimpulan penelitian ini adalah dengan media fermentasi ampas tahu 2 cm dan padat tebar 20 g merupakan titik optimum kultur cacing sutra.
Kajian pemeliharaan ikan baung (Hemibagrus nemurus) dengan padat tebar yang berbeda pada keramba jaring apung di Waduk Sungai Paku, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau Roza, Maria; Manurung, Rosita; Budhi, Aksha; Sinwanus, Sinwanus; Heltonika, Benny
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 1: No. 1 (October, 2014)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v1i1.290

Abstract

Penelitian kajian padat tebar budidaya ikan baung ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan para pembudidaya baung dengan KJA di waduk Sungai Paku kabupaten Kampar. Kajian ini dilaksakan di Waduk Sungai Paku dari bulan Mei hingga September 2013. Kajian ini menggunakan 3 perlakuan dan 3 ulangan, adapun perlakuannya berupa padat tebar yang berbeda yaitu 1500 (P1), 2000 (P2) dan 2500 (P3) dengan ukuran masingmasing adalah keramba 16 m2. Dari hasil kajian didapat bahwa tidak ada perbedaan signifikan pengaruh padat tebar terhadap hasil budidaya ikan baung.Study of rearing cat fish with different density aimed to answer the problem of fish cultivator with floating net cage on Sungai Paku dam, Kampar country. This research has done at Sungai Paku dam on May to September 2013. This studied use different density culture of fish, P1 with density 1500 fish/cage, P2 with density 2000 fish/cage and P3 with density 2500 fish/cage (each cage was 16 m2). Result of this research was no significant between treatments.
Reproductive performance of snakehead fish (Channa striata) induced by oodev hormone Delia, Rievika Nur; Nuraini, Nuraini; Aryani, Netti; Heltonika, Benny
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 10: No. 3 (December, 2023)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v10i3.11373

Abstract

Snakehead fish is a fish that has a high level of consumption and has many benefits in the health sector, but cultivation activities have not been carried out intensively because of the availability of snakehead fish which still utilizes catches from nature. In cultivation activities, the use of hormones is commonly used, one of which is used to support reproductive performance. One of them is the Oodev hormone, so this study aimed to determine the effect of Oodev with different doses on the final gonad maturation of snakehead fish. The research method used was a completely randomized design experiment with four treatments and three replications. The treatments were P0 (Oodev 0 mL/kg), P1 (Oodev 0.5 mL/kg), P2 (Oodev 1 mL/kg), P3 (Oodev 1.5 mL/kg). Oodev injections were carried out on TKG II fish at an interval of every 7 days. During maintenance, the fish were fed golden snails and small fish 2 times a day. The result of the research showed that Oodev is significant in the gonad maturation of common snakehead. The treatment P3 injection dose of 1.5 mL/kg with maturation gonad time for 16 days, ovi somatic index 4.26%, egg diameter increases of 0.113 mm, fertilization rate 91.43%, hatching rate 90.96. It was concluded that the Oodev injection had a significant effect on the gonad maturity of snakehead fish (P<0.05) in the P3 treatment (Oodev 1.5 mL/kg).Keywords: Channa striata; Dose; Gonad maturation; Hormone; Oodev
EVALUASI WAKTU PEMBERIAN KOMBINASI CACING SUTERA DAN PAKAN PASTA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LARVA IKAN GURAMI Siagian, Desi Rahmadani; Aryani, Netti; Heltonika, Benny; Tartila, Shobrina Silmi Qori
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.4.2022.265-277

Abstract

Salah satu penyebab tingginya mortalitas larva ikan gurami (Osphronemus goramy Lac.) adalah ketersediaan pakan alami secara berkelanjutan. Hal ini memerlukan upaya untuk mencari pakan pengganti yang dapat tersedia secara terus-menerus. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi waktu pemberian pakan kombinasi antara cacing sutera dan pakan buatan pasta terhadap pertumbuhan dan sintasan larva ikan gurami. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu pemberian cacing sutera selama 40 hari (P1), cacing sutera selama 10 hari + pasta selama 30 hari (P2), cacing sutera selama 20 hari + pasta selama 20 hari (P3), cacing sutera selama 30 hari + pasta selama 10 hari (P4), dan pemberian pasta selama 40 hari (P5). Larva (0,8 ± 0,01 cm) dipelihara di akuarium (30x30x30 cm3) dengan kepadatan 2 ekor L-1. Larva dipelihara selama 40 hari dan diberi pakan tiga kali sehari secara ad satiation. Parameter penelitian terdiri dari pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik, dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, dan laju pertumbuhan spesifik menurun seiring berkurangnya waktu pemberian pakan berupa cacing sutera (P<0,05). Perlakuan P4 memberikan sintasan yang lebih baik dibanding perlakuan P2, P3, dan P5. Penelitian ini menyimpulkan bahwa waktu penggantian cacing sutera ke pakan buatan pasta berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan dan sintasan larva ikan gurami. Kombinasi yang disarankan yaitu penggunaan cacing sutra selama 30 hari dan pakan buatan pasta selama 10 hari.A factor causing high mortality in gourami larvae (Osphronemus goramy Lac.) is availability of sustainable live feed. This condition needs an effort to find continuous artificial feeds. This study aimed to evaluate feeding periods of combination between tubificid worms and formulated feed paste on growth and survival of giant gourami larvae. This study used a complete randomized design with five treatments and three replications, namely tubificid worms for 40 days (P1), tubificid worms for 10 days + formulated feed paste for 30 days (P2), tubificid worms for 20 days + formulated feed paste for 20 days (P3), tubificid worms for 30 days + formulated feed paste for 10 days (P4), and formulated feed paste for 40 days (P5). Larvae used (0.8±0.01 cm) were reared in aquariums (30x30x30 cm3) with a stocking density of 2 individuals L-1. Larvae were reared for 40 days and fed three times a day through ad satiation method. Experimental parameters consisted of absolute weight growth, absolute length growth, specific growth rate, and survival. The results showed that absolute weight growth, absolute length growth, and specific growth rate decreased with the decrease of feeding periods in the form of tubificid worms (P<0.05). The P4 treatment obtained the best survival, compared to P2, P3, and P5 treatments. This study concludes that the shift feeding period from tubificid worms to formulated feed paste affects growth performances and survival of giant gouramy larvae. The suggested combination is 30 days application of tubificid worms and formulated feed paste for 10 days.
PENGARUH SUPLEMENTASI TRIPTOFAN MELALUI PAKAN TERHADAP KANIBALISME DAN KONSENTRASI HORMON STEROID BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Heltonika, Benny; Sudrajat, Agus Oman; Junior, Muhammad Zairin; Widanarni, Widanarni; Suprayudi, Muhammad Agus; Manalu, Wasmen; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.3.2022.133-144

Abstract

Perilaku kanibal pada benih ikan baung (Hemibagrus nemurus) menjadi permasalahan pada pembenihannya. Salah satu pendekatan yang sudah dilakukan untuk mengendalikan kanibalisme pada ikan adalah pemberian triptofan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh triptofan terhadap kejadian kanibalisme dan kandungan konsentrasi hormon steroid pada benih ikan baung. Panjang awal benih yang digunakan adalah 4,98±0,1 cm yang dipelihara di dalam akuarium berkapasitas 20 L dengan kepadatan 3 ekor per L.  Selama penelitian, benih ikan baung diberi pakan komersial (40% protein) yang disuplementasi triptofan dengan konsentrasi berbeda, yaitu tanpa suplementasi triptofan (A), suplementasi triptofan 0,25% (B), suplementasi triptofan 0,50% (C), suplementasi triptofan 0,75% (D), dan suplementasi triptofan 1% (E). Setiap perlakuan terdiri dari tiga kali ulangan. Pakan diberikan empat kali sehari secara satiasi. Parameter yang diamati adalah tipe kanibal, indeks kanibal, kematian normal, sintasan, performa pertumbuhan serta konsentrasi hormon (estradiol, testosteron, dan kortisol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang diperkaya triptofan memberikan penurunan kejadian kanibal dan peningkatan sintasan benih ikan baung. Pemberian triptofan juga menurunkan kandungan estradiol tubuh, dan penurunan ini ada kaitannya dengan penurunan kejadian kanibalisme. Performa pertumbuhan benih ikan baung meningkat dengan pemberian pakan yang ditambahkan triptofan.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi 0,50–0,75% triptofan pada pakan efektif menurunkan kejadian kanibalisme pada benih ikan baung.The cannibal behavior of Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) is a problem in the hatchery. One approach that has been used to control cannibalism in fish is the use of tryptophan. This study aimed to determine the effect of tryptophan on the incidence of cannibalism and the content of steroid hormones in Asian redtail catfish juveniles. The study was conducted using the fish with a body length of 4.98±0.14 cm reared in aquariums with a water volume of 20 L with a density of 3 fish per L. Fish were given commercial feed (40% protein) supplemented with tryptophan with different concentrations, namely without tryptophan supplementation (A), tryptophan supplementation 0.25% (B), tryptophan supplementation 0.5% (C), tryptophan supplementation 0.75% (D), and tryptophan supplementation 1% (E). Each treatment consisted of three replications. Feed were given four times a day at satiation level. Parameters observed were cannibal type, cannibal index, normal mortality, survival rate, growth performance, and hormone concentration (estradiol, testosterone, and cortisol). The results showed that giving tryptophan through feed decreased the incidence of cannibalism and increased the survival of Asian redtail catfish juveniles. The addition of tryptophan to the feed decreased the concentration of estradiol in the body of fish and it is associated with a decrease in the incidence of cannibalism, thereby improving survival.  Furthermore, the supplementation of tryptophan also increased growth performance. The results of this study showed that supplementation of 0.50-0.75% tryptophan in feed was effective in reducing the incidence of cannibals in Asian redtail catfish juveniles.
PENGARUH WARNA LATAR WADAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LARVA IKAN NILEM (Osteochilus hasselti) Heltonika, Benny; Hasyim, Dio Izmi; Sukendi, Sukendi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.18.3.2023.153-163

Abstract

Penglihatan bagi sebagian besar larva ikan memiliki peran yang sangat penting yang digunakan dalam mendeteksi keberadaan pakan. Salah satu faktor yang memengaruhi penglihatan dalam kondisi alami bergantung pada warna latar habitat yang disukai ikan tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh warna latar wadah terhadap pertumbuhan dan sintasan larva ikan nilem (Osteochilus hasselti). Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor dengan lima perlakuan warna latar media dengan tiga ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah perbedaan warna wadah yaitu Wo (wadah oranye), Wbr (wadah biru), Wm (wadah merah), Wb (wadah bening), dan Wh (wadah hitam). Penelitian ini menggunakan larva ikan nilem berusia 5 hari setelah menetas dengan ukuran 0,5 ± 0,03 cm dengan pada tebar 2 ekor L-1. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan Artemia selama 10 hari pertama dan dilanjutkan dengan Moina sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna latar wadah berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan nilem (P<0,05). Perlakuan terbaik adalah Wo (wadah oranye) dengan pertumbuhan bobot mutlak 1,08 ± 0,03 g, pertumbuhan panjang mutlak 3,04 ± 0,02 cm, laju pertumbuhan spesifik 14,57 ± 0,07 % hari-1, dan sintasan 93,33 ± 2,89 %. Hal ini ditunjukkan dengan respons larva ikan nilem terhadap pakan yang diberikan.  Vision ability has a very important role for most fish larvae which are used to detect the presence of food. One of the factors that affecting vision in natural conditions depends on the favorable background color of the fish’s habitat. The aim of study was to determine the effects of the background colors of the container on the growth and survival of bonylip barb (Osteochilus hasselti) larvae. The experimental method has used in this study was one factor completely randomized design with five different background’s colors of the container with three replications for each treatment. The treatments in this study were different color containers, namely Wo (orange container), Wbr (blue container), Wm (red container), Wb (clear container), and Wh (black container). This study used bonylip larvae aged 5 days after hatching with a size of 0,5±0,03 cm with a stocking of 2 individuals L-1. During the rearing period, the fish were fed Artemia for the first 10 days and continued with Moina sp. The results showed that the background’s color of the container significantly affected on the growth and survival of bonylip barb larvae (P<0.05). The best treatment was Wo (orange container) with an absolute weight growth of 1.08 ± 0.03 g, an absolute length growth of 3.04 ± 0.02 cm, a specific growth rate of 14.57 ± 0.07% day-1, and a survival of 93.33 ± 2.89%. It was indicated with the response of bonylip barb fish larvae to the administered feed.
Co-Authors Adelina &#039; Adelina Adelina Agus Oman Sudrajat Ahmad Afif Alam Ahmad Farki Aksha Budhi Aksha Budhi, Aksha Amri, Syaifullah Angreni, Revalita Anjelina Sitorus Ayuningtyas Putri, Fadila Azizi, Nur Bahagia Nasution Choififah Nanda Khairani Clara Yolandika Delia, Rievika Nur Desi Rahmadani Siagian Efni Noor Salam Fauziyyah, Halifah Fitri Rahmayani Tambunan Fitri, Megana Fitriah, Desy Ayu Garindi Endrina Putra Hapsoh Hapsoh Harefa, Firman Theodali Harianto Harianto Harianto Harianto Hartati, Ria Hasyim, Dio Izmi Hayati, Maikel Iman Supriatna iman supriatna Indra Lesmana Indra Lesmana Isma Mulyani Ismandianto Isna Rahma Dini Jayusman, M. Juminah, Juminah Khalidah, Imanda Khalifah, Imanda Lisa Lumbantoruan, Ronal P. M. Zairin Junior Manik, Yesi Sartika Br Maria Roza Maria Roza, Maria MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Firdaus Muhammad Junior Zairin Mulyani, Isma Nadia Jayanti Br Situmorang Netti Aryani Niken Septria Ningrum Novreta Ersyi Darfia Nur Aini Nur Asiah Nur Asiah Nuraini Nuraini Nuraini Nuraini Okta Rizal Karsih Pradana, Adi Novendri Rahmad Danu Rahmandani Rahmansyah Rahmansyah Ramadhan, Rezki Ramadhani, Nopri Rani Apriani Ria Hartika Rias Oktaviani Putri RIDWAN AFFANDI Ridwan Manda Putra Rindi Metalisa, Rindi Ringo, Rahel Meriani Siringo Rosita Manurung Rosita Manurung, Rosita Sainah Sainah Santi, Nabila Seffi Wulandari Shobrina Silmi Qori Tartila Sinwanus Sinwanus Sinwanus Sinwanus, Sinwanus Siti Rolijjah Sukendi Sukendi Wandira, Barbie Yoppi Wasmen Manalu Wawan Wawan WIDANARNI WIDANARNI Y. Hadiroseyani Yasir Yasir Yetti Elfina Yofangka, Febbiyanti Yulindra, Ade Yurisman &#039; Yusni Ikhwan Siregar Zahra, Saskia Zamzamir, Ahmad