Claim Missing Document
Check
Articles

Profil Gejala Stres Kerja pada Para Pekerja Manufaktur Kimia Farhati, Ulfa Laela; Erwandi, Dadan
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 (up coming)
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v16i2.5843

Abstract

in process    
KAJIAN LITERATUR SISTEMATIS FAKTOR FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP BUDAYA KESELAMATAN DI INDUSTRI MANUFAKTUR TAHUN 2013-2022 Al-Ghiffari, Rijal Noor; Erwandi, Dadan
Journals of Ners Community Vol 13 No 2 (2022): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i2.1884

Abstract

Budaya keselamatan (safety culture) didefinisikan sebagai kumpulan karakteristik dan sikap dalam organisasi dan individu yang menetapkan bahwa, sebagai prioritas utama, isu keselamatan terjamin menjadi perhatian karena signifikansinya. Budaya keselamatan berkembang seiring dengan investigasi kecelekaan dan manufaktur menjadi salah satu industri yang menaruh perhatian pada hal ini, karena angka kecelakaan kerja yang masih cukup tinggi dan hasil investigasi dari banyak kecelakaan berkaitan dengan manusia, hal ini dapat direpresentasikan dalam budaya keselamatan. Banyak faktor yang mempengaruhi budaya keselamatan, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk meninjau faktor apa saja yang berpengaruh terhadap budaya keselamatan di industri manufaktur. Penelitian dilakukan dengan mengkaji literatur secara sistematis menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews & Meta Analyses (PRISMA). Total 12 referensi yang masuk dalam kriteria untuk menjadi acuan dalam kajian sistematis. Hasil telaah menunjukkan ada 8 faktor yang mempengaruhi budaya keselamatan, yaitu (1) kebijakan, komitmen, dan prosedur, (2) pendidikan, pelatihan, dan kompetensi, (3) lingkungan dan peralatan kerja, (4) persepsi dan sikap karyawan, (5) komunikasi dan partisipasi, (6) pengelolaan bahaya dan risiko, (7) sistem manajemen dan kepemimpinan, (8) karakteristik individu. Kedelapannnya memiliki pengaruh signifikan terhadap budaya keselamatan di industri manufaktur dimana faktor kebijakan, komitmen, dan prosedur dinilai sebagai faktor yang paling berpengaruh karena paling banyak disebutkan dalam literatur.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PREVALENSI STUNTING PADA ANAK USIA 5-12 TAHUN BERDASARKAN SKI 2023: FACTORS RELATED TO THE PREVALENCE OF STUNTING IN CHILDREN AGED 5-12 YEARS BASED ON SKI 2023 Krisnawati, Okta; Dadan Erwandi
Jurnal Online Dengan Open Journal System Vol 5 No 2 (2025): JMSWH
Publisher : Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/jmswh.v5i2.2167

Abstract

Stunting pada anak usia sekolah (5-12 tahun) merupakan masalah kesehatan global yang berdampak serius pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas hidup. Meskipun prevalensi stunting di Indonesia menunjukkan tren penurunan, angka tersebut masih jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan prevalensi stunting pada anak usia sekolah di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Metode Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan menganalisis data sekunder dari SKI 2023. Sampel terdiri dari 111.057 anak usia 5-12 tahun dan ibu mereka. Analisis statistik meliputi uji bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting. Prevalensi stunting pada anak usia 5-12 tahun adalah 11,09%, dengan proporsi lebih tinggi pada anak laki-laki (10,6%) dibandingkan perempuan (9,6%). Faktor yang signifikan terkait stunting meliputi usia anak (terutama 7-12 tahun), jenis kelamin laki-laki, pengetahuan ibu yang rendah, akses ke fasilitas kesehatan lebih dari 30 menit, biaya transportasi tidak terjangkau, tinggal di daerah perdesaan, pekerjaan ibu, dan tingkat kesejahteraan rendah. Sementara itu, kunjungan ke fasilitas kesehatan dan usia ibu tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Faktor usia anak, jenis kelamin, pengetahuan ibu, aksesibilitas layanan kesehatan, biaya transportasi, lokasi tempat tinggal, pekerjaan ibu, dan tingkat kesejahteraan merupakan determinan penting stunting pada anak usia sekolah. Intervensi multifaset yang mencakup peningkatan akses layanan kesehatan, edukasi gizi, dan peningkatan kesejahteraan keluarga diperlukan untuk mengurangi prevalensi stunting di Indonesia.
Analisis Faktor Psikososial yang Mempengaruhi Stres Kerja pada ASN di Balai Besar Pelatihan X Putra, Arie Januarius; Erwandi, Dadan
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v5i3.3255

Abstract

Stres kerja merupakan tantangan besar dalam kesehatan kerja yang berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, dan produktivitas pekerja. Aparatur Sipil Negara (ASN) menghadapi tuntutan kerja tinggi yang berpotensi menyebabkan stres, namun penelitian mengenai faktor psikososial yang mempengaruhinya masih terbatas di Indonesia. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor psikososial yang mempengaruhi terjadinya stres kerja di Balai Besar Pelatihan X. Penelitian ini merupakan penelitian inferensial dengan pendekatan cross sectional. Analisis data dilakukan dengan chi-square untuk menganalisis hubungan dua variable dan analisis regresi logistic untuk menganalisis faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi stres kerja. Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden yang mengalami stres sebanyak 48.7%, dengan 49.2% responden merasa memiliki tuntutan kerja yang tinggi, 55.8% memiliki kontrol pekerjaan yang rendah dan dukungan sosial yang rendah 68%. Hasil bivariat menunjukkan bahwa seluruh variable (tuntutan pekerjaan, kontrol pekerjaan dan dukungan sosial) berpengaruh secara signifikan terhadap terjadinya stres. Pada analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi stres kerja adalah tuntutan tinggi. Merujuk pada tingginya tingkat stres pekerja, maka perlu adanya wellness program yang dirancang guna mengurangi tingkat stres kerja. Peneliti selanjutnya dapat menguji coba model intervensi seperti wellness program tersebut.
Accident Analysis Using Case Studies of Finger Injuries at PT X Mining Company in 2020-2022 Prihatsono, Nurcahyo Kurniawan; Erwandi, Dadan
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 7, No 2 (2024): April, The Election and Political History
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v7i2.37110

Abstract

Mining activities are known as high-risk working environments and operational activities, they are categorized as one of the most dangerous activities in modern industry today. The mining industry ranks among the highest producers of injuries and lost working days. There are many types of injuries that contribute to this lost working days, finger injury is one of them. Fingers are reported to be one of the most injured body parts. This research carried out on a mining company in Indonesia, PT X, within a period of three years (2020-2022). Statistical analysis was performed to look for patterns of finger injury based on year of occurrence, classification, type, and source of injury, number of lost working days, type of employee, and business unit involved. There is an alarming upward trend in the number of finger injuries and lost working days resulting from them, although overall the number of injuries has decreased. This calls for immediate preventive measures to focus on finger injuries and focuses on changing worker behavior towards safe work behavior, applied to both permanent employees and contractor employees.
Literature Review: Risk Factors For Tuberculosis Incidence In Health Workers In Indonesia Abdi*, Desi Nur; Erwandi, Dadan
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 6, No 4 (2023): Educational, Historical Studies and Humanities
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v6i4.34609

Abstract

Tuberculosis (TB) is the 13th leading cause of mortality globally and is the second rank in terms of leading infectious killer after COVID-19 (surpassing HIV and AIDS). Indonesia holds the second-highest number of TB cases worldwide. Health workers are among the high-risk groups for TB infection. This studys objective is to determine the risk factors affecting tuberculosis occurrence among health workers in Indonesia. This research uses the literature review method and involves a thorough review of existing literature from 12 published journals. The literature review outcome underscores a significant correlation between Tuberculosis incidents among health workers and personal aspects, such as smoking habits. Conversely, no significant association was observed between individual factors like age, education, nutritional status, and employment factors such as duration and type of work.
Faktor Risiko Stres Kerja pada Perawat di Rumah Sakit Purwaningsih, Septia Tri; Erwandi, Dadan
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 3 (2025): Juli-September 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16341

Abstract

Nurses are at the forefront of healthcare, yet this profession is often perceived as challenging and stressful. Numerous studies have shown that working in nursing can cause stress, negatively impacting physical and mental health, as well as professional performance. The purpose of this study was to comprehensively identify risk factors for occupational stress in hospital nurses. This study is a systematic literature review. Literature was obtained from Scopus, PubMed, and Google Scholar using the keywords "work stress," "job stress," "occupational stress," "risk factors," "determinant," "nurses," and "nursing staff." Inclusion criteria included articles published between 2020 and 2025 and articles that matched the keywords. Exclusion criteria included articles that were not full text, not in Indonesian or English, not quantitative research, and not relevant to the research theme. The search yielded 462 articles, and then systematically selected seven relevant articles from Scopus, PubMed, and Google Scholar for synthesis. The study identified 21 risk factors for occupational stress in hospital nurses: workload, career development, management style, tenure, shift work, overtime, physical environment, death and dying, emotional preparedness, treatment uncertainty, conflict with physicians, problems with coworkers, problems with supervisors, problems with patients and families, dual role conflict, social support, education, gender, personality, age, and marital status. Furthermore, it was concluded that the risk factors for occupational stress in nurses are complex and vary widely. Therefore, hospitals should implement comprehensive stress management for nurses, involving various parties, such as hospital management, the medical team, and the nurses' families.Keywords: occupational stress; risk factors; nurses ABSTRAK Perawat merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan, namun profesi ini sering dipandang sulit dan penuh tekanan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bekerja di bidang keperawatan dapat menimbulkan stres yang berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental serta kinerja profesionalnya. Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi secara komprehensif faktor risiko stres kerja pada perawat di rumah sakit. Studi ini merupakan tinjauan literatur sistematis. Literatur diperoleh dari Scopus, PubMed, dan Google Scholar menggunakan kata kunci yaitu “work stress”, “job stress”, “occupational stress”, “risk factors”, “determinant”, “nurses”, dan “nursing staff”. Kriteria inklusi yang digunakan yaitu publikasi artikel tahun 2020-2025 dan artikel sesuai dengan kata kunci. Sedangkan kriteria ekslusi adalah artikel tidak full text, tidak berbahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, bukan penelitian kuantitatif, dan tidak sesuai dengan tema penelitian. Pencarian mendapatkan 462 artikel, lalu pemilihan secara sistematis mendapatkan 7 artikel yang relevan dari Scopus, PubMed, dan Google Scholar untuk disintesis. Hasil studi menemukan 21 faktor risiko stres kerja pada perawat di rumah sakit yaitu beban kerja, pengembangan karier, gaya manajemen, masa kerja, shift kerja, bekerja lembur, lingkungan fisik, kematian dan sekarat, kesiapan emosional, ketidakpastian pengobatan, konflik dengan dokter, masalah dengan rekan kerja, masalah dengan supervisor, masalah dengan pasien dan keluarga, konflik peran ganda, dukungan sosial, pendidikan, jenis kelamin, kepribadian, usia, dan status pernikahan. Selanjutnya disimpulkan bahwa faktor risiko stress kerja perawat sangat kompleks dan memiliki variasi yang sangat banyak. Oleh karena itu, sebaiknya rumah sakit menerapkan manajemen stres secara komprehensif pada perawat dengan melibatkan berbagai pihak seperti manajemen rumah sakit, tim medis, dan keluarga perawat.Kata kunci: stres kerja; faktor risiko; perawat
Analisis faktor psikososial terhadap tingkat distres pada karyawan PT XX Saputra, Riyan; Erwandi, Dadan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 5 (2025): Volume 19 Nomor 5
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i5.1160

Abstract

Background: Psychosocial risks and their impact on mental and physical health are among the most challenging issues in occupational safety and health. In addition to their negative impact on individual health, psychosocial risks can also negatively impact organizational efficiency and the national economy. XX Limited Liability Company is a company operating in the mining industry. Through a comprehensive, evidence-based approach, organizations can optimize employee performance while maintaining their health and safety, thereby driving sustained productivity and job satisfaction. Purpose: To identify psychosocial risk factors and analyze employee stress levels. Method: This research is a quantitative, descriptive cross-sectional study conducted on employees of the XX limited liability company in East Kalimantan from October to November 2024. Primary data were collected through a Likert-scale questionnaire in accordance with Ministerial Regulation No. 5/2018 to measure psychosocial factors, as well as through Focus Group Discussions (FGDs). The target sample size was 102 individuals, with representatives from various job levels. Data analysis was performed using SPSS with univariate analysis. Results: The average total scores for psychosocial factors were role ambiguity 8.64 (low risk), role conflict 9.88 (low risk), quantitative burden 10.35 (moderate risk), qualitative burden 12 (moderate risk), career development 10.31 (moderate risk), and responsibility towards others 16.33 (moderate risk). Conclusion: Psychosocial conditions or descriptions indicate a moderate level of risk, with responsibility towards others being the highest risk factor, and the majority of respondents experienced moderate distress. Suggestion: Companies can improve the positive assessment of qualitative burden by recalculating workload and workforce availability, and strengthening existing telecounseling programs.   Keywords: Employees; Psychosocial Factors; Work Distress.   Pendahuluan: Risiko psikososial dan dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik merupakan salah satu permasalahan paling menantang dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Selain dampak buruknya terhadap kesehatan individu, risiko psikososial juga dapat berdampak negatif terhadap efisiensi organisasi dan perekonomian nasional. PT XX merupakan perusahaan yang bergerak di Industri pertambangan. Melalui pendekatan yang komprehensif dan berbasis bukti, organisasi dapat mengoptimalkan kinerja karyawan sambil menjaga kesehatan dan keselamatan mereka, sehingga mendorong produktivitas dan kepuasan kerja yang berkelanjutan. Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor risiko psikososial dan menganalisis tingkat distres pada karyawan. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional), dilakukan pada karyawan PT. XX di Kalimantan Timur dari Oktober-November 2024. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert sesuai Permenaker No. 5/2018 untuk mengukur faktor psikososial, serta melalui Focus Group Discussion (FGD). Jumlah sampel yang ditargetkan adalah 102, dengan perwakilan dari berbagai tingkat jabatan. Analisis data akan dilakukan menggunakan SPSS dengan analisis univariat. Hasil: Rata-rata total skor faktor psikososial adalah ketidakjelasan peran 8.64 (low risk), konflik peran 9.88 (low risk), beban kuantitatif 10.35 (medium risk), beban kualitatif 12 (medium risk), pengembangan karir 10.31 (medium risk), dan tanggung jawab terhadap orang lain 16.33 (medium risk). Simpulan: Kondisi atau gambaran psikososial menunjukkan tingkat medium risk dan yang memiliki nilai dengan resiko tertinggi adalah tanggung jawab terhadap orang lain serta mayoritas responden mengalami distress tingkat sedang. Saran: Perusahaan dapat meningkatkan penilaian positif pada aspek beban kualitatif dengan menghitung kembali beban kerja dan ketersediaan man power serta memperkuat program telekonseling yang telah disediakan.   Kata Kunci: Distres Kerja; Faktor Psikososial; Karyawan.
Analisis Faktor Psikososial yang Mempengaruhi Stres Kerja pada ASN di Balai Besar Pelatihan X Putra, Arie Januarius; Erwandi, Dadan
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v5i3.3255

Abstract

Stres kerja merupakan tantangan besar dalam kesehatan kerja yang berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, dan produktivitas pekerja. Aparatur Sipil Negara (ASN) menghadapi tuntutan kerja tinggi yang berpotensi menyebabkan stres, namun penelitian mengenai faktor psikososial yang mempengaruhinya masih terbatas di Indonesia. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor psikososial yang mempengaruhi terjadinya stres kerja di Balai Besar Pelatihan X. Penelitian ini merupakan penelitian inferensial dengan pendekatan cross sectional. Analisis data dilakukan dengan chi-square untuk menganalisis hubungan dua variable dan analisis regresi logistic untuk menganalisis faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi stres kerja. Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden yang mengalami stres sebanyak 48.7%, dengan 49.2% responden merasa memiliki tuntutan kerja yang tinggi, 55.8% memiliki kontrol pekerjaan yang rendah dan dukungan sosial yang rendah 68%. Hasil bivariat menunjukkan bahwa seluruh variable (tuntutan pekerjaan, kontrol pekerjaan dan dukungan sosial) berpengaruh secara signifikan terhadap terjadinya stres. Pada analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi stres kerja adalah tuntutan tinggi. Merujuk pada tingginya tingkat stres pekerja, maka perlu adanya wellness program yang dirancang guna mengurangi tingkat stres kerja. Peneliti selanjutnya dapat menguji coba model intervensi seperti wellness program tersebut.
Promosi Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan Berpola Hidup Sehat pada Kelompok Senam Kurniawidjaja, L. Meily; Erwandi, Dadan; Pujiriani, Ike
Kesmas Vol. 7, No. 9
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendirian grup senam masyarakat perkotaan sering dipicu oleh ancaman penyakit jantung koroner dan stroke (penyakit kardiovaskular). Banyak diantara mereka masih berisiko tinggi penyakit kardiovaskular antara lain berat badan lebih dan kadar kolesterol tinggi serta faktor umur dan genetik, tetapi faktor risiko penyakit kardiovaskular dapat diturunkan dengan pola hidup sehat. Tujuan penelitian ini adalah menilai pengaruh metode promosi kesehatan dengan pendekatan siklus rekognisi, analisis, perencanaan, komunikasi, persiapan, implementasi, evaluasi, dan kelanjutan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik ibu-ibu pesenam tentang pola hidup sehat. Penelitian ini menggunakan pretest and posttest design untuk menilai hasil intervensi pada 60 orang berusia rata-rata 58,26 tahun dan hampir semua (93,33%) adalah perempuan pada dua kelompok senam di Kelurahan Pulogadung selama 10 bulan. Hasil penelitian memperlihatkan peningkatan nilai posttest (58%) pengetahuan peserta, peningkatan sikap dengan mau berbagi menu sehat dan mengisi alat pantau diri, serta peningkatan keterampilan berpola hidup sehat berupa menyusun menu sehat, bersenam minimal empat kali seminggu, tidur 7-8 jam perhari dan cukup istirahat. Selain itu, kelompok ini berhasil menyusun buku Masak Makanan Sehat. Disarankan kegiatan ini dapat diteruskan dengan penyajian dan diskusi makanan bijak secara berkala sekali dalam dua bulan dengan menggunakan dana yang terkumpul dari iuran sukarela. Urban exercise groups are often triggered by the perception of the severity and threat of coronary heart diseases and stroke (cardiovascular disease). But many of them are still high in cardiovascular disease risk i.e.overweight and high cholesterol. Cardiovascular disease risk factors can be reduced by healthy lifestyle. This study aimed to assess the effectiveness of recognition, analysis, planning, communication, preparation, implementation, evaluation and continuity health promotion strategy in enhancing the knowledge, attitude and practice of healthy lifestyle among the exercise group members. Pretest and posttest design was used to assess the effectiveness of 10 months intervention among 60 participants aged 58,26 (27-93) year old, most of them (93,33%) were ladies from two exercise groups in Kelurahan Pulogadung. The intervention improved the score of pre-posttest (58%), the willingness to share the healthy menu and to fill the healthy lifestyle self-monitoring form, and to practice healthy lifestyle e.g. cooking the prudent food, minimum 4 times a week exercise, 7-8 hours sleeping and enough leisure time. Additionally, this groups had successfully produced The Multiethnic Healthy Food Cooking book. It was concluded these health promotion model could enhance the healthy lifestyle of the exercise group members.
Co-Authors Abdi*, Desi Nur Abdul Kadir Abdul Kadir Abdul Kadir Abdul Kadir Abdul Kadir Ageng Priambudi Aima, Syahrifah Aji Utomo Putro Al-Ghiffari, Rijal Noor Andanari, Maura Wilona Andhika Stevianingrum Angelica Savitrie Joanna Anto Yamashita Saputra Saputra Arie Budianti Arief Hertanto Ayu Agustin Aziza Azka Hafia Cheryl Khairunnisa Miyanda Cicilia Ika Wulandari Dewi Gayatri Doni Lasut Eka Putri, Vahlufi Evi Martha Fadli Zuchri Fajarudin, Khairul Fakhrul Firdaus Farhati, Ulfa Laela Fatma Lestar Fatma Lestari Febry Arieffani Gavin Andre Irhandy Giovanni Astar Hadiyan Hadiyan Hafia, Azka halimatuzzahra halimatuzzahra Halimatuzzahra, Halimatuzzahra Hanny Handiyani Hening Pujasari Herbawani, Chahya Kharin I Gusti Bagus Wiksuana Ika Agustina Wahyuningtias Ika Agustina Wahyuningtias Ika Nopa Ika Nopa Ike Pujiriani Ike Pujiriani Ira Risnawati Simanjuntak Irhandy, Gavin Andre Jumiati Jumiati Kamto Kamto, Kamto Khairina, Rahma Laili Khairul Fajarudin Khairul Fajarudin Krisnawati, Okta L. Meily Kurniawidjaja Makhrus Shofi Malik, Anis Rohmana Melakasi, Devvy Chaesya Amni Mochammad Romli Muhammad Yuzar Virza Nico Linggi Pongmasangka Patmasari Patmasari Prihatsono, Nurcahyo Kurniawan Purwaningsih, Septia Tri Putra, Arie Januarius Putro, Aji Rahma Laili Khairina Rani Sulastri Resnawati Rijal Noor Al-Ghiffari Riyan Saputra, Riyan Rizany, Ichsan Rully Rudianto Rysha Dwi Septerini Sabarinah Prasetyo Sari, Puti Intan Siti Fatimah Sjahrul Meizar Nasri Sutrani Rachmawati Tarninda, Andi Amirul Utama, Alfian Wahyu Wahyu Dwi Astuti Wahyuningtias, Ika