Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

BUDAYA PANTANG MAKANAN PADA IBU MENYUSUI DI WILAYAH HAMBUKU BARU KEC. BABIRIK KAB. HULU SUNGAI UTARA Noveni, Anastasia; Maulana, Erdi; Hadianor, Hadianor; Hasanuddin, Hasanuddin; Saputra, M Yudi; Ilmi, Bahrul
Midwifery And Complementary Care Vol 4 No 1 (2025): Midwifery and Complementary Care
Publisher : LPPM Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/mcc.v4i1.848

Abstract

Background: Myths or hereditary beliefs about food taboos for breastfeeding mothers are still widely found in society. In the Banjar Tribe, there are also food taboos for breastfeeding mothers, namely not being allowed to eat snakehead fish and karawila vegetables (oyong), so that it can reduce the mother's nutritional intake which will affect the mother's health and milk production. Objective:. Food restrictions for breastfeeding mothers are not allowed to eat toman fish and karawila vegetables (oyong). This study aims to understand the practice of food restrictions among breastfeeding mothers in Hambuku Baru Village, Babirik District, North Hulu Sungai Regency. Methods: The method used is qualitative research, data collection through in-depth interviews and observations with purposive sampling of five breastfeeding mothers who practice the culture of food restrictions. Result: The results showed that the prohibition of toman fish and karawila vegetables (oyong) is based on hereditary traditions aimed at maintaining the health of mother and child. so this practice has a negative impact on the nutritional fulfillment of breastfeeding mothers, breast milk quality, and child's weight development. Cultural factors and access to health services influence mothers' decisions to follow the restrictions Conclusion: This research provides insights on the importance of educating the public regarding nutrition for breastfeeding mothers without ignoring local cultural sensitivities. Keywords: Food Restriction, Breastfeeding Mothers, Cultural Traditions.
KARAKTERISASI TERMOGRAVIMETRI DAN METRIK MUTU BAHAN BAKAR BRIKET BATOK KELAPA–KAYU TEMBESU Adi, Wily Priya; Intang, Ambo; Ilmi, Bahrul; Junita, Boni; Rusnadi, Rusnadi
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35449/teknika.v12i2.390

Abstract

Briket bioenergi dari batok kelapa dan kayu tembesu dikarakterisasi untuk memandu pemilihan komposisi pada aplikasi konversi termokimia. Analisis proksimat (kadar air, zat terbang, abu, fixed carbon) dan ultimat (C–H–N) dilakukan mengikuti ASTM D7582 dan ASTM D5373. Termogravimetri (TGA) melengkapi dengan memetakan tahapan kehilangan massa dan residu abu. Pada lima komposisi (90:10 hingga 10:90, batok:tembesu, interval antar komposisi adalah perubahan 20% untuk setiap komponen), kenaikan tembesu secara sistematis menurunkan kadar karbon (68 - 57 wt%) dan fixed carbon (60 - 49 wt%) serta sedikit menaikkan hidrogen (4,2 - 5,5 wt%). Kurva TGA menunjukkan pengeringan awal di bawah ~400 K, devolatilisasi dan reaksi arang dominan pada ~600–1000 K, serta residu stabil yang setara 3 – 3,5 wt% abu. Campuran 90:10 memberikan metrik mutu paling unggul, mengindikasikan densitas energi dan hasil arang yang lebih baik dibanding campuran dengan tembesu lebih tinggi. Hasil ini memberi dasar empiris untuk pemilihan bahan bakar dan penetapan set-point reaktor (jendela pengeringan/devolatilisasi) pada gasifier skala kecil dan combustor unggun tetap. Kata kunci : briket, batok kelapa, kayu tembesu, karakterisasi, mutu bahan bakar.
BINDER‑DRIVEN TRADE‑OFFS PADA BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA: KERANGKA ISOKONVERSI TERMOGRAVIMETRI DENGAN PATI TAPIOKA (15–20 WT%) Hasyemi, A. Ghalib; Intang, Ambo; Ilmi, Bahrul; Junita, Boni; Rusnadi, Rusnadi
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35449/teknika.v12i2.392

Abstract

Pemilihan perekat pada briket arang mengendalikan integritas mekanik sekaligus perilaku termokimia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh variasi perekat pati tapioka (15 dan 20 wt%) terhadap perilaku dekomposisi termokimia briket arang tempurung kelapa. Briket dievaluasi menggunakan pencatatan kehilangan massa terhadap waktu serta analisis turunan sesuai praktik termogravimetri (TG/DTG). Profil pemanasan non‑linier menuntut perbandingan berbasis waktu dan derajat konversi: metrik yang dihitung mencakup α(t), laju incremental dα/dt, metrik waktu menuju konversi tα​ (α=0,10–0,90), serta residu akhir. Hasil menunjukkan konversi lebih dini dan lebih cepat pada beberapa tahap untuk perekat 20% (mis., t0.1​: 62,05 menit vs 101,35 menit; t0.9​: 220,10 vs 245,57 menit), dengan puncak DTG sekitar t≈200 menit. Namun, residu meningkat tajam dari ~5,85% (15%) menjadi ~17,80% (20%), yang mengindikasikan pembentukan arang dan/atau re‑polimerisasi tar yang lebih kuat. Studi ini turut mengartikulasikan kerangka pelaporan agar dataset multi‑β (≥3 laju pemanasan linier) berikutnya dapat menghasilkan energi aktivasi isokonversi Ea​(α) melalui FWO/KAS. Secara praktis, kisaran perekat menengah (≈10–15%) tampil sebagai titik awal rasional untuk menyeimbangkan kekuatan, kinetika konversi, dan residu. Studi ini memperkaya sains formulasi briket dengan metrik reprodusibel berdimensi‑nol dan translasi rekayasa yang jelas ke desain reaktor dan kendali mutu. Kata kunci : arang tempurung kelapa, pati tapioca, briket, termogravimetri, energi aktivasi
Implementasi (Input, Proses dan Output) JKN-KIS pada Pelayanan Kesehatan di Faskes Tik.1 Puskesmas Alalak Tengah Riza, Yeni; Mahmudah, Mahmudah; Ernadi, Erwin; Ilmi, Bahrul
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 3 No. 3 (2020): September 2020
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.343 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v3i3.1145

Abstract

Angka cakupan kepesertaan masyarakat dalam program Jaminan Kesehatan Nasional dan Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di Kalimantan Selatan (Kalsel) termasuk menjadi salah satu yang masih belum optimal di Indonesia. Berdasarkan laporan bulan September 2019 Puskesmas Alalak Tengah merupakan Puskesmas yang memiliki cakupan JKN-KIS terendah yaitu 10.209 peserta, jika dibandingkan dengan Puskesmas yang ada di wilayah Banjarmasin utara lainnya. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui implementasi JKN-KIS pada Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Alalak Tengah Tahun 2019. Metode penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan dengan pengambilan sampel secara purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 6 orang. Instrumen yang digunakan berupa panduan wawancara dan observasi dengan fokus penelitian meliputi input, proses, dan output. Hasil penelitian pada aspek input diperoleh informasi bahwa pengetahuan petugas memiliki pengatahuan tentang program, tidak ada dana khusus untuk kegiatan sosialisasi JKN KIS, kunjungan dari BPJS dilakukan rutin perbulan, fasilitas kesehatan untuk peserta JKN KIS sesuai dengan jenis penyakit yang bisa dilayani ditingkat FKTP, ketersediaan obat sebagai material dalam pelayanan peserta JKN terkendali karna merupakan dropping dari APBD. Pada aspek Proses, strategi yang dilakukan dalam meningkatkan implementasi peserta JKN KIS mengikuti sistem akreditasi Puskesmas, koordinasi petugas dalam hal menjalan program sudah cukup lihai ungkap infoman kunci. Aspek berikutnya yaitu Output, dimana implementasi kepesertaan JKN KIS untuk di wilayah kerja Puskesmas Alalak Tengah sudah lebih dari diatas 80% kepesertaannya, namun masih rendah jika dibanding dengan Puskesmas lain yang ada di wilayah Banjarmasin Utara,  kendala yang ditemukan adalah adanya sebagian masyarakat mendaftar diluar wilayah kerjanya.