Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

KAJIAN DETOKSIFIKASI ASAM SIANIDA PADA KETELA POHON (Manihot esculenta Crantz) MELALUI PEMETIKAN PUCUK BATANG T.G. Belawa Yadnya; A.A.A.S. Trisnadewi
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 7 No 1 (2017): Pastura Vol. 7 No. 1 Tahun 2017
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.364 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2017.v07.i01.p04

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengatahui pengaruh pemetikan pucuk batang terhadap detoksifikasi asam sianida pada ketela pohon. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu ketela pohon tanpa dipetik pucuk batang (A), ketela pohon dipetik pucuk batang setiap 2 minggu (B), ketela pohon dipetik pucuk batang setiap 3 minggu (C), dan ketela pohon dipetik pucuk batang setiap 4 minggu. Variabel yang diamati kadar HCN pada daun, isi umbi dan kulit, dan kadar pati pada daun, isi umbi dan kulit ubi ketela pohon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemetikan setiap 2, 3, dan 4 minggu terjadi penurunan kadar HCN secara nyata (P<0,05). Hal yang sama juga terjadi penurunan kadar pati pada pemetikan pucuk batang setiap 2 dan 3 minggu secara nyata (P<0,05), sedangkan pada pemetikan setiap 4 minggu tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan ketela pohon yang tidak dipetik pucuk batangnya (kontrol). Dari hasil penetian dapat disimpulkan bahwa pemetikan pucuk batang dapat menurunkan kadar asam sianida dan menurunkan kadar pati, kecuali pada pemetikan setiap 4 minggu tidak berpengaruh terhadap kadar pati ketela pohon. Kata kunci: detoksifikasi asam sianida, kadar HCN, kadar pati, ketela pohon.
PLASMA NUTFAH BABI BALI MUTIARA YANG TERPENDAM I Wayan Suarna; N.n. Suryani; A.A. A.S. Trisnadewi
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 15 No 2 (2015)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Millennium Development Goals has been mandated to always strived to reduce therate of loss of biodiversity as a very valuable genetic resources. Bali swine germplasmwhose condition is increasingly threatened by the inclusion of various types of pigs thathave the ability to produce more meat. Last post five years, Bali’s pig population in theprovince of Bali continued to decline and reached until 30 percent (243 310 head) of allpigs in Bali (817 489 head). Of the pig population in Bali as much as 53 percent in Buleleng.Bali pig role in socio-cultural activities and opportunities to explore the culinary marketrequires no effort to increase productivity in a sustainable pig Bali. Various strategicapproach to the development and preservation of pig Bali described in this paper as aneffort to accelerate the achievement of the millennium development.
The Effect of Zingiber Officinale Rosc in The Diets of Performance in Culled Layer Ducks Tjokorda Gede Belawa Yadnya; Ni Made Suci Sukmawati; A.A.A. Sri Trisnadewi; A.A. Putu Putra Wibawa
Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak (JITEK) Vol. 5 No. 2 (2010)
Publisher : Faculty of Animal Science Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.608 KB)

Abstract

The experiment was design using a completely randomized block design (CRBD) with four treatments. Treatment were diets without Zingiber officinale rosc (A), diets contain 2,91% Zingiber officinale Rosc  (B), diets contain 5,66%. Zingiber officinale Rosc (C), and diets contain 8,26% Zingiber officinale Rosc (D). Each treatment with five replicates, and each replicate consist four culled layer ducks. Variable observed were feed conversation ratio, carcass physical composition, and meat quality. It was concluded that present  Zingiber officinale Rosc in the diets could be improved of performance in culled layer ducks.   Keywords : Zingiber officinale Rosc, Culled layer ducks, and  meat qualit
PERTUMBUHAN DAN HASIL Stylosanthes guyanensis cv CIAT 184 PADA TANAH ENTISOL DAN INCEPTISOL YANG DIBERIKAN PUPUK ORGANIK KASCING N. N., Candraasih Kusumawati; A. A. A. S., Trisnadewi; N. W., Siti
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 17 No 2 (2014): Vol 17, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.87 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2014.v17.i02.p02

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk organik kascing dan dosis optimalnya pada tanah Entisol dan Inceptisol terhadap pertumbuhan dan hasil hijauan Stylosanthes guyanensis cv CIAT 184. Penelitian dilakukan di Stasiun Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Udayana Jl. Raya Sesetan 122 Denpasar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah jenis tanah Entisol (T1) dan Inceptisol (T2). Faktor kedua adalah pupuk organik kascing yang terdiri dari 6 (enam) taraf dosis yaitu 0 ton/ha, 5 ton/ha, 10 ton/ha, 20 ton/ha dan 25 ton/ha. Sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan dan masing-masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk organik kascing tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada semua variabel pertumbuhan kecuali tinggi tanaman. Pada variabel hasil hijauan, pupuk organik kascing berpengaruh nyata (P<0,05) pada berat kering daun, berat kering tanaman di atas tanah, dan nisbah berat berat kering tanaman di atas tanah dengan akar. Jenis tanah tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap semua variabel baik variabel pertumbuhan maupun hasil hijauan, tetapi jenis tanah Inceptisol cenderung lebih baik daripada Entisol. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan dosis pupuk organik kascing dengan jenis tanah terhadap semua variabel baik variabel pertumbuhan maupun hasil hijauan Stylosanthes guyanensis cv CIAT 184. Disimpulkan bahwa pengaruh jenis tanah Inceptisol cenderung lebih baik daripada tanah Entisol. Dosis pupuk organik kascing 15 ton/ha dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil hijauan Stylosanthes guyanensis cv CIAT 184 lebih baik daripada perlakuan lainnya. Dosis optimal pupuk hasil hijauan pada tanah Inceptisol adalah 33,67 g/pot (13,47 ton/ha) dan pada tanah Entisol 37,57 g/pot (15,03 ton/ha), masing-masing dengan hasil hijauan maksimal 42,95 g/pot dan 41,75 g/pot.
KAJIAN PEMANFAATAN KULIT UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L) TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI DAN NUTRISI RANSUM DAN EFISIENSI PENGGUNAAN RANSUM PADA ITIK BALI UMUR 22 MINGGU T. G., Belawa Yadnya; I. B., Gaga Partama; A. A. A. S., Trisnadewi; I. W., Wirawan
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 18 No 1 (2015): Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.668 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2015.v18.i01.p04

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan kulit ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) terfermentasi dalam ransum terhadap konsumsi ransun dan nutrisi dan efisoensi penggunaan ransum pada itik Bali, umur 22 minggu. Menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan yang terdiri atas ransum A (ransum tanpa mengandung ubi jalar ungu), ransum B mengandung 10% kulit ubi jalar ungu, ransum C mengandung 10% kulit ubi jalar ungu terfermentasi, ransum D mengandung 20% kulit ubi jalar ungu, dan ransum E mengandung 20% kulit ubi jalar ungu terfermentasi. Setiap perlakuan terdiri atas empat ulangan dan setiap ungan terdiri atas lima ekor itik. Variabel yang diamati meliputi konsumsi ransum, konsumsi protein serat kasar dan antosianin dan kapasitas antioksidan ransum, serta efisiensi penggunaan ransum. Hasi penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum B, C, D dan E mengkonsumsi ransum, protein dan serat kasar yang lebih rendah (P<0,05), dan dapat meningkatkan konsumsi antosianin dan kapasitas antioksidan ransum (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan A. Pemberian kulit ubi jalar ungu fermentasi atau tanpa fermentasi dalam ransum dapat meningkatkan pertambahan bobot badan (P<0,05), sedangkan pada FCR terjadi penurunan secara nyata (0,05) dibandingkan dengan pemberian perlakuan A.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian kulit ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) dapat mengurangi konsumsi ransu, protein dan serat kasar serta dapat meningkatkan efisiensi penggunaan ransum.
KANDUNGAN NUTRISI SILASE JERAMI JAGUNG MELALUI FERMENTASI POLLARD DAN MOLASES A. A. A. S., Trisnadewi; Cakra, I G. L. O.; Suarna, I W.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 20 No 2 (2017): Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.335 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2017.v20.i02.p03

Abstract

Kendala utama penggunaan jerami jagung sebagai pakan adalah kandungan protein yang rendah dan tinggi seratkasar sehingga perlu diberi perlakuan untuk meningkatkan nilai nutrisinya. Tujuan penelitian adalah menentukanformulasi silase jerami jagung terbaik dengan menggunakan pollard dan molases terhadap kandungan nutrisisilase. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan masing-masingperlakuan diulang empat kali, sehingga terdapat 24 unit percobaan. Keempat perlakuan tersebut adalah A = 100%jerami jagung + 20% pollard + 0% molases; B = 100% jerami jagung + 10% pollard + 10% molases; C = 100%jerami jagung + 0% pollard + 20% molases; D = 100% jerami jagung + 10% pollard + 0% molases; E = 100%jerami jagung + 5% pollard + 5% molases; dan F = 100% jerami jagung + 10% pollard + 0% molases. Peubah yangdiamati dalam penelitian ini adalah kandungan bahan kering (BK), bahan organik (BO), energi, serat kasar (SK),protein kasar (PK), abu, bahan ektrak tanpa nitrogen (BETN), dan total digestible nutrient (TDN) Hasil penelitianmenunjukkan bahwa silase jerami jagung pada perlakuan A yaitu silase jerami jagung dengan suplementasi 20%pollard menunjukkan kualitas nutrisi yang paling baik dibandingkan perlakuan lainnya. Kata kunci: jerami jagung, silase, kandungan nutrisi