Claim Missing Document
Check
Articles

Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Jenis Rumput Lokal Pada Berbagai Panjang Defoliasi Muhammady A.N.; A. A. A. S Trisnadewi; I G. Suranjaya
Jurnal Peternakan Tropika Vol 6 No 3 (2018)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.666 KB)

Abstract

This study aims to obtain information about the influence of the length of defoliation on growth and grass production. The study was carried out in the green house of the Faculty of Animal Science, Udayana University for 10 weeks. The design used was a completely randomized design (CRD) pattern of split plot, main plot / species of grass and sub plot / sub plot long defoliation with replications four times so that there were 48 experimental units. The grass used is three species of local grass were Axonopuss compressus, Stenotaphrum sucundatum and Paspalum conjugatum. With treatment D1 = 5 cm defoliation treatment, D2 = 10 cm defoliation, D3 = 15 cm defoliation and D4 = 20 cm defoliation. The variables observed were plant length, number of leaves, number of tillers, leaf dry weight, stem dry weight, root dry weight, total dry weight of leaves, ratio of leaf dry weight to stem dry weight, ratio of total forage dry weight to root dry weight and broad leaves per pot. The results showed that plant species were significantly different in plant length variables, number of tillers, leaf dry weight, stem dry weight, total dry weight of forage and leaf area. The results of the defoliation length were significantly different in the plant length variable, number of leaves and dry weight of the stem. Based on the results of the study it can be concluded that D4 defoliation = 20 cm tends to give a positive response and Paspalum conjugatum grass gives the highest growth and production response and there is no interaction between the length of defoliation and the type of grass. Key words: local grass, defoliation, growth, production
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI HIJAUAN Stylosanthes guianensis PADA BERBAGAI LEVEL APLIKASI PUPUK Bio-Slurry Susanti N P.R.N.; A.A.A.S Trisnadewi; N M. Witariadi
Jurnal Peternakan Tropika Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.212 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk bio-slurry terhadap pertumbuhan dan produksi hijauan Stylosanthes guianensis. Penelitian dilaksanakan selama 10 minggu di Stasiun Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Udayana di Desa Pengotan, Kabupaten Bangli. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat perlakuan yaitu : tanpa pupuk (S0), 5 ton/ha (S5), 10 ton/ha (S10), dan 15 ton/ha (S15).  dan empat blok sebagai ulangan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang), variabel produksi (berat kering daun, berat kering batang dan berat kering total hjauan), dan variabel karakteristik tumbuh (luas daun per tanaman, nisbah berat kering daun dengan berat kering batang). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk bio-slurry 5 ton/ha (S5), 10 ton/ha (S10), dan 15 ton/ha (S15) tidak berpengaruh terhadap variabel pertumbuhan, variabel produksi, dan variabel karakteristik. Pemberian perlakuan 5 ton/ha (S5) memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi Stylosanthes guianensis dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
PERTUMBUHAN DAN HASILRUMPUT Panicum maximum YANG DITANAM BERSAMA LEGUM Alysicarpusvaginalis DENGAN DOSIS PUPUK ORGANIK BERBEDA Al Fattah R. F.; A. A. A. S Trisnadewi; I W. Suarna
Jurnal Peternakan Tropika Vol 7 No 3 (2019): Issue 7 No. 3 - 2019
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ejpt.2019.v07.i03.p08

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil rumput Panicum maximum yang ditanam bersama legum Alysicarpus vaginalis dengan dosis pupuk organik (pupuk kotoran kambing) berbeda. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Stasiun Penelitian Sesetan Fakultas Peternakan Universitas Udayana dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola tersarang. Pola pertama adalah campuran tanaman rumput dan legum yang meliputi 1 rumput + 1 legum (C1), 1 rumput + 2 legum (C2), 1 rumput + 3 legum (C3) dan pola kedua adalah dosis pupuk yaitu 0 ton/ha (K0), 15 ton/ha (K15), 30 ton/ha (K30). Hasil penelitian menunjukkan penanaman campuran antara rumput Panicum maximum dan legum Alysicarpus vaginalis tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap variabel pertumbuhan dan hasil rumput kecuali pada berat kering total hijauan. Pemberian pupuk organik pada dosis 30 ton/ha memberikan hasil yang lebih baik pada variabel pertumbuhan dan hasil rumput namun pada tinggi tanaman K15 lebih baik. Kesimpulan hasil penelitian adalah Penanaman 1 rumput + 2 legum (C2) cenderung memberikan pertumbuhan dan hasil rumput Panicum maximum yang lebih tinggi danpemberian pupuk kotoran kambing dengan dosis tertinggi 30 ton/ha mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil rumput Panicum maximum. Kata kunci:penanaman campuran, Panicum maximum, Alysicarpus vaginalis, pupuk organik
APLIKASI BEBERAPA JENIS SLURRY BIOGAS PADA BERBAGAI LEVEL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL HIJAUAN Indigofera zollingeriana Wirawan I K.; N. N. C. Kusumawati; A. A. A. S. Trisnadewi
Jurnal Peternakan Tropika Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.504 KB)

Abstract

Organic fertilizer is required to improve the growth and yield of Indigofera zollingeriana. One could be used is biogas slurry which is excess product of biogas. The experiment aims to find out growth and yield of Indigofera zollingeriana leguminose given different kinds and level of slurry. The experiment carried out for 10 weeks at Laboratory Greenhouse of Feed Plant, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University. Experiment design was used completely randomize design (CRD) factorial pattern with two factors. The first factor was sources of slurry: which were cattle slurry (S), pig slurry (B), and cattle bio-slurry (P), the second factor was level of slurry: without slurry (0 ton/ha) (D0), 10 ton/ha (D10), 20 ton/ha (D20), and 30 ton/ha (D30). There were combination of 12 treatments and each of combination was repeated four times, so there were 48 pots study. Variabeles observed were growth, yield, and growth characteristic. Results of the study showed that cattle bio-slurry gave the highest growth, yield, and growth characteristics compare with cattle and pig slurry. Indigofera zollingeriana which were given 10 ton/ha (D10) resulted in thegive the highest growth, yield, and growth characteristics compare with 0 ton/ha (D10), 20 ton/ha (D20), and 30 ton/ha (D30). There was no interaction between the type and level of fertilizer against growth and forage yield. It was concluded that cattle bio-slurry of 10 ton/ha (D10) geve the best growth and yield of Indigofera zollingeriana and there was no interaction between kinds and level of slurry. Keywords: slurry, level of biogas slurry, Indigofera zollingeriana, growth, yield
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEMBANG TELANG (Clitoria ternatea) YANG DIBERI BERBAGAI JENIS DAN DOSIS PUPUK ORGANIK Sutresnawan IW.; Kusumawati NN.C; Trisnadewi A.A.A.S
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 3 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.986 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi kembang telang (Clitoria ternatea) yang diberikan berbagai jenis dan dosis pupuk organik. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Tumbuhan Pakan Fakultas Peternakan Universitas Udayana selama 2 bulan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis pupuk organik (ayam, limbah biogas, dan sapi) dan faktor kedua adalah dosis pupuk ( 0, 10, 20, dan 30 ton/ha), sehingga terdapat 12 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak empat (4) kali sehingga terdapat 48 unit perobaan. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara jenis dengan dosis pupuk pada seluruh variabel yang diuji. Jenis pupuk organik ayam dan limbah biogas menghasilkan pertumbuhan, produksi, dan karakteristik kembang telang yang lebih baik dibandingkan dengan pupuk organik sapi. Dosis pupuk organik 20 ton/ha menghasilkan pertumbuhan, produksi, dan karakteristik kembang telang yang optimal.
PLASMA NUTFAH BABI BALI MUTIARA YANG TERPENDAM I Wayan Suarna; N.n. Suryani; A.A. A.S. Trisnadewi
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 15 No 2 (2015)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Millennium Development Goals has been mandated to always strived to reduce therate of loss of biodiversity as a very valuable genetic resources. Bali swine germplasmwhose condition is increasingly threatened by the inclusion of various types of pigs thathave the ability to produce more meat. Last post five years, Bali’s pig population in theprovince of Bali continued to decline and reached until 30 percent (243 310 head) of allpigs in Bali (817 489 head). Of the pig population in Bali as much as 53 percent in Buleleng.Bali pig role in socio-cultural activities and opportunities to explore the culinary marketrequires no effort to increase productivity in a sustainable pig Bali. Various strategicapproach to the development and preservation of pig Bali described in this paper as aneffort to accelerate the achievement of the millennium development.
The Effect of Zingiber Officinale Rosc in The Diets of Performance in Culled Layer Ducks Tjokorda Gede Belawa Yadnya; Ni Made Suci Sukmawati; A.A.A. Sri Trisnadewi; A.A. Putu Putra Wibawa
Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak (JITEK) Vol. 5 No. 2 (2010)
Publisher : Faculty of Animal Science Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.608 KB)

Abstract

The experiment was design using a completely randomized block design (CRBD) with four treatments. Treatment were diets without Zingiber officinale rosc (A), diets contain 2,91% Zingiber officinale Rosc  (B), diets contain 5,66%. Zingiber officinale Rosc (C), and diets contain 8,26% Zingiber officinale Rosc (D). Each treatment with five replicates, and each replicate consist four culled layer ducks. Variable observed were feed conversation ratio, carcass physical composition, and meat quality. It was concluded that present  Zingiber officinale Rosc in the diets could be improved of performance in culled layer ducks.   Keywords : Zingiber officinale Rosc, Culled layer ducks, and  meat qualit
PERTUMBUHAN DAN HASIL Stylosanthes guyanensis cv CIAT 184 PADA TANAH ENTISOL DAN INCEPTISOL YANG DIBERIKAN PUPUK ORGANIK KASCING N. N., Candraasih Kusumawati; A. A. A. S., Trisnadewi; N. W., Siti
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 17 No 2 (2014): Vol 17, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.87 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2014.v17.i02.p02

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk organik kascing dan dosis optimalnya pada tanah Entisol dan Inceptisol terhadap pertumbuhan dan hasil hijauan Stylosanthes guyanensis cv CIAT 184. Penelitian dilakukan di Stasiun Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Udayana Jl. Raya Sesetan 122 Denpasar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah jenis tanah Entisol (T1) dan Inceptisol (T2). Faktor kedua adalah pupuk organik kascing yang terdiri dari 6 (enam) taraf dosis yaitu 0 ton/ha, 5 ton/ha, 10 ton/ha, 20 ton/ha dan 25 ton/ha. Sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan dan masing-masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk organik kascing tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada semua variabel pertumbuhan kecuali tinggi tanaman. Pada variabel hasil hijauan, pupuk organik kascing berpengaruh nyata (P<0,05) pada berat kering daun, berat kering tanaman di atas tanah, dan nisbah berat berat kering tanaman di atas tanah dengan akar. Jenis tanah tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap semua variabel baik variabel pertumbuhan maupun hasil hijauan, tetapi jenis tanah Inceptisol cenderung lebih baik daripada Entisol. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan dosis pupuk organik kascing dengan jenis tanah terhadap semua variabel baik variabel pertumbuhan maupun hasil hijauan Stylosanthes guyanensis cv CIAT 184. Disimpulkan bahwa pengaruh jenis tanah Inceptisol cenderung lebih baik daripada tanah Entisol. Dosis pupuk organik kascing 15 ton/ha dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil hijauan Stylosanthes guyanensis cv CIAT 184 lebih baik daripada perlakuan lainnya. Dosis optimal pupuk hasil hijauan pada tanah Inceptisol adalah 33,67 g/pot (13,47 ton/ha) dan pada tanah Entisol 37,57 g/pot (15,03 ton/ha), masing-masing dengan hasil hijauan maksimal 42,95 g/pot dan 41,75 g/pot.
KAJIAN PEMANFAATAN KULIT UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L) TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI DAN NUTRISI RANSUM DAN EFISIENSI PENGGUNAAN RANSUM PADA ITIK BALI UMUR 22 MINGGU T. G., Belawa Yadnya; I. B., Gaga Partama; A. A. A. S., Trisnadewi; I. W., Wirawan
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 18 No 1 (2015): Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.668 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2015.v18.i01.p04

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan kulit ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) terfermentasi dalam ransum terhadap konsumsi ransun dan nutrisi dan efisoensi penggunaan ransum pada itik Bali, umur 22 minggu. Menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan yang terdiri atas ransum A (ransum tanpa mengandung ubi jalar ungu), ransum B mengandung 10% kulit ubi jalar ungu, ransum C mengandung 10% kulit ubi jalar ungu terfermentasi, ransum D mengandung 20% kulit ubi jalar ungu, dan ransum E mengandung 20% kulit ubi jalar ungu terfermentasi. Setiap perlakuan terdiri atas empat ulangan dan setiap ungan terdiri atas lima ekor itik. Variabel yang diamati meliputi konsumsi ransum, konsumsi protein serat kasar dan antosianin dan kapasitas antioksidan ransum, serta efisiensi penggunaan ransum. Hasi penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum B, C, D dan E mengkonsumsi ransum, protein dan serat kasar yang lebih rendah (P<0,05), dan dapat meningkatkan konsumsi antosianin dan kapasitas antioksidan ransum (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan A. Pemberian kulit ubi jalar ungu fermentasi atau tanpa fermentasi dalam ransum dapat meningkatkan pertambahan bobot badan (P<0,05), sedangkan pada FCR terjadi penurunan secara nyata (0,05) dibandingkan dengan pemberian perlakuan A.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian kulit ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) dapat mengurangi konsumsi ransu, protein dan serat kasar serta dapat meningkatkan efisiensi penggunaan ransum.
KANDUNGAN NUTRISI SILASE JERAMI JAGUNG MELALUI FERMENTASI POLLARD DAN MOLASES A. A. A. S., Trisnadewi; Cakra, I G. L. O.; Suarna, I W.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 20 No 2 (2017): Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.335 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2017.v20.i02.p03

Abstract

Kendala utama penggunaan jerami jagung sebagai pakan adalah kandungan protein yang rendah dan tinggi seratkasar sehingga perlu diberi perlakuan untuk meningkatkan nilai nutrisinya. Tujuan penelitian adalah menentukanformulasi silase jerami jagung terbaik dengan menggunakan pollard dan molases terhadap kandungan nutrisisilase. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan masing-masingperlakuan diulang empat kali, sehingga terdapat 24 unit percobaan. Keempat perlakuan tersebut adalah A = 100%jerami jagung + 20% pollard + 0% molases; B = 100% jerami jagung + 10% pollard + 10% molases; C = 100%jerami jagung + 0% pollard + 20% molases; D = 100% jerami jagung + 10% pollard + 0% molases; E = 100%jerami jagung + 5% pollard + 5% molases; dan F = 100% jerami jagung + 10% pollard + 0% molases. Peubah yangdiamati dalam penelitian ini adalah kandungan bahan kering (BK), bahan organik (BO), energi, serat kasar (SK),protein kasar (PK), abu, bahan ektrak tanpa nitrogen (BETN), dan total digestible nutrient (TDN) Hasil penelitianmenunjukkan bahwa silase jerami jagung pada perlakuan A yaitu silase jerami jagung dengan suplementasi 20%pollard menunjukkan kualitas nutrisi yang paling baik dibandingkan perlakuan lainnya. Kata kunci: jerami jagung, silase, kandungan nutrisi