Mokhamad Fakhrul Ulum, Mokhamad
Departemen Klinik Reproduksi Dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

Published : 52 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

ULTRASONOGRAPHY OF THE EXTERNAL REPRODUCTIVE ORGANS IN TOM Mokhamad Fakhrul Ulum; Anizza Dyah Kartika Maharani; Rizal Eko Kurniawan; Arlita Sariningrum; Dilla Frastantie; Erwin Erwin; Ligaya ITA Tumbelaka; Deni Noviana
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 11, No 3 (2017): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.338 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v11i3.5700

Abstract

This study aims to delineate the tissue structure of male cat external reproductive organs using ultrasound with different types of consoles and transducers frequencies through indirect method. External organ of 5 tom weighing 2-3 kg was evaluated using ultrasound with stationary console (linear transducer, 10 MHz) and portable console (linear transducer, 6.5 MHz), transcutaneously. The results showed that both console and transducer could not visualize the structure of organs sized less than 10 mm through direct method. However, the indirect method using stationary console with a 10 MHz transducer enable to visualize the organ and depicts clearly the internal organ structure such as penis and its parts, scrotum and its constituent layers, caput and cauda of epididymis, and testicles. Furthermore, portable console with 6.5 MHz transducer was still able to provide an adequate image of those organs. In general, fibrous tissues such as tunica vaginalis, tunica Dartos, funiculusspermaticus, and urethra were visible in ultrasonogram as hyperechoic structures, while soft tissues such as the parts of testicles and penis were visible as hypoechoic structures. Tissue containing fluid such as urethral lumen was visible as anechoic structure. In conclusion, indirect ultrasound imaging method was sufficient to visualize the organs sized less than 10 mm using 3-15 MHz transducer in which was currently widely used in animal health care clinics.
BRIGHTNESS-MODE EKOKARDIOGRAFI DOMBA JAWA JANTAN EKOR TIPIS Mokhamad Fakhrul Ulum; Nur Fitri Utami; Nindya Dwi Utami; Deni Noviana
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.386 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2838

Abstract

Penelitian ini bertujuan mencitrakan jantung domba jawa ekor tipis (DET) secara ekokardiografi. Domba ekor tipis jantan sebanyak lima ekor dengan berat 14-16 kg berumur 10-12 bulan digunakan dalam penelitian ini. Domba dipegang dan dibaringkan pada meja khusus tanpa sedasi ataupun pembiusan. Organ jantung domba dicitrakan menggunakan ultrasonografi brightness-mode (B-mode). Transduser cembung dengan frekuensi 2,5-4 MHz digunakan untuk mencitrakan jantung pada posisi right parasternal (RPS) view dan left parasternal (LPS) viewdengan posisi long axis (LAx) dan short axis (SAx). Hasil pencitraan ekokardiografi menunjukkan bahwa bagian-bagian dari organ jantung yang tersusun atas cairan terkesan anechoic, sedangkan bagian yang tersusun atas jaringan lunak terkesan hypoechoic dengan derajat ekogenisitas yang bervariasi. Bagian-bagian struktur jantung dapat dibedakan menurut ruang jantung atrium kanan, ventrikel kanan, atrium kiri dan ventrikel kiri. Bagian-bagian jantung yang dapat dicitrakan seperti septa jantung, otot papilaris, katup jantung semilunaris, katup jantung mitralis, katup jantung trikuspidalis, pembuluh darah vena paru-paru dan aorta. Ekokardiografi B-mode pada organ jantung domba jawa ekor tipis dapat mencitrakan dengan baik struktur ruang, otot, katup dan pembuluh darah besar dengan derajat ekogenisitas yang bervariasi.
PENGARUH IMPLANTASI POROUS TANTALUM BERLAPIS HIDROKSIAPATIT TERHADAP GAMBARAN DARAH MERAH TIKUS SPRAGUE DAWLEY Budianto Panjaitan; Gunanti G; Deni Noviana; Mokhamad Fakhrul Ulum; Irza Sukmana
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.218 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i2.2650

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran darah merah pada tikus yang diimplan porous tantalum berlapis hidroksiapatit. Dalam penelitian ini digunakan 12 ekor tikus jantan, galur Sprague Dawley, umur ±3 bulan yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok kontrol tanpa implant (K1), kelompok implan porous tantalum (K2), dan kelompok implan porous tantalum berlapis hidroksiapatit (K3). Pengambilan darah dilakukan melalui vena pada ekor di hari ke-0 sebelum pemasangan implan, ke-14, dan ke-30 setelah pemasangan implan. Pengamatan data parameter darah merah meliputi jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin (Hb), dan persentase hematokrit. Hasil perhitungan jumlah sel darah merah, kadar Hb, dan hematokrit menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) pada masing-masing kelompok perlakuan kecuali jumlah sel darah merah pada kelompok tikus yang yang diimplan dengan porous tantalum tanpa lapis meningkat pada hari ke-30 dan menunjukkan perbedaan dibandingkan kelompok lainnya (P
Innovative Barn Cattle for Microclimate Management through the Misting System koekoeh santoso; Rani Audona; komariah komariah; Kudang Boro Seminar; Mokhamad Fakhrul Ulum
Buletin Peternakan Vol 47, No 4 (2023): BULETIN PETERNAKAN VOL. 47 (4) NOVEMBER 2023
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v47i4.79464

Abstract

Cattle is meat-producing livestock of the large ruminant. The environmental conditions must remain in the thermoneutral zone because this affects livestock productivity. An environmental modification related to microclimate management is required through a misting system using a water sprinkler. The study was conducted in one of the barns of the Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Maju Bersama livestock group in Drokilo Village, Kedungadem District, Bojonegoro Regency, East Java. The purpose of this study was to analyze the microclimate management of the barn through the misting system in order to improve the physiological response of cattle. The variables observed were the air temperature, air humidity, Temperature Humidity Index (THI), respiratory frequency, heart rate, rectal temperature, and body surface temperature. Body surface temperatures were measured on the face, back, and rump. The analytical method used in this was unpaired T-test five replications. The results showed that the average microclimate data for barn cattle were: air temperature 27.40±0.59°C, air humidity 83.92±1.55%, and Temperature Humidity Index (THI) 79.59±1.06. The results showed that the average physiological response data for cattle were: heart rate 47.02±2.29 beats per minute, respiration rate 16.94±1.26 beats per minute, and rectal temperature 38.65±0.27°C. The results showed that the average body surface temperature data for the face was 37.03±0.38°C, the back was 36.33±0.59°C, and the rump was 36.28±0.68°C. The results showed that the treatment before and after the morning measurement water misting was significantly different (p<0.05) in all the observed variables. Water misting has the effect on decreasing the air temperature, humidity, Temperature Humidity Index (THI), respiratory rate, heart rate, body temperature, and rectal temperature.
Sifat bioavailabilitas implan intravaginal berbahan kitosan-PEG-PCL dalam simulasi cairan vagina dan vagina sapi Yessa, Elma Yuliani; Wientarsih, Ietje; Purwantara, Bambang; Amrozi, Amrozi; Ulum, Mokhamad Fakhrul
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 3 (2023): ARSHI Veterinary Letters - August 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.3.57-58

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengevaluasi bioavailabilitas implan intravaginal yang terbuat dari poli-ymer kitosan-polietilen glikol (PEG)-polikaprolakton (PCL) yang dapat terbiodegradasi dalam cairan simulasi vagina (SVF) dan vagina sapi. Implan dibuat menggunakan teknik peleburan dan pencetakan dengan 26 formulasi berbeda. Selanjutnya implan direndam dalam 40 mL SVF pada suhu 37,8℃ dan diamati perubahan morfologi implan setiap hari hingga hari ke 5. Implan yang bertahan hingga hari kelima diuji ketersediaannya lebih lanjut pada vagina sapi dan diamati setiap hari selama 2 minggu. Uji perendaman pada hasil SVF menunjukkan bahwa implan dengan kandungan PEG 75-85% lebih cepat meleleh dibandingkan implan dengan kandungan PEG 20-72%. Implan yang mengandung 1-10% PCL terkikis lebih cepat di SVF dibandingkan implan yang mengandung 22-80% PCL. Implan yang mengandung kitosan dapat tetap stabil di SVF lebih lama dibandingkan implan tanpa kitosan. Uji bioavailabilitas pada vagina sapi menunjukkan bahwa implan 21-23 bertahan hingga hari ke 10, sedangkan implan 24-26 dikeluarkan dari vagina sapi selama pengujian. Implan 21-23 merupakan formulasi yang menjanjikan untuk pengembangan implan intravaginal yang dapat terbiodegradasi. Dengan menyesuaikan komposisi kitosan (antara 14-18 berat%), PEG (maksimum 72 berat%), dan PCL (minimal 20 berat%), implan intravaginal mampu meningkatkan ketersediaan hayati cairan vagina dan vagina yang disimulasikan. ternak
ESTIMASI SKOR MARBLING DAN LEMAK INTRAMUSKULAR SAPI BALI DAN SAPI SUMBA ONGOLE MENGGUNAKAN PROGRAM IMAGEJ PADA CITRA ULTRASONOGRAFI: Estimates of Marbling Score and Intramuscular Fat of Bali Cattle and Sumba Ongole Cattle Using ImageJ Program on Ultrasound Image Ulum, Mokhamad Fakhrul; Prisetiadi, Alif; Pamungkas, Fitra Aji; Jakaria, Jakaria
Wahana Peternakan Vol. 8 No. 2 (2024): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v8i2.1448

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan skor marbling dan lemak intramuskular menggunakan program ImageJ pada citra ultrasonografi sapi Bali dan Sumba Ongole. Dua belas ekor sapi betina dibagi menjadi dua kelompok, yaitu enam ekor sapi Bali umur dua tahun dan enam ekor sapi Sumba Ongole umur 3 sampai 4 tahun. Parameter diukur sebagai persentase lemak intramuskular dan skor marmer. Pengukuran kualitas karkas dilakukan dengan pencitraan ultrasonografi pada otot longissimus dorsi. Data dianalisis dengan ImageJ kemudian dianalisis dengan regresi untuk mengetahui persamaan yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan R2 sebesar 92,06% yang berarti model regresi dapat digunakan sebagai analisis yang akurat. Skor marbling sapi Bali 1,51-1,53, dan sapi Sumba Ongole 2,06-2,28. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh ras dan umur. Lemak intramuskular meningkat ketika skor marbling meningkat. Kesimpulannya, software ImageJ dengan metode pencitraan USG dapat digunakan untuk memperkirakan skor marbling dan lemak intramuskular sapi Bali dan sapi Sumba Ongole, dengan region of interest yang digunakan pada ImageJ adalah 30 mm x 30 mm.   Kata kunci: sapi Bali, sapi Sumba Ongole, citra ultrasonografi, skor marbling, lemak intramuskuler
Analysis of Estrous Status in Beef Cows Through Ferning Tests, Vaginal Swabs, and Vulvar Morphology Appearance Tampubolon, Andre Rymma; Suprayogi, Agik; Ulum, Mokhamad Fakhrul
Jurnal Ilmu Dan Teknologi Peternakan Indonesia (JITPI) Indonesian Journal of Animal Science and Technology) Vol 10 No 1 (2024): Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia (JITPI) Indonesian Journal of Ani
Publisher : Faculty of Animal Husbandry, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jitpi.v10i1.198

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status birahi induk sapi potong melalui uji ferning, evaluasi profil sel epitel vagina, dan tampilan fisik vulva pada sapi potong. Penelitian ini menggunakan 11 ekor sapi potong yang dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok pertama 3 ekor untuk uji prosedur standar dan kelompok kedua 8 ekor untuk penilaian lapangan. Parameter yang digunakan dalam uji ferning adalah munculnya kristal mirip pakis dari air liur; metode usap vagina memberikan perbedaan sel yang ada dalam satu siklus estrus, dan tampilan fisik pada vulva berupa pembengkakan, kemerahan, dan lendir pada area vulva. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa sapi potong yang berahi menunjukkan bentuk kristal berupa pola seperti pakis pada uji ferning, pembengkakan dan kemerahan pada vulva, serta sel superfisial mendominasi pada profil sitologi vagina. Metode yang digunakan bersifat saling melengkapi dalam menilai status berahi pada sapi.
Evaluasi Kinerja Pertumbuhan Sapi Silangan Belgian Blue dan Peranakan Ongole Jakaria Jakaria; Edwar Edwar; Mokhamad Fakhrul Ulum; Rudy Priyanto
Jurnal Agripet Vol 19, No 2 (2019): Volume 19, No. 2, Oktober 2019
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v19i2.15022

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kinerja pertumbuhan sapi persilangan Belgian Blue (BB) dan sapi Peranakan Ongole (PO) pada turunan pertama (F1). Sapi persilangan (BB dan PO) yang digunakan sebanyak 15 ekor terdiri atas jantan 6 ekor dan betina 9 ekor, selain itu digunakan 8 ekor sapi PO betina yang dipelihara di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang Bogor. Peubah yang diamati adalah bobot lahir (BW), bobot sapih (WW) 205 hari, bobot 1 tahun (YW), pertambahan bobot badan harian dari lahir (GBW) sampai sapih (GWW) dan pertambahan bobot badan harian dari sapih (GWW) sampai umur 1 tahun (GYW). Data dianalisis secara deskriptif dan perbedaan antar sapi silangan (BB-PO) dengan sapi PO dilakukan uji t. Hasil analisis bobot badan dan pertumbuhan menunjukkan bahwa, bobot badan sapi silangan BB dan PO lebih tinggi dibandingkan dengan sapi PO pada WW 205 hari (165,221,3 kg dan 11515,2 kg), YW (365 hari) (240,728,1 kg dan 194,926,1 kg) dan GBW sampai GWW (0,6750,097 kg dan 0,4410,059 kg). BW dan GWW sampai GYW tidak berbeda antara sapi silangan BB-PO dengan PO. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program cross-breeding sapi BB dengan PO dapat meningkatkan kinerja bobot badan dan pertumbuhan.(Growth performance evaluation of belgian blue and ongole crossbreed)ABSTRACT. The purpose of this study was to evaluate the growth performance of cross-breeding of Belgian Blue (BB) and Ongole Grade (PO) cattle in the first generation (F1). Crossbred of BB and PO cattle used as many as 15 individuals consisting of 6 males and 9 females, also, 8 individual PO females are used which are kept in the Livestock Embryo Center (BET) Cipelang, Bogor. The observed variables were birth weight (BW), weaning weight (WW) 205 days, 1-year weight (YW) 365 days, daily body weight gain from birth (GBW) to weaning (GWW) and daily body weight gain from weaning (GWW) until the age of 1 year (GYW). Data were analyzed descriptively and the difference between cross-breeding (BB-PO) cattle and PO cattle was analyzed by t-test. The results of body weight and growth analysis showed that crossbred BB and PO cattle were higher than PO cattle at WW 205 days (165.2 21.3 kg and 115 15.2 kg), YW (365 days) (240.7 28.1 kg and 194.9 26.1 kg ) and GBW to GWW (0.675 0.097 kg and 0.441 0.059 kg). BW and GWW to GYW do not differ between crossbred BB-PO and PO cattle. The results of this study indicate that the cross-breeding program for BB cattle with PO cattle breeds can improve the performance of body weight and growth.
The potential of biodegradable polymers: Chitosan, polyethylene glycol, and polycaprolactone as materials for progesterone intravaginal devices Elma Yuliani Yessa; Ietje Wientarsih; Mokhamad Fakhrul Ulum; Bambang Purwantara; Amrozi Amrozi
Livestock and Animal Research Vol 22, No 1 (2024): Livestock and Animal Research
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/lar.v22i1.72985

Abstract

For several decades, a protocol based on the use of progestagens has been used to manage livestock reproduction with minimal alterations. Recently, researchers have gained insight into the short-term use of progestagen protocols lasting 5-7 days, which has been found to reduce the incidence of vaginitis and obviate the use of antibiotics. Additionally, this approach enables the reutilization of silicone-based devices such as CIDRs after a thorough biosecurity assessment. However, these devices have certain limitations. At the end of the treatment, they must be disposed of and cannot be reused, necessitating a re-evaluation of their use for technical and societal reasons, including animal health and welfare, food safety, and environmental impact.A chitosan-PEG intravaginal implant formulation released progesterone for a period of four days, corresponding to the degradation time of the implant in the vagina. The use of a simple melting and molding process for the combination of PCL-PEG-chitosan implants has been observed to result in degradation of both simulated vaginal fluid and vaginal tissue of cows. The development of intravaginal devices made from biodegradable polymers is considered a potential solution because these materials would degrade within the body, eliminating the need for removal and leaving no residue. These devices are safe for animals and the environment.
COMPARATIVE ANALYSIS OF PROBING AND CONTRAST RADIOGRAPHY FOR GENDER DETERMINATION IN RETICULATED PYTHONS (Malayopython reticulatus) Tan, Zhi Yien; Poetri, Okti Nadia; Ulum, Mokhamad Fakhrul
BIOTROPIA Vol. 31 No. 3 (2024): BIOTROPIA Vol. 31 No. 3 December 2024
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11598/btb.2024.31.3.2278

Abstract

Article Highlights- Accurate gender identification supports effective breeding programs and ensures snakes' welfare.- This study emphasizes that probing is more reliable and efficient than contrast radiography for gender determination in reticulated pythons.- The probing method proved to have 100% accuracy in determining the gender of reticulated pythons, outperforming contrast radiography, which only achieved 75% accuracy. AbstractReticulated pythons, like most snakes, do not exhibit noticeable sexual differences, which makes gender determination necessary. Probing and contrast radiography were chosen as methods to determine sex and to compare their accuracy. Six reticulated pythons with body lengths of 128-167 cm, tail lengths of 5.4-9.6 cm, and body diameters of 1.4-3.4 cm were examined twice by probing and contrast radiography. The results showed that probing had 100% accuracy, with probe lengths ranging from 1.37-3.60 cm for male snakes and 0.3-0.76 cm for female snakes. Contrast radiography had 75% accuracy, with the hemipenis appearing as a white silhouette and female snakes appearing colorless. The accuracy rates highlight the effectiveness of probing over contrast radiography for reliable gender determination in reticulated pythons
Co-Authors . Aryogi . Nsereko A.S. Satyaningtijas Agik Suprayogi Alahmad , Ali Omar Amin Wahyudiono Amira Putri Pertiwi Amira Putri Pertiwi Amrozi Andhika Yudha Prawira Andi Baso Lompengeng Ishak Anizza Dyah Kartika Maharani Anizza Dyah Kartika Maharani Annang Dwijatmiko Arlita Sariningrum Arlita Sariningrum Bambang Purwantara Bong Ai Yin Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan budianto panjaitan Cece Sumantri Chairun Nisa’ Cristovao , Adelaide Jose Pereira Cristovao, Adelaide Jose Pereira Dairoh Dairoh Dairoh Dairoh Dairoh Dairoh, Dairoh Damiana Rita Ekastuti Dedi Rahmat Dedi Rahmat Setiadi Deni Noviana Desi Khairunissa Rahayuningtyas Devi Paramitha Devi Paramitha Devi Paramitha Dhenok Maria Ulva Dian Vidiastuti Didik N Hadi Dilla Frastantie Dwi Utari Rahmiati EDWAR EDWAR Edwar Edwar Ekayanti Mulyawati Kaiin Elma Yuliani Yessa Erwin Erwin Erwin Erwin Fathan Abdul Aziz Fathul Bari Fatri Alhadi Fitra Aji Pamungkas frastantie, Dilla Fuadi Zulkipli Ghossani, Muhammad Nico Gunanti . Hamdan Ubaidillah Hammada Raudlowi Hariono HERA MAHESHWARI I Gusti Ngurah Sudisma Ietje Wientarsih IETJE WIENTARSIH Intan Citraningputri Irza Sukmana Irza Sukmana, Irza Isdoni Bustaman Ishak, Andi Baso Lompengeng Jakaria Jakaria koekoeh santoso komariah komariah Kudang Boro Seminar Kuntum Rahmawati Kurniawan, Rizal Eko Laily Purnamasari Lena Indraswari Maharani, Anizza Dyah Kartika Maryani Maryani Muchidin Noordin Muhammad Piter Kombo Muhammad Piter Kombo Muhammad Risman Wahid Nena Hilmia Ni Made Paramita Setyani Ni Wayan Kurniani Karja Niluh Selly Frantika Nindya Dwi Utami Nindya Dwi Utami Nindya Dwi Utami, Nindya Nur Fitri Utami Nur Fitri Utami Nur Fitri Utami Nurul Aeni Ayu Lestari Nurul Aeni Ayu Lestari Nurul Aeni Ayu Lestari Okti Nadia Poetri Prastya Idihastuti Prisetiadi, Alif Pudji Achmadi Rangga Setiawan Rani Audona Rantan Krisnan Ridi Arif Riki Siswandi Rini Widyastuti Rivangga Yuda Hendika Rizal Eko Kurniawan Rudy Priyanto RVS, Veni Sari Yanti Hayanti Sariningrum, Arlita Savitri Novelina Siti Sa’diah Siti Zaenab Sri Estuningsih Srihadi Agungpriyono Surya Kusuma Wijaya Sutikno Sutikno Syifa Khairunnisa Tampubolon, Andre Rymma Tan, Zhi Yien Tarigan, Ronald Tobing, Agung S. P. Lumban Wasmen Manalu Wijaya , Surya Kusuma Winda Rahmania Winni Liani Daulay Yessa, Elma Yuliani Yudi Fikri Zora, Nelda Fliza Zultinur Muttaqin