Claim Missing Document
Check
Articles

Kontaminasi Mikroplastik Pada Ikan Bandeng (Chanos chanos) Dari Muara Sungai Banjir Kanal Timur, Semarang Clara Vania; Ali Ridlo; Bambang Yulianto
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.49646

Abstract

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari fragmentasi plastik makro akibat proses degradasi fisik, kimia, dan biologis. Paparan mikroplastik pada ikan dapat menyebabkan gangguan fisiologis serta berpotensi menimbulkan risiko bioakumulasi dalam rantai makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kontaminasi mikroplastik pada ikan bandeng (Chanos chanos) yang diperoleh dari Muara Sungai Banjir Kanal Timur, Semarang, dengan menganalisis jumlah, bentuk, ukuran, dan warna mikroplastik yang ditemukan. Analisis dilakukan melalui ekstraksi dan identifikasi mikroplastik yang terakumulasi dalam saluran pencernaan dan insang ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik terdeteksi di seluruh sampel ikan, dengan konsentrasi lebih tinggi pada saluran pencernaan (89,22 partikel/individu) dibandingkan insang (71,11 partikel/individu). Bentuk mikroplastik yang dominan adalah fragmen, diikuti oleh fiber, pelet, dan film, dengan variasi warna meliputi hitam, merah, cokelat, biru, hijau, kuning, oranye, ungu, putih, dan transparan. Temuan ini mengindikasikan tingginya tingkat paparan mikroplastik pada ikan bandeng yang berasal dari perairan yang tercemar, yang berpotensi memengaruhi kesehatan biota perairan serta menimbulkan risiko transfer mikroplastik ke manusia melalui konsumsi ikan Microplastics are plastic particles smaller than 5 mm, resulting from macroplastic fragmentation due to physical, chemical, and biological degradation. Exposure to microplastics in fish can cause physiological disturbances and pose a potential bioaccumulation risk in the food chain. This study aims to examine microplastic contamination in milkfish (Chanos chanos) obtained from the estuary of the Banjir Kanal Timur River, Semarang, by analyzing the quantity, shape, size, and color of microplastics present. Microplastics were extracted and identified from the fish’s digestive tract and gills. The results showed that microplastics were detected in all fish samples, with higher concentrations in the digestive tract (89.22 particles/individual) than in the gills (71.11 particles/individual). The dominant microplastic forms were fragments, followed by fibers, pellets, and films, with color variations including black, red, brown, blue, green, yellow, orange, purple, white, and transparent. These findings indicate a high level of microplastic exposure in milkfish from a contaminated estuary, which may impact aquatic biota health and pose a potential risk of microplastic transfer to humans through fish consumption.
Penambahan Plasticizer Sorbitol terhadap Karakteristik Bioplastik dari Limbah Dekaragenan Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty ex P. C. Silva, 1966 Esayani Rosadi; Ali Ridlo; Sunaryo Sunaryo
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.40654

Abstract

Kekhawatiran terhadap sumber daya yang tidak dapat diperbaharui menyebabkan pemanfaatan sumber daya alam terbarukan dan mudah terurai (biodegradable) sebagai bahan baku pembuatan bioplastik menjadi solusi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi sorbitol terhadap sifat fisik, mekanik (kuat tarik dan elongasi) dan biodegradabilitas bioplastik limbah dekaragenan Kappaphycus alvarezii, meliputi: kuat tarik, elongasi, ketebalan, ketahanan air, keburaman, laju transmisi uap air dan biodegradasi. Penelitian menggunakan metode ekperimental laboratoris dan dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas 5 konsentrasi sorbitol yang berbeda, yaitu: A(0%), B(3%), C(6%), D(9%) dan E(12%) dengan 3 kali ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis varians dan apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Tukey. Bioplastik dibuat dengan mencampurkan 50 gram limbah dekaragenan K. alvarezii dan 100 mL akuades dipanaskan selama 30 menit suhu 700C, kemudian ditambahkan sorbitol dengan konsentrasi yang berbeda-beda (0, 3, 6, 9, dan 12%). Campuran limbah K. alvarezii dan sorbitol dengan konsentrasi yang berbeda kemudian dilarutkan dengan 100 mL akuades dan dipanaskan selama 30 menit dengan suhu 700C menggunakan hot plate magnetic stirrer. Bioplastik kemudian dituang pada cetakan dan dikeringkan di oven pada suhu 600C selama 12 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi sorbitol yang berbeda berpengaruh sangat  nyata terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik (p<0,01). Bioplastik terbaik terdapat pada penambahan konsentrasi sorbitol 3% dengan kuat tarik sebesar 2,92±0,04 N/mm2, elongasi 19,43±0,94%, ketebalan 208,33±6,43µm, ketahanan air 87,52±0,01%, keburaman 27,08±0,33%, laju transmisi uap air  0,0031±0,0001 g/mm2/hari dan tingkat biodegradasi sebesar 93,42±0,01% per hari.Concerns about non-renewable resources have led to the use of renewable and biodegradable natural resources as raw materials for bioplastics production as an alternative solution. This research aims to determine the effect of sorbitol concentration on the physical, mechanical properties of Kappaphycus alvarezii decarrageenan waste bioplastics, including: tensile strength, elongation, thickness, water resistance, opacity, water vapor transmission rate and biodegradation. The research used experimental laboratories method and was designed using a Completely Randomized Design (CRD), consisting of 5 differences sorbitol concentrations, namely: A(0%), B(3%), C(6%), D(9%) and E(12%) with 3 replications. Data were analyzed using one way anova, furthermore, a Tukey test was carried out if there were significant differences between the treatments. Bioplastics were made by mixing 50 grams of K. alvarezii decarrageenan waste and 100 mL of distilled water heated for 30 minutes at 70°C, then adding sorbitol with different concentrations (0, 3, 6, 9, and 12%).The mixture of K. alvarezii waste and sorbitol with different concentrations was then dissolved in 100 mL of distilled water and heated for 30 minutes at 70°C using a magnetic stirrer hot plate. The bioplastic is then poured into the mold and dried in the oven at 60°C for 12 hours. The results showed that different concentrations of sorbitol had a very significant effect on the physical and mechanical properties of bioplastics (p<0.01). The best bioplastic is found with the addition of 3% sorbitol concentration with a tensile strength of 2.92 ± 0.04 N/mm2, elongation of 19.43 ± 0.94%, thickness of 208.33 ± 6.43 µm, water resistance of 87.52 ± 0 .01%, opacity 27.08±0.33%, water vapor transmission rate 0.0031±0.0001 g/mm2/day and biodegradation rate 93.42±0.01% per day.  
Analisis Kadar Pb dan Cu pada Kerang Hijau Budidaya di Tambak Lorok serta Analisis Risiko Kesehatan Konsumsi untuk Manusia Nada Salsabila; Jusup Suprijanto; Ali Ridlo
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.38865

Abstract

Kota Semarang termasuk wilayah di Jawa Tengah yang memiliki aktivitas industri yang padat dan meningkat setiap tahun, aktivitas ini menyebabkan pencemaran oleh logam berat semakin meningkat. Tambak Lorok termasuk kedalam wilayah Kota Semarang yang dikelilingi oleh aktivitas industri dan sebagai wilayah untuk melakukan budidaya kerang hijau. Kerang hijau adalah komoditas makanan laut yang diminati oleh masyarakat karena mempunyai kandungan gizi serta bernilai ekonomis yang tinggi. Kerang hijau hasil budidaya dari Tambak Lorok diketahui mengandung logam berat dan tidak layak untuk dimakan oleh manusia. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui kadar timbal dan tembaga yang terakumulasi pada kerang hijau hasil panen budidaya dari Tambak Lorok dan mengetahui jumlah aman konsumsi kerang hijau berdasarkan analisis risiko kesehatan lingkungan. Metode yang dilakukan pada penelitian yaitu menggunakan metode ICP-OES dan perhitungan analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL). Logam berat yang terkandung dalam sampel yang diambil berdasarkan hasil penelitian yaitu untuk kadar logam berat timbal pada stasiun 1 dan 2 untuk kerang hijau yang berukuran kecil dan berukuran besar yaitu < 0,04 mg/kg sedangkan kadar tembaga stasiun 1 untuk kerang ukuran kecil yaitu 2,35 mg/kg, ukuran besar yaitu 2,85 mg/kg sementara stasiun 2 kerang ukuran kecil memiliki kadar 2,07 mg/kg, kerang ukuran besar yaitu 2,51 mg/kg. Jumlah aman konsumsi kerang berdasarkan perhitungan rata-rata berat badan orang dewasa 58 kg jumlah aman konsumsi kerang ukuran kecil yaitu 0,54 mg/kg/hari sedangkan kerang ukuran besar yaitu 0,45 mg/kg/hari. Semarang City is a region in Central Java which has dense and increasing industrial activity every year, this activity causes pollution by heavy metals to increase. Tambak Lorok are the areas in Semarang City that are near and surrounded by industrial activities and as an area for cultivating green mussels. Green mussels are a seafood commodity that is in high demand by the public because of its health nutritional and high economic value. Green mussels cultivated from Tambak Lorok are known to contain heavy metals and are unhealthy for consumption. Therefore this study aims to know the contents of heavy metals found in green mussels cultivated from Tambak Lorok and determine the safe amount of green mussels consumption based on an analysis of environmental health risks. The method of this research is used the ICP-OES method and the calculation of Environmental Health Risk Analysis (ARKL). The research results showed that the heavy metal lead content at stations 1 and 2 for small and large green mussels was <0.04 mg/kg while the heavy metal content of copper at station 1 for small shells was 2.35 mg/kg, for large shells was 2.85 mg/kg and station 2 small shells is 2.07 mg/kg, large shells are 2.51 mg/kg. The safe amount of shellfish consumption is based on the calculation of an average adult body weight of 58 kg. The safe amount of small green mussels consumption is 0,54 mg/kg/day while that of large green mussels is 0,45 mg/kg/day.  
Karakteristik Edible Straw dari Karagenan Setelah Penambahan Sorbitol Nadiah Humairoh Mufidah Savitri; Sri Sedjati; Ali Ridlo
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.39637

Abstract

: Pemakaian sedotan plastik tidak hanya mencemari lingkungan namun juga dapat menyebabkan kematian pada hewan laut. Pemecahan masalah sedotan plastik telah dilakukan dengan mengganti bahan sedotan agar mudah terurai atau dapat dimakan (edible). Bahan yang telah digunakan untuk membuat edible straw misalnya karagenan yang diekstraksi dari rumput laut. Karagenan yang diekstraksi dari rumput laut Kappaphycus alvarezii paling banyak diproduksi dibandingkan jenis rumput laut lainnya. Kappa karagenan merupakan jenis karagenan hasil ekstraksi K. alvarezii dengan tingkat kemurnian tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan plasticizer sorbitol terhadap karakteristik edible straw yang meliputi kuat tarik, kelarutan, dan ketebalan. Metode penelitian mengacu pada eksperimental laboratoris dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 kelompok perlakuan yaitu sorbitol 0% (ESS0), sorbitol 2% (ESS2), sorbitol 4% (ESS4), dan sorbitol 6% (ESS6). Konsentrasi karagenan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 1,5% pada setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan sorbitol, maka kuat tarik semakin rendah namun kelarutan dan ketebalan meningkat. Formulasi terbaik didapatkan pada penambahan sorbitol 2% (ESS2) dengan kuat tarik 6,364 Mpa, kelarutan 41%, dan ketebalan 749,6 µm.
Monitoring Konsentrasi Timbal pada Kerang Hijau (Perna viridis) Budidaya Di Perairan Tambak Lorok Rhima Rismiyati Rachman; Subagiyo Subagiyo; Ali Ridlo
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.40045

Abstract

Tambak Lorok termasuk perairan yang dikelilingi dengan banyak aktifitas manusia seperti industri, pemukiman, pelabuhan, serta dijadikan sebagai lokasi untuk melakukan budidaya kerang hijau. Kegiatan tersebut menghasilkan limbah padat, gas, dan cair yang diduga menjadi sumberpencemaran logam berat di perairan. Budidaya kerang hijau di Tambak Lorok menggunakan metode bagan dan bambu tancap dengan spat yang dibiarkan menempel alami. Kerang hijau hasil budidaya di Perairan Tambak Lorok banyak diminati oleh masyarakat karena harganya murah dan memiliki konsentrasi gizi yang tinggi. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui kondisi budidaya dan mengevaluasi kerang hijau hasil budidaya di Tambak Lorok berdasarkan konsentrasi timbal. Uji konsentrasi timbal dilakukan menggunakan alat AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) dan analisis secara deskriptif. Hasil analisis menunjukkan pola sebaran kerang hijau merata dengan kepadatan yang tinggi. Konsentrasi timbal dalam kerang hijau berdasarkan hasil penelitian yaitu kurang dari 0,340 mg/kg. Nilai ini berada dibawah nilai – nilai pada tahun sebelumnya. Tambak Lorok includes waters surrounded by many human activities such as industry, settlements, ports, as well as being used as a location for cultivating green mussels. These activities produce solid, gas and liquid waste which are suspected to be the source of heavy metal pollution in the waters. Cultivating green mussels in Tambak Lorok uses the bagan method and sticking bamboo with spat which is left to stick naturally. Green mussels cultivated in Tambak Lorok waters are in great demand by the public because they are cheap and have a high concentration of nutrients. This study aims to determine the conditions of cultivation and evaluate green mussels cultivated in Tambak Lorok based on lead concentrations. Lead concentration test was carried out using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) and descriptive analysis. The results of the analysis show that the green mussel distribution pattern is evenly distributed with high density. Based on research results, the concentration of lead in green mussels is less than 0.340 mg/kg. This value is below the values in the previous year.
Natural Pigment Screening: Comparative Analysis of Chlorophyll and Carotenoid Content and Antioxidant Potential in Various Seaweed Species Sedjati, Sri; Setyati, Wilis Ari; Ridlo, Ali; Sari, Intan Swastika; Rahmawati, Tiara
Jurnal Kelautan Tropis Vol 29, No 1 (2026): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The present study aimed to evaluate the levels of chlorophyll and carotenoids, as well as the antioxidant potential of various seaweed species collected from the waters of Kartini Beach, Jepara, Central Java, Indonesia. Nine seaweed samples were extracted using methanol, and the pigment content was determined using spectrophotometric analysis. The antioxidant activity of the extracts was assessed using the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) radical scavenging assay. The findings indicated that the green seaweed Caulerpa serrulata exhibited the highest concentrations of chlorophyll a (489.42 µg/g) and carotenoids (248.83 µg/g). Conversely, the brown seaweed Sargassum echinocarpum demonstrated superior antioxidant properties, with DPPH radical scavenging activities of 92.59%, followed by C. serrulata extracts at 76.43%.  The antioxidant activity of these extracts exceeded that of ascorbic acid at a concentration of 20 µg/mL (71.21%). A moderate positive correlation was observed between pigment content and antioxidant activity. The variations in pigment composition among different seaweed species significantly influenced their antioxidant potential, with carotenoid-rich brown seaweeds exhibiting higher antioxidant activity compared to green seaweeds. The study's findings reveal the potential of C. serrulata and S. echinocarpum extracts as natural pigments with antioxidant properties. These extracts offer promising applications in the food, nutraceutical, and cosmetic industries as safe and sustainable alternatives to synthetic antioxidants and colorants.
Co-Authors A. Budi Susanto A.B. Susanto A.B. Susanto Adi Santosa Agus Sabdono Agus Trianto Agustin, Nurul Ahmad Saddam Habibi Ainul Fithriyah Akbar, Muhamad Rahadian Alfin Anggraeni Ali Djunaedi Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Anggi Setiabudi Anisah Harahap Anita Dwi Kartika Annisa Afifah Nugroho Anthony D Arnanda Antonius Budi Susanto Arahmad, Yulianto Puguh Arif Maa’ruf Al Ayyub Arifah, Dewi Arifin, Muhammad Sholeh Arvianto Wibowo Azhar, Nuril Azizah, Pramita Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Bara Yanwar Hadi Nugroho, Bara Yanwar Beladini, Septi Chrisna Adhi Suryono Christtenson Purba Christtenson Purba Clara Vania Cornelia Widya Seprandita Dafit Ariyanto Delianis Pringgenies Dewi Kartika Sari Dewi, Lutfianna Fatma Dinda Ayuniar Zanjabila Dion Ragil Saputra Dion Ragil Saputra Dodik S. Wicaksono Dwi Haryo Ismunarti Edi Wibowo Efendi, Muhammad Luthfi Eka Mulya Eko Sasmaya Eko Sasmaya Endang Supriyantini Endang Supriyantini Erma Nurmalitasari Ervia Yudiati Esayani Rosadi Faishal Islami Faishal Islami, Faishal Faiz Naida Salimah Ghofari, Miftahul Akhyar Gunawan Widi Santosa Gunawan Widi Santosa Gunawan Widi Santoso Hafida Salma Hakim, M Sabron Sukmanul Harahap, Akbar Ibnu Pratikto Ibnu Wardani Iin Putriyani Irwani Irwani Ita Widowati Ivend Umbu Jawa Ivend Umbu Jawa, Ivend Umbu Jelita Rahma Hidayati Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Juwita Lesly Senduk Khusnul Khotimah Kirana Fatika Brilianti Koesoemadji Koesoemadji Laksono, Ollivia Brylliant Langit, Novita Thea Puspita Lilik Maslukah Linggar Dirgantara Prasetyo Luluk Abdatur Rosyidah Hanum Lutfianna Fatma Dewi Mahadika Fanindhita Sany Manggola, Alen Mardani Mardani Masri, Mohammed Sharin Haji McCauley, Erin Miftahul Akhyar Ghofari Mohamad Mirza Mohamad Mirza Muhamad Rahadian Akbar Muhamad Rahadian Akbar Muhammad Abdul Zaky Muhammad S. Bahry Muhammad Zainuddin Nada Kristiani Ginting Nada Salsabila Nadiah Humairoh Mufidah Savitri Nadya Oktavia Nerva Sembiring Nirwani Soenardjo Novita Thea Puspita Langit Nur Arif Kurniawan Nur Indah Febriani Nur Indah Febriani Nurul Agustin Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Ollivia Brylliant Laksono Pramastuti, Fransisca Ria Pramita Azizah Pratiwi, Siswantar Putri, Dhiya Aflah Luswanto Rachman, Rhima Rismiyati Raden Ario Raditya Ahmad Rifandi Radityo Haris Rahmadika, Reza Rahmawati, Tiara Ratna Ibrahim Refi Sekarwardhani Retno Hartati Revo Raprika Kurniawan Rhima Rismiyati Rachman Ribka Anindita Br Perangin-angin Rifa’i, Akhmad Rini Pramesti RINI PRAMESTI Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Roestiawan, Dwi Bagus Salma, Hafida Salsabila, Nada Santoso, Gunawan Widi Sari, Intan Swastika Savitri, Nadiah Humairoh Mufidah Sedjati, Sri Sedjati Septi Beladini Setia Devi Kurniasih Setia Devi Kurniasih, Setia Devi Setiyorini, Alin Sri Sedjati Sri Sedjati Sri Yulina Wulandari Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Sulistiana, Zalsabila Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Syafaatul Laili Syamsu Dluha Tri Aji Pamungkas Utomo, Wahyu Laurentius Pria Victorina Yulina Santi Wahyu Laurentius Pria Utomo Wardani, Ibnu Widianingsih Widianingsih Wilis A Setyati Wilis A Setyati Wilis A Setyati Wilis Ari Setyati Wilis Ari Setyati Wismayanti, Gita Yohanes Oktaviaris Zaenal Arifin Zahari, Abdul Kadir Mulku Zaky, Muhammad Abdul Zalsabila Sulistiana