Claim Missing Document
Check
Articles

The Characteristics of Bioplastic Made from Sodium Alginate and Kappa Carrageenan Putri, Dhiya Aflah Luswanto; Ridlo, Ali; Hartati, Retno
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 1 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i1.25887

Abstract

Synthetic plastic is commonly used daily, but its non-biodegradable nature poses a significant environmental threat. Therefore, it is urgent to explore sustainable alternatives such as bioplastics. Alginate, a polysaccharide, is a promising raw material for bioplastics. However, its poor elasticity characteristic necessitates the addition of other polysaccharides, such as carrageenan, to improve bioplastics' mechanical properties. This research aims to determine the characteristics (physical and mechanical properties) of bioplastics made from a mixture of alginate and kappa-carrageenan. The laboratory experimental methods were applied with a completely randomized design. The treatments are mixtures of alginate and k-carrageenan in the following ratios: 10:0 (A10K0), 8:2 (A8K2), 6:4 (A6K4), 4:6 (A4K6), 2:8 (A2K8), 0:10 (A0K10). The characteristics of bioplastic films measured were thickness, water resistance, tensile strength, elongation, and appearance. The optimal bioplastic formulation (4:6 ratio of k-carrageenan to alginate) exhibited a film thickness of 138.3 µm, 16.6% biodegradability, tensile strength of 22.965 N/mm², and 2.73% elongation. The scanning electron microscope showed that the surface structure of bioplastic A4K6 made fromthe ratios of k-carrageenan and alginate of 4:6 had fewer structure cracks and more surface smoothness. 
Pertumbuhan, Tingkat Kelangsungan Hidup dan Stres Salinitas Litopenaeus Vannamei Melalui Pengkayaan Artemia dengan Alginat Yudiati, Ervia; Harahap, Akbar; Ridlo, Ali; Arifin, Zaenal; Hidayati, Jelita Rahma
Jurnal Intek Akuakultur Vol. 7 No. 1 (2023): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor penurunan produktivitas udang disebabkan oleh faktor lingkungan, termasuk salinitas dan kualitas pakan, sehingga perlu ditingkatkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian Artemia yang diperkaya alginat terhadap tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan dan ketahanan terhadap stres salinitas pada Post-Larva (PL)1 Litopenaeus vannamei. Pengkayaan Artemia dilakukan dengan proses perendaman selama satu jam. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan Kontrol (tanpa pengkayaan alginat) dan 3 perlakuan (pengkayaan Artemia sebanyak 10 ekor/mL/hari dengan alginat pada dosis 0 (kontrol), 400, 600, 800 ppm). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Pemeliharaan dengan pemberian pakan pengkayaan Artemia dilakukan selama 14 hari. Pertumbuhan panjang mutlak tertinggi diperoleh perlakuan yang diberi Artemia yang diperkaya alginat 600 ppm. Pertumbuhan mutlak berat diperoleh dari perlakuan Artemia dengan pengkayaan alginat 600 dan 800 ppm. Ketahanan stres salinitas tertinggi dengan kematian terlama diperoleh pada perlakuan yang diberi Artemia dengan pengkayaan alginat 400 ppm. Pemberian Artemia yang diperkaya alginat mampu meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan terhadap stres salinitas PL L. vannamei, namun tidak menunjukan pengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup.
Kitosan sebagai Bioadsorben Logam Besi (Fe) pada Jaringan Lunak Kerang Hijau (Perna viridis) Pramastuti, Fransisca Ria; Supriyantini, Endang; Pramesti, Rini; Sedjati, Sri; Ridlo, Ali
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.41095

Abstract

Logam besi (Fe) merupakan logam berat essensial yang dibutuhkan oleh makhluk hidup termasuk manusia dalam jumlah sedikit.  Jika jumlahnya melebihi batas ambang dapat menimbulkan efek racun karena bersifat karsinogenik. Salah satu upaya mengurangi kadar logam Fe pada daging kerang tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan kitosan atau turunan kitosan yaitu karboksimetil kitosan (KMK) sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi KMK dan kitosan terhadap kapasitas dan daya adsorpsi, serta konsentrasi terbaik dalam menurunkan kandungan logam berat Fe pada jaringan lunak kerang hijau. Metode penelitian secara eksperimental laboratoris. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Faktor pertama yaitu sumber kitosan yang digunakan yaitu kitosan dan karboksimetil kitosan (KMK) dan faktor kedua yaitu variasi konsentrasi yaitu kontrol (0%); 0,5%; 1%; 1,5% dan masing-masing perlakuan dengan 3 ulangan. Konsentrasi logam berat Fe awal pada kerang hijau sebesar 13,17 mg/kg. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh variasi konsentrasi kitosan dan KMK terhadap kapasitas dan daya adsorpsi logam berat Fe pada jaringan lunak kerang hijau. Konsentrasi terbaik pada kitosan 1,5% dapat menurunkan logam berat Fe menjadi 2,43 mg/kg dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,72 mg/g dan daya serap 81,56%, sedangkan KMK 1,5% dapat menurunkan logam berat Fe menjadi 3,68 mg/kg dengan kapasitas adsorpsi 0,63 mg/g dan daya serap sebesar 72,04%.  Fe is an essential heavy metal needed by humans in small amounts, if the amount exceeds the threshold, it can cause toxic effects because it is carcinogenic. To reduce the metal content of Fe in mussel meat, it can be done by utilizing chitosan or chitosan derivatives, namely carboxymethyl chitosan (KMK) as an adsorbent. This study aims to determine the effect of variations in the concentration of KMK and chitosan on the adsorption capacity and power as well as the best concentration in reducing the heavy metal content of Fe in the soft tissue of green mussels. The research method is experimental laboratory. The research design used a completely randomized design (CRD) with 2 factors. The first factor is the source of chitosan used, namely chitosan and carboxymethyl chitosan (KMK) and the second factor is the variation in concentration used, namely control (0%), 0.5%, 1%, and 1.5% and each treatment 3 repetition. The initial heavy metal concentration of Fe in green mussels was 13.17 mg/kg. The results showed that there was an effect of variations in the concentration of chitosan and KMK on the capacity and adsorption ability of heavy metal Fe in green mussel meat. The best concentration of 1.5% chitosan can reduce heavy metal Fe to 2,43 mg/kg with adsorption capacity of 0.72 mg/g and absorption ability of 81.56%. Meanwhile, KMK 1.5% can reduce heavy metal Fe to 3.68 mg/kg with adsorption capacity of 0.63 mg/g and absorption ability of 72.04%. 
Persoalan Pengangguran dan Kewajiban Kerja Menurut Al Syaibani Ridlo, Ali
Quranomic: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam Vol. 1 No. 1 (2022): Quranomic: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IIQ An Nur Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37252/jebi.v1i1.186

Abstract

The purpose of this study was to describe the problem of unemployment and work obligations according to al-Syaibani, using qualitative research methods and a literature study approach. The results of the study showed that the total unemployment rate in the period 2014 to 2018 was still fluctuating, and the average unemployment rate in that period of 100 Indonesians is 6 people who were unemployed. Meanwhile, according to Al-Syaibani, work was obligatory. Al-Syaibani also argued that everyone needed labor from others based on their expertise. The distribution of work was an economic object that had two aspects simultaneously, namely the economic aspect and the religious aspect. The problem of unemployment was an economic problem, so that all elements, both the government and the community, needed synergy in reducing the unemployment rate in Indonesia.
Pengaruh Penambahan Mikroalga (Spirulina platensis) Pada Edible Coating Kitosan Untuk Meningkatkan Daya Simpan Udang (Penaeus vannamei) Wahyu Laurentius Pria Utomo; Gunawan Widi Santoso; Ali Ridlo
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.41758

Abstract

Udang Penaeus vannamei adalah komoditas unggulan di Indonesia, namun udang mengalami penurunan kualitas yang cukup signifikan selama penyimpanan. Menyebabkan daya simpannya cukup singkat yaitu kurang dari 10 hari pada penyimpanan di suhu 0-4oC. Metode penyimpanan dingin atau beku menjadi cara yang paling banyak digunakan. Penurunan kualitas tetap berlangsung selama proses penyimpanan dibawah suhu rendah, oleh karena itu dibutuhkan edible coating untuk membantu menjaga kualitas udang. Penelitian dilakukan guna mengetahui pengaruh penambahan Spirulina pada edible coating kitosan untuk menambah daya simpan udang Vaname. Dilakukan uji susut bobot udang, uji organoleptik, dan analisis mikrobiologi. Hasil rata-rata susut bobot paling kecil diperoleh oleh udang dengan pelapis kitosan + Spirulina 2% yaitu sebesar 1,260%. Hal ini menunjukkan Spirulina memiliki dampak dalam mengurangi susut bobot udang walaupun tidak signifikan hasilnya (p<5). Hasil organoleptik didapati nilai udang dengan pelapis kitosan mendapatkan hasil paling kecil yaitu sebesar 7,2, sedangkan udang lainnya mendapatkan nilai sebesar 7,4. Hasil TPC didapati adanya penurunan pada udang dengan edible coating Spirulina 1,5% yaitu dari 16.000 koloni/g menjadi 8.900 koloni/g. Hasil untuk pengujian terhadap E.coli dan S.aureus masih di ambang batas yaitu <3 APM/g. Kesimpulannya didapatkan bahwa Edible coating dengan bahan tambahan Spirulina terbukti mampu menambah daya simpan udang Vaname dan konsentrasi paling efektif adalah 1,5%. Pada konsentrasi ini edible coating mampu menekan susut bobot udang sebesar ±3,54%, menekan pertumbuhan mikroorganisme, dan mampu mempertahankan kualitas udang secara organoleptis. Penaeus vannamei shrimp is a leading commodity in Indonesia, but shrimp experience a significant decline in quality during storage. This causes its shelf life to be quite short, namely less than 10 days when stored at 0-4oC. The cold or frozen storage method is the most widely used. Quality degradation continues to occur during the storage process at low temperatures, so edible coating is needed to help maintain shrimp quality. Research was conducted to determine the effect of adding Spirulina to chitosan edible coating on increasing the shelf life of Vaname shrimp. Shrimp weight loss tests, organoleptic tests, and microbiological analysis have been carried out. The smallest average weight loss results were obtained for shrimp with a 2% chitosan + Spirulina layer, namely 1.260%. This shows that Spirulina has an impact in reducing shrimp weight, although the results are not significant (p<5). Organoleptic results showed that shrimp coated with chitosan had the lowest value, namely 7.2, while other shrimp received a value of 7.4. The TPC results showed a decrease in shrimp given edible coating Spirulina 1.5%, namely from 16,000 colonies/g to 8,900 colonies/g. The test results for E. coli and S. aureus are still at the threshold, namely <3 APM/g. In conclusion, edible coating with the addition of Spirulina has been proven to be able to increase the shelf life of Vaname shrimp and the most effective concentration is 1.5%. At this concentration, edible coating can reduce shrimp weight loss by ±3.54%, suppress the growth of microorganisms, and can maintain organoleptic shrimp quality.
Karakteristik Biodegradable Film Refined Carrageenan dari Kappaphycus alvarezii dengan Pemlastis Gliserol Zalsabila Sulistiana; Ali Ridlo; Sri Sedjati
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.39209

Abstract

Kappaphycus alvarezii merupakan spesies rumput laut merah yang mengandung senyawa hidrokoloid karaginan dan dapat diekstraksi menjadi semi refined carrageenan (SRC) dan refined carrageenan (RC). Refined carrageenan merupakan karaginan yang didapat melalui ekstraksi dan filtrasi. Sifatnya dapat membentuk lembaran film dan mudah larut dalam air. Biodegradable film dari RC berpotensi sebagai pengganti kemasan plastik. Konsentrasi RC yang tepat diperlukan untuk mendapatkan karakteristik biodegradable film RC dapat terurai secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi RC terhadap karakteristik biodegradable film RC dengan pemlastis gliserol. Metode penelitian yang digunakan yaitu experimental laboratories. Tahapan penelitian terdiri dari ekstraksi RC, karakterisasi RC, pembuatan biodegradable film, dan karakterisasi biodegradable film. Biodegradable film dibuat dengan variasi RC (2%, 3%, 4%), gliserol 15 ml dan akuades hingga total volume 150 ml, lalu dipanaskan dan dihomogenkan dengan hot plate dan magnetic stirrer pada suhu 70-80℃ selama 45 menit, kemudian dicetak dan dikeringkan dalam oven dengan suhu 60℃ selama 12-18 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi RC berpengaruh (p<0,05) terhadap kuat tarik, elongasi, dan ketebalan, tetapi tidak berpengaruh (p≥0,05) terhadap laju transmisi uap air dan kelarutan air biodegradable film. Konsentrasi RC yang tepat untuk biodegradable film dengan pemlastis gliserol yaitu 3% karena nilai kelarutan airnya yang tinggi (85,9%) sehingga dapat terurai dengan mudah.                                                                                                                      Kappaphycus alvarezii is a red seaweed species containing carrageenan hydrocolloid compounds and can be extracted into semi-refined carrageenan (SRC) and refined carrageenan (RC). Refined carrageenan is carrageenan obtained through extraction and filtration. Its properties can form film sheets and dissolve easily in water. Biodegradable films from RC have the potential to replace plastic packaging. Appropriate concentration of RC is needed to obtain biodegradable characteristics of RC films that can decompose naturally. This study aims to determine the effect of RC concentration on the characteristics of biodegradable RC films with glycerol plasticizers. The research method used is experimental laboratories. The research stages consisted of RC extraction, RC characterization, biodegradable film production, and biodegradable film characterization. Biodegradable films were made with RC variations (2%, 3%, 4%), 15 ml glycerol, and distilled water to a total volume of 150 ml, then heated and homogenized with a hot plate and magnetic stirrer at 70-80℃ for 45 minutes, then printed. and dried in an oven at 60℃ for 12-18 hours. The results showed that RC concentration (p<0.05) affected tensile strength, elongation, and thickness. Still, they had no effect (p≥0.05) on the water vapor transmission rate and water solubility of biodegradable films. The appropriate RC concentration for biodegradable films with glycerol plasticizers is 3% because of its high water solubility value (85.9%), which means it can decompose easily.
Kontaminasi Mikroplastik Pada Ikan Bandeng (Chanos chanos) Dari Muara Sungai Banjir Kanal Timur, Semarang Clara Vania; Ali Ridlo; Bambang Yulianto
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.49646

Abstract

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari fragmentasi plastik makro akibat proses degradasi fisik, kimia, dan biologis. Paparan mikroplastik pada ikan dapat menyebabkan gangguan fisiologis serta berpotensi menimbulkan risiko bioakumulasi dalam rantai makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kontaminasi mikroplastik pada ikan bandeng (Chanos chanos) yang diperoleh dari Muara Sungai Banjir Kanal Timur, Semarang, dengan menganalisis jumlah, bentuk, ukuran, dan warna mikroplastik yang ditemukan. Analisis dilakukan melalui ekstraksi dan identifikasi mikroplastik yang terakumulasi dalam saluran pencernaan dan insang ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik terdeteksi di seluruh sampel ikan, dengan konsentrasi lebih tinggi pada saluran pencernaan (89,22 partikel/individu) dibandingkan insang (71,11 partikel/individu). Bentuk mikroplastik yang dominan adalah fragmen, diikuti oleh fiber, pelet, dan film, dengan variasi warna meliputi hitam, merah, cokelat, biru, hijau, kuning, oranye, ungu, putih, dan transparan. Temuan ini mengindikasikan tingginya tingkat paparan mikroplastik pada ikan bandeng yang berasal dari perairan yang tercemar, yang berpotensi memengaruhi kesehatan biota perairan serta menimbulkan risiko transfer mikroplastik ke manusia melalui konsumsi ikan Microplastics are plastic particles smaller than 5 mm, resulting from macroplastic fragmentation due to physical, chemical, and biological degradation. Exposure to microplastics in fish can cause physiological disturbances and pose a potential bioaccumulation risk in the food chain. This study aims to examine microplastic contamination in milkfish (Chanos chanos) obtained from the estuary of the Banjir Kanal Timur River, Semarang, by analyzing the quantity, shape, size, and color of microplastics present. Microplastics were extracted and identified from the fish’s digestive tract and gills. The results showed that microplastics were detected in all fish samples, with higher concentrations in the digestive tract (89.22 particles/individual) than in the gills (71.11 particles/individual). The dominant microplastic forms were fragments, followed by fibers, pellets, and films, with color variations including black, red, brown, blue, green, yellow, orange, purple, white, and transparent. These findings indicate a high level of microplastic exposure in milkfish from a contaminated estuary, which may impact aquatic biota health and pose a potential risk of microplastic transfer to humans through fish consumption.
Penambahan Plasticizer Sorbitol terhadap Karakteristik Bioplastik dari Limbah Dekaragenan Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty ex P. C. Silva, 1966 Esayani Rosadi; Ali Ridlo; Sunaryo Sunaryo
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.40654

Abstract

Kekhawatiran terhadap sumber daya yang tidak dapat diperbaharui menyebabkan pemanfaatan sumber daya alam terbarukan dan mudah terurai (biodegradable) sebagai bahan baku pembuatan bioplastik menjadi solusi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi sorbitol terhadap sifat fisik, mekanik (kuat tarik dan elongasi) dan biodegradabilitas bioplastik limbah dekaragenan Kappaphycus alvarezii, meliputi: kuat tarik, elongasi, ketebalan, ketahanan air, keburaman, laju transmisi uap air dan biodegradasi. Penelitian menggunakan metode ekperimental laboratoris dan dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas 5 konsentrasi sorbitol yang berbeda, yaitu: A(0%), B(3%), C(6%), D(9%) dan E(12%) dengan 3 kali ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis varians dan apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Tukey. Bioplastik dibuat dengan mencampurkan 50 gram limbah dekaragenan K. alvarezii dan 100 mL akuades dipanaskan selama 30 menit suhu 700C, kemudian ditambahkan sorbitol dengan konsentrasi yang berbeda-beda (0, 3, 6, 9, dan 12%). Campuran limbah K. alvarezii dan sorbitol dengan konsentrasi yang berbeda kemudian dilarutkan dengan 100 mL akuades dan dipanaskan selama 30 menit dengan suhu 700C menggunakan hot plate magnetic stirrer. Bioplastik kemudian dituang pada cetakan dan dikeringkan di oven pada suhu 600C selama 12 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi sorbitol yang berbeda berpengaruh sangat  nyata terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik (p<0,01). Bioplastik terbaik terdapat pada penambahan konsentrasi sorbitol 3% dengan kuat tarik sebesar 2,92±0,04 N/mm2, elongasi 19,43±0,94%, ketebalan 208,33±6,43µm, ketahanan air 87,52±0,01%, keburaman 27,08±0,33%, laju transmisi uap air  0,0031±0,0001 g/mm2/hari dan tingkat biodegradasi sebesar 93,42±0,01% per hari.Concerns about non-renewable resources have led to the use of renewable and biodegradable natural resources as raw materials for bioplastics production as an alternative solution. This research aims to determine the effect of sorbitol concentration on the physical, mechanical properties of Kappaphycus alvarezii decarrageenan waste bioplastics, including: tensile strength, elongation, thickness, water resistance, opacity, water vapor transmission rate and biodegradation. The research used experimental laboratories method and was designed using a Completely Randomized Design (CRD), consisting of 5 differences sorbitol concentrations, namely: A(0%), B(3%), C(6%), D(9%) and E(12%) with 3 replications. Data were analyzed using one way anova, furthermore, a Tukey test was carried out if there were significant differences between the treatments. Bioplastics were made by mixing 50 grams of K. alvarezii decarrageenan waste and 100 mL of distilled water heated for 30 minutes at 70°C, then adding sorbitol with different concentrations (0, 3, 6, 9, and 12%).The mixture of K. alvarezii waste and sorbitol with different concentrations was then dissolved in 100 mL of distilled water and heated for 30 minutes at 70°C using a magnetic stirrer hot plate. The bioplastic is then poured into the mold and dried in the oven at 60°C for 12 hours. The results showed that different concentrations of sorbitol had a very significant effect on the physical and mechanical properties of bioplastics (p<0.01). The best bioplastic is found with the addition of 3% sorbitol concentration with a tensile strength of 2.92 ± 0.04 N/mm2, elongation of 19.43 ± 0.94%, thickness of 208.33 ± 6.43 µm, water resistance of 87.52 ± 0 .01%, opacity 27.08±0.33%, water vapor transmission rate 0.0031±0.0001 g/mm2/day and biodegradation rate 93.42±0.01% per day.  
Analisis Kadar Pb dan Cu pada Kerang Hijau Budidaya di Tambak Lorok serta Analisis Risiko Kesehatan Konsumsi untuk Manusia Nada Salsabila; Jusup Suprijanto; Ali Ridlo
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.38865

Abstract

Kota Semarang termasuk wilayah di Jawa Tengah yang memiliki aktivitas industri yang padat dan meningkat setiap tahun, aktivitas ini menyebabkan pencemaran oleh logam berat semakin meningkat. Tambak Lorok termasuk kedalam wilayah Kota Semarang yang dikelilingi oleh aktivitas industri dan sebagai wilayah untuk melakukan budidaya kerang hijau. Kerang hijau adalah komoditas makanan laut yang diminati oleh masyarakat karena mempunyai kandungan gizi serta bernilai ekonomis yang tinggi. Kerang hijau hasil budidaya dari Tambak Lorok diketahui mengandung logam berat dan tidak layak untuk dimakan oleh manusia. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui kadar timbal dan tembaga yang terakumulasi pada kerang hijau hasil panen budidaya dari Tambak Lorok dan mengetahui jumlah aman konsumsi kerang hijau berdasarkan analisis risiko kesehatan lingkungan. Metode yang dilakukan pada penelitian yaitu menggunakan metode ICP-OES dan perhitungan analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL). Logam berat yang terkandung dalam sampel yang diambil berdasarkan hasil penelitian yaitu untuk kadar logam berat timbal pada stasiun 1 dan 2 untuk kerang hijau yang berukuran kecil dan berukuran besar yaitu < 0,04 mg/kg sedangkan kadar tembaga stasiun 1 untuk kerang ukuran kecil yaitu 2,35 mg/kg, ukuran besar yaitu 2,85 mg/kg sementara stasiun 2 kerang ukuran kecil memiliki kadar 2,07 mg/kg, kerang ukuran besar yaitu 2,51 mg/kg. Jumlah aman konsumsi kerang berdasarkan perhitungan rata-rata berat badan orang dewasa 58 kg jumlah aman konsumsi kerang ukuran kecil yaitu 0,54 mg/kg/hari sedangkan kerang ukuran besar yaitu 0,45 mg/kg/hari. Semarang City is a region in Central Java which has dense and increasing industrial activity every year, this activity causes pollution by heavy metals to increase. Tambak Lorok are the areas in Semarang City that are near and surrounded by industrial activities and as an area for cultivating green mussels. Green mussels are a seafood commodity that is in high demand by the public because of its health nutritional and high economic value. Green mussels cultivated from Tambak Lorok are known to contain heavy metals and are unhealthy for consumption. Therefore this study aims to know the contents of heavy metals found in green mussels cultivated from Tambak Lorok and determine the safe amount of green mussels consumption based on an analysis of environmental health risks. The method of this research is used the ICP-OES method and the calculation of Environmental Health Risk Analysis (ARKL). The research results showed that the heavy metal lead content at stations 1 and 2 for small and large green mussels was <0.04 mg/kg while the heavy metal content of copper at station 1 for small shells was 2.35 mg/kg, for large shells was 2.85 mg/kg and station 2 small shells is 2.07 mg/kg, large shells are 2.51 mg/kg. The safe amount of shellfish consumption is based on the calculation of an average adult body weight of 58 kg. The safe amount of small green mussels consumption is 0,54 mg/kg/day while that of large green mussels is 0,45 mg/kg/day.  
Karakteristik Edible Straw dari Karagenan Setelah Penambahan Sorbitol Nadiah Humairoh Mufidah Savitri; Sri Sedjati; Ali Ridlo
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.39637

Abstract

: Pemakaian sedotan plastik tidak hanya mencemari lingkungan namun juga dapat menyebabkan kematian pada hewan laut. Pemecahan masalah sedotan plastik telah dilakukan dengan mengganti bahan sedotan agar mudah terurai atau dapat dimakan (edible). Bahan yang telah digunakan untuk membuat edible straw misalnya karagenan yang diekstraksi dari rumput laut. Karagenan yang diekstraksi dari rumput laut Kappaphycus alvarezii paling banyak diproduksi dibandingkan jenis rumput laut lainnya. Kappa karagenan merupakan jenis karagenan hasil ekstraksi K. alvarezii dengan tingkat kemurnian tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan plasticizer sorbitol terhadap karakteristik edible straw yang meliputi kuat tarik, kelarutan, dan ketebalan. Metode penelitian mengacu pada eksperimental laboratoris dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 kelompok perlakuan yaitu sorbitol 0% (ESS0), sorbitol 2% (ESS2), sorbitol 4% (ESS4), dan sorbitol 6% (ESS6). Konsentrasi karagenan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 1,5% pada setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan sorbitol, maka kuat tarik semakin rendah namun kelarutan dan ketebalan meningkat. Formulasi terbaik didapatkan pada penambahan sorbitol 2% (ESS2) dengan kuat tarik 6,364 Mpa, kelarutan 41%, dan ketebalan 749,6 µm.
Co-Authors A. Budi Susanto A.B. Susanto A.B. Susanto Achnaf, Mochamad Adi Santosa Agus Sabdono Agus Trianto Ahmad Saddam Habibi Akbar, Muhamad Rahadian Alfin Anggraeni Ali Djunaedi Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Anggi Setiabudi Anisah Harahap Anita Dwi Kartika Annisa Afifah Nugroho Anthony D Arnanda Antonius Budi Susanto Arif Maa’ruf Al Ayyub Arifin, Muhammad Sholeh Arvianto Wibowo Azizah, Pramita Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Bara Yanwar Hadi Nugroho, Bara Yanwar Beladini, Septi Chrisna Adhi Suryono Christtenson Purba Christtenson Purba Clara Vania Cornelia Widya Seprandita Delianis Pringgenies Dewi, Lutfianna Fatma Dinda Ayuniar Zanjabila Dion Ragil Saputra Dion Ragil Saputra Dodik S. Wicaksono Dwi Haryo Ismunarti Edi Wibowo Eka Mulya Eko Sasmaya Eko Sasmaya Endang Supriyantini Endang Supriyantini Erma Nurmalitasari Ervia Yudiati Esayani Rosadi Faishal Islami Faishal Islami, Faishal Faiz Naida Salimah Ghofari, Miftahul Akhyar Gunawan Widi Santosa Gunawan Widi Santosa Gunawan Widi Santoso Hafida Salma Hakim, M Sabron Sukmanul Harahap, Akbar Hutagalung, Indriani Ibnu Pratikto Ibnu Wardani Iin Putriyani Irwani Irwani Ita Widowati Ivend Umbu Jawa Ivend Umbu Jawa, Ivend Umbu Iwan Kurniawan Jelita Rahma Hidayati Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Juwita Lesly Senduk Khusnul Khotimah Kirana Fatika Brilianti Koesoemadji Koesoemadji Laksono, Ollivia Brylliant Langit, Novita Thea Puspita Lilik Maslukah Linggar Dirgantara Prasetyo Lutfianna Fatma Dewi Mahadika Fanindhita Sany Manggola, Alen Mardani Mardani Masri, Mohammed Sharin Haji McCauley, Erin Miftahul Akhyar Ghofari Mohamad Mirza Mohamad Mirza Muhamad Rahadian Akbar Muhamad Rahadian Akbar Muhammad Abdul Zaky Muhammad S. Bahry Muhammad Zainuddin Nabila Bilqis Huwaida Zetka Nada Kristiani Ginting Nada Salsabila Nadiah Humairoh Mufidah Savitri Nadya Oktavia Nerva Sembiring Nirwani Soenardjo Novita Thea Puspita Langit Nur Arif Kurniawan Nur Indah Febriani Nur Indah Febriani Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Ollivia Brylliant Laksono Pramastuti, Fransisca Ria Pramita Azizah Pratiwi, Siswantar Putri, Dhiya Aflah Luswanto Rachman, Rhima Rismiyati Raden Ario Raditya Ahmad Rifandi Radityo Haris Ratna Ibrahim Refi Sekarwardhani Retno Hartati Revo Raprika Kurniawan Rhima Rismiyati Rachman Rifa’i, Akhmad Rini Pramesti RINI PRAMESTI Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Roestiawan, Dwi Bagus Salma, Hafida Salsabila, Nada Santoso, Gunawan Widi Savitri, Nadiah Humairoh Mufidah Sedjati, Sri Sedjati Septi Beladini Setia Devi Kurniasih Setia Devi Kurniasih, Setia Devi Setiyorini, Alin Sri Sedjati Sri Sedjati Sri Yulina Wulandari Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Sulistiana, Zalsabila Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Tri Aji Pamungkas Utomo, Wahyu Laurentius Pria Victorina Yulina Santi Wahyu Laurentius Pria Utomo Wardani, Ibnu Widianingsih Widianingsih Wilis A Setyati Wilis A Setyati Wilis A Setyati Wilis Ari Setyati Wilis Ari Setyati Wismayanti, Gita Yohanes Oktaviaris Zaenal Arifin Zahari, Abdul Kadir Mulku Zaky, Muhammad Abdul Zalsabila Sulistiana