Claim Missing Document
Check
Articles

Pembaharuan Mustafa Kemal dan Sekularisme Turki Irhamni, Irhamni; Suyanta, Sri
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2025): Juli: Education and Community
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/xrrwd008

Abstract

Penelitian ini membahas transformasi besar yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Atatürk dalam mengubah struktur pemerintahan dan kehidupan sosial Turki dari kekhalifahan Islam menjadi negara republik yang modern dan sekuler. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana perubahan-perubahan kebijakan Atatürk memengaruhi berbagai sektor kehidupan bangsa Turki, khususnya dalam bidang politik, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Untuk menjawab persoalan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), yang bertujuan untuk menelaah literatur-literatur terkait secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reformasi Atatürk meliputi penghapusan kekhalifahan dan pembentukan sistem republik sekuler dalam bidang politik, penerapan kebijakan etatisme dalam ekonomi, penghapusan simbol-simbol Islam dan perubahan aksara Arab ke Latin dalam budaya, serta penggantian sistem pendidikan agama tradisional dengan pendidikan sekuler yang menekankan rasionalitas dan kesetaraan gender. Reformasi ini secara keseluruhan merepresentasikan upaya sistematis untuk membentuk masyarakat Turki yang modern, nasionalis, dan sekuler, meskipun menimbulkan ketegangan antara nilai-nilai Islam dan ideologi negara baru yang dibangun.
Pemikiran Islam Hamzah Al-Fansuri Husna, Husna; Suyanta, Sri
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2025): Juli: Education and Community
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/kk91bt30

Abstract

Hamzah al-Fansuri merupakan salah satu tokoh sufi Nusantara yang berperan penting dalam perkembangan pemikiran Islam pada abad ke-16 di wilayah Aceh. Melalui karya-karya berbentuk syair dan prosa, Hamzah mengembangkan gagasan tasawuf falsafi yang dipengaruhi oleh ajaran wahdat al-wujud (kesatuan wujud) Ibn ‘Arabi. Pemikiran Islam Hamzah al-Fansuri tidak hanya menekankan dimensi spiritualitas dan kedekatan hamba dengan Tuhan, tetapi juga mengandung unsur intelektual dan budaya lokal yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran-pemikiran utama Hamzah al-Fansuri, terutama mengenai konsep ketuhanan, manusia, dan hakikat wujud. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif-hermeneutik, yaitu menganalisis teks-teks karya Hamzah dalam konteks historis dan filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Hamzah memiliki sintesis antara ajaran Islam ortodoks dengan mistisisme, serta membuka ruang interpretasi terhadap keberagaman ekspresi keislaman di Nusantara. Pemikiran Hamzah al-Fansuri juga menjadi titik tolak munculnya perdebatan intelektual di kalangan ulama Aceh, yang mempengaruhi dinamika teologi Islam lokal pada masa itu.
Pengaruh Teman Terhadap Pergaulan Menurut Perspektif Islam Halimah, Siti; Gade, Syabuddin; Suyanta, Sri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2122

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hadits Nabi yang membahas pentingnya memilih teman yang baik serta pengaruh teman terhadap pergaulan dalam perspektif Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data diperoleh melalui aplikasi Hadits Soft, jurnal ilmiah, buku, serta literatur keislaman lainnya yang relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menelaah keabsahan hadits, makna yang dikandungnya, serta relevansinya dalam konteks kehidupan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perawi hadits yang dikaji tergolong tsiqah, dengan jalur periwayatan yang bersambung (muttasil) dan tidak mengandung cacat (illat) maupun prnyimpangan (syadz), sehingga hadits tersebut dinyatakan shahih secara sanad dan matan. Hadits ini menegaskan bahwa lingkungan pergaulan dan teman dekat memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan akhlak seseorang. Berteman dengan individu yang berakhlak baik dapat memberikan pengaruh positif secara langsung maupun tidak langsung, sementara bergaul dengan orang yang buruk akhlaknya cenderung membawa pengaruh negatif. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian keislaman terkait peran pertemanan dalam pembentukan karakter dan keimanan seseorang.
Tolerance Development Model for Students of Dayah Salafiyah in Aceh Suyanta, Sri; Saifuddin, Saifuddin; Bahri, Syamsul
Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Ilmiah Peuradeun
Publisher : SCAD Independent

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26811/peuradeun.v12i2.1308

Abstract

This study delved into the model of tolerance among Acehnese Dayah Salafiyah students, aiming to bridge the gap in understanding their perceived tolerance amidst societal stigmas. Data from two Dayah Salafiyah, Dayah Darussalam Labuhan Haji, and Dayah Ummul Ayman Samalanga, were gathered through participant observation, in-depth interviews, and document studies. Data analysis including data reduction, presentation, and conclusion. This analysis was conducted continuously throughout the research, from data collection to conclusion. Findings indicated a tendency towards passive tolerance among students, which aligned with Islamic principles of tasamuh and was integrated into their education. Despite negative perceptions, students exhibited principles of equality, harmony, and respect for diversity, challenging accusations of intolerance. However, shortcomings existed in exploring contemporary tolerance issues, especially in teacher involvement and understanding beginner-level students. Encouraging the implementation of existing tolerance is vital for Dayah’s internal and external stakeholders. These findings deepened the understanding of tolerance models in Aceh’s Dayah Salafiyahs, warranting consideration by researchers in future studies. Additionally, the authors recommend that other researchers consider the results of this study as a reference for their research or surveys, emphasizing the need for developing tolerance indices tailored to the unique characteristics of each region to demonstrate tolerance towards others.
The Implementation of the BTQ Program to Improve Quran Reading Skills of Students at SD Negeri 11 Sabang Azmi, Nur; Suyanta, Sri; Maysa, Saifullah
Jurnal Ilmiah Teunuleh Vol. 5 No. 4 (2024): Jurnal Ilmiah Teunuleh
Publisher : Teunuleh Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51612/teunuleh.v5i4.160

Abstract

The Al-Qur'an Reading and Writing Program (BTQ) aims to improve students' Qur'an reading skills according to Tajwid rules and foster religious character through systematic education. This study examines the planning, implementation, and assessment of the BTQ program at SD Negeri 11 Sabang using a descriptive qualitative approach. Data collection techniques included interviews, observations, and documentation. Findings reveal that program planning was thorough and structured, starting with initial assessments to gauge student abilities, curriculum development aligned with the school's vision, and scheduling that did not disrupt other lessons. The program involved key stakeholders such as the principal, vice principal, PAI teachers, and parents, ensuring comprehensive support. Implementation was student-centered, employing methods like iqra' and tahsin to enhance reading accuracy and Tajwid mastery, while also promoting religious character through motivational activities like Qur'an reading competitions. Collaboration with parents and material adjustments based on students’ abilities contributed to the program's smooth execution. Regular monitoring through assessments and classroom observations measured students' progress. Personalized support was provided for those needing extra assistance. With consistent monitoring and targeted guidance, the BTQ program effectively improved students' Qur'an reading skills and strengthened their religious character.
Hasan Bandunj: al-Mufakir al-Faqih al-Muthir li Jidal Suyanta, Sri
Studia Islamika Vol. 5 No. 3 (1998): Studia Islamika
Publisher : Center for Study of Islam and Society (PPIM) Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sdi.v5i3.742

Abstract

A. Hasan Bandung merupaka salah satu tokoh pembaharu modernis yang dikenal dengan sikapnya yang kontroversial dan polemis. Tulisan yang menggambarkan biografi intelektual A. Hasan ini, khususnya dalam kaitan pemikiran fiqh, dimaksudkan untuk melihat kekayaan khazanah pemikiran modern dalam Islam Indonesia.DOI: 10.15408/sdi.v5i3.742
Guru di Persimpangan Kurikulum Baru: Dilema Implementasi Kurikulum Merdeka Berbasis Keislaman Susanna, Susanna; Usman, Jarjani; Suyanta, Sri
Fitrah: Journal of Islamic Education Vol. 4 No. 2 (2023): Desember (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agam Islam Sumatera Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53802/fitrah.v4i2.478

Abstract

This research aims to analyze the dilemmas faced by Islamic educational institutions that implement the independent curriculum. The focus of the research is on implementation, and obstacles to maintaining Islamic characteristics in the latest curriculum. The research method used is qualitative, based on literature study. The data source used is the results of relevant research related to the topic, which is tracked using the publish or ferish application with a total of fifty relevant texts. Data analysis using systematic literature review. The results revealed that the Implementation of Merdeka Curriculum in Islamic Education Institutions involves the process of adapting Islamic principles in curriculum development which focuses on religious values, morals, and Islamic science. This involves preparing learning materials, teaching methods, and evaluations that are in accordance with Islamic values as well as the needs and context of the Islamic education institution. The constraints of implementing an independent curriculum in Islamic education institutions include limited resources, institutional conservatism, incompatibility with local needs, teacher and staff readiness, community and parent reactions, and performance evaluation and monitoring.
Penguatan Motivasi Belajar Melalui Reward dan Punishment dalam Kokurikuler Tahfidz Al-Qur’an dan Hadits di MIN 2 Nagan Raya Asnidar, Asnidar; Suyanta, Sri; Syahminan, Syahminan
Jurnal Ilmiah Guru Madrasah Vol 4 No 1 (2025): Januari-Juni
Publisher : LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/jigm.v4i1.45

Abstract

Learning motivation is a crucial factor in the success of Tahfidz programs in Islamic elementary schools. This study aims to examine the forms of reward and punishment implemented in the co-curricular Tahfidz Al-Qur’an and Hadith program at MIN 2 Nagan Raya, students’ responses to these strategies, and their impact on learning motivation. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation involving the principal, teachers, students, and parents. The findings reveal that rewards in the form of verbal praise, certificates, small gifts, and symbolic recognition, such as the opportunity to lead prayer, foster students’ enthusiasm and self-confidence in memorization. Meanwhile, punishments such as additional assignments, verbal warnings, and written commitments are accepted positively as constructive guidance rather than punitive measures. The consistent and contextual application of both strategies contributes to improved attendance, discipline, and achievement of memorization targets. This study suggests that reward and punishment, when designed in a humanistic and proportional manner, serve not only as motivational tools but also as a medium for cultivating students’ religious character and learning discipline. Abstrak Motivasi belajar merupakan faktor penting dalam keberhasilan program Tahfidz di madrasah ibtidaiyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk reward dan punishment yang diterapkan dalam program kokurikuler Tahfidz Al-Qur’an dan Hadits di MIN 2 Nagan Raya, respons siswa terhadap strategi tersebut, serta dampaknya terhadap motivasi belajar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi yang melibatkan kepala madrasah, guru, siswa, dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reward berupa pujian lisan, piagam, hadiah sederhana, serta penghargaan simbolis seperti kesempatan menjadi imam shalat mampu menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri siswa dalam menghafal. Sementara itu, punishment berupa tugas tambahan, teguran lisan, dan penulisan surat komitmen diterima secara positif sebagai bentuk pembinaan, bukan hukuman yang menjatuhkan. Penerapan kedua strategi secara konsisten dan kontekstual berkontribusi pada peningkatan kehadiran, kedisiplinan, serta pencapaian target hafalan siswa. Penelitian ini menegaskan bahwa reward dan punishment yang dirancang secara humanis dan proporsional tidak hanya berfungsi sebagai penguat motivasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter religius dan disiplin belajar siswa.
MENJEMBATANI DIKOTOMI ILMU AGAMA DAN ILMU UMUM (KAJIAN ATAS PEMIKIRAN INTEGRATIF M. AMIN ABDULLAH) Saputra, Adi; suyanta, sri
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 9 No. 4 (2025): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v9i4.2892

Abstract

The long-standing dichotomy between religious sciences and general sciences has created a significant epistemological gap that affects the development and relevance of Islamic education in the modern era. This article aims to comprehensively analyze M. Amin Abdullah’s integrative–interconnective paradigm as an alternative approach to bridging this separation and constructing a more holistic scientific framework. Using a literature-based method, this study examines the conceptual foundation, epistemological principles, and practical implications of an integrative model that harmonizes revelation, reason, and empirical reality. The findings indicate that Amin Abdullah’s “spider web of knowledge” encourages multidisciplinary, interdisciplinary, and transdisciplinary dialogue, thereby overcoming fragmentation and generating mutually reinforcing scientific insights. These results demonstrate that the integrative–interconnective paradigm is not only a theoretical framework for reconstructing contemporary Islamic epistemology but also has substantial implications for curriculum reform, learning strategies, character development, and the strengthening of religious moderation. Thus, this approach provides a significant contribution to shaping Islamic education that is more responsive, adaptive, and relevant to the challenges of the digital age and the complexities of modern life.