Claim Missing Document
Check
Articles

IDEALITAS KEMANDIRIAN DAYAH Sri Suyanta
Islam Futura Vol 11, No 2 (2012): Jurnal Ilmiah Islam Futura
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jiif.v11i2.52

Abstract

Dayah merupakan institusi pendidikan Islam awal di Aceh sekaligus menjadi pilar pendidikan Islam di Indonesia yang eksistesinya telah diukir jauh sebelum negara Indonesia itu sendiri lahir, sehingga mencirikan identitas keislaman dan keaslian (indigenous) Aceh. Secara historis, pendirian dayah diinisiasikan oleh masyarakat. Oleh karenanya penyelenggaraan pendidikannya juga bersifat swasta. Kemandirian seperti ini dapat dipertahankan oleh dayah meskipun tetap terdapat perubahan. Dayah di Aceh pada umumnya dapat menjamin eksistensinya tanpa menggantungkan diri pada para pihak untuk membantu kehidupan dayah. Bahkan dayah di Aceh dapat bertahan justeru karena semangat kemandirian ini. Hal ini bisa terjadi karena dayah dapat eksis dengan jiwa interpreneurship (kewirausahaan), baik dalam sektor jasa, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, perdagangan maupun pada sektor-sektor riil lainnya.
PEMBERDAYAAN INTERNAL PROGRAM PASCASARJANA IAIN AR-RANIRY Sri Suyanta
Islam Futura Vol 7, No 1 (2008): Jurnal Ilmiah Islam Futura
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jiif.v7i1.3052

Abstract

Terdapat korelasi sinergis antara institusi dan kualitas pendidikannya. Pascasajana IAIN A-Raniry sebagai salah satu penyelenggara pendidikan tinggi di Indonesia memiliki kekhasan dengan institusi pendidikan lain. Sebagai institusi keilmuan, dituntut untuk dapat memenuhi tugas-tugas pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Di samping itu, sebagai institusi keislaman sekaligus yang membedakannya dengan institusi lainnya, yaitu pengembangan ilmu pengetahuan agama Islam secara lebih intensif.
SIGNIFIKANSI QUDWAH GURU DALAM PEMBELAJARAN SISWA SMP DAN SMA DI ACEH UTARA Sri Suyanta
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v8i1.2811

Abstract

In the world of education, the exemplary or qudwah teacher is a type of religion. Only in practice is often a problem. Not only is it an integral part of a person's personality, it also involves many contributing factors. In North Aceh, a sample of research on qudwah, it is also recognized that the teacher is a central figure in the educational process that takes place in his school. From the point of view of Indonesian cultural values, the professional teacher is an educator who has the willpower or determination (strength of will, the strength of mind, self-control, and self-discipline) is very high, so obeyed (digger) words and followed (imitated) behavior. North Aceh also indicates that teacher conformity also has dynamics in its diversity.
REAFIRMASI NILAI-NILAI RELIGIUSITAS DALAM KEHIDUPAN MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER Sri Suyanta
Pedagogik : Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 2, No 1, April (2015)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/pjpp.v2i1.403

Abstract

Dalam rangka mengukuhkan nilai-nilai religiusitas dalam kehidupan, pendidikan karakter merupakan keniscayaan. Proses dan mekanismenya  melintasi area, masa dan usia. Pendidikan karakter mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan di lingkungan sosial masyarakat lainnya. Ia mestinya menjadi panglima, diprioritaskan sejak dahulu kala, kini dan masa datang. Bahkan sekarang ini peserta didik dalam pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa bahkan usia manula sekalipun. Oleh karenanya pendidikan karakter harus dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dan simultan untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan dirinya, sesama manusia, lingkungan dan Tuhannya. Pendidikan karakter dapat ditempuh melalui tiga tahap, yaitu sosialisasi pengenalan (introduksi), penghayatan (internalisasi), dan pengukuhan (aplikasi) dalam kehidupan
Revitalization Of Aceh Customs in Formal Educational Institutions Sri Suyanta
Ar-Raniry: International Journal of Islamic Studies Vol 3, No 1 (2016): Ar-Raniry: International Journal of Islamic Studies
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.253 KB) | DOI: 10.22373/jar.v3i1.7413

Abstract

The study aims to strengthen the role of school in transforming Acehcustoms. Schools as an official formal education institution, dealing with twoissues namely their feelings cannot be ignored between customs and culture is acase that should be maintained continuously, and schools have to collide withsystem reining the power of cruising and creativity of education institutions indeveloping the value of custom. In addition, schools have a desire to interpretAceh customary by themselves. Those things are done in two issues; First, thelack of teacher understanding customs well and perfectly. Secondly, lowsupported funding supporting every work in revitalization of custom. The studyfound that revitalization and strategy in developing in formal schools areundergone by two ways; theory and practice. Theoretically, schools includecustom materials through several lessons. Then practically, schools encouragestudents’ creativity in many ways, both in school activities internally andexternally
Hasan Bandunj: al-Mufakir al-Faqih al-Muthir li Jidal Sri Suyanta
Studia Islamika Vol 5, No 3 (1998): Studia Islamika
Publisher : Center for Study of Islam and Society (PPIM) Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1088.52 KB) | DOI: 10.15408/sdi.v5i3.742

Abstract

A. Hasan Bandung merupaka salah satu tokoh pembaharu modernis yang dikenal dengan sikapnya yang kontroversial dan polemis. Tulisan yang menggambarkan biografi intelektual A. Hasan ini, khususnya dalam kaitan pemikiran fiqh, dimaksudkan untuk melihat kekayaan khazanah pemikiran modern dalam Islam Indonesia.DOI: 10.15408/sdi.v5i3.742
Persepsi Dosen Pendidikan Agama Islam Terhadap Rendahnya Sikap Toleransi di Kota Banda Aceh Heru Syahputra; Anton Widyanto; Sri Suyanta
DAYAH: Journal of Islamic Education Vol 4, No 2 (2021): DAYAH: Journal of Islamic Education
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jie.v4i2.5120

Abstract

Tolerance is the key to living comfortably, peacefully and happily. In the life of the people and the nation, tolerance has become the benchmark in realizing the advance of a country, as reflected in the Charter of Medina that the Prophet Muhammad p.b.u.h formed a state on the basis of Islamic values, one of which was tolerance. A state or community will embrace safety and peace once its people live in mutual tolerance. In this study, there were three questions needed to be addressed: (1) What is the concept of tolerance in Islam?, (2) What is the attitude of tolerance between religious believers and social tolerance according to Islamic religious education lecturers at UIN Ar-Raniry Banda Aceh? and (3) How is the response of the Islamic religious education lecturers of UIN Ar-Raniry Banda Aceh towards the study which concluded that the city of Banda Aceh was of low tolerance? This study used the qualitative approach with field research methods, employing primary and secondary data. The results of the study revealed that the main criterion in defining religious tolerance was found in the Qur’an Surah al-Kafirun verse 6, while that in defining the social tolerance was in Surah an-Nisaa verse 86. The attitude of tolerance that the Prophet p.b.u.h had shown on various occasions was very comprehensive regardless of place and person, in any capacity. Therefore, the attitude of tolerance of the Prophet p.b.u.h had become a reference for every community to this day and he was also dubbed as the role model (Uswatun Hasanah). Responding to the finding of low tolerance in the city of Banda Aceh from a study, most respondents, however, believed otherwise. They agreed that Banda Aceh has already been a very tolerant city in terms of religious and social aspects in Indonesia. Thus, such low tolerance could not be generalized to all aspects and concluded that the city of Banda Aceh was an intolerant city or had a low tolerance level.
Islamic Education at Mughal Kingdom in India (1526-1857) Sri Suyanta; Silfia Ikhlas
AT-TA'LIM Vol 23, No 2 (2016)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.469 KB) | DOI: 10.15548/jt.v23i2.228

Abstract

One of the legacies of Islamic civilization in India was the Mughal dynasty that had encouraged the new revival of the old and almost drowned civilization. With the presence of this dynasty, the glory of India with Hindus civilization reappeared. Recorded in the history of Islam, the dynasty was established in the middle period. After the mid-over, there appeared three great kingdoms to rebuild the progress of Muslims. Among the major kingdoms were royal Mughal. The third crown can already be categorized as a superpower in those days, because the greatness of the kingdom had been able to organize the economic, political as well as military.. Islamic education at this time gained considerable attention. For this purpose, the royal Mughal made the mosque as a place of worship other than as a place of religious learning for the community. The mosque indeed had been provided with scholars who gave various lessons of religious knowledge. In fact, the mosques had also been completed with special rooms for students who wanted to stay for their education. Therefore, almost every mosque developed certain religious sciences with special teachers.
EKSPLORASI KONSEP MATEMATIKA DALAM SURAT AL-KAHF khairul umam; Sri Suyanta; Hendra H; Helmi
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 9 No. 2 (2021): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v9i2.111

Abstract

Al-Quran adalah pedoman hidup umat islam. Di dalamnya mengandung aqidah, syariah dan akhlak. Al-Quran juga merupakan sumber ilmu pengetahuan. Banyak pengetahuan yang bersumber dari Al-Quran bertujuan untuk memberi pemahaman kepada manusia. Agama islam memerintahkan agar umatnya wajib menuntut ilmu. Semua ilmu tersebut berpangkal dari Al-Quran dan bermuara pada ketakjuban akan kekuasaan Allah. Al-Quran sebagai firman Allah berbicara tentang matematika. Konsep-konsep matematika yang terkandung dalam Al-Quran mengungkap strukturnya yang sangat indah melalui berbagai cara penyampaian yang salah satunya adalah kisah. Al-Kahf merupakan salah satu surat yang banyak menceritakan kisah-kisah terdahulu. Surat ini cenderung menyebutkan bilangan yang merupakan konsep matematika melalui pemaparan kisahnya oleh penceramah. Fokus penelitian ini mengungkap konsep matematika yang terdapat dalam surat Al-Kahf. Dimana Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji secara kepustakaan dari berbagai sumber cetak dan digital terkait konsep matematika dalam Al-Kahf. Hasilnya ditemukan sebanyak 29 ayat berbicara tentang konsep matematika. Konsep ini diungkapkan secara langsung dan melalui tafsiran. Dari 29 ayat tersebut kemudian diklasifikasikan menjadi lima aspek umum dalam matematika yaitu himpunan, bilangan, geometri, logika dan statistika.
BASIC PHILOSOPHY DALAM TEOLOGI RASIONAL HARUN NASUTION (Sebuah Pendekatan Filosofi dalam Memahami Islam) Sri Suyanta; Makhfira Nuryanti
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 7 No. 1 (2019): Jurnal Kalam (Januari-Juni 2019)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam sebagai agama yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna) merupakan agama yang multidimensi, yang dapat dikaji dari berbagai aspek baik dari tinjauan sosial-kultural maupun dari aspek doktrin. Untuk dapat memahami berbagai dimensi ajaran Islam tersebut, dibutuhkan ragam pendekatan yang digali dari berbagai disiplin ilmu. Salah satunya adalah pendekatan filosofis, yang berusaha mencari penjelasan dari konsep-konsep ajaran agamadengan cara memeriksa dan menemukan sistem nalar yang dapat dipahami manusia, serta memberikan tawaran solusi dan pemecahan masalah dengan metode analitis-kritis dan analisis-spekultatif. Salah satu tokoh yang menggagas pendekatan filosofis dalam mengkaji Islam adalah Harun Nasution dengan pemikirannya tentang teologi rasional. Di dalamnya terlihat model pemikiran Harun dalam memahami Islam, yaitu Pertama, demitologisasi sumber-sumber primer Islam, al-Qur’an dan hadis. Di sini Harun membedakan mana wilayah absolut (qath’i) dan mana yang relatif (zhanni). Kedua, dialog antara teks suci dengan realitas zaman. Prinsip dasar pemikiran harus mengarah kepada ide kemajuan, karena dinamika pengetahuan selalu berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Ketiga, perlawanan entitas secara oposisi biner antara rasional dan tradisional.