Claim Missing Document
Check
Articles

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN BIDAN DESA DALAM MELAKSANAKAN PEMERIKSAAN HB PADA IBU HAMIL DI KABUPATEN SEMARANG Chichik Nirmasari; Atik Mawarni
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb) pada ibu hamil merupakan salah satu pelayanan Antenatal. Sesuai Standar Pelayanan Kebidanan, pemeriksaan kadar Hb dilakukan minimal dua kali selama kehamilan pada trimester 1 dan trimester 3. Pada tahun 2011, di Kabupaten Semarang hanya 46% ibu hamil yang mendapatkan pemeriksaan Hb, demikian juga pemeriksaan Hb belum dilakukan oleh semua bidan desa. Tujuan penelitian adalah mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan bidan desa dalam melaksanakan pemeriksaan Hb pada ibu hamil. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan waktu cross sectional. Populasi adalah semua bidan desa sebanyak 312 orang yang ada di Kabupaten Semarang, sampel sebanyak 76 dipilih secara clustered random sampling. Analisis dilakukan dengan uji Chi square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata umur bidan desa 36 tahun, rerata masa kerja 15 tahun, 44,7% berpendidikan D1, 65,8% mempunyai tingkat pengetahuan rendah, 56,6% mempunyai motivasi tinggi, 50% mempunyai sikap mendukung, 61,8% mempunyai persepsi supervise baik dan 75% menyatakan sarana lengkap, sedangkan bidan yang patuh dalam melaksanakan pemeriksaan Hb hanya 36,8%. Variabel bebas yang berpengaruh terhadap kepatuhan bidan desa adalah pengetahuan (p=0,06; Exp (B)=10,5), motivasi (p=0,004; Exp (B)=31,7) dan sikap (p=0,004; Exp (B)=16,9). Disarankan kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas agar melakukan kegiatan dalam rangka memperbaiki kepatuhan pemeriksaan Hb ibu hamil oleh bidan desa melalui peningkatan pengetahuan , pembentukan sikap dan motivasi.
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PELAPORAN RUTIN PNEUMONIA BERBASIS WEB PADA PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (P2 ISPA), DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN SEMARANG Yohanes Oktavianus Dolu; Atik Mawarni; Henry Setyawan Susanto
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan Evaluasi Program Pengendalian Penyakit ISPA di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang seringkali berjalan kurang baik karena informasi yang berasal dari pelaporan rutin sebagai bahan utama yang diperlukan belum dapat mendukung kegiatan evaluasi. Ada beberapa permasalahan pada sistem informasi pelaporan rutin pneumonia sebelum dikembangkan yaitu petugas kesulitan melakukan perubahan maupun mengakses kembali informasi pneumonia, informasi yang dihasilkan belum lengkap dan belum jelas serta pelaporan tidak tepat waktu. Tujuan penelitian adalah mengembangkan sistem informasi pelaporan rutin pneumonia berbasis web pada Program Pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (P2 ISPA) di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang. Desain penelitian adalah pra eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest, pengembangan sistem menggunakan metode FAST (Framework for the Application of System Techniques). Subjek penelitian ada dua yaitu pengguna sistem di Dinas Kesehatan dan empat puskesmas percontohan. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam dan kuesioner tertutup, pengolahan dan analisis data menggunakan analisis isi dan uji statistik Wilcoxon. Penelitian menghasilkan suatu sistem informasi pelaporan rutin pneumonia berbasis web untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada sistem informasi yang lama. Hasil uji statistik Wilcoxon menunjukkan bahwa ada perbedaan kualitas informasi yang signifikan dilihat dari aspek kemudahan (p=0,0001), aspek kelengkapan (p=0,0001), aspek kejelasan (p=0,0001) dan aspek ketepatan waktu (p=0,0001) antara sebelum dan sesudah sistem informasi dikembangkan. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang agar membangun komitmen untuk memanfaatkan sistem informasi pelaporan rutin pneumonia yang dikembangkan secara optimal.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KINERJA PETUGAS PUSKESMAS DALAM PENGELOLAAN PENDERITA TUBERKULOSIS (TB) MANGKIR DI KOTA PEKALONGAN TAHUN 2012 Indah Kurniawati; Atik Mawarni; Ayun Sriatmi
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kesembuhan penderita Tuberkulosis di Kota Pekalongan masih rendah yaitu 72,5% pada tahun 2011, masih dibawah target 85%, dengan angka mangkir yang cukup tinggi. Sedangkan kinerja petugas Puskesmas dalam melaksanakan pengelolaan penderita Tuberkulosis yang mangkir masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja petugas puskesmas dalam pengelolaan penderita Tuberkulosis mangkir di Kota Pekalongan. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian adalah 47 perawat pelaksana di Puskesmas. Pengumpulan data menggunakan wawancara dengan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan 59,6% responden berpengetahuan baik; 51,1% berpersepsi baik terhadap pekerjaannya; 59,6% berpersepsi baik terhadap sarana kerja; 70,2 % berpersepsi baik terhadap supervisi wasor; 40,4% berpersepsi baik terhadap kepemimpinan kepala Puskesmas dan 53,2% responden bermotivasi baik. Sebanyak 46,8% responden berkinerja baik. Ada hubungan antara pengetahuan, persepsi terhadap pekerjaan, persepsi terhadap supervisi wasor tuberkulosis, persepsi terhadap ketersediaan sarana kerja, persepsi terhadap kepemimpinan kepala Puskesmas dan motivasi dengan kinerja petugas Puskesmas dalam pengelolaan penderita Tuberkulosis mangkir. Variabel yang berpengaruh terhadap kinerja petugas Puskesmas dalam pengelolaan penderita TB mangkir hanya dua yaitu pengetahuan (p=0,038, Exp B=11,6 ) dan persepsi terhadap kepemimpinan kepala Puskesmas (p=0,0001, Exp B=180,6 ). Disarankan kepada DKK Pekalongan agar meningkatkan pengetahuan petugas dengan pelatihan-pelatihan teknis P2TB secara berkala di tingkat Dinas Kesehatan Kota Pekalongan dengan disertai pengembangan kepemimpinan kepala Puskesmas yang mampu menggugah motivasi petugas agar bekerja lebih baik. Kata Kunci : Kinerja, Petugas Puskesmas, Tuberkulosis
ANALISIS SISTEM MANAJEMEN DALAM KEGIATAN PENJARINGAN KESEHATAN ANAK SEKOLAH DASAR DI PUSKESMAS KABUPATEN DEMAK Cicilia Ninik S; Atik Mawarni; Ayun Sriatmi
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 2, No 5 (2016): Desember 2016
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.491 KB)

Abstract

Salah satu faktor penting keberhasilan sistem penjaringan kesehatan anak SD adalah peran manajemen Puskesmas dalam pengelolaan program tersebut. Peran manajerial Puskesmas terkait program tersebut adalah dalam perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.  Berdasarkan data dari DKK Kabupaten Demak, cakupan penjaringan kesehatan anak SD tahun 2011 adalah 100%. Penelusuran lebih lanjut ternyata hasil cakupan yang dihitung adalah hanya berdasarkan jumlah SD yang dilakukan program penjaringan yaitu 683 SD. Berdasarkan petunjuk teknis dari program penjaringan kesehatan anak sekolah, seharusnya perhitungan cakupan berdasarkan jumlah murid SD yang diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu dibagi dengan jumlah murid SD dan setingkat pada suatu wilayah kerja dalam kurun waktu yang sama dikalikan 100%. Langkah persiapan Tim Penjaringan, Puskesmas dan DKK Kabupaten Demak belum menyusun perencanaan yang baik dan terstruktur. Pelaksanaannya juga belum baik, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan belum dilaksanakan, pencatatan-pelaporan akhir kegiatan juga belum berjalan. Akibat aspek input yang belum dikelola baik maka akan berpengaruh terhadap berjalannya fungsi manajemen di Puskesmas, yang akhirnya menentukan ouput dan outcome dalam sistem penjaringan kesehatan tersebut.Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif melalui observasi dan wawancara mendalam. Informan utama penelitian ini adalah 8 orang terdiri 4 penanggung jawab UKS dan 4 orang pelaksana UKS dan informan triangulasi terdiri dari 4 orang Kepala Puskesmas, 4 orang Guru UKS, 4 orang Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan, 1 orang Kasi UKS DKK yang diambil secara purposive. Pengolahan dan analisis data penelitian menggunakan metode content analysis.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam sistem manajemen penjaringan kesehatan anak SD di Puskesmas Kabupaten Demak pada 1) aspek input, a) petugas yang terlibat langsung masih kurang, baik perawat, perawat gigi, petugas gizi, petugas laboratorium, petugas promosi kesehatan, dan guru/wali kelas; belum pernah ada yang mengikuti pelatihan. Kendalanya jadwal penjaringan bersamaan dengan program yang lain atau undangan rapat ke DKK sehingga tim tidak lengkap dalam melaksanakan kegiatan; b) dana khusus untuk penjaringan dari dana BOK untuk transportasi tim; c) sarana prasarana berupa set THT, set gigi, timbangan, tensimeter, stetoskop, alat periksa mata, senter yang dimanfaatkan baik sehingga penjaringan tetap berjalan; sarana dikelola oleh bendahara barang namun tidak dilakukan pemeliharaan berkala dan kalibrasi; d) tim berpedoman pada buku petunjuk teknis penjaringan kesehatan anak SD yang telah disosialisasikan ke Tim dan dipahami. 2) Aspek proses : a) perencanaan dilakukan melalui lokakarya mini dengan pembentukan tim, menyusun anggaran, penyusunan jadwal dan pengumpulan alat-alat dilakukan oleh penanggung jawab program penjaringan. b) pengarahan dan sosialisasi penjaringan kepada Tim dilakukan oleh Kepala Puskesmas saat lokakarya mini, Koordinasi antara Kepala Puskesmas dengan Tim dilakukan ketika ada surat edaran penjaringan. Penanggung jawab UKS mempersiapkan rencana kegiatan di wilayah Puskesmas masing-masing. Motivasi oleh Kepala Puskesmas kepada tim dengan pemberian uang transport kegiatan, sedangkan motivasi semangat kerja tidak pernah diberikan. Tim melakukan pemeriksaan keadaan umum, fisik, gigi dan mulut, penilaian status gizi, pemberian obat cacing untuk semua anak dan pemeriksaan mental emosional, namun tidak melakukan pemeriksaan anemia dan kecacingan, mental emotional, kesegaran jasmani, pemberian garam beryodium. Apabila tim tidak lengkap/berhalangan maka tugasnya dikerjakan oleh anggota tim yang hadir. Kepala Puskesmas sebagai supervisor jarang melakukan pemantauan langsung kegiatan. c) Mekanisme pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan dilakukan dengan merekap kegiatan tersebut sesuai dengan format dalam petunjuk teknis dan dilaporkan ke DKK oleh penanggung jawab program Puskesmas. Tidak semua Kepala Puskesmas supervisi dan monitoring pelaksanaannya. 3) Aspek output, penyakit yang ditemukan pada penjaringan adalah ISPA, penyakit kulit, gigi caries, penyakit gondok. Kendalanya pada pengisian format pencatatan dan pelaporan hasil penjaringan perlu waktu lama,  tim tidak hadir semua saat kegiatan dan masih ada siswa yang tidak masuk sekolah.
Implementasi Program Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Puskesmas Wilayah Kabupaten Pasuruan Nikmatul Firdaus; Sudiro Sudiro; Atik Mawarni
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.752 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.1.2013.%p

Abstract

Pada tahun 2006 sosialisasi program MTBS dan pelatihan kepada petugas puskesmas telah dilakukan, dimana masing-masing Puskesmas diwakili oleh 1 orang tenaga medis (dokter) dan 2 orang tenaga paramedis(bidan, perawat). Akan tetapi kematian balita di kabupaten Pasuruan mengalami kenaikan, yaitu tahun 2007 sebesar 5,2/1000 kelahiran hidup, tahun 2008 sebesar 5,4/1000 kelahiran hidup dan tahun 2009 sebesar 6,1/1000 kelahiran hidup. Darikematian tersebut diketahui penyebabnya antara lain karena gizi buruk, pneumonia, DBD,diare serta infeksi. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis terhadap faktor faktor dalam implementasi program MTBS di Puskesmas Kabupaten Pasuruan. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif, metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sebagai informan utama adalah petugas MTBS (dokter, bidan, perawat) di Puskesmas wilayahperkotaan dan pinggiran kota yang melakukan MTBS, berjumlah 12 orang. Sedangkan sebagai informan triangulasi adalah 4 kepala Puskesmas, satu Kasie Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan. Variabel dalam penelitian ini adalah faktor komunikasi, faktor sumber daya, faktor disposisi, serta faktor struktur birokrasi. Penelitian memberikan hasil sosialisasi dan pelatihan program MTBS sudah dilakukan. Petugas yang melayani balita sakit belum menunjang keberhasilan pencapaian tujuan MTBS oleh karena belum semua petugas mendapatkan pelatihan MTBS, jumlah petugas tidak sebanding dengan jumlah balita sakityang berkunjung. Seluruh petugas MTBS mempunyai sikap positif untuk mendukung program MTBS. Meskipun sudah tersedia SOP namun tidak semua petugas menggunakannya dalam melayani MTBS. Pembinaan dari DKK belum dilakukan rutin, supervisi masih bersifat umum, serta tidak ada tindak lanjut yang diberikan. Agar pelayanan MTBS terlaksana dengan baik maka perlu ditingkatkan sosialisasi SOP yang disertai pelatihan yang meratauntuk semua petugas serta supervisi yang spesifik pada MTBS.Data in 2007-2010 showed that integrated management of childhood illness (IMCI) activities increased. However, IMCI coverage had not reached the target established by Pasuruan district health office, which was 80%. Preliminary study indicated that not all under-five children who visited health centers received IMCI services. It was caused by no availability of IMCI facilities, unscheduled supervision, and no feedback. The objective of this study was to explain IMCI program implementation from policy aspect in primary healthcare centers in Pasuruan district.    This was an observational qualitative study with cross sectional approach. Study population was all primary healthcare centers that performed IMCI in Pasuruan district. Main informants were IMCI team that consisted of physicians, midwives, nurses. Triangulation informants were policy makers such as head of primary healthcare center, head of family health section, and consumers.    Results of the study showed that in 4 primary healthcare centers with high IMCI coverage, communication had been performed (socialization and marketing); however, there was no specific organizational structure (unstructured). Viewed from resources side, not all human resource received IMCI training; not all facilities of IMCI were fulfilled; specific funding for IMCI program was not allocated. In relation to disposition, all workers had positive attitude in supporting IMCI program. Bureaucracy structure was not optimal; there was a standard operating procedure, but it was not implemented correctly in practice.  There was recording and reporting, but routine supervision and feedback was not performed.     Based on the results of study, it was suggested and recommended to keep doing IMCI program socialization, human resource improvement, facility fulfillment, improvement of workers by conducting IMCI training, implementing arrangement for reporting and recording to district health office, improvement in supervision quality by giving feedback to district health office.
Analysis on Patien’s Linen in Management of Permata Bunda Hospital Purwodadi Muhamad Nur Aini; Martha Irene Kartasurya; Atik Mawarni
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 3 (2013): Desember 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.477 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.3.2013.%p

Abstract

Berdasarkan BOR pada tahun 2010 dapat diketahui bahwa jumlah kunjungan pasien rawat inap di Rumah Sakit Permata Bunda  relatif tinggi, sehingga jumlah kebutuhan linen yang disediakan akan semakin meningkat. Berdasarkan studi pendahuluan dapat diketahui belum baiknya perencanaan, pelaksanaan,  dan  pengendalian  linen.  Tujuan penelitian  ini  adalah  Mengetahui  Bagaimana pengelolaan linen di Rumah Sakit Permata Bunda Purwodadi  saat ini dilakukan. Jenis penelitian adalah deskriptif eksploratif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian  ini  adalah  karyawan  RS Permata  Bunda  Purwodadi  yang  terlibat  dalam  pengelolaan linen. Informan Utama dalam penelitian ini adalah kepala perawat yang ada di ruang perawatan umum, kepala dan wakil kepala logistik linen, dan kepala dan wakil kepala di unit laundry.Informan triangulasi dalam penelitian ini adalah manajer umum, kepala logistik dan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan peramalan kebutuhan linen belum baik karena dilakukan berdasarkan asumsi linen yang hilang dan rusak, proses pemesanan linen belum berjalan dengan  baik  karena  belum  ada  petugas  khusus  yang  melakukan  pemesanan  linen,  pengadaan kebutuhan linen belum berjalan baik karena belum ada standar baku pengadaan linen, pemeliharaan linen sudah berjalan dengan baik karena sudah dilakukan sesuai dengan fase dan prosedur yang benar, pendistribusian linen tidak berjalan dengan baik karena ruangan dipisahkan oleh badan jalan, pelayanan linen pasien tidak berjalan dengan baik karena tidak semua pasien mendapatkan pelayanandengan mengganti linen setiap 1 hari sekali, organisasi pengelola linen yang belum baik karena masih dilakukan secara bersama-sama, pengendalian persediaan linen belum berjalan dengan baik karena penghitungan kebutuhan linen yang masih kurang dan belum menggunakan standar 3 kali jumlah  tempat  tidur,  pelaksanaan  inventarisasi linen  belum  berjalan  baik  karena  belum  dicatat secara  spesifik  sesuai  tingkat  kekotoran  linen  itu  sendiri,  identifikasi/  pengkodean  linen  belum berjalan baik karena pengkodean linen yang dilakukan belum dilakukan secara detail. Berdasarkan hasil penelitian disarankan penghitungan kebutuhan linen supaya dilakukan berdasarkan jumlah  tempat  tidur  dengan  ketersediaan  3  par  stok  linen  pada  setiap  tempat  tidur,  perlu  dibuat prosedur  kerja  tetap  yang  baku  dan  tertulis  dalam  pengelolaan  linen,  sehingga  dapat  dijadikan pegangan atau standar oleh pelaksana/petugas pengelola linen, dibuat identifikasi/pengkodean linen yang lebih baik, yang meliputi nama rumah sakit, nama ruang, jenis linen, jenis bahan.Based on bed occupancy ratio (BOR) in 2010, it was known that the number of inpatient visit at Permata Bunda hospital was relatively high. As a consequence, the need of linen increased. Based on preliminary study, it was known that planning, implementation, and controlling of linen were not  adequate.  The  objective  of  this  study  was  to  know  how  linen  in  Permata  Bunda  hospital  Purwodadi was managed. This was a descriptive explorative study with cross sectional approach. Study population was workers of Permata Bunda hospital Purwodadi who were involved in linen management. Main informants were chief of nurse in the general ward, chief and assistance chief of linen logistic unit, chief and assistant chief of laundry unit. Triangulation informants were general manager, logistic unit chief and patients. Results of the study showed that planning for linen requirement estimation was not good because it was done  based  on  lost  or  damaged  linen  assumptions.  Ordering  process  was  still  insufficient  due  to  no special staff who ordered the linen. Supply linen was inadequate due to no standard for linen supply. Maintenance  of  linen  was  good;  it  was  performed  according  to  the  right  phases  and  procedures. Distribution of linen was not good due to separation of the rooms by the street. Linen service to patient was inadequate; not all patients’ linen was changed once a day. Linen management organization was not good; it was still done together. Linen stock control was not good; calculation for linen requirement was still lacking, and it had not used the standard of 3 times of the number of bed. Implementation of linen inventory was still inadequate; no specific recording was done according to the dirtiness level of the linen. Linen coding or identification was still inadequate; coding was not in detail. Based on the results of the study, it is suggested that calculation of linen requirement should be done based on the number of bed with availability of 3 par stock linen in each bed. Written standard operating  procedure  in  linen  management  should  be  produced;  it  will  be  used  as  guideline  or standard by linen staffs or management. Identification or coding of linen should be improved; it includes hospital name, room name, type of linen and type of material.
Information System Development of Patients’ Satisfaction at Halmahera Health Center in Semarang to Support Evaluation of Services Richi Eka Yanti; Eko Sediyono; Atik Mawarni
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 3, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.128 KB) | DOI: 10.14710/jmki.3.3.2015.%p

Abstract

ABSTRAK  Kegiatan Evaluasi Pelayanan di Puskesmas Halmahera Kota Semarang seringkali berjalan kurang baik karena informasi kepuasan pasien yang berasal dari survey kepuasan pasien belum dapat mendukung kegiatan evaluasi. Ada beberapa permasalahan pada sistem informasi kepuasan pasien sebelum dikembangkan yaitu Petugas RM seringkali terlambat melaporkan informasi kepuasan pasien kepada Koordinator BP dan Kepala Puskesmas dikarenakan proses pengolahan data kepuasan pasien memakan waktu lama, laporan kepuasan pasien belum dapat memberikan informasi dengan jelas dan ketika akan mengakses kembali informasi mengalami kesulitan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan sistem informasi kepuasan pasien di Puskesmas Halmahera Kota Semarang untuk mendukung evaluasi pelayanan. Desain penelitian adalah desain pra eksperiment dengan pendekatan one group pretest-posttest, pengembangan sistem menggunakan metode FAST (Framework for the Application of System Techniques). Subjek penelitian terdiri dari Kepala Puskesmas, Koordinator BP dan Petugas RM. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara mendalam dan cheklist. Pengolahan data menggunakan analisis isi dan rata-rata tertimbang. Penelitian ini menghasilkan suatu sistem infromasi kepuasan pasien untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada sistem sebelum dikembangkan. Hasil dari perhitungan rata-rata tertimbang menunjukkan bahwa rata-rata skor sesudah sistem dikembangkan lebih tinggi dari pada rata-rata skor sebelum sistem di kembangkan dari aspek kejelasan informasi dari 2.04 menjadi 4.18, ketepatan waktu dari 2.19 menjadi 4.24 dan kemudahan akses informasi dari 2.23 menjadi 4.43. Sebagian besar pasien menyatakan sistem informasi kepuasan pasien mudah digunakan dan sebagian besar pasien juga setuju jika sistem informasi kepuasan pasien terus diterapkan. Sistem informasi kepuasan pasien yang baru dikembangkan secara periodik perlu dievaluasi dan pihak manajemen agar terus menerus memonitor sistem informasi kepuasan pasien untuk menjamin sistem terus berjalan.Kata kunci : Sistem Informasi Kepuasan Pasien, PuskesmasABSTRACTEvaluation activity of services at Halmahera Health Center in Semarang City was not good because information of patients’ satisfaction obtained from a survey could not be used to support the evaluation activity. Some problems on the current information system of patients’ satisfaction were as follows: a RM officer was often late to inform about patients’ satisfaction to a BP coordinator and head of health center because data processing took long time and a report of patients’ satisfaction was not clear. This research aimed to develop information system of patients’ satisfaction at Halmahera Health Center in Semarang to support evaluation of services. This was pre-experiment design using one group pretest-posttest approach. Development of the system used a method of FAST (Framework for the Application of System Technique). Research subjects encompassed head of health center, coordinator of BP, and RM officer. Data were collected using techniques of observation, indepth interview, and checklist. Furthermore, data were analyzed using content analysis and balanced average.The research resulted new information system of patients’ satisfaction to solve problems happened in the old system. The result of balanced average calculation showed that average of scores in the new system was higher than that of the old system. Aspect of information clarity increased fro 2.04 to 4.18. Similarly, aspect of timeliness rose from 2.19 to 4.24 and aspect of easiness to access climb from 2.23 to 4.43. Most of patients stated that the new system was user friendly and they agreed if it was applied. The new information system of patients’ satisfaction needs to periodically be evaluated and the health center manager needs to continually monitor the system in order to keep it running properly.Keywords : Information System of Patients’ Satisfaction, Health Center
Correlation Service Quality of Normal Delivery by Village Midwives and the Satisfaction in Luwu District South Sulawesi Hikma Hikma; Martha Irene Kartasurya; Atik Mawarni
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 2, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.09 KB) | DOI: 10.14710/jmki.2.1.2014.%p

Abstract

AbstrakPada tahun 2009 – 2011 cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Luwu berkisar 76% - 77%, sedangkan target nasional 90%. Hal ini dapat diakibatkan karena kepuasan ibu terhadap mutu pelayanan persalinan oleh bidan masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mutu pelayanan persalinan normal oleh bidan desa dengan kepuasan ibu bersalin di Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan.Jenis penelitian adalah kuantitatif, desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subyek adalah 70 orang bidan desa dan 70 ibu bersalin di Kabupaten Luwu dipilih secara consecutive. Pengambilan data dilakukan secara angket dengan kuesioner terstruktur.Analisis data dilakukan secara bivariat dengan Chi-Square dan korelasi Pearson.Hasil penelitian menunjukkan rerata umur bidan 29 ± 4,4 tahun. Rerata masa kerjanya 6,5 ± 4,07 tahun. Pendidikan bidan sebagian besar (92,9%) D3 Kebidanan. Rerata umur ibu 27± 4,3 tahun. 84,3% tidak bekerja, 57,1% berpendidikan menengah keatas. 77,1% bidan memberikan pelayanan persalinan yang bermutu. Tidak ada hubungan antara umur (p = 0,147), masa kerja (p=0,214), pendidikan (p = 0,343) bidan dengan mutu pelayanan persalinan. Tidak ada hubungan antara umur (p = 0,622), pekerjaan (p=0,072) pasien dengan kepuasan terhadap pelayanan persalinan oleh bidan desa. Ada hubungan antara pendidikan ibu bersalin dengan kepuasan terhadap pelayanan persalinan oleh bidan desa (p = 0,005). Pasien yang merasa puas sebanyak 60,0%. Ada hubungan antara mutu pelayanan persalinan oleh bidan desa dengan kepuasan ibu bersalin (r = 0,164, p=0,043).Disimpulkan bahwa mutu pelayanan persalinan bidan berhubungan positif dengan kepuasan ibu bersalin. Pendidikan ibu bersalin berhubungan negatif dengan kepuasan terhadap mutu pelayanan bidan desa. AbstractIn 2009-2011, coverage of delivery by health workers in Luwu district was about 76-77%, and the national target was 90%. This could be caused by post-delivery maternal who were not satisfy towards delivery service quality by midwives. Objective of this study was to identify association between normal delivery service quality by village midwives and post-delivery maternal satisfactory in Luwu district, South Sulawesi.This was a quantitative study using observational-analytical design with cross sectional approach. Study subjects were 70 village midwives and 70 post-delivery maternal in Luwu district that were selected consecutively. Data were collected using structured questionnaire. Chi-square and Pearson correlation were applied in the bivariate data analysis.Results of the study showed that midwives average age was 29 ± 4.4 years, and average work period was 6.5 ± 4.07 years. The majority of midwives level of education was D3 in midwifery (92.9%). Maternal average age was 27 ± 4.3 years. Majority of mothers were unemployed (84.3%) and in the intermediate school or higher level of education (57.1%). The majority of midwives provided good quality of delivery service. No significant associations were found between quality of delivery service and age (p= 0.147), work period (p= 0.214), education (p= 0.343). No significant associations were found between satisfaction towards village midwives delivery service and age (p= 0.622), occupation (p= 0.072) of patients. Significant association was found between maternal education and satisfaction towards village midwives delivery service (p= 0.005). Sixty percent of patients were satisfied. Significant association between village midwives delivery service quality and maternal satisfaction (r= 0.164, p= 0.043) was found.In conclusion, quality of midwives delivery service had positive association with maternal satisfaction. Maternal level of education had negative association with satisfaction towards village midwives service quality.
Analysis on Leadership, Budget Allocation and Disposition of Management Policy at Nursing Department of Kudus District General Hospital Abdul Aziz Achyar; Sudiro Sudiro; Atik Mawarni
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 2, No 3 (2014): Desember 2014
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.706 KB) | DOI: 10.14710/jmki.2.3.2014.%p

Abstract

Kegiatan perawatan yang dilakukan oleh perawat berada di tatanan pelayanan kesehatan terdepan dengan kontak pertama dan terlama dengan pasien. Terjadi penurunan jumlah kunjungan pasien pribadi/umum/bayar (28,33%) di RSUD Kabupaten Kudus dalam 5 tahun terakhir. Hasil Indeks Kepuasan Masyarakat untuk keperawatan kurang baik, sehingga pengelolaan keperawatan perlu perhatian dari manajer. Tujuan penelitian adalah menjelaskan kepemimpinan, alokasi dana dan disposisi pengambil kebijakan di bidang keperawatan RSUD Kabupaten Kudus. Penelitian ini adalah penelitian observasional kualitatif. Subjek penelitian adalah 3 orang pengambil kebijakan bidang keperawatan sebagai informan utama dan 3 orang perawat pelaksana kebijakan sebagai informan triangulasi. Analisis data dengan content analysis yaitu pengumpulan data, reduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kepemimpinan telah dilakukan pengambil kebijakan dalam bimbingan dan hubungan antar perawat namun belum menjelaskan motivasi yang ada dalam sebuah reward & support system. Pengambil kebijakan telah mengalokasikan dana untuk pemenuhan SDM, infrastruktur dan peralatan penunjang keperawatan namun anggaran yang ada dan sedang berproses belum menyentuh peningkatan SDM keperawatan dari jalur pendidikan formal. Disposisi pengambil kebijakan telah memberdayakan perawat sebagai pelaksana kebijakan yang berkaitan dengan pembuatan keputusan dan pembuatan SOP, tetapi belum menyentuh pada instrumen evaluasi terstruktur pelayanan keperawatan. Disimpulkan bahwa bimbingan kepada pegawai hanya melibatkan pejabat struktural dan fungsional, peningkatan motivasi sudah dilakukan, anggaran belum menyentuh jalur pendidikan formal dan belum ada evaluasi yang terstruktur.Nursing activities conducted by nurses were at the first line in the health service; and it was the first and the longest duration of contact with patients. The number of private/ public/paying patients (28.33%) in Kudus district general hospital (RSUD) decreased in the last five years. Result from community satisfaction index was not good. Therefore, nursing management needed to get attention from the manager. Objective of this study was to explain leadership, budget allocation, and delegation of policy makers in the nursing section of Kudus district general hospital. This was an observational-qualitative study. Study subjects were three policy makers in the nursing section as main informants, and three policy-executor nurses as triangulation informants. Content analysis method was applied in the data analysis; this method consisted of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Results of the study showed that leadership had been done by policy makers in the supervision and in relationship among nurses; however, policy makers had not explained motivation that was in the reward and support system. Policy makers had allocated budget for human resource completion, infrastructure, and supporting instrument for nursing. However, the existing budget had not been used to increase nursing human resource that originated from a formal education path. Policy makers had delegated formulation of decisions and SOP to the nurses who implemented the policies; however this delegation did not include structured evaluation instruments on nursing service. In conclusion, supervision to workers involved only structural and functional authorities; motivation improvement had been done; budgeting had not included a formal education path; structured evaluation was not done.
Implementation System Analysis of Integrated Health Service Post of Model at Work Area of Private Companies in Cilacap Ernawati Ernawati; Laksmono Widagdo; Atik Mawarni
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 3, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.799 KB) | DOI: 10.14710/jmki.3.1.2015.%p

Abstract

Peran serta masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam menurunkan AKI dan AKB dapat dilakukan dengan cara yang sederhana yaitu dengan mengikuti kegiatan posyandu. Posyandu merupakan salah satu kegiatan yang didalamnya terdapat pelaksanaan program-programpemerintah terkait pelayanan kehamilan, balita, PUS dan lansia. Dari berbagai jenis atau strata posyandu terdapat “Posyandu Model “ yang kegiatannya sudah dikembangkan dan terintegrasi. Posyandu model diharapkan mampu menjadi wadah yang dapat meningkatkan peran serta masyarakat untuk mendukung program-program MDG’s. Kabupaten Cilacap merupakan wilayah industri karena terdapat perusahaan-perusahaan besar, mulai tahun 2009 DKK Cilacap bekerjasama dengan perusahaan swasta mengenai program CSR. Hal ini diharapkan mampu mendukung program penurunan AKI dan AKB. Terdapat 10 Posyandu model yang menjadi binaan perusahaan swasta tersebut, yang berada pada 6 kelurahan disekitar wilayah perusahaan (Zona I, II dan III). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis sistem pelaksanaan posyandu model (Di Wilayah Binaan Perusahaan Swasta). Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan pendekatan kualitatif. Pemilihan informan dengan cara purposive, pengambilan data melalui wawancara (indepth interview) pada informan utama 6 ketua pokja IV, 6 Lurah/Kepala Desa, 10 kader dan 1 humas perusahaan swasta. Analisis data menggunakan metode analisis isi (content analysis). Hasil penelitian dari variabel input yaitu mengenai SDM, jumlah kader pada posyandu model lebih banyak mencapai 10 orang. Sumber dana utama dari iuran warga, pihak perusahaan lebih banyak memberikan bantuan dalam bentuk modal usaha dan perlengkapan. Tempat posyandu mempengaruhi kenyamanan kader maupun masyarakat dalam melaksanakan kegiatan. Pada proses ditemukan belum semua posyandu membuat rencana tahunan, pendirian posyandu model diperkuat dengan SK lurah. Belum dilakukan evaluasi rutin dari instansi terkait. Kegiatan integrasi yang aktif dan sudah berjalan dengan baik Pos PAUD. Disarankan untukdinas kesehatan maupun instansi terkait (Bapermas dan Dinas Pendidikan) melaksanakansupervisi terhadap kegiatan pengembangan dan integrasi tersebut, serta pendampingan danevaluasi secara rutin Community participation in decreasing Maternal and Infant Mortality Rate can be simply done by following activities of Integrated Health Service Post (IHSP). In addition, Integrated Health Service Post of Model is one of the IHSP types that has developed and integrated activities. The IHSP of model is hoped to be a place that can increase community participation in Millennium Development Goals (MDGs) program. District of Cilacap is an industry area. Since 2009, Cilacap District Health Office has collaborated with private companies in terms of the Corporate Social Responsibility (CSR) program. The collaboration aimed to support the program of diminishing Maternal and Infant Mortality Rate. There are any 10 IHSP of model located in 6 villages surrounding companies (Zone I, II, and III). This research aimed to analyze the implementation system of IHSP of model (in work area of private companies). This was cross-sectional research with qualitative approach. Informants were selected purposively. Data were collected by doing indepth interview on 6 persons who were head of work group IV, 6 persons who were head of village, and 1 company public relation. Additionally, data were analyzed using a method of content analysis. The results of this research revealed that regarding an input variable, a maximum number of cadres at IHSP of model was 10 persons. Furthermore, a main source of funding was from resident tuition. Otherwise, companies contributed business capital and equipment. As a suggestion, District Health Office and related institutions (Community Empowerment Body and Education Office) need to supervise activities of development and integration, mentor, and evaluate routinely.
Co-Authors Abdul Aziz Achyar Aditya Imam Efendi Aghram, Nauval Altriza Juliyandari Aminah Muslamet Anandalia Athaya Zahra Ani Margawati Ani Margawati Anik Sholistiyawati Annisa' Arifatul Hikmah Antono Suryoputro Ardiana Nur Aini Audina, Alfin Ayu Laraswaty Lumban Gaol Ayun Sriatmi Ayuningtyas, Nadiah Ratmanasari Bagoes Widjanarko Bambang Edi Warsito Bella Dwi Astuti Cahya Tri Purnami Catur Putri Ariyanti Celline Oktiani Chichik Nirmasari Cicilia Ninik S Dedek Sutinbuk Delita Septialti Denny, Hanifa Maher Dewi Laila Mahligai Putri Dewi Mayangsari Dewi Mayangsari Dewi, Ria Risti Komala Dharminto Dharminto Dianita Desti Kartikasari Dilla Fitriana Salekha Dini Apriliyana Djalal Er Riyanto Djoko Nugroho Donny Makalalag Eko Sediyono Elisa Nurhayati Elsye Giovanny Puspitasari Endah Purwaningsih Ernawati Ernawati Farid Agushybana Farid Agusyahbana Farid Agusyahbana, Farid Farid Farid Agushybana Ferry Rachmawatie Suryaningtyas Fitriah Fitriah Gandha Sunaryo Putra Handayani, Novia Henry Setyawan Susanto Henry Setyawan Susanto Heri Purnama, Heri Herpina Simarmata Hikma Hikma Ica Maysara Bimaniar Imani Lia Purnandias INDAH KURNIAWATI ita rahmaningtyas Kartini Pekabanda Khaerunnisa Uljanah Kujariningrum, Oktavia Beni Kurnianingsih Kurnianingsih Kurniawati, Yacinta Puji Laksmono Widagdo Lola Meyasa Lucia Ratna Kartika Wulan Marta Juwita Situmorang Martha Irene K Martha Irene Kartasurya Martini Martini Martini Martini Mateus Sakundarno Adi, Mateus Sakundarno Mina Yumei Santi Mina Yumei Santi Muhamad Nur Aini Muhammad Hadiyanto Muslimahtun Baadiah Najib Najib Naomi Batmomolin Nikmatul Firdaus Ninik S, Cicilia Nisa Novaeni Nisa, Rofifatun Nivia Cemerlang Rinjani Nopita Cahyaningrum Novita Triani Novitasari, Bayu Putri Nugroho, Djoko Nunuk Sri Lestari Nur Indah Rahmawati Nuridzin, Dion Zein Nurjazuli Nurjazuli Nurnahariah Nurnahariah Nurnahariah, Nurnahariah Okta Nidya Boro Samosir Patemah Patemah, Patemah Pradana, Atha Rifqia Prameshya Sekar Galuh Pratitis Widiatmoko Puspitasari, Elsye Giovanny Putri Maripa Situmorang R. Djoko Nugroho R. Djoko Nugroho R. Djoko Nugroho R. Djoko Nugroho, R. Djoko Raden Djoko Nugroho, Raden Djoko Ratmanasari, Nadiah Ayuningtyas Ratnaningtyas Ayu Mardani Retno Hestiningsih Retnowati Retnowati Richi Eka Yanti Rifha Asti Hardinawanti Rikhly Faradisy Mursyida Rio Widiyantoro, Rio Rosnaya Ari Sarasati S.Pd. M Kes I Ketut Sudiana . Santi Tri Rahayu Septi Rani Dafeni Sinti Nurkholifah SINTI NURKHOLIFAH Siti Fatimah Pradigdo Solekhah, Solekhah Sri Achadi Nugraheni Sri Winanrni Sri Winarni Sudiro Sudiro Sugi Purwanti Sugi Purwanti Susanti Susanti Susiana Purwantisari Susiana Purwantisari Sutopo Patria Jati Suyatno Suyatno Teungku Nih Farisni Theresia Evelyn Ulul Ilmi Nafiah Una Zaida Wanodya Puspitaningrum Wicaksono, Firston Arfiansyah Yefi Marliandiani Yohanes Oktavianus Dolu Yohanes Oktavianus Dolu Yuanita Erry Wijati Yudhy Dharmawan Zaenab Ismail Zainal Arifin Zidna Sabela Naja